16 Oktober 2025

Beradu Keahlian Kungfu ala Novelis China di A Writer's Oddisey 2

 

Terasa Isekai di dunia novel (TMDB).

Film dari negara China pun kembali dengan aksi kungfu fantastisnya di film A Writer's Oddisey 2, saat pertengahan bulan Oktober ini di sinema Indonesia. Kali ini, mirip dengan karya ala Korea dan Jepang, A Writer/s Oddisey pun diadaptasi dari novel laris berjudul sama. 

Agak berbeda dengan film fantasi epik ala China, justru di film ini mengambil kisah isekai ala anime dari Jepang dan Korea (lagi). Tokoh utamanya sendiri adalah seorang novelis, yang terjebak di narasi karyanya sendiri.

Dalam film pertamanya, kisahnya lebih supernatural, dengan beberapa visual latar dari dunia nyata. Guan Ning (Lei Jiayin) adalah seorang pembunuh bayaran, yang disewa oleh seorang saudagar kaya untuk membasmi seorang penulis. Menurut sang klien, novel berjudul Membunuh Dewa tersebut merusak kesehatannya.

Padahal, novel itu sendiri memiliki kemampuan sakti yang aneh. Guan Ning sempat melihat banyak keanehan saat mengejar sang novelis Kongwen (Dong Zijian). Bahkan, Guan Ning terjebak pula di dunia novel tersebut bersama penulisnya.

Guan Ning yang sebenarnya ingin mempercepat misinya selesai pun terpaksa membantu Kongwen dalam menamatkan misi di dunia novel. Padahal, saat itu anaknya, Xiao Ju Zi (Wang Shengdi) yang masih kecil, hilang entah kemana dan Guan Ning perlu mencarinya.

Sayangnya, Guan Ning dan Kongwen harus menamatkan misi untuk membasmi pemimpin jahat bernama Raja Surai Merah, yang berkuasa di dunia novel dengan zalim dan totaliter.

Nah, mengacu ke film keduanya, cerita dari film pertamanya memang belum selesai. Kali ini, mereka bertempur langsung melawan Raja Surai Merah, dengan bantuan Xiao Ju Zi yang ternyata berada di dunia fantasi yang sama dan telah sakti mandraguna pula.

Jika misi mereka gagal, maka batas dimensi antara dunia nyata dan dunia fantasi novel akan terbuka lebar.  Terbukanya batas dunia fantasi dan nyata akan menyebabkan tercampur-aduknya kedua dimensi, sehingga kerusakan masif pun dipastikan terjadi.

Misi ketiga tokoh utama pun beralih, yang asalnya adalah menyelamatkan diri dari dunia fantasi nan brutal, menjadi mengamankan dunia nyata yang dapat terinvasi oleh pasukan monster Raja Surai Merah dari dunia novel.

Sekuel Film Penculik Anak ala Blumhouse di Black Phone 2

 

The Grabber yang semakin obsesit pada Finney (IMDB).

Studio Blumhouse yang lihai memproduksi berbagai film horor pun tidak kehabisan ide untuk melanjutkan banyak waralaba filmnya. Kali ini di Oktober 2025, film Black Phone 2 sebagai sekuel langsung dari film pertamanya di tahun 2021, dirilis di banyak sinema Indonesia.

Aktor ternama Ethan Hawke yang memerankan The Grabber pun kembali berperan di balik topengnya yang khas di film ini. Dua tokoh utamanya pun kembali, yaitu Finney yang diperankan oleh Mason Thames, dan Gwen yang diperankan oleh Madeleine McGraw.

Kisah film pertamanya justru mengisahkan seorang psikopat kurang jelas, yaitu The Grabber yang 'hobinya' menculik anak kecil dari rumah mereka. 

Akting Mason Thames pun diuji berat di film pertama Black Phone, karena berlatar minimalis di sebuah gudang bawah tanah milik The Grabber, dan berfokus pada karakter Finney saja.

Mason Thames kini memang lebih dikenal sebagai aktor remaja berbakat. Bahkan di tahun 2025 ini, Thames memerankan film reka ulang terkenal, yaitu How to Train Your Dragon.

Nah, justru di film keduanya ini, lebih berfokus pada saudarinya, yaitu Gwen, yang mengalami banyak mimpi aneh semenjak Finney hilang diculik bertahun-tahun lalu.

Bahkan, studio Blumhouse merubah sedikit latar belakang The Grabber, karena mahluk psikopat ini berubah menjadi jurig penuh dendam yang kembali bermuram durja dan mengancam lewat mimpi.

Tampaknya memang Blumhouse merubah cerita Black Phone 2 menjadi seperti Nightmare on Elm Street, yang khas dengan karakter jurig peneror mimpi ala Freddy Krueger.

Sinopsis Film Black Phone 2

Finney (Mason Thames) sudah lama melupakan kisah dirinya diculik, namun keluarganya tahu bahwa dirinya masih trauma, apalagi dari sudut pandang Gwen (Madeleine McGraw) yang sama takutnya.

Gwen yang ikut paranoid memang sering mengalami mimpi aneh, yang menyiratkan kehadiran The Grabber. Hingga akhirnya Gwen menerima 'wangsit' mengenai Alpine Lake Youth Camp. Gwen pun meminta Finney untuk menjelajah bersama ke lokasi kemah tersebut.

Bersama beberapa temannya, Gwen dan Finney pun mengadakan ekspedisi urban (urbex) alias uji nyali, demi memenuhi rasa penasaran mereka.

Namun, tidak lama tiba di lokasi perkemahan, Finney pun menjawab sebuah telepon umum di area tersebut. Finney pun terkejut, bahwa suara yang didengarnya adalah milik The Grabber, yang telah dia basmi bertahun-tahun lalu.

Gwen pun diteror dengan dibanting kesana-sini, padahal temannya yang ingin membantu tidak dapat melihat sosok yang menganggunya. Bahkan, teror mimpi Gwen semakin berasa menyakitkan, yang menyebabkan dirinya terpontang-panting kesana-kemari.

Dapatkah Finney, Gwen, dan teman-temannya menguak misteri dari The Grabber? Atau malah menjadi korban mahluk kesetanan berikutnya?

Jawabannya dapat disaksikan di banyak sinema Indonesia.

Dwayne The Rock Johnson Berperan Serius di The Smashing Machine

 

Mark Kerr yang lelah terjengah (IMDB).

Setelah sekian lama dianggap tidak berbakat akting, dengan karakter yang diperankan sama setiap filmnya, akhirnya aktor terkenal Dwayne 'The Rock' Johnson memerankan karakter yang mengasah kemampuannya di film The Smashing Machine.

Film mengenai UFC MMA yang tengah tayang di sinema Indonesia ini, mengisahkan atlet UFC MMA Kelas Berat bernama Mark Kerr. Atlet bertubuh besar ini berhasil menjuarai banyak ajang bela diri campuran, diantaranya trofi UFC Heavyweight Tournament Champion dan World Vale Tudo Championship.

Saking terkenalnya, Mark Kerr bahkan sempat memerankan dirinya sendiri di sebuah film dokumenter berjudul sama, pada tahun 2002 lalu. Film The Smashing Machine tahun 2025 ini, memang reka ulang dari filmnya tahun 2002, dan lebih dramatis sehingga diperankan oleh Dwayne Johnson sebagai tokoh utamanya. 

Terlihat dari dua cuplikannya yang berbeda, film pertama justru mengisahkan tentang keseruan dan brutalnya UFC pada jaman Mark Kerr, tahun 90an hingga 2000an lalu. Banyak klip adegannya lebih menyoroti ajang gelut di ring, atau wawancara dengan berbagai pihak terkait Mark Kerr.

Berbeda dengan film The Smashing Machine pada tahun 2025 ini, justru lebih mengisahkan drama di dalam dan luar ring gelut. Banyak adegan dimana Mark Kerr berbincang hal-hal berat bersama istrinya, menyiratkan perbedaan sikap sebagai suami atau petarung UFC.

Bahkan saking dramatisnya, cuplikan tahun 2025 ini mengisahkan banyak jatuh-bangunnya Mark Kerr di luar ring. Contohnya saat Mark dan istrinya bertengkar, atau saat harus dirawat di rumah sakit. Tidak hanya drama, cuplikannya terisi pula momen saat menghadapi latihan, promotor gelut, hingga sesi konferensi pers.

Bahkan adegan nihil dimana istrinya menantang Mark Kerr, untuk naik wahana di taman hiburan pun bermaksud khusus. Mark Kerr aslinya takut akan wahana tersebut, namun istrinya menantang, bahwa hanya penampilan luar dan di ring saja, dimana Mark Kerr terlihat sangar.

Dari perbedaan cuplikannya saja, dapat terlihat bahwa film di tahun 2025 ini lebih dramatis, dan menguak berbagai kemampuan akting asli ala Dwayne Johnson.

Aktor yang telah berkecimpung lama di Hollywood ini memang cocok sebagai tokoh utama The Smashing Machine. Dengan nama alias The Rock, dirinya sempat beradu gulat lama di ajang WWE, yang menjadi awal karirnya didunia perfilman.

Bahkan banyak rumor, bahwa Dwayne Johnson akan dinominasikan penghargaan Oscar karena film ini, sebagai aktor terbaik di tahun 2026 mendatang. Apalagi lawan main sebagai istri Mark Kerr adalah Emily Blunt, yang sering meraih nominasi Oscar dan berbagai penghargaan film lain.

Tidak kurang pula, sutradara dan penulis naskah film ini adalah Benny Safdie, yang sempat memimpin produksi film Oppenheimer (2023), dan meraih berbagai penghargaan ternama.

Oh ya, film ini diproduksi oleh studio film eksentrik A24, yang memang kini sudah sering merambah berbagai genre film, walau film jurig nan horornya tetap paling unik diantara studio lainnya.

09 Oktober 2025

Kisah Seekor Anjing yang Setia Dikejar Horornya Jurig

 

Anjing lucu nan setia penunggu jurig jahanam (IMDB).

Naaaaah, kali adalah film horor berbeda dari ranah Hollywood sana, yang berjudul Good Boy. Film horor yang sedang tayang di sinema Indonesia ini sangatlah berbeda, karena tokoh utamanya adalah seekor anjing berjenis Golden Retriever.

Anjing dengan jenis Golden Retriever memang dikenal setia dan peka terhadap perasaan manusia. Namun, bagaimana jika anjing ini cukup peka untuk mendeteksi kehadiran jurig.

Anjing yang memiliki indera penciuman paling kuat serta indera pendengaran melebihi manusia, memang lebih 'sadar' dengan keadaan lingkungan disekitarnya daripada manusia.

Anjing bahkan dianggap satu dari banyak hewan lain yang sanggup mendeteksi gempa, sebelum getarannya sampai di permukaan dan terasa oleh manusia.

Hewan lainnya yang sanggup mendeteksi gempa, diantaranya adalah kucing, kodok, ular, gajah, semut, sapi, domba, kuda, dan burung. Jadi, jika melihat hewan bertingkah aneh, apalagi banyak jumlahnya, maka manusia harus waspada akan bencana yang akan terjadi.

Nah, kembali ke dunia supernatural, terdapat kepercayaan lain mengenai kemampuan mistis dari hewan. Di sebuah kuil Shinto, wilayah Nara, Jepang, terdapat banyak rusa yang keramat. Mereka dianggap sebagai hewan utusan dewa, dan jangan diganggu gugat. Entah apa yang terjadi di Nara ratusan tahun lalu.

Daaan, kembali ke film Good Boy, kini mengisahkan sebuah cerita yang memang berbeda. Bagaimanapun, anjing adalah kawan setia bagi pemiliknya. Cuplikannya menunjukkan, bagaimana sang anjing dirawat sejak kecil, dan tetap sumringah hingga dewasa.

Namun, saat anjing tersebut sudah dewasa, dia sering melihat atau mendengar banyak penampakan aneh di rumahnya. Anjing yang dikenal juga sebagai penjaga rumah yang baik, tentu tidak akan bertingkah aneh, kecuali memang ada yang menganggu.

Apakah seluruh penampakan tersebut hanyalah imajinasi sang anjing yang sudah semakin tua saja? Atau memang ada mahluk lain yang mengganggu rumah dan meneror keluarganya?

Jawabannya, dapat ditonton di berbagai sinema Indonesia. 

Oh ya, film ini diproduksi dan dirilis oleh Independent Film Company (IFC) dengan kerjasama layanan streaming Shudder. Keduanya memang sering bekerja sama dan dikenal sebagai duo perusahaan yang lihai dalam menelurkan film bergenre horor.

Diteror Jurig Akibat Salah Beli Rumah Dibalik Pintu Kematian

Rahmat dan Anisa yang masih polos namun kasmaran (TMDB).

Daaaan, kembali lagi film horor ala Indonesia yang Indonesia banget rasa dan seleranya, berjudul Dibalik Pintu Kematian, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia!

Kali ini, dari sekilas cuplikannya, lebih mengisahkan sebuah atmosfer khusus dari jurignya Indonesia, yaitu kisah mengenai 'tumbal.' Ritual tumbal adalah sebuah pamungkas dari berbagai ritual mistis di Indonesia, karena membutuhkan bayaran nyawa sebagai medianya. 

Saking ngerinya, media nyawa tersebut adalah media paling besar, jadi permintaan seorang penganutnya pun sebesar itu. Biasanya, dilaksanakan demi melancarkan balas dendam kesumat, atau bahkan hingga kaya dan makmur tujuh turunan.

Terlebih lagi, jika bayaran tumbal berasal dari orang terdekat, maka semakin ampuh pula ritual mistis tersebut. Namun, bahayanya sama besarnya pula! 

Jika pembayaran tumbal tidak dipenuhi, maka ritual mistis akan berbalik langsung pada yang memintanya. Penganut yang memintanya akan diteror habis-habisan oleh mahluk dari dunia lain. Bahkan, berbalik hilangnya nyawa pemintanya hingga seluruh keluarganya.

Naaah, justru di film Dibalik Pintu Kematian ini, tidak memiliki tumbal dari orang terdekat. Justru, tokoh utamanya baru saja tinggal di sebuah rumah baru. Ternyata, rumah tersebut adalah milik seseorang yang sempat melaksanakan ritual tumbal.

Sinopsis Film Dibalik Pintu Kematian

Pak Gawat (Ari Tulang) adalah seorang yang dikenal kaya dan bijak di desanya. Sayangnya, tidak ada yang tahu rahasia terpendam nan berbahaya dibalik kemakmuran dirinya.

Anisa (Sarah Felicia) dan Rahmat (Gibran Marten) adalah duo sejoli yang sedang kasmaran. Keduanya ingin hidup makmur seperti Pak Gawat, sehingga kuliah habis-habisan agar bisa bekerja di bank, yang berada di kota dan jauh dari desanya.

Namun, kerasnya hidup membuat mereka terlena, dan malah berandil pada sebuah kejahatan serius. Mereka berdua malah merampok bank tempatnya bekerja, lalu melarikan diri dan sembunyi di desa asalnya. Di desanya, Anisa dan Rahmat langsung menikah dan tinggal di sebuah rumah yang dulunya milik Pak Gawat. 

Sayangnya, belum lama tinggal, banyak kejadian aneh di lokasi rumah mereka. Pembantunya yang dipanggil Mbok (Yati Surachman) sering curhat, karena beberapa kali melihat penampakan jurig di rumah tersebut.

Mbok bahkan sempat didatangi dukun (Deni Kumis), yang saking mawasnya, mewanti-wanti agar mereka keluar dari rumah tersebut secepatnya. Katanya, rumah tersebut memang angker dan berbahaya.

Namun, Rahmat dan Anisa tidak percaya begitu saja wangsit dari dukun tersebut. Apalagi, Anisa kini tengah hamil tua dan tengah menunggu kelahiran anaknya.

Justru setelah ditinggalkan oleh Mbok, keadaan rumah tersebut semakin angker, dengan banyak daging mendaging berseliweran tanpa jelas bersama genangan darahnya.

Dapatkah Anisa dan Rahmat selamat dari kejaran mahluk lain? Atau malah berhasil ditangkap kepolisian? Atau malah sebenarnya tahu bahwa rumah tersebut memang menginginkan tumbal?

Jawabannya, dapat dicek di berbagai sinema Indonesia.

Melarikan Diri ala Tawanan Perang dari China di Film Dongji Rescue

Warga desa di China yang kaget baru sekali lihat pasukan Jepang (TMDB).

Film dari China tampaknya semakin ajib saja, yang kini mulai merambah kisah dari latar sejarah atau modern. Sebelumnya, film berjudul Operation Hadal dirilis bulan lalu di Indonesia, yang mengisahkan pertempuran pasukan modern China di lautan, mirip dengan film Dongji Rescue di bulan Oktober ini.

Film Dongji Rescue yang tengah tayang di sinema Indonesia, tampaknya mengingatkan bahwa China sebenarnya memiliki andil saat Perang Dunia 2 dahulu, daripada kelebihan pasukan modern China seperti di film Operation Hadal.

Memang kedua film tersebut cukup berbeda dengan banyak film ciamiknya, yang biasanya berlatar mitologi China dengan aksi gelut ala fantasi melawan monster raksasa pemakan manusia.

Kembali ke film dari China ini, tentu karena wilayahnya yang tepat bersebelahan dengan Jepang sebagai agresor di PD 2, China bersama Korea sempat mengalami banyak konflik di bagian utara Asia Timur tersebut.

Bahkan unit 731, yaitu fasilitas penelitian senjata biologis dan kimiawi milik Jepang, ditempatkan di wilayah timur laut China. Fasilitas ini melaksanakan berbagai eksperimen ke banyak desa di sekitarnya, sehingga berujung meninggalnya ratusan ribu warga China.

China sebenarnya jaman tersebut mengalami kedekatan dengan Inggris Raya dalam menghalau pergerakan Jepang. Sayang, kolaborasi keduanya kurang sanggup melawan pasukan Jepang yang sedang beringas.

Nah, kisah kerjasama Inggris Raya dan China saat PD 2 diangkat dalam film Dongji Rescue ini. Tokoh utamanya bukanlah seorang tentara, namun warga desa biasa, yang terpaksa melawan balik Jepang, akibat desanya terancam.

Kisah nyata yang diangkat oleh film Dongji Rescue berasal dari dokumentasi sejarah Tenggelamnya Kapal Laut Lisbon Maru, yang menyebabkan 800 pasukan Inggris Raya tenggelam dan meninggal.

Sinopsis Film Dongji Rescue 

A Bi (Zhu Yilong) dan A Dang (Leo Wu) panik saat mendengar desanya akan diserang pasukan Jepang. Desa mereka memang berada di pesisir pantai, yang sempat melihat kapal Jepang berada di lepas pantai namun tidak berlabuh.

Setelah sekian lama, ternyata kapal Jepang tidak berlabuh juga, tetapi malah mengirimkan pasukannya ke pesisir pantai. Warga desa pun diancam, namun tidak diserang, melainkan dipekerjakan sebagai budak perang bagi pasukan Jepang.

Ternyata, pasukan Jepang sebenarnya berniat menghabisi desa tersebut, tetapi setelah 1800 pasukan Inggris tawanannya dibasmi terlebih dahulu. Desa tersebut harus dihabisi, karena membasmi tawanan adalah sebuah tindakan kejahatan perang, dan pasukan Jepang tidak ingin ada saksi atas kejahatannya.

A Bi dan A Dang sempat bertengkar karena panik, walau akhirnya dilerai oleh A Hua (Ni Ni). Mereka akhirnya berinisiatif untuk melaksanakan operasi penyelamatan pasukan tawanan Inggris Raya.

Banyak warga desa setuju, dan daripada melarikan diri, mereka bersiap untuk menyelamatkan seluruh pasukan Inggris Raya di Kapal Lisbon Maru tersebut. Warga desa berharap, jika operasi penyelamatan ini berhasil, maka wilayah desa mereka tidak akan menjadi target pasukan Jepang.