13 April 2026

Terjebak dalam Wahana Balon Udara Setinggi Angkasa di Film Turbulence

 

Emmy yang kesulitan setelah hampir jatuh (TMDB).

Saatnya membahas film unik nan cukup langka di sinema Indonesia, berjudul Turbulence yang tayang di minggu kedua bulan April ini, dengan rating film berumur Dewasa (D17). Film ini sebenarnya telah rilis akhir tahun lalu di AS sana, dan baru mulai tayang di Indonesia sejak bulan April.

Film yang diproduksi oleh Lionsgate ini memang berbeda, yaitu kisah terjebak dalam wahana balon udara (panas), dengan ketinggian cukup tinggi. Tampaknya Lionsgate mencoba mengembalikan animo film lama, dengan mengisahkan para pendaki gunung yang terjebak di ketinggian. Contohnya adalah film Cliffhanger bersama Sylverster Stallone dari tahun 1993, lalu ada Vertical Limit dari tahun 2000.

Satu film yang menarik adalah 127 Hours dari tahun 2010 lalu. Film yang diperankan oleh James Franco dan disutradarai oleh Danny Boyle (waralaba film zombie 28) ini, adalah adaptasi dari kisah nyata seorang pendaki bernama Aron Ralston. Pendaki yang sial ini terjebak saat mendaki gunung terpencil di Utah, AS. Dirinya perlu bertahan selama 127 jam lamanya, dibawah terik matahari dan kurang suplai makanan serta air. Untungnya Ralston sempat terselamatkan, walau dengan kekurangan tertentu.

Film Fall dari Lionsgate

Sebelum membahas film Turbulence, lebih cocok lagi dengan membahas film Fall terlebih dahulu, yang tayang tahun 2022 lalu dengan rating Remaja (R13). Film yang sama-sama diproduksi oleh studio Lionsgate ini, memiliki latar dan animo yang mirip, yaitu saat sedikit orang terjebak di lokasi terpencil nan tinggi. 

Dari cuplikannya, film Fall menyajikan kisah dua wanita pendaki, bernama Becky Connor (Grace Caroline Currey) dan Shiloh Hunter (Virginia Gardner). Keduanya adalah penantang maut, dengan menaiki sebuah menara telepon setinggi 700an meter, yang sudah tua dan karatan. 

Walau keduanya berhasil mendaki hingga puncak, bahkan hingga berfoto (wefie) bareng, namun naas terjadi. Saat akan turun kembali ke darat, tangga yang sudah rapuh malah terpotong, dan menyebabkan Becky hampir terjatuh. Untungnya Shiloh yang masih berada di puncak, terikat talinya dengan Becky dan sempat membantu naik kembali.

Berbeda dengan area gunung, keduanya memang tidak bisa memasang paku serta tali yang menjadi standar pendakian. Usaha bertahan hidup selama berjam-jam dibawah terik matahari, angin, serta cuaca yang berubah-rubah di tengah gurun pun, menjadi tantangan hidup-mati bagi Becky dan Shilloh. 

Sinopsis Film Turbulence

Zach (Jeremy Irvine) dan Emmy (Hera Hilmar) adalah sepasang suami istri yang sedang berbulan madu kedua. Rekreasi ini dilaksanakan demi mendekatkan pasangan kembali, setelah sempat lama renggang. Keduanya memang memiliki pekerjaan yang berbeda, sehingga sempat tidak sering bertemu.

Mereka berinisiatif untuk menaiki wahana Balon Udara Panas, yang awalnya berjalan baik-baik saja hingga ketinggian lima ribu meter. Namun seorang wanita bernama Julia (Olga Kuryler) tiba-tiba Tantrum dan berlaku ala Karen dari AS sana. Sambil menodongkan pisau, Julia bertanya pada Zach, apakah dirinya benar-benar telah melupakan dia.

Sementara itu, terjadi pergolakan berbahaya diatas ketinggian tersebut. Karena berjibaku dengan kurang senonoh di lahan sempit, mesin pemanas udara diatas balon tertarik talinya. Akibatnya, balon naik menuju ketinggian yang tidak masuk standar anjuran keamanan.

Lebih berbahaya lagi, tali yang ditujukan untuk mengatur panasnya udara menuju balon, tertarik hingga tidak bisa digapai tangan. Emmy yang badannya cukup ringan pun membantu dengan menaiki sisi balon, namun gagal dan malah tergelincir, walau terselamatkan oleh tali pengekang.

Sanggupkah Harry (Kelsey Grammer) sang pemandu wahana mendamaikan situasi penuh drama ini? Hingga akhirnya sampai ke darat dan semua berhasil selamat. Atau malah berujung mematikan bagi semuanya, diatas ketinggian berbahaya dengan penuh dendam kesumat?

Jawabannya, tentu ada di ranah tantangan keselamatan diri dan keluarga ala sinema Indonesia.

06 April 2026

Duo Aksi Kesurupan Jurig di Film Aku Harus Mati dan Hantu Dalam Sel

 

Suasana Lapas yang kedatangan arwah pendatang baru (TMDB).

Kalau di artikel yang satu ini, membahas duo film dari Indonesia yang memiliki cerita hampir mirip, yaitu rasanya kesurupan jurig, lalu membasmi seluruh orang di sekitarnya. 

Pertama adalah film Aku Harus Mati yang rilis minggu awal April, dan Hantu Dalam Sel di minggu ketiga April. Keduanya (masih pula) memiliki rating D17, karena isinya cukup brutal, namun memiliki genre yang berbeda. Film Aku Harus Mati lebih membawakan suasana horor, sementara Hantu Dalam Sel lebih mirip film di artikel sebelumnya, yaitu aksi campy yang kocak nan brutal tidak berwibawa.

Seringai saat kajajaden (TMDB).

Film Aku Harus Mati

Selayaknya film horor Indonesia, film Aku Harus Mati memang membawakan atmosfer, suasana, latar, serta adegan yang mengerikan ala jurig. Tokoh utamanya yang bernama Mala (Hana Saraswati) adalah seorang gadis biasa, yang baru saja kembali dari Jakarta ke rumah panti asuhannya terdahulu di Jawa. Namun, setelah lama tidak bersua, ternyata keadaan wilayahnya sudah berubah.

Mala mendapati rumah panti asuhannya terdahulu sudah cukup angker, dengan banyak kejadian aneh yang menimpanya. Salah seorang kuncen daerah, bahkan memberi saran agar Mala membuka mata batinnya, agar dapat mendeteksi aksi supernatural di sekitar areanya. Tentu, ditujukan agar Mala dapat mawas diri dan bertahan dari gangguan supernatural tersebut. 

Tidak lama berselang, beberapa temannya tiba-tiba mulai kerasukan. Tidak hanya bertingkah aneh, mereka membawa senjata dan membasmi banyak warga di sekitar rumahnya. Hantu yang merasuki, mungkin ada hubungannya dengan kejadian naas saat seorang ibu membasmi anaknya sendiri.

Sanggupkah Mala naik level dan menjadi pembasmi jurig lainnya? Atau malah ikut memanfaatkan keadaan agar bisa kembali hidup hedon dan foya-foya di Jakarta sang kota Metropolitan sana?

Nah, dari sinopsis segitu saja, sudah jelas bagaimana film ini mengacu pada ranah horor. Uniknya di bulan April ini, adalah kehadiran film Hantu Dalam Sel, yang ternyata latar ceritanya mirip. Kesurupan dan mulai membasmi banyak warga di sekitarnya? Ya, memang berasal dari ranah film sejenis horor. 

Namun berbeda dengan film ini, justru film Hantu Dalam Sel kentara dengan aksi campy dan kesan komedi kasarnya. Seakan, menyajikan bahwa latar horor bisa saja diadaptasi pada genre lain, yaitu dengan sedikit bumbu bodor yang brutal. 

Film Hantu Dalam Sel

Justru di Film Hantu Dalam Sel, adalah aksi campy yang berbeda, selayaknya artikel They Will Kill You dan Ready or Not. Bodornya, film ini ternyata disutradarai oleh sineas terkenal Joko Anwar, dan sempat disukai kritikus film saat dimainkan di beberapa festival film Internasional. Di minggu ketiga bulan April ini, akhirnya versi penonton dapat dirilis di sinema Indonesia. 

Tidak hanya disutradarai oleh Joko Anwar, ternyata banyak pemerannya adalah para bintang Indonesia. Diantaranya adalah Abimana Aryastya, Bront Palarae, Dimas Danang, Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming Sugandhi, Rio Dewanto, Tora Sudiro, Kiki Narendra, Haydar Salishz, Ical Tanjung dan masih banyak lagi. Latarnya yang berada di sebuah lokasi Lapas beserta banyak napinya, memang membutuhkan banyak aktor berwajah sangar.

Nah yang lucu, salah satu napinya berlatar seorang wartawan. Pemangku media yang (ikut) mengaku kesurupan ini, dituduh dengan dakwaan mengerikan. Yaitu, membasmi dan memutilasi tubuh bosnya sendiri. 

Mungkin ini adalah sejenis maksud dari Joko Anwar sebagai penulis naskahnya, yang menunjukkan bahwa media berita saat ini sudah terlalu dalam menjabarkan beritanya. Bukannya bersikap, bertindak, dan menulis kritis, malah mengacu pada sensasionalisme di ranah yang serius. Tentunya, berbeda ala ranah film yang bersifat fiktif dan hiburan, sehingga ujungnya dapat diterima dengan ringan.

Oh ya, yang lucu lainnya adalah judulnya sendiri, yaitu Ghost In The Cell dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin judul dalam bahasa inggris ini, adalah semacam anekdot dari film anime terkenal, yaitu Ghost In The Shell. Film anime ini memang satu dari banyak anime, yang berlatar Cyberpunk dengan dunia kacau balaunya, dan (katanya) tetap mempertanyakan ranah jiwa manusia.

Bagaimana dengan sinopsisnya? Nah justru cukup singkat, padat, jelas, dan tidak membuka spoiler sama sekali (alias dari cuplikan saja). Filmnya memang berkutat di sebuah Lapas, yang penuh dengan penjahat kelas kakap. Para kriminal ini memiliki hobi tersendiri, yaitu saling adu gelut tangan kosong, demi meramaikan asa aing maung dan kajajaden ala mahluk pecicilan.

Hingga suatu saat yang hina, Lapas tiba-tiba mulai dihantui oleh sejenis mahluk supernatural dari dunia lain-lain. Para kriminal sangar ini sempat menyaksikan, bahwa seorang napi yang kesurupan, tiba-tiba lebih buas dari biasanya. Saking brutalnya, napi yang kajajaden sanggup membuyarkan tubuh korbannya, hanya dengan tangan kosong saja.

Setelah mereka meneliti, membandingkan fakta dan data, serta mulai memahami Lapas dengan kedatangan arwah lainnya, mereka pun mulai masuk dalam bab kesimpulan. Maksud yang disetujui oleh khalayak ramai Lapas, adalah napi yang kesurupan akibat tingkah dan aura yang terlalu negatif, dari dalam dirinya. Jadi demi menyelesaikan analisis mereka di Lapas, mereka harus mulai tobat, dan berhenti melaksanakan hal yang negatif (sekalian dapat remisi pula). 

Namun, setelah dilaksanakan selama beberapa lama, ternyata gangguan dari mahluk sangar nan bengis ini tidak berhenti pula. Satu per satu napi di Lapas tetap kerasukan dan langsung AING MAUNG! Sudah banyak dan terlalu, korban berjatuhan layaknya sebenih darah di akhir hayat yang hina. 

Para anggota Lapas pun mulai pasrah walau tetap berbenah, bahwa mereka harus tetap hidup selama menjalani masa hukuman mereka. Demi, mencapai kehidupan baik nan layak di khalayak ramai luar Lapas bersama masyarakat luas yang tetap saja mainstream (alias non-rebel).

Apakah mereka sanggup menghindari arwah penasaran nan random dan acak ini? Atau malah ikut terjebak dunia lain yang sebenarnya adalah atmosfer setiap Lapas? Dan bahkan memanfaatkan situasi kacau-balau ini demi kabur dan bebas dari dalam Lapas menuju dunia luar yang (terlihat) damai?

Jawabannya, tentu ada dalam dunia horor-sangar-brutal-bodor ala sineas perfilman Indonesia.

Duo Kompetisi Battle Royale di Film They Will Kill You dan Ready Or Not 2


Grace dan Faith yang baru saja kawin lari (TMDB).

Berikutnya adalah duo kombo film dengan rilis yang terpaut satu minggu saja, tetapi bertema sama dengan kekhasannya. Yaitu, sejenis film aksi campy yang kacau-balau cerita dan adegannya, tetapi menyajikan hiburan tersendiri yang sangat kasar dan penuh kekerasan, dan sangat sarkatis ala komedi gelap (dark humour).

Film pertama berjudul They Will Kill You di minggu pertama April, dan satu lagi adalah Ready Or Not seri kedua di minggu ketiga April. Tidak hanya aksi campy, kedua film yang berating D17 ini memiliki tema yang mirip, alias Battle Royale dimana para kontestannya berburu satu sama lainnya, dengan fokus target pada tokoh utamanya.

Animo Film Aksi Campy

Nah sebelum membahas kedua film kacau tersebut, perlu ditelaah dari segi animo ini. Film Campy memiliki cerita dan adegan layaknya film B-Rate, namun tetap menyajikan hiburan tersendiri. Jadi daripada memahami segi cerita dengan latar drama para karakternya, film sejenis ini penuh dengan Guilty Pleasure-nya, layaknya seorang pemain gim dan karakter utamanya. Apalagi jika digabungkan dengan genre aksi dan komedi, sekaligus berbiaya produksi mahal. 

Bahkan ada seorang ahli film yang layaknya Master B-Rate Movies, yang terkenal dari Hollywood sana bernama Quentin Tarantino. Walau sudah beberapa kali dibahas di blog ini, tetapi kekhasan Tarantino tidak berakhir disitu saja. Tarantino biasanya membuat film drama kejahatan dengan khas karakter, akting, adegan, serta latar yang minimalis. Namun karena diisi para bintang yang kuat latar dramanya, serta cerita yang cukup sulit ditebak, menjadi kekhasan sendiri layaknya menonton teater di seni panggung langsung.

Namun Quentin Tarantino memiliki prestasi tersendiri yang unik nan eksotik. Saat dirinya meraih proyek film berbiaya tinggi, justru Tarantino malah produksi film Kill Bill: Volume 1 (2003) dan Kill Bill: Volume 2 (2004). Walau tidak bisa disebut komedi, namun banyak adegan over-the-top (berlebihan) dan aksi dibuat-buat, menjadikan film ini layaknya B-Rate yang sangat menghibur. Saking berbeda dengan film sejenis lainnya, kedua film Kill Bill sempat meraih nominasi dan memenangkan Oscar di AS sana.

Animo campy tersebut terus dilanjutkan di Hollywood sana, dengan beberapa sineas film aksi mulai menirunya. Contoh paling campy-nya, adalah waralaba Crank (2006) dan Crank: High Voltage (2009), yang diperankan langsung oleh Jason Statham. Dibalik cerita ini, karakter utamanya harus memicu adrenalin atau tersengat listrik, agar tidak mati begitu saja akibat bom atau alat yang dipasang dalam tubuhnya. Aksi yang 'maksa' pun menjadi khas film ini. 

Contoh berikutnya adalah film Free Fire (2016) yang diperankan pula oleh seorang aktris pemenang Oscar, yaitu Brie Larson. Mirip dengan animo film campy yang terlihat minimalis namun heboh, seluruh adegan cerita Free Fire hanya terjadi dalam satu gudang saja. Namun karena adegan, serta akting para karakternya yang kurang serius, alias sedikit komedi, menjadikan film ini cukup menghibur.

Contoh terdekat adalah The Fall Guy (2024), yang berisi aktor terkenal lainnya, yaitu Ryan Gosling. Seperti pernah dijelaskan sebelumnya, Gosling memang khas dengan karakter unik di setiap filmnya, jadi mudah dikenang. Nah sama seperti animo film campy lainnya, Gosling yang berperan sebagai karakter stuntman ini, perlu mencari dan menyelamatkan aktor film aslinya. Dengan pembawaan yang ringan dan adegan yang kasar, tentu berisi banyak adegan aksi yang ramai nan brutal, namun tetap santai dan bahkan bodor untuk ditonton.

Oh ya, perlu tahu juga mengapa artikel ini diberi judul Battle Royale. Mengacu pada film tahun 2000 lalu dengan judul yang sama dari sineas perfilman Jepang, film sejenis ini memang berisi banyak karakter yang saling membasmi satu sama lainnya. Quentin Tarantino pun sempat menjabarkan dalam wawancara, bahwa Battle Royale adalah satu dari banyak favorit filmnya. Bahkan istilah ini sempat diadaptasi menjadi satu genre gim video khusus, yang dimainkan oleh 100 pemain dan berakhir satu pemenang 'chicken dinner.'

Reeves yang dihirup wajahnya oleh penganut sesat (TMDB).

Film They Will Kill You

Untuk film dengan tokoh utama Asia Reeves yang diperankan oleh Zazie Beets ini, tentu cukup dikenal wajahnya. Beets memang sempat naik pamornya saat memerankan karakter Domino di film aksi kasar Marvel, berjudul Deadpool 2 di tahun 2018 lalu. 

Nah di film ini, Reeves adalah seorang pencari kerja yang akan mengisi posisi pembantu di sebuah gedung besar ala New York. Namun tidak disangka, dirinya malah terjebak kejaran para sekte sesat, yang ternyata cukup kekal abadi sehingga bisa sembrono saat menjalankan aksinya.

Reeves pun ternyata memiliki latar lainnya, yaitu bukan seorang gadis biasa, melainkan seorang tokoh aksi terkenal dengan segala keberuntungannya (layaknya Domino). Awalnya hanya pura-pura polos saja, namun ketika mulai diburu, Reeves ternyata sanggup membasmi satu persatu anggota sekte tersebut. Namun akibat para pemburunya yang sangat kuat, brutal, dan kekal abadi, menyebabkan Reeves terpaksa mencari jalan keluar dari gedung tersebut.

Siapa gerangan sebenarnya Reeves ini? Dan apa maksud dari sekte sesat nan abadi ini? Yah tinggal tonton saja lah...

Film Ready Or Not Seri Satu dan Dua

Kalau di film yang sudah sukses dan mencapai seri keduanya di tahun 2026 ini, cukup dicek saja sejak film pertamanya. Di film pertamanya yang rilis tahun 2019 lalu, tokoh utama Grace (Samara Weaving) sedang mengalami euforia nan berbahagia. Dirinya baru saja menikah dengan Alex Le Domas (Mark O'Brien), dan mulai tinggal di kediaman keluarganya yang seperti istana. 

Namun tidak lama saat seluruh keluarga mertuanya sedang mengadakan ritual petak umpet bersama anggota keluarga baru, Grace ternyata menguak sesuatu yang sangat berbahaya. Dirinya ternyata menjadi bahan korban dan buruan sekaligus, demi ritual sesat keluarga Le Domas. 

Walau Grace sebenarnya tidak begitu ahli dalam berperan aksi, namun keluarga Le Domas ternyata tidak begitu lihai pula. Saking nyentriknya, mereka bahkan meremehkan kematian anggota keluarga sendiri akibat kecelakaan, dan dengan sembrono terus memburu Grace yang kelimpungan.

Grace yang seadanya saja selamat dari fllm pertamanya, terpaksa melanjutkan kisah gila-gilaan ala keluarga elit dunia di film keduanya, tepatnya bulan April tahun 2026 ini. Bersama saudarinya bernama Faith (Kathryn Newton) yang sama-sama bernama belakang McCaulley, keduanya harus melarikan diri dari kejaran para anggota keluarga lain Le Domas. Bahkan taruhannya semakin ditinggikan, yaitu memiliki seluruh kekayaan Le Domas. 

Berarti yang selamat di akhir perburuan elit ini, dapat berubah tambah psikopat dan mulai menguasai dunia (layaknya dalam dokumen Epstein). Entah ini sinema atau memang niat para elit dunia, untuk kita semua, kan ya?

Oh ya, di film keduanya ini terdapat duo aktor-aktris kenamaan lama. Bagi yang ingat seri televisi Buffy The Vampire Slayer, Sarah Michelle Gellar sebagai akris utamanya berperan di seri kedua Ready Or Not. Elijah Wood yang terkenal sejak membintangi trilogi film The Lord of The Rings pun, ikut pula berperan. Keduanya pada tahun 90an dan awal 2000an, berperan dalam film besar di umur yang cukup muda. Kini, malah mengisi film mengenai kacaunya para elit dunia, hehe...

Duo Karya Unik Blumhouse di Film Don't Follow Me dan Lee Cronin's The Mummy

Katie yang baru menghirup napas (TMDB).

Saatnya membahas studio horor dari Hollywood yang sudah sangat terkenal, bernama Blumhouse. Studio yang selalu kreatif dalam memproduksi filmnya, memang terkenal dalam menyajikan latar unik untuk setiap horornya. 

Kali ini yang dibahas adalah dua film yang dirilis pada bulan April, yaitu berjudul Don't Follow Me di minggu kedua April, serta Lee Cronin's The Mummy di minggu ketiga April. Keduanya masih khas film dari Blumhouse dengan rating D17, dan tetap menyajikan latar cerita yang berbeda.

Carla yang siap merekam mahluk apapun (TMDB).

Don't Follow Me alias No Me Sigas

Film Don't Follow Me ini aselinya dirilis pada Oktober tahun 2025 kemarin, dan merupakan film pertama Blumhouse yang diproduksi di luar AS. Judul aselinya adalah No Me Sigas dari ranah perfilman Meksiko sana, yang lengkap dengan aksen serta bahasa Spanyolnya. Di sinema Indonesia, film ini memang baru dirilis untuk para penggemarnya.

Untuk animo-nya sendiri, cukup unik karena berlatar internet saat ini. Tokoh utamanya yang bernama Carla (Karla Rodriguez Coronado), adalah seorang pemudi yang sedang semangat ngonten (yang penting ngonten). Dia memiliki inspirasi sendiri, yaitu membuat video dengan banyak sudut pandang rumah barunya, dan kadang mengadakan siaran langsung di internet. Hampir setiap sudut rumahnya dipasangi oleh perekam video, agar dirinya bisa viral nan cuan.

Tidak hanya dirinya, beberapa temannya ikut membantu selama proses pembuatan video. Kedua temannya, Andres (Yankel Stevan) dan Sam France (Julia Maque) memang sering ikutserta dalam inspirasi Carla. Ya, memang tim yang cocok untuk ngonten, karena tidak bekerja hanya sendiri.

Semangat ngonten nan viral ini sebenarnya berbuah manis, dengan banyak tayangan dan pelanggan yang mengikuti konten hasil karya Carla. Baru saja menikmati euforia ketenarannya, tidak berselang lama, Carla langsung diberi rasa horor tersendiri. Saat tengah siaran langsung sendiri di ruangan tengahnya, salah seorang penonton menunjukkan keanehan disudut rumahnya. Saat Carla zooming (mendekatkan fokus) video lewat ponselnya, ternyata muncul bayangan dari sesosok wajah mengerikan di sudut tersebut.

Sejak itulah, Carla sering diteror oleh mahluk lain di rumahnya. Memang sebelum pindah, rumah tersebut sudah cukup lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Tidak hanya Carla, kedua temannya pun cukup sering diteror oleh mahluk lain. Selain berupa gangguan supernatural, semakin lama teror yang terjadi, malah semakin berbahaya dan mengancam jiwa ketiganya. Carla pun perlu mencari jejak sejarah rumah tersebut, demi menguak dan menyelamatkan nyawa semuanya.

Apakah memang rumah tersebut sudah dihantui akibat terlalu lama kosong? Atau memang sang pemilik rumah sebelumnya mengadakan ritual mistis sebelum ditinggalkan? Dan bahkan salah seorang temannya malah mengadakan ritual horornya sendiri?

Jawabannya, tentu ada di sewa-menyewa rumah horor ala sinema Indonesia.

Ranah Film Mumi Hidup

Nah untuk yang satu ini, adalah ranah film yang sangat khas dari Blumhouse, yaitu dengan menggabungkan beberapa latar film horor lama, dengan referensi yang kentara dari budayanya. Ya, di film Lee Cronin's The Mummy ini, memang menggabungkan animo horor mayat berbalut perban, dengan khas film kesurupan ala waralaba exorcist. Memang kombinasi yang cukup berbeda, dan ternyata cocok untuk film ini.

Khusus untuk film berlatar horor mumi hidup, cukup jarang diadaptasi ke sebuah film oleh Hollywood. Film mumi bagus yaitu The Mummy (1999) dan The Mummy Returns (2001), yang diisi oleh kombo aktor-aktris kawakan Brendan Fraser dan Rachel Weisz. 

Mungkin karena referensi yang epik dari mumi Firaun dibawah Piramid sana, jadi banyak sineas perfilman horor yang kurang berminat untuk mengadaptasinya. Sementara aktor kawakan lain yang mencoba meramaikan reka ulangnya, yaitu Tom Cruise saat berperan dalam film berjudul sama, yaitu The Mummy pada tahun 2017 lalu.

Justru sebaliknya dengan film ala mumi, film dengan ranah kesurupan ala eksorsis cukup sering diadaptasi ulang, tanpa perlu memikirkan langsung hak ciptanya. Semenjak diproduksi tahun 1973 lalu dengan judul The Exorcist, ranah film ini sering diadaptasi kembali dengan ragam berbeda. 

Bahkan tidak perlu mengacu langsung kepada nama eksorsis, beberapa film bertema mirip cukup sering diproduksi oleh Hollywood. Contohnya adalah Constantine (2005) bersama Keanu Reeves, The Rite (2011) bersama Anthony Hopkins, The Possession (2012) bersama Jeffrey Dean Morgan, dan Deliver Us From Evil (2014) bersama Eric Bana. Nama-nama aktor bintang yang sangat terkenal, apalagi berasal dari ranah drama sebagai kemampuan aktingnya.

Lee Cronin's The Mummy

Dari cuplikannya sendiri, justru mengisahkan khas yang berbeda pula. Charlie (Jack Reynor) dan Larissa (Laia Costa), adalah sepasang suami istri yang telah kehilangan anaknya sejak delapan tahun lalu. Suatu hari, anaknya yang bernama Katie (Natalie Grace) berhasil ditemukan, dengan baju compang-camping dan tubuh yang kotor. Namun keperibadian Katie telah berubah 180 derajat, menjadi agak diam namun selalu bertutur kata kasar.

Justru film ini mengacu pada sekte sesat tertentu, yang ditunjukkan informasinya saat dialog berlangsung. Katie adalah satu dari 57 korban anak yang hilang sejak delapan tahun lalu. Katie pun ditemukan secara misterius, yaitu terbaring dengan balutan perban lusuh, dalam sarkofagus tua berumur 3000 tahun lebih. 

Dari situ, penulis dapat menebak maksud dari ditemukannya Katie dalam keadaan tersebut. Daripada betulan hanya menculik anak, sekte sesat mencoba semacam 'ritual eksperimen' pada anak-anak. Banyak anak diculik agar menjadi 'wadah' bagi sesosok mahluk supernatural yang kuat. Namun karena kekuatan supernatural yang tidak bisa 'diterima' begitu saja, ke-56 anak lain yang diculik, akhirnya tidak bisa selamat. 

Sementara Katie yang memiliki bakat paranormal sendiri, sanggup untuk menjadi wadah bagi sosok tersebut. Katie sendiri yang tubuhnya berhasil kembali ke pangkuan orangtuanya, justru sudah tidak memiliki keperibadian dan bahkan jiwanya sendiri. Arwah yang berada dalam tubuh Katie setelah ditemukan, adalah mahluk lain yang kuat nan berbahaya.

Apakah Katie memang sudah tidak ada sama sekali? Mahluk yang mendiami tubuh Katie pun memang bertujuan jahat saja? Atau ada skema lain dari sekte sesat yang menculik ke-57 anak tersebut?

Jawabannya, tentu ada di ritual pencarian anak ala sinema Indonesia.

Referensi Mumi dan Sarkofagus Ribuan Tahun

Satu referensi lagi, yaitu mumi dan sarkofagus yang berusia lebih dari 3000 tahun. Walau referensi peradaban 3000 tahun lalu mengacu pada kebudayaan besar seperti Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan Cina Kuno, namun praktek mumi sebenarnya cukup mendunia. Contohnya di Indonesia saja terdapat empat lokasi tradisi memumikan mayat, yaitu di Suku Toraja Sulawesi Selatan, Kampung Wolondopo di NTT, serta Suku Dani dan Suku Moni di Papua.

Sementara referensi sarkofagus berusia ribuan tahun, tidak hanya berasal dari Mesir Kuno saja. Contohnya dari Romawi Kuno, Persia Kuno, dan China Kuno. Tampaknya setiap wilayah peradaban besar dunia jaman sebelum Masehi tersebut, memiliki praktek dan khas sarkofagus-nya tersendiri. 

Bahkan di Indonesia, khususnya Bali pada tahun 2009 lalu, ditemukan sekitar 200 sarkofagus berusia 2000an tahun. Indonesia jaman tersebut belum memiliki kebudayaan besar manapun, yang ternyata memiliki ritual khas pemakaman awetnya sendiri.

Raja Korea Selatan yang Diasingkan Ala Film The King's Warden

 

Raja Danjong yang masih mewah saat diasingkan (TMDB).

Akhirnya, ada film drama kerajaan pula dari Korea Selatan, berjudul The King's Warden, yang tayang minggu ini di sinema Indonesia. Film dengan rating R13 (remaja) ini memang kombinasi unik antara sub-genre drama dan kerajaan sekaligus. Latar semacam ini cukup jarang diproduksi oleh sineas perfilman Korea Selatan, karena targetnya mengacu pada ranah internasional ala film Hollywood.

Film drama kerajaan dari Korsel yang pernah penulis tonton pun, cukup sedikit. Terakhir kalinya, penulis baru saja menonton film dan serial The Kingdom (2019-2020, 2021), yang berisi drama kerajaan dan malah bertema zombie pula. Ya, film yang berisi aktris Bae Doona ini memang bergenre horor zombie, cukup jauh dengan judul filmnya. Walau begitu, drama kerajaan ala abad pertengahan hingga renaisans ini, ternyata cocok dengan segala intrik di sistem monarki-nya.

Mengacu pada drama monarki, dan kembali ke film The King's Warden, ternyata cuplikannya memberi kesan berbeda. Biasanya di film kerajaan dari berbagai negara manapun, berisi kisah epik peperangan atau politik monarkinya. Namun dari cuplikan film ini, justru menunjukkan sisi drama monarki, yang langsung terkait dengan rakyat kecil di Korea. 

Kisahnya memang berkutat pada seorang raja, yang terasingkan setelah terjadi kudeta di istana kerajaan. Kisah seperti ini sudah cukup sering diadaptasi di banyak film, yang memang mengambil referensi dari sejarah aslinya. 

Khusus untuk membahas monarki, kisah sejarah ini dapat terjadi akibat kesalahan raja atas kepemimpinannya, kudeta dari pemerintahannya sendiri, aturan garis keturunan raja, peperangan yang menyebabkan raja dan penerusnya meninggal, atau bahkan pemberontakan dari rakyatnya sendiri. Tentu kadang tercampur dengan banyak dinasti bangsawan saat masa tersebut, yang memang tidak suka dengan raja saat ini, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Yah, jangan dibahas-lah dengan keadaan politik saat ini (khususnya di Korsel). Kadang memang mirip, tapi ya sistem dan peradaban jaman sekarang sudah terlampau jauh. Jadi kisah ini, memang selayaknya jadi referensi sejarah saja, dan bukanlah referensi untuk diulang kembali, layaknya petuah dari Soekarno terdahulu.

Oh ya, dari judulnya saja, arti The King's Warden bisa diartikan simbolis. Dalam cuplikannya, terlihat raja masih bersemangat untuk mengembalikan tahtanya. Raja muda ini memang ingin memajukan Korea, dan secara harfiah dengan bantuan langsung rakyatnya di desa pengasingan. Selayaknya simbol tersebut, The King's Warden yang berarti Penjaga Raja, adalah usaha rakyat untuk menjaga rajanya sendiri, walau urusan kerajaan yang terlalu berbelit-belit untuk diurusi oleh rakyatnya langsung.

Sinopsis Film The King's Warden

Eom Heung-do (Yoo Hai-jin) adalah seorang rakyat Korea biasa, yang diinterogasi oleh pejabat kerajaan saat berkunjung ke wilayah kota dekat istana. Dia pun terpaksa menceritakan wilayah desanya, yang memiliki lokasi rumah terpencil mewah milik kerajaan, dan cocok sebagai area pengasingan.

Namun saat pejabat yang diasingkan tiba, dia pun terheran-heran. Bahkan salah satu temannya perlu marah sambil mengingatkan, bahwa yang diasingkan adalah Raja Danjong (Park Ji-hoon) yang dimakzulkan dari tahtanya. Saking merasa bersalah, Heung-do lalu mulai sering berkunjung ke area pengasingan, demi menemani sang mantan raja tersebut.

Ternyata kedekatan keduanya melebihi hubungan antara raja dan rakyatnya. Raja Danjong sangat menyukai kesederhanaan Heung-do bersama seluruh warga desanya. Walau masih tidak rela dimakzulkan, dirinya menikmati keseharian baru di desa kecil tersebut.

Hingga suatu hari drama dari istana kerajaan semakin membesar, dan meruak hampir ke wilayah desa pengasingannya. Raja Danjong yang tidak ingin desa kecil ini ikut tergerus urusan kerajaan, perlu mencoba segala cara demi mengamankan semuanya. Bahkan dengan bantuan langsung dari Heung-do, yang masih heran dengan kedekatannya bersama raja.

Sanggupkah Raja Danjong dan Heung-do mengamankan desa kecil milik semuanya? Atau malah terjadi pengkhianatan dari banyak sudut pandang dan kepentingan?

Jawabannya, ada di drama pangeran Korea Selata ala sinema Indonesia.

01 April 2026

Kebiasaan Drama Ala Indonesia dalam Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Entah, ya (TMDB).

Setelah banyak film keluarga yang meramaikan libur Lebaran kemarin, sekarang dirilis lagi film yang mengambil latar sehari-hari Indonesia. Dengan judul yang agak ribet, yaitu Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya? Film ini mengadaptasi latar kelas menengah lokal, dengan rating umur R13 (Remaja).

Aktor kawakan yang sering berperan komedi namun dengan wajah dingin, Dwi Sasono mengisi film ini sebagai fokus utamanya, yaitu sebagai Yudi alias ayah dari keluarga ini. Walau begitu, karakter utama dengan sudut pandangnya yang kental adalah Dira yang diperankan oleh Mawar Eva De Jongh. Film ini diadaptasi pula dari novel hasil karya Khoirul Trian.

Berbeda dengan beberapa bahasan sebelumnya di blog ini mengenai keluarga disfungsional, satu anggota atau seluruhnya, justru di film ini tidak bersudut pandang yang sama. Terlihat pada cuplikannya, bahwa sang ayah masih berada dan cukup berfaedah. Namun hanya kehadiran sosok saja, sementara sosok pribadi yang berperan sebagai ayah, kurang hadir dalam keluarga tersebut.

Bahkan dalam cuplikannya, anak kedua bernama Darin (Rey Bong) adalah seorang anak nakal, yang sering terjebak tawuran di sekitar sekolahnya. Namun kehadiran sosok ayah yang kurang tegas, justru tidak mengacu pada tindakan sewajarnya keluarga. Yudi malah mendiamkan, seakan sosoknya hanya ada untuk mengisi saja di keluarga ini.

Sementara ekonomi keluarga Dira cukup berjalan walau pas-pasan, dengan usaha Soto Bu Lia yang dijalankan oleh Lia (Unique Priscilla) serta dibantu oleh Yudi. Selama ini Yudi memang hanya membantu keluarga saja, tanpa kontribusi lebih selain mengantar barang dan keluarga dengan mobilnya.

Mungkin dari segi cerita ini, lebih baik diingatkan dengan satu aspek saja, yaitu komunikasi. Kadang dalam suatu keluarga, kesenggangan satu sama lainnya dapat menciptakan jarak. Bahkan, setiap anggota keluarga menjadi kurang tertarik dengan yang lainnya.

Bahkan lebih parah lagi, terdapat banyak contoh dimana ayah-ibunya bekerja, namun keluarga tersebut terlihat disfungsional. Setiap anggotanya hanya fokus mengurusi urusannya sendiri, dan berujung tidak dapat menyelesaikan masalah saat konflik keluarga terjadi.

Karena itu, komunikasi satu keluarga harus ditanam dengan baik, tanpa adanya rasa segan berlebih. Selain peran yang terisi, tentu setiap anggota harus mengenal satu sama lain, dengan lebih mendalam karena bukanlah siapa-siapa, melainkan masih satu atap bersama.

Apalagi sosok ayah-ibu sebagai orangtua, adalah pemimpin dan pengemudi keluarga, yang membawa anak-anaknya menuju jalannya masing-masing. Setelah itu, anak yang menumpang pun akan menjalani kehidupannya sendiri, bersama keluarga baru tentunya.

Sinopsis Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

Dira (Mawar Eva De Jongh) dan Darin (Rey Bong) sangat merindukan istilah keluarga idealnya. Keduanya heran dengan sosok ayahnya, Yudi (Dwi Sasono) yang terasa ada dan tiada di kehidupan rumahnya. Bahkan saat Darin terjebak tawuran sekolah, Yudi tidak menanggapi sama sekali. Sementara ibu mereka, Lia (Unique Priscilla) memilih sibuk di Soto Bu Lia-nya, untuk menghidupi keluarga.

Hingga sang ibu akhirnya celaka di rumah. Akibat kompor yang meledak, Lia terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan perlu dirawat inap. Sementara Yudi terpaksa meminjam sana-sini, demi menghidupi rumah serta membayar perawatan Lia.

Saat terjebak banyak masalah, Dira mulai merasa kangen dengan sosok Yudi dan Lia yang sesungguhnya. Walau mereka sebenarnya hidup berkecukupan, namun ketiadaan komunikasi yang lancar diantara mereka, menyebabkan banyak jarak dan kesenggangan. 

Bagaimanakah kelanjutan dan akhir kisah keluarga rata-rata Indonesia saat ini? Jawabannya tentu ada di ranah kelas menengah ala sinema Indonesia.