29 Agustus 2025

Tersasar di Gunung Bersama Jurig Sunda di Film Pencarian Terakhir

 

Drupadi bersama kawan-kawannya di Gunung Sarangan (TMDB).

Akhirnya, ada satu film horor yang cukup menarik dari Indonesia di bulan Agustus ini, berjudul Pencarian Terakhir. Film horor ini mengisahkan sebuah kengerian yang sudah cukup akrab bagi para penggemarnya, yaitu tersesat di gunung pendakian.

Keramatnya Gunung dan Hutannya

Bagi penggemar cerita horor, khususnya di Indonesia, memang gunung sering diartikan sebagai lokasi sakral. Tidak hanya iklim tropis yang membentuk daerah gunung cukup kompleks, Indonesia memiliki banyak gunung yang dianggap keramat atau bahkan mistis.

Memang dari kepercayaan tradisional Indonesia, gunung memiliki maksudnya tersendiri. Banyak yang percaya, bahwa gunung adalah tempat bersemayam banyak kekuatan ghaib. Jadi, jika ada pantangan (atau weton) dari warga sekitar, maka seorang pendaki harus mematuhinya saat memasuki gunung. 

Terlebih lagi jika baru menapaki gunung tersebut. Selain mematuhi arahan dari tim penjaga gunung (tim SAR diantaranya), pendaki harus menghormati keadaan alam di sekitar gunung. Pastinya, berdoa dahulu kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah awal yang dibutuhkan setiap pendaki.

Beberapa cerita horor dari gunung pun bisa kita telaah, mulai dari tersasar (sendiri atau kelompok), kesurupan, penampakan siluman, suara binatang aneh, suara gamelan tradisional, ajakan pasar malam, suara bayi menangis, paniknya binatang pemandu pendaki, hingga ritual mistis penganutnya.

Seluruh fenomena mistis diatas pun bisa terjadi pada siang hari, saat gunung sedang terlihat indah nan cerah. Walau tidak bisa disebut lengkap, tetapi setiap fenomena tersebut bisa terbilang unik. 

Berbeda dengan jurig lainnya seperti kuntilanak, genderewo, buta hejo, kelong wewe, wewe gombel, jelangkung, pocong, tuyul, jenglot, sundel bolong, kuyang, leak, dan jurig konten, fenomena mistis di gunung adalah khas gunung tersebut, dan sangat berbeda dengan daerah rural atau urban.

Kepercayaan utama dari setiap gunung, adalah memiliki suatu sosok karuhun (leluhur) yang masih bersemayam. Mereka berbentuk ghaib, dan menjadi acuan bagi ksatria dan raja kerajaan kuno terdahulu, untuk memantapkan ilmunya. Selain berlatih fisik, semedi akan dilaksanakan sebagai ritual pemungkas mereka. 

Buktinya bisa dilihat hingga sekarang. Banyak ritual tradisional (khususnya di daerah Jawa), yang mengacu pada gunung. Tidak hanya ritual, bukti prasasti di gunung, sebagai tanda terima dari kerajaan pun, mengacu pada hal tersebut.

Penulis sendiri sempat menyaksikannya langsung, yaitu di sekitar area wisata Punclut, tepatnya di Curug Dago. Walau lokasinya dekat jalan dan mudah diakses, ternyata berisi sebuah prasasti di sekitarnya. Prasasti pun berasal dari seorang raja terkenal di luar negeri, yaitu dari Thailand.

Nah, sekarang coba kita cek sinopsis film Pencarian Terakhir, yang dari cuplikannya saja sudah mengisyaratkan istilah weton dari suku Sunda.

Sinopsis Film Pencarian Terakhir

Drupadi (Adzana Shaliha) adalah seorang piatu yang telah kehilangan ibunya, Sita (Artika Sari Devi), saat masih berumur 10 tahun. Ibunya hilang di Gunung bernama Sarangan, yaitu sebuah gunung pendakian di daerah Jawa Barat.

Kejadian naas saat dirinya masih kecil, menyebabkan hubungan keluarga Drupadi dan ayahnya, Tito (Donny Alamsyah) menjadi renggang. Tito masih trauma saat kehilangan istrinya, sehingga emosional setiap kali melihat anaknya, padahal umurnya terus bertambah.

Tidak ingin kenangan ibunya sirna begitu saja, Drupadi yang telah berumur gadis muda, bersitegas untuk mendaki gunung dimana ibunya hilang. Tentu dia berangkat bersama beberapa temannya, yaitu Raka (Razan Zu), Maya (Dinda Mahira), Ucok (Fatih Unru), Jamal (Fadi Alaydrus), dan Nurul (Alika Jantinia).

Tim yang cukup solid untuk mendaki gunung, karena dapat saling membantu melalui sulitnya medan di pegunungan. Sayangnya, belum lama menaiki gunung, beberapa kejadian aneh mulai menimpa mereka.

Sementara di kaki gunung, kelompok Drupadi bersama lima temannya telah dinyatakan hilang. Mereka tidak terlihat selama beberapa hari lamanya, yang biasanya menjadi batas waktu pendakian.Tito yang tetap traumatis, lalu melapor ke tim pencari dan penyelamat korban (SAR), atas kehilangan anaknya. 

Namun, permintaan ditolak, karena memang rumor dan kejadian mistis di Gunung Sarangan sudah mengakar bagi setiap warga di sekitarnya. Terdapat beberapa weton yang mungkin dilanggar grup Drupadi, dan tidak ingin diulangi lagi oleh para anggota tim SAR, saat mendaki kembali Gunung Sarangan.

Bersikeras, Tito pun mendesak agar operasi penyelamatan tetap dilaksanakan, walau melalui medan yang sulit, serta weton yang dilanggar oleh banyak pihak. Tidak hanya untuk menemukan anaknya, momen pencarian ini mungkin menjadi petunjuk atas hilangnya Sita, bertahun-tahun yang lalu.

Dapatkah sepasang ayah-anak ini berhasil saling menemukan satu sama lainnya? Dan mungkinkah petunjuk mengenai hilangnya Sita terkuak? 

Jawabannya bisa dicek di film Pencarian Terakhir, yang kini tengah tersasar di lebatnya konten ala sinema Indonesia.

Drama Musikal Indonesia Jaman Kolonialisme di Film Siapa Dia

Nicholas Saputra dan Gisella Anastasia yang sedang kasmaran (TMDB).

Naaaaah, sekali lagi...! Di bulan Agustus, masanya merayakan kemerdekaan, kurang sreg rasanya kalau tidak membahas film dari INDONESIA! Tentu, dengan kesan dan pesan yang lebih mengacu pada jaman koloniasme pula, dan mendukung rasa nasionalisme ala sinema.

Mengacu momen kemerdekaan, maka perlu diingat kembali, bahwa tanpa bom atom dari AS yang menimpa dua kota di Jepang, Indonesia tampaknya bukan lagi 'Indonesia' lagi (jika isekai ke multiverse lain).

Kebetulan tersebut memudahkan proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Insinyur Soekarno, tepat saat negara kita sudah sulit melawan pasukan kolonial Belanda, yang masih disusul lagi oleh Jepang.

Kembali ke film Siapa Dia yang tengah tayang, rasa berbeda tetap disajikan oleh sineas perfilman Indonesia di bulan Agustus ini. Justru film ini dirilis sebagai drama musikal, bersama Windi Mulia, Nicholas Saputra, dan sutradara legendaris Garin Nugroho.

Tidak hanya bintang kawakan, aktor dan aktris terkenal seperti Gisella Anastasia, Ariel Tatum, dan Morgan Oey pun turut berperan dalam film ini. Tentu sejumlah nama yang sangat familiar, apalagi yang sempat menonton film sejak tahun 90an lalu hingga sekarang.

Drama musikal yang tersaji di Siapa Dia pun diisi dengan latar yang masih cocok, yaitu jaman kolonalisme. Jaman tersebut memang Indonesia sudah memiliki teater modern tersendiri, menyusul teater tradisional lainnya seperti wayang, ketoprak, atau longser.

Dari cuplikan film Siapa Dia, dapat terlihat gambar bendera jepang lama, yaitu bendera matahari (nisshoki) dengan garis memancar dari bola di tengahnya. Seragam khas pasukan Jepang dan Belanda pun sempat terlihat dikenakan oleh beberapa karakternya, dengan berseringai pula.

Nah, terlihat dari cuplikannya, lebih tepatnya terdengar, banyak adegan terisi oleh beberapa lagu klasik Indonesia. Lagu seperti keroncong atau klasik vintage, dengan lirik dan nada yang sedikit diaransemen ulang, khusus untuk film ini.

Contohnya adalah lagu Bing Slamet terdahulu, berjudul Nurlela. Lagu lainnya lebih ke 70an, seperti Chrisye dengan cross-genre Rock n Roll dan Pop. Generasi 'old' pasti merasa nostagia dengan berbagai pilihan lagu di film ini.

Belum jelas apakah film ini akan mengisahkan adegan drama saja, atau berisi gelut dengan kolonialisme jaman tersebut. Memang dalam cuplikannya sempat terlihat, tetapi latar belakang karakternya bukanlah seorang birokrat, atau pun gerilyawan.

Sinopsis Film Siapa Dia

Layar (Nicholas Saputra) adalah seorang sutradara terkenal di Indonesia. Statusnya yang sudah kawakan nan legendaris, membuat dirinya bosan dalam pekerjaannya. Dia merasa kurang terinspirasi oleh karyanya, dan berujung mentok dalam menciptakannya.

Temannya pun menyarankan untuk menulis sendiri karyanya, mulai dari rancangan hingga naskah finalnya sendiri. Selama ini Layar memang hanya berkecimpung  sebagai sutradara di filmnya.

Denok (Windi Mulia) pun mengerti perasaan Layar, yang tampak jengah. Dia tahu bahwa Layar merasa terkucilkan walau terkenal, karena ketenarannya hanya mengundang sanjungan dari banyak orang yang disekitar dirinya.

Di tengah kegalauannya, Layar pun menginap di rumah lama milik buyutnya. Disana, dia menemukan sebuah buku harian dalam koper lama, lengkap dengan beberapa surat cinta milik buyutnya.

Kisah klasik yang terbawa oleh dua media tersebut merubah kesan Layar, yang tiba-tiba terinspirasi. Keluarganya memang memiliki sejarah seniman teater, sehingga mengingatkan kembali Layar, untuk menggali ulang latar belakang dirinya sendiri, sejak jaman kolonialisme.

Tampaknya naskah film Siapa Dia mereferensikan dengan jelas, bahwa masa sekarang sudah begitu maju, jika dibandingkan dengan jaman terdahulu. Namun, jika mencapai momen yang sulit, ada baiknya kita perlu rehat sejenak, dengan mengenang sejarah yang berarti khusus bagi perkembangan kita selama ini.

28 Agustus 2025

Dua Film Animasi Legendaris dari Ghibli Tayang Ulang di Indonesia

 

San yang tengah menunggangi serigala raksasa (TMDB).

Di bulan Agustus ini, film masih ramai dengan rasa kemerdekaan. Bahkan sinema Indonesia, merilis beberapa film dari Jepang, yang berformat anime. Film yang dipilih pun cukup legendaris, karena berasal dari studio animasi ternama Jepang, yaitu Studio Ghibli

Sejak didirikan tahun 1985 lalu, Studio Ghibli telah menelurkan beberapa animasi legendaris yang dikenang sampai sekarang. Saking hebatnya, berbagai jenis penghargaan diraih Ghibli, setiap kali merilis filmnya.

Khusus untuk yang dirilis bulan Agustus di Indonesia, temanya cukup mirip, yaitu berjudul Hotaru no haka (Grave of Fireflies;1988). Satu lagi adalah Mononoke-hime (Princess Mononoke;1997), yang masih sesuai dengan khas karya Ghibli, yaitu cerita fantasi mengenai hubungan alam dan manusianya.

Film Hotaru no haka (Grave of Fireflies)

Film pertama, Hotaru no haka, adalah salah satu kisah sukses nan berbeda dari Studio Ghibli, yang berlatar kehidupan Jepang saat akhir Perang Dunia 2, tahun 1945 lalu. Plotnya pun cukup dalam, yaitu mengisahkan sepasang yatim-piatu, adik-kakak, yang harus bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orangtua, atau bahkan orang dewasa lainnya.

Dalam cuplikannya, terlihat Seita (Tsutomo Tatsumi) sang kakak laki-laki, dengan adik perempuannya yang bernama Setsuko (Ayano Shiraishi), tengah berjalan dengan hanya berdua saja. Rumah mereka telah terbakar habis, dan tanpa kehadiran orangtua, mereka harus bertahan hidup. Adik-kakak tersebut akhirnya menemukan serangkaian bunker, yang menjadi hunian sementara mereka. 

Sementara di kota, banyak lokasi telah menjadi puing reruntuhan akibat serangan. Seita yang sempat menyaksikannya, terpaksa bertahan di bunker, karena kota bukanlah pilihan yang baik di masa tersebut.

Jadi, bagaimanapun kisahnya, bahkan Jepang sebagai penindas saat momen sejarahnya, korban sipil terus berjatuhan tanpa henti, dan menghentikan hampir seluruh perkembangan yang ada dan tercapai sebelumnya.

Terbalik dengan istilah latin 'Si vis pacem parabellum,' yang berarti 'saat masa damai, maka bersiaplah untuk perang,' justru tidak ada satupun hal yang didapat dari konflik bersenjata jenis apapun.

Hanya satu yang dimenangkan dari peperangan, yaitu kedamaian, yang tentu tidak butuh perang untuk mempertahankannya. Kedamaian dicapai dengan membangun, sementara konflik hanya mampu menghancurkannya.

Film Mononoke-hime (Princess Mononoke)

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada fantasi, dengan berlandaskan mitologi dari Jepang dan Ainu sekaligus dalam satu latar, berjudul Mononoke-hime (Princess Mononoke). Film Mononoko-hime adalah kisah yang mengutamakan visual bagus, dan distrudarai serta ditulis oleh sineas legendaris dari Ghibli, yaitu Hayao Miyazaki.

Kisahnya memang mengacu pada fantasi mitologi di kepulauan Jepang, dimana banyak hewan fantastis, siluman, hingga bahkan Dewa (Kami) yang berkeliaran bebas bersama manusia. Walau begitu, perkembangan manusia pun sudah cukup maju, karena terlihat manusia sudah dapat menggunakan senapan, yang tentu lengkap dengan peluru dan bubuk mesiunya.

Dilihat dari cuplikannya, Ashitaka (Yoji Matsuda) adalah seorang ksatria dan pangeran muda. Saat tengah berburu babi hutan kolosal, bersama rusa raksasa tunggangannya, dia terkena kutukan aneh. Dukun lokal memberinya saran, bahwa Ashitaka harus pergi ke barat, demi menghilangkan kutukannya.

Saat tiba di barat, Ashitaka sempat bertemu dengan San (Yuriko Ishida), yang tengah beristirahat bersama keluarga serigala putihnya, di pesisir sungai. San yang tidak ingin bertemu manusia lain, melarikan diri bersama kawannanya.

Ternyata, setelah sampai di kota dan bertemu dengan warga setempat, Ashitaka menyadari bahwa sedang terjadi konflik antara Kota Besi dan kawanan San. Kedua pihak berseteru akibat perebutan wilayah, yang dipertahankan dengan sengit oleh keduanya. Kota Besi ingin memperluas wilayahnya, sementara San tidak ingin hutan kediamannya diganggu. 

Kota Besi pun berpendapat, bahwa jika konflik ingin selesai, maka San bersama kawanan serigalanya harus dibasmi. Demi menargetkan tujuan utamanya sekaligus, pasukan Kota Besi harus menghabisi pula dewa leluhur setempat, agar hutannya dapat digunakan bebas.

Ashitaka pun terjebak diantara kedua belah pihak, padahal dia harus mencari cara agar dapat terbebas dari kutukannya. Ashitaka akhirnya perlu mendalami konflik tersebut, sementara badannya semakin sakit.

Dilihat dari segi visualnya, memang mengacu pada dua budaya berbeda di Jepang. Ashitaka dan manusia dari Kota Besi, telah menggunakan baju yukata dan senjata, yang sesuai dengan tradisi ala Jomon dan Yamato. Sementara dari sisi San, terlihat bajunya seperti suku Ainu, yang jelas terlihat kesukuannya.

Walau sebenarnya di dunia nyata tidak sempat terjadi konflik antara Jomon dan Yamato yang berasal dari dataran utama Asia, dengan suku Ainu yang berada di wilayah utara (sekitar) Hokkaido, namun film ini menjadi simbol khusus akulturasi keduanya di Jepang.

Sekali lagi, memang fiktif, tetapi sebuah kisah dapat membuat simbol sebagai referensi atas apa yang telah terjadi di dunia nyata, dengan maksud yang lebih dramatis (!)

Nah, bagi yang penasaran dengan kedua film tersebut, kini tengah tayang di banyak petualangan epik ala sinema Indonesia.

Suami-Istri Isekai Jepang yang Tertukar Peran di Film Shiranai Kanojo

Riku dan Minami saat masih hangat-hangatnya (TMDB).

Di bulan kemerdekaan ini, saat Indonesia tengah merayakan hari jadi ke 80-nya, kita masih mendalami sulitnya menapaki hidup sebagai warga negara berkembang. Umur negara kita memang masih terbilang 'muda.'

Internet Saat Ini

Mengacu pada umur muda, jaman generasi milenial hingga gen-z saat ini, dimana internet adalah keseharian yang dilalui, dan bahkan dibutuhkan dari banyak segi formal. Maka, literasi internet sudah sangat tinggi sekali di Indonesia.

Tidak hanya literasi internet yang cukup kuat, buktinya pengguna internet aktif Indonesia sangatlah banyak, dengan pencapaian rekor dunia sebagai negara paling banyak komentar sedunia!

Berarti generasi saat ini dari Indonesia tengah ekspresif, dan sangatlah terbuka dalam mengemukakan karakternya. Dengan terpaan berita dan pemerintah yang sering memancing, kedewasaan menyikapi media dan peran generasi muda sekarang sudah dapat diandalkan, bahkan melebihi banyak generasi sebelumnya.

Walau dunia musik agak berkurang secara 'mainstream,' justru dari segi internet para kreator seni masih aktif berkreasi dengan sangat menarik, hingga kini dan semoga mendatang.

Film Shiranai Kanojo dan Aktor-Aktrisnya

Nah, kisah para seniman kini coba diangkat oleh film berjudul Shiranai Kanojo, atau My Beloved Stranger. Film ini berasal dari Jepang, yang kebetulan sempat sekalian 'berperan' pula saat kemerdekaan kita 80 tahun lalu.

Nah, di film Shiranai Kanojo, para penggemar lagu pop Jepang (J-Pop) pasti kenal dengan pemerannya. Milet alias Miro Kamishiraishi, adalah pemeran utama wanitanya, sebagai Minami Maezono. Milet mengisi bersama aktor Kento Nakajima yang berperan sebagai suaminya, yaitu Riku Kambayashi.

Kemampuan Milet sebagai penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi, tampaknya mencari tantangan baru di film ini. Mengisi filmnya dengan musik latar berjudul 'I Still,' Milet pun masih berperan langsung di filmnya sendiri. Kento Nakajima sebagai lawan mainnya adalah seniman lengkap lainnya, yang berkecimpung pula sebagai penyanyi, aktor, dan pengisi suara di ranah hiburan Jepang.

Sebelumnya, Milet sempat naik pamor di seluruh dunia, sebagai pelantun lagu utama pada anime Frieren: Beyond Journey's End. Anime ini memang sempat viral sedunia pula, dengan latar ceritanya yang berbeda.

Frieren berlatar cerita epilog dari sebuah kisah fantasi epik, yang telah terlewati 50 tahun lamanya. Anime ini tampaknya menjadi sebuah pengingat, bahwa masa sulit sebenarnya telah terlewati. Hanya tersisa perjuangan sehari-hari, yang memang perlu dibereskan dengan baik dan benar.

Nah, kembali ke film Shiranai Kanojo, tampaknya perlu ditelaah kembali dari segi karakternya. Karena Manami adalah seorang penyanyi panggung, sementara Riku adalah seorang novelis. 

Melihat sisi latar keduanya, yang perlu sangat ekspresif dalam pekerjaannya, sangatlah nyambung dengan jaman media sosial sekarang. Banyak warga biasa yang sering bermain peran di media sosialnya sendiri (atau bahkan dunia nyata), padahal tidak bekerja sebagai streamer, vtuber, atau kreator konten.

Peran tersebut tentu ada baik-buruknya, karena masalah pribadi tetaplah dibatasi aturan privasi tersendiri. Jika para kreator mengalami tahap khusus untuk mendalami perannya sendiri sebagai profesional, nah bagaimana dengan amatir yang suka berperan? Itulah sebuah pertimbangan khusus di jaman media sosial ini.

Dilihat dari cuplikannya, film Shiranai Kanojo tampaknya akan mengisahkan jalinan kedua profesional ekspresif, yang mengalami masalah dalam hubungan mereka sebagai suami-istri. 

Fiktif, tetapi seperti guru SMA terdahulu sempat bilang, bahwa fiksi adalah contoh skenario yang mungkin terjadi. Bukanlah berarti contoh yang perlu diikuti, dan hanya perlu diwaspadai.

Nah, yang terpenting adalah mengisi satu sama lainnya. Makanya coba kita cek sinopsis film untuk menemukan kembali cinta dalam diri ini ya...

Sinopsis Film Shiranai Kanojo

Riku Kambayashi (Kento Nakajima) adalah seorang mahasiswa yang bercita-cita sebagai penulis novel. Sementara Minami Maezeono (Milet) adalah mahasiswi yang bercita-cita sebagai penyanyi.  Keduanya ingin sukses dan terkenal, dalam bidangnya masing-masing.

Keduanya bertemu saat masih kuliah, dan saling jatuh cinta saat pandangan pertama, lalu kedua, hingga ketiga, dan seringkali berikutnya, hingga akhirnya memutuskan menikah saat masih mendalami ilmu di universitas.

Beberapa tahun terlampaui, dan sekarang, Riku telah berhasil menjadi seorang penulis terkenal, yang novelnya laris di pasar literasi. Sementara Minami belum mencapai mimpinya sebagai penyanyi terkenal, dan hanya mengisi harian saja di beberapa kafe musik. Minami kini merasa kurang nyambung dengan suaminya sendiri, yang memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis.

Suatu hari, sebuah komentar dari Riku sempat memicu pertengkaran keduanya. Keesokan harinya, tiba-tiba dunia terbalik. Riku yang merasa 'isekai,' menemukan dirinya adalah seorang jomblo yang bekerja sebagai editor, dan bukannya penulis novel terkenal. Sementara Minami kini telah sukses, sebagai bintang penyanyi pop di Jepang.

Riku yang penasaran coba mengikuti Minami ke lokasi premier untuk bertemu langsung dengan Minami, namun justru sang istri sudah tidak mengenalinya lagi. Tampaknya dunia memang terbalik, dan temannya yang langsung jengah atas teori 'multiverse' ala Riku, bahkan mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa di dunia ini, khususnya pada Minami.

Riku yang masih penasaran bahkan menguntit ke rumah Minami, bahkan hingga sempat mengobrol dengan neneknya. Saat pulang, Minami yang panik melihat Riku, lalu mengusir dan akan melaporkannya kepada polisi. Namun, neneknya justru mengingatkan, bahwa Riku berperan penting bagi mereka berdua.

Riku bahkan nekat hingga mengajak kencan Minami, yang notabene adalah seorang bintang terkenal di Jepang. Apakah Riku perlu kembali ke dunianya lagi dengan Minami yang masih sama? Atau dirinya malah betah dengan Minami yang sudah menjadi bintang sekarang?

Coba cek jawabannya di film Shiranai Kanojo alias My Beloved Stranger, yang kini tengah tayang di banyak romansa sinema Indonesia.

20 Agustus 2025

Drama Keluarga Ayah dan Anak ala Indonesia, Panggil Aku Ayah

Dedi dan Intan yang menabung untuk masa depan (TMDB).

Ringgo Agus Rahman sebagai aktor kawakan, kembali membintangi film di tahun 2025 ini. Bersama Meysha Lin, mereka mengisi film drama keluarga berjudul Panggil Aku Ayah, yang tengah tayang di sinema Indonesia sejak Agustus 2025 ini. 

Meysha Lin adalah aktor cilik baru naik daun, yang pada bulan Mei lalu mengisi film Sayap-sayap Patah 2: Olivia, bersama beberapa aktor kawakan seperti Arya Saloka, Iwa K, dan Nugie. 

Sebelumnya di tahun 2024, Meysha mengisi film How to Survive a Marriage? bersama aktor bintang yaitu Raditya Dika dan Ariel Tatum. Myesha Lin berikutnya akan mengisi film Pelangi di Mars, yang masih dibintangi oleh aktor kawakan pula, yaitu Rio Dewanto. Aktris cilik kelahiran tahun 2018, ini tampaknya akan terus membintangi banyak film besar di Indonesia, jika dilihat dari sederet aktor dan aktris terkenal yang mengisi film bersamanya.

Walau bertema drama keluarga, tentu Panggil Aku Ayah ini dibawakan dengan santai, ala komedinya pembawaan Ringgo. Sebagai peraih Piala Citra, aktingnya tentu tidak dapat diragukan lagi. Sutradaranya pun sudah sangat mumpuni, yaitu Benni Setiawan yang telah berkecimpung dalam produksi 33 film dan serial di Indonesia.

Lokasi syutingnya pun berada di kota Sukabumi, Jawa Barat, dengan logat khas Sundanya yang kental. Saking kentalnya, warga suku Sunda bahkan tidak bisa berbicara dengan logat tersebut, sama seperti di serial televisi Preman Pensiun.

Memang, Ringgo berasal dari Bandung, dengan kesehariannya yang sering bergaul dengan bahasa Sunda pula, walau kadang dalam mode incognito.

Sinopsis Film Panggil Aku Ayah

Dedi (Ringgo Agus Rahman) adalah seorang penagih hutang (debt collector) yang handal. Saking handalnya, banyak para pengutang yang takut akan kegalakan Dedi. Dedi pun termasuk sukses dimata bosnya, yang mengandalkan Dedi sebagai ahli 'pengamanan keuangan' usaha miliknya. 

Saat tengah menagih hutang dari Teh Rossa (Sita Nursanti), Dedi pun terpaksa 'menculik', anaknya, yang bernama Intan kecil (Myesha Lin). Saat itu, Intan yang bandel niat merebut kembali boneka miliknya, namun malah dibawa Dedi sebagai jaminan hutang ibunya. 

Masalah pun tambah runyam, karena Teh Rossa ternyata telah merencanakan pergi ke luar negeri sebagai TKW. Teh Rossa terpaksa melakukannya, karena takut dikejar hutang sekaligus mencari cara untuk melunasinya. Padahal, Intan masih 'diasuh' oleh Dedi di rumahnya. Telat mendapatkan kabar kepergian ibunya, Intan pun terpaksa tetap tinggal bersama Dedi.

Minggu, bulan, hingga tahunan pun silih berganti, saat Intan masih diasuh oleh Dedi. Status Intan yang belum jelas, tetap menumbuhkan rasa sayang dari Dedi, yang masih mengasuhnya dengan sepenuh hati, batin, jiwa, raga, hingga karakter, sikap, pembawaan dan keuangannya.

Bagaimanakah akhir kisah keluarga yang tiba-tiba saling kenal ini? 

Jawabannya, tentu ada di kocaknya sinema ala Indonesia.

Ironisnya Horor Komedi ala Korea Selatan, My Daughter Is a Zombie

 

Soo-ah yang masih belum selera makan (IMDB).

Tampaknya film zombie Korea Selatan akan terus bermunculan di ranah sinema Indonesia. Kali ini yang tayang di bulan Agustus, adalah film berjudul My Daughter Is a Zombie, yang diisi dengan drama keluarga ala Korsel.

Sebelumnya memang banyak film horor zombie bagus yang dirilis dari Korea Selatan. Diawali oleh Train to Busan pada tahun 2016 lalu, film zombie yang rilis diantaranya adalah Seoul Station (2016), Rampant (2018), The Odd Family: Zombie On Sale (2019), Alive (2019), Peninsula (2020), dan Kingdom: Ashin of the North (2021).

Bahkan dari ranah serialnya, beberapa seri terkenal dan bagus meramaikan tema zombie ini. Diantaranya adalah Sweet Home (2020-2024), Zombie Detective (2020), dan All of Us Are Dead (2022). 

Nah, kali ini justru film drama keluarga yang menyayat hati. Diangkat dari sebuah Webtoon, dengan berformat manhwa, film My Daughter Is a Zombie adalah film yang sempat diangkat pula dari serial kartun di Netflix. Kisah ini menceritakan tentang seorang Ayah, yang harus melindungi anaknya setelah terinfeksi.

Tampaknya ranah zombie di film Korea Selatan kini mulai 'memanusiawikan' kembali para korban infeksinya. Contohnya adalah serial Sweet Home, yang diangkat pula dari serial Webtoon. Satu contoh lainnya adalah serial berjudul All of Us Are Dead, yang beberapa penyintas diantaranya sanggup tidak terinfeksi sepenuhnya, dengan kendali diri ala manusia biasa.

Walau kisahnya terdengar menyedihkan, tetapi adegannya ternyata diisi dengan gaya komedi. Tampaknya film ini cocok bagi yang suka kisah zombie lain, dengan rasa kemanusiaan yang tetap terjaga. Banyak film lain memang mengisahkan zombie sebagai bahan tembak-menembak, atau belah-membelah, di banyak bagian tubuhnya.

Sinopsis My Daughter Is a Zombie

Jung-hwan (Ju Jong-suk) adalah seorang ayah yang bekerja sebagai pelatih hewan profesional. Dia bekerja sambil mengasuh anak semata wayangnya, bernama Soo-ah (Choi Yoo-Ri).

Tanpa disangka, Korea Selatan tiba-tiba diserang oleh infeksi virus zombie, yang menyebabkan kepanikan masal dimana-mana. Jung-hwan dan Soo-ah terpaksa melarikan diri dari pusat kota, menuju desa kediaman ibunya yang bernama Bam-soon (Lee Jeong-eun).

Sayangnya, Soo-ah ternyata telah terinfeksi virus tersebut, sehingga kurang mengenal keluarganya lagi. Seluruh anggota keluarga pun bekerja sama untuk melatih Soo-ah, agar tidak agresif dan menggigit siapa pun.

Sayangnya, program pemerintah Korea Selatan justru memberi hadiah bagi yang berhasil melaporkan penampakan manusia terinfeksi, kapanpun dan dimanapun. Anggota Militer Korsel akan memburu dan membasmi seluruh zombie tersebut.

Saat itulah, perkembangan Soo-ah semakin membaik, yang tidak agresif dan asal gigit. Jung-hwan pun mulai dapat menarik ingatan anaknya, dengan mengajarkan kembali tari, yang memang menjadi hobi Soo-ah saat masih sadar dahulu.

Dapatkah Jung-hwan dan Soo-ah kembali bersatu sebagai keluarga biasa? Dengan banyak kejaran dari masyarakat luas dan pemerintah Korsel beserta militernya?

Jawabannya tentu berada di mirisnya keluarga ala sinema Indonesia.