22 April 2026

Ritual Kerasukan Ala Punggawa Pawai Seni di Film Para Perasuk

AING MAUNG! (TMDB).

Okeh, saatnya membahas film Nusantara yang menjadi pamungkas di bulan April ini, berjudul Para Perasuk, yang tayang di sinema Indonesia dengan rating R13. Film ini memang cukup beda, yaitu mengacu pada tanah adat dan ritual seninya, yang terancam digerus oleh pihak kapitalis.

Dago Elos Never Lose (via Acerax).

Dago Elos Never Lose

Sebelum membahas film yang kentara konflik antara budaya versus kapitalis, coba penulis bahas terlebih dahulu tentang wilayah terdekat. Yaitu, daerah Dago alias sepanjang Jalan Ir. H. Juanda di Kota Bandung, yang menjadi hunian penulis. 

Istilah Dago Elos Never Lose dibuat oleh warga Dago sendiri, yang mengacu pada pergerakan khusus. Yaitu, menentang penggusuran dari tanah yang disengketakan, karena dimiliki oleh warga lain yang merasa memiliki semuanya. Bahkan, sejarah warga tersebut bisa dilacak hingga jaman penjajahan Belanda dahulu, yang sudah lama ditinggalkan oleh pemilik (sertifikat) aseli.

Cerita ini sudah turun temurun menjadi kisah masalah hukum di daerah dago, yang notabene tanahnya mayoritas dimiliki oleh beberapa kampus negeri besar, seperti Unpad (Universitas Padjajaran) dan ITB (Institusi Teknologi Bandung). Namun, banyak wilayah kedua kampus akan pindah ke Jatinangor, atau menetap di Dago. Tanah pun beralih kepemilikan menjadi milik Pemerintah Daerah. Jadi, untuk wilayah yang dimiliki oleh Pemda, sudah tidak bermasalah lagi.

Tetapi kisah ini terus menerus terjadi. Contohnya adalah masalah sertifikat tanah dan hotelnya di sekitar Terminal Dago. Baru-baru ini, masalah sewa-menyewa lahan Kebun Binatang Bandung pun sempat bermasalah, akibat salahnya sendiri. 

Namun, konflik perdata lama ikut mencuat saat masa tersebut, yaitu masalah tanah SMAN 1 Bandung dengan pemilik lahan, yaitu dari PLK. Kisruh SMAN 1 Bandung diakhiri dengan putusan akhir dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan ditolak Kasasinya oleh Mahkamah Agung, bulan Maret lalu.

Pergerakan Dago Elos Never Lose memang asli dari warga, yang dibantu oleh pemerintah, tanpa campur tangan sensasional dari Warta. Media berita ini hanya diikutsertakan saat pemberitaan utamanya tiba, tanpa campur tangan berlebih. 

Warga Dago sebenarnya berpengalaman untuk urusan ini, tanpa campur tangan warta. Contohnya masalah Asrama Bank Indonesia di jalan Tubagus. Keadaan sekarang memang berbeda dengan keadaan terdahulu, saat literasi warga masih kurang. Bahkan banyak warga generasi berikutnya di Dago, adalah lulusan dari banyak universitas Bandung, sehingga cukup mampu untuk memahami urusan hukum di daerah ini.

Karnaval 17 Agustus 2025 di Jalan Tubagus (GMaps via Acerax).

Perlu kembali ke urusan film Perasuk, yang lebih mengacu ke tanah adat dan ritual seninya. Justru disitu kemiripan utama antara Dago Elos Never Lose dengan ritual ala film Para Perasuk. Setiap pawai karnaval 17 Agustus demi Hari Kemerdekaan Indonesia, banyak para punggawa seni serta sanggarnya dari daerah Dago, tetap ikut meramaikannya. Ikutserta mereka dengan warga yang berkostum acak ala seniman pun, turut meramaikan setiap tahunnya. 

Saking ramainya karnaval ini, cukup heran mengapa ada banyak kendaraan motor dan mobil, yang melewati daerah Dago saat acara berlangsung jam 12an siang. Padahal satu sisi jalan akan dipenuhi karnaval, yang bisa berlangsung selama satu hingga dua jam di satu ruas saja. Ya, bagi para 'perasuk' ala Dago ini, bisa seharian untuk mencapai satu keliling saja. Tidak heran, banyak yang akhirnya euforia dan hampir 'AING MAUNG' alias Pamacan yang terbawa intensifnya atmosfer.

Jadi intinya, tidak perlu khawatir dengan kisah di Dago Elos ini, karena kami Never Lose. Apalagi dengan Track Record sejarah turun-temurun yang sudah terwaris selama beberapa generasi lamanya. Karena kami cukup paham dan mengambil jalur rapih dan baik, tanpa mencari sensasi berlebih. Kecuali kalau sedang pawai karnaval 17an, tentunya tanpa jurus Pamacan. 

Wassalam untuk pihak lain yang tidak berkepentingan disini. Dan tentunya terima kasih kepada sineas perfilman Indonesia, yang berani mengadaptasi isu sosial di ranah fiktif tanpa sensasi berlebih. Semangat Berkarya!

Sinopsis Film Para Perasuk

Desa Latas adalah wilayah pinggiran kota, yang terkenal dengan ritual pawai seni sekaligus kesambet ala kesurupan euforia. Gurunya adalah Asri (Anggun), sebagai pewaris ritual Merasuk ini. Animo ini masih ramai dan terlatih di Desa Latas, layaknya tanah adat khusus dengan lokasi keramat bernama Mata Air Roh.

Bayu (Angga Yunanda) adalah pemuda peniup suling yang sangat berniat untuk mengikuti ritual Desa Latas, dan selalu ikut meramaikannya. Posisinya sebagai penyuling, menyebabkan dia berinisiatif untuk mendekati gadis cantik dari Desa Latas bernama Laksmi (Maudy Ayunda). Bayu yang sangat berminat menjadi punggawa seni Merasuk, sekaligus Laksmi yang berkecimpung sebagai penarinya, menyebabkan keduanya cocok untuk berlatih bersama.

Sayangnya, Bayu diminta oleh ayahnya (Indra Birowo) untuk ikut menjual rumah dan pindah ke kota. Alasannya adalah wilayah tersebut akan dibangun semacam pabrik. Tidak hanya lokasi rumah Bayu, Desa Latas serta Mata Air Roh-nya akan tergusur jika pabrik jadi dibangun. Keluarga dan teman dekat Bayu pun tetap meragukan, bahwa ritual Perasuk Desa Latas yang Pamacan ala AING MAUNG masih berlanjut hingga generasi berikutnya.

Mulailah kekisruhan wilayah tanah konflik dengan tanah adat. Tidak hanya mendekati dengan cara bisnis, perwakilan dari perusahaan pabrik mulai meneror, hingga memakai kekerasan untuk mengusir warga desa yang tidak menurut.

Sanggupkah Bayu, Laksmi, Asri, dan seluruh Desa Latas mempertahankan tanah dan adatnya? Atau memang warisan budaya hanyalah kenangan dari masa lalu yang tidak perlu dipertahankan demi cuan semata? Senihil itukah hidup di jaman modernisasi jurig ini?

Jawabannya, tentu ada dalam ritual kesurupan ala kerasukan ala pamacan alias AING MAUNG di sinema Indonesia.

Jurig dari Sulawesi yang Tiada Habisnya di Film Songko

 

Sulitnya dipercaya oleh warga desa jaman sekarang (TMDB).

Film jurig dari perfilman Indonesia muncul kembali dengan judul Songko, yang tayang di sinema indonesia saat minggu keempat bulan April ini. Film berating R13 ini mengisahkan mahluk legenda urban dari Sulawesi, khususnya dari Manado dan Minahasa.

Kisah jurig yang berasal dari luar pulau Jawa dengan segala mistisnya, memang jarang diadaptasi menjadi sebuah film. Karena itu, Songko perlu ditelaah terlebih dahulu.

Songko adalah sejenis legenda urban, yang muncul di Manado dan Minahasa sejak tahun 1980an lalu. Bentuknya adalah mahluk tinggi yang mengenakan jubah, serta songkok sebagai topinya, karena itu namanya adalah Songko. Mahluk ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang telah meninggal. Namun karena semasa hidupnya selalu mengejar kemampuan paranormal, sehingga arwahnya tidak tenang di alam baka, dan bahkan kembali ke dunia manusia untuk menebar teror.

Bahkan, kisah Songko sebenarnya muncul dalam arsip Belanda sejak tahun 1907 lalu, yang merupakan kompilasi cerita rakyat. Arsipnya berjudul Tontemboansche Teksten: Vertaling (1907) dan Tontemboansch-Nederlandsch Woordenboek (1908). Dalam kedua arsip tersebut, Songko adalah sejenis mahluk supernatural, yang mengejar warga pelanggar pantangan, atau sedang rentan.

Mirip dengan kisah supernatural lainnya, para peneliti menganggap Songko adalah bentuk instrumen sosial. Tujuannya adalah menanamkan kedisiplinan bagi warga, agar taat dan tidak macam-macam, apalagi di jaman yang penerangan malamnya kurang. Khusus Songko yang dipetuahkan oleh tetua seperti Tonaas dan Walian, adalah untuk menjaga batas aman wanua. 

Sementara Songko dari tahun 1980an, muncul kembali sebagai legenda urban. Kemunculannya kembali adalah akibat kasus mengerikan saat jaman tersebut. Mahluk mengerikan berjubah ini mengejar darah suci perempuan muda, yang tentunya masih perawan dan belum terjamah sama sekali. 

Songko yang harfiah mengancam masyarakat Sulawesi, menjadi peringatan khusus bagi pemuda dan pemudi pada jaman tersebut, sesuai dengan fungsi awalnya sebagai cerita rakyat.

Sinopsis Film Songko

Desa Tomohon di Sulawesi adalah lokasi yang taat dengan agamanya, dan selalu hidup rukun antar tetangganya. Namun suatu petaka tiba, dengan banyaknya pemudi desa yang ditemukan meninggal bersimbah darah. 

Layaknya mengenang petuah terdahulu, warga lalu mengingat bahwa teror ini mirip dengan cerita rakyat bernama Songko. Mahluk ini akan tiba di satu lokasi, jika ada warganya yang melaksanakan ritual mistis, atau melanggar pantangan.

Warga mulai menyalahkan satu keluarga yang cukup berbeda, yaitu Ekel (Tegar Satrya) sebagai kepala keluarga, bersama istrinya Helsye (Imelda Therinne), Mikha (Annette Edoarda) sebagai anak pertama, dan adiknya Lina (Fergie Brittany). Keluarga ini dituduh sebagai jelmaan Songko, karena lebih banyak  beranggota perempuan, dan belum satupun yang menjadi korban.

Hingga akhirnya keadaan berubah seketika, saat Lina yang merasa tertekan oleh sikap warga desa, akhirnya diteror pula oleh kemunculan mahluk Songko. Namun warga masih belum percaya, dan bahkan semakin buas menolak kehadirannya. Ekel yang lihai menembakkan senapan, harus berinisiatif gelut, demi menghalau serangan Songko, warga desa, atau sekaligus pihak agresor manapun.

Sanggupkah keluarga ini bertahan sampai akhir? Atau ada maksud khusus dari warga desa yang terus menyalahkan? Atau bahkan Songko sebenarnya adalah sisa dosa dari warga desa itu sendiri, yang kembali untuk membalaskan dendam?

Jawabannya, tentu ada di cerita rakyat ala sinema Indonesia.

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

21 April 2026

Mengenang Raja Pop di Film Biografi Michael (Jackson)

 

Jaafar yang sanggup menari ala Michael (TMDB).

Daaaan, film untuk mengenang King of Pop pun dirilis di bulan April 2026 ini, berjudul singkat saja Michael, yang tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Mendiang Michael Jackson yang wafat tahun 2009 lalu adalah sosok legendaris, yang berhasil mendobrak kesenggangan rasis di AS sana, dan bahkan hingga sedunia.

Michael Jackson Sang King Of Pop

Tampaknya kurang sreg membahas film biografi Michael Jackson, tanpa terlebih dahulu membahas kiprahnya di dunia seni populer. Michael Jackson hingga kini dijunjung sebagai artis paling menghibur sedunia, yang sangat berpengaruh pada keadaan seni dan politik pula.

Michael adalah seorang anak yang fantastis sejak kecil. Saat baru berumur enam tahun, dirinya langsung menjadi vokalis utama bersama grup band keluarganya, bernama Jackson Five. 

Saat Michael Jackson berkarir solo dan merilis album Thriller di tahun 1982 lalu, dirinya sangat sukses hingga sekarang, karena album tersebut masih meraih rekor sebagai album tersukses sepanjang masa. Di saat itu pula, Michael Jackson berhasil menggabungkan musik dengan video klip yang sangat sinkron, layaknya karya sinema.

Tidak hanya dari video klip, artis serba bisa ini sempat menciptakan berbagai gerakan dansa terkenal. Contoh terkenalnya adalah Moon Walk dan Robot. Gerakan dansa yang energetik dan suara vokalnya yang masih nyaring dan kuat, memang selalu dirindukan oleh penggemarnya. 

Kombinasi bakat alami dan sosok Michael Jackson, menyebabkan dia mencapai tahap sebagai artis dengan jumlah penjualan album terbanyak. Jumlahnya sangat fantastis, yaitu mencapai 500 juta kopi. Michael meraih pula banyak penghargaan, diantaranya adalah 13 dari Grammy, sebagai Grammy Legend, sebagai Grammy Lifetime Achievement, 26 dari American Music, 8 dari MTV Video Music, 6 dari Brits, dan 3 penghargaan dari Presiden AS.

Michael Jackson pun salah satu artis yang dermawan, dengan donasi mencapai 500 juta Dolar AS selama hidupnya. Utamanya adalah melalui organisasi yang didirikan olehnya sendiri, bernama Heal The World Foundation. 

Pada tahun 1980an, Michael Jackson sempat menuai kontroversi dengan berubah kulit. Artis kulit hitam (Negroid) ini menjalani operasi, agar seluruh tubuhnya berubah menjadi putih, mirip dengan ras Kaukasia. Padahal Michael menderita penyakit kulit langka bernama Vitiloid, yang merubah warna kulitnya menjadi pucat. Jika tidak dioperasi, maka Michael akan semakin sensitif dengan cahaya matahari, dan warna kulitnya akan belang. Tentu sebagai seorang artis, akan terlihat aneh.

Akhir masa hidupnya pun cukup kontroversial, yaitu Michael meradang overdosis obatnya, akibat anjuran dokter pribadinya. Padahal, dirinya sedang menyiapkan konser khusus, demi meramaikan dunia pop dan menghibur fansnya yang telah lama merindukan. Siaran langsung upacara pemakamannya sangat ramai, dengan rekor mencapai 2,5 milyar penonton dari seluruh dunia.

Uniknya dalam film Michael ini, yang memerankan dirinya adalah anggota keluarga Jackson. Jaafar Jackson adalah keponakan langsung Michael, yang berlatar sama dengan Jackson lainnya, yaitu penyanyi dan penari. Namun artis berumur 29 tahun ini ditantang pula untuk memerankan pamannya sendiri yang legendaris. 

Dari cuplikannya, sangat terlihat kemiripan antaranya Jaafar dan Michael. Bahkan, gaya menari dan menyanyi Michael, sanggup ditirukan langsung oleh Jaafar. Dengan hanya merubah tipe rambutnya menjadi keriting Afro ala Michael muda, dan berkostum ala King of Pop, Jaafar sanggup terlihat layaknya Michael Jackson yang masih hidup di tahun 1980an lalu.

Jadi, para penikmat musik dan khususnya penggemar Michael Jackson, film ini menjadi animo tersendiri yang sangat dirindukan. Tidak hanya mengenang dengan menonton video lama Michael Jackson saja, tetapi menjadi interpretasi baru dari Hollywood, dan khususnya langsung dari keluarga Jackson.

Rasanya Bertunangan Ala Duet Robert Pattison dan Zendaya di Film The Drama

Duo aktor-aktris yang awalnya fantastis (TMDB).

Berikutnya adalah film drama romansa yang agak pecicilan, karena judulnya saja cuman The Drama, yang tayang minggu keempat di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau judulnya sederhana, tetapi berisi duet aktor-aktris muda yang semakin naik pamornya, yaitu Robert Pattison dan Zendaya. Uniknya, keduanya memang terkenal sejak memerankan karakter fantasi dan pahlawan super.

Zendaya dan Robert Pattison

Zendaya yang tentunya dikenal sejak film Spiderman: Homecoming (2017) lalu, sudah cukup move-on dari film ala pahlawan supernya. Sudah berkecimpung di dunia perfilman sejak kecil, kini Zendaya berhasil memenangkan penghargaan film, contohnya adalah film Euphoria (2019). Kemampuan aktingnya di waralaba film penuh penghargaan, Dune (2021) dan Dune: Part Two (2024) pun cukup dihargai, dengan nominasi sebagai Aktris Pendukung Terbaik. 

Sementara Robert Pattison, adalah aktor yang betulan menggila semenjak pamornya naik. Pattison dikenal dan dikenang sebagai aktor ganteng ala vampir di waralaba Twilight (2008, 2009, 2010, 2011, 2012). Banyak yang mengagumi Pattison, apalagi dari kaum muda-mudi. Seakan, Pattison adalah pasangan ideal yang akan mengisi ranah film Romansa hingga akhir masa.

Namun setelahnya, Robert Pattison malah serius dalam berkarir akting, apalagi di berbagai proyek film yang kurang mainstream, contohnya adalah film High Life (2018). Film ini mengisahkan drama dan akting yang kentara dari Pattison, karena berlatar di satu lokasi dengan satu karakter saja bernama Monte. Itupun berada dalam kapsul tertutup di tengah antariksa dan ditemani seorang saja, yaitu oleh anaknya yang masih bayi 

Kemampuan aktingnya pun dicoba dalam film The Lighthouse (2019), yang mengisahkan kegilaan para penjaga mercusuar, sebelum jaman otomatisasi lampunya. Film hitam putih ini memang mengadu Pattison dengan aktor drama kawakan, yaitu Willem Dafoe yang sempat bermain pula di film pahlawan super.

Berikutnya adalah film berbelit-belit dan aneh ala Chistopher Nolan, yaitu Tenet dari tahun 2020 lalu. Masih seperti khas penulisan dan sutaradara Nolan, film yang ceritanya susah dimengerti dan disambungkan ini ternyata mampu dijalankan oleh Pattison dan aktor utamanya, John David Washington.

Sang vampir pun kembali menjadi manusia setengah vampir nan kelelawar, dalam film pahlawan super berjudul singkat, The Batman (2022). Film yang berhasil menggelap-gulita-kan Gotham kembali, cukup menarik di segi detektif kriminalnya,  sekaligus dengan pembawaan karakter Wayne ala akting Pattison.

Nah, bagaimana film The Drama berisi kombinasi aktor-aktris muda yang ramai sejak memerankan karakter fantastis, namun lanjut dan kembali ke ranah drama ini? 

Sinopsis Film The Drama

Emma Harwood (Zendaya) dan Charlie Thompson (Robert Pattison) adalah sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Saking terjerembap kasmarannya, keduanya lalu bertunangan dan siap untuk lanjut menuju jenjang pernikahan. 

Namun, sebuah drama terbaru menimpa mereka. Yaitu saat kedua temannya, Mike (Mamoudou Athie) dan Rachel (Alana Haim) bertanya mengenai kesiapan mereka. Emma pun ragu, sementara Charlie malah cengengesan. 

Drama pun berlanjut menuju ranah yang kurang jelas diantara keduanya. Heboh, namun sangat mempertanyakan faedah dari hubungan diantara sepasang romansa ini. Padahal, minggu tersebut adalah jadwal sesi pernikahan mereka, yang tentu mengundang seluruh keluarga, kerabat, dan teman terdekat. 

Sanggupkah mereka bertahan hingga upacara pernikahan berlangsung? Atau malah menemukan cara baru untuk memperpanas semuanya? Jawabannya, tentu ada di ranah kasmaran nan romansa ala sinema Indonesia.

Gerbang Fantasi Unik Ala Film Magic Faraway Tree

 

Dunia yang fantastis ala Enid Blyton (TMDB).

Masuk ke ranah Hollywood, saatnya membahas film Magic Faraway Tree yang tayang di sinema Indonesia sejak pertengahan April. Film mengenai dunia dongeng cukup jarang diadaptasi oleh Hollywood, tentu selain film Mario Bros yang rilis tepat beberapa minggu kemarin. Rating Semua Umur pun menjadi alasan yang cocok untuk menonton bersama keluarga.

Nah, sebelum membahas film yang fantastis fantasinya, maka perlu salfok dulu pada aktor yang mengisinya. Yang sudah menonton cuplikannya, akan mengenal aktor bernama Andrew Garfield. Aktor yang memang berlatar drama ini, sempat ramai dengan perannya sebagai Peter Parker di film The Amazing Spiderman (2012).

Namun, sebenarnya penulis sempat menonton Garfield pada tahun 2010an lalu, di film yang media sosialnya sangat sensasional saat jaman tersebut. Yaitu film berjudul The Social Network, dimana Garfield berperan sebagai Eduardo Saverin. Garfield berperan dengan aktor utama yang sudah cukup terkenal walau masih muda, yaitu Jesse Eisenberg yang berperan langsung sebagai Marck Zuckerberg, sang pionir dan pemilik Meta. Film ini meraih dan memenangkan nominasi Oscar, jadi layak untuk ditonton bagi yang berminat drama medsos ala Facebook.

Berikutnya adalah film yang menyebabkan Garfield masuk nominasi Oscar sebagai Aktor Terbaik, berjudul Hacksaw Ridge (2016). Film yang banyak nominasi penghargaan ini, memang berbeda dengan ranah sejarah perang lainnya. Yaitu, mengisahkan seorang veteran perang asli, bernama Desmond T Doss yang diperankan oleh Garfield. 

Bekerja sebagai seorang dokter, dan berprinsip sebagai seorang pasifis (alias cinta damai), Doss justru berinisiatif untuk bergabung sebagai tentara. Saking hebatnya di lahan perang dalam menyelamatkan nyawa, Doss bahkan sempat diberi penghargaan tertinggi di militer AS, yaitu Medal of Honor. Uniknya Doss, adalah satu-satunya tentara yang diberi penghargaan ini, tanpa pernah menembakkan senapannya sekali pun (!).

Okeh, sudah cukup mengenai Andrew Garfield, dan saatnya membahas film yang berlatar fantasi di bulan April ini. Oh ya film ini diadaptasi dari buku novel ternama karya Enid Blyton, yang sebelumnya sempat diadaptasi pula novelnya menjadi film berjudul Wonka (2023).

Sinopsis Film Magic Faraway Tree

Tim (Andrew Garfield) dan Polly (Claire Foy) Thompson baru saja pindah ke lokasi rural, yang jauh dari pusat perkotaan. Sepasang suami-istri ini berinisiatif untuk pindah jauh dari keramaian, demi mempererat hubungan dengan ketiga anaknya, yaitu Joe (Phoenix Laroche), Beth (Delilah Bennet-Cardy) dan Fran (Billie Gardson).

Sepasang insan ini memang khawatir, karena tingkah ketiga anaknya yang aneh. Beth yang masuk remaja, sudah mulai rebel alias banyak berontak. Sementara Joe yang masih kecil, terlalu kecanduan gawai dan susah lepas lalu bermain ala anak biasa. Yang agak biasa namun pendiam, adalah Fran sebagai anak kedua.

Suatu hari, saat Fran menjelajah ke hutan (walau sudah dilarang oleh tetangga), dirinya menemukan sebuah ayunan ajaib, yang mengenalkan karakter bernama Silky (Nicola Couglan) dan Saucepan Man (Dustin Demri-Burns). Keduanya memiliki ritual khusus, yaitu bersama Moonface (Nonso Anozie) melaksanakan sejenis roulette, dan mengunjungi negeri ajaib yang terpilih oleh mainan putaran tersebut.

Fran pun mengajak Beth dan Joe untuk mengunjungi negeri ajaib ini. Sungguh dunia yang fantastis dan magis, yang semakin memukau setiap kunjungannya. Hubungan keluarga Thompson di rumah pun semakin membaik, dengan banyaknya interaksi luar ruangan ala daerah pedesaan.

Sanggupkah keluarga Thompson melanjutkan animo baik ini? Bagaimana dengan kisah petualangan mereka di dunia fantasi nan fantastis?

Jawabannya, tentu ada di lahan fantasional ala sinema Indonesia.