22 April 2026

Aksi Gelut Live Action Ala Jepang di Film Wind Breaker

 

Haruka yang suka gelut (TMDB).

Okeh, saatnya menyambut film Live Action yang berbeda dari Jepang sana, berjudul Wind Breaker, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia dengan rating D17. Film ini agak unik, jika dibandingkan dengan banyak film Live Action Jepang. Yaitu khas gelut anak SMA berandalan, yang tentu tidak seaneh animo anime lain.

Manga Wind Breaker dan Crows

Nah, sebelum membahas cerita filmnya, justru perlu dibahas animo gelut anak SMA dari Jepang sana. Wind Breaker memang diadaptasi dari manga dan anime yang berjudul sama, hasil karya Satoru Nii. Dan Ya, animo ini sempat ramai sejak film Crows Zero, yang rilis tahun 2007 lalu. Crows Zero sempat menjadi bahan rekomendasi legendaris di Indonesia, khususnya dari kalangan teman terdahulu. Apalagi, film ini khas dengan sinematografi ala Jepang.

Sayangnya, penulis belum menonton sama sekali film Crows Zero, yang rilis manganya pada tahun 1994 dari Hiroshi Takahashi. Mengapa? Karena penulis sempat menamatkan manga Crows, yang baru rilis di Indonesia pada awal 2000an. Ditambah lagi, jaman tersebut adaptasi Live Action dari manga atau anime sering mengecewakan, walau tentunya ada pengecualian khusus untuk Crows yang berlatar gelut SMA.

Nah jadi, mengapa penulis tidak mengikuti hype film Crows Zero? Jaman tersebut, memang animo-nya berubah, khususnya dari penulis sendiri. Pas sedang ramai rekomendasi Crows Zero, penulis telah lulus SMA, dan sedang fokus untuk kuliah. Ditambah lagi, teman yang dulu sering merekomendasikan manga, khususnya Crows, bahkan tidak ikut merekomendasikan filmnya.

Tidak hanya faktor luar, tetapi penulis memiliki animo berbeda untuk waralaba Crows, manga dan filmnya sekaligus. Kesinambungan yang agak berbeda, yaitu saat penulis memahami Arc terakhir manga Crows. Jadi, terasa lebih intrinsik, daripada pengaruh luar.

Entah kenapa, sepertiga manga yang tersisa hingga serialnya tamat, Crows justru berubah menjadi cerita yang antiklimaks. Banyak isi cerita, lebih mengisahkan slice of life, yang berfokus pada kegalauan anak SMA menjelang lulus. Ada yang berinisiatif langsung gabung Yakuza, ada yang fokus kerja ala Rindaman, atau bahkan lucu-lucuan bersama cewek pujaan. 

Bahkan ritual sang tokoh utama Harumichi Boya, lebih aneh lagi di akhir manga Crows. Harumichi yang biasanya telat untuk mengikuti gelut (di Arc sebelumnya), tambah telat lagi di akhir serial manganya. Karena lebih sering curhat bersama temannya yang sedang dekat sama cewek SMA, jadinya Harumichi ikut mengejar romansa masa SMA. Lucunya lagi, semua Build-Up cerita di akhir serial, ternyata diakhiri dengan sedikit duel saja, dan tidak seheboh awal manga.

Nah ternyata, manga Crows terisi banyak kegalauan anak SMA, yang fokus pada cara komunikasi ala laki remaja. Karena itu, karena terasa cukup nyambung, dan penulis sangat pesimis dengan filmnya, akhirnya tidak berinisiatif untuk menonton film Crows Zero.

Sedikit Sinopsis Wind Breaker

Lalu, apa hubungannya dengan Wind Breaker? Nah justru disinilah asyiknya kesinambungan tersebut. Dari sedikit sinopsis plot Wind Breaker di Inet, ternyata animo akhir Suzuran mirip dengan kisah Wind Breaker. Tokoh utama Haruka Sakura, ternyata baru masuk SMA dengan gang-nya yang fokus menjaga wilayah. 

Animo seperti ini, mirip dengan akhir kisah Crows, dimana para bujangan gelut ini bergabung dalam satu aliansi, untuk melindungi Suzuran dari serangan luar. Ya, berbeda dengan kisah di seluruh awal manga Crows, yang berfokus pada gelut antar karakternya.

Ya, segitu saja setelah panjang lebar. Pokoknya sinopsis lebih singkat lagi, karena cuplikan filmnya memang berisi gelut semua. Haruka Sakura (Koshi Mizukami) ternyata heran, saat dirinya gelut tepat satu hari sebelum hari pertama sekolah. Haruka dibantu oleh geng dari sekolah barunya, yang menjadi pertama kalinya. 

Haruka pun langsung dianggap teman, dan layak untuk bergabung dengan geng bernama Bofurin ini. Haruka yang selama ini gelut demi Flexing dan mengejar Rank pun, tertegun dengan niat geng Bofurin untuk menjaga wilayahnya. Bahkan Haruka akhirnya terenyuh, bahwa masa SMA ini, akhirnya dia punya teman juga.

Jadi, silahkan saksikan saja bagaimana film gelut SMA ala Jepang ini, yang kadang lebih nyambung alias relate dengan khas komunikasi bujang baragajul, di sinema Indonesia.

21 April 2026

Mengenang Raja Pop di Film Biografi Michael (Jackson)

 

Jaafar yang sanggup menari ala Michael (TMDB).

Daaaan, film untuk mengenang King of Pop pun dirilis di bulan April 2026 ini, berjudul singkat saja Michael, yang tayang di banyak sinema Indonesia dengan rating Semua Umur. Mendiang Michael Jackson yang wafat tahun 2009 lalu adalah sosok legendaris, yang berhasil mendobrak kesenggangan rasis di AS sana, dan bahkan hingga sedunia.

Michael Jackson Sang King Of Pop

Tampaknya kurang sreg membahas film biografi Michael Jackson, tanpa terlebih dahulu membahas kiprahnya di dunia seni populer. Michael Jackson hingga kini dijunjung sebagai artis paling menghibur sedunia, yang sangat berpengaruh pada keadaan seni dan politik pula.

Michael adalah seorang anak yang fantastis sejak kecil. Saat baru berumur enam tahun, dirinya langsung menjadi vokalis utama bersama grup band keluarganya, bernama Jackson Five. 

Saat Michael Jackson berkarir solo dan merilis album Thriller di tahun 1982 lalu, dirinya sangat sukses hingga sekarang, karena album tersebut masih meraih rekor sebagai album tersukses sepanjang masa. Di saat itu pula, Michael Jackson berhasil menggabungkan musik dengan video klip yang sangat sinkron, layaknya karya sinema.

Tidak hanya dari video klip, artis serba bisa ini sempat menciptakan berbagai gerakan dansa terkenal. Contoh terkenalnya adalah Moon Walk dan Robot. Gerakan dansa yang energetik dan suara vokalnya yang masih nyaring dan kuat, memang selalu dirindukan oleh penggemarnya. 

Kombinasi bakat alami dan sosok Michael Jackson, menyebabkan dia mencapai tahap sebagai artis dengan jumlah penjualan album terbanyak. Jumlahnya sangat fantastis, yaitu mencapai 500 juta kopi. Michael meraih pula banyak penghargaan, diantaranya adalah 13 dari Grammy, sebagai Grammy Legend, sebagai Grammy Lifetime Achievement, 26 dari American Music, 8 dari MTV Video Music, 6 dari Brits, dan 3 penghargaan dari Presiden AS.

Michael Jackson pun salah satu artis yang dermawan, dengan donasi mencapai 500 juta Dolar AS selama hidupnya. Utamanya adalah melalui organisasi yang didirikan olehnya sendiri, bernama Heal The World Foundation. 

Pada tahun 1980an, Michael Jackson sempat menuai kontroversi dengan berubah kulit. Artis kulit hitam (Negroid) ini menjalani operasi, agar seluruh tubuhnya berubah menjadi putih, mirip dengan ras Kaukasia. Padahal Michael menderita penyakit kulit langka bernama Vitiloid, yang merubah warna kulitnya menjadi pucat. Jika tidak dioperasi, maka Michael akan semakin sensitif dengan cahaya matahari, dan warna kulitnya akan belang. Tentu sebagai seorang artis, akan terlihat aneh.

Akhir masa hidupnya pun cukup kontroversial, yaitu Michael meradang overdosis obatnya, akibat anjuran dokter pribadinya. Padahal, dirinya sedang menyiapkan konser khusus, demi meramaikan dunia pop dan menghibur fansnya yang telah lama merindukan. Siaran langsung upacara pemakamannya sangat ramai, dengan rekor mencapai 2,5 milyar penonton dari seluruh dunia.

Uniknya dalam film Michael ini, yang memerankan dirinya adalah anggota keluarga Jackson. Jaafar Jackson adalah keponakan langsung Michael, yang berlatar sama dengan Jackson lainnya, yaitu penyanyi dan penari. Namun artis berumur 29 tahun ini ditantang pula untuk memerankan pamannya sendiri yang legendaris. 

Dari cuplikannya, sangat terlihat kemiripan antaranya Jaafar dan Michael. Bahkan, gaya menari dan menyanyi Michael, sanggup ditirukan langsung oleh Jaafar. Dengan hanya merubah tipe rambutnya menjadi keriting Afro ala Michael muda, dan berkostum ala King of Pop, Jaafar sanggup terlihat layaknya Michael Jackson yang masih hidup di tahun 1980an lalu.

Jadi, para penikmat musik dan khususnya penggemar Michael Jackson, film ini menjadi animo tersendiri yang sangat dirindukan. Tidak hanya mengenang dengan menonton video lama Michael Jackson saja, tetapi menjadi interpretasi baru dari Hollywood, dan khususnya langsung dari keluarga Jackson.

Rasanya Bertunangan Ala Duet Robert Pattison dan Zendaya di Film The Drama

Duo aktor-aktris yang awalnya fantastis (TMDB).

Berikutnya adalah film drama romansa yang agak pecicilan, karena judulnya saja cuman The Drama, yang tayang minggu keempat di sinema Indonesia dengan rating D17. Walau judulnya sederhana, tetapi berisi duet aktor-aktris muda yang semakin naik pamornya, yaitu Robert Pattison dan Zendaya. Uniknya, keduanya memang terkenal sejak memerankan karakter fantasi dan pahlawan super.

Zendaya dan Robert Pattison

Zendaya yang tentunya dikenal sejak film Spiderman: Homecoming (2017) lalu, sudah cukup move-on dari film ala pahlawan supernya. Sudah berkecimpung di dunia perfilman sejak kecil, kini Zendaya berhasil memenangkan penghargaan film, contohnya adalah film Euphoria (2019). Kemampuan aktingnya di waralaba film penuh penghargaan, Dune (2021) dan Dune: Part Two (2024) pun cukup dihargai, dengan nominasi sebagai Aktris Pendukung Terbaik. 

Sementara Robert Pattison, adalah aktor yang betulan menggila semenjak pamornya naik. Pattison dikenal dan dikenang sebagai aktor ganteng ala vampir di waralaba Twilight (2008, 2009, 2010, 2011, 2012). Banyak yang mengagumi Pattison, apalagi dari kaum muda-mudi. Seakan, Pattison adalah pasangan ideal yang akan mengisi ranah film Romansa hingga akhir masa.

Namun setelahnya, Robert Pattison malah serius dalam berkarir akting, apalagi di berbagai proyek film yang kurang mainstream, contohnya adalah film High Life (2018). Film ini mengisahkan drama dan akting yang kentara dari Pattison, karena berlatar di satu lokasi dengan satu karakter saja bernama Monte. Itupun berada dalam kapsul tertutup di tengah antariksa dan ditemani seorang saja, yaitu oleh anaknya yang masih bayi 

Kemampuan aktingnya pun dicoba dalam film The Lighthouse (2019), yang mengisahkan kegilaan para penjaga mercusuar, sebelum jaman otomatisasi lampunya. Film hitam putih ini memang mengadu Pattison dengan aktor drama kawakan, yaitu Willem Dafoe yang sempat bermain pula di film pahlawan super.

Berikutnya adalah film berbelit-belit dan aneh ala Chistopher Nolan, yaitu Tenet dari tahun 2020 lalu. Masih seperti khas penulisan dan sutaradara Nolan, film yang ceritanya susah dimengerti dan disambungkan ini ternyata mampu dijalankan oleh Pattison dan aktor utamanya, John David Washington.

Sang vampir pun kembali menjadi manusia setengah vampir nan kelelawar, dalam film pahlawan super berjudul singkat, The Batman (2022). Film yang berhasil menggelap-gulita-kan Gotham kembali, cukup menarik di segi detektif kriminalnya,  sekaligus dengan pembawaan karakter Wayne ala akting Pattison.

Nah, bagaimana film The Drama berisi kombinasi aktor-aktris muda yang ramai sejak memerankan karakter fantastis, namun lanjut dan kembali ke ranah drama ini? 

Sinopsis Film The Drama

Emma Harwood (Zendaya) dan Charlie Thompson (Robert Pattison) adalah sepasang muda-mudi yang sedang kasmaran. Saking terjerembap kasmarannya, keduanya lalu bertunangan dan siap untuk lanjut menuju jenjang pernikahan. 

Namun, sebuah drama terbaru menimpa mereka. Yaitu saat kedua temannya, Mike (Mamoudou Athie) dan Rachel (Alana Haim) bertanya mengenai kesiapan mereka. Emma pun ragu, sementara Charlie malah cengengesan. 

Drama pun berlanjut menuju ranah yang kurang jelas diantara keduanya. Heboh, namun sangat mempertanyakan faedah dari hubungan diantara sepasang romansa ini. Padahal, minggu tersebut adalah jadwal sesi pernikahan mereka, yang tentu mengundang seluruh keluarga, kerabat, dan teman terdekat. 

Sanggupkah mereka bertahan hingga upacara pernikahan berlangsung? Atau malah menemukan cara baru untuk memperpanas semuanya? Jawabannya, tentu ada di ranah kasmaran nan romansa ala sinema Indonesia.

Gerbang Fantasi Unik Ala Film Magic Faraway Tree

 

Dunia yang fantastis ala Enid Blyton (TMDB).

Masuk ke ranah Hollywood, saatnya membahas film Magic Faraway Tree yang tayang di sinema Indonesia sejak pertengahan April. Film mengenai dunia dongeng cukup jarang diadaptasi oleh Hollywood, tentu selain film Mario Bros yang rilis tepat beberapa minggu kemarin. Rating Semua Umur pun menjadi alasan yang cocok untuk menonton bersama keluarga.

Nah, sebelum membahas film yang fantastis fantasinya, maka perlu salfok dulu pada aktor yang mengisinya. Yang sudah menonton cuplikannya, akan mengenal aktor bernama Andrew Garfield. Aktor yang memang berlatar drama ini, sempat ramai dengan perannya sebagai Peter Parker di film The Amazing Spiderman (2012).

Namun, sebenarnya penulis sempat menonton Garfield pada tahun 2010an lalu, di film yang media sosialnya sangat sensasional saat jaman tersebut. Yaitu film berjudul The Social Network, dimana Garfield berperan sebagai Eduardo Saverin. Garfield berperan dengan aktor utama yang sudah cukup terkenal walau masih muda, yaitu Jesse Eisenberg yang berperan langsung sebagai Marck Zuckerberg, sang pionir dan pemilik Meta. Film ini meraih dan memenangkan nominasi Oscar, jadi layak untuk ditonton bagi yang berminat drama medsos ala Facebook.

Berikutnya adalah film yang menyebabkan Garfield masuk nominasi Oscar sebagai Aktor Terbaik, berjudul Hacksaw Ridge (2016). Film yang banyak nominasi penghargaan ini, memang berbeda dengan ranah sejarah perang lainnya. Yaitu, mengisahkan seorang veteran perang asli, bernama Desmond T Doss yang diperankan oleh Garfield. 

Bekerja sebagai seorang dokter, dan berprinsip sebagai seorang pasifis (alias cinta damai), Doss justru berinisiatif untuk bergabung sebagai tentara. Saking hebatnya di lahan perang dalam menyelamatkan nyawa, Doss bahkan sempat diberi penghargaan tertinggi di militer AS, yaitu Medal of Honor. Uniknya Doss, adalah satu-satunya tentara yang diberi penghargaan ini, tanpa pernah menembakkan senapannya sekali pun (!).

Okeh, sudah cukup mengenai Andrew Garfield, dan saatnya membahas film yang berlatar fantasi di bulan April ini. Oh ya film ini diadaptasi dari buku novel ternama karya Enid Blyton, yang sebelumnya sempat diadaptasi pula novelnya menjadi film berjudul Wonka (2023).

Sinopsis Film Magic Faraway Tree

Tim (Andrew Garfield) dan Polly (Claire Foy) Thompson baru saja pindah ke lokasi rural, yang jauh dari pusat perkotaan. Sepasang suami-istri ini berinisiatif untuk pindah jauh dari keramaian, demi mempererat hubungan dengan ketiga anaknya, yaitu Joe (Phoenix Laroche), Beth (Delilah Bennet-Cardy) dan Fran (Billie Gardson).

Sepasang insan ini memang khawatir, karena tingkah ketiga anaknya yang aneh. Beth yang masuk remaja, sudah mulai rebel alias banyak berontak. Sementara Joe yang masih kecil, terlalu kecanduan gawai dan susah lepas lalu bermain ala anak biasa. Yang agak biasa namun pendiam, adalah Fran sebagai anak kedua.

Suatu hari, saat Fran menjelajah ke hutan (walau sudah dilarang oleh tetangga), dirinya menemukan sebuah ayunan ajaib, yang mengenalkan karakter bernama Silky (Nicola Couglan) dan Saucepan Man (Dustin Demri-Burns). Keduanya memiliki ritual khusus, yaitu bersama Moonface (Nonso Anozie) melaksanakan sejenis roulette, dan mengunjungi negeri ajaib yang terpilih oleh mainan putaran tersebut.

Fran pun mengajak Beth dan Joe untuk mengunjungi negeri ajaib ini. Sungguh dunia yang fantastis dan magis, yang semakin memukau setiap kunjungannya. Hubungan keluarga Thompson di rumah pun semakin membaik, dengan banyaknya interaksi luar ruangan ala daerah pedesaan.

Sanggupkah keluarga Thompson melanjutkan animo baik ini? Bagaimana dengan kisah petualangan mereka di dunia fantasi nan fantastis?

Jawabannya, tentu ada di lahan fantasional ala sinema Indonesia.

15 April 2026

Menikmati Kursi Penonton di Film The Cabin in the Woods

 

Kelima stereotype yang linglung (TMDB).

Sekarang saatnya menelaah film yang sebenarnya termasuk parodi, alias ironi dari genre-nya sendiri, berjudul The Cabin in the Woods. Film yang rilis tahun 2012 ini, berkisah sekelompok pemuda-pemudi yang terjebak di sebuah kabin tua, di tengah hutan (sesuai judulnya). Ya, memang dari judul dan plot utamanya saja, sudah menyatakan ironi atas plot dan karakter dari genre horor ala film Hollywood.

Siapakah gerangan trio berkerah putih ini? (TMDB).

Sedikit Latar Kru Film The Cabin in the Woods

Bagi yang sudah menonton atau mengecek trailernya, tentu tahu beberapa aktor yang mengisinya. Chris Hemsworth sang Thor dari Marvel, tentu menjadi salfok yang khusus. Terdapat pula Franz Kranz, yang sebelumnya terkenal di film 300 (2006). Duo nama aktor yang terkenal, tapi mau juga berperan di genre yang memang pecicilan ini. 

Oh ya, ada satu nama aktris yang menjadi cameo pula di akhir film, tetapi tidak akan dibahas karena membuka isi ceritanya.

Bagi yang tahu Drew Goddard, tentu sempat mengenal film berjudul Cloverfield (2008) yang cukup fantastis. Berikut pula dengan sutradara Joss Whedon, yang dikenal sejak film Alien Resurrection (1997), lalu berlanjut di dunia Marvel dengan The Avengers (2012), Avengers: Age of Ultron (2015), dan sempat di DC dengan Justice League (2017).

Bahkan studionya pun memiliki nama tersendiri, yaitu dari Lionsgate Movies. Studio yang satu ini memang sering menyajikan film unik, padahal sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman Hollywood (sejak 1997 lalu). Contoh terakhirnya, adalah film Turbulence yang dibahas tepat minggu ini dalam blog Sedia Saja.

Referensi Film dalam The Cabin in the Woods

Justru artikel ini tidak hanya merekomendasikan film The Cabin in the Woods, yang memang sangat berbeda dan memuaskan. Artikel ini akan menelaah tentang ironi dibalik produksi film horor. 

Sebenarnya banyak referensi horor yang dimasukkan ke dalam film ini, dari banyak waralaba lain. Seakan, film ini memang dibuat untuk homage saja terhadap banyak film lain dengan genre horor. 

Referensi tersebut akan dibahas sedikit, dan lebih baik dicek saat menontonnya saja. Bagi penggemar horor, tentu paham referensi dalam film The Cabin in the Woods. Contoh paling wajar adalah berbagai jenis monster dan situasi, dimana sering diadaptasi pada naskah film horor.

Contoh lebih spesifik akan membuat tercengang penonton, yaitu banyaknya mahluk bergentayangan dalam film ini. Bisa dicek satu-satu ya, dan yang sudah atau belum menonton, akan heran mengapa studio bisa mengisi film ini dengan banyak sekali karakter tersebut.

Terdapat referensi dari Friday 13th, Hellraiser, Werewolf, Sejenis Jurig, The Cube, Dreamcatcher, Eight Legged Freaks, Anaconda, Pennywise IT, The Shining, Leatherface, Zombie Pecicilan, KKK, SCP, Bats, Evil Dead, Gremlin, Alien, Psikopat Bertopeng Sok Brutal, Wrong Turn, Merman, Unicorn? dan bahkan Lovecraft! 

Masih banyak referensi film lainnya, yang penulis kurang pahami karena tidak selengkap itu menonton film horor. Ya, memang mengherankan bagaimana film berdurasi hanya 90 menit ini, berhasil memasukkan banyak dan variasi referensi film horor. Mungkin sang penulis naskah bernama Goddard ini, terlalu banyak melinting rokok saat menulisnya.

Atau mungkin, film horor sejenis ini menjadi latihan khusus bagi para penonton, penggemar, atau penulis yang berminat, dalam mengecek dan mengombinasikan referensi yang ada. Ranah sejenis ini memang bisa melatih kemampuan analisis, dalam melacak variasi dan sekaligus berkreasi.

Tidak se-ironis ini, kali ya...? (TMDB).

Ironi Film The Cabin in the Woods

Nah, apakah memang film ini hanya berisi referensi dari film lain saja? Tentu tidak. Terdapat satu hasil (observasi) orisinal dalam film ini, yang berisi ritual ala persembahan. Yaitu, dengan menumbalkan beberapa jenis karakter (ala film), dalam satu sesi pengorbanan tertentu.

Horor versi Amerika memang sering berisi stereotype karakter tertentu, yang dalam film ini berlandaskan The Athlete, The Whore, The Scholar, The Fool, dan The Virgin. Kelima karakter biasanya mengisi film horor pemuda-pemudi dan lainnya, dan terus diulang-ulang di banyak film, hingga seterusnya.

Ironi seperti ini menjadi khas utama di film The Cabin in the Woods. Seakan, seluruh naskah film yang dibuat oleh studio, telah di-setting sebegitu mungkin, agar sesuai dengan kemampuan yang pas bagi sutradara, aktor-aktris, kru, tim efek spesial, dan editornya. 

Bahkan, film ini menggambarkan secara harfiah, bagaimana ritual produksi film, bisa menjadi esensi yang mematikan dibalik layar. Tidak akan dibahas lebih lanjut mengenai tim produksi dibalik film ini, karena akan membuka (banyak) kisahnya. 

Perbedaan utama di genre film horor sejak The Cabin in the Woods dirilis, adalah berkembangnya horor Hollywood hingga sekarang. Banyak variasi horor yang semakin kreatif, dengan hanya menghindari stereotype diatas saja. Bahkan banyak filmnya yang mengambil referensi dari budaya yang cocok, tanpa perlu (ikut) menyalahgunakan referensi aslinya.

Karena itu, penulis juga heran sendiri, mengapa film horor menjadi minat terbaru. Sebelumnya, penulis lebih suka menonton film aksi, pahlawan super, atau bahkan kisah petualangan. Sementara pada jaman tersebut, film horor adalah pilihan yang aman, karena ceritanya dan adegannya suka sama dan begitu saja. 

Bahkan, Plot Twist yang berubah di film horor jaman sekarang, menjadi pilihan cerita yang kurang tertebak. Terlebih lagi, film horor sekarang seringkali bebas dalam menentukan akhirnya, yang bisa berarti Good atau Bad Ending. Kadang akhir film dikombinasikan pula, sehingga berakhir Miris-Manis alias Bittersweet Ending (ala film drama yang antiklimaks).

Ya, film The Cabin in the Woods memang mengacu pada ironi referensi film saat awal 2010an lalu, dan banyak waralaba sebelumnya. Sementara di tahun 2020an ini, film horor telah berkembang jauh, yang terkombinasi genre lainnya.

Oh ya, kisah di Cabin in the Woods ada yang berbeda pula, yaitu para karakter (utamanya) yang mau dan sanggup melawan balik agresornya. Tokohnya tidak terjebak dalam stereotype film horor, yang langsung lemah dan menyerah begitu saja (alias panik berdiam diri).

Wah2, ini film masih sejenis cermin satu arahkah? (TMDB).

Duduk Manis ala Penonton Film

Nah, singkat saja sebagai penonton, penggemar, dan pemerhati film horor (atau media secara luas), yaitu dengan duduk manis, menikmati, lalu menelaah saja tayangan yang ada. Apalagi setelah mengacu pada film The Conspiracy, yang dibahas di artikel sebelumnya.

Jadi, layaknya karakter Dana Polk sang The Virgin dari satu adegan di film The Cabin in the Woods, yang berselirih pedih "Let's Get This Party Started," sambil menekan tombol merah untuk membuka banyak hal yang berbahaya.

WAAAAARGHHHHH!!!

Mengecek Pesan Khusus dari Film The Conspiracy

 

Aaron yang sudah terlalu obsesif dan konspiratif (TMDB).

Okeh, karena beberapa minggu terakhir banyak kabar terdengar dari media massa, media sosial, hingga banyak jenis pemangku konten lainnya, jadinya penulis ingin membahas film The Conspiracy di artikel Monsterisasi. 

Film yang rilis tahun 2012 ini membahas tentang sebuah konspirasi besar, dengan sudut pandang warga biasa dalam menanggapi isu sesat tersebut. Ya, bahkan film ini adalah sejenis Found Footage, namun lebih bisa dianggap sebagai jenis film Mockumentary.

Found Footage dan Mockumentary

Found Footage (bersudut pandang kamera orang pertama) awalnya diramaikan oleh The Blair Witch Project dari tahun 1999 lalu. Bahkan, film ini sempat disetel sebagai film aseli, dengan beberapa situs web yang dibuat, dan diramaikan di ranah forum Inet. 

Namun perkembangan saat ini justru merubah Found Footage menjadi ranah yang niche, dan tidak banyak improvisasi diluar adegan kamera. Perkembangan yang kentara adalah mulai munculnya sub-genre Mockumentary, yang berisi adegan lebih stabil layaknya dokumenter biasa.

The Conspiracy sebenarnya bersub-genre Found Footage, yang tentunya berisi adegan kamera dari sudut pandang orang pertama (layaknya handcam). Namun (sekali lagi) menurut pendapat penulis, film ini lebih mirip sub-genre lainnya, yaitu Mockumentary. Film sejenis ini tidak banyak memasukkan adegan heboh, namun lebih didominasi oleh struktur ala dokumenter. Ya, tetap saja sejenis dokumenter palsu, yang berisi cerita fiktif. Istilah Mock itu artinya adalah sejenis palsu.

Namun karena penggambaran cerita yang menarik, dengan perkembangan cerita dan informasi yang agak plot twist setiap pindah adegan, menjadi jenis tontonan yang menarik. Memang berbeda dengan Found Footage yang amburadul dan goyang kameranya (shaking cam), Mockumentary menyajikan adegan yang stabil. Contohnya, adalah wawancara langsung dengan karakternya, atau sekedar lokasi TKP dan pembaruan informasi yang ditelaah bersama karakternya.

Dengan visualisasi yang berbeda dari Found Footage, Mockumentary bisa lebih mengalir dalam menjabarkan ceritanya. Kadang sedikit terjadi adegan drama, aksi, atau sejenis heboh lainnya. Namun, cerita disajikan dengan rapih dan terstruktur selayaknya menonton dokumenter, contohnya alam liar ala National Geographic atau sejarah dunia ala History Channel. 

Karena masih ranah fiktif yang menyajikan cerita dan adegan mengerikan, jadi genre utama Mockumentary (biasanya) adalah Horor. Entah berapa kali penulis merasa merinding menonton film sejenis ini, melebihi adegan horor biasa yang suka jump-scare atau terlalu sensasional. Atmosfer yang lebih damai dan kurang gelap, seakan menipu penonton dengan visual yang ada. 

Tetapi, ada beberapa film yang membuat merasa penulis tertipu. Ada dua film yang aslinya masuk ranah dokumenter nyata, namun disajikan ala (dramatisnya) Mockumentary. 

Pertama adalah film Cropsey, dari tahun 2009 lalu. Saat menonton pertama kalinya, penulis menganggap ini hanya Mockumentary. Tetapi pas dicek di Inet, ternyata film ini berisi kasus nyata mengenai aksi penculikan dan anak hilang, yang terjadi di Staten Island, AS. Film ini menyajikan hubungan kasus tersebut dengan sebuah Bangsal RSJ besar di sekitar lokasi TKP, yang ada hubungannya dengan kasus kriminal tersebut.

Dan penulis pun tertipu kedua kalinya, saat menonton film berjudul Beware The Slenderman dari tahun 2016 lalu. Awalnya penulis menganggap bahwa film ini adalah sejenis fiksi ala karakter horor bernama Slenderman, yang sempat ramai awal tahun 2010an lalu. Namun pas ditonton dan dicek di Inet (lagi), ternyata berisi kasus nyata di Wiscounsin AS. Kasus ini berisi kekerasan anak dibawah umur, dengan istilah 'bisikan setan' dari karakter Slenderman.

Kedua film pun menyajikan informasi dengan foto, rekaman, atau dokumen asli mengenai warga nyata yang terkait kasus tersebut. Keduanya memang kisah mengerikan dari ranah perfilman nyata, yang tersaji dengan cukup realistis.

Waspada ada Slenderman (TMDB).

Hubungannya dengan Film The Conspiracy

Nah, setelah membahas dua film yang ternyata dokumenter asli, kali ini perlu membahas tentang film The Conspiracy. Film ini memang masih beranah fiktif, namun tetap ada satu bahasan dan pesan yang bisa diterima oleh penonton biasa. Yaitu saat penonton atau warga biasa, menanggapi kisah konspirasi besar, yang dapat langsung berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Penulis merekomendasi film ini untuk langsung ditonton saja, karena film yang berformat Mockumentary memang sulit dibahas adegannya. Sehingga, langsung saja mengacu pada referensi dan pesan yang disampaikan. Penulis pun tidak akan membuka alias spoil isi ceritanya, agar menontonnya lebih dapat diterima.

Sebelum mengacu pada pada pesannya, penulis perlu menjabarkan adegan yang cukup masuk gambaran besar untuk film ini. Plotnya yaitu karakter Aaron (Aaron Poole) sebagai sutradara dan Jim (James Gilbert) sebagai kameramen, yang terobsesi dengan sekelompok sekte elit di sekitar huniannya, tepatnya di AS sana. Keduanya berniat menguak keberadaan asli sekelompok warga elit tersebut, layaknya video dokumenter jurnalistik investigasi.

Nah singkat cerita, keduanya berjibaku lama untuk melacak keberadaan sekte warga elit tersebut. Bahkan Aaron berhasil menyelundup masuk ke jamuan makan, pesta, sekaligus ritual sekte aneh tersebut. Aaron membawa kamera tersembunyi (hidden cam) dibalik bajunya, agar dapat merekam semuanya. 

Warga yang diundang, ternyata mengenakan kostum (dress-code), salam, dan ritual khusus lainnya. Biasanya, hanya anggota aseli yang mengajarkan ritual khusus kepada tamu yang baru diundang. 

Daaan... penulis pun tidak akan menjabarkan isi kisah berikutnya, dan pembaca perlu menonton langsung. 

Gak perlu sampai demo (sendiri) kaya gitu juga... (TMDB).

Penutup dan Pesan dari Film The Conspiracy

Nah kembali ke pesan yang disampaikan dari film, menurut penulis justru sebagai pembaca, penonton, dan warga biasa, perlu menanggapi ranah konspiratif dengan pesimis. Istilah dari bahasa Inggrisnya adalah 'Take Everything with A Grain of Salt,' yang berarti setiap informasi yang diterima, harus ditanggapi pesimis dan ditelaah terlebih dahulu. Jadi, tidak perlu terobsesi dengan kabar konspiratif jenis manapun.

Apalagi dari keadaan berita beberapa bulan terakhir, yang terasa seperti konspirasi besar para elit dunia. Contohnya adalah Epstein Files, yang dibongkar oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Isinya berisi banyak kalangan elit dunia, yaitu banyak pemimpin perusahaan besar multi nasional yang ikutserta ritual sekte tertentu. Bahkan ada beberapa tokoh dari negara tercinta Indonesia, yang ternyata masuk daftar tersebut.

Kalau ditanya pesimis, justru penulis masih heran tentang kabar ini. Bukan dari ranah konspirasinya, tetapi dari pihak yang menyebarkan informasinya. Standar Operasional FBI harusnya terbatas hukum (Yurisdiksi) di wilayah AS saja, walau sering membantu ranah internasional. Justru untuk wilayah internasional, kabar sejenis ini biasanya dibongkar oleh Central Intelligence Agency (CIA), yang memang berkecimpungan sebagai intelijen luar negeri utama bagi AS.

Walau begitu, FBI memang fokus pada investigasi sosok Jeffrey Epstein, yang memiliki kewarganegaraan utama sebagai warga AS. Jadi, tidak mengherankan pula bahwa kisah ini diawali dari investigasi di wilayah AS, yang berujung efeknya pada dunia internasional.

Okeh, segitu saja dan Stay Vigilant. 

Wassalam.