3 Desember 2025

Adaptasi Gim Horor di Sekuel Film Five Nights at Freddy's 2

 

Si Bebek yang akhirnya debut juga di FNAF (IMDB).

Okeh, dari ranah aksi, sekarang kembali ke film horor ala Hollywood yang lebih mengisahkan adaptasi dari sebuah game terkenal di masa lalu yang indah terkemuka , berjudul Five Nights at Freddy's, yang kini muncul sekuelnya dengan tambahan 2, dan sedang tayang di banyak sinema Indonesia. 

Video Gim Five Nights at Freddy's memang sebenarnya cocok ditujukan bagi sedikit kalangan, alias T (Teenager), alias Remaja (R13+) jika dibahasa Indonesia-kan. Banyak isinya lebih mengemukakan banyak jumpscare (alias kaget yang muncul akibat adegan mengejutkan di depan layar).

Namun, gim yang rilis pada tahun 2014 ini dan dibuat oleh seorang developer solo karir, bernama Scott Cawthon, justru meramaikan kembali subgenre naratif dan teka-teki bertipe Point and Click. Gim berjenis ini lebih mengedepankan cerita langsung, dimana karakternya hanya bergerak jika diklik layarnya, serta tanpa aksi yang begitu kentara.

Ranah sub-genre ini sebenarnya telah ramai sejak kemunculan gim di PC (alias komputer pribadi), namun hilang pamornya semenjak PC dan Konsol memiliki kontrol yang lebih baik. Tetapi, ranah ini tetap diramaikan dengan game buatan dari engine Flash, saat jaman mulai ramainya internet lambat di awal tahun 2000an lalu. Sementara di dunia belahan lain, Point and Click digantikan oleh sejenis Visual Novel, yang ramai di Jepang, sejak perkembangan awal gim hingga sekarang.

Di AS sendiri, ramainya Sub-Genre Point and Click sempat diramaikan kembali oleh serial gim The Walking Dead, yang diproduksi oleh TellTale Games, dengan bonus mekanik yang lebih interaktif. Namun, studio ini tidak bertahan lama, karena biaya produksi yang tinggi akibat grafik, animasi dan pengisi suaranya. Untungnya, sub-genre ini mulai ramai kembali, dengan banyak mengesampingkan perkembangan grafik dan pengisi suara, yang cukup mahal bagi para pengembang video gim.

Five Nights at Freddy's alias FNAF layaknya melanjutkan kembali kengerian game santai ala terdahulu, yang memang sempat ramai di awal 2000an dengan viralnya gim berjudul Slenderman, yang lalu dilanjutkan animonya di dunia industri video gim. Gim FNAF (Five Nights at Freddy's) pun telah mencapai empat sekuel dari game pertamanya, yang dirilis mulai tahun 2014, 2015, dan 2016 dengan sub-judul Sister's Location.

Okeh, kembali ke filmnya yang dahulu kala dirilis pada tahun 2023 lalu, berjudul yang sama pula, yaitu FNAF (saja ya). Film pertamanya lebih mengadaptasi latar belakang gimnya, yaitu kisah seorang satpam penjaga malam hari, di sebuah wahana animatronik (pada siang harinya). Namun, di malam hari, seluruh animatronik (sejenis robot) malah meneror dirinya. 

Berbeda dengan kengerian di gim-nya, filmnya lebih jelas pergerakan karakernya, karena tidak terlalu terkunci di satu ruangan serta beberapa ruangan lainnya saja. Tokoh utamanya harus berjibaku di seluruh gedung, sementara animatronik berbentuk beruang, bebek, kelinci dan banyak lucu-lucuan imut ngeri lainnya berkelakar dengan semaunya. 

Produsernya pun berasal dari sineas yang hobi robot lainnya, yaitu waralaba film M3GAN dengan kerjasama studio produksi film paling sibuk di ranah horor Hollywood, yaitu Blumhouse. Sayangnya, para sineas ini kembali di sekuelnya pada tahun 2025 ini dengan judul tambahan dua saja. Tentu bersama tokoh utamanya yang masih belum jera pula, yaitu Mike (Josh Hutcherson) dan Abby (Piper Rubio) sang gadis kecil.

Dan kali ini, animatronik yang terkenal suka menculik anak layaknya badut (jelek) di film IT (2017;2019), mulai mengambil langkah luar biasa untuk melanglang-buana, yaitu membuat inovasi alias terobosan dengan keluar gedung asalnya, demi mendapatkan hati Abby seorang. 

Okeh, saatnya kembali menonton animatronik ngeri di sinema penuh teknologi aktif (ala hiburan badut) di Indonesia. Oh ya, sebelumnya di tahun inipun, ada sejenis film adapatasi yang agak mirip, yaitu Until Dawn di bulan April lalu (walau mekanik gim-nya jauh lebih interaktif dari FNAF).

Aksi di Perbatasan Soviet ala Sekuel Film Sisu: Road to Revenge

 

Aatomi Korpi yang heran mengapa truk tidak sekuat dirinya (IMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah film aksi tanpa berpikir panjang dan membabi-buta, ala film berjudul Sisu: Road to Revenge, yang tentu sedang tayang di sinema terkayang Indonesia ini. 

Film ini adalah sekuel dari film sebelumnya berjudul Sisu di tahun 2023 lalu, yang dibuat oleh studio ternama, Stage 6 Film, dan didistribusikan oleh Lionsgate dari Hollywood. Karena itu, film pertamanya mendapatkan sanjungan sebagai aksi fantastis ala aksi brutal yang tanpa henti dan selalu high fever, layaknya ngimpi.

Namun, berbeda di sekuelnya kali ini, justru bekerja sama dengan Sony Pictures Entertainment sebagai distributornya, namun tetap mengisahkan karakter yang serupa tapi dari studio yang sama dan memang memiliki hak ciptanya.

Dalam film pertamanya, terlihat pada cuplikannya, tokoh utamanya bernama Aatomi Korpi (Jormi Tommila), yang baru saja menemukan sebuah setumpuk emas di lokasi berburu tambangnya. 

Namun, saat mengadakan perjalanan pulang, Aatomi malah dicegat oleh satu skuad pasukan Nazi, yang tengah membawa banyak tawanan perang. Tidak rela akan dieksekusi begitu saja, Aatomi melawan dan berhasil membasmi seluruh skuad, dan menyelamatkan tawanan yang ada. 

Aatomi Korpi sebenarnya bukan seorang warga biasa, namun mantan komandan dan veteran perang saat Perang Dunia 2 terdahulu. Setelah pensiun, dirinya menemukan bahwa kota kediaman serta seluruh keluarganya telah habis dibasmi akibat Nazi dan kegilaan perang disekitarnya. 

Aatomi yang ingin hidup menyendiri dan damai pun terpaksa beraksi kembali, akibat gangguan pasukan Nazi yang masih merajarela di sekitar kediamannya di Finlandia. 

Bahkan, Aatomi mempersenjatai seluruh tawanan Nazi (yang kebetulan sekawanan harem wanita) dengan senapan serbu otomatis, demi melindungi mereka sendiri. Satu wanita bahkan berkelakar, bahwa masa ini 'bukanlah siapa yang terkuat, tetapi tentang siapa yang tidak mengalah begitu saja,' alias SISU dari bahasa Finlandia.

Daaan, begitulah sinopsis film Sisu pertama, yang tentu masih bisa dicek di berbagai layanan siaran internet. Bagaimana dengan film keduanya yang membawa distributor berbeda? 

Nah, kalau di film keduanya ini, masih bersama anjing kesayangannya berwarna putih (yang sehat wal'afiat sejak film pertama), Aatomi tengah mengadakan jalan-jalan daratan (roadtrip) mengendarai truk barunya (yang entah dirampas darimana dan siapa) di perbatasan Uni Soviet.

Kali ini, targetnya adalah seorang petinggi KGB dari Uni Soviet, bernama Yeagor Dragunov (Stephen Lang). Setelah kekisruhan di film pertama, Aatomi tampaknya berhasil melacak operasi militer mana yang membasmi seluruh keluarga dan kediamannya. Dan, Yeagor Dragunov adalah seorang komandan yang sempat memimpinnya. Dan kali ini lagi, tujuannya bukan 'membersihkan sisa perang dan Nazi,' tetapi membalas dendam sepenuh amarah hati milik semuanya. 

Yeagor Dragunov tentu bukanlah orang biasa di KGB, dan tidak rela begitu saja ingin mengalah dari seorang pensiunan penuh murka dari Finlandia ini. Dengan peringatan dan bantuan dari sekawanannya di KGB, Yeagor menyiapkan banyak operasi serta perangkap untuk dapat 'menanggulangi' dendam kesumat masa lalu milik Aatomi. 

Sayangnya, kali ini seluruh perspektif (alias sudut pandang) film diarahkan melalui posisi karakter Yeagor Dragunov. Seluruh aksi tembak menembak, bantai membantai, dan buyar meledak kini terlihat dari pandangan mata sang Yeagor. Kemunculan Aatomi Korpi pun layaknya seorang monster buas beringas, yang muncul tanpa peringatan dengan berbagai keahlian liarnya di jalanan perang.

Padahal, Yeagor Dragunov adalah seorang yang diminta KGB untuk membasmi seluruh kegilaan Aatomi Korpi. Namun, dirinya yang sudah jelas lebih banyak durasi adegannya, harus berjibaku dengan posisi karakternya yang jelas-jelas sudah lumrah dianggap antagonis.

Okeh, silahkan nikmati saja hingar-bingar ala aksi dari Eropa sana yang belum move-on dari Perang Dunia terdahulu di film Sisu: Road to Revenge. 

27 November 2025

Ngerinya Dikejar Masa Lalu ala film Legenda Kelam Malin Kundang

 

Amak dan Alif yang terpisah oleh cahaya di area kelam (TMDB).

Dan akhirnya, kembali ke kegalauan ala Indonesia banget, dengan dirilisnya film berjudul mirip dengan cerita dongeng Nusantara, berjudul Legenda Kelam Malin Kundang

Film yang sedang tayang di sinema-sinema ini memang mengadaptasi dari sebuah dongeng rakyat terkenal di Indonesia, yang mengisahkan sebuah cerita 'anak durhaka.' Namun, jika ditelaah dari segi adaptasinya berlatar jaman modern, dengan pembawaan dunia yang telah berbeda, tentu perlu diperkenalkan kembali.

Cerita rakyat ini aslinya berasal dari ranah Minang, alias Sumatera Barat sana, mengisahkan tentang seorang anak durhaka, bernama Malin Kundang. Sang anak terpaksa merantau, namun justru setelah sukses, melupakan ibunya sendiri, dan tidak pernah pulang mudik untuk silaturahmi.

Ada satu kekhasan dari Minang itu sendiri, dimana saudaranya memang harus diingatkan, agar ingat kepada keluarga di rumah. Entah apa bahasa Minang-nya, tapi yang pasti, jika ada keluarga yang tengah merantau, akan dipantau langsung oleh keluarga lain yang telah merantau sebelumnya. 

Namun yang memantau telah hidup jemawa dan menetap permanen di wilayah barunya. Mungkin, memang mengingatkan cerita rakyat ini, atau sudah bawaan dari budaya Minang-nya itu sendiri. Alias, istilah kekeluargaan Indonesia, 'jangan bagai kacang lupa akan kulitnya.' 

Bahkan, budaya Jawa yang suka merantau saja tidak sespesifik itu. Biasanya, warga Jawa jika merantau memang memilih untuk menetap permanen. Alias 'dimana bumi dipijak, disana langit diunjung.'

Naaaaah, tetapi bagaimana dengan pembawaan jaman modern sekarang? Itulah yang menjadi 'heran tersendiri' dengan film Malin Kundang ini (P)

Mengingat bahwa banyak situs lowongan kerja, lokasi kantor, serta personalianya, yang justru 'mengedepankan' rantau mania (!) Entah skema dari mana, tetapi mungkin mengacu pada pemerataan Sumber Daya Manusia yang menyeluruh di Nusantara.

Padahal dari segi bahasa, budaya, koneksi kerja, spesifikasi pekerjaan, lokasi sekolah dan kampus, lokasi tempat tinggal, SDM Lokal, dan bahkan keuangan (!) sama sekali tidak masuk dinalar (!) 

Penulis malah teringat, jaman lowongan pekerjaan saat ini, layaknya kembali ke jaman eksplorasi Eropa, alias berujung kolonialisme beberapa abad yang lalu (!) Mungkin, itulah maksud bahwa Indonesia masih dalam istilah 'Mental Terjajah.'

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke film Malin Kundang saja ya, yang memang terpaksa merantau akibat perlu mencari uang. Walau ya, berbeda sih di film ini, Malin (?) justru harus merantau akibat keadaan di rumah yang sulit, dari segi keharmonisan dan keuangan pula (!)

Sinopsis Film Legenda Kelam Malin Kundang

Alif (Rio Dewanto) adalah seorang anak remaja, yang terpaksa melarikan jauh dari rumahnya di tanah Minang. Ayah dan Ibunya sering cekcok, bahkan berakhir KDRT, yang menyebabkan tangan ibunya berdarah akibat sabetan pisau.

Alif yang sudah tidak tahan, akhirnya melarikan sendiri ke kota besar alias Jakarta. Tidak berapa lama, Alif yang hidup bagaikan Anjal (anak jalanan) pun mendapatkan belas kasihan dari Nadine (Faradina Mufti) dan ayahnya. 

Selain diberi makan, Alif diminta untuk membantu ayah Nadine di galerinya. Alif yang ternyata berbakat, akhirnya berhasil diajari oleh ayah Nadine. Alif pun sukses sebagai pelukis mikro terkenal di Jakarta.

Alif masih terpukau dengan kebaikan mereka, lalu membina hubungan spesial dengan Nadine saat beranjak dewasa, yang berujung keduanya menikah dan memiliki anak. 

Tiba-tiba, ibunya Alif yang sudah tidak lama bertemu, Amak (Vonny Aggraini) memutuskan datang berkunjung. Dengan cepat setelah tiba, ibunya pun berkelakar, bahwa dirinya takut Alif terkena kutukan Malin Kundang, sang anak durhaka dari cerita rakyat Minang. 

Namun, secepat itu pula Amak segera meninggalkan rumah kediaman Alif dan keluarganya. Alif panik, dan merasa jengah dengan keadaan rumah yang tiba-tiba horor. Bahkan, Alif perlu kembali ke rumah lamanya, demi menemukan arti dan maksud dari semua ini.

Apakah memang keadaan aneh itu ada di dalam diri Alif dan keluarganya? Atau hanya halusinasi semata akibat terkejut dengan rasa dikejar masa lalu?

Jawabannya tentu bisa diresapi di Paririmbon ala sinema Indonesia.

Galaunya Bekerja Sebagai Guru di Kota Besar ala Film Belum Ada Judul

 

Umar Bakri yang heran mengapa perlu viral kontroversial (TMDB).

Naaah, saatnya film yang berkisah tentang guru kembali, di film berjudul Belum Ada Judul, yang kini tengah tayang di sinema Indonesia.

Sebelum menanggapi filmnya, dimana tokoh utamanya bermasalah akibat viral setelah menampar siswanya di sekolah, mari kita cek kasus sebelumnya (yang entah mengapa baru-baru ini terjadi). 

Sebelumnya pada Oktober lalu, ratusan siswa mogok belajar di salah satu SMAN, tepatnya di Provinsi Banten. Masalahnya pun nihil, akibat kepala sekolahnya menampar seorang siswa yang merokok di wilayah sekolah, lalu didispensasi untuk tidak bisa bersekolah (sementara).

Lucunya, banyak siswa di sekolah tersebut malah unjuk rasa, lalu mogok sekolah, demi mendukung siswa yang jelas-jelas bersalah. Tampaknya jaman 'bendera bajak laut' kini telah merubah banyak pandangan 'generasi doomscrolling' saat ini.

Terasa bodoh memang, dan tampaknya cocok bagi yang terbawa konten dan tiba-tiba ingin membakar gedung DPR. Ada pula kasus bakar-membakar lainnya, tapi tidak layak dibahas akibat langsung mengacu pada terorisme.

Walau pihak sekolah memang tidak layak melaksanakan kekerasan sebagai hukuman pada siswanya, tetapi efeknya justru harus ditelaah kembali. Mengapa perlu melawan dengan mendukung yang bersalah? Apakah memang hidup hanya untuk 'troll' saja?

Sempat terjadi di pengalaman pribadi terdahulu, seorang 'reman sekolah,' yang datang telat sambil mabuk ke sekolah. Dia pun langsung didispensasi, tidak boleh masuk sekolah selama satu minggu. Kisah tersebut hanya menjadi bahan obrolan, sementara siswa yang sering menongkrong kembali santai, sambil merokok di warung sekitar sekolah (P)

Bukannya menghalalkan kenakalan remaja, namun apa memang perlu terbawa-bawa oleh urusan yang jelas beresiko lebih? Aneh memang, dan tetap saja berharap bahwa kasus tersebut hanyalah sebuah anomali saja.

Okeh, sudah terlalu aneh, coba dicek saja sinopsis film Belum Ada Judul ini, yang memberi nama karakter utamanya Umar Bakri. Film ini mengundang pula sang legenda nasional, Iwan Fals, yang pernah mengumandangkan lagu dengan nama yang sama. Mantan Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar pun berkecimpung dalam film ini.

Sinopsis Film Belum Ada Judul

Umar Bakri (Bucek Depp) adalah seorang guru yang berbakti dan antusias dalam mengajar. Di saat banyak guru yang sulit meraih hati muridnya, justru Umar Bakri adalah seorang guru idaman siswa di sekolahnya.

Namun, masalah pun tiba-tiba menerpa dirinya. Saat tengah memarahi Marlon (Zeyn Arsa Datau), dan saking marahnya hingga menampar, ternyata dirinya terekam oleh muridnya yang lain, yaitu Maria (Aisha Nurra Datau).

Maria memang seorang siswa yang hobi siaran langsung di sekolahnya, sehingga 'adegan kekerasan' guru serta siswanya langsung viral, tanpa dapat dihapus terlebih dahulu.

Saking viralnya, kisah kekerasan Umar Bakri dijerat dalam sebuah sidang hukum oleh pengadilan setempat. Umar pun merasa sakit, hati, pikiran, serta fisik, karena satu kesalahan membuat dia beresiko kehilangan pekerjaan impiannya. Bahkan Maria yang tanpa sengaja memviralkan video tersebut, menyesal, karena Umar adalah satu guru idolanya di sekolah tersebut.

Umar pun berjibaku, bahkan memohon kepada kepala sekolahnya, Dewantoro (Surya Saputra), untuk meminta maaf terlebih dahulu kepada siswanya, sebelum berhenti menjadi guru. Sayangnya, Umar Bakri masih memiliki tanggungan sebagai seorang duda, yaitu anaknya Magda (Arla Ailani), yang telah berumur 17 tahun dengan penyakit Polio-nya.

Sanggupkah Umar Bakri melewati semua cobaan ini? Ataukah ada mukjizat yang membantu posisi dirinya?

Jawabannya tentu ada di sinema-sinema Indonesia.

Sedihnya jadi Operator Sabit Merah Palestina di Film Voice of Hind Rajab

 

Almarhumah Hind Rajab Hamada (TMDB).

Okeh, sekarang saatnya sebuah film yang berdasarkan kisah nyata di Palestina, berjudul Voice of Hind Rajab, yang kini sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Daripada membahas kerusakan dan mirisnya Palestina, yang kini sudah terlihat pincang dan hancur lebur, mari kita lihat saja dari segi agama sebesar Yahudi. 

Tentu, penulis ingin menghindari seluruh kisruhnya perang, yang hanya mementingkan sensasi gelut perang modern, tanpa unsur manusiawi dan solusi, layaknya politisasi.

Warga Israel dan ZIONIS

Tentu seluruh dunia tahu, tentang kisrush di perbatasan Palestina, yang wilayahnya banyak bermasalah akibat Israel. Tentu banyak yang tahu juga, bahwa Israel sebenarnya hanya sebuah 'proyek' pecicilan dari negara-negara besar dunia, akibat masalah mereka sendiri dengan Yahudi.

Belum dapat dikonfirmasi langsung, tetapi tampaknya banyak warga Yahudi di seluruh dunia langsung diakui sebagai warga Israel, sebuah negara yang mungkin 'jadi atau tidak.'

Banyak warga Yahudi seluruh dunia, yang mau dan tak mau untuk menjadi warga Israel. Banyak yang memanfaatkannya hanya sebagai jalur karir, sementara menunggu 'amannya' negara di penghujung laut Mediterania ini.

Sementara banyak warga lainnya yang terpaksa memiliki dua kewarganegaraan, yaitu negara asalnya dan Israel. Jika sering membaca berita dari Eropa, pasti sering mendengar korban kecelakaan dari Israel, atau warga Israel yang rusuh saat kompetisi olahraga (khususnya sepakbola).

Entah memang masalah mereka yang begitu fanatik dengan Israel, atau memang cara 'troll' terakhir mereka. Memang, dari segi kewarganegaraan, mereka 'aslinya' adalah warga Israel, padahal telah tinggal di banyak negara Eropa selama beberapa generasi lamanya. Media pun 'mendukung' dengan memasukkan nama mereka sebagai 'warga Israel,' saat kisah mereka masuk berita.

Dan ini bukanlah urusan logika semata, tetapi urusan administrasi, hukum, dan kewarganegaraan, yang tentunya berefek pula pada segi urusan sipil setiap warganya. Dan dari segi tersebut, Israel selalu menang dan didukung oleh banyak pemerintah negara Eropa, dengan mengesahkannya. 

Jadi, mungkin kisah kekisruhan 'warga Israel' di Eropa, adalah bentuk 'ekspresi depresi terakhir' warga yang terpaksa diaku sebagai bagian dari ZIONIS. Mungkin patut dipertanyakan, bagaimana rasanya lahir, tumbuh, sekolah, hingga bekerja dan berkeluarga di Italia (contohnya), tetapi memiliki KTP bertuliskan 'warga Israel.' 

Okeh, saya tidak mendukung sama sekali Israel dan pergerakan ZIONIS-nya, tetapi dari segi ranah sipil, tentu suatu bentuk 'kegalauan administratif.' Dan tentu, urusan sipil adalah 'sisa' dari suatu perang, yang jika dilihat dari sejarahnya, telah menjadi urusan masalah setelah 'drama perang' sejak ribuan tahun lalu (!)

Terlebih lagi, coba diingat, bagaimana warga Indonesia yang dulunya sempat mendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). Saat perubahan kepemimpinan Soekarno menjadi Soeharto, dengan kisruhnya G30SPKI, setelahnya adalah 'kisah miris administratif lainnya.' Banyak anak-anak keturunan pendukung PKI, tidak memiliki KTP, alias tidak dianggap sebagai warga negara Indonesia (!) Entah sekarang bagaimana, karena tidak terdengar kabarnya sama sekali.

Organisasi Kemanusiaan di Palestina

Sayangnya, kisruh antara 'warga Israel' dan negaranya, perlu mengorbankan banyak jiwa di 'tanah yang dijanjikan,' yaitu wilayah Palestina. 

Setelah banyak konflik dengan berbagai negara Timur Tengah, diantaranya adalah Mesir, Suriah, Irak, dan Yordania, Israel akhirnya semakin menjurus pada 'wilayahnya sendiri,' yaitu Palestina.

Palestina pun kini terbagi dua, yaitu wilayah yang cukup padat dan maju, yaitu Pesisir Barat dengan Otoritas Palestina dan dukungan Hizbullah dari Yordania, serta wilayah terpisah di pesisir Mediterania, yaitu Jalur Gaza.

Banyak organisasi kemanusiaan dari seluruh dunia, contoh terbesarnya adalah UNWRA (Badan Bantuan dan Pekerjaan untuk Pengungsi Palestina dari PBB), Red Cross (Palang Merah Internasional), dan Red Crescent (Sabit Merah dari Timur Tengah).  Seluruh organisasi kemanusiaan berpusat dan memiliki jalur suplai dari Pesisir Barat Palestina, namun lebih banyak beroperasi di Jalur Gaza yang 'keramat.' 

Dan itulah, yang menjadi fokus pada film Voice of Hind Rajab ini. Jika menonton cuplikannya, justru banyak adegan para operator organisasi kemanusiaan Sabit Merah, tanpa ada sensasi 'perang dan kekerasan.' Justru, lebih banyak dialog antar karakternya, dengan fokus paling ngeri dengan telepon permintaan tolong, dari seorang anak yang terjebak di Jalur Gaza.

Oh ya, film ini dipuji karena memadukan Dramatisasi dan Realitas kenyataan di Pesisir Barat dan Jalur Gaza Palestina, dengan fokus organisasi kemanusiaan yang terus berjibaku untuk membantu korban kekisruhan ini.

Nama Hind Rajab pun adalah seorang nama warga asli Palestina, yang suaranya terrekam saat panggilan darurat kepada Sabit Merah, dan dilampirkan langsung dalam film ini. Alias, suara asli Hind Rajab dapat terdengar, dan film ini diadaptasi dari kisah nyata.

Sinopsis Film Voice of Hind Rajab

Organisasi Sabit Merah (Red Crescent) kini berpusat di Ramallah, Pesisir Barat Palestina. Setiap hari, mereka berjibaku dengan laporan permintaan tolong dari banyak wilayah di Palestina.

Omar A. Alqam (Motaz Malhees) adalah seorang operator, yang bekerja untuk menerima seluruh panggilan telepon, sekaligus mengkoordinasi operasi Sabit Merah dari kantornya.

Suatu hari, suatu panggilan telepon dari seorang anak, menyebabkan perubahan di ruang kantor. Anak berumur lima tahun tersebut mengenalkan diri sebagai Hind Rajab Hamada, yang rumahnya diserang oleh pasukan Israel. Bahkan, Hind Rajab menyatakan bahwa tank kini sedang liar di sekitar rumahnya.

Omar pun meminta Mahdi M. Aljamal (Amer Hlehel), untuk segera mengirimkan ambulan bantuan. Namun, Mahdi meminta kepastian, bahwa jalur menuju rumah Hind Rajab, haruslah aman untuk evakuasi.

Omar bersikukuh bahwa delapan menit cukup untuk dapat  mengevakuasi Hind Rajab. Namun, Mahdi tetap menolaknya, dengan mencontohkan belasan anggota regu penyelamat Sabit Merah, yang meninggal akibat kurangnya koordinasi di lapangan.

Bersama operator lainnya, Rana Hassan Faqih (Saja Kilani) dan Nisreen Jeries Qawas (Clara Khoury), keempat anggota Sabit Merah ini hanya dapat mengajak ngobrol dengan Hind Rajab, sambil menunggu kondisi lebih aman untuk evakuasi.

Bagi yang pernah mengecek latar film ini, tentu mengerti bagaimana kisahnya berakhir. Miris, tetapi perlu dicek sebagai pengingat rasa kemanusiaan kita saat ini dan kedepannya.

26 November 2025

Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21

Ilustrasi tradisi budaya Indonesia (Freepik).

Saat bidang keilmuan dongeng dikembangkan, inovasi terpenting adalah analisa materi yang komparatif. Dilansir dari Britannica, standar identifikasi dongeng diciptakan, yang merujuk pada balada (oleh F.J. Child), dan untuk plot serta komponen motif pada dongeng dan mitos (oleh Antti Aarne dan Stith Thomspon). 

Komponen motif layaknya Pamali di budaya Pulau Jawa, yang secara tradisional mengemukakan apa yang bisa dilaksanakan atau tidak. Kadang, Pamali mengacu pada banyak hal berbau mistis atau takhayul (yang sering muncul dalam berbagai dongeng), karena sesuai dengan pewarisan ceritanya yang empiris, dan belum didukung oleh kajian yang tepat.

Dengan standar tersebut, ahli dongeng dari Finlandia yang dipimpin oleh Kaarle Krohn, mengembangkan metode penelitian sejarah-geografis. Teknik ini mengenali banyak varian dongeng, balada, teka-teki, atau sejenis prosa yang diklasifikasikan dari tempat dan waktu koleksi, agar kajian pola distribusi dapat dilaksanakan dan membentuk pola orisinalnya. 

Standar tersebut layaknya kajian dongeng di Indonesia, yang sejak merdeka dapat  mengkategorikan asal dongeng sesuai dengan wilayahnya secara administratif, tanpa perlu bantuan ahli dongeng dari Eropa (khususnya Belanda). Biasanya, mengacu pada suku di wilayah tertentu, yang akhirnya terdaftar sebagai provinsi atau kota di Indonesia.

Metode penelitian sejarah-geografis memang mengacu pada statistik, dan tidak berdasar spekulatif, jika dibandingkan dengan ahli dongeng antropologi, yang mendominasi setengah awal abad 20 lalu.

Setelah Perang Dunia II berakhir, tren baru akhirnya muncul, khususnya di AS. Minat pada dongeng tidak hanya terbatas pada komunitas rural alias pelosok, namun dikenali di banyak kota, dengan komunitas tertentu berkarakteristik seni, budaya, dan nilai yang mengacu pada identitas mereka.

Namun, ahli Marxisme terus mengacu pada dongeng sebagai bagian dari kelas pekerja. Sementara di komunitas lainnya, batasan kelas telah hilang konsepnya, dan bahkan pada berbagai tingkatan pendidikan. 

Setiap kelompok yang mengekspresikan kepaduan dirinya dengan menjaga tradisi yang sama, diklasifikasikan sebagai bagian dari 'warga,' walau berbeda faktor pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, umur, agama, dan etnis aslinya. 

Dari segi ini, layaknya banyak fakultas bahasa yang dipadukan dengan seni pada satu struktur yang sama pada universitas di Indonesia. Komunitas tersebut berkembang sebagai pemerhati, praktisi, dan ahli kebudayaan, khususnya saat pagelaran seni dan bahasa yang mengisahkan dongeng.

Perubahan ini mengacu pada perbedaan antara masa lalu ke sekarang, dengan pencarian dan investigasi mengenai asal, maksud, dan fungsi dongeng untuk jaman sekarang. Sehingga, perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap merusak tatanan budaya.

Dengan sudut pandang kontekstual dan pertunjukan, analisis di akhir abad 20, contohnya pada cerita, lagu, drama, atau budaya, telah merubah fungsi dongeng dari sebuah rekaman budaya, menjadi bagian dari budaya itu sendiri.

Setiap fenomena yang terjadi. dianggap sebagai bagian dari momen yang muncul disebabkan interaksi antara individu dan kelompok sosial, yang memenuhi berbagai fungsi serta memuaskan kebutuhan para artis serta penontonnya.

Dengan pandangan sosiologis dan fungsional ini, sebuah acara dapat dimengerti hanya dalam konteks keseluruhan saja, diantaranya dari biografi dan kepribadian artis, perannya di komunitas, repertoar dan keseniannya, peran penontonnya, momen saat pertunjukan berlangsung, serta kontribusi acara bagi maksud dari dongengnya itu sendiri.

Dengan begitu, setiap komunitas budaya, baik itu berasal dari warga atau sanggar seni khusus, dapat menginterpretasikan khas budaya serta dongeng tradisional dalam sebuah pertunjukan. Komunitas budaya adalah representasi dari banyak nilai budaya, yang normanya layak dipertahankan sebagai identitas komunitas. 

Namun, praktisi seni dapat mengkaji, merekayasa, serta mempraktekan perubahan sosial, sesuai dengan kebutuhan pertunjukan atau keadaan sosial yang sedang berlangsung. Contohnya baru-baru ini, kisah Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, diadaptasi menjadi sebuah film dengan perubahan kondisi latar serta sosialnya. Film berjudul Legenda Kelam Malin Kundang pada bulan November lalu, disebut pula dengan istilah reinterpretasi dongeng.

Lalu muncul kajian dongeng saat pertengahan abad 20, yaitu sebuah konsep legenda urban (urban legend). Yaitu, sebuah cerita mengenai momen tidak biasa, yang banyak warga percaya atau tidak. Legenda urban menjadi media yang semakin lumrah, layaknya berkisah legenda urban melalui media, khususnya di media massa. 

Karenanya, banyak cerita legenda urban berisi hantu yang tiba-tiba muncul di latar sebuah adegan film atau foto, dan berbagai pesan kesetanan yang tersembunyi (contohnya pada banyak lagu yang jika dimainkan terbalik, maka terdengar horor). Kisah seperti ini banyak meruak pada akhir abad 20 lalu, sehingga menambah ramainya jenis dongeng di jaman modern.

Seperti contoh Malin Kundang di tahun 2025 lalu, cerita dongeng seperti Si Pitung (yang memang belum ditemukan keabsahannya), atau Si Kabayan, Sangkuriang, dan banyak kisah dongeng lainnya diadaptasi dengan format sinetron atau film. 

Khususnya pada kisah legenda urban, maka cerita seperti Si Manis Jembatan Ancol, Jembatan Emen, Suster Ngesot, Rumah Kentang, serta banyak cerita horor legenda urban lainnya, sesuai dengan kategori dongeng. Yaitu, masih terikat dengan sejarah dan geografisnya. Sementara reinterpretasinya, muncul saat film atau sinetron diproduksi lalu dirilis, dengan target penonton yang lebih banyak dan luas, layaknya media massa.

Peran Dongeng di Abad 21

Banyak yang khawatir bahwa perubahan abad, dengan tibanya internet, dapat menghancurkan peran dongeng. Namun, justru World Wide Web menjadi teater utama untuk produksi dan transmisi banyak dongeng rakyat.

Perubahan ini tiba dengan perbedaan lainnya, yaitu dari teoritis (seperti Trevor J. Blank pada buku Folklore and the Internet) dan praktisnya (seperti cepatnya adaptasi budaya rakyat untuk menyebar dan berubah di dunia daring).

Komunikasi di Internet yang konstan, dan bisa dua arah, menyebabkan perubahan yang kentara dalam mengisahkan dongeng. Pada awal abad 21, akses Internet lebih mudah daripada akhir abad 20 (yang biasanya berlatar forum dan situs). Sehingga, kisah dongeng atau legenda urban di awal abad 21, semakin meruak dengan ramainya para peseluncur daring.

Internet adalah bank data bagi para pendongeng, untuk mengoleksi banyak cerita dongeng, dan menerapkan metode baru dalam menganalisanya. Pendongeng mengoleksi data melalui wawancara dengan kelompok atau individu, atau dengan meramban dan membaca situs. 

Data digital lalu dikompilasi pada basis data, yang digunakan oleh ahli untuk memformulasikan pertanyaan penelitan, atau melaksanakan pembacaan jarak jauh, sebagai teknik yang digunakan untuk menganalisa pola dari banyak isi teks. Banyaknya data mengenai dongeng, dapat menambah banyak analisa statistik, seperti analisis jejaring sosial, yang dapat diterapkan di lapangan.

Layaknya seorang perpustakaan, Internet adalah lokasi dimana banyak buku, kajian, dan jurnal ditempatkan untuk dibaca oleh banyak warga. Tanpa administrasi tambahan selain biaya dan alat, maka internet adalah ahan bagi siswa, akademisi, dan praktisi kebudayaan. Selain menjadi bahan bacaan, banyak penelitian dapat dilaksanakan melalui internet, dengan mengacu pada sumber yang terpercaya.

Sementara perkembangan Internet serta kebudayaan saat ini, layanan daring adalah lokasi khusus untuk mencari data tersebut. Dengan istilah konten, banyak warganet membaca internet sebagai tahap untuk meraih dongeng, dalam berbagai format pertunjukkan. Berbagai layanan daring untuk membaca konten, seperti berlangganan atau sekali bayar, adalah cara untuk dapat meraihnya. 

Praktisi serta ahli kebudayaan pun mengandalkan internet sebagai bank data miliknya, baik itu sebagai fungsi dari institusi, atau pelayanan kepada warganya. Hubungan bisnis tersebut berjalan dengan alami seiiring perkembangan internet, sebagai bagian dari komunikasi serta warisan budaya, yang khusus diantaranya adalah dongeng serta banyak kisah lainnya.

19 November 2025

Rasanya Hari Kamis Tidak Semengerikan di Film Danyang Wingit Jumat Kliwon

 

Rasanya wayang tidak semengerikan ini (TMDB).

Okeh, setelah brutalnya film Indonesia di ranah lainnya, saatnya kembali ke budaya tradisional Indonesia, khususnya yang dimodifikasi dalam film Danyang Wingit Jumat Kliwon, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Kurang berfaedah rasanya membahas Jumat Kliwon, tanpa membahas referensinya itu sendiri. Dalam nama hari Jawa, Kliwon adalah salah satu nama hari yang begitu sakral bagi sistem tradisinya. Dari namanya sendiri, Kliwon dianggap sebagai waktu terbukanya dimensi dunia manusia dan ghaib. Berarti, saat mistis paling kentara terasa di hari tersebut. 

Kadang, terdapat satu kepercayaan lain yang nyeleneh mengenai Kliwon, yang kebetulan tercampur pada satu hari Jumat. Yaitu, suatu malam keramat, yang harus dilaksanakan dengan ritual mistis. 

Saking nyelenehnya, para pengabdi jurig, melaksanakan ritual edan saat malam Jumat Kliwon. Bahkan, ada yang sampai membongkar kuburan orang baru meninggal, demi mendapatkan sepotong bagian tubuh, yang nantinya dipakai sebagai jimat.

Saking horornya kejadian semacam tersebut, kadang di kampung yang masih kentara mistisnya, dilaksanakan ritual khusus. Jika ada seseorang yang meninggal menjelang Jumat Kliwon, maka makamnya harus dijaga hingga setelah hari tersebut berlalu.

Warga desa takut, bahwa ada seseorang atau sekelompok orang, yang masih percaya dan memanfaatkan momen 'mistis' tersebut. Padahal, warga hanya ingin menghargai orang yang meninggal, dan tidak ingin jenazahnya kehilangan apapun, alias bagian dari Pamali yang benar.

Padahal, di Indonesia sendiri yang mayoritas menganut Islam, para penyembah jurig tersebut sudah keterlaluan. Jumat adalah hari besar bagi umat muslim, maka malam Jumat biasanya diisi dengan mengaji.

Dan kembali ke budaya Jawa, tidak ada ritual semacam oknum tersebut. Kebanyakan, tradisi mengacu simbolis, dengan nilai norma baik yang dijunjung tinggi.

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke sinopsis film Danyang Wingit Jumat Kliwon. Memang, layaknya film luar negeri yang mengisahkan horor, banyak ritual tradisionalnya dimodifikasi, agar sesuai dengan kebutuhan cerita dan plot. Padahal jika dicek (melalui internet), ritual aslinya tidak semenyeramkan itu, dan bahkan mencontohkan nilai baik.

Oh ya, bagi yang merasa heran dengan nyanyian tradisional Jawa, maka jangan langsung mengacu pada hal horor. Bagi yang suka menonton Wayang bersama sinden-nya (di YouTube), justru terdengar merdu. Mungkin, pendengarnya saja yang kurang paham (atau persepsi) mengenai bahasa dan budaya Jawa.

Oh ya lagi, bagi yang kurang suka dengan adegan kekerasan nan sadis, maka film horor ini cukup menyajikan berbagai adegan darah-mendarah dan daging-mendaging, yang bisa jadi kurang suka menontonnya.

Sinopsis Film Danyang WIngit Jumat Kliwon

Citra (Celine Evangelista) adalah seorang penyanyi yang tengah mencari kerja, demi membantu pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza). Kebetulan, padepokan yang kenalannya, Mbok Ning (Nai Djenar Maesa Ayu) bekerja, membutuhkan seorang sinden untuk pagelaran wayangnya. 

Baru beberapa hari pindah ke lokasi padepokan, Citra langsung diberi petuah dari Dalang Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan). Dalang yang ambisius tersebut, menegaskan bahwa seluruh ritual Wayang Ruwat harus dilaksanakan dengan rapih, kalau tidak bisa kualat.

Berbagai ritual pun dilaksanakan oleh Citra, dengan bantuan langsung dari Mbok Ning. Namun, setelah beberapa lama melaksanakan ritual yang awalnya biasa saja, justru Citra semakin sering bermimpi aneh, bahkan hingga kesurupan.

Bara (Fajar Nugra) adalah salah seorang kru pendukung Wayang Ruwat, yang sudah mengenal berbagai ritual di padepokan Ki Mangun Suroto. Bara semakin heran memperhatikan perubahan ritual di padepokan, yang makin berbeda saat Citra datang, dan membuat Bara semakin curiga.

Bara yang sebenarnya tidak ingin ikut campur, tidak tahan juga. Bara akhirnya mencoba membantu Citra, untuk dapat 'selamat' dari seluruh ritual di padepokan. 

Apakah Bara dan Citra bisa selamat dari ritual mengerikan di Padepokan Wayang Ruat? Atau malah ritual berhasil dan Ki Mangun Suroto semakin sakti? Atau mahluk dari dunia lain yang terpanggil malah murka dan membasmi semua pihak yang terkait?

Jawabannya, tentu dapat dilaksanakan ritualnya di padepokan mistis sinema-sinema Indonesia.

Beraksi ala Pengacara Indonesia di Film Keadilan

 

Raka yang sudah siap habis demi keadilan (TMDB).

Okeh, saatnya film Indonesia yang mengadaptasi sebuah kisah berat nan sulit, yaitu tentang hukum di negara tercinta, dengan film berjudul Keadilan, yang sedang tayang di banyak sinema.

Mungkin penulis kurang ngeuh (ngerti) tentang urusan hukum, tetapi jelas memang, tetap memantau masalah berita sekarang, yang 'mengedepankan' korupsi, salah tangkap, kriminalitas tingkat tinggi, sensasi politikus, tanpa penyitaan aset, denda yang rendah, hingga dakwaan yang dibuat-buat di segi ranah hukum Indonesia.

Setiap kali membaca berita kontroversial Indonesia, seakan menguji 'nyali' dan nalar warga sekalian. Bagi warga biasa yang kurang mengerti urusan hukum, nalar seakan ditantang ala melawan 'jurig.' Hasilnya? Malah semakin kurang ngeuh dengan keadaan hukum di Indonesia.

Nah, kembali ke film Keadilan yang diperankan oleh dua aktor ternama, yaitu Rio Dewanto dan Reza Rahardian, hukum diadaptasi dengan lebih brutal lagi. 

Dari cuplikannya saja terlihat, seorang tersangka yang menyiksa ibu hamil, namun tetap dibebaskan. Bahkan saking marahnya, Raka (Rio Dewanto) yang bekerja sebagai petugas keamanan di pengadilan, perlu 'turun dan menyandera' proses pengadilan tersebut (!)

Jadi teringat se-ekstrem apa situasi tersebut, layaknya demonstrasi besar pada bulan September kemarin. Demi berunjuk rasa kepada instansi DPR-DPRD-DPD, banyak pemuda (yang banyak diantaranya masih SMA), bahkan bertindak hingga membakar gedung perwakilan rakyat di banyak daerah.

Bukan tindakan terpuji memang, dan salah arahan kebebasan berpendapat, karena jelas berakhir rusuh dan anarkis (!) Namun, tindakan seperti itu, jika dilaksanakan tanpa momen unjuk rasa, maka pelakunya akan berakhir dibui (!) 

Dengan dakwaan kerusuhan hingga merusak fasilitas publik (!) Bahkan, bisa berujung dakwaan terorisme (!) Karena tetap diluar batas aturan kebebasan berpendapat dan unjuk rasa (!)

Nah, kembali ke film Keadilan, dalam cuplikannya terlihat, bahwa anggota Detasemen Khusus (Densus) Kepolisian Indonesia telah bersiap, untuk buru sergap Raka. Namun, karena resiko banyak sandera dalam gedung pengadilan, maka ditunda demi alasan keamanan korban.

Bahkan dalam film ini pun, terlihat bahwa aparat masih memantau dengan seksama, tanpa tergesa-gesa, karena masih berurusan dengan warga biasa (sebelum didakwa dan divonis).

Jadi teringat, dengan kisah kejadian hari Minggu kemarin (dari segi pengalaman penulis sendiri). Beberapa minggu lalu di Bandung, terdapat kejadian naas di Jembatan Layang Pasupati. Kejadiannya cukup miris, dan berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

Namun, beberapa minggu kemudian, tepat pada hari Minggu saat berolahraga di Car Free Day (CFD) Dago, justru terbalik dengan momen sebelumnya. Ratusan warga dari sekitar Bandung berkumpul, untuk jalan-jalan, joging, senam, lalu sarapan, dan bahkan mendengarkan lagu di sekitar CFD.

Bukan menyepelekan, namun maksud dari momen ramai tersebut, seakan 'menimpa' kejadian naas sebelumnya. Daripada harus terus protes dengan arahan tidak jelas, maka lebih baik diisi dengan kegiatan positif bersama orang terdekat. Bahkan salah satu lokasi pengamen di bawah Pasupati, dengan lantang (dan beberapa kali) menyanyikan lagu 'Arti Kehidupan' dari sang legenda, Doel Sumbang.

Jadi, kembali ke film Keadilan yang tokoh utamanya bertindak dramatis, bahkan sampai anarkis dan teroris, maka sebagai warga biasa harus berkaca saja. Apakah perlu bertindak sejauh itu? Atau 'melawan' dengan cara positif, yaitu berolahrasa, berolahraga, sambil menahan mirisnya kehidupan?

Sinopsis Film Keadilan

Raka (Rio Dewanto) adalah seorang petugas keamanan pengadilan Indonesia. Bersama istrinya yang tengah hamil, Nina (Niken Anjani), mereka baru saja merayakan kelulusan Nina sebagai pengacara muda.

Namun naas, Nina yang sudah hamil tua, malah dibunuh dengan sadis oleh seorang pemuda psikopat, bernama Dika Akbar (Elang El Gibran). Walau sudah jelas bersalah, Dika masih dibela habis-habisan oleh pengacaranya yang terkenal korup, Timo (Reza Rahardian). 

Bahkan, dakwaan berbalik langsung kepada Raka, saat seorang saksi menyatakan bahwa senjata bukti pembunuhan, dipegang oleh Raka yang baru tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Saking marah dan 'nothing to lose,' Raka pun bertindak anarkis, bahkan teroris, untuk membalas dendam. Saat pengadilan berjalan, Raka masuk ruangan sambil menembakkan pistol, lalu menyandera seisi gedung. Raka bahkan mengancam, bahwa banyak bom telah ditanam di seluruh lokasi gedung.

Raka meminta kepada Hakim dan Jaksa, untuk mengulangi seluruh proses pengadilan. Walau bertindak ekstrem, Raka masih memberi kesempatan pada proses hukum, untuk menentukan siapa yang sebenarnya layak divonis bersalah.

Cukup ngeri film ini, jadi yang cukup penasaran dan heran dengan kejadian semacam ini, bisa bersaksi mata langsung di sinema-sinema Indonesia.

Dan Ingat! Stay Positive!

Kembali ke Prekuel Anime Jurig Fantastis di Jujutsu Kaisen: Zero Revival

 

Rika Orimoto dan Yuta Okkutsu yang sulit terpisahkan (TMDB).

Okeh, tampaknya salah satu rangkaian sinema Indonesia, gatal untuk merilis film anime yang masih ditunggu kehadiran musim berikutnya, yaitu Jujutsu Kaisen. Kali ini, filmnya bersub-judul Zero Revival (yang sebenarnya sudah dirilis tiga tahun lalu). 

Sebelumnya di blog ini, saya lebih banyak menulis di artikel Jujutsu Kaisen, tentang istilah 'kata' secara simbolis, yaitu saat sebuah kata bisa berarti 'lebih dalam,' dan mengacu pada kekuatan besar di dunia. 

Nah, sekarang daripada membahas esensinya (yang berujung kutukan di anime ini), lebih cocok lagi membahas Jujutsu Kaisen-nya sendiri lebih mendetail, tentu dengan sedikit spoiler saja ya...

Anime jurig fantastis ini memang memiliki beberapa spin-off, yang sebelumnya dibuat dengan judul yang pernah dibahas, yaitu Jujutsu Kaisen: Hidden Inventory/Premature Death. 

Kali ini, manga Zero Revival masih digambar oleh mangaka Gege Akutami. Dan masih sama seperti sebelummnya, merupakan prekuel dari cerita utamanya yang berkutat pada Yuji Itadori dan Sukuna.

Lebih heboh lagi, karena adegan yang tertampil dalam film Zero Revival sangat dahsyat. Dari cuplikannya, banyak adegan meledak-ledak yang melibatkan seluruh anggota Jujutsu Kaisen angkatan tersebut. Film Zero Revival berfokus pada tokoh utamanya, yaitu Yuta Okkutsu (Megumi Ogata). Mirip dengan Yuji, disini Yuta adalah seorang penyihir arwah spesial, yang berlatar cerita lebih miris lagi. 

Di serial anime-nya, Yuji melahap Jari Sukuna dan sanggup mengendalikannya, karena ingin membantu temannya yang diganggu jurig. Sementara Yuta, justru mendapatkan arwah tingkat spesial, karena temannya sendiri, Rika Orimoto (Kana Hanazawa) meninggal akibat kecelakaan. Tetapi, keduanya tidak rela untuk lepas satu sama lainnya.

Bahkan, Gojo Satoru (Yuichi Nakamura, yang kini sudah menjadi guru di Jujutsu Kaisen), harus menegaskan, bahwa cinta adalah sebuah kutukan paling rumit. Sebelum 'digerebek' dan 'diculik' oleh Gojo, Yuta yang baru masuk SMA, sempat mengurung diri di kamarnya. Yuta takut arwah Rika membasmi semua orang disekitarnya.

Gojo yang (seperti biasanya) memiliki sisi penyayang kepada anak-anak, bersikeras untuk mendidiknya di Jujutsu Kaisen. Padahal, selama bertahun-tahun terakhir, arwah Rika tidak dapat dikendalikan oleh Yuta. 

Selain mengajari jurus pada Yuta yang berpotensi hebat, Gojo pun mewaspadai kehadiran Suguru Geto (Takahiro Sakurai). Gojo yang sempat memantau perkembangan Yuta, tahu bahwa Geto sudah mendekati Yuta untuk merekrutnya. 

Gojo pun tidak rela melepaskan Yuta dibawah asuhan teman lamanya tersebut, yang dikenal sebagai penyihir pengkhianat nan berbahaya di jaman modern sekarang. Mungkin, momen Gojo mengajari Yuta, akan berakhir dengan reuni brutal dengan Geto.

Memang tidak lama kemudian, Geto yang telah mengumpulkan banyak penyihir jahat lainnya, menantang perang dengan Jujutsu Kaisen. Berpusat di keramaian Tokyo, Geto menantang arena Parade Malam Seratus Setan, yang berarti seluruh anggota Jujutsu Kaisen yang masih aktif, harus melawannya.

Apakah sosok Yuta yang masih pemula memang sehebat itu? Atau memang Geto hanya ingin membasmi seluruh penyihir Jujutsu Kaisen demi dunia jurig idealnya? Ataukah ada rencana lain dibalik kisruhnya dunia jurig di Jepang?

Jawabannya, tentu ada di film anime fantastis, Jujutsu Kaisen: Zero Revival.

Oh ya, banyak plot twist di film ini, yang sangat nyambung dengan serial anime-nya. Jadi, banyak info yang perlu ditelaah kembali, jika ingin menonton lagi kelanjutannya.

Oh ya lagi, Yuta Okkutsu sebenarnya sudah dikenalkan di akhir musim kedua anime Jujutsu Kaisen. Sayangnya, Yuta dikenalkan sebagai seorang agen dari dewan ketua Jujutsu Kaisen, yang harus memburu Yuji dan membasmi Sukuna-nya. 

12 November 2025

Menemani Sang Kekasih Sampai Akhir Hayat di Film Sampai Titik Terakhirmu

 

Shella dan Albi yang masih sumringah di lahan terbuka (TMBD).

Okeh, setelah berbagai film tentang kesehatan dirilis di sinema Indonesia, di bulan November ini akhirnya muncul film berjudul Sampai Titik Terakhirmu.

Sebelumnya di Juli lalu, film Sore: Istri Dari Masa Depan dirilis dengan mengisahkan tentang pola makan dan hidup yang sehat, walau dengan sedikit bumbu fantasi.

Dan di bulan September, film Agape: Unconditional Love dirilis dengan mengisahkan banyak sudut pandang karakter, pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda di satu rumah sakit, yang tentunya adalah situasi galau bagi banyak warga.

Nah, di film Sampai Titik Terakhirmu, bisa dibilang adalah kombinasi dari kedua film tersebut. Film ini berfokus pada sepasang muda-mudi yang belum menikah, namun bermasalah dengan kesehatan salah satunya.

Selain filmnya yang memang mengisahkan kesehatan, ternyata penyakit yang diderita karakternya adalah sejenis kanker, yang tentu perlu pengobatan canggih dan sulit untuk disembuhkan. Sang kekasih pun tetap setia dengan menemani pujaan hatinya, mulai dari masa sehat hingga menuju perawatan, hingga akhirnya perlu diopname dan dioperasi.

Mungkin film ini ingin memberi pertanyaan bagi penontonnya, apakah sebuah hubungan (romansa hingga romantis) hanya sekedar melihat fisik dan mental yang masih sehat saja? Atau perlu menanggulangi semuanya sampai titik penghabisan darah terakhir? Bahkan di saat umur masih muda dan banyak potensi cemceman lainnya?

Sayang seribu sayang memang, cobaan seperti itu terasa sulit, apalagi potensi diri yang belum mencapai puncaknya di masa muda. Karena itu, jaga kesehatan fisik, mental dan mencoba tanpa pamrih ya... Ikhlaskan saja... Tentu, maksudnya adalah 'Saat Kanker Datang, Cinta Tetap Bertahan.'

Oh ya, film ini diadaptasi dari sebuah kisah nyata Albi dan Shella, yang sempat viral di banyak media Indonesia pada tahun 2024 lalu. 

Sinopsis Film Sampai Titik Terakhirmu

Shella (Mawar Eva De Jongh) adalah seorang gadis aktif nan atletis. Kesehariannya diisi dengan banyak olahraga, khususnya sepakbola sambil berkiprah sebagai kaptennya.

Shella yang aktif, lalu memikat hati Albi (Arbani Yasiz), yang suka dengan tomboynya Shella. Keduanya saling bercengkrama tentang sepakbola, yang berakhir keduanya menjalin asmara sebagai sepasang kekasih.

Namun suatu hari, Shella yang tengah latihan berenang, tiba-tiba pingsan di tengah kolam. Shella lalu dilarikan ke rumah sakit, yang akhirnya terdiagnosa kanker.

Albi yang kaget tetap setia, bahkan sampai memotong rambut Shella demi menjalani kemoterapi. Albi yang cukup rela, bahkan berfoto wefie keduanya, sementara Shella telah botak plontos.

Albi yang memang ingin Shella ceria, bahkan menemani Shella bermain bola diatas kursi rodanya. Saking tidak ingin kehilangan, Albi bahkan berjanji untuk menikah dengan Shella.

Bagaimana akhir dari kisah keduanya? Tentu harus diresapi di sinema-sinema Indonesia.