30 September 2025

Batik Adalah Sejarah Warisan Budaya Nasional Indonesia

Ilustrasi desain pola Batik dari Indonesia (Freepik).

Seluruh wilayah negara Indonesia terkenal dengan variasi kain Batik. Dilansir dari National Geographic, Batik berasal dari Jawa Tengah, dimana warna krem dan cokelat mendominasi pada lembaran kainnya. Produksi tekstil Batik tradisional menerapkan teknik pewarnaan lilin, saat senimannya mendesain titik pola dengan tangan dan stempel berbahan tembaga atau kayu.

Batik merambah hingga wilayah kesultanan sepanjang pesisir pantai Indonesia, dimana perdagangan internasional menginspirasi warna yang lebih cerah. Contoh corak Batik yang berwarna cerah berasal dari Madura yang khas dengan motif mega mendung dan Kulon Progo dengan motif khas geblek renteng.

Maka, Batik adalah kain simbol negara Indonesia yang terus berkembang, baik itu secara nasional, maupun lokal. "Batik diproduksi dan dikenakan di seluruh wilayah negara Indonesia. Batik adalah simbol identitas kami," ujar Benny Gratha, seorang kurator Museum Tekstil Jakarta.

Kain Batik dapat digunakan sebagai pakaian keseharian (formal, informal, dan adat tradisional), termasuk diantaranya celana, masker, topi, sabuk, sarung bantal dan guling, sprei, kain jarik (gendongan bayi), kain penutup keranda jenazah, hingga sampul gawai elektronik. 

Hari Batik Nasional dirayakan tanggal 2 Oktober di Indonesia, yang sejak tahun 2009, tepat saat diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang dilindungi oleh UNESCO.

Proses Pembuatan Kain Batik

Dilansir oleh Britannica, batik adalah metode mewarnai kain dengan area yang diberi pola oleh lilin, sehingga kain dapat menyerap warna tersebut. 

Metode batik biasanya didesain pada kain katun dengan warna tradisional seperti biru, cokelat, dan merah. Tercampurnya efek beberapa warna efek didapatkan setelah beberapa kali proses pewarnaan ulang. Pola dari lilin yang menempel pada kain awalnya direbus terlebih dahulu, lalu diproses kembali sebelum memberi tambahan warna cerah.

Teknik dasar batik belum diketahui tepat awal sejarahnya, walau telah dilaksanakan secara luas di banyak wilayah Asia Tenggara, dengan berbagai variasi berbeda. Dilansir dari Bhinneka, berbagai teknik produksi Batik diantaranya adalah Batik Tulis (Canting), Batik Cap, Batik Kombinasi, Batik Ikat Celup, Batik Lukis Colet, dan tentu Batik Modern. Contohnya lainnya ada di pulau Selebes, Sulawesi, dimana lilin terpasang pada batang bambu. 

Di pulau Jawa saat pertengahan abad 18 lalu, inovasi stempel tembaga dengan pegangan dan moncong titik yang berlapis lilin, dapat memperindah pola pada kainnya. Inovasi dari Jawa lainnya adalah saat menggunakan batang kayu sebagai stempel polanya, yang dikenalkan sejak abad 19 lalu. Belanda sempat mengimpor kain dan tekniknya ke Eropa. 

Mesin garmen jaman sekarang dapat memproses lilin dengan pola tradisional Jawa, dan dapat mereproduksi efek layaknya pemrosesan tangan. Mesin masih memiliki konsep yang sama, yaitu menempelkan pola dari lilin pada kainnya. 

Batik Dakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO

Dilansir dari UNESCO, Batik memiliki teknik, simbolisme, dan budaya yang meliputi pelukisan tangan kain katun dan sutra, sehingga menyerap ke seluruh pola kehidupan sehari-hari di Indonesia. 

Mulai dari awal hingga akhir, Batik digunakan sebagai kain jarik untuk menggendong bayi, dengan banyak pola simbol yang didesain untuk memberi peruntungan, sementara warga yang meninggal ditutupi oleh kain jenazah (atau penutup keranda).

Pakaian didesain untuk dikenakan sehari-hari, saat keperluan bisnis dan akademik, sementara variasi khusus dikenakan saat perayaan pernikahan, kehamilan, pagelaran Wayang, dan banyak format seni lainnya. Kain Batik bahkan berperan utama saat ritual khusus, contohnya saat pelemparan batik ke dalam kawah gunung volkano.

Pola Batik diwarnai oleh perajinnya pada kain, dengan desain titik dan garis menggunakan lilin panas, yang didapatkan dari sayuran dan bua. Lalu, perajin memisahkan warna dengan membasuhi kain dengan satu jenis warna, memisahkan lilin dengan air rebus bersuhu panas, dan diwarnai berulang kali.

Variasi pola merefleksikan banyak pengaruh, diantaranya berasal dari kaligrafi Arab, buket Eropa, phoenix China, bunga sakura Jepang, serta merak dari India atau Persia. 

Batik biasanya diwariskan secara turun temurun dalam banyak generasi keluarga, sehingga kerajinan Batik sangat terikat dengan identitas budaya warga Indonesia. Bermaksud simbolis dari setiap warna dan desainnya, Batik adalah ekspresi kreativitas dan spiritualitas warga Indonesia.

Sedikit Komentar dari Penyuka Batik

Selaku penulis, saya memiliki minat khusus pada Batik. Sejak pertama kali melihat Batik digunakan secara santai jaman SMP terdahulu, Batik telah menarik minat saya. Walau tentu tidak seminat itu untuk memiliki kain Batik asli yang cukup sulit didapatkan.

Kini, penulis memiliki koleksi berbagai jenis kebutuhan pakaian berpola Batik, diantaranya kemeja, celana, masker, serta sarung bantal dan guling. Satu pakaian paling cocok, tentu adalah sejenis Iket Sunda, yang biasanya memang  berpola Batik.

Khusus untuk momen saat mengenakannya, penulis lebih suka dan sering memakai Batik saat mengunjungi acara pernikahan, selamatan, dan perayaan lainnya, baik itu yang berlengan pendek maupun panjang. 

Bahkan, penulis kurang suka memakai pakaian kemeja biasa, karena terlalu gerah dan mudah kotor, dengan bagian bawah yang harus dimasukkan dalam celana agar dianggap rapih. Sementara Batik, cukup dipakai dan langsung dianggap formal.

24 September 2025

Komedi Horor ala Sunda di Film Kang Solah From Kang Mak X Nenek Gayung

Jaka, Supra dan Fajrul yang heran ternyata Desa Cisliasari keramat (TMDB).

Nah, bagi yang bosan dengan horor yang selalu mengerikan nan random ceritanya, saatnya beralih ke film santai bernuansa horor ala film Kang Solah From Kang Mak X Nenek Gayung

Film yang sedang tayang di sinema Indonesia ini, memang bergenre komedi horor, yang diisi pula berbagai aktor-aktris komedi terkenal. Diantaranya, terdapat Indro Warkop, Tora Sudiro, Asri Welas, Andre Taulany, dan Indra Jegel yang terkenal dalam perannya yang bodor.

Mungkin jadi capruk karena pengaruh Tora Sudiro dan Indra Jegel, yang memang berlatar suku Sunda, atau memang filmnya dibuat di sekitar daerah Sunda. Walau begitu, jurignya pun entah datang dari mana, yaitu Kang Mak yang mungkin datang dari Thailand, atau Nenek Gayung yang kesiangan saat belum mandi.

Karena cukup isekai, makanya tokoh utamanya yang dinamainya sebagai Solah alias Rigen Rakelna sudah dianggap meninggal dunianya oleh desanya sendiri. Pas pulang ke desanya itu, Solah malah dianggap jurignya, sekaligus gagalkanlah pula kisah cintanya bersama gadis pujaannya yang masih ranum.

Saking ngerinya persepsi dari desanya, Solah langsung dianggap lebih mengerikan lagi dibanding dengan Nenek Gayung dan Kang Mak yang hobinya meneror dusta seluruh warga desa Cisliasari.

Salah Solah sendiri malah milih hidup rantau, ya? Apalagi sampai berani pulang kampung, bjir...

Jaka, Fajrul, Mas Pusi, dan Supra yang bersiap membalas dendam jurig (TMDB).

Sinopsis Film Kang Solah From Kang Mak X Nenek Gayung

Solah (Rigen Rakelna) yang sudah tambun akibat rantau yang hampir sukses, akhirnya kembali ke desanya bernama Cisliasari bersama trio kawan santainya, yaitu Fajrul (Indra Jegel), Supra (Indro), dan Jaka (Tora Sudiro).

Sayangnya, saat Fajrul sedang modol, sebuah benda keramat bernama gayung mengutuk keempat sekawan nyeleneh ini. Yang mengutuknya pun bukan hanya sembarang jurig, yaitu Asri Welas yang telah sakti mandraguna di perfilman horor Indonesia.

Makin sayangnya lagi, Solah ternyata sudah dinyatakan meninggal akibat rantau terlalu lama di luar dunia sana. Kembalinya sosok berbeda Solah, malah jadinya mengingatkan trauma warga desa, bahwa mahluk rantau harusnya jangan pernah kembali pulang kampung.

Semakin parah lagi, Dara Gonzales (Davina Karamoy) yang cantik menyesatkan malah akan dikawinkan dengan adiknya Solah Sendiri, yaitu Iqbal (Kenzy Taulani), padahal dia sudah menimbun cemceman sejak lama.

Makin mengherankan lagi, Nenek Gayung yang seharusnya puas sebagai Asri Welas pun ikut cemburu pula, dan mulai mencari bakat dari dalam diri Solah. 

Seluruh warga dan dukun sakti tanpa kesiapan lainnya pun perlu membantu Solah, demi mengamankan seluruh desa dan potensi Solah yang harus merantau lagi dan pergi jauh-jauh (pait-pait-pait) dari desa Cisliasari.

Horor Keluarga Indonesia di Film Dia Bukan Ibu

Vira yang heran kenapa rumahnya banyak lilin (TMDB).

Horor Indonesia pun masih berjumpalitan di bulan September ini. Kali ini, berjudul Dia Bukan Ibu, yang mengisahkan sebuah keluarga yang baru saja berduka, dan pindah ke rumah kediaman baru di daerah lumayan sepi nan jauh dari keramaian.

Nah, berkaca pada kisah emosional dengan lokasi yang baru, tampaknya perlu ditelaah dari segi medianya. Keadaan keluarga berduka memang menciptakan emosi kuat bagi setiap anggotanya. Terlebih lagi, keluarga memilih pindah ke wilayah baru, demi potensi diri yang lebih baik dan menghilangkan kenangan.

Walau di film Dia Bukan Ibu ini mengisahkan sebuah ritual horor lain-lain dari dunia lainnya, tetapi keadaan seperti itu lumrah menjadi tantangan setiap keluarga yang tengah berduka.

Jika dibandingkan, film keluarga berduka yang memilih pindah mirip dengan film Hollywood dari studio A24, yang berjudul The VVitch (2015). Di film berlatar awal koloni Amerika abad 17 ini, sebuah keluarga yang beragama beda, memilih pindah dari koloni New England, dan menetap di lahan antah berantah dekat hutan.

Pilihan yang buruk dari awalnya, karena Amerika saat itu belum terjamah sama sekali oleh koloni Eropa, sehingga resikonya cukup tinggi bagi koloni baru, apalagi sebuah keluarga saja.

Keluarga ini pun mengalami banyak rentetan kemalangan, mulai dari gagal panen, hewan ternak yang bertingkah aneh, hingga kehilangan beberapa jiwa anggota keluarga. Lokasi hunian mereka yang jauh, menyebabkan mereka tidak meraih bantuan layaknya di koloni utama. 

Suasana yang semakin suram, semakin menyulitkan emosi dan pikiran setiap anggotanya. Bahkan, dari setengah durasi film, banyak kejadian aneh yang tidak dapat dinalar, sehingga terlihat seperti sugesti aneh dari dunia lain. Bahkan, kejadian aneh terus terjadi hingga akhir film.

Nah, tampaknya film Dia Bukan Ibu ini mengambil referensi khusus (homage/tribute) dari film The VVitch ini. Apalagi memang lokasinya yang baru, karena itu kenangan baik kadang tertimpa oleh situasi, kondisi, serta mental para anggota keluarga.

Karena cukup mirip, ayo coba dicek sinopsis film Dia Bukan Ibu yang kini sedang tayang di sinema Indonesia...

Sinopsis Film Dia Bukan Ibu

Yanti (Artika Sari Devi) adalah seorang janda yang baru saja kehilangan suaminya. Karena perlu menghidupi keluarganya, dia bersama kedua anaknya, Vira (Aurora Ribeo) dan Dino (Ali Fikry) akhirnya pindah dari kota dan menetap di daerah rural.

Awalnya, kesan rumah baru serta potensi kerja Yanti yang membuka salon cukup cerah. Ketiganya cukup sumringah menapaki jalan baru hidup mereka.

Sayangnya, belum lama menikmati kawasan rumahnya, berbagai kejadian aneh menimpa mereka. Justru, seluruh kejadian tersebut berasal dari Yanti yang mulai bertingkah aneh.

Yanti memang terlihat aktif dan senang dengan pekerjaan sebagai ahli rias di salon miliknya. Entah berapa lama kemudian, dia terlihat 'berbeda' dan bahkan mulai meneror keluarganya sendiri.

Sanggupkah Vira dan Doni menguak apa gerangan yang terjadi pada ibunya?

Anime Aksi Chainsaw Man Kembali Dengan Sub Judul Reze Arc

Ledakan cinta ala Denji sang Chainsaw Man (TMDB).

Nah, kali ini kembali film anime aksi pecicilan, Chainsaw Man, yang bersubjudul Reze Arc. Bagi yang sangat menyukai studio Mappa, serial Chainsaw Man memang diproduksi oleh studio ternama ini.

Chainsaw Man memang bisa disandingkan dengan anime gelap lainnya yang kini masih tayang, yaitu Jujutsu Kaisen dan Dandadan. Namun, berbeda dengan kedua anime tadi yang mangaka-nya terlihat jelas sangat menyukai genre horor, dibanding Chainsaw Man yang kadang terlalu edgy nan ga jelas.

Berbeda dengan JJK dan Dandadan yang penuh referensi jurig, Chainsaw Man memang lebih berfokus pada cerita ritual Setan. Para mahluk tak fana ini butuh rasa takut manusia agar tetap eksis dan kekuatannya meningkat. 

Nama setannya pun tergantung dari namanya yang khusus. Contohnya adalah Chainsaw yang berarti gergaji mesin, sebuah alat penebang pohon yang berbahaya jika dipakai manusia. Semakin takut manusia dengan simbol Chainsaw, maka semakin sakti setan tersebut.

Di dunia anime ini, setan adalah fenomena wajar sepanjang sejarah manusia. Banyak manusia menjadi korban kebiadaban setan, atau bahkan melakukan perjanjian dengan setan agar memiliki kemampuan sakti. 

Satu kelompok bernama Public Safety Devil Hunter (PSDH) harus didirikan sejak dahulu kala, demi melindungi umat manusia. Sayangnya, para anggota PSDH harus memiliki setan pula, agar sebanding saat gelut melawan setan lainnya.

Tokoh utamanya Denji (Kikunosuke Toya) bahkan bukan seorang yang berniat menjadi pahlawan. Dirinya adalah yatim piatu yang telah dekat dengan setan gergaji mesin (Pochita) sejak kecil, dan terpaksa digunakan saat dirinya bekerja sebagai bawahan yakuza jahat.

Setelah lepas dari kendali yakuza yang ternyata memiliki setan juga, Denji akhirnya terdeteksi oleh PSDH. Dia pun direkrut dan terpaksa kembali bekerja, sebagai pemburu setan demi menghidupi dirinya yang belum pernah sekolah sejak SD.

Bagi yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya, bisa dicek anime dan manga Chainsaw Man hasil karya mangaka Tatsumaki Fujimoto, yang sebenarnya berandil pula saat menciptakan manga Dandadan.

Nah, di filmnya ini, lebih mengisahkan kedekatan Denji dengan Reze, yang bisa dicek melalui sinopsisnya.

Sinopsis Film Chainsaw Man - The Movie: Reze Arc

Denji (Kikunosuke Toya) telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa hatinya hanya milik ketua PSDH cabang Tokyo, Makima (Tomori Kusunoki). 

Sayang, jiwa dan tubuh mudanya lebih mengacu pada gemulai gadis lain, bernama Reze (Reina Ueda) yang sangat menyukai Denji. Setelah bertemu kencan beberapa kali, Denji yang sedang mabuk cinta malah meledak-ledak (tubuhnya).

Ternyata, Reze adalah penjelmaan setan Bom, yang diminta para penyembah setan lainnya untuk membasmi setan Gergaji Mesin alias Denji. Jika Denji berhasil dikalahkan, operasi setan untuk membasmi seluruh rantai organisasi PSDH dapat dilanjutkan menuju tahap berikutnya. 

Denji yang semakin mabuk asmara dan gelut sekaligus, kembali beringas dan membasmi apapun yang terasa enak dibantai. Sayang, dia masih memiliki kenangan cinta terpendam dalam dirinya yang sudah yatim piatu sejak lama.

Aksi Keren Hollywood di Film One Battle After Another

 

Bob yang memakai kupluk (IMDB).

Bagi yang telah menonton cuplikannya, tentu mengenal aktor kawakan dalam film One Battle After Another ini. Ya, namanya adalah Leonardo DiCaprio, seorang aktor yang sering meraih nominasi dan sekali memenangkan penghargaan Oscar.

Sudah terkenal dalam bakat aktingnya, DiCaprio memang dikenal sejak perannya dalam film Titanic (1997 lalu). Walau kini lebih berkecimpung sebagai produser film, DiCaprio berperan di banyak film kompleks yang dinominasikan Oscar, diantaranya adalah Wolf of Wall Street (2013), Inception (2010), dan Departed (2006).

Film lainnya pun cukup mantap untuk ditonton, mulai dari The Man in the Iron Mask (1998), The Beach (2000), Gangs of New York (2002), Catch Me If You Can (2002), Blood Diamond (2006), Body of Lies (2008), Shutter Island (2010), serta Django Unchained (2012).

Kali ini, DiCaprio akan beradu akting dengan dua aktor kawakan, yaitu Sean Penn yang berperan sebagai Kolonel Steven J Lockjaw, dan Benicio Del Toro sebagai Sensei Sergio St. Carlos.

Film ini pun mengadaptasi dari novel karya tahun 1990, berjudul Vineland. Dari novelnya, bisa dinalar bahwa film ini berisi cerita sekelompok paramiliter, yang menolak kendali pemerintahan AS. Mereka mengambil jalan kekerasan demi mencanangkan revolusi di wilayahnya. 

Tampaknya banyak film Hollywood di bulan September ini sedang mengambil sudut pandang warga melawan pemerintahnya.

Di film ini, DiCaprio memerankan Bob Ferguson, seorang anggota grup revolusi French 75. Dengan berbagai taktik gerilya, Bob mencoba melumpuhkan sebuah markas militer AS. 

Dia melaksanakan gerilya bersama istrinya, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor). Keduanya akhirnya memiliki momongan bernama Willa (Chase Infiniti), tepat sebelum gelut revolusi mereka berakhir.

Nah, bagaimana dengan plot utama cerita film One Battle After Another ini? Kali ini cek saja sinopsisnya...

Sinopsis Film One Battle After Another

Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio) adalah seorang revolusioner berkemampuan militer, yang tidak menyukai pemerintah AS. Selama beberapa tahun bersama istrinya, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), Bob melawan dengan bergerilya di wilayah AS.

Sayangnya, aksi revolusi French 75 mereka berakhir, sementara Bob harus mengasuh putrinya, Willa (Chase Infiniti) seorang diri, akibat keberadaan istrinya yang entah kemana.

Selama enam belas tahun, Bob yang telah tua masih hidup di antah berantah, demi menghindari kejaran militer yang mengetahui aksi gila revolusi miliknya di masa lalu.

Sayangnya, setelah Willa menginjak usia remaja dengan tidak mengetahui aksi gila Bob dan Perfidia di masa lalu, masalahnya kembali menghantui mereka. Willa diculik oleh Kolonel Steven J Lockjaw (Sean Penn), yang selama ini mengejar Bob. Willa ditahan sebagai pemancing, agar Bob dapat ditangkap kembali.

Bob yang panik mengetahui anaknya hilang, akhirnya mencari Sensei Sergio St. Carlos (Benicio Del Toro), yang selama ini menghindari kejaran militer pula. Bob dan Sensei yang telah tua bangka pun harus berjibaku kembali, demi merebut kembali seorang gadis yang tidak menahu soal kegilaan generasi sebelumnya.

Animasi Lucu Bagi yang Suka Boneka Gabby's Dollhouse

 

Gabby yang sumringah didalam Dollhouse (IMDB).

Bagi yang suka animasi lucu yang cocok untuk seluruh keluarga, Gabby's Dollhouse bisa menjadi pilihan film bersama anak di sinema Indonesia, bulan September ini.

Film ini diadaptasi dari serialnya, berjudul sama yang telah tayang sejak tahun 2021 lalu di Neflix. Dari segi visualnya, film ini memang menggambarkan seorang anak remaja yang bisa keluar-masuk dunia animasi dan nyata.

Gabby (Laila Lockhart Kraner) adalah nama anak remaja tersebut, yang memiliki sebuah rumah boneka ajaib. Rumah boneka miliknya berkemampuan magis nan sakti, sehingga Gabby bisa mengecil dan masuk ke dalamnya.

Tidak hanya mengecil, Gabby bisa berinteraksi langsung dengan seluruh bonekanya, yang bisa berbicara dan berkomunikasi layaknya manusia biasa. Banyak petualangan yang dialami oleh Gabby bersama seluruh bonekanya yang berbentuk kucing lucu.  

Sekilas, memang serial animasi dari Netflix ini cocok untuk anak perempuan yang menyukai boneka. Kali ini, filmnya diproduksi oleh studio terkenal, yaitu Dreamworks Animation dan dirilis oleh Universal Studios.

Tentu yang mengenal Dreamworks, tahu beberapa film animasi ciamik yang diproduksinya. Contohnya adalah banyak film Shrek, Trolls, dan Puss in Boots.

Nah, bagaimana dengan filmnya di bulan September ini? Coba dicek saja sinopsisnya ya.

Sinopsis Film Gabby's Dollhouse

Gabby (Laila Lockhart Kraner) kini berangkat untuk mengadakan liburan panjang bersama neneknya, Gigi (Gloria Estefan). Tentu, Gabby mengajak Dollhouse-nya bersama perjalanan tersebut.

Saat tiba di lokasi rumah tujuannya, Dollhouse yang dipasang derek malah tergelincir. Saking lajur jalan yang naik-turun nan terjal, Dollhouse malah meluncur jauh dengan kencang. Gabby pun terpaksa berlari untuk meraihnya.

Akhirnya, Dollhouse terhenti di sebuah gang, tepat di sebuah pasar loak. Seorang nyonya eksentrik bernama Vera (Kristen Wiig), langsung jatuh cinta melihat Dollhouse. Vera memang menyukai apapun yang berbentuk kucing. Kucing miliknya, Marlene bahkan didandani layaknya seorang bintang dan gaunnya.

Sementara Gabby yang kesulitan mencari lokasi Dollhouse berada, akhirnya terpaksa menggunakan cara terakhir. Gabby menyalakan boneka magis miliknya, yang langsung mengecilkan dirinya lalu terbawa langsung ke lokasi Dollhouse. 

Dari sana, petualangan untuk merebut kembali Dollhouse pun mulai dijalani oleh Gabby, bersama seluruh boneka kucing kesayangannya.