26 November 2025

Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21

Ilustrasi tradisi budaya Indonesia (Freepik).

Saat bidang keilmuan dongeng dikembangkan, inovasi terpenting adalah analisa materi yang komparatif. Dilansir dari Britannica, standar identifikasi dongeng diciptakan, yang merujuk pada balada (oleh F.J. Child), dan untuk plot serta komponen motif pada dongeng dan mitos (oleh Antti Aarne dan Stith Thomspon). 

Komponen motif layaknya Pamali di budaya Pulau Jawa, yang secara tradisional mengemukakan apa yang bisa dilaksanakan atau tidak. Kadang, Pamali mengacu pada banyak hal berbau mistis atau takhayul (yang sering muncul dalam berbagai dongeng), karena sesuai dengan pewarisan ceritanya yang empiris, dan belum didukung oleh kajian yang tepat.

Dengan standar tersebut, ahli dongeng dari Finlandia yang dipimpin oleh Kaarle Krohn, mengembangkan metode penelitian sejarah-geografis. Teknik ini mengenali banyak varian dongeng, balada, teka-teki, atau sejenis prosa yang diklasifikasikan dari tempat dan waktu koleksi, agar kajian pola distribusi dapat dilaksanakan dan membentuk pola orisinalnya. 

Standar tersebut layaknya kajian dongeng di Indonesia, yang sejak merdeka dapat  mengkategorikan asal dongeng sesuai dengan wilayahnya secara administratif, tanpa perlu bantuan ahli dongeng dari Eropa (khususnya Belanda). Biasanya, mengacu pada suku di wilayah tertentu, yang akhirnya terdaftar sebagai provinsi atau kota di Indonesia.

Metode penelitian sejarah-geografis memang mengacu pada statistik, dan tidak berdasar spekulatif, jika dibandingkan dengan ahli dongeng antropologi, yang mendominasi setengah awal abad 20 lalu.

Setelah Perang Dunia II berakhir, tren baru akhirnya muncul, khususnya di AS. Minat pada dongeng tidak hanya terbatas pada komunitas rural alias pelosok, namun dikenali di banyak kota, dengan komunitas tertentu berkarakteristik seni, budaya, dan nilai yang mengacu pada identitas mereka.

Namun, ahli Marxisme terus mengacu pada dongeng sebagai bagian dari kelas pekerja. Sementara di komunitas lainnya, batasan kelas telah hilang konsepnya, dan bahkan pada berbagai tingkatan pendidikan. 

Setiap kelompok yang mengekspresikan kepaduan dirinya dengan menjaga tradisi yang sama, diklasifikasikan sebagai bagian dari 'warga,' walau berbeda faktor pekerjaan, bahasa, tempat tinggal, umur, agama, dan etnis aslinya. 

Dari segi ini, layaknya banyak fakultas bahasa yang dipadukan dengan seni pada satu struktur yang sama pada universitas di Indonesia. Komunitas tersebut berkembang sebagai pemerhati, praktisi, dan ahli kebudayaan, khususnya saat pagelaran seni dan bahasa yang mengisahkan dongeng.

Perubahan ini mengacu pada perbedaan antara masa lalu ke sekarang, dengan pencarian dan investigasi mengenai asal, maksud, dan fungsi dongeng untuk jaman sekarang. Sehingga, perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap merusak tatanan budaya.

Dengan sudut pandang kontekstual dan pertunjukan, analisis di akhir abad 20, contohnya pada cerita, lagu, drama, atau budaya, telah merubah fungsi dongeng dari sebuah rekaman budaya, menjadi bagian dari budaya itu sendiri.

Setiap fenomena yang terjadi. dianggap sebagai bagian dari momen yang muncul disebabkan interaksi antara individu dan kelompok sosial, yang memenuhi berbagai fungsi serta memuaskan kebutuhan para artis serta penontonnya.

Dengan pandangan sosiologis dan fungsional ini, sebuah acara dapat dimengerti hanya dalam konteks keseluruhan saja, diantaranya dari biografi dan kepribadian artis, perannya di komunitas, repertoar dan keseniannya, peran penontonnya, momen saat pertunjukan berlangsung, serta kontribusi acara bagi maksud dari dongengnya itu sendiri.

Dengan begitu, setiap komunitas budaya, baik itu berasal dari warga atau sanggar seni khusus, dapat menginterpretasikan khas budaya serta dongeng tradisional dalam sebuah pertunjukan. Komunitas budaya adalah representasi dari banyak nilai budaya, yang normanya layak dipertahankan sebagai identitas komunitas. 

Namun, praktisi seni dapat mengkaji, merekayasa, serta mempraktekan perubahan sosial, sesuai dengan kebutuhan pertunjukan atau keadaan sosial yang sedang berlangsung. Contohnya baru-baru ini, kisah Malin Kundang yang berasal dari tanah Minang, diadaptasi menjadi sebuah film dengan perubahan kondisi latar serta sosialnya. Film berjudul Legenda Kelam Malin Kundang pada bulan November lalu, disebut pula dengan istilah reinterpretasi dongeng.

Lalu muncul kajian dongeng saat pertengahan abad 20, yaitu sebuah konsep legenda urban (urban legend). Yaitu, sebuah cerita mengenai momen tidak biasa, yang banyak warga percaya atau tidak. Legenda urban menjadi media yang semakin lumrah, layaknya berkisah legenda urban melalui media, khususnya di media massa. 

Karenanya, banyak cerita legenda urban berisi hantu yang tiba-tiba muncul di latar sebuah adegan film atau foto, dan berbagai pesan kesetanan yang tersembunyi (contohnya pada banyak lagu yang jika dimainkan terbalik, maka terdengar horor). Kisah seperti ini banyak meruak pada akhir abad 20 lalu, sehingga menambah ramainya jenis dongeng di jaman modern.

Seperti contoh Malin Kundang di tahun 2025 lalu, cerita dongeng seperti Si Pitung (yang memang belum ditemukan keabsahannya), atau Si Kabayan, Sangkuriang, dan banyak kisah dongeng lainnya diadaptasi dengan format sinetron atau film. 

Khususnya pada kisah legenda urban, maka cerita seperti Si Manis Jembatan Ancol, Jembatan Emen, Suster Ngesot, Rumah Kentang, serta banyak cerita horor legenda urban lainnya, sesuai dengan kategori dongeng. Yaitu, masih terikat dengan sejarah dan geografisnya. Sementara reinterpretasinya, muncul saat film atau sinetron diproduksi lalu dirilis, dengan target penonton yang lebih banyak dan luas, layaknya media massa.

Peran Dongeng di Abad 21

Banyak yang khawatir bahwa perubahan abad, dengan tibanya internet, dapat menghancurkan peran dongeng. Namun, justru World Wide Web menjadi teater utama untuk produksi dan transmisi banyak dongeng rakyat.

Perubahan ini tiba dengan perbedaan lainnya, yaitu dari teoritis (seperti Trevor J. Blank pada buku Folklore and the Internet) dan praktisnya (seperti cepatnya adaptasi budaya rakyat untuk menyebar dan berubah di dunia daring).

Komunikasi di Internet yang konstan, dan bisa dua arah, menyebabkan perubahan yang kentara dalam mengisahkan dongeng. Pada awal abad 21, akses Internet lebih mudah daripada akhir abad 20 (yang biasanya berlatar forum dan situs). Sehingga, kisah dongeng atau legenda urban di awal abad 21, semakin meruak dengan ramainya para peseluncur daring.

Internet adalah bank data bagi para pendongeng, untuk mengoleksi banyak cerita dongeng, dan menerapkan metode baru dalam menganalisanya. Pendongeng mengoleksi data melalui wawancara dengan kelompok atau individu, atau dengan meramban dan membaca situs. 

Data digital lalu dikompilasi pada basis data, yang digunakan oleh ahli untuk memformulasikan pertanyaan penelitan, atau melaksanakan pembacaan jarak jauh, sebagai teknik yang digunakan untuk menganalisa pola dari banyak isi teks. Banyaknya data mengenai dongeng, dapat menambah banyak analisa statistik, seperti analisis jejaring sosial, yang dapat diterapkan di lapangan.

Layaknya seorang perpustakaan, Internet adalah lokasi dimana banyak buku, kajian, dan jurnal ditempatkan untuk dibaca oleh banyak warga. Tanpa administrasi tambahan selain biaya dan alat, maka internet adalah ahan bagi siswa, akademisi, dan praktisi kebudayaan. Selain menjadi bahan bacaan, banyak penelitian dapat dilaksanakan melalui internet, dengan mengacu pada sumber yang terpercaya.

Sementara perkembangan Internet serta kebudayaan saat ini, layanan daring adalah lokasi khusus untuk mencari data tersebut. Dengan istilah konten, banyak warganet membaca internet sebagai tahap untuk meraih dongeng, dalam berbagai format pertunjukkan. Berbagai layanan daring untuk membaca konten, seperti berlangganan atau sekali bayar, adalah cara untuk dapat meraihnya. 

Praktisi serta ahli kebudayaan pun mengandalkan internet sebagai bank data miliknya, baik itu sebagai fungsi dari institusi, atau pelayanan kepada warganya. Hubungan bisnis tersebut berjalan dengan alami seiiring perkembangan internet, sebagai bagian dari komunikasi serta warisan budaya, yang khusus diantaranya adalah dongeng serta banyak kisah lainnya.

19 November 2025

Rasanya Hari Kamis Tidak Semengerikan di Film Danyang Wingit Jumat Kliwon

 

Rasanya wayang tidak semengerikan ini (TMDB).

Okeh, setelah brutalnya film Indonesia di ranah lainnya, saatnya kembali ke budaya tradisional Indonesia, khususnya yang dimodifikasi dalam film Danyang Wingit Jumat Kliwon, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Kurang berfaedah rasanya membahas Jumat Kliwon, tanpa membahas referensinya itu sendiri. Dalam nama hari Jawa, Kliwon adalah salah satu nama hari yang begitu sakral bagi sistem tradisinya. Dari namanya sendiri, Kliwon dianggap sebagai waktu terbukanya dimensi dunia manusia dan ghaib. Berarti, saat mistis paling kentara terasa di hari tersebut. 

Kadang, terdapat satu kepercayaan lain yang nyeleneh mengenai Kliwon, yang kebetulan tercampur pada satu hari Jumat. Yaitu, suatu malam keramat, yang harus dilaksanakan dengan ritual mistis. 

Saking nyelenehnya, para pengabdi jurig, melaksanakan ritual edan saat malam Jumat Kliwon. Bahkan, ada yang sampai membongkar kuburan orang baru meninggal, demi mendapatkan sepotong bagian tubuh, yang nantinya dipakai sebagai jimat.

Saking horornya kejadian semacam tersebut, kadang di kampung yang masih kentara mistisnya, dilaksanakan ritual khusus. Jika ada seseorang yang meninggal menjelang Jumat Kliwon, maka makamnya harus dijaga hingga setelah hari tersebut berlalu.

Warga desa takut, bahwa ada seseorang atau sekelompok orang, yang masih percaya dan memanfaatkan momen 'mistis' tersebut. Padahal, warga hanya ingin menghargai orang yang meninggal, dan tidak ingin jenazahnya kehilangan apapun, alias bagian dari Pamali yang benar.

Padahal, di Indonesia sendiri yang mayoritas menganut Islam, para penyembah jurig tersebut sudah keterlaluan. Jumat adalah hari besar bagi umat muslim, maka malam Jumat biasanya diisi dengan mengaji.

Dan kembali ke budaya Jawa, tidak ada ritual semacam oknum tersebut. Kebanyakan, tradisi mengacu simbolis, dengan nilai norma baik yang dijunjung tinggi.

Okeh, sudah terlalu berat, saatnya kembali ke sinopsis film Danyang Wingit Jumat Kliwon. Memang, layaknya film luar negeri yang mengisahkan horor, banyak ritual tradisionalnya dimodifikasi, agar sesuai dengan kebutuhan cerita dan plot. Padahal jika dicek (melalui internet), ritual aslinya tidak semenyeramkan itu, dan bahkan mencontohkan nilai baik.

Oh ya, bagi yang merasa heran dengan nyanyian tradisional Jawa, maka jangan langsung mengacu pada hal horor. Bagi yang suka menonton Wayang bersama sinden-nya (di YouTube), justru terdengar merdu. Mungkin, pendengarnya saja yang kurang paham (atau persepsi) mengenai bahasa dan budaya Jawa.

Oh ya lagi, bagi yang kurang suka dengan adegan kekerasan nan sadis, maka film horor ini cukup menyajikan berbagai adegan darah-mendarah dan daging-mendaging, yang bisa jadi kurang suka menontonnya.

Sinopsis Film Danyang WIngit Jumat Kliwon

Citra (Celine Evangelista) adalah seorang penyanyi yang tengah mencari kerja, demi membantu pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza). Kebetulan, padepokan yang kenalannya, Mbok Ning (Nai Djenar Maesa Ayu) bekerja, membutuhkan seorang sinden untuk pagelaran wayangnya. 

Baru beberapa hari pindah ke lokasi padepokan, Citra langsung diberi petuah dari Dalang Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan). Dalang yang ambisius tersebut, menegaskan bahwa seluruh ritual Wayang Ruwat harus dilaksanakan dengan rapih, kalau tidak bisa kualat.

Berbagai ritual pun dilaksanakan oleh Citra, dengan bantuan langsung dari Mbok Ning. Namun, setelah beberapa lama melaksanakan ritual yang awalnya biasa saja, justru Citra semakin sering bermimpi aneh, bahkan hingga kesurupan.

Bara (Fajar Nugra) adalah salah seorang kru pendukung Wayang Ruwat, yang sudah mengenal berbagai ritual di padepokan Ki Mangun Suroto. Bara semakin heran memperhatikan perubahan ritual di padepokan, yang makin berbeda saat Citra datang, dan membuat Bara semakin curiga.

Bara yang sebenarnya tidak ingin ikut campur, tidak tahan juga. Bara akhirnya mencoba membantu Citra, untuk dapat 'selamat' dari seluruh ritual di padepokan. 

Apakah Bara dan Citra bisa selamat dari ritual mengerikan di Padepokan Wayang Ruat? Atau malah ritual berhasil dan Ki Mangun Suroto semakin sakti? Atau mahluk dari dunia lain yang terpanggil malah murka dan membasmi semua pihak yang terkait?

Jawabannya, tentu dapat dilaksanakan ritualnya di padepokan mistis sinema-sinema Indonesia.

Beraksi ala Pengacara Indonesia di Film Keadilan

 

Raka yang sudah siap habis demi keadilan (TMDB).

Okeh, saatnya film Indonesia yang mengadaptasi sebuah kisah berat nan sulit, yaitu tentang hukum di negara tercinta, dengan film berjudul Keadilan, yang sedang tayang di banyak sinema.

Mungkin penulis kurang ngeuh (ngerti) tentang urusan hukum, tetapi jelas memang, tetap memantau masalah berita sekarang, yang 'mengedepankan' korupsi, salah tangkap, kriminalitas tingkat tinggi, sensasi politikus, tanpa penyitaan aset, denda yang rendah, hingga dakwaan yang dibuat-buat di segi ranah hukum Indonesia.

Setiap kali membaca berita kontroversial Indonesia, seakan menguji 'nyali' dan nalar warga sekalian. Bagi warga biasa yang kurang mengerti urusan hukum, nalar seakan ditantang ala melawan 'jurig.' Hasilnya? Malah semakin kurang ngeuh dengan keadaan hukum di Indonesia.

Nah, kembali ke film Keadilan yang diperankan oleh dua aktor ternama, yaitu Rio Dewanto dan Reza Rahardian, hukum diadaptasi dengan lebih brutal lagi. 

Dari cuplikannya saja terlihat, seorang tersangka yang menyiksa ibu hamil, namun tetap dibebaskan. Bahkan saking marahnya, Raka (Rio Dewanto) yang bekerja sebagai petugas keamanan di pengadilan, perlu 'turun dan menyandera' proses pengadilan tersebut (!)

Jadi teringat se-ekstrem apa situasi tersebut, layaknya demonstrasi besar pada bulan September kemarin. Demi berunjuk rasa kepada instansi DPR-DPRD-DPD, banyak pemuda (yang banyak diantaranya masih SMA), bahkan bertindak hingga membakar gedung perwakilan rakyat di banyak daerah.

Bukan tindakan terpuji memang, dan salah arahan kebebasan berpendapat, karena jelas berakhir rusuh dan anarkis (!) Namun, tindakan seperti itu, jika dilaksanakan tanpa momen unjuk rasa, maka pelakunya akan berakhir dibui (!) 

Dengan dakwaan kerusuhan hingga merusak fasilitas publik (!) Bahkan, bisa berujung dakwaan terorisme (!) Karena tetap diluar batas aturan kebebasan berpendapat dan unjuk rasa (!)

Nah, kembali ke film Keadilan, dalam cuplikannya terlihat, bahwa anggota Detasemen Khusus (Densus) Kepolisian Indonesia telah bersiap, untuk buru sergap Raka. Namun, karena resiko banyak sandera dalam gedung pengadilan, maka ditunda demi alasan keamanan korban.

Bahkan dalam film ini pun, terlihat bahwa aparat masih memantau dengan seksama, tanpa tergesa-gesa, karena masih berurusan dengan warga biasa (sebelum didakwa dan divonis).

Jadi teringat, dengan kisah kejadian hari Minggu kemarin (dari segi pengalaman penulis sendiri). Beberapa minggu lalu di Bandung, terdapat kejadian naas di Jembatan Layang Pasupati. Kejadiannya cukup miris, dan berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

Namun, beberapa minggu kemudian, tepat pada hari Minggu saat berolahraga di Car Free Day (CFD) Dago, justru terbalik dengan momen sebelumnya. Ratusan warga dari sekitar Bandung berkumpul, untuk jalan-jalan, joging, senam, lalu sarapan, dan bahkan mendengarkan lagu di sekitar CFD.

Bukan menyepelekan, namun maksud dari momen ramai tersebut, seakan 'menimpa' kejadian naas sebelumnya. Daripada harus terus protes dengan arahan tidak jelas, maka lebih baik diisi dengan kegiatan positif bersama orang terdekat. Bahkan salah satu lokasi pengamen di bawah Pasupati, dengan lantang (dan beberapa kali) menyanyikan lagu 'Arti Kehidupan' dari sang legenda, Doel Sumbang.

Jadi, kembali ke film Keadilan yang tokoh utamanya bertindak dramatis, bahkan sampai anarkis dan teroris, maka sebagai warga biasa harus berkaca saja. Apakah perlu bertindak sejauh itu? Atau 'melawan' dengan cara positif, yaitu berolahrasa, berolahraga, sambil menahan mirisnya kehidupan?

Sinopsis Film Keadilan

Raka (Rio Dewanto) adalah seorang petugas keamanan pengadilan Indonesia. Bersama istrinya yang tengah hamil, Nina (Niken Anjani), mereka baru saja merayakan kelulusan Nina sebagai pengacara muda.

Namun naas, Nina yang sudah hamil tua, malah dibunuh dengan sadis oleh seorang pemuda psikopat, bernama Dika Akbar (Elang El Gibran). Walau sudah jelas bersalah, Dika masih dibela habis-habisan oleh pengacaranya yang terkenal korup, Timo (Reza Rahardian). 

Bahkan, dakwaan berbalik langsung kepada Raka, saat seorang saksi menyatakan bahwa senjata bukti pembunuhan, dipegang oleh Raka yang baru tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Saking marah dan 'nothing to lose,' Raka pun bertindak anarkis, bahkan teroris, untuk membalas dendam. Saat pengadilan berjalan, Raka masuk ruangan sambil menembakkan pistol, lalu menyandera seisi gedung. Raka bahkan mengancam, bahwa banyak bom telah ditanam di seluruh lokasi gedung.

Raka meminta kepada Hakim dan Jaksa, untuk mengulangi seluruh proses pengadilan. Walau bertindak ekstrem, Raka masih memberi kesempatan pada proses hukum, untuk menentukan siapa yang sebenarnya layak divonis bersalah.

Cukup ngeri film ini, jadi yang cukup penasaran dan heran dengan kejadian semacam ini, bisa bersaksi mata langsung di sinema-sinema Indonesia.

Dan Ingat! Stay Positive!

Kembali ke Prekuel Anime Jurig Fantastis di Jujutsu Kaisen: Zero Revival

 

Rika Orimoto dan Yuta Okkutsu yang sulit terpisahkan (TMDB).

Okeh, tampaknya salah satu rangkaian sinema Indonesia, gatal untuk merilis film anime yang masih ditunggu kehadiran musim berikutnya, yaitu Jujutsu Kaisen. Kali ini, filmnya bersub-judul Zero Revival (yang sebenarnya sudah dirilis tiga tahun lalu). 

Sebelumnya di blog ini, saya lebih banyak menulis di artikel Jujutsu Kaisen, tentang istilah 'kata' secara simbolis, yaitu saat sebuah kata bisa berarti 'lebih dalam,' dan mengacu pada kekuatan besar di dunia. 

Nah, sekarang daripada membahas esensinya (yang berujung kutukan di anime ini), lebih cocok lagi membahas Jujutsu Kaisen-nya sendiri lebih mendetail, tentu dengan sedikit spoiler saja ya...

Anime jurig fantastis ini memang memiliki beberapa spin-off, yang sebelumnya dibuat dengan judul yang pernah dibahas, yaitu Jujutsu Kaisen: Hidden Inventory/Premature Death. 

Kali ini, manga Zero Revival masih digambar oleh mangaka Gege Akutami. Dan masih sama seperti sebelummnya, merupakan prekuel dari cerita utamanya yang berkutat pada Yuji Itadori dan Sukuna.

Lebih heboh lagi, karena adegan yang tertampil dalam film Zero Revival sangat dahsyat. Dari cuplikannya, banyak adegan meledak-ledak yang melibatkan seluruh anggota Jujutsu Kaisen angkatan tersebut. Film Zero Revival berfokus pada tokoh utamanya, yaitu Yuta Okkutsu (Megumi Ogata). Mirip dengan Yuji, disini Yuta adalah seorang penyihir arwah spesial, yang berlatar cerita lebih miris lagi. 

Di serial anime-nya, Yuji melahap Jari Sukuna dan sanggup mengendalikannya, karena ingin membantu temannya yang diganggu jurig. Sementara Yuta, justru mendapatkan arwah tingkat spesial, karena temannya sendiri, Rika Orimoto (Kana Hanazawa) meninggal akibat kecelakaan. Tetapi, keduanya tidak rela untuk lepas satu sama lainnya.

Bahkan, Gojo Satoru (Yuichi Nakamura, yang kini sudah menjadi guru di Jujutsu Kaisen), harus menegaskan, bahwa cinta adalah sebuah kutukan paling rumit. Sebelum 'digerebek' dan 'diculik' oleh Gojo, Yuta yang baru masuk SMA, sempat mengurung diri di kamarnya. Yuta takut arwah Rika membasmi semua orang disekitarnya.

Gojo yang (seperti biasanya) memiliki sisi penyayang kepada anak-anak, bersikeras untuk mendidiknya di Jujutsu Kaisen. Padahal, selama bertahun-tahun terakhir, arwah Rika tidak dapat dikendalikan oleh Yuta. 

Selain mengajari jurus pada Yuta yang berpotensi hebat, Gojo pun mewaspadai kehadiran Suguru Geto (Takahiro Sakurai). Gojo yang sempat memantau perkembangan Yuta, tahu bahwa Geto sudah mendekati Yuta untuk merekrutnya. 

Gojo pun tidak rela melepaskan Yuta dibawah asuhan teman lamanya tersebut, yang dikenal sebagai penyihir pengkhianat nan berbahaya di jaman modern sekarang. Mungkin, momen Gojo mengajari Yuta, akan berakhir dengan reuni brutal dengan Geto.

Memang tidak lama kemudian, Geto yang telah mengumpulkan banyak penyihir jahat lainnya, menantang perang dengan Jujutsu Kaisen. Berpusat di keramaian Tokyo, Geto menantang arena Parade Malam Seratus Setan, yang berarti seluruh anggota Jujutsu Kaisen yang masih aktif, harus melawannya.

Apakah sosok Yuta yang masih pemula memang sehebat itu? Atau memang Geto hanya ingin membasmi seluruh penyihir Jujutsu Kaisen demi dunia jurig idealnya? Ataukah ada rencana lain dibalik kisruhnya dunia jurig di Jepang?

Jawabannya, tentu ada di film anime fantastis, Jujutsu Kaisen: Zero Revival.

Oh ya, banyak plot twist di film ini, yang sangat nyambung dengan serial anime-nya. Jadi, banyak info yang perlu ditelaah kembali, jika ingin menonton lagi kelanjutannya.

Oh ya lagi, Yuta Okkutsu sebenarnya sudah dikenalkan di akhir musim kedua anime Jujutsu Kaisen. Sayangnya, Yuta dikenalkan sebagai seorang agen dari dewan ketua Jujutsu Kaisen, yang harus memburu Yuji dan membasmi Sukuna-nya. 

12 November 2025

Menemani Sang Kekasih Sampai Akhir Hayat di Film Sampai Titik Terakhirmu

 

Shella dan Albi yang masih sumringah di lahan terbuka (TMBD).

Okeh, setelah berbagai film tentang kesehatan dirilis di sinema Indonesia, di bulan November ini akhirnya muncul film berjudul Sampai Titik Terakhirmu.

Sebelumnya di Juli lalu, film Sore: Istri Dari Masa Depan dirilis dengan mengisahkan tentang pola makan dan hidup yang sehat, walau dengan sedikit bumbu fantasi.

Dan di bulan September, film Agape: Unconditional Love dirilis dengan mengisahkan banyak sudut pandang karakter, pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda di satu rumah sakit, yang tentunya adalah situasi galau bagi banyak warga.

Nah, di film Sampai Titik Terakhirmu, bisa dibilang adalah kombinasi dari kedua film tersebut. Film ini berfokus pada sepasang muda-mudi yang belum menikah, namun bermasalah dengan kesehatan salah satunya.

Selain filmnya yang memang mengisahkan kesehatan, ternyata penyakit yang diderita karakternya adalah sejenis kanker, yang tentu perlu pengobatan canggih dan sulit untuk disembuhkan. Sang kekasih pun tetap setia dengan menemani pujaan hatinya, mulai dari masa sehat hingga menuju perawatan, hingga akhirnya perlu diopname dan dioperasi.

Mungkin film ini ingin memberi pertanyaan bagi penontonnya, apakah sebuah hubungan (romansa hingga romantis) hanya sekedar melihat fisik dan mental yang masih sehat saja? Atau perlu menanggulangi semuanya sampai titik penghabisan darah terakhir? Bahkan di saat umur masih muda dan banyak potensi cemceman lainnya?

Sayang seribu sayang memang, cobaan seperti itu terasa sulit, apalagi potensi diri yang belum mencapai puncaknya di masa muda. Karena itu, jaga kesehatan fisik, mental dan mencoba tanpa pamrih ya... Ikhlaskan saja... Tentu, maksudnya adalah 'Saat Kanker Datang, Cinta Tetap Bertahan.'

Oh ya, film ini diadaptasi dari sebuah kisah nyata Albi dan Shella, yang sempat viral di banyak media Indonesia pada tahun 2024 lalu. 

Sinopsis Film Sampai Titik Terakhirmu

Shella (Mawar Eva De Jongh) adalah seorang gadis aktif nan atletis. Kesehariannya diisi dengan banyak olahraga, khususnya sepakbola sambil berkiprah sebagai kaptennya.

Shella yang aktif, lalu memikat hati Albi (Arbani Yasiz), yang suka dengan tomboynya Shella. Keduanya saling bercengkrama tentang sepakbola, yang berakhir keduanya menjalin asmara sebagai sepasang kekasih.

Namun suatu hari, Shella yang tengah latihan berenang, tiba-tiba pingsan di tengah kolam. Shella lalu dilarikan ke rumah sakit, yang akhirnya terdiagnosa kanker.

Albi yang kaget tetap setia, bahkan sampai memotong rambut Shella demi menjalani kemoterapi. Albi yang cukup rela, bahkan berfoto wefie keduanya, sementara Shella telah botak plontos.

Albi yang memang ingin Shella ceria, bahkan menemani Shella bermain bola diatas kursi rodanya. Saking tidak ingin kehilangan, Albi bahkan berjanji untuk menikah dengan Shella.

Bagaimana akhir dari kisah keduanya? Tentu harus diresapi di sinema-sinema Indonesia.

Berasa Kaya Setelah Menemukan Sekoper Uang di Film Dopamin

Malik dan Alya yang sumringah ketiban sekaligus belah duren (TMDB).

Akhirnya, sineas perfilman Indonesia menelurkan sebuah film yang mengisahkan tentang drama kriminalitas tanpa aksi gelut, berjudul Dopamin, yang kini sedang tayang di banyak sinema.

Berbeda dengan khas film Indonesia yang berisi aksi silat yang brutal, kini di film Dopamin justru mengisahkan sepasang suami istri yang ketiban rejeki. Namun, ketibannya harfiah ala durian runtuh, alias kena kepala dan langsung 'knock.'

Karena tokoh utamanya adalah sepasang suami istri biasa, maka memberikan kesan berbeda. Keduanya bukanlah ahli beladiri maupun anggota keamanan, melainkan warga yang tertimpa situasi sulit setelah menemukan sekoper uang.

Situasi mereka yang sedang kesulitan keuangan pun, menyebabkan mereka bertingkah aneh. Drama diantara mereka pun semakin mencuat, dengan begitu banyak pertentangan batin akibat masalah ekonomi. 

Nah, apalagi dengan plot utama menemukan sekoper uang, yang biasanya sudah pernah dikhayalkan oleh banyak orang, dalam situasi dan kondisi apapun juga. Penulis sendiri belum pernah, bertemu orang yang belum berkhayal sejenis ini (hehe).

Patokannya kadang bukan masalah ekonomi, tetapi berasa praktisnya tiba-tiba menemukan uang tanpa syarat apapun, di tengah perjuangan hidup yang begitu memusingkan.

Mungkin ceritanya akan berbeda, jika nanti (seperti berita viral sekarang) redenominasi rupiah dilaksanakan dan diterapkan dengan baik dan benar di masa mendatang. Sekoper milyaran uang, nantinya hanya berarti jutaan saja (!)

Yaaah, namanya juga khayalan dan wacana... Tapi ya... kembali ke filmnya saja lah... Sulit memang kalau membahas keuangan, jadi ya kita bahas sinopsis film Dopamin saja ya...

Sinopsis Film Dopamin

Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) adalah sepasang suami-istri muda yang tengah kesulitan. Setelah di PHK dari pekerjaannya, Malik terpaksa mencari lowongan dan hutang kesana-kemari.

Usahanya tetap nihil, hingga suatu hari Malik bertemu dengan seseorang yang membantu. Malik diantar pulang oleh orang yang baru dikenalnya, karena mobilnya mogok di jalan. Karena sudah kemalaman, pengantarnya ikut tidur di rumah mereka. Namun, keesokan harinya, tamu tersebut sudah tidak bernyawa dengan jarum suntik di lengannya.

Mereka pun semakin kaget, karena menemukan koper yang dibawa tamunya. Isinya ternyata banyak uang kertas, yang dihitung mencapai milyaran rupiah dengan nominal 100 ribuan.

Saking paniknya akan kematian tiba-tiba tamunya, dan tergiur dengan uang tanpa jejak rekening digital tersebut, Malik dan Alya terpaksa menguburkan jenazah di dekat lingkungan rumahnya. 

Keduanya pun sempat sumringah, dengan banyak membayar hutang disana-dimari dan berbelanja kebutuhan sehari-hari, memakai uang hasil 'sitaan' mereka. Bahkan, mereka sering jalan-jalan dan makan di restoran mahal, layaknya jaman pacaran terdahulu.

Hingga suatu hari, Malik yang tengah membayar hutangnya ke sebuah warung, mendengar kabar bahwa rumahnya didatangi orang tak dikenal. Sejak saat itu, banyak drama, masalah, dan teror dari berbagai pihak. 

Tampaknya, pemilik sah uang tersebut telah melacak keberadaan uang mereka. Mungkin, keberadaan mobil dan ponsel 'korban' bisa dilacak oleh mereka, sehingga tidak terlalu lama untuk dapat menemukannya kembali.

Keduanya pun sempat bertengkar, bahkan hingga saling stres, mau dikemanakan uang, jenazah, mobil, dan hidup mereka yang semuanya sudah terlena namun terlenta-lenta.

Sanggupkah mereka melewati semua 'cobaan' tersebut? Atau milih meminta bantuan polisi dengan menyerahkan diri? Atau malah berakhir parah dan kehilangan seluruh hidup mereka?

Jawabannya, coba dicek saja di sinema-sinema Indonesia.

Animasi Fantastis ala China di Film The Legend of Hei 2

 

Hei dan Shifu Wuxian yang sedang jajan es krim (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke film dari negara Tiongkok China, alias negara tirai bambu, yang kali ini berjudul The Legend of Hei 2. Film yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, berformat animasi dua dimensi, berbeda dengan kebanyakan film saat ini (selain anime).

Setelah kesuksesan film Ne Zha 2 menjadi film animasi terbesar sepanjang masa, sineas perfilman China tampaknya melanjutkan animo tersebut di film The Legend of Hei 2.

Semangatnya pun masih sama, yaitu menceritakan kisah kungfu fantastis ala China, yang berbumbu mitologi dari sana. Dari cuplikannya, terlihat bahwa para karakternya bukanlah ahli beladiri biasa, melainkan penghubung antara dunia arwah dan manusia.

Dilirik sekilas, maka animo film The Legend of Hei justru lebih mirip film Panji Tengkorak dari Indonesia, yang lebih mengisahkan kekisruhan beladiri antar dua dunia. Tentu, karena film Panji lebih 'gelap,' maka animasinya pun lebih kasar nan brutal.

Justru, di film dari China ini lebih halus animasinya, dengan visual yang lebih cerah nan ciamik efeknya, serta pembawaan yang (mungkin) cocok untuk ditonton semua umur. Tokoh utamanya pun seorang anak kecil, yang baru saja belajar sebagai ahli beladiri 'dua dunia.'

Tentu, yang masih penasaran, perlu menonton film pertamanya di tahun 2019 lalu, yang dilanjutkan sebagai serial animasi berjudul The Legend of Luo Xiaohei. Dalam film pertamanya, Luo Xiaohei bahkan masih berbentuk arwah kucing, yang masih mencari jalan dalam menempatkan dirinya diantara dua dunia.

Sinopsis Film The Legend of Hei 2

Luo Xiaohei (Shan Xin) kini sudah menjadi murid dari Shifu Wuxian (Liu Mingyue). Hei sebagai nama panggilannya, kini memilih berbakti untuk menjaga perbatasan antar dua dunia, agar arwah atau manusia tidak saling menerobos.

Setelah sekian lama tanpa perkembangan berarti, Hei lalu diperkenalkan kepada Shiju Luye (Zhu Jing), yaitu murid Shifu sebelumnya. Ketiganya harus menyelidiki penyerangan di Serikat Liu Shi, yang dicurigai akibat manusia.

Tidak hanya mereka bertiga, Dewa Na Za pun tiba untuk membantu mereka dalam investigasinya. Namun, syaratnya adalah mengalahkan Na Za dalam sebuah video gim gelut, di kamarnya, yang tercolok pada sebuah konsol dan tv.

Dapatkah ketiganya menguak arti penyerangan di Liu Shi? Atau malah gagal mengalahkan Dewa Na Za dalam permainan gelutnya? Atau sebenarnya terdapat pihak lain yang membelot, sehingga Na Za perlu ikut turun membantu?

Jawabannya, dapat dicek di seluruh sinema Indonesia yang menayangkan film ini.

Berbagai Ilusi Pengalihan Ala Pesulap di Film Now You See Me 3

 

Rasanya terjebak di dunia trik sulap perfilman (IMDB).

Okeh, kali ini film berbeda dari ranah Hollywood sana, berjudul Now You See Me: Now You Don't, yang tentunya sedang tayang di sinema Indonesia. Berbeda, karena isinya sejenis perampokan bank (heist), namun para karakternya bukanlah pencuri atau perampok biasa, melainkan pesulap yang memang lihai membobol sistem keamanan. 

Filmnya di tahun 2025 ini memang seri ketiga, dimana pada tahun 2016, dirilis berjudul film Now You See Me 2, dan sebelumnya di tahun 2013, berjudul sama tanpa nomor 2.

Dari film pertamanya, Now You See Me memang berkutat pada keempat pesulap yang lihai dalam mengelabui sistem keamanan, yaitu J Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco), dan Henley Reeves (Isla Fisher).

Bagi yang sering menonton film Hollywood, maka pasti tahu berbagai aktor yang terkenal dan memerankan waralaba sulap ini. Kadang, aktor terkenal lainnya seperti Morgan Freeman dan Mark Rufallo ikut berperan dalam waralaba ini, walau tidak sebagai tokoh utama.

Kembali ke tokoh utamanya, keempat karakter tersebut dipanggil dengan nama kelompok Four Horsemen, yang khusus menargetkan lokasi 'pencucian uang' para kriminal, seperti kasino, gedung opera, dan banyak lainnya. 

Four Horsemen melaksanakan pembobolan dengan banyak trik sulapnya, sebagai pengalihan dari sistem keamanan gedung serta para personilnya (dan bahkan penontonnya).

Visual dan trik sulapnya pun menarik, karena sangat heboh dan hampir tidak mungkin, mirip dengan banyak trik sulap aneh di panggung lainnya. Bahkan bisa dibilang, terlalu fantastis dan tidak mungkin dilakukan, walau banyak trik sulap 'asli' sangatlah tidak masuk diakal.

Jadi, waralaba film Now You See Me cukup unik, dibanding film perampokan atau pembobolan keamanan lain. Film lain biasanya menyajikan alat atau sistem keamanan yang canggih, dengan metode pembobolan yang lebih canggih pula. Namun, di waralaba ini justru ditambah dengan bumbu trik sulap.

Okeh, saatnya kembali ke sinopsis film penuh aktor mahal ini.

Sinopsis Now You See Me: Now You Don't

J Daniel Atlas (Jesse Eisenberg) harus kembali membobol sebuah sistem keamanan, walau tim Four Horsemen telah tercerai berai. Seperti biasa, Atlas terpaksa mematuhi permintaan dari Thaddeus Bradley (Morgan Freeman), yang 'terkenal' suka memaksa para anggota Four Horsemen.

Di tengah kegamangan timnya, Atlas lalu mencoba merekrut anggota tim pesulap baru, Charlie (Justice Smith), Bosco (Dominic Sessa) dan June (Ariana Greenblatt). Mereka adalah pesulap muda, yang cukup mengerti dunia lain dibalik 'sulap.'

Kali ini, targetnya adalah sebuah berlian berbentuk hati nan berukuran besar, yang dianggap sebagai bahan pencucian uang bagi komplotan kriminal Vanderberg. Saking nekatnya, mereka berempat harus merebut berlian tersebut tepat saat dipamerkan, dari pemiliknya yang bernama Veronika Vanderberg (Rosamund Pike).

Saat tengah melarikan diri, kebetulan mereka bertemu dengan anggota Four Horsemen yang asli, yaitu Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco), dan Henley Reeves (Isla Fisher).

Karena terpaksa membuka operasi mereka, keempat anggota Four Horsemen pun mengisyaratkan, bahwa seluruh tim harus bertemu kembali Bradley. Walau berbahaya, lebih berbahaya lagi jika berlian tidak langsung diserahkan, sekaligus merencanakan pelarian mereka berikutnya.

Oh ya, jika dibandingkan dengan film Now You See Me lainnya, cuplikan film seri ketiga ini justru lebih banyak terisi adegan aksi dan gelut yang fantastis. 

Tentu, aksi tersebut dapat ditonton di sinema-sinema Indonesia.

Berlari Sebrutal Mungkin Dalam Kompetisi Film The Running Man

 

Ben Richards yang sumringah (mungkin) cuan (IMDB).

Mungkin daripada berjalan saja demi protes, sudah saatnya kita berlari saja untuk mencari uang alias duit. Cerita seperti ini diangkat oleh film The Running Man, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Tentu, sebelum membahas filmnya, ternyata film ini adalah hasil adaptasi novel sang novelis terkenal (khususnya horor atau kengerian lainnya), yaitu Stephen King, dengan judul yang sama dan dirilis tahun 1982 lalu.

Bulan September lalu, karya Stephen King yang berjudul The Long Walk diadaptasi ke layar lebar (dan mungkin memicu ramainya unjuk rasa selama September kemarin). Kali ini di The Running Man, justru mengisahkan tentang tokoh utamanya yang harus berlari terus dalam suatu kompetisi.

Tokoh utama dalam novel The Running Man memang seorang yang depresi karena berbagai hal, namun masih semangat untuk mencari jalan keluar, khususnya untuk mengejar cuan. Dunia dalam novel inipun sudah mencapai tahap dystopia, yaitu kacaunya dunia canggih serba brutal tanpa aturan norma.

Novel ini pun sebenarnya sempat diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1987 lalu, dengan judul yang sama, namun tokoh utamanya diperankan oleh Arnold Schwarzenegger. 

Berbeda dengan film reka ulangnya di tahun 2025 ini, dalam film 1987, tokoh utamanya justru berlatar seorang narapidana dan mantan polisi, yang dapat bebas dari hukuman dengan mengikuti sebuah kompetisi brutal, bernama The Running Man.

Ya, di dunia novel ini, banyak narapidana dapat mengikuti kompetisi The Running Man, yang ditayangkan di televisi secara nasional, agar dapat terbebas dari hukumannya. 

Namun, resikonya adalah mati, karena setelah kompetisi dimulai, sekelompok pemburu akan mengejar dan menangkap kontestan, dengan cara apapun juga, bahkan saat masih hidup atau telah mati. Memang penggambaran yang cocok di dunia dystopia.

Naaah, di film 2025 ini, latar tokoh utama dan dunianya pun berbeda, namun dicek saja di sinopsisnya saja ya...

Sinopsis The Running Man

Ben Richards (Glen Powell) adalah seorang pengangguran yang keras kepala, walau telah didaftar hitamkan (blacklist) oleh banyak perusahaan. Perangainya yang meledak-ledak dan keras, membuat dirinya sulit mencari pekerjaan. Padahal, umurnya masih cukup muda, yaitu 35 tahun. Sayangnya, dia adalah seorang ayah tanpa istri (alias pisah ranjang), dan memiliki anak yang sakit-sakitan.

Ben yang sudah mentok membantu anaknya, akhirnya terpaksa memanggil seorang konsulat dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), bernama Sheila (Jayme Lawson). Ben akhirnya menitipkan anaknya pada Sheila, lalu mengikuti sebuah acara brutal berjudul The Running Man.

Saat baru mendaftar, sang produser acara Dan Killian (Josh Brolin), langsung kagum dengan latar dan karakter yang dimiliki oleh Ben. Keduanya bahkan taruhan, bahwa siapa yang menang, dapat mengacak-acak acara The Running Man.

Hanya berbekal pengetahuan wilayah dan nekat, Ben lalu melarikan diri dengan banyak kontestan lainnya selama 30 hari kedepan. Berbagai aksi dia jalani, bahkan sampai menantang para pemburunya, yang terlihat kesulitan mengejar Ben, padahal sudah setengah mati menjalani hidup.

Sanggupkah Ben selamat dalam acara ini demi mengejar cuan yang sudah menjadi haknya? Atau malah bergabung dengan tim pemberontak yang tiba-tiba membantu Ben?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia saat ini.

11 November 2025

Angklung dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Angklung di Saung Mang Udjo (Wikimedia).

Angklung berasal dari bahasa sunda yang berarti angkleung-angkleungan. Maksudnya adalah gerakan para pemainnya, yang menghasilkan bunyi 'klung,' untuk memainkan instrumen musik Angklung.

Dilansir dari Angklung Center, kata Angklung berarti mengacu pada nada yang dipecah. Jadi, satu Angklung hanya memiliki satu pecahan nada, dan perlu dimainkan lebih dari satu Angklung.

Bentuk Angklung

Bentuk Angklung sendiri adalah dua atau lebih batang bambu, yang disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya nada. Setiap nada adalah hasil dari getaran bilah bambu didalam setiap ruasnya, dari yang berukuran kecil untuk nada tinggi, hingga berukuran besar untuk nada rendah.

Desainnya dimiripkan dengan alat musik calung (yang sama berasal dari tatar Sunda). Bahan dasar Angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang dikeringkan akan berwarna kuning keputihan.

Sejarah Angklung

Belum ada sejarah pasti kapan Angklung mulai digunakan, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman Neolitikum, yang berkembang hingga awal penanggalan modern. Jadi, Angklung adalah bagian dari budaya Nusantara sebelum zaman Hindu (menurut Dr. Groneman). 

Catatan sejarah paling kentara adalah masa kerajaan Sunda pada abad 12 hingga 16 lalu. Selama perkembangannya, Angklung menyebar ke seluruh Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga Thailand (menurut Jaap Kunst dalam buku Music in Java).

Bahkan, terdapat satu catatan misi kebudayaan dari Indonesia menuju Thailand pada tahun 1908 lalu. Misi tersebut ditandai dengan seremonial penyerahan Angklung, yang sempat menyebar sebagai seni budaya di Thailand.

Angklung dimainkan pula sebagai penyemangat saat pertempuran kerajaan. Bahkan, gema Angklung merambah hingga jaman penjajahan Belanda, yang dilarang dimainkan secara umum. Justru, larangan tersebut menyebabkan Angklung semakin populer, walau hanya dimainkan oleh anak-anak.

Angklung di Thailand

Menurut Kementerian Sekreatriat Negara Republik Indonesia, Angklung sempat menjadi alat seni untuk diplomasi dengan negara Thailand. Raja Rama V dari Thailand, sempat tertarik pada Angklung saat berkunjung ke Indonesia, lalu membawanya sebagai oleh-oleh dan ditempatkan di Istana Bangkok. Raja Rama V cukup dekat hubungannya dengan Nusantara saat itu, sehingga berkunjung tiga kali, yaitu pada tahun 1870, 1896, dan 1910. 

Tidak hanya Raja, pada tahun 1908 Pangeran Thailand Bhanu-Rangsri-Sawangwong yang merupakan adik Raja Rama V, datang ke Nusantara bersama musisi bernama Jawang Sorn Silapa-Bunleng. Keduanya datang untuk belajar Angklung, yang akhirnya membawa sepuluh buah Angklung untuk dimainkan di Istana Burapa, Bangkok.

Saking terkenal dan menyebarnya, Angklung telah menjadi bahan ajar sekolah di Thailand, melalui para guru musiknya. Phol Kit-Khan adalah satu tokoh terkenal dalam mengajarkan Angklung di Thailand. Saking termotivasi, kebun durian miliknya diganti dengan kebun bambu (sebagai bahan produksi Angklung). Hingga akhirnya dikenal pula sebagai Angkalung, yaitu sejenis Angklung khas dari Thailand.

Foto arak-arakan Angklung (UNESCO).

Tradisi Angklung

Budaya tradisional Sunda pun mengacu pada prinsip pembuatan Angklung. Karena mayoritas warga di tatar Sunda adalah petani dengan komoditas utama padi (pare). Mitos pun muncul dengan nama Nyai Sri Pohaci, sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (Hirup-Hurip).

Masyarakat tradisional Badui yang dianggap sebagai keturunan asli Sunda, masih mempraktikan Angklung sebagai bagian dari ritual menabur padi. 

Angklung Gubrag di Jasinga Bogor bahkan telah berumur lebih dari 400 tahun, yang sama dimainkan saat ritual menabur padi. Angklung disinyalir untuk dapat memikat Dewi Sri Pohaci turun ke bumi, dan memberkati suburnya tanaman padi.

Permainan Angklung lalu dikenalkan saat Pesta Panen atau Seren Taun di tatar Sunda. Angklung dimainkan saat upacara padi, bersama banyak jenis kesenian lainnya dalam satu arak-arakan di alam. 

Berbagai alat yang dibawa saat arak-arakan adalah kesenian Rengkong (Angklung yang dipikul), Dongdang (alat pikul padi), Jampana (wadah makanan), dan banyak lainnya.

Foto Daeng Soetigna yang mengenalkan diatonik pada Angklung (Angklung Centre).

Inovasi Modern Angklung

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna mengembangkan Angklung Diatonis dari sebelumnya Pentatonis, yang mengubah bentuk dan nada Angklung, sehingga dapat memainkan banyak variasi jenis musik, bahkan hingga lagu dari Barat.

Daeng Soetigna sangat berjasa dalam mengembangkan Angklung di Indonesia saat jaman modern, sehingga karyanya dikenal sebagai warisan budaya alat musik di dunia Internasional.

Foto Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung (Angklung Centre).

Lalu pada tahun 1966 lalu, Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung, mengembangkan teknik bermain dengan dasar Pelag (sistem urutan nada tiga surupan), Salendro (sistem urutan lima nada), dan Madenda (Laras dengan pemecahan laras Salendro). Udjo Ngalagena lalu mengajarkan banyak komunitas, dengan berbagai bentuk, cara, dan tradisi memainkan Angklung.

Hingga kini, salah satu komunitas yang aktif dalam memainkan Angklung adalah Sanggar Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. 

Angklung dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Dilansir dari UNESCO, Angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2010 lalu. Angklung adalah instrumen musik yang terdiri dari empat hingga dua tabung bambu, yang terpasang pada rangka bambu, dan diikat dengan rotan.

Tabung dipahat dan dipotong dengan hati-hati oleh perajin ahlinya, agar dapat membunyikan nada saat rangka bambu digoyang atau ditepuk. Setiap Angklung hanya membunyikan satu nada atau senar, jadi banyak pemain harus berkolaborasi untuk dapat membunyikan melodi.

Angklung tradisional menggunakan skala Pentatonik, namun pada tahun 1938, musisi Daeng Soetigna mengenalkan Angklung dengan skala Diatonik, yang disebut sebagai Angklung Padaeng.

Angklung sangat erat kaitannya dengan budaya tradisional, seni, dan identitas budaya Indonesia, yang dimainkan saat perayaan menabur dan memanen padi, atau sunat. 

Bambu hitam khusus untuk Angklung dipanen saat dua minggu dalam satu tahunnya, saat jangkrik tengah ramai, dengan dipotong setidaknya tiga segmen diatas tanah, agar akarnya tetap tersebar.

Edukasi Angklung disebarkan dengan mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan semakin semarak saat diselenggarakan di institusi pendidikan.

Karena berdasarkan budaya kolaboratif pada musik Angklung, memainkanya mendukung kerjasama dan saling hormat antar pemainnya, dengan disipilin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi dan ingatan, serta rasa artistik dan musik.

Kiprah Angklung Tahun 2025

Menyambut Hari Angklung Tradisional Internasional ke 15, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KABUMI UPI mengadakan acara bermain Angklung dengan 4750 peserta. 

Dilansir dari Berita UPI, para pemain Angklung hadir dari banyak lokasi kota Bandung, mulai dari anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, atau lansia, yang tiba di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Acara ini dilaksanakan tepat satu bulan lalu, yaitu pada tanggal 23 November 2025. Acara dilaksanakan demi persatuan lintas generasi, demi melestarikan Angklung sebagai warisan dan identitas budaya Indonesia, khususnya di daerah Sunda.

Beberapa kenalan dari penulis, diantaranya sepupu yang masih berumur sekolah, mengikuti acara ini. Walau masih berumur sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, tetapi mereka cukup semangat untuk melanjutkan kiprah semangat bersama memainkan warisan budaya Sunda ini.

Semoga, kedepannya Angklung masih menjadi seni warisan budaya yang terus terkemuka di tatar Sunda.