20 Agustus 2025

Ironisnya Horor Komedi ala Korea Selatan, My Daughter Is a Zombie

 

Soo-ah yang masih belum selera makan (IMDB).

Tampaknya film zombie Korea Selatan akan terus bermunculan di ranah sinema Indonesia. Kali ini yang tayang di bulan Agustus, adalah film berjudul My Daughter Is a Zombie, yang diisi dengan drama keluarga ala Korsel.

Sebelumnya memang banyak film horor zombie bagus yang dirilis dari Korea Selatan. Diawali oleh Train to Busan pada tahun 2016 lalu, film zombie yang rilis diantaranya adalah Seoul Station (2016), Rampant (2018), The Odd Family: Zombie On Sale (2019), Alive (2019), Peninsula (2020), dan Kingdom: Ashin of the North (2021).

Bahkan dari ranah serialnya, beberapa seri terkenal dan bagus meramaikan tema zombie ini. Diantaranya adalah Sweet Home (2020-2024), Zombie Detective (2020), dan All of Us Are Dead (2022). 

Nah, kali ini justru film drama keluarga yang menyayat hati. Diangkat dari sebuah Webtoon, dengan berformat manhwa, film My Daughter Is a Zombie adalah film yang sempat diangkat pula dari serial kartun di Netflix. Kisah ini menceritakan tentang seorang Ayah, yang harus melindungi anaknya setelah terinfeksi.

Tampaknya ranah zombie di film Korea Selatan kini mulai 'memanusiawikan' kembali para korban infeksinya. Contohnya adalah serial Sweet Home, yang diangkat pula dari serial Webtoon. Satu contoh lainnya adalah serial berjudul All of Us Are Dead, yang beberapa penyintas diantaranya sanggup tidak terinfeksi sepenuhnya, dengan kendali diri ala manusia biasa.

Walau kisahnya terdengar menyedihkan, tetapi adegannya ternyata diisi dengan gaya komedi. Tampaknya film ini cocok bagi yang suka kisah zombie lain, dengan rasa kemanusiaan yang tetap terjaga. Banyak film lain memang mengisahkan zombie sebagai bahan tembak-menembak, atau belah-membelah, di banyak bagian tubuhnya.

Sinopsis My Daughter Is a Zombie

Jung-hwan (Ju Jong-suk) adalah seorang ayah yang bekerja sebagai pelatih hewan profesional. Dia bekerja sambil mengasuh anak semata wayangnya, bernama Soo-ah (Choi Yoo-Ri).

Tanpa disangka, Korea Selatan tiba-tiba diserang oleh infeksi virus zombie, yang menyebabkan kepanikan masal dimana-mana. Jung-hwan dan Soo-ah terpaksa melarikan diri dari pusat kota, menuju desa kediaman ibunya yang bernama Bam-soon (Lee Jeong-eun).

Sayangnya, Soo-ah ternyata telah terinfeksi virus tersebut, sehingga kurang mengenal keluarganya lagi. Seluruh anggota keluarga pun bekerja sama untuk melatih Soo-ah, agar tidak agresif dan menggigit siapa pun.

Sayangnya, program pemerintah Korea Selatan justru memberi hadiah bagi yang berhasil melaporkan penampakan manusia terinfeksi, kapanpun dan dimanapun. Anggota Militer Korsel akan memburu dan membasmi seluruh zombie tersebut.

Saat itulah, perkembangan Soo-ah semakin membaik, yang tidak agresif dan asal gigit. Jung-hwan pun mulai dapat menarik ingatan anaknya, dengan mengajarkan kembali tari, yang memang menjadi hobi Soo-ah saat masih sadar dahulu.

Dapatkah Jung-hwan dan Soo-ah kembali bersatu sebagai keluarga biasa? Dengan banyak kejaran dari masyarakat luas dan pemerintah Korsel beserta militernya?

Jawabannya tentu berada di mirisnya keluarga ala sinema Indonesia.

Horornya Berbagi dan Berhubungan Badan di Film Together

 

Tim dan Millie yang menemukan gua besar di sekitar rumahnya (IMDB).

Mungkin saatnya para aktor dan aktris Hollywood berperan romantis bersama pasangan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Alison Brie dan Dave Franco, yang keduanya memerankan sepasang suami istri di film Together, dan kini sudah tayang di romansa ala sinema Indonesia.

Tampaknya film ini menyusul sama seperti film sebelumnya yang lebih nyeleneh, yaitu waralaba Quiet Place. Di film Quiet Place, Emily Blunt dan John Krasinki memang menikah di dunia nyata, dan memerankan sepasang suami istri pula di filmnya. Yaaaaang entah kenapa, berinisiatif memiliki anak bayi kembali, padahal seluruh dunia sedang terinvasi oleh alien pendeteksi suara.

Nah, di film Together ini, tampaknya lebih menyerempet pada kisah sepasang muda-mudi yang mengalami masalah 'baru pindah'. Mungkin, memang seharusnya masalah itu terjadi diantaranya keduanya. Film sebagai komentar sosial bukanlah hal baru, walau tentu lebih aneh lagi jika diangkat dalam film horor. Karena, kengerian itu bisa berarti harfiah, atau bahkan simbolis, tanpa adanya unsur 'dramatis' sama sekali.

Pasangan yang baru menikah, lalu pindah, akhirnya memulai hidup baru tentu mengalami banyak tantangan. Tantangan tersebut bukan masalah komunikasi, karena keduanya sedang 'hangat-hangatnya'. Namun, masalah 'logistik' justru yang menimpa banyak pasangan 'baru menikah'.

Nah lagi, bagaimana jika masalah yang muncul berasal dari masalah lain, yaitu mistis. Tidak hanya menganggu kesadaran batin dan ragawi, namun dapat merusak pula mental dan fisik dengan langsung, secara harfiah dan mengerikan. 

Mungkin sutradara film Together ini, Michael Shanks, ingin mengangkat isu sosial, yang digabungkan dengan body horor (horor ragawi). Premisenya adalah tema 'daging-mendaging' yang 'berjumpalitan' untuk mengisi 'satu sama lainnya'.

Sinopsis Film Together

Tim (Dave Franco) dan Millie (Alison Brie) adalah sepasang kekasih yang baru saja pindah ke rumah baru. Mereka pindah dari lokasi lain, menuju lokasi yang jauh dari keramaian dan kurang familiar.

Millie sempat merasa jengah, sehingga perlu berkonsultasi dengan konsultan perkawinan. Millie merasa bukan masalah hubungan mereka, namun lebih kepada rasa takut akan 'berpuas diri' terlalu cepat.

Walau begitu, mereka telah bersama selama beberapa tahun terakhir. Rasa jengah Millie hanya sementara, karena gelora asmara keduanya justru tengah tinggi, seakan hidup hanya berdua.

Namun, lokasi rumah mereka yang agak terpencil, memunculkan banyak masalah baru. Di sekitar rumah mereka, terdapat gua yang cukup besar untuk dijelajahi. Bahkan, ada kemunculan sekte aneh yang melaksanakan ritual di gua tersebut.

Kisah mereka pun semakin aneh, dengan seringnya kejadian daging mereka yang 'menempel' satu sama lainnya, seakan terserap satu sama lain, saat kulit mereka saling bersentuhan. 

Keduanya pun harus mencari petunjuk, apakah wilayah dan rumah misterius yang baru mereka tempati benar-benar aman.

Master Sepuh Jackie Chan Kembali Beraksi di Film Shadow's Edge

Jackie Chan yang masih heran sudah sepuh (IMDB).

Jackie Chan yang telah berumur 71 tahun tampaknya masih giat berkecimpung di banyak film aksi. Jackie Chan memang terkenal sebagai aktor beladiri, yang sering memerankan adegan berbahaya tanpa bantuan pemeran pengganti saat masih muda. Tentu sudah tidak mungkin di usianya yang sudah senja.

Dilansir dari IMDB, bulan Mei 2025 lalu, Jackie masih bermain di film sekuel Karate Kids, dengan sub judul Legends. Dalam film tersebut, Jackie cocok terlihat sebagai master sepuh yang sudah terlihat tua namun masih cekatan.

Nah, di Agustus tahun ini, film Shadow's Edge dari China, 'memaksa' Jackie untuk kembali berperan aksi. Di film yang sudah tayang di sinema indonesia ini, Jackie berperan sebagai pensiunan polisi, yang telah lama tidak bertugas memburu kriminal.

Walau berbeda waralaba, Jackie tampaknya akan melanjutkan sedikit cerita dari film sebelumnya. Sejak tahun 80an lalu, Jackie adalah tokoh utama waralaba film Police Story (1985, 1988, 1992, 1996, 2004, 2013), dengan perannya sebagai polisi bernama Chan Kwok Wing.

Seri filmnya sejak tahun 80an hingga 2010an, film Police Story telah melalui jaman Hongkong sebagai persemakmuran Inggris, sebelum akhirnya kembali bersatu sebagai bagian dari China. 

Serinya yang mencapai enam film, Jackie Chan cocok disebut sebagai aktor beladiri dari Asia paling terkenal di seluruh dunia. Bahkan, kemampuan akting Jackie dites di seri ini, karena dia harus berakting serius, tidak seperti film lainnya yang lebih kocak. 

Khusus untuk film polisi kocaknya, yang paling diingat adalah perannya di ranah Hollywood, melalui seri Rush Hour (1998, 2001, 2007). Di film ini, Jackie berperan sebagai polisi Hong Kong bernama Lee, yang terpaksa mengejar targetnya ke Los Angeles, AS.

Saking kocak dan lincah, tidak ada yang menyangka bahwa Jackie yang belum bisa berbahasa Inggris baik saat itu, sanggup menyatukan dua budaya berbeda dalam satu film. Tentu, aktor kulit hitam Chris Tucker yang kocak, membantu Jackie selama akting di ranah yang bukan kediamannya tersebut.

Sinopsis Film Shadow's Edge

Jackie Chan di film Shadow's Edge berperan sebagai pensiunan polisi bernama Wong Tak-chung. Kali ini, dia harus kembali bertugas, akibat serangan sebuah grup kriminal bernama Wolf Pack, yang gemar kucing-kucingan dengan polisi.

Wolf Pack adalah grup pencuri profesional, yang seringkali kabur dari kejaran polisi dan lihai dalam menyamarkan identitas masing-masing anggotanya. Tidak hanya jago menyamar, mereka juga termasuk ahli bela diri dan persenjataan, sehingga tambah menyulitkan polisi untuk menangkap mereka.

Wong Tak-chung pun harus bekerja sama dengan kepolisian saat ini, yang memiliki alat pemantauan lapangan lebih canggih. Namun, kepolisian perlu mengandalkan insting serta kemampuan sang polisi legendaris ini. 

Bagaimanakah aksi Jackie Chan saat ini? Apakah cukup sebagai pemberi saran dan konsulat saja? Atau perlu gelut langsung, walau sudah sepuh?

Jawabannya, tentu berada di pemantauan keamanan lapangan ala sinema Indonesia.

15 Agustus 2025

Film Terbaru Seri Anime Terkenal, Demon Slayer: Infinity Castle

Zenitsu yang akhirnya bisa serius (TMDB).

Kimetsu no Yaiba, alias Demon Slayer, tampaknya melanjutkan ritual film awal musim, di bulan Agustus tahun 2025 ini. Judulnya adalah Kimetsu no Yaiba: Infinity Castle, yang kini sedang tayang di banyak Otaku sinema Indonesia sejak 15 Agustus.

Anime terkenal dari Jepang ini memang selalu merilis film untuk setiap musimnya, yang hingga kini mencapai tujuh film. Tidak hanya ringkasan, kadang puncak cerita setiap musimnya dirilis dalam bentuk film terlebih dahulu, sebelum dilanjutkan menjadi satu musim anime.

Memang, Kimetsu no Yaiba telah mencapai kepopuleran yang besar di seluruh dunia. Mungkin, banyak otaku dan wibu yang kangen, akan cerita berlatar budaya asli Jepang. Setelah beberapa lama, waralaba anime yang terkenal, sering tidak menceritakan kisah dari latar budaya tradisi Jepang. Bahkan, banyak diantaranya justru mengambil referensi seni populer dari seluruh dunia, yang sangat berbeda dengan budaya asli Jepang.

Padahal, Kimetsu no Yaiba tidak mengisahkan kisah yang terlalu bersejarah. Anime ini justru berlatar saat era Taisho (1912-1926), yang jelas telah masuk abad 20, dan bisa disebut sebagai awal jaman modern.

Koyoharu Gotoge sebagai mangaka-nya, mungkin mengangkat isu perubahan sosial dan masyarakat Jepang, setelah banyak terpapar dunia barat dengan orang asingnya (Gaijin). Jepang saat itu sudah membuka perbatasan untuk negara luar, mulai tahun 1853 lalu, setelah ditutup tahun 1639, saat jaman Shogun Tokugawa.

Manganya pun sangat sukses, dengan hasil penjualan seluruh dunia mencapai 220 juta kopi! Padahal, bagi yang sudah membacanya, justru gaya menggambar Gotoge tidak rapih sama sekali. Tidak terlihat teknik polesan ala digital, dengan gambaran semrawut ala sketsa tangan.

Mungkin sekali lagi, memang dasarnya manga dan anime adalah produk dari Jepang, sehingga kisah berlatar asli Jepang dengan baju yukata dan katana-nya, sangatlah dirindukan penggemarnya. Kisah kesuksean ini mirip dengan populernya manga dan anime Samurai X, yang sempat merajai anime tahun 90an lalu. Masih populer hingga kini, manganya terjual 72 Juta di seluruh dunia.

Terlebih lagi, kisah Kimetsu no Yaiba yang agak abstrak, mungkin menjadi animo tersendiri penggemarnya. Walau berlatar era awal modern, banyak visualnya tidak bisa dinalar harfiah, namun secara simbolis. Padahal, anime ini termasuk ranah shonen, yang menyajikan banyak gelut fantastis.

Sinopsis Kimetsu No Yaiba: Infinity Castle

Setelah film sebelumnya berjudul Kimetsu No Yaiba: Hashira Training, kini kisah Tanjiro bersama pasukan pembasmi iblisnya mulai mencapai titik ujung perjuangan mereka.Tanjiro, Zenitsu, Inosuke dan Nezuko akan memasuki sebuah Kastil Mistis hasil karya Muzan, sang Raja Iblis. 

Banyak iblis Bulan Atas (Kizuki) yang bersemayam di dalam Kastil tersebut, yang tentu harus dibasmi oleh Skuad Kamaboko (grup Tanjiro), bersama beberapa Hashira. Kastil mistis tanpa batas milik Muzan ini adalah perhitungan terakhir, apakah para anggota Kisatsutai (Pembasmi Iblis) sanggup menghalau lebih jauh lagi Muzan. 

Walau belum tentu di dalam kastil terdapat sang raja iblis berusia seribu tahun tahun tersebut, tetapi momen ini adalah langkah utama untuk membasmi iblis Bulan Atas, sekaligus membasmi semua rantai kejahatan Muzan.

06 Agustus 2025

Film Horor dari Studio The Conjuring, Weapons

 

Apakah itu tuyul ala Hollywood? (IMDB).

Tampaknya studio New Line Cinema yang sempat meramaikan kembali film horor dari Hollywood di tahun 2010an, masih penasaran dengan genre ini. Pertengahan tahun 2025 ini, dirilislah film berjudul Weapons, yang mengisahkan kembali khas cerita horor di sekitar area perumahan warga. Para penggemar film horor pun menyukai cuplikannya, karena tidak mensinyalir isi ceritanya.

Kisah horor yang berlatar belakang area hunian, menjadi khas yang nyambung dengan selera banyak penonton seluruh dunia. Tiga film telah ditelurkan oleh NLC dengan latar seperti ini, yaitu The Conjuring (2013), The Conjuring 2 (2016), The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Bahkan, seri keempatnya yang berjudul The Conjuring: Last Rites, akan dirilis bulan September 2025 mendatang.

Selain khas cerita daerah urban, seri The Conjuring selalu diisi setiap filmnya oleh sepasang suami-istri paranormal terkenal, yaitu Ed dan Lorraine Warren. Karakter Warren terinspirasi oleh paranormal asli dari AS, yang sering menginvestigasi serangan supernatural kepada warga.

Sejarah studio dengan seri horornya memang cukup terkenal, dan khusus di film Weapons yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, diisi pula dengan dua pemain yang cukup terkenal saat ini. 

Josh Brolin adalah seorang aktor yang pamornya naik kembali, setelah membintangi beberapa film pahlawan super, yaitu Avengers: Infinity War (2018) dan Endgame (2019) sebagai Thanos. Brolin mengisi pula film Deadpool 2 (2018) sebagai Cable.

Satu lagi adalah aktris yang berperan di film terakhir Marvel yaitu Julia Garner, yang berperan sebagai Silver Surfer di film Fantastic Four: The First Steps, di bulan Agustus 2025 ini.

Keduanya tentu mengisi atmosfir film horor ini dengan akting berbeda, karena keduanya cukup terkenal di ranah film drama, sebelum akhirnya terjun ke dunia film pahlawan super.

Sinopsis Film Weapons

Sebuah rapat sekolah yang dipimpin oleh Justine Gandy (Julia Garner) menjadi heboh. Rapat itu memang membahas anak yang hilang dari kediamannya. Saking marahnya, Archer Graff (Josh Brolin) sebagai salah satu orangtua, sampai berteriak bahwa 17 anak hilang seketika begitu saja, dan hanya menyisakan Julia Garner sebagai wali kelasnya. 

Karena kepanikan yang terjadi, banyak orangtua telah memasang poster orang hilang, demi menemukan anak mereka. Justine Gandy dan Archer Graff pun menyelidiki sendiri keberadaan mereka, dengan mengecek area kediaman dan rekaman CCTV di wilayahnya. 

Namun, kisah anak hilang pun hanya awal dari kisah mengerikan selanjutnya. Banyak warga dewasa pun bertingkah aneh, dan bahkan menyebabkan kecelakaan fatal bagi diri mereka sendiri. Keadaan semakin mengerikan, karena seluruh kota tampaknya telah terasuki oleh sesuatu, yang sama sekali tidak dapat dinalar akal sehat.

Dapatkah seluruh kota selamat dari ancaman yang terlihat supernatural tersebut? Atau malah habis rata oleh kekuatan lain dari dunia ini? 

Jawabannya, tentu ada di hilangnya akal sehat ala sinema Indonesia.

Film dari Negara Ter-Horror Thailand, Tomb Watcher

 

Entah peti mayat sejenis apa ini (IMDB).

Thailand masih akan meneruskan ritual film horornya, dengan merilis film Tomb Watcher di sinema-sinema Indonesia, bulan Agustus ini. Dengan atmosfir latar yang meyakinkan ngerinya, dan ritual aneh yang biasa didengar dari banyak negara Asia, khususnya kita di Tenggara, menjadikan film horor Thailand cocok dengan primbon ala kita.

Beberapa film horor legendaris dari Thailand sempat mengisi ngerinya hidup di Asia Tenggara. Contohnya adalah Laddaland (2011), yang mengisahkan sebuah kompleks perumahan, yang ternyata adalah gerbang menuju alam lain.

Film lainnya adalah 4bia (2008), yang menggunakan format antologi empat film horor, dari beberapa sutradara dan penulis naskah berbeda. Walau kisahnya berbeda, seluruh film berproduksi tinggi, dan cukup membuat ngeri dari setiap latar ceritanya.

Terakhir yang perlu diingat adalah Shutter (2004), yang dari sinematografinya, terinspirasi oleh horor Jepang jaman itu. Shutter mengisahkan seorang fotografer, yang heran bahwa hasil potret kameranya semakin lama semakin kabur. Ternyata, kehadiran sosok lain menginginkan 'perhatian khusus.'

Begitu banyak film horor legendaris dari Thailand, semakin mengukuhkan bahwa horor dari Thailand sangatlah mengerikan. Banyak penggemar film dari seluruh dunia, menganggap bahwa Thailand adalah jurignya film horor Asia.

Nah, kembali ke film Tomb Watcher, bagi yang sudah melihat cuplikannya, mungkin akan teringat akan ritual 'khas' ini. Biasanya, ritual 'menjaga mayat' di Indonesia, diartikan untuk mencegah datangnya para penganut 'ilmu hitam', yang ingin melatih kemampuannya.

Tentu beberapa ritual supernatural lain dari primbon milik kita, sebuah kisah mistis 'pohon keramat' yang memiliki 'pantangan' tertentu, harus ditaati bagi yang masih mempercayainya. 

Perkembangan jaman dan semakin religiusnya warga, tentu mengesampingkan banyak kisah primbon tersebut. Tetapi, banyak 'teknik pertahanannya' yang tidak mengacu pada primbon tertentu, tetap dilaksanakan, demi menghalau anehnya tindakan para 'penganut setan.'

Sinopsis Tomb Watcher

Kisah Tomb Watcher berawal dari sepasang suami-istri yang ingin keluar dari hiruk-pikuknya kota yang ramai. Mereka berdua memilih tinggal di sudut desa terpencil, yang jauh dari keramaian manapun. 

Sang suami ternyata telah menikah untuk kedua kalinya, dan kembali ke rumah tersebut untuk kedua kalinya pula. Istri pertama bernama Lunthom (Woranuch Bhirom Bhakdi) yang telah meninggal, sangat menyukai pohon Lunthom yang berada di depan rumahnya, dan menganggapnya sebagai lambang cinta mereka.

Istri kedua bernama Rossukhon (Arachaporn Pokinpakorn) tidak menyukai pohon tersebut, dan ingin menebangnya. Sang suami, Cheev (Thanavate Siriwattanagul), melarangnya, karena pohon tersebut adalah peninggalan istri pertamanya.

Kisah pun semakin mengerikan, karena Lunthom memberi wasiat bagi Cheev, untuk menyimpan jenazahnya selama seratus hari di rumah tersebut. Rossukhon yang belum tahu, sering didatangi oleh kemunculan arwah Lunthom.

Karena sudah tidak kuat diganggu, dan ingin menghilangkan kesan Lunthom dari diri Cheev, Rossukhon pun melaksanakan ritual untuk membakar pohon Lunthom tersebut. Ternyata, ritual tersebut bukannya mendamaikan mendiang Lunthom, tetapi malah membuatnya semakin marah. 

Lunthom pun semakin sering mengejar Rossukhon, yang didiamkan oleh suaminya. Cheev yang masih galau dua dunia dan dua istri, memilih untuk membiarkan arwah Lunthom mengejar Rossukhon.

Dapatkah Rossukhon selamat dari kejaran arwah istri pertama suaminya? Jawabannya tentu berasal dari ritual romansa supernatural ala sinema Indonesia.