29 Januari 2026

Tanpa Batasnya Simbol Saat Gelut Saitama vs Boros di One Punch Man

 

Saitama vs Boros (Fiction Horizon).

Hehe, saatnya membahas satu anime yang sangat kentara dengan referensinya, OPM alias One Punch Man. Bagi para penggemar anime, tentu tahu bahwa OPM adalah parodi dari segala jenis anime, khususnya Battle Shonen atau Super Hero. 

Namun menurut penulis, ada satu adegan yang sangat kentara simbolismenya, daripada referensi Budaya Populernya. Ya sesuai judul, sangat kentara saat akhir musim pertama alias tahun 2016 lalu, saat Saitama duel melawan Boros diatas pesawat invasi. Bagi yang kurang ingat dengan gelutnya, bisa dicek saja di YouTube. Banyak kanal yang mengunggah klip khusus Saitama vs Boros.

Oh ya, sebelum membahas gelut yang lebih kentara ke penggambaran Boros, maka perlu diingat bahwa Saitama adalah referensi simpel. Saitama mengacu pada Biksu Shao Lin dari China, yang jelas berpakaian kuning dengan kepala botaknya. Bahkan selama bertahun-tahun, hidup Saitama hanya diisi latihan berat seharian, dengan hanya memakan pisang saja, layaknya biksu yang berlatih dengan pola makan vegetarian.

Simbol Ouroboros (Wikimedia).

Nama Boros

Boros mengambil referensi dari Ouroboros, yaitu sejenis simbol dari Mesir dan Yunani Kuno. Gambarnya cukup aneh, yaitu sejenis naga atau ular, yang memakan ekornya sendiri. Secara simbolis, interpretasi gambar ini adalah siklus tanpa akhir untuk kehidupan, kematian, dan kebangkitan kembali. Tetapi simbol ini berbeda jauh dengan Infiniti, yaitu bentuk pita berkesinambungan lebih jelas.

Padahal jika dicek secara sainsya, ular yang melahap ekornya sendiri, berarti ular tersebut sedang di penghujung hidupnya. Ular berarti gagal memangsa hewan lain, sehingga satu-satunya pilihan adalah melahap ekor sendiri. Atau, akibat ular yang stres dan salah mengartikan ekornya sendiri. Sesuai dengan anehnya sikap ular, dalam satu istilah frase bule, menggigit ekor sendiri berarti maksudnya adalah menyakiti diri sendiri.

Dari situ, cocok sebagai referensi langsung tentang kegilaan Boros, yang tiada habisnya. Boros adalah karakter jahat yang bertualang antar galaksi bersama anak buah dan pesawat miliknya, demi mencari gelut yang sepadan. Namun saat tiba di bumi, hasilnya adalah Saitama sanggup mengalahkannya. Bahkan, Boros merasa gelut tersebut tidak sepadan sama sekali, karena Saitama tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.

Dua Mata Boros

Kalau yang kurang ngeuh, pasti menganggap bahwa mata Boros hanyalah satu, alias di wajah saja. Padahal jika dicek adegannya, mata Boros ada dua, yaitu satu lagi berada di perutnya, yang menutupi kristal regenerasinya. Ya, dua mata ini adalah simbol dari dua dewa Mesir Kuno, yaitu Dewa Ra dan Dewa Horus. 

Oh ya, simbol satu mata ini tidak mengacu ke satu tokoh terkenal itu loh, yang memang matanya hanya satu, dan suka bikin kisruh sedunia, dari jaman terdahulu hingga sekarang.

Di mitologi Mesir Kuno, Dewa Ra adalah Dewa Matahari, dengan mata (kanan)-nya sebagai simbol. Dewa Ra bisa diartikan pula sebagai kekuatan besar dunia, yang dapat menghalau musuh manapun. Matahari bukan hanya simbol, karena dalam kesehariannya, warga Mesir Kuno menggunakan penanggalan matahari, alias 365 hari setahunnya. Khusus di Boros, berarti ini adalah mata di bagian wajahnya, alias penunjuk arah dan identitas.

Sementara mata kedua yang berada di perut, mengambil referensi simbol Mata Horus. Dewa yang satu ini, menyimbolkan kesejahteraan, kesembuhan, dan perlindungan. Maka, mata yang satu ini cocok ditempatkan di perut, walau tidak begitu jelas penggambarannya di tubuh Boros. Tetapi, Boros berkemampuan regenerasi yang sangat kuat dan cepat, sesuai dengan simbol Dewa Horus, dan siklus Infiniti (tanpa batas) ala Ouroboros.

Ada dua adegan yang perlu dicek mengenai kemampuan regenerasi Boros saat melawan Saitama. Yaitu saat Saitama memukul keras Boros, tepat di bagian perut. Lalu saat Saitama memukul cepat dan banyak, untuk menghancurkan seluruh tubuh Boros. Sayangnya, masih tersisa kristal regenerasinya, sehingga Boros berhasil menyembuhkan tubuhnya.

Bumi, Bulan, dan Matahari

Kali ini, bukan hanya mengacu pada simbol kedua karakter, tetapi adegan langsung saat gelutnya. Saat Boros akhirnya berhasil menendang keluar Saitama dari Bumi, dan berakhir di permukaan Bulan. Dari situ, Saitama tetap berhasil loncat kembali ke Bumi, dan langsung berhadapan dengan Boros.

Simpel saja seperti sudah diutarakan sebelumnya, Saitama adalah visualisasi Biksu Shao Lin dari China. Berarti, dengan dirinya yang berakhir di Bulan, layaknya mengingatkan China yang (secara tradisional) masih menggunakan penanggalan Bulan dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Boros dari Mesir Kuno, sudah pasti berlandaskan siklus Matahari sebagai penanggalannya. 

Tidak ada definisi berarti dalam keduanya, karena memang menggambarkan dua jenis penanggalan berbeda. Di negara seperti China dengan kalender Bulannya, Hijriyah ala negara Muslim, serta penanggalan Jawa yang kental, Bulan memang menjadi landasan utama di kalender.

Sementara di seluruh dunia, Masehi alias penanggalan matahari, masih menjadi standar kerjasama internasional. Jika dicek sejarahnya, Mesir Kuno memang mempengaruhi banyak kerajaan dalam penanggalan mataharinya, sementara Yunani hingga Romawi Kuno masih menggunakan tanggal ala Bulan. Baru mendekati tahun Masehi, Romawi akhirnya mengadaptasi penanggalan Matahari.

Pendapat Penulis tentang Siklus Ouroboros

Penulis sendiri memiliki pendapat khusus dengan Ouroboros, yang sangat destruktif pada diri sendiri (dan orang lain), padahal bagian utama dari siklusnya. Ya, bukannya penulis memiliki masalah menyakiti diri sendiri (atau orang lain), tetapi terdapat suatu bentuk destruktif yang perlu dihindari.

Tidak hanya mengacu pada Biksu yang damai, atau Ouroboros yang destruktif, tetapi penulis memang perlu menjabarkan simbol ini di banyak media. Dari segi ini, walau saya menulis dan menjabarkan simbol yang ada di banyak media terkenal, namun cukup sulit untuk menghindari pola destruktif-nya. Ya, setiap media memang memiliki pola ancur-ancurannya sendiri.

Apalagi jika mengacu pada Seni Populer atau bahkan Jurnalistik, yang kehilangan dasar konsep serta Primbonnya (seakan Politik Praktis). Bahkan, beberapa media seperti itu, layaknya ngalor-ngidul di artikel Monsterisasi, yang (bisa jadi) tidak cocok referensinya, dan bahkan kurang sesuai dengan kebutuhan kesehariannya.

Nah karena itu, (mungkin) One Punch Man menjadi artikel terakhir Monsterisasi berisi anime. Nantinya artikel sejenis ini tidak akan ditulis setiap minggunya, dengan referensi yang lebih berat di genre dan media lain, khususnya horor.

Okeh, Amitabha.

27 Januari 2026

Horornya Jurig Orok dari Taiwan di Film Mudborn

 

Kisah keluarga yang menunggu momongan (TMDB).

Sudah saatnya mengalihkan perhatian ke ranah perfilman dari Taiwan, khususnya dalam genre horor. Contohnya akhir Januari ini, dirilis film berjudul Mudborn di sinema Indonesia, dengan rating yang sama seperti sebelumnya, yaitu D17. Walau sudah dirilis tahun 2025 lalu dan baru masuk Indonesia di tahun 2026, Mudborn tampaknya melanjutkan animo horor berbeda dari Taiwan sana.

Sedikit Kabar Horor dari Taiwan

Taiwan memang sudah cukup jarang terdengar mengenai ranah perfilmannya lagi, khususnya di Nusantara. Namun, menjelang tahun 2020an, gaung horor mulai terdengar dari negara kepulauan di semenanjung China ini. 

Awalnya (menurut penulis), adalah hasil dari film yang sudah mencapai seri ketiganya, yang berjudul The Rope Curse. Film yang dirilis tahun 2018, 2020, lalu 2023 ini, mengambil kisah yang sangat kentara budayanya. 

Mengambil referensi jurig Thailand yang suka menjebak manusia dengan ikatan tali tambang, dalam film The Rope Curse memang jurignya tiba dari negara Siam. Cara melawan kutukannya pun cukup unik, yaitu sejenis opera tradisional China-Taiwan. Bahkan hingga seri keempatnya (yang belum dirilis), khas opera tradisional sebagai ritual anti jurig, masih lekat dalam waralaba film ini. 

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada legenda urban, dalam film The Bridge Curse (2020). Film ini mengisahkan tentang legenda jembatan di sebuah kampus, yang sering dipakai sebagai bagian jurit malam dari mahasiswa. Cukup seram dan aneh, karena banyak adegan berjumpalitan, sehingga menyajikan misteri berbeda dalam duo film ini. Bahkan jika ingin mengerti seluruh kisahnya, maka perlu menonton sekuelnya yang bersub-judul The Ritual, di tahun 2023. 

Terakhir adalah contoh film Taiwan yang sangat viral di tahun 2022 lalu, berjudul Incantation. Berbeda dengan dua waralaba film sebelumnya, film Incantation ini lebih mengisahkan tentang ritual aneh di penghujung desa Taiwan. Karena lokasi terpencil desa serta ritual tradisinya yang berbeda, film ini layaknya menggunakan teknik sineas perfilman Jepang terdahulu. Ya, layaknya film Ringu (1998, 2003, 2005), kisah investigasi sejarah dan budaya tradisional di lokasi urban terpencil, sangat kentara dalam film Incantation ini.

Nah, film Incantation ini cocok sebagai perbandingan dengan film Mudborn, karena memiliki plot yang mirip. Dalam film tahun 2022 lalu, lebih mengisahkan tentang seorang ibu yang ingin anaknya tetap bertahan hidup, tanpa gangguan jurig. Kali ini di film Mudborn, justru sepasang suami istri yang ingin segera memiliki anak. 

Tidak hanya kisah keluarga yang dihororkan, namun mengacu pada benda keramat serta ritual aneh lainnya, yang ditampilkan dalam kedua film ini. Di film Incantation, terdapat banyak jimat serta penggambaran dewa yang seharusnya melindungi insan sang anak. Namun di film Mudborn, justru banyak kejadian aneh yang muncul akibat patung tanah liat kecil berbentuk anak. Patung ini justru tidak seharusnya horor, karena dipercaya membawa keberuntungan di Taiwan sana.

Sinopsis Film Mudborn

Xu Chuan (Tony Yang) secara tidak sengaja membawa kutukan berat ke rumahnya. Dirinya yang tengah menunggu istrinya, Mu Hua (Cecillia Choi) untuk segera hamil, malah menyebabkan rumahnya menjadi horor. Mu Hua sebagai seorang kolektor barang antik, yang diberikan boneka tanah liat berbentuk anak oleh Xu Chuan. Dirinya malah terobsesi oleh patung tersebut, dan bahkan mulai berubah seluruh kepribadiannya, hingga terbalik 180 derajat. 

Mu Hua pun semakin sakit fisiknya, namun turut sakti mandraguna, sehingga Xu Chuan menganggapnya kerasukan. Saat dicek, ternyata boneka tersebut bukan patung jimat biasa, melainkan digunakan untuk menyegel sejenis mahluk mistis berbahaya. Mu Hua semakin terlihat kesurupan, sementara Xu Chuan tidak bisa tinggal di rumah lagi. Dirinya lalu mulai mencari banyak dukun bersama teman-temannya, demi menyembuhkan Mu Hua dari godaan jurig laknat tersebut.

Dapatkah keluarga kecil ini selamat? Atau malah menyebabkan kerusuhan besar di seantero lingkungan rumah?

Jawabannya, tentu ada di ritual keluarga kecil ala sinema Indonesia.

Terjebak Pulau Terpencil Ala Sam Raimi di Film Send Help

 

Linda yang berhasil menyalakan api (IMDB).

Bagi yang ingat dengan nama Sam Raimi, tentu bakal ingat seaneh apa penulis naskah sekaligus sutradara film ini. Apalagi film terbarunya di tahun 2026 ini, berjudul Send Help, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau plot utamanya mengisahkan terjebak di pulau terpencil, namun bumbu horor ala Sam Raimi tentu meramaikan film ini.

Sam Raimi dan Genre Horor

Lebih baik membahas terlebih dahulu Sam Raimi, yang dikenal dengan genre horor nyelenehnya. Agak berbeda dengan kebanyakan sutradara, penulis naskah, atau produser film horor dari Hollywood, Sam Raimi memang menceritakan kisah horor yang lebih absurd, abstrak, dan ditambah anehnya adegan.

Kisah Sam Raimi yang nyeleneh diawali saat berkarya dalam film The Evil Dead, tahun 1981 lalu. Begitu tidak suka dengan hasil akhirnya, Sam Raimi lalu memulai reka ulang langsung di film keduanya, yang rilis tahun 1987. Walau tidak begitu berbeda plot serta lokasi latarnya, namun adegan yang ditampilkan justru lebih aneh dengan akting yang berlebihan, sehingga banyak penggemar yang suka. 

Keanehan cerita dan adegan pun dilanjutkan pada film ketiga Evil Dead bersub-judul Army of Darkness (1992), yang sangat kental dengan adegan campy. Mungkin Sam Raimi adalah pionir sineas perfilman Hollywood, yang berhasil pertama kalinya dalam mengombinasikan film horor dengan nyelenehnya pemuda-pemudi sana. Walau begitu, di film Night of Living Dead yang khas dari George A Romero (tahun 1968 lalu), berhasil direka ulang oleh Sam Raimi saat tahun 1990. 

Kombinasi genre horor serius, dengan karakter yang terlalu unhinged sekaligus nyentrik, menjadi khas Sam Raimi selama berkarya dalam genre ini. Bahkan, gaya sutradara miliknya ikut terserap dalam film pahlawan super Spider-Man (2002, 2004, 2007). 

Dalam trilogi ini, lebih banyak adegan yang mirip film horor. Contohnya adalah saat Green Goblin yang memiliki keperibadian ganda, atau saat Doctor Octavius yang membasmi dokter bedah, di ruangan darurat rumah sakit. Tidak hanya itu, khas Sam Raimi adalah drama dibalik setiap karakternya. Peter Parker dalam film ini tetap terpukau pada Mary Janes, padahal karakter cewek ini jelas memiliki banyak red flag, sekaligus toxic relationship.

Hingga kini, beberapa film unik yang berhasil disutradarai, ditulis naskah, atau dipimpin sebagai produsernya oleh Sam Raimi, telah meramaikan ranah horor di Hollywood. Contoh filmnya yaitu 30 Days Of Night (2007), Drag Me To Hell (2009), Poltergeist (2015), Don't Breathe (2016), Crawl (2019), dan 65 (2023).

Okeh, saatnya membahas film Send Help yang disutradarai dan ditulis naskahnya langsung oleh Sam Raimi. Walau plot utamanya adalah terjebak di pulau terpencil, namun bukannya menjadi cerita para penyintas dalam bertahan hidup, karena satu karakter malah jadi psikopat dan memburu tokoh lainnya.

Sinopsis Film Send Help

Linda Liddle (Rachel McAdams) adalah seorang pegawai kantoran yang sedang stres parah. Dirinya baru saja disepelekan langsung oleh seorang bos, selaku pemilik perusahaan tempatnya bekerja, yang bernama Bradley Preston (Dylan O'Brien). 

Dengan nada yang sinis, Bradley mengajak Linda untuk berkunjung ke situs lokasi investasi perusahaan di Bangkok, Thailand. Namun, jika Linda gagal memberi kesan baik pada Bradley, maka dirinya akan langsung dipecat.

Naas terjadi saat keduanya tengah menaiki kapal eksekutif pribadi milik Bradley. Pesawat terjebak badai hebat, sehingga jatuh dan karam di lautan. Keduanya berhasil selamat, namun terjebak di sebuah pulau kecil dan terpencil. 

Walau sudah terbiasa hidup nyaman di kota, Linda ternyata sanggup bertahan hidup dengan mencari makan, membuat hunian sementara, serta menyembuhkan luka di kaki Bradley. Namun Bradley masih penuh gengsi, berlagak ala bos, sambil menganggap Linda hanyalah bawahan. Maka, Linda berontak dan mulai bertindak brutal. Bradley yang panik, lalu melarikan diri ke tengah pulau, sementara Linda memburunya dengan senang hati.

Bagaimana akhir kisah dua insan yang masih terjebak gengsi di pulau terpencil ini? 

Jawabannya, tentu sama dengan rasanya terjebak tanpa penerangan ala sinema Indonesia.

Jason Statham Mencari Perlindungan di Film Shelter

 

Mason dan Jesse yang kalang kabut (IMDB).

Jason Statham sebagai aktor aksi yang masih berkecimpung, kini kembali di 2026 dengan film terbarunya, berjudul Shelter, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating D17. Cukup berbeda dengan kebanyakan aktor-aktris aksi, Statham adalah satu aktor yang sama sekali tidak terkait dengan animo pahlawan super.

Aktor kelahiran Inggris dan mantan atlet selam ini, lebih mirip dengan aktor aksi lawas, yang berlatar seorang jago fisik serta olahraga. Statham sudah disejajarkan dengan banyak aktor aksi lawas Hollywood, contohnya dengan mengisi film The Expendables (2010, 2012, 2014, 2023). Banyak sinematografi Statham, dijelaskan dalam artikel tahun 2025 kemarin, saat membahas film A Working Man

Apalagi selama ini Statham dikenal sebagai ahli beladiri, yang berlatar karate, kickboxing, wing chun, dan jiu jitsu. Dengan minat awal karir perfilman sebagai pemeran pengganti, Statham akhirnya sukses berkarir sebagai aktor aksi, dengan sering melaksanakan koregrafi gelutnya sendiri. 

Menurut dirinya, aktor dan aktris pemeran pengganti seharusnya diberikan lebih banyak pujian, daripada terlalu berfokus pada aktor dan kemampuan aktingnya saja. Contohnya adalah saat di film Transporter (2002) yang menaikkan namanya di ranah Hollywood. Hampir seluruh koregrafi gelut dan aksi sulit, dilaksanakan sendiri oleh Statham di film ini.

Kembali ke film Shelter, Statham yang telah berumur hampir 60 tahun, tepatnya 59, sudah selayaknya berperan sebagai veteran. Umur segitu, layaknya aktor lawas Sylvester Stallone, yang berumur 63 tahun saat film The Expendables pertama (bersama Statham) dirilis pada tahun 2010 lalu.

Latar film ini pun cocok dengan istilah kembali ke kampung halaman. Yaitu, dengan kembali ke ranah Inggris Raya, tepatnya di Skotlandia, serta lokasi syuting asli di Irlandia. Logat Inggris yang khas pun, mengisi film ini dengan kental.

Okeh, memang rasanya berbeda membahas aktor lawas, apalagi saat berperan dalam film aksi gelut. Kali ini, mending dibahas saja sinopsisnya, yang ternyata cukup mirip dengan khas Statham selama ini.

Sinopsis Film Shelter

Mason (Jason Statham) adalah seorang penyendiri yang tinggal di sebuah pulau mercusuar terpencil, di pesisir pantai Skotlandia. Selama ini, dirinya dikirim suplai oleh seorang gadis remaja, bernama Jesse (Bodhi Rae Breathnach). Suatu hari, Jesse terjebak di pulau tersebut akibat badai yang tiba menerjang, dan terpaksa mengungsi di mercusuar, hunian Mason.

Namun saat malam tiba, satu skuad pasukan bersenjata tiba di pulau tersebut, dan mulai memburu Mason. Jesse yang tidak mengerti, disembunyikan oleh Mason agar tidak terlibat pertikaian hebat ini.

Jesse akhirnya menjadi satu buronan akibat terlihat bersama Mason, yang tidak rela akan keadaan tersebut. Mason lalu mulai mencari banyak kenalan lamanya, bukan untuk melarikan diri, tetapi menjamin keselamatan Jesse yang jelas tidak bersalah atas semua ini.

Apalagi, Mason sebenarnya telah mengenal, bahwa pasukan yang mengejarnya bukanlah sembarang organisasi. Mason menganggap bahwa dirinya ditarget lagi akibat masalah lama, saat dirinya masih bertugas. Jika Jesse sampai terlibat, maka dirinya bisa diburu hingga akhir hayat, layaknya Mason.

Sanggupkah Mason melawan semua kisruh ini? Sempatkah Jesse selamat tanpa masalah berkelanjutan? Atau malah berakhir buruk akibat semuanya?

Jawabannya, tentu ada di aksi veteran ala Sinema Indonesia. 

23 Januari 2026

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece

 

Luffy sang Topi Jerami yang ternyata Jurig Persib (KapanLagi).

Sebenarnya sudah lama pengen nulis Monsterisasi tentang One Piece, apalagi dengan banyak referensi mengenai buah setannya, tetapi apalah daya dengan keadaan berita pada September 2025 kemarin. Seorang Infuencer pecicilan dan banyak pasukan bajak lautnya, malah ngebadut dan bakar-bakar gedung DPR. Jadi ya malas membahasnya, seakan nge-feed suatu kontroversi. Sang Influencer pun masih memanasi Inet dengan clickbait lainnya di akhir tahun kemarin.

Tetapi di awal tahun 2026 ini, tepatnya tengah musim Liga 1 sepakbola Indonesia, akhirnya ada genderang betulan yang bergaung dari Bandung sini. Ya, saat Persib menjadi juara pertengahan musim dengan mengalahkan Persija, lalu berkibarlah lima bendera koreo raksasa di stadion, berisi gambar Luffy yang tengah membawa piala Liga 1. Animo semacam ini, sekali lagi layaknya warga Bandung, menantang dan menimpa kesan buruk sebelumnya. 

Nya nuhunkeun Persib anu atos Juara Tengah Musim Liga 1 Indonesia. Nuhunkeun oge ka Bobotoh sareng Jurig Persib, anu ngobarkeun bandera Luffy. Saur kuring mah kanu kitu teh, tiasa ngajunjung kompetisi anu bersih sareng kiblat anu bener, nya eta sami berkarya tina jalur bener. Sakali deui, Nuhun!

Some Chase Noise, We Chase Horizons!

Luffy di GBLA (Instagram).

Saya akhirnya bisa nulis juga artikel tentang One Piece, khususnya karakter utama bernama Luffy. Sama seperti sebelumnya, satu karakter saja yang dibahas latar serta visualisasinya, karena menghindari (banyak) spoiler dan lebih terfokus. Apalagi Luffy dan buah setannya, cocok sebagai karakter yang kesetanan.

Luffy Sang Topi Jerami

Dari sini, saya menggambarkan satu benda paling kentara saja, yaitu topi jerami milik Luffy, yang tergambar pada bendera bajak lautnya, sekaligus julukan kru tokoh utama kita ini. Apalagi topi jerami adalah simbol janji antara dua karakter, yang akan dikembalikan oleh Luffy kepada Shanks, saat dirinya mencapai status bajak laut yang hebat.

Mengacu dengan simpel, topi jerami adalah sejenis topi berbahan jerami (lah?), yang dipakai sebagai topi surya. Berbagai bentuknya telah ada sejak jaman dahulu, seperti topi ala fedora atau topi petani yang kerucut. Hingga kini, topi jerami masih digunakan karena ringan dan tidak panas, dengan fungsi utama menghalau cerah matahari mengenai mata. Karena itu, topi jerami dipakai oleh banyak orang saat beraktifitas siang hari di luar ruangan, khususnya di Jepang.

Sesuai dengan tema bajak laut di One Piece, topi jerami (entah kenapa hanya Luffy dan Shanks yang punya), adalah simbol khusus mengenai keadaan para bajak laut, alias para pelaut. Ya, topi ini identik pula dengan para pemancing, yang beraktifitas di tengah laut bersama terik mataharinya. 

Topi pemancing ini cocok dengan keadaan di manga dan anime One Piece, yaitu simbol 'mencari makan' di laut. Bahkan di beberapa episode, yang menunjukkan Kru Topi Jerami memancing ikan untuk dimasak. Jika tidak habis dagingnya, sisa ikan (raksasa) akan dijual saat berlabuh ke pulau. Bahkan ada satu episode saat Kru Topi Jerami perlu menjual ikan hasil pancingan demi menambah dana, yang dipakai untuk memperbaiki Going Merry di Water 7 (selain harta karun Skypea).

Konsep topi jerami ini berarti cukup dalam pula, karena Luffy lebih mementingkan topi daripada hidupnya. Bahkan ada satu film (non-canon), yang fokus berkisah Kru Topi Jerami saat membobol satu markas Marinir, demi meraih kembali topi miliknya. Judulnya One Piece 3D, dari tahun 2011.

Cukup sederhana layaknya trope atau gag anime yang lucu. Tetapi coba ingat seluruh Arc di One Piece, yang aslinya Battle Shonen. Setiap Arc mengisahkan Kru Topi Jerami yang menyelamatkan warga satu pulau, dari tindasan para bajak laut jahat. Luffy sangat tidak suka dengan penindasan yang semena-mena. Karena, mereka adalah warga biasa yang hanya bertahan hidup saja.

Buah Setan

Nah, dimulailah paradox Luffy sebagai pahlawan. Luffy (selalu) tidak ingin dianggap sebagai pahlawan, namun bajak laut yang senang bertualang. Ya, Luffy memiliki tingkat IQ yang nyebelin, namun menurut penulis, itu hanya pelarian saja. Luffy sebenarnya cukup pintar, namun menolak status tersebut, dengan hanya ingin bertualang sambil gelut saja. 

Tetapi, Luffy sebagai seorang kapten bajak laut dan buah setannya, memang cocok. Buah setan ini digambarkan oleh mangaka Eiichiro Oda, layaknya buah eksotis yang tiba dari daerah tropis sedunia, hingga benua Amerika yang baru ditemukan. Referensi yang kentara, bahwa cerita One Piece mengacu pada masa keemasan bajak laut di Karibia sana (abad 17-18). 

Referensi buah eksotis sebagai bagian dari setan, bukan karena kemampuan aneh yang diberikannya saja, tetapi mengacu pada potensi untuk memanggil setan besar sebelumnya. Belum dijelaskan langsung oleh Eiichiro Oda, tetapi sudah ditampilkan pada film One Piece: Red, dimana fokusnya adalah karakter Uta dan buah setan Musiknya. 

Uta yang bekerja sebagai penyanyi, ternyata sempat memanggil setan dalam buah musiknya. Padahal Uta masih kecil saat pertama kali memanggilnya, dan berakhir satu pulau yang dibantai habis. Shanks yang berada disana, harus menghalau setan tersebut bersama kru-nya. Walau film ini yang canon hanya Uta dan Shanks-nya saja, tetapi cukup menggambarkan potensi setan dari buah ajaib ini. Uta yang belum pernah melatihnya saja, sanggup memanggil setan sekuat itu.

Bahkan ada satu pepatah canon dari One Piece, bahwa buah setan adalah hasil ajaib dari minat manusianya. Sensei Oda pun beberapa kali menggambarkan Luffy yang mencapai Gear 5th alias telah Awakened, dengan wajah hitam dan bola mata merah, seakan setan yang baru saja muncul dengan kesetanan. Jadi apapun yang terjadi di dunia, buah setan selalu menjadi mitos nyata, tentang perubahan besar di One Piece.

Buah Setan Gomu-Gomu dan Revolusi Industri

Namun, bagaimana dengan sikap pahlawan ala Luffy dan Kru Topi Jerami? Nah ini lebih cocok lagi. Daripada digambarkan ala simbol Buah Nika sebagai Dewa Kemerdekaan di One Piece, lebih cocok dicek saja referensinya.

Buah Gomu-Gomu alias karet, adalah komoditas yang seharusnya jarang. Sejarah ditemukannya pohon karet, adalah sebagai pohon endemi asli Amerika Selatan, khususnya Brazil. Sejak jaman koloni di Amerika, pohon karet lalu disebarkan ke seluruh dunia, dengan beberapa lokasi seperti Indonesia, yang cocok ditanam pohon karet.

Abad 17an adalah akhir dari jaman Renaisans, saat banyak negara Eropa memulai kolonialisme, dengan wacana menambah sumber daya alam mereka. Untuk apa? Demi menjalankan dunia progresif dan kemajuan ilmu sains, yang saat itu kurang dibarengi perkembangan teknologinya. 

Namun bukan itu fokus artikel ini, dan kembali ke fungsi karet itu sendiri. Komoditas karet adalah zat baru bagi negara sedunia, yang membuka potensi besar lainnya. Bahkan tanpa karet, saat ini kita tidak memiliki komoditas seperti karet atau plastik sintetis, dan hanya memakai bahan kayu, kulit, serta logam saja, layaknya sub-genre SteamPunk. Jadi, pohon karet adalah satu komoditas penting yang dioprek saat jaman Viktoria, dan berhasil membawa dunia menuju jaman Revolusi Industri.

Sekali lagi, para penggemar One Piece pasti tahu, bahwa dunianya mengacu pada jaman bajak laut dan kolonialisme. Jadi sebenarnya Sang Buah Setan Gomu-Gomu, adalah komoditas yang berhasil meng-carry dunia, menuju jaman keemasan berikutnya. Ya, memang tidak se-nihil simbol pecicilan ala Buah Nika. Biasa-lah Sensei Oda, tahu aja cara ngejebak pihak yang kurang paham.

Perubahan Iklim

Nah kalau yang satu ini sih, sudah cukup jelas ya, tetapi penulis saja yang ingin menambahkannya. Perubahan Iklim memang satu wacana yang sangat kentara di One Piece, bahkan kini hampir disejajarkan dengan tingkatan anti-rasisme-nya.

Semenjak dibukanya kisah Kerajaan Lulusia yang hancur seketika oleh Imu, dan menyebabkan permukaan laut meninggi 1 meter, kisah One Piece di Arc Pulau Egghead mulai mengacu ke penyebab anehnya geografi dunia. Vegapunk yang menyiarkannya, bahkan mencatat tinggi permukaan laut bumi sempat naik 100 meter. Segitu saja sudah menunjukkan, bahwa dunia One Piece semakin terbanjiri oleh lautan. Bahkan, nantinya yang tersisa hanyalah Red Line sebagai benua tertinggi, sementara seluruh pulau akan terendam. 

Seluruh kisah geografis ini, tentu mengacu pada perubahan iklim, yang tahun 2025 kemarin ternyata memporakporandakan seluruh dunia. Contoh paling dekat, adalah banyaknya badai topan yang tiba di Asia Tenggara, khususnya di Filipina dan Vietnam. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika kedua negara tersebut, badai topan yang tiba biasanya berjumlah sekitar 20 saja dalam waktu setahun. Namun di tahun 2025 kemarin, jumlah badai topan yang tiba di hampir mencapai 30! Tidak heran banyak bencana alam akibat cuaca di tahun 2025 kemarin.

Kembali lagi ke One Piece, dengan banjirnya seluruh dunia, maka siapa yang paling diuntungkan? Ya jelas Imu, serta kawan-kawannya di Tenryuubito, sebagai Top Global 1 Persen yang tersisa. Sementara itu, seluruh dunia layaknya menjadi korban genosida. Para punggawanya yang memiliki Buah Setan sakti pun, akan sulit berkelana akibat langsung tenggelam oleh air laut.

Oh ya, ada satu teori fans One Piece dari Reddit, bahwa Imu adalah simbol dari Umibozu, sejenis Yokai laut di folklore Jepang. Daripada membahas teorinya yang cukup panjang, coba dicek saja efeknya. Kalau memang laut akhirnya meninggi dan menenggelamkan dunia, maka Imu sebagai Umibozu akan semakin kuat, karena sumber kekuatannya adalah laut itu sendiri!

Okeh, Adios.

22 Januari 2026

Linda Linda Linda di Remastered Ampe 4K

 

Girlband yang tetap sumringah (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film musikal yang berbeda dari ranah Jepang sana, berjudul Linda Linda Linda, yang tayang di sinema Indonesia dengan diperbarui sampai 4k. Sebelumnya, film ini baru saja dirilis di Indonesia, akhir tahun 2025 lalu dengan perbaruan 4k, saat ditayangkan sebagai bagian dari festival film di Yogya (JAFF), dengan rating umur R13. 

Film musikal ini memang nostalgia khusus, karena aslinya dirilis pada tahun 2005 lalu, saat banyak band berisi seluruhnya cewek, bermain musik instrumen rock. Animo ini terus berkembang hingga awal 2010an.

Awal 2000an adalah momen baru bagi kebangkitan musik, dengan banyak band indie yang bergerilya di seantero dunia. Bahkan di Jepang sana, band indie layaknya lahan bagi musisi yang tidak begitu mainstream.

Padahal, jaman tersebut belum ada internet yang cepat, sehingga kabar gigs dan sebagainya, hanya dikabarkan melalui ponsel atau di Myspace dan Friendster. Ya, kedua media sosial awal tersebut, biasanya dipakai untuk menyebarkan acara dari para band indie.

Namun, animonya terus berkembang maju, hingga akhirnya YouTube meramaikan dunia internet dengan unggahan video-nya yang mudah dan sederhana, sejak tahun 2006. Setelah YouTube dirilis, banyak band indie berbondong-bondong meramaikannya, dengan tautan menuju laman medsos mereka.

Nah, dari segi dunia musiknya sendiri, khusus di SMP hingga SMA Indonesia, semacam Pentas Seni sering diadakan setiap tahunnya. Pensi ini dilaksanakan dengan mengundang band besar atau indie terkenal, selain para anggota band dari sekolahnya sendiri.

Saking ramainya, setiap ada Pentas Seni di sekolah (khususnya di Bandung), sangat penuh dengan anak sekolah dari SMP-SMA lain. Karena mereka ingin menikmati band indie terkenal, yang cukup sulit ditemukan di luar sekolah (alias konsernya malam hari). Saking penuhnya, keadaan diluar sekolah kadang macet akibat penuhnya lokasi Pensi.

Masih teringat, saat Maia Estianty dan Mulan Jameela sebagai duo Ratu, tiba di sekolah terdahulu untuk meramaikan Pensi. Moshing Pit jaman tersebut memang beda, karena jarang ada kisruh antar genre yang berbeda.

Kembali ke film Linda Linda Linda, layaknya mengingatkan penulis saat lulus SMA terdahulu. Saat itu, guru yang memang lihai memainkan alat musik, mengisi Prom Sekolah di hotel, dengan berbagai kibasan musik Rock n Roll-nya. Moshing pun menjadi kewajiban saat momen berlangsung. Nostal-gila yang betulan indah (:D)

Dan kembali (lagi) ke film ini (hehe), memang mengisahkan sebuah Pentas Seni di akhir masa sekolah. Karya film ini sangat disukai oleh kritikus Jepang. Bahkan, sutradara Nobuhiro Yamashita sebagai pemimpin produksinya, meraih sutradara terbaik di Jepang sana, pada tahun 2006.  

Animo band dengan girlband-nya, memang semakin ramai di Jepang sana. Khusus untuk ranah tontonan, mengisi banyak animo anime di Jepang. Kisah girlband ini langsung dilanjutkan pada saat anime K-On! rilis manga-nya mulai tahun 2007, yang ditambah produksi animenya pada tahun 2009.

Contohnya berikutnya adalah Angel Beats!, yaitu novel ringan (lalu diadaptasi sebagai anime tahun 2010) yang mengisahkan tentang sesi 'reinkarnasi' di sekolah. Kisahnya yang kocak mengenai festival (matsuri) akhir di sekolah 'alam baka', berakhir cukup miris-manis (bittersweet), dan menyebabkan banyak fans terpukau. 

Animo musik ini masih dilanjutkan di banyak anime hingga sekarang. Contohnya adalah Bocchi The Rock! yang hingga kini masih viral di dunia anime seantero inet.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsisnya saja, karena memang cukup sederhana untuk dijelaskan (hehe). Kayaknya gak perlu dibuat sub-artikelnya juga, jadi ya ditulis simpel saja lah...

Kei (Yuu Kashii) sebagai gitaris, Kyoko (Aki Maeda) sebagai drummer, dan Nozomi (Shiori Sekine) sebagai bassist, tergabung sebagai girlband di sekolahnya. Namun, menjelang festival di sekolahnya, mereka belum memiliki vokalis sama sekali. 

Hingga akhirnya mereka mengingat seorang gadis bersuara bagus, bernama Son (Bae Doona). Namun, Son adalah seorang murid pertukaran dari Korea Selatan, yang belum fasih berbahasa Jepang.

Padahal, festival akan diadakan dalam waktu tiga hari lagi. Band mereka harus segera latihan demi memainkan lagu 80an, berjudul Linda Linda dari band punk Blue Hearts.

Oh ya, bagi yang tidak sempat menontonnya di sinema, dapat menyaksikannya di siaran internet Netflix, walau masih belum berformat 4k.

Kompilasi Film Horor Indonesia di Bulan Januari: Sengkolo Petaka Satu Suro, Kuyank, Kafir Gerbang Sukma, Tolong Saya!

 

Saatnya berdoa malam hari (TMDB).

Kali ini, penulis coba menulis kompilasi banyak film horor Indonesia, yang tayang saat minggu akhir bulan Januari. Seperti pada judulnya, empat film Indonesia ini memang dirilis dalam waktu hampir bersamaan. 

Bukannya ikut meremehkan film horor Indonesia, yang kadang membuat bosan para penggemar film dan warganet. Memang, isi cerita cuplikannya kurang bisa dibahas, walaupun nilai serta biaya produksinya cukup meyakinkan. Ada beberapa plot dan tema filmnya yang bisa dibahas lebih lanjut, tetapi tidak begitu mendalam. 

Jadi, penulis masukkan ke kompilasi saja. Padahal mah, horor memang bagian dari minat pecicilan penulis, yang (selalu) ditonton saja sampai tamat, padahal filmnya tidak begitu menarik.

Oh ya, rata-rata film disini memiliki rating D17, alias penonton dewasa, karena diisi banyak adegan sadis dengan mendarah-darah atau mendaging-daging. Yang aneh, justru film berjudul Kuyank, yang kita tahu hanya muncul kepalanya saja, ternyata memiliki rating R13 alias remaja.

Sengkolo Petaka Satu Suro

Nah, film yang pertama ini cukup kontroversial dengan mengadaptasi ritual Satu Suro. Menurut kalender Jawa, Satu Suro adalah malam pergantian tahun baru. Seperti biasanya, beberapa ritual dilaksanakan, karena malam ini dianggap seperti hari keramat lainnya, adalah masa dimana batas dimensi mistis dan dunia nyata saling berjumpalitan.

Padahal, tanggal ini selalu bertepatan dengan tahun Hijriyah Islam, yaitu pergantian tahun menjadi satu Muharram. Memang, keduanya berlandaskan penanggalan bulan, daripada matahari layaknya tahun masehi.

Sementara pada film ini, kisahnya cukup berbeda. Menjelang pergantian tahun satu suro, banyak wanita hamil yang diteror mistis. Padahal, seperti ditampilkan pada adegan cuplikan, wanita tersebut sudah melaksanakan ritual saat pergantian tahun.

Sedihnya punya kepala saja (TMDB).
Kuyank

Nah, film ini tentu lebih dikenal oleh banyak orang, karena khas dengan minat jurignya. Seperti sudah banyak dibahas di film horor lain atau inet, kuyang adalah sejenis ritual mistis, dimana penggunanya adalah wanita, yang ingin terus awet muda. Sayangnya setiap beberapa lama, wujudnya berubah menjadi kepalanya saja, dan bergentayangan sambil memangsa darah manusia.

Di film ini, justru kisahnya ditambahkan lagi. Karena sang istri yang tidak ingin kehilangan suaminya, akibat keduanya memang mandul, maka melaksanakan ritual kuyang tersebut. Namun, sang suami ternyata cukup rela, sehingga tanpa takut terus menjaga dan setia terhadap istrinya, dengan atau tanpa kepala yang menempel pada tubuhnya.

Rasanya dimandikan sama nenek (TMDB).

Kafir Gerbang Sukma

Film ini adalah sekuel dari film 2018 terdahulu, berjudul Kafir: Bersekutu Dengan Setan. Banyak yang menganggap, rilis film pertama Kafir, adalah pemicu baru kembalinya perfilman Indonesia. Beberapa publik figur, artikel, dan konten memang menyatakan seperti itu. Cukup terbukti, dengan banjirnya film Nusantara di tahun 2025 kemarin, yang memiliki nilai produksi cukup tinggi.

Kembali ke film Kafir di tahun 2026 ini, yang masih mengadaptasi tema sama. Bahkan ceritanya dilanjutkan dari film pertamanya, dengan mengusung jarak waktu yang sama, yaitu delapan tahun. Dengan karakter dan aktor-aktris yang sama, akhirnya berjibaku kembali dengan teror mistis, akibat ritual nyeleneh nan brutal di lingkungan sekitarnya.

Rasanya terngiang-ngiang Korsel (TMDB).

Tolong Saya! (Dowajuseyo)

Kalau yang satu ini, cukup mumpuni dengan kerjasama antara sineas perfilman Indonesia, dengan Korea Selatan sana. Jika dicek sejarahnya, maka dapat ditelaah berbagai karya lintas negara ini. Kedekatan Korea Selatan dan Indonesia, layaknya mendarah daging akibat gaya bahasa, atmosfir, dan brutalnya kesan yang mirip antar keduanya.

Khusus di film Dowajuseyo ini, berkisah tentang seorang mahasiswi pertukaran pelajar dari Indonesia, yang belajar di kampus Korea Selatan. Namun, mahasiswi ini malah terjebak lingkaran mistis, akibat jurig yang menganggap dirinya mudah kerasukan, sekaligus membalaskan dendam semasa hidupnya. Pertukaran pelajar pun, berubah menjadi pertukaran dimensi dua dunia, dengan segala baik-buruknya dunia mistis.

Horornya Kota Bukit Sunyi Ala Film Return to Silent Hill

 

Saatnya kembali ke Bukit Sunyi (TMDB).

Ternyata, ranah film horor masih bisa berkreasi lebih lagi, dengan mengadaptasi kembali satu waralaba gim horor paling ikonik di jaman konsol, berjudul Return To Silent Hill, yang akan tayang saat akhir bulan Januari ini di sinema nasional.

Video Gim Silent Hill

Berbeda dengan gim horor kebanyakan, waralaba Silent Hill dari Konami memang menyajikan horor yang sulit dicerna, dengan atmosfer yang begitu mengerikan. Gelutnya pun cukup sulit jika dibandingkan gim lainnya, karena karakter yang pemain mainkan, tidak terlatih alias hanya warga biasa.

Khas dari Silent Hill, adalah lokasi kotanya itu sendiri, yang merupakan gerbang antara dimensi nyata dan horornya dunia lain. Kota ini adalah lokasi utama kisah Silent Hill, yang disajikan berbeda di setiap perilisan serinya. 

Khas lainnya adalah berbagai monster yang mengisi kotanya. Diantaranya adalah Kepala Pyramid, Suster Iseng, dan berbagai mahluk tidak bernalar. Seluruhnya berbentuk aneh dan mengerikan, karena tidak mengacu pada satu jurig manapun.

Tentu jika dibahas dari serinya, yang paling ikonik adalah empat perilisan awalnya, yang produksinya masih diawasi langsung oleh Konami. Silent Hill 1 hingga 4 (1999, 2001, 2003, 2004) memiliki khas yang sama, yaitu karakternya terjebak di versi horor Silent Hill, dan harus menemukan jalan pulangnya. Namun, kisah latar karakternya, memiliki motivasi tersendiri untuk tetap berada di kota horor ini. 

Reka ulang atau melanjutkan seri ini dari Konami sendiri, sempat viral di inet dan para gamer pada tahun 2014 lalu, dengan dirilisnya demo gim PT. Berformat demo dengan durasi gameplay sekitar satu setengah jam, mengingatkan lagi tentang ngerinya Silent Hill. Konami tidak begitu membuka rencananya untuk melanjutkan gim-nya, namun para gamer sangat berharap akan sekuelnya.

Demo yang dirilis di PS4 ini, bareng dengan kentalnya animo horor indie, yang mengisahkan terjebak di dunia mistis, dengan gameplay yang minim, namun cerita yang cukup menyayat hati. Seakan, kumpulan gim indie ini adalah tribute atau homage seri Silent Hill. Memang, beberapa gim akhirnya setelah nomor 4, sempat flop di pasar dunia gim.

Hingga akhirnya tiba di tahun 2024, tepat 10 tahun setelah gim PT dirilis. Tiba juga reka ulang Silent Hill 2, yang digadang sebagai seri terbaik waralaba gim ini. Kesabaran gamer selama 20 tahun terakhir pun, akhirnya terbayarkan. 

Ternyata, Konami menyiapkan pula perilisan sekuelnya berjudul Silent Hill F, pada tahun 2025. Berbeda dengan seri sebelumnya, justru gim ini berlatar di Jepang tahun 1960an, walau masih khas dengan cara gelut yang lambat dan taktis ala seri Silent Hill. Bagi yang cukup memahami etimologi perubahan makna bahasa Jepang, maka nama kota Ebisugaoka, berarti Silent Hill dalam bahasa Inggrisnya.

Apakah itu di puncak tangga? (GOG). 
Film Silent Hill

Okeh, karena seri gim-nya sudah cukup dijabarkan, maka coba beralih ke filmnya, yang ternyata cukup disukai oleh fans gim, sekaligus para penggemar horor. 

Film pertamanya di tahun 2006 dengan judul yang sama, masih mengikuti ritual ala gim-nya, yaitu karakter berbeda dengan atmosfer Silent Hill yang berbeda pula. Ya, uniknya rilis setiap serinya, adalah menyajikan sisi lain kota Silent Hill. 

Karena itu, improvisasi cerita di filmnya, dianggap wajar, dan bahkan diapresiasi para penggemar horor. Terlebih lagi, kehadiran beberapa monster seperti Kepala Piramid dan Suster Iseng, menjadi referensi langsung dari gimnya. 

Visual lain yang disukai penonton, adalah saat perubahan dimensi nyata ke horor, yang ditandai dengan suara sirene nyaring, lalu lokasi berkabut malah semakin gelap dengan dinding yang 'berdarah'.

Banyak penggemar suka pula dengan kisah di film ini, karena masih bertema keluarga atau rekan terdekat yang hilang, tentunya di Silent Hill. Sementara itu, karakter utamanya ternyata harus berjibaku dengan anehnya Silent Hill, padahal memiliki motivasi tersendiri untuk tetap berada disana.

Sekuelnya berjudul Silent Hill: Revelation 3D tidak semenarik film pertamanya. Padahal, film kedua ini melanjutkan ceritanya langsung. Bahkan, teknik tayangan 3D serta anehnya Silent Hill, masih kentara terlihat. Menurut penulis, film kedua ini agak maksa dari segi cerita, karena sebelumnya sudah beres di akhir film pertama.

Nah, bagaimana dengan penggambaran film Silent Hill 2 di filmnya tahun 2026 ini, bisa dicek langsung di sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Return To Silent Hill

Bagi yang sudah memainkan gim-nya, tentu paham bahwa nama karakternya sama dengan filmnya ini. Maka, dapat direka bahwa jalan ceritanya akan mirip. Ada satu kisah aneh yang perlu dijabarkan dalam artikel ini, yaitu bagaimana satu karakter anaknya, berinteraksi dengan seluruh ide Silent Hill.

Pokoknya, James Sunderland (Jeremy Irvine) dengan jaket khasnya, tiba di Silent Hill akibat surat undangan dari istrinya yang hilang, Mary Crane (Hannah Emily Enderson). Di sana, dirinya heran dengan keadaan kota yang sepi, serta kehadiran banyak warga yang sama bingungnya. Kehadiran sesosok gadis kecil, ternyata dapat menguak arti tersasarnya James di Silent Hill.

Selain itu, khas Silent Hill 2 dengan radio 'pendeteksi' perubahan dimensi dan tebalnya kabut, disatukan dengan suara sirene dan perubahan dinding yang berdarah merah, terlihat kentara dalam cuplikannya.

21 Januari 2026

Diteror Kera Peliharaan Sendiri Ala Film Primate

 

Ben yang sudah terlihat mengerikan (TMDB).

Akhirnya, film horor dari ranah Hollywood yang berbeda, tiba juga di sinema Nusantara, berjudul Primate alias primata. Kini, sineas perfilman Hollywood masih sanggup berkreasi baru, dengan plot diteror hewan peliharaan sendiri.

Ya, film Primate ini memang mengisahkan sebuah animo film lama, yang berkutat pada serangan binatang liar, dengan segala keganasannya. Namun, di film ini lebih mengacu pada binatang peliharaan sejenis simpanse, yang terjangkit rabies dan meneror pemiliknya sendiri.

Memang, film ini mengacu pada satu isu sosial, saat seekor hewan peliharaan rumahan, yang dapat terjangkit penyakit berbahaya rabies, lalu menularkannya pada manusia di sekitarnya. 

Terlebih lagi, hewan tersebut adalah simpanse, yang bernalar tinggi, dengan fisik melebihi manusia. Banyak penelitian oleh ilmuwan, yang menunjukkan bahwa kepadatan dan jumlah jaringan otot kera, ternyata melebihi manusia, sehingga lebih kuat dalam beraktifitas fisik.

Sedikit Info tentang Rabies

Wacananya, adalah setiap hewan peliharaan rumah perlu divaksin virus Rabies, demi mencegah hilangnya nyawa hewan tersebut, serta manusia disekitarnya.

Menurut Biofarma, rabies disebabkan oleh infeksi virus lyssavirus yang menular melalui air liur, gigitan, atau cakaran hewan terinfeksi. Hewan yang menularkan virus ini contohnya adalah anjing, kelelawar, kucing, dan kera. Manusia pun dapat tertular virus ini dari hewan, walau tidak menular ke manusia lainnya.

Untuk mencegahnya, diperlukan vaksinasi hewan bersama manusianya, karena resiko virus tertular dari hewan liar lebih tinggi daripada hewan peliharaan. Pada hewan pun, terdapat dua tipe gejala, yaitu tipe ganas atau paralitik, seperti dilansir dari KlikDokter

Pada tipe paralitik, justru penderitanya akan paralisis atau lumpuh. Justru gejala sebaliknya pada tipe ganas, penderitanya akan hiperaktif, agresif, dan mudah marah. Karena itu, banyak film horor (zombie khususnya), menggambarkan infeksi virus ini, lalu menjadi buas seketika.

Padahal, masa inkubasi virus rabies sangat bervariasi. Penderita mengalami gejala, antara dua hingga tiga bulan, atau satu minggu hingga satu tahunnya. Semuanya, tergantung dari faktor lokasi gigitan, serta jumlah virus yang masuk. 

Nah, tampaknya film Primate ini mengisahkan seekor simpanse peliharaan, yang lupa tidak divaksin virus rabies, namun telah terjangkit lama tanpa adanya gejala. Karena itu begitu film baru dimulai, langsung mengacu pada horornya.

Sinopsis Film Primate

Lucy (Johny Sequoyah) adalah seorang mahasiswi, yang baru saja pulang ke lokasi rumahnya di Hawaii. Sambil pulang, dia mengajak pula beberapa teman kuliahnya untuk berkunjung.

Setelah tiba, Lucy mengenalkan hewan peliharaannya yang bernama Ben, yaitu seekor simpanse yang sudah terlatih. Lucy menyatakan, bahwa Ben telah diadopsi sejak kecil, sehingga cukup jinak dan cekatan.

Namun suatu malam saat Ben tengah tidur, sedikit celah di sisi kandangnya menyebabkan hewan pengerat kecil menerobos masuk. Ben terluka akibat gigitan hewan tersebut, dan melarikan diri dengan masuk ke dalam rumah.

Tidak berapa lama, gejala rabies ganas pun muncul dalam diri Ben, yang mulai meneror seisi rumah. Seluruh manusia yang tinggal, termasuk diantaranya Lucy, sulit dalam menghadapi kepintaran dan buasnya Ben.

Sanggupkah mereka selamat dari kejaran Ben? Atau berakhir begitu saja dan terjangkit rabies? Adakah yang mampu menghalau masalah penyakit serius ini?

Jawabannya tentu ada di keragaman virus hayati ala sinema Indonesia. 

Kembali ke Masa Kerajaan China Ala Film Back To The Past

 

Hong yang berasa Isekai (TMDB).

Okeh, saatnya film yang beda dari ranah China sana, berjudul Back To The Past, yang tayang di sinema Indonesia. Film ini cocok sebagai film aksi pertama yang rilis di tahun 2026, bagi banyak penonton remaja (R13) tentunya.

Film ini menyatukan antara unsur futuristik dan masa kerajaan China terdahulu, tepatnya jaman Dinasti Qin. Memang, kisahnya diawali dengan sebuah perjalanan waktu, ditambah beberapa anggota tentara modern yang cukup isekai.

Tampaknya, China mulai beralih ke film aksi gelut yang mumpuni dan lebih realistis, daripada kisah epik mitologi bersama Naga dan fantastisnya perang kolosal. Mungkin, sudah saatnya China mengadaptasi kembali segi perfilman HongKong terdahulu, yang lebih mengisahkan adu kungfu.

Mengacu pada animo ini, sebenarnya di tahun 2025 lalu ada dua film China yang dirilis dengan aksi mirip. Keduanya yaitu film Operation Hadal di bulan September, dan Dongji Rescue di bulan Oktober. Kedua film bertema aksi yang lebih modern, yaitu buru sergap di sebuah kilang minyak, dan sesi penyelamatan sandera di kapal laut jaman Perang Dunia.

Dan kali ini, kisahnya lebih menarik lagi. Karena, di film Back To The Past adalah kombinasi antara aksi persenjataan modern, dengan kisah kungfu ala China sana. 

Cukup menarik memang, karena biasanya para tentara modern dilatih beladiri tangan kosong, yang dibantu dengan senapan. Sementara jaman kerajaan lebih fokus pada senjata tombak, perisai, baju zirah, busur-panah, serta pasukan serbu berkudanya.

Terlihat pada cuplikannya, beberapa karakter yang memiliki pistol, senapan serbu, serta rompi kevlarnya. Mereka bahkan sempat memasang ranjau darat, demi menghalau kejaran pasukan berkuda. 

Okeh, saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Back To The Past

Hong Siu-lung (Louis Koo) adalah mantan pasukan modern China, yang terjebak di jaman kerajaan Dinasty Qin, selama 20 tahun lamanya. Dirinya sempat melalui perjalanan waktu ke masa lampau, demi sebuah misi yang merubah sejarah.

Selama 20 tahun berada di lokasi pengasingan, dirinya sudah cukup terbiasa hidup ala jaman kerajaan. Lokasi tersebut sengaja dibangun demi memantau keadaan Hong, dengan wacana dari Kaisar Qin (Raymond Lam Fung). 

Sebenarnya, keanehan kisah 'isekai' Hong telah dipantau lama, sehingga Kaisar Qin penasaran dengan keberadaannya. Selama beberapa tahun awal tibanya Hong di Dinasti Qin, Kaisar sempat belajar banyak hal tentang perkembangan jaman di China dari Hong.

Hingga tepat tahun ke-20 sejak Hong tinggal, ternyata tiba kabar lainnya yang cukup mencengangkan seantero kerajaan. Kaisar Qin disergap oleh sekelompok pasukan, yang memiliki persenjataan (modern) sama dengan Hong. Hong dan Kaisar Qin pun perlu merencanakan bersama, agar dapat menghalau pasukan tersebut, yang tampaknya memiliki misi sama dengan Hong, 20 tahun lalu.

Sanggupkah Hong menghalau serangan pasukan modern? Atau malah tergiur untuk kembali ke masanya? Dan bahkan mencoba membereskan misi aslinya, sebelum tinggal nyaman di Dinasti Qin?

Jawabannya, tentu ada di sinema aksi kungfu ala Indonesia.

Chris Pratt Melawan Kecerdasan Buatan di Film Mercy

 

Chris yang terjebak kreasinya sendiri (IMDB).

Daaan seperti biasanya, ranah Hollywood pun kembali meramaikan ngerinya AI di film terbarunya berjudul Mercy, yang tayang di sinema Indonesia. Film yang diisi oleh Chris Pratt ini, memiliki rating R13, alias untuk remaja. 

Pada cuplikannya, film ini menyajikan aksi dan ketegangan berbeda, karena memiliki format cerita maju-mundur (alias banyak flashback), akibat tokoh utamanya yang terjebak dalam persidangan khusus AI.

Sedikit Kisah AI dari Ranah Hollywood

Memang, jaman AI kali ini perlu ditelaah dari segi urusan keamanannya. Seperti sebelumnya di film ala nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, beberapa masalah yang mengganggu manusia dapat terjadi akibat AI.

Jika ditelaah dari segi ranah film Hollywood, kisah AI yang agak rusak ini memang dimulai kembali sejak film futuristik, berjudul Deus Ex Machina di tahun 2016 lalu. Walau arti harfiahnya adalah plot armor, tetapi film ini bertema mengenai tentang perkembangan AI, hingga bisa berupa seorang robot.

Nah di film ini, AI yang sudah berbentuk robot ternyata sanggup mengembangkan kepribadiannya sendiri. Hingga akhirnya terjadi ketegangan antara kreatornya, satu jurnalis, dan beberapa AI berbentuk robot wanita. Cek saja bagaimana tegangnya tersebut, karena memang film ini lebih ke drama dan horor sekaligus.

Daaan, tentu tidak cocok rasanya membahas tema rusaknya AI, tanpa mengacu pada satu waralaba film yang meramaikannya, yaitu Terminator (1984, 1991, 2003, 2009, 2015, 2019). Ya, film yang khas dengan Arnold Schwarzenegger ini, memang awalnya mengisahkan tentang kekisruhan dunia akibat AI.

Sejak film awalnya di tahun 1984, memang mengisahkan sedikit bumbu perjalanan waktu, namun tetap berfokus pada AI, dengan sinkronnya para robot pembasmi, bernama Terminator. 

Kacaunya dunia di film Terminator, akibat kecerdasan buatan bernama Skynet, yang malah memberontak dan meretas senjata nuklir sedunia. Banyak lokasi di dunia, kini menjadi puing akibat radiasi nuklir, dan dijajah oleh robot humanoid bernama Terminator dari Skynet.

Dari segitu saja, sudah jelas bagaimana besarnya resiko aplikasi AI, yang tentu dijabarkan dengan heboh dalam film ini. Memang di film Terminator, AI sebenarnya dikembangkan demi keamanan negara, alias program eksperimen persenjataan dari Kementerian Keamanan Nasional AS. 

Kembali ke film Mercy, AI yang ditampilkan disini sudah memiliki kuasa tersendiri, bahkan hingga setara hukum. Ya, film ini mengacu pada sebuah program AI, yang memiliki posisi sebagai Hakim, Jaksa, dan Juri sekaligus dalam sistem peradilan hukum di AS. 

Dari cuplikannya pun terlihat, bahwa AS sudah dalam tahap dystopia, namun justru ditanggulangi oleh pemerintah yang totalitarian. Seluruh fungsi pengawasan dan pemantauan publik, dilaksanakan melalui ponsel, kamera pengawas, drone, dan bahkan pindaian satelit, oleh pemerintahnya.

Sinopsis Film Mercy

Keadaan di AS sudah kacau balau, dengan tingginya aksi kriminalitas dan kesenggangan sosial yang sangat berbahaya. Namun, pemerintahnya justru menerapkan pemantauan publik yang menyeluruh. 

Bahkan, pemerintah perlu mengembangkan sistem hukum AI, yang bernama Hakim Maddox (Rebecca Ferguson). Detektif bernama Chris Raven (Chris Pratt) adalah salah seorang anggota kepolisian, yang turut berkontribusi saat mengembangkan program AI berkuasa hukum ini.

Program ini didesain demi menyambungkan seluruh bukti dari pantauan ponsel, kamera pengawas, drone, pindaian satelit, serta kuasa hukum miliknya, dalam menyidang dan mengeksekusi langsung terdakwa. 

Sayangnya, justru Chris yang terjebak dalam sistem ini, akibat disangka membunuh istrinya sendiri. Chris yang tidak ingin mengalah begitu saja, hanya memiliki waktu 90 menit demi membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Chris pun teringat, bahwa awal kisruh tersebut dimulai saat dirinya tengah melacak keberadaan bom besar, yang dikirimkan melalui sebuah truk trailer. Kasus tersebut memang berakhir buruk, sehingga banyak pihak keamanan kehilangan nyawa.

Chris yang tahu seluk-beluk Hakim Maddox, akhirnya mencoba bekerjasama, demi melacak petunjuk yang hilang dari kasus tersebut, sekaligus membuktikan dirinya tidak bersalah atas pembunuhan istrinya.

Sanggupkan Chris melalui seluruh proses sidang ? Atau malah terpaksa mengaku atas kasus ini? Dan malah, hancur sendiri akibat konspirasi besar dibaliknya?

Jawabannya, tentu ada di drama hukum ala sinema Indonesia.

20 Januari 2026

Sedihnya Ngobrol Dengan AI Ala Film Esok Tanpa Ibu

 

Sekeluarga yang masih lengkap (TMDB).

Nah, saatnya kembali ke jaman saat ini, yang lebih kentara dengan AI-nya, ala film Nusantara berjudul Esok Tanpa Ibu, yang tayang di banyak sinema Indonesia.

Kali ini, banyak aktor yang mengisinya pun berasa mega bintang, yaitu Ringgo Agus Rahman (yang kembali mengisahkan drama keluarga), Dian Sastrowardoyo (yang memang ahli dalam film drama). Keduanya ditemani oleh duo aktris-aktor muda yang tengah naik daun, yaitu Ali Fikry dan Aisha Nurra Datau. 

Sinopsis film ini memang mengisahkan cerita futuristik, tidak seperti kebanyakan film drama Indonesia. Ya, film Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang kecerdasan buatan (AI), yang kini sedang ramai digemari oleh banyak remaja dan pemuda-pemudi Indonesia. Ratingnya pun disesuaikan, yaitu untuk remaja (R13) keatas.

Sekilas tentang AI dan Remaja

Mengenai kisah perkembangan AI-nya itu sendiri, khususnya di kalangan warga yang mudah mengaksesnya, adalah sejak munculnya Siri di iPhone 4s dari Apple, pada tahun 2011 lalu. Siri memang dikenal sebagai asisten pribadi, tetapi karena keterbatasan spek ponsel, tidak membuka banyak peluang bagi pengembangan AI.

Lalu loncat ke 11 tahun berikutnya, ChatGPT dari OpenAI meramaikan ranah kecerdasan buatan di ponsel, pada tahun 2022 lalu. Banyak perusahaan lain, contohnya adalah raksasa Google, merilis pula Gemini untuk ponsel androidnya. Bahkan, sejak tahun 2022 hingga sekarang, bisa disebut sebagai jamannya balapan bagi para developer IT, untuk mengembangkan teknologi berbasis AI.

Nah (lagi), kini saatnya di tahun 2026 dengan hingar-bingar dari dunia AI di tahun sebelumnya, tampaknya perlu ditelaah dari segi efeknya bagi remaja. Beberapa kampus dan sekolah bahkan sempat mencanangkan Kurikulum Berbasis AI sebagai bagian dari pendidikannya. 

Namun, karena penulis sendiri (selalu) skeptis dengan AI, dan paham dengan perbedaannya bagi perkembangan anak, maka dilansirkan saja beberapa info dari pemerhati pendidikan. Penulis skeptis, karena AI lebih cocok dipakai oleh kaum tekno, yang sanggup memahami dan mengopreknya langsung, daripada dipakai sehari-hari. Apalagi, banyak gawean manual yang harus dikerjakan manusia. 

Terdapat pula beberapa kasus berujung kehilangan nyawa di luar sana, yang menyangkut hubungan langsung antara AI dan remaja. Berbagai kasus tersebut, adalah satu anomali, yang sempat mempengaruhi perkembangan anak akibat AI.

Bahkan menurut GentaQurani, yang melansir dari penelitian di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), dengan melansir kajian oleh Guru Besar Prof. Ridi Ferdiana, menyatakan bahwa 77 persen generasi milenial hingga gen Z menggunakan AI dalam kesehariannya. Sementara 45 ribu dari 60 ribu mahasiswa di UGM, telah menggunakan AI secara intensif.

Sisi terang AI dalam keseharian remaja dan pemuda, adalah sebagai teman belajar yang cerdas. AI dapat menjadi sahabat belajar yang luar biasa bagi anak. Fitur guided learning dari Gemini AI, dapat membantu pelajar untuk memahami konsep mata pelajaran hingga kuliah.

Dengan begitu, seperti dilansir dari DCloud, hubungan remaja dan AI harus meliputi beberapa faktor. Diantaranya adalah pendidikan literasi digital, peningkatan kesadaran etika AI, pengawasan dan pendampingan, kurikulum berbasis AI di pendidikan, regulasi dan kebijakan yang mendukung, serta kerjasama antara industri dan pemerintah.

Namun kembali UGM, Prof. Ridi menyatakan beberapa resiko mengenai penerapan AI yang intensif. Diantaraya kemampuan berpikir kritis dan analisis menurun, sehingga tidak dapat menyelesaikan masalah secara mandiri. Daya ingat akan melemah, akibat mudahnya mencari informasi. Serta efek yang dikenal ramai sebagai brain rot, alias kondisi otak yang tumpul.

Kisah Ado yang Terinspirasi oleh AI bernama Hatsune Miku

Walau begitu, daripada membahas kisah mengerikan tentang AI, dan membahas acuan terpenting digital mengenainya, maka perlu dikenal pula dari segi lainnya, yaitu dunia hiburan. Kenapa? Karena blog ini memang berisi dunia seni hiburan, khususnya film dan banyak kisah berbudaya lainnya.

Dari segi ini, memang sedang kisruh dengan Hak Cipta dan urusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) akibat AI, terdapat secercah harapan dari ranah lainnya. 

Yaitu, dengan mengacu pada seorang penyanyi terkenal bernama Ado, yang kini tengah ramai dibincangkan di ranah digital, dunia nyata Jepang, dan dunia musik internasional. Penyanyi ini seperti gabungan Vtuber dan Idol ala Jepang, namun dengan bumbu horor ala Gadis Gothik (GeGe). Namun, lagu dan vokalnya memang cukup kuat, sehingga layak disebut sebagai Diva dari Jepang. 

Nah, Ado ini sebenarnya mengidolakan Hatsune Miku sejak remaja, yang memberi inspirasi karirnya sebagai penyanyi di Jepang. Telah debut sejak tahun 2020 lalu, kini di tahun 2026, Ado sebenarnya baru berumur 23 tahun! Sebelum dia debut, Ado adalah bagian dari Utaite, yaitu semacam e-girl yang suka meng-cover lagu.

Okeh, tentunya cukup mengerti bahwa kisah ini, berarti sebuah cerita berbeda, bagaimana seorang penyanyi yang kuat meraih mimpinya berkat bantuan AI, dan berakhir sebagai Diva di Jepang. Ado bahkan sempat menyatakan, bahwa masa remaja dirinya, sering diisi dengan menonton Hatsune Miku pada konsol DS-nya.

Nah, karena sudah panjang lebar, dan akhirnya kembali ke dunia hiburan juga, maka coba kita cek saja sinopsis film Esok Tanpa Ibu. Perlu penulis tegaskan, isu sosial semacam ini memang sudah dikaji oleh banyak profesional. Sehingga, perlu diadaptasi pula sebagai bagian dari sebuah film, baik itu untuk hiburan, maupun meningkatkan kesadaran warga.

Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu

Rama (Ali Fikry) adalah seorang remaja yang aktif, namun hanya dekat dengan ibunya saja, Laras (Dian Sastrowardoyo). Rama sering curhat dengan Laras, mengenai dirinya yang kurang dekat dengan ayahnya sendiri, yaitu Hendi (Ringgo Agus Rahman). Karena itu, ibunya yang kocak serta sering bercerita, menjadi bahan keseharian Rama.

Namun, suatu hari Laras mengalami kecelakaan, yang berakibat dirinya harus dirawat dan koma di rumah sakit. Rama yang memang sangat dekat dengan ibunya, merasa kehilangan minat untuk berdiam diri di rumah. Hubungan dirinya dengan Hendi, malah semakin kurang harmonis.

Suatu hari, Rama berkunjung ke rumah temannya, Zyla (Aisha Nurra Datau) yang lihai dalam hal Teknologi Informatika. Zyla menyarakan, untuk mengunggah seluruh video Laras, kedalam mesin kecerdasan buatan miliknya. Dengan begitu, Rama masih bisa mengobrol dengan ibunya.

Keseharian Rama pun diisi kembali dengan hadirnya Laras, walau dalam bentuk digital, pada gawai jam tangan pintar maupun komputernya. Namun, Hendi tidak menyukai Laras versi AI, dan mencoba membongkar instalasi tersebut dirumahnya. Rama dan Hendi sempat bersitegang, hingga akhirnya satu instalasi monitor besar, secara kebetulan memunculkan sosok Laras yang sehat walafiat.

Dapatkan keluarga ini menerima kehadiran AI bersosok ibu? Atau malah semakin galau dalam menunggu kesembuhan Laras di rumah sakit? 

Jawabannya, tentu ada di ranah kecerdasan buatan ala sinema Indonesia.