31 Oktober 2025

Romansanya jadi Seniman Terlalu Niat di Film Komedi Si Paling Aktor

 

Rachel dan Tegas yang heran kenapa Gilang ternyata OP (TMDB).

DAAAAAN, akhirnya bulan Oktober ini mencapai kisah film yang Full Circle alias Lengkap, dengan film komedi berjudul Si Paling Aktor yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Nah, di film Si Paling Aktor ini, mengisahkan suatu tantangan dari pendatang baru, yang mencoba segalanya demi berkiprah di dunia industri kreatif, khususnya perfilman.

Rasanya di dunia internet jaman sekarang ini, dengan berbagai jenis streamer, vtuber, dan kreator konten, layaknya film ini bisa menjadi pelajaran tersendiri. Kadang membuat konten terlalu niat, hingga akhirnya kelepasan juga. Padahal berniat ngetren, malah bikin ngiler bablas ala se-Indonesia.

Mungkin, perlu diingat sekalian, jaman band indie Bandung, dan berbagai kota serta banyak wilayah lainnya, saat awal 2005-an hingga awal 2010an. 

Jaman tersebut, band seperti Alone at Last, Boys Are Toys, Buckskin Bugle, Closehead, Efek Rumah Kaca, Inspirational Joni, Koil, Kuburan, Kungpow Chicken, Maliq D'Essentials, Netral, Panas Dalam, Rocket Rockers, Rosemary, The Changcuters, dan The Sigit, masih meramaikan ranah musik no-label Indonesia.

Bahkan saking mendunianya, setiap minggu dibuka panggung yang diramaikan oleh berbagai band indie, khususnya di seluruh sudut kota Bandung.

Walau kini tidak seramai sekarang di dunia fisik, tapi berbagai kanal YouTube, bahkan yang resmi, masih meramaikan ranah indie Indonesia dengan berbagai gimmick barunya. Banyak pula musisi lain yang merambah YouTube dengan pembawaan no-labelnya.

Yah, daripada bawa-bawa bendera fiktif, lalu bikin rusuh di jalan sambil bakar-bakar gedung DPR. Mending, berolahrasa dan berolahraga sambil moshing di tengah konser.

Okeh, kembali ke film Si Paling Aktor, yang mengisahkan seorang aktor yang terlalu niat mendalami perannya, padahal hanya berperan figuran. Walau disajikan dengan kisah komedi, mungkin perlu ditelaah, sebenarnya seorang kreator harus bertindak atau bersikap seperti apa, tentu dengan tidak mengesampingkan seluruh karyanya.

Nah tapi... memang setiap seniman yang berkontribusi dalam sebuah karya, membutuhkan gimmick-nya sendiri. Selain agar tetap eksis, tentu dengan dukungan komunitasnya, akan dinilai mampu, dan bahkan sanggup menyelesaikan tantangan di industri kreatif.

Oh, ya Romansa juga artinya petualangan loh... bukan berarti langsung mengacu pada sesuatu yang romantis.

Sinopsis Film Si Paling Aktor

Gilang Garnida (Jourdy Pranata) adalah seorang aktor yang telah berkarir lama, yaitu selama 10 tahun lamanya dikutuk menjadi aktor pecicilan, alias figuran. Gilang sulit mendapatkan peran utama maupun stabil, akibat terlalu sering berimprovisasi, hingga di-blacklist oleh banyak sutradara.

Bahkan, sang Mad Dog Yayan Ruhian sempat terpukul olehnya, karena Gilang belajar bela diri selama tiga bulan, hanya untuk beradu gelut dengan sang raja silat perfilman Indonesia ini.

Di film yang lain, Gilang bahkan belajar menembakkan senapan api, karena dirinya memerankan seorang tukang bubur teroris, yang karakternya langsung mati meledak di awal film.

Kenalan produsernya, Ramli (Indra Birowo) bahkan menyebut Gilang sebagai sok tahu, yang tidak mau menuruti arahan sutradara film.

Suatu saat, lawan mainnya yang bernama Kevin Sumitro (Kenny Austin) diculik oleh Koh Chen (Verdi Solaiman), padahal niatnya ingin menculik Gilang. Saking sayangnya, jika Kevin berhasil ditemukan, akan ada imbalan Satu Milyar!

Bersama sang cemceman hati yang sebenarnya lebih menyukai Kevin, Rachel Hesington (Beby Tsabina) dan sutradara Tegas Julius (Kevin Julio), yang cukup linglung karena aktornya hilang, mereka bertiga lalu mencoba mencari Kevin.

Tentu berniat mendapatkan imbalan Satu Milyar, menyelamatkan karir Gilang, mendapatkan hati Rachel, serta melanjutkan kembali produksi filmnya Tegas, Gilang yang telah sakti mandraguna akibat improvisasi yang terlalu mengena, mencoba membuktikan seluruh kemampuannya yang ada.

Silat Tradisional Bugis ala Pendekar Makassar di Film Badik

 

Mike Lucock dan Donny Alamsyah yang tengah berduel (YouTube).

Akhirnya, kisah gelut silat tradisional pun difilmkan di tahun 2025 ini, dengan judul Badik, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia bulan Oktober ini.

Sebelumnya, film Indonesia mengenai kisah gelut silat didaptasi di Panji Tengkorak, sejak Agustus lalu. Walau menggunakan media animasi dua dimensi, namun tetap berlatar silat Indonesia bersama kelihaian para pendekarnya. Di bulan Mei lalu, film berjudul Pengepungan di Bukit Duri pun dirilis sebagai aksi gelut, yang berkutat pada atmosfer tawuran ala Indonesia. 

Nah, kalau dari segi gelut silat Indonesia, tentu masih teringat mengenai film Raid (2011, 2014), yang membuka jalan agar film aksi gelut silat Indonesia kembali mendunia. Saking mendunianya, Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhiyan meramaikanya sebagai lawan John Wick alias Keanu Reeves, di film John Wick 4, tahun 2023 lalu. 

Sekilas mengenai silat Indonesia, memang memiliki kekhasan tersendiri. Yaitu banyak gerakan silat yang fatal, dan khusus tidak hanya untuk mengenai serangan, menangkis balik, dan mengunci sendi tubuh lawan saja, namun langsung mematikan. Karena itu, banyak gerakan silat dilarang di MMA UFC.

Satu kekhasan lainnya, adalah digunakannya berbagai senjata tajam pendek khas Indonesia, seperti keris, golok, kujang, atau sejenis belati lainnya, agar setiap gelut diakhiri cepat (!)

Sama seperti kisah para pendekar yang tidak jelas arah tujuannya, contohnya para Ronin dari Jepang atau Wuxia dari China. Mereka mengelana untuk mendalami ilmu gelut, atau sekedar berduel dengan lawan yang disukainya. Animo kisah silat tersebut mungkin masih belum dijabarkan di dunia fiksi saat ini, namun suatu saat mungkin kembali lagi.

Nah, bagaimana dengan film Badik yang mengisahkan silat ala suku Bugis dari Sulawesi Selatan ini? Nama khas daerahnya adalah Mencak Sangge, yang masih beraliran silat, yaitu dengan gerakan ampuh nan mematikan. 

Khasnya dari film ini adalah Badik, yaitu belati dari suku Bugis. Badik memiliki lengkungan ala senjata Khukri dari Nepal, namun berukuran lebih kecil, lebih lurus, dan lebih mirip golok mini dengan ukuran mata pisaunya lebih lebar.

Oh ya, terlihat pada cuplikannya pula, satu gerakan yang dibolehkan oleh silat adalah serangan telapak tangan menuju leher, agar lawan langsung sulit bernapas.

Donny Alamsyah, Mike Lucock, Prisia Nasution pun berperan dalam film ini dengan mendukung tokoh utamanya, yaitu Badik yang diperankan oleh Wahyudi Beksi.

Kisahnya pun mengangkat masalah sosial yang kadang terjadi di Indonesia, adalah kisah rundungan yang terjadi saat orientasi mahasiswa baru (ospek), yang berujung kematian korban.

Sinopsis Film Badik

Badik (Wahyudi Beksi) kaget akan kabar kematian adiknya, Unru (Fandy AA). Padahal, Unru baru saja berhasil masuk kuliah, dan sedang mengikuti Masa Orientasi Mahasiswa Baru di kampusnya.

Badik pun mendengar kabar, bahwa adiknya dirundung di kampus tersebut. Berita tersebut sempat viral, dengan mahasiswa yang berprotes mengenai 'Bullywood,' yang istilahnya diramaikan oleh Nur (Prisia Nasution) sebagai anggota pers mahasiswa.

Badik lalu mencoba mencari lebih banyak mengenai kabar kematian adiknya, dengan menyamar sebagai petugas kebersihan di lokasi kampus. Dengan belati Badik wasiat miliknya, dia bergerilya dan mencari para 'tersangka' rundungan.

Ternyata, kisah rundungan di kampus tidak hanya terjadi pada Unru, namun terkait dengan beberapa kematian mahasiswa lainnya, yang semakin mengacu pada target Badik.

Badik yang merasa bahwa ini bukan kasus biasa, lalu mencoba menantang pada perundung, yang berakhir gelut parah. Walau tidak berhenti disitu saja, ternyata memang para perundung adalah ahli silat, yang cukup cekatan dan sanggup melawan Badik. Para perundung pun semakin panik, karena aksi mereka selama ini bisa dilaporkan pada polisi.

Sanggupkah Badik melawan mereka semua dan mengungkap bukti perundungan Unru? Atau malah berujung petaka bagi semuanya?

Jawabannya bisa dicek saja di sinema Indonesia.

Indonesia Mengadaptasi Horornya Thailand di Film Shutter

 

Darwin yang masih setia dengan kamera lamanya (TMDB).

Walau agak aneh juga, tetapi sineas perfilman Indonesia pun mengikuti cara Hollywood, yaitu mulai rajin me-reka ulang berbagai film rame terdahulu, dengan bumbu khas Indonesia tentunya.

Padahal penulis masih ingat, jaman mulai ramainya kembali film Indonesia di awal tahun 2000an, saat banyak film lokal dianggap plagiat dari film luar. Entah bagaimana produksinya, pokoknya banyak yang kurang suka dan menyajikan perbandingan langsungnya.

Nah, kali ini di akhir Oktober ini, justru sineas Indonesia melangkah berbeda, dengan membeli lisensi film luar, berjudul Shutter dari Thailand. Film Shutter adalah satu film legendaris dari Thailand, yaitu dirilis pada tahun 2004 lalu, yang membuka jalan bagi perfilman Thailand sebagai rajanya horor Asia Tenggara. 

Seperti sudah dibahas di blog ini, Shutter adalah film yang cukup berbeda dari Thailand, karena lebih mirip film Jepang, yang khas dengan gaya investigasi plot utamanya, daripada menunjukkan banyak kengerian atau jumpscare.

Mungkin, film Jepang saat itu lebih mengemukakan bahwa, sejarah adalah hal terpenting dari suatu kisah, walau kebudayaannya sudah menyerap dan begitu lekat pada setiap warga dan kesehariannya. Visualnya bahkan lebih menunjukkan kengerian yang bikin merinding, dengan desain suara yang cukup 'dingin,' daripada sekedar Shock Value-nya (efek kejut).

Jadi ya..., istilahnya Primbon atau Paririmbon-nya memang harus dicek terlebih dahulu, daripada langsung pada tipe takhayulnya saja. Nilainya hidupnya adalah yang terpenting.

Okeh, kembali ke Shutter, yang mirip dengan Ringu (1998), yaitu mengisahkan seorang fotografer yang diterpa jurig. Berbeda dengan Ringu, yang terkutuk bukanlah rekamannya, tetapi foto yang dihasilkan kameranya.

Bahkan, kisah kemunculan foto penampakan sudah sering terjadi di dunia nyata, sejak ditemukannya kamera genggam pertama pada tahun 1826 lalu. Sejarah penampakan foto ini bisa dicek sejak tahun 1891 lalu, yang berisi siluet bangsawan Sybell Corbet, di perpustakaan Combermere, Inggris.

Banyak yang berspekulasi, bahwa kamera memang dapat melihat sejenis mahluk lain dari dunia sana. Kisah perkembangan teknologi memang sering dikaitkan dengan mistis, apalagi saat awal jaman industrialisasi. Digunakannya telepon secara umum saja, dianggap sebagai alat yang bisa menyebarkan kutukan.

Nah, kembali ke Shutter dari Indonesia, pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu aktor kawakan Vino G. Bastian, yang sudah dikenal lama dan anak Bastian Tito, sang novelis penulis Wiro Sableng. Anya Geraldine dan Donny Alamsyah pun mengisi pula film ini.

Okeh, sekali lagi, dicek saja sinopsisnya yaaa...

Sinopsis Shutter dari Indonesia

Darwin (Vino G. Bastian) adalah seorang fotografer eksentrik profesional. Dirinya unik karena di jaman sekarang, lebih suka menggunakan kamera manual dengan teknik pencucian fotonya, daripada menggunakan media digital.

Namun, selang berkarir lama, entah mengapa beberapa hasil foto jepretannya, banyak gambar 'noise' yang mengaburkan gambarnya. Darwin pun perlu berkonsultasi dengan temannya, Nugie, yang menganggap bahwa dia berhasil menangkap foto jurig, sambil bercanda.

Karena dianggap masalah teknis saja, akhirnya Darwin berkelakar saja kepada kekasihnya, Pia (Anya Geraldine), bahwa dirinya berhasil mendapatkan foto jurig. Tidak hanya kepada Pia, Darwin menunjukkan banyak foto horor tersebut kepada seluruh temannya.

Sayang memang tersayang, banyak penampakan mistis mulai menyelimuti Darwin, dan seluruh orang yang ditunjukkan fotonya. Pia yang sering membantu Darwin untuk mencetak fotonya, bahkan paling sering diteror jurig.

Satu persatu temannya Darwin pun menjadi korban, dengan berbagai kejadian aneh menimpa mereka. Darwin akhirnya perlu mengecek seluruh cetak fotonya, sekaligus menemukan profil wanita yang terus muncul di gambarnya.

Dapatkah Darwin menguak maksud jurig? Ataukah ada yang tersembunyi dibalik sosok fotografer atau kameranya?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia.

30 Oktober 2025

Rasanya Korea Selatan Sangat Terkutuk di Film The Cursed: Insatiable Desires

 

Bisa sampai kayang melayang akibat kesurupan (TMDB).

Okeh, saatnya kembali ke ranah jurig Asia, khususnya di film The Cursed dari Korea Selatan, yang kini sedang tayang di banyak sinema Indonesia.

Nah, karena seperti biasanya di berbagai film horor, cuplikan film The Cursed ini berisi adegan-adegan acak nan kurang nyambung, jadi kita cek saja premise-nya yaaa...

Terlihat memang, dari sedikit narasinya yang muncul, film ini mengisahkan ritual mistis aneh lainnya. Yaitu, membeli sebuah jurig, demi mendapatkan ambisi pribadi.

Sudah pernah dijelaskan di blog ini dengan berbagai nama ritualnya, namun ada satu perbandingan khusus di Indonesia, yaitu sebutan untuk istilah 'membeli jin,' atau pesugihan.

Entah apa istilahnya di Korea Selatan, namun kalau disini, ritual tersebut memang cukup terkenal. Istilahnya bahkan lebih acak lagi, yaitu kalau pengen kerjaan sukses, maka harus 'ditunggu,' 'diawasi,' dan 'dibantu,' oleh kekuatan dari dunia lain.

Saking harfiahnya, banyak paranormal sejenis dukun sakti, 'menyewakan' ilmu sakti ini kepada warga awam, namun 'butuh' ritual anehnya. Padahal, dari segi agama dan hukum negara, praktek sejenis ini sebenarnya telah dilarang.

Mungkin Sinopsis Film The Cursed: Insatiable Desires

Nah, khusus di film The Cursed ini, justru ilmu sakti 'ala jin' ini langsung berbalik. Langsung dari cuplikannya, banyak karakter dalam film ini berhasil menemukan sebuah 'pasar gelap' supernatural di malam hari.

Namun, selang beberapa lama 'menikmati hasil jeri payah jurig,' ilmu sakti tersebut malah mengejar sang 'klien.' Banyak kasus kematian aneh, terjadi di sekitar lokasi 'pasar malam' tersebut. 

Konon katanya, sekali 'dibeli,' jurig tidak bisa dikembalikan alias 'direfund.' Jadi ya... sekali bayar biaya ongkir, jurig akan terus berperan sebagai 'debt collector,' hingga saatnya menyeberang ke dunia berikutnya.

Okeh, pokoknya jangan sampai isekai, dengan begitu banyaknya kenikmatan duniawi yang membuat tergiur, tidak perlu lekat 'romansa' dengan para jurig. 

Oh, ya jangan lupa, tidak ada kemungkinan pasti, bahwa 'berkomunitas,' bersama jurig, akan ikut tertular pula 'kesaktiannya.'

Dan selalu ingat pula, selalu ADA yang membantu, jika memang melawan sesuatu yang tidak bisa dinalar sama sekali.

Serial The Cursed (2020) dan The Cursed: Dead Man's Prey (2021)

Oh ya, penulis akhirnya ngeuh dengan film The Cursed ini, setelah mengecek beberapa karya sebelumnya yang berjudul sama. Bahkan, cerita ini layaknya mengingatkan bagaimana kisah dunia perjurigan ala Indonesia terdahulu.

Setelah menonton beberapa episode serial The Cursed (Bangbeob) dari tahun 2020, ternyata satu karya ciamik dari Korea Selatan sana. Film ini, berkisah bagaimana ritual mistis, khususnya untuk mencari rejeki hingga santet, dijabarkan dengan modern. 

Bahkan, para karakternya bukan dukun semata, melainkan klien dari perusahaan besar Informatika, yang segera masuk bursa pasar di Korea Selatan. Mereka pun cukup menggila dalam menjalankan bisnisnya, bahkan hingga perlu menyewa dukun sakti dari beberapa negara Asia Timur, seperti China dan Jepang.

Saking menggilanya, dalam serial ini mereka berurusan langsung dengan polisi setempat. Kasus yang menjerat mereka, adalah akibat ulah mereka sendiri, yang cukup serakah dalam membasmi (nyawa) setiap pegawai, media, maupun aparat, yang bertindak melawan target mereka untuk segera viral dan cuan. 

Animo ini masih dilanjutkan hingga film dari serialnya, yang masih berisi karakter dan latar cerita yang sama. Namun, dengan sub-judul tambahan, yaitu Dead Man's Prey di tahun 2021. Oh ya, Yeon Sang-ho yang terkenal sejak pemimpin sebagai sutradara Train to Busan (2016), berkecimpung sebagai penulis naskah serial dan film Bangbeob ini.

Justru filmnya di tahun 2025 (dalam artikel ini), bersub-judul Insatiable Desires adalah yang paling beda dari waralaba The Cursed ini, dengan sutradara Hong Won-ki dan Yoo Young-seon sebagai penulis naskahnya.

Kisah Perusahaan Mistis Indonesia

Serial ini bak mengingatkan, bagaimana horornya kisah perusahaan besar di Indonesia terdahulu. Jaman tahun 80an, 90an, hingga awal 2000an, sempat ramai kabar bahwa kita sebagai pegawai biasa, harus bertindak dengan kinerja yang sesuai minat dan target perusahaan.

Jika tidak sanggup, maka bukan hanya diberhentikan, tetapi akan dilawan dengan kekuatan dari dunia lain. Ya, kisah mistis mengenai pembelian jin atau jurig, terjadi di banyak perusahaan besar Indonesia (istilahnya jin pelindung). Tidak hanya itu, istilah lainnya adalah korban perusahaan besar alias 'tumbal proyek,' yang masih ramai di ranah mistis dan maya ala internet.

Padahal, film ini dirilis di tahun 2020 loh. Namun, mirip sekali dengan Indonesia, sineas perfilman Korea Selatan memang sering membocorkan kisah Primbon-nya sendiri dengan jelas nan kentara, tidak seperti kisah dari Jepang maupun China (yang pemerhati pasti tahu kenapa).

Sudah beberapa kali penulis menonton film dari Korea Selatan yang mirip dengan film nasional, yaitu berbumbu komedi gelap nan kasar, serta bocornya para aparat korup, yang dengan senang hati digambarkan oleh para sineasnya. Bahkan, kisah jurig-nya pun makin mirip dengan gosip dari Indonesia terdahulu.

Memang ironi tersendiri, bagaimana kisah Korea Selatan, sangat mirip dengan kondisi nasional di Indonesia, baik lama maupun sekarang.

Dokumenter Horor ala Found Footage di Film Shelby Oaks

 

Entah jurig mana yang muncul di Shelby Oaks (TMDB).

Akhirnya, ada film sub-genre horor found footage yang dirilis di sinema Indonesia di bulan Oktober ini, yaitu Shelby Oaks

Sedikit Penjelasan Mengenai Found Footage

Nah, sebelum membahas sinopsis Shelby Oaks, coba dibahas dulu bagaimana found footage disajikan bagi penontonnya. Dari ranah sinematografi, justru film sejenis ini menerobos batas dasar prinsipnya, dan semakin sulit untuk direkomendasikan.

Dan, bahkan ada sub-genre lainnya yang lebih aneh lagi, yaitu mockumentary. Film sejenis ini menampilkan format film dokumenter, dengan setiap bab (chapter) ceritanya, disajikan ala berita investigasi. Namun, setiap ada perkembangan plot, pasti menyajikan 'plot twist' yang cukup mencengangkan. 

Contoh jelek dari film found footage ini, adalah kamera amatir berkualitas High Definition (HD) dengan gambar yang goyang, dialog terlalu 'biasa' sehingga terdengar kurang dramatis, lokasi yang terlalu gelap karena ingin 'realistis,' serta plot cerita yang kurang jelas fasenya (pacing).

Namun, justru seluruh 'keunikan' tersebut menjadi khasnya tersendiri, karena memang terasa seperti sebuah rekaman pribadi, dengan posisi penonton sebagai orang pertama. Bahkan, 'kesederhanaan' tersebut terasa meyakinkan, sehingga penonton lebih mudah 'terbawa' oleh ceritanya.

Sejak dimulai oleh film The Blair Witch Project di tahun 1999 lalu, puluhan film found footage telah 'ditemukan' oleh Hollywood dan banyak sineas dari seluruh dunia, khususnya dari Jepang, Korea Selatan, Perancis dan bahkan Indonesia.

Contoh dari Indonesia, para sineas nasional sering berperan di seri found footage berjudul V/H/S (2012), V/H/S/2 (2013), V/H/S: Viral (2014), V/H/S/94 (2021), V/H/S/99 (2022), V/H/S: 85 (2023), V/H/S: Beyond (2024), dan terakhir di tahun 2025 ini, V/H/S: Halloween.

Jadi, ramainya film found footage bagi sineas perfilman, layaknya para produser, penulis naskah, sutradara, aktor-aktris, kameramen, desainer suara, animator, dan editor di banyak kanal YouTube. 

Banyak kanal di portal ini, berisi khusus film horor pendek (sekitar 15 menit), namun menyajikan cerita dan visual yang cukup memukau. Bahkan, berbagai film pendek yang tersaji di YouTube, kadang dibeli karyanya, dan tercipta menjadi satu film panjang, yang bisa dirilis di bioskop atau layanan streaming daring.

Jadi, semakin mirip dengan berbagai cerita horor Indonesia, yang akhirnya diadaptasi sebagai naskah film. Satu contoh terakhirnya, adalah film Getih Ireng yang masih tayang di sinema Indonesia, yaitu adaptasi aslinya dari cerita horor di akun Threads @Jeropoint.

Okeh, tampaknya sudah terlalu panjang, jadi coba cek saja sinopsisnya. Eh, ga jadi, karena cuplikannya tidak terlalu jelas, alias 'misterius' ala film horor.

Sedikit saja, yaitu tokoh utamanya menemukan rekaman dari camcorder, yang berisi berbagai film pendek tidak jelas. Padahal, dirinya telah dinyatakan hilang dari Shelby Oaks, yaitu sebuah lokasi wahana hiburan terbengkalai.

Oh, ya, satu tips saja, karena tampaknya mengisahkan Urbex alias Urban Exploration (jelajah urban) khusus reruntuhan, yang memang sering dilakukan oleh para kreator konten, khususnya Indonesia pula.

Coba bawa sejenis senjata, khususnya yang tumpul, seperti tongkat kasti atau linggis, saat melaksanakan urbex. Bukan untuk melawan jurig, tetapi khusus bertahan diri (gelut) melawan sejenis gelandangan sangar, anjing liar rabies, atau terjebak di dalam lokasi terbengkalai tersebut.

Seluruh kemungkinan diatas mungkin terjadi, karena lokasi urbex yang terbengkalai, dan perlu dicek tingkat keamanannya. Jadi, tidak hanya membawa kamera saja, apalagi kalau memang ber-solo karir (!) Lebih bagus kalau bawa anjing penjaga sendiri. 

Jangan lupa bawa masker, karena tidak tahu zat (biologis dan kimiawi) apa yang tersisa dan terhirup oleh napas saat menjelajah. Sekaligus pula disinfektan, karena kalau tidak terhirup, mungkin tersentuh tangan.

Dampaknya Terkena Kutukan Tujuh Turunan di Film Rosario

 

Rosario yang terjebak genggaman horor (IMDB).

Okeh, setelah beberapa film Hollywood yang mengisahkan ranah mistis dengan ritualnya yang super aneh, kini film Rosario yang sedang tayang di sinema Indonesia, mencoba kembali mengisahkan ranah tersebut.

Berbeda dengan film horor kebanyakan dari Hollywood, kali ini sineas produksi Rosario bekerjasama dengan banyak aktor dan aktris dari Kolombia, demi mengacu pada referensi tradisional mistis mereka.

Bagi yang sudah menonton cuplikannya, tentu sempat kenal dengan aktor yang mengisi film ini. Ya, namanya adalah David Dastmalchian, yang sempat berperan di film nyeleneh DC The Suicide Squad (2021), yaitu sebagai Polkadot Man dengan arahan dari James Gunn.

Bahkan, David Dastmalchian cukup sering mengisi film pahlawan super, diantaranya adalah The Dark Knight (2008), Ant-Man (2015), Bladerunner 2049 (2017), dan Ant-Man and The Wasp (2018).

Bagi yang lebih suka kisah epik, bisa dicek film Dune (2021) yang dibintangi pula oleh David Dastmalchian. Atau yang lebih mengacu ke film horor aneh, Late Night With The Devil (2024), dimana David berperan sebagai seorang pembawa acara (host), yang diminta untuk mewawancarai gadis kesurupan.

Okeh, tentu berbagai aktor dan aktris dari Kolombia yang mendominasi film ini, dan memang berlatar dari kebudayaan mereka serta berbagai 'paririmbonnya.'

Nah, sekarang coba di cek saja cuplikannya, ya...

Sinopsis Film Rosario

Rosario adalah seorang gadis cilik (Emilia Faucher) nan penuh potensi. Suatu hari, dirinya yang sedang mengadakan kumpul keluarga besar, tercegat oleh ritual aneh yang melibatkan neneknya.

Selang bertahun-tahun lamanya, Rosario (Emaraude Toubia) kini sudah dewasa, dan bekerja sebagai broker sukses di Wall Street. Suatu hari, neneknya menelepon, namun Rosario tidak ingin mengangkatnya.

Beberapa hari telah berlalu, dan pemilik apartemen neneknya menelpon, yang sayangnya, mengabarkan bahwa neneknya telah meninggal dunia. Rosario yang terkejut lalu berangkat menuju kamar apartemennya, yang semakin terkejut karena neneknya sudah terbaring kaku di sebuah sofa.

Tetangga neneknya, Joe (David Dastmalchian) lalu berkenalan dengan Rosario, karena cukup sering mengobrol mengenai dirinya bersama almarhumah saat masih hidup. Joe pun menceritakan kisah aneh, yaitu menjelang kematiannya, dirinya sering mendengar neneknya berdoa jampi-jampi, yang terdengar jelas dari apartemen sebelah milik Joe.

Dan sejak Rosario kembali dari apartemennya, dirinya sering diteror mahluk ghaib nan tidak jelas urusannya. 

Sanggupkah Rosario mengenal kutukan apa yang menimpa dirinya? Atau malah menemukan fakta lain dibalik ritual neneknya?

Jawabannya, tentu bisa dicek saja di sinema Indonesia.

29 Oktober 2025

Balapan Seorang Veteran Sepuh Brad Pitt di Film F1 The Movie

 

Sonny dan Joshua yang masih heran satu sama lainnya (IMDB).

Bagaimana rasanya balapan dengan mesin secepat jet? Nah itulah yang dirasakan para pembalap MotoGP dan Formula 1, yang keduanya menggunakan mesin 1000 cc dan 1600 cc! Rekor tercepat mobil balap F1 pun mencapai 378 kilometer per jam!

Naaah, lagi, itulah yang coba diangkat pada film F1: The Movie yang kini masih tayang di berbagai sinema Indonesia. Bagaimanapun rasanya, yang pasti tidak senyeleneh balapan dijalan Dago, tengah malam dengan motor bebek saja (:P)

Sebelum membahas filmnya yang berkutat pada balapan Formula 1, tentu perlu diingat kembali masa kejayaan Formula 1 di televisi Indonesia. 

Saat awal tahun 2000an lalu, terkenal satu nama yang seringkali menjuarai kejuaran balap mesin jet ini, yaitu Michael Schumacher. Sosoknya sangatlah legendaris, mirip dengan Valentino Rossi dari MotoGP, di jaman yang sama.

Michael Schumacher mencatat 91 kemenangan dan 155 kali naik podium, selama berkarir di F1.

Sang juara sebenarnya telah pensiun pada tahun 2006, namun kembali pada musim 2010 hingga 2012 lalu. Walau sebentar dan pensiun seketika akibat cedera di luar arena balap, namun Schumacher dinobatkan sebagai atlit yang membantu perkembangan tim Mercedes di beberapa musim F1 tersebut.

Nah, kembali ke film F1: The Movie ini pun diperankan oleh aktor terkenal yang kini sudah terlihat sepuh, namun tiba-tiba mulai bermain film kembali, yaitu Brad Pitt. Walau kini lebih sering berkecimpung sebagai produser film, terakhir kali Brad Pitt bermain sebagai tokoh utama adalah film Bullet Train, di tahun 2022 lalu.

Dan di film inipun, tidak hanya mengisahkan balapan epik saja ala arena mesin jet. Namun, sesi latihan para pembalap serta urusan teknis di kokpit, ditampilkan sesuai dengan arahan tim ala Formula 1.

Bahkan, dalam ceritanya, tokoh yang diperankan Brad Pitt bukanlah seorang sosok juara, namun seorang veteran balap yang dikontrak kembali oleh tim besar, demi mengembangkan kinerja mobil serta pembalap mitranya.

Oh ya, film ini meleburkan pula efek CGI dan Practical, sehingga terlihat cukup nyata dipandang mata. Apalagi, Lewis Hamilton, Fernando Alonso, dan Max Verstappen sebagai juara dunia F1, ikutserta pula dalam film ini. 

Banyak pembalap asli F1 lain pun ikut berkecimpung, yaitu Lando Norris, Esteban Ocon, Valtteri Bottas, Kevin Magnussen, Daniel Ricciardo, Alexander Albon, Charles Leclerc, Sergio Perez, George Russel, Pierre Gasly, Oscar Plastri, Zhou Guanyu, Lance Stroll, Nico Hulkenberg, Yuki Tsunoda, Liam Lawson, Logan Sargeant, dan Carlos Sainz Jr.

Naaah, tampaknya sudah cukup mengenal sedikit sudut pandang balapan F1, maka coba kita cek saja sinopsisnya. 

Sinopsis Film F1: The Movie

Sonny Hayes (Brad Pitt) adalah seorang 'wonder boy' di masa keemasaannya, yaitu tahun 90an. Sosoknya yang masih muda, dianggap memiliki bakat yang mumpuni untuk terus menjuarai balapan F1.

Sayangnya suatu insiden kecelakaan di trek balap, hampir menghancurkan seluruh karirnya. Sonny terpaksa balapan dengan kontrak hanya per sesinya, yang menjadikannya seorang pembalap nomaden tanpa dukungan tim maupun berkecimpung di kompetisi utama.

Namun, 30 tahun kemudian, sebuah tim F1 bernama APXGP, mencoba merekrut Sonny kembali ke dunia balap bergengsi besar. Tim APXGP adalah tim yang hampir gagal berkompetisi, namun memiliki bakat seorang pembalap muda bernama Joshua Pearce (Damson Idris).

Walau masih sanggup balapan dengan kecepatan tinggi, Sonny ternyata belum sanggup beradaptasi kembali dengan kompetisi sebesar ini. Dia pun merasa, bahwa saingan utamanya bukanlah pembalap dari tim lain, tetapi Joshua, yang belum menerima kehadiran Sonny, karena sudah terlalu sepuh.

Apakah kisah meraih impian lama akan berhasil? Ataukah malah menjadi drama tidak berfaedah diantara kru tim APXGP? Atau bahkan berujung malapetaka?

Jawabannya dapat dicek di berbagai sinema Indonesia.

Aksi Mantan Atlet Baseball Sebagai Kriminal di Film Caught Stealing

 

Hank yang bingung ada apa dengan kucingnya (IMDB).

Berbagai film aksi Hollywood saat ini justru mengisahkan latar sosialnya sendiri, seperti di film Caught Stealing yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia. Mungkin, Hollywood agak kangen dengan kisah aksi yang tidak begitu mendunia, namun mengingatkan bahwa negaranya sendiri sedang kacau.

Nah, khusus untuk Caught Stealing, justru memberi 'vibe' yang beda, yaitu berlatar tahun 90an. Memang, jaman tersebut adalah akhir dari abad 20, yang memungkinkan berbagai potensi dunia modern, walau belum begitu canggih dari segi kesehariannya.

Dari cuplikannya, terlihat bagaimana kesan 90an dijaga ketat dalam film ini. Dengan latar New York yang khas, serta berbagai gang kriminal yang berada di dalamnya.

Film ini mengisahkan tentang beberapa kelompok kriminal, yang khas berasal dari beberapa kalangan tertentu. Memang, sejak awal Amerika berdiri, para koloni berasal dari banyak negara berbeda dan membentuk komunitasnya sendiri.

Nah, justru dari cuplikannya saja, sudah dapat ditelaah berbagai sudut pandang banyak karakter berbeda. Tampaknya film ini memang mengambil referensi dari drama kriminal film 90an lalu, contohnya adalah Snatch (2000) dan Lock Stock and Smoking Barrels (1998).

Bahkan, terlihat sedikit bumbu dari sutradara khas drama kriminal dari AS, yaitu Quentin Tarantino. Sinematografi dari Tarantino biasanya memunculkan banyak karakter dengan sudut pandang berbeda, aksi yang tidak begitu epik, namun cukup brutal dari segi visualnya.

Bahkan saking beraninya, film Caught Stealing ini memasukkan subgenre Dark Comedy, sebagai label dalam film ini. Bahkan, bagi yang tahu sutradaranya adalah Darren Aronofsky, adalah sineas aneh yang sempat memproduksi film Black Swan (2010) dan The Wrestler (2008).

Oh ya, mungkin sudah saatnya mengecek cuplikannya saja.

Sinopsis Film Caught Stealing

Hank Thompson (Austin Buttler) adalah seorang mantan atlit Baseball, yang karirnya kandas dan kini bekerja sebagai barista di sebuah bar lokal. Suatu malam, Russ (Matt Smith) yang harus pulang 'kampung' menitipkan kucingnya pada Hank dan pacarnya, Yvonne (Zoe Kravitz).

Namun selang beberapa lama, Hank yang baru pulang kerja dicegat oleh dua orang preman, tepat di depan pintu apartemennya. Mereka bertanya, apakah Russ ada dirumah atau tidak. Hank yang jujur menyatakan bahwa Russ belum pulang, malah dipukuli oleh keduanya.

Hank lalu entah kenapa harus berurusan dengan banyak liarnya para kriminal, yaitu dari sindikat geng Rusia, geng Puerto Rico, dan geng Yahudi, yang mengejarnya tanpa henti.

Namun, detektif Roman (Regina King) yang sempat berkonsultasi dengan Hank, malah kesulitan membantunya. Karena, mereka bukan geng sembarangan, yang hanya mengejar orang tanpa alasan, dan pasti menargetkan suatu yang besar.

Russ yang baru pulang pun sempat celaka, karena terpukul oleh tongkat kasti milik Hank, yang masih panik atas banyaknya kejadian naas sebelumnya. Russ pun terpaksa merekrut Hank, karena memiliki sejumlah uang curian di gudang miliknya. Keduanya sempat bertengkar, namun tetap saja tidak menyelesaikan masalah uang curian tersebut.

Sanggupkah Hank selamat dari kejaran berbagai sindikat kriminal tersebut? Atau malah tergiur dengan sejumlah uang curian yang ada?

Jawabannya tentu ada di sinema Indonesia.

Scott Eastwood Berperan di Film Stolen Girl dan Tin Soldier

 

Amina yang depresi setelah kehilangan anaknya (IMDB).

Film Hollywood akhirnya kembali diramaikan dengan beberapa film aksinya. Akhir Oktober ini, dua film aksi Hollywood dirilis di sinema Indonesia berjudul Stolen Girl dan Tin Soldier.

Cukup unik dari segi perilisannya, karena kedua film diperankan oleh seorang aktor yang semakin naik daun, yaitu Scott Eastwood. Bagi yang pernah mendengar namanya, tentu ngeuh dengan nama Eastwood. 

Dan memang, Scott adalah anak dari aktor legendaris Clint Eastwood. Clint adalah aktor kawakan yang membuka jalan bagi Hollywood, dengan berbagai film aksinya di tahun 60an hingga 70an lalu. Clint masih sering berperan di banyak film aksi Hollywood, walau sudah terlihat sepuh.

Nah, kembali ke Scott Eastwood, karir aktingnya di Hollywood dimulai sejak tahun 2006 lalu, dengan film perang epik berjudul Flags of Our Fathers.

Bagi penggemar film pahlawan super, Scott sempat memerankan Lieutenant GQ Edwards di film Suicide Squad (2016), yang kebetulan karakternya bertahan hingga melawan 'bos' di akhir film. Dari ranah film pahlawan super lainnnya, Scott sempat berperan pula di film Pacific Rim: Uprising (2018).

Nah, bagi yang suka film aksi balapan, Little Nobody diperankan oleh Scott di dua seri Fast, yaitu Fate of the Furious (2017) dan Fast X (2023).

Film Stolen Girl

Kembali ke film Stolen Girl, Scott berperan sebagai Chris Grant, yaitu karakter yang berjibaku sebagai anggota agensi swasta penyelidik penculikan anak.

Kisahnya dimulai saat Amina (Alejandra Howard) yang anaknya bernama Maureen (Kate Beckinsale), diculik oleh mantan suaminya sendiri, yaitu Karim (Arvin Kananian). 

Dari cuplikannya, ditunjukkan referensi dunia nyata mengenai masalah sosial di AS sana. Yaitu ribuan anak diculik oleh orangtuanya sendiri, setiap tahunnya. Padahal, pengadilan telah memutuskan siapa yang menjadi wali anak setelah kedua orangtua bercerai.

Nah, setelah bertahun-tahun lamanya gagal menemukan kembali sang anak, Amina dihubungi oleh Robeson (Scott Eastwood), yang dapat membantu dirinya menemukan Maureen.

Sayangnya, agensi tersebut tidak langsung meminta imbalan atas jasanya. Amina diminta bergabung sebagai agen penyelidik penculikan anak, sambil mencari kabar Maureen.

Amina pun dilatih habis-habisan oleh Robeson, mulai dari beladiri, persenjataan, hingga kemampuan mengintai. Bahkan, saking termotivasinya, Amina semakin cekatan dan brutal setiap kali menyelesaikan misinya.

Kelanjutan ceritanya tentu dapat disaksikan di sinema Indonesia.

Bokushi yang ceramah mengenai negara idealnya (IMDB).

Film Tin Soldier

Kali ini, kisahnya lebih ke cerita paramiliter, yang tampaknya sedang ramai dibahas di Amerika sana, akibat kekisruhan politik nasionalnya.

Namun, filmnya sendiri berisi banyak aktor terkenal, tentu dengan Scott Eastwood sebagai tokoh utamanya, ditambah aktor ternama Jamie Foxx dan John Leguizamo, serta aktor veteran Robert De Niro.

Okeh, kembali ke sinopsisnya. Nash Cavanaugh (Scott Eastwood) adalah seorang mantan agen operasi khusus AS, yang telah lama pensiun dari pekerjaannya. Sejak kehilangan istrinya, Evoli (Nora Arnezeder) dalam sebuah pelarian, dirinya pun tidak semangat hidup dan mengembara layaknya gelandangan.

Namun, ternyata militer AS masih membutuhkan dirinya. Emmanuel Ashborn (Rober De Niro) meminta dirinya kembali bertugas, karena seorang komandan paramiliter Bokushi (Jamie Foxx), mulai berulah dan merasa perlu berontak.

Nash pun teringat momen saat kehilangan istrinya, yang memang terjadi saat keduanya melarikan diri dari Bokushi. Nash dan Evoli sempat hidup bersama dibawah naungan Bokushi, yang menjanjikan hidup sejahtera nan makmur bagi para veteran perang dan eks-militer.

Bahkan, terdapat kabar bahwa Evoli yang seharusnya tenggelam saat mobil keduanya jatuh ke dalam sungai, masih hidup dan kini disekap oleh Bokushi. Bersama Luke (John Leguizamo) dan seluruh timnya, Nash harus membasmi Bokushi, agar organisasi paramiliternya tercerai berai.

Sanggupkah Nash menyelesaikan misinya dan menemukan kembali istrinya? Tentu ditonton saja di berbagai sinema Indonesia.

24 Oktober 2025

Jelajah Waktu, Tempat, dan Romansa di Film Sore Istri dari Masa Depan

 

Jonathan yang heran mengapa ada Sore di sisinya (TMDB).

Daaaaan akhirnyaaa, agak telat juga sih... Film Sore: Dari Masa Depan pun tertulis setelah sekian lama di blog ini. Padahal, film ini sempat tayang di sinema-sinema Indonesia saat bulan Juli lalu (:P)

Penulis akhirnya menonton juga cuplikannya dan baru tahu tayang ulang, walau memang kurang ngeuh dengan berbagai film drama, apalagi romansa. Yaaa... istilahnya, ngapain nonton di Bioskop, tapi nonton drama yang susah dicerna, tema yang berat, walau ceritanya kurang epik, apalagi mirip dengan cerita sinetron.

Yaaaaa, kecuali ada modus tertentu dengan sang lambaian tangan yang lain-lain nan merinding...

Okeh, kembali ke filmnya, Sore: Dari Masa Depan pun berisi kisah yang lumayan berbeda, yaitu kisah absurd mengenai perjalanan waktu yang beda masa jaman. Latar ceritanya pun sangat memukau, yaitu sebuah kota kecil di Kroasia, yang khas dengan kekayaan desa antik di Eropa sana.

Isinya pesannya pun cukup menyanyat hati, karena berhubungan dengan kesehatan di masa depan. Layaknya keseharian kita, bahkan dari makanan pun, belum tentu kita hidup sehat di masa mendatang, apalagi tanpa olahraga dan banyak merokok.

Jadi yaaaaa, mungkin dilapisi dengan nuansa romansa drama, namun pesan didalam film Sore: Dari Masa Depan ini cukup simbolis, alias menyiratkan bahwa kisah perjalanan hidup adalah rangkaian kebiasaan kita saat ini.

Okeh, lagi, karena pesannya cukup keren, maka coba kita cek sinopsisnya saja...

Sinopsis Film Sore: Dari Masa Depan

Jonathan (Dion Wiyoko) adalah seorang WNI jomblo yang tinggal sendiri di Kroasia. Sayangnya, di suatu pagi nan cerah, dia bangun dengan seorang wanita (cantik) yang tidak dikenal disisinya.

Wanita tersebut bernama Sore (Sheila Dara), yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan nan jauh di masa mendatang. Sore kembali ke masa sekarang, untuk membantu Jonathan agar hidup sehat.

Jonathan yang tidak percaya begitu saja, lalu meninggalkannya untuk bertemu kencan dengan Elsa (Lara Nekic). Tanpa sempat dicegah, Sore mengaku sebagai istrinya Jonathan, yang membuat Lara marah dan menyemburkan air ke wajahnya.

Saking herannya, Jonathan harus berdiskusi dengan temannya, Karlo (Goran Bogdan). Dia heran, walau masih tidak percaya dengan pengakuan Sore, namun seluruh identitas, informasi, serta kebiasaan Jonathan diketahui oleh Sore.

Hingga suatu saat Jonathan jatuh akibat serangan jantung. Sore memperingatkan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, Jonathan akan meninggal akibat penyakit yang sama.

Jonathan yang semakin heran, pasrah saja saat Sore membuang rokok dan koleksi minuman kerasnya. Dia bahkan harus terus makan buah serta sayur saja, agar tetap sehat.

Apakah memang Sore berasal dari masa depan yang berniat baik? Atau hanya seorang penguntit obsesif yang mengetahui segala letak isi hati Jonathan?

Jawabannya, dapat ditonton di berbagai sinema Indonesia...

Anime Romansa Bernuansa Pemuda-Pemudi Korea di Your Letter

 

Lee So-ri yang sedang makan bersama (TMDB).

Korea Selatan terus berinovasi dalam menciptakan karya filmnya, dan kini semakin merambah dunia anime, dalam film berjudul Your Letter yang kini tengah tayang di sinema-sinema Indonesia.

Semenjak Webtoon ramai sebagai distributor manhwa dari Korea Selatan, memang banyak karya yang diangkat sebagai anime, film, atau serial yang canggih nan memukau. Mirip seperti budaya gim daringnya yang khas Korea Selatan sejak pertengahan 2010an lalu, kisah yang lebih fantastis bisa ditemukan di Webtoon.

Contoh terkenal dari anime adaptasi webtoon adalah Solo Leveling, yang mulai dirilis tahun 2024 dan produksinya berasal dari kombinasi Aniplex dan Crunchyroll (keduanya dari Sony). Banyak penggemar yang memuji animenya, yang ciamik dengan efek memukau.

Nah, kembali ke Your Letter, tampak pada cuplikannya berlatar dunia anime yang indah dan memukau, layaknya film anime fantastis dari Jepang seperti Kimi no Nawa (Your Name) dan Weathering with You (Tenki no Ko).

Dari serial manhwa di webtoon, Your Letter hasil karya Hyeon A Cho memang cukup pendek, dengan berisi 10 episode, namun cukup untuk mencengangkan hati para penggemar K-Drama.

Bagi cowo-ciwi yang ingin mendalami kisah romansa yang selaras hati, dan berlatar masa muda yang sedang sebermak, maka Your Letter dapat menjadi tontonan indah di masa yang mudah.

Sinopsis Film Your Letter

Lee So-ri (Lee Soo-hyun) adalah seorang gadis remaja SMA yang baru saja pindah sekolah, saat musim panas baru saja berakhir di Korea Selatan. Sayangnya, dirinya kurang dapat beradaptasi di sekolah baru, dan belum menemukan teman baru. 

Hingga suatu hari, Lee So-ri menemukan secarik amplop dibawah meja kelasnya. Amplop misterius bertuliskan rangkaian petunjuk, yang saling menunjukkan langkah berikutnya untuk menemukan amplop yang tersisa.

Setelah beberapa lama mengikuti arahan amplop, dirinya sering bertemu dengan Park Dong-soon (Kim Min-ju). Mereka berdua berkenalan, dan bekerja sama untuk mencari amplop yang memang ditujukan bagi mereka berdua.

Keduanya pun memulai petualangan baru, dimana So-ri akhirnya bisa menikmati sekolahnya, sambil bercengkrama dengan beberapa teman barunya. Siapa sebenarnya yang mengirimkan amplop tersebut?

Jawabannya dapat dicek di sinema Indonesia. 

Menyelidiki Kematian Keluarga yang Lama Hilang di Film The Ugly

 

Lim-Yeoung Gyu saat masih muda (TMDB).

Di akhir bulan Oktober ini, dirilislah film dari Korea Selatan yang baru tayang di sinema Indonesia, berjudul The Ugly

Sebelum menceritakan sinopsisnya, The Ugly adalah hasil karya sutradara dan penulis terkenal di Semenanjung Korea, yaitu Yeon Sang-ho, yang terkenal akan karya Train to Busan (2016) dan Hellbound (Hellbound).

Train to Busan adalah film horor sejenis zombie, yang menjadi pionir atas ramainya film zombie berkualitas dari Korea Selatan. Hampir setiap tahunnya, film zombie dirilis dari Korea Selatan, dengan beberapa referensi (trope) dari Train to Busan.

Terkenal akan karya horornya, justru di film The Ugly ini tidak mengisahkan sisi horor, tetapi lebih ke drama misterius sebuah keluarga.

Kisahnya pun berlatar maju-mundur dengan kilas baliknya, sehingga Park Jeong-min sebagai aktor perlu memerankan dua karakter sekaligus, yaitu Lim Dong-hwan atau Lim Yeoung-gyu yang masih muda.

Karena memang drama misteri, dengan latar waktu yang bolak-balik, maka cuplikan The Ugly tidak menyiratkan apapun, selain adegan yang terlihat serius sesuai dengan plot utamanya.

Sinopsis Film The Ugly

Lim Dong-hwan adalah seorang piatu, yang kini telah dewasa dan melanjutkan studio stempel tradisional Korea Selatan, yang diwariskan dari ayahnya, Lim Yeoung-gyu (Kwon Hae-hyo). Ayahnya adalah tunanetra sejak lahir, yang sukses lalu terkenal di wilayahnya, karena lihai membuat stempel tradisional Guksae. 

Saking uniknya, Lim Yeoung-gyu sempat masuk film dokumenter, dengan kelihaian dirinya yang tidak mampu melihat, namun sanggup membuat karya stempel tradisional yang indah.

Namun, saat dirinya telah pensiun dan usahanya dilanjutkan oleh Lim Dong-hwan, terdengar kabar tidak baik dari kepolisian. Mereka mengabari, bahwa ditemukan setumpuk kerangka, dan dinyatakan sebagai istrinya yang telah lama hilang. 

Padahal, istri Lim Yeoung-gyu tidak ada kabar sama sekali sejak 40 tahun lalu, saat Lim Dong-hwan masih kecil. Bahkan, Lim Dong-hwan sudah tidak dapat mengingat wajah ibunya sama sekali.

Kabar tidak mengenakkan ini menguak kembali trauma keluarga, karena selama ini, sepasang ayah dan anak perajin stempel tradisional tersebut menganggap bahwa sang ibu hilang karena melarikan diri dari rumah.

Sebutan untuk sang ibu pun cukup jelek dari mereka berdua, yaitu Ugly, yang berarti (tetap) jelek, karena teringat bahwa seorang wanita tega melarikan diri dari suaminya yang tunanetra dan anaknya yang masih kecil.

Lim Dong-hwan bersama produser film dokumenter ayahnya, Kim Su-jin (Han Ji-hyeon), perlu mengecek lokasi dan saksi saat ibunya menghilang. Khususnya di sekitar pabrik garmen, dimana ibunya sempat bekerja dan terakhir kali terlihat.

Apakah tulang-belulang tersebut memang milik sang ibu yang hilang? Ataukah ada informasi gelap yang terkuak dari masa lalu Lim Yeoung-gyu?

Jawabannya dapat dicek di banyak sinema Indonesia.

21 Oktober 2025

Ramainya KAGAMA Karawitan Saat Osaka Expo di Jepang

Foto KAGAMA Karawitan saat manggung di Osaka Expo, Jepang (KAGAMA).

Gamelan adalah alat kesenian tradisional dari Indonesia, yang khususnya dari Pulau Jawa. Gamelan kentara dimainkan sebagai seni tradisional Pulau Jawa, dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Pulau Bali. Gamelan adalah khas musik tradisional yang telah menjadi bagian dari jiwa bagi warganya. 

Dilansir dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Gamelan adalah alat musik yang dipukul, dan awalnya disebut dengan nama gembelan. Seiring berubahnya istilah, digembel-gembel artinya adalah dipukul-pukul dari bahasa Jawa. Namanya pun berubah menjadi Gamelan.

Hingga kini, Gamelan sebagai musik perkusif sering dimainkan dalam berbagai acara ritual, keagamaan, pendidikan, media penerangan, hingga kawinan.

Gamelan yang disatukan dalam satu acara biasa disebut sebagai Karawitan, yang diselenggarakan dalam suatu pergelaran seni. Kadang di Jawa Barat, bersama sejenis Longser, berisi cerita lucu mengenai budaya khas Sunda.

Nah, di pertengahan bulan Oktober ini, tepatnya 13 Oktober lalu di Osaka Jepang, diselenggarakan pula Karawitan dari kelompok seni KAGAMA alias Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada. Acara ini dilaksanakan saat Osaka Expo, ditengah panggung paviliun Indonesia, dan telah dimulai sejak 13 April lalu.

Seni memang sebuah bentuk diplomasi budaya di panggung dunia, khususnya di Jepang melalui Osaka Expo tersebut. 

"Karawitan adalah cerminan harmoni dan kedalaman budaya Jawa. Kami bangga bisa mempersembahkan (karawitan) ini di panggung dunia," ujar salah seorang pengrawit KAGAMA di Osaka Expo, seperti dilansir dari situs KAGAMA.

Seperti pada perilisan beritanya, KAGAMA mengisahkan maksud dari KAGAMA Karawitan di Osaka Expo 2025.

"Di tengah arus globalisasi dan teknologi, alunan gamelan dari KAGAMA Karawitan di Osaka Expo 2025 menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah fondasi yang tak tergantikan dalam membangun masa depan yang harmonis," ujar KAGAMA melalui perilisan beritanya.

KAGAMA sebagai kelompok seni karawitan gamelan memang telah membumbung dunia, dengan sering mengisi berbagai acara di banyak negara. KAGAMA sempat mengisi pula panggung di New York, AS pada tahun 2024, dan Cekoslovakia pada tahun 2023 lalu.

Sedikit Pendapat dari Otaku

Akulturasi seni budaya tradisional Indonesia dan Jepang memang telah berjalan sejak lama. Geinoh Yamashirogumi adalah kelompok seni dari Jepang, yang dilengkapi oleh warga asli Jepang dengan kemampuan seni gamelannya.

Hingga kini, Geinoh Yamashirogumi masih berkarya sebagai kombo musik tradisional Jepang dan Indonesia, yang mengisi berbagai karnaval dan musik di Jepang.

Geinoh Yamashirogumi sempat membuat sebuah mahakarya berjudul Kaneda, yaitu sebuah lagu kombinasi tradisional antara Gamelan Indonesia dan musik Noh dari Jepang. Kaneda adalah lajur bunyi resmi dari film anime terbesar pada tahun 1988 lalu, yaitu Akira.

Mengacu pada film anime Akira itu sendiri, ceritanya berlatar cyberpunk dystopia, dimana dunia dikendalikan oleh totaliter militer, tanpa keberadaan pemerintah, banyak perusahaan yang saling membasmi satu sama lain, dan seluruh kekayaan budaya adat manusia hilang seketika, yang memicu sifat ekstrem manusianya.

Akira pun dibesar-besarkan beberapa tahun terakhir, dengan berbagai konspirasi mengenai banyak latar ceritanya yang terjadi di dunia nyata. Latar Akira memang mengisahkan jaman tahun 2010an hingga tahun 2020an.

Nah, justru yang terjadi sekarang, adalah perbedaan yang sangat kentara di dunia seni dan nyata. Walau banyak berita yang berujung ekstrem, seluruh dunia justru semakin erat hubungannya melalui berbagai kerjasama di nyata maupun maya.

Kisah dunia dengan latar di film Akira pun tidak terjadi, dan semoga tidak pernah terjadi, karena mengacu pada ekstremisme manusia, yang (mungkin) hanya terjadi di ranah fiksi saja.

Melampir dari banyak karya seni populer (pop art) modern saat ini, yang sering 'menerobos' batas norma dan budaya, memang karya 'gimmick' para punggawa seni, yang sering dipolitisasi oleh berbagai pihak berkepentingan (lain) dibaliknya (!)

16 Oktober 2025

Berdarahnya Jurig Bersama Titi Kamal di Getih Ireng

 

Titi Kamal yang heran saat kaca pecah padahal baru dandan (TMDB).

Akhirnya, film horor Indonesia dengan referensi mistis yang jelas aturannya, berjudul Getih Ireng yang kini sedang tayang di berbagai sinema Indonesia pada bulan Oktober ini.

Apalagi yang mengisinya adalah duet aktor-aktris yang dikenal jauh dari gosip nyeleneh, yaitu Titi Kamal dan Darius Sinathrya. Keduanya memang sudah terkenal sejak awal tahun 200an lalu, dengan berbagai karya sinetron dan filmnya.

Terlihat pada cuplikannya, tokoh yang diperankan Darius dan Titi adalah sepasang suami-istri yang kembali ke kota asal mereka, yaitu Wonosobo. Keduanya pun berbincang dengan bahasa Jawa yang khas dengan logatnya.

Dari sekilas, tampak Titi Kamal yang mencoba berkonsultasi kepada seorang dukun, mengenai gangguan mistis yang dialami dirinya. Sang dukun pun memberi tahu, bahwa dirinya diganggu sejenis Jin, yang memainkan santet Getih Ireng.

Nah, berkaca pada cuplikannya saja, sudah kentara bahwa penulis naskah ini mengerti, bagaimana budaya dan warga Indonesia saat menghadapi gangguan dari dunia lain.

Seorang warga yang awam mistis tentunya mencoba berkonsultasi pada seorang dukun atau paranormal, layaknya seorang pasien yang berdiskusi pada dokter mengenai penyakitnya.

Sesuai dengan budaya Indonesia, memang banyak warga yang 'berbakat' paranormal, walau mereka tidak melatihnya alias bawaan dari lahir. Bahkan banyak diantara mereka yang melatih hanya untuk membantu yang 'diganggu' saja.

Dari segi agama, mendekati dunia mistis memang dilarang. Tetapi, jika memang sering diganggu dan berdoa saja masih kurang, maka membutuhkan bantuan dari 'orang mampu.'

Nah, kembali ke film Getih Ireng, coba kita cek sinopsisnya, yang cukup sesuai dengan kengerian horor dan budaya ala Nusantara tercinta.

Yaaa setidaknya, jangan sampai film tentang poligami dan kisah menghororkan agama. Oh ya lagi, film ini diadaptasi dari Threads horor dengan judul yang sama, karya dari akun bernama @jeropoint.

Sinopsis Film Getih Ireng

Rina (Titi Kamal) dan Pram (Darius Sinathrya) adalah sepasang suami istri yang kembali ke kota asalnya bernama Wonosobo, di Jawa Tengah. Rina terlihat sedih, namun diyakinkan oleh suaminya karena desa asalnya cukup asri, aman nan damai.

Sayangnya, belum lama tinggal lama di rumah mereka, berbagai kejadian mistis menimpa mereka. Rina pun akhirnya keguguran untuk kesekian kalinya.

Rina yang terpaksa dirawat di rumah sakit, akhirnya mengingat momen selamatan saat mereka baru tinggal di rumah tersebut. Terdapat sosok seorang kakek berpakaian adat serba hitam, yang berbeda dengan tamu lainnya.

Rina saat itu tidak merasa heran, karena memang baru tinggal di rumah tersebut dan belum mengenal seluruh tetangganya. Namun, setelah diingat kembali, ternyata tidak ada tetangga atau bahkan suaminya, yang berkomunikasi dengan kakek nyentrik tersebut.

Rina pun panik saat mengetahui bahwa kakek tersebut adalah jelmaan jurig yang meneror dirinya. Ternyata, menurut dukun yang diminta bantu oleh Rina dan Pram, menyatakan bahwa kakek tersebut adalah jelmaan santet berjenis Getih Ireng.

Getih Ireng adalah sejenis santet, yang menargetkan pengantin muda dan janin yang dikandungnya. Selama santet belum dilepas oleh pengirimnya, maka calon ibu tidak akan lama mengandung, dan mengalami keguguran terus menerus.

Apakah Rina dan Pram berhasil mengusir santet tersebut? Atau santet malah 'naik level' dan mengancam seluruh isi rumah serta seluruh desa di sekitarnya? 

Jawabannya dapat dicek di seluruh sinema Indonesia.

Beradu Keahlian Kungfu ala Novelis China di A Writer's Oddisey 2

 

Terasa Isekai di dunia novel (TMDB).

Film dari negara China pun kembali dengan aksi kungfu fantastisnya di film A Writer's Oddisey 2, saat pertengahan bulan Oktober ini di sinema Indonesia. Kali ini, mirip dengan karya ala Korea dan Jepang, A Writer/s Oddisey pun diadaptasi dari novel laris berjudul sama. 

Agak berbeda dengan film fantasi epik ala China, justru di film ini mengambil kisah isekai ala anime dari Jepang dan Korea (lagi). Tokoh utamanya sendiri adalah seorang novelis, yang terjebak di narasi karyanya sendiri.

Dalam film pertamanya, kisahnya lebih supernatural, dengan beberapa visual latar dari dunia nyata. Guan Ning (Lei Jiayin) adalah seorang pembunuh bayaran, yang disewa oleh seorang saudagar kaya untuk membasmi seorang penulis. Menurut sang klien, novel berjudul Membunuh Dewa tersebut merusak kesehatannya.

Padahal, novel itu sendiri memiliki kemampuan sakti yang aneh. Guan Ning sempat melihat banyak keanehan saat mengejar sang novelis Kongwen (Dong Zijian). Bahkan, Guan Ning terjebak pula di dunia novel tersebut bersama penulisnya.

Guan Ning yang sebenarnya ingin mempercepat misinya selesai pun terpaksa membantu Kongwen dalam menamatkan misi di dunia novel. Padahal, saat itu anaknya, Xiao Ju Zi (Wang Shengdi) yang masih kecil, hilang entah kemana dan Guan Ning perlu mencarinya.

Sayangnya, Guan Ning dan Kongwen harus menamatkan misi untuk membasmi pemimpin jahat bernama Raja Surai Merah, yang berkuasa di dunia novel dengan zalim dan totaliter.

Nah, mengacu ke film keduanya, cerita dari film pertamanya memang belum selesai. Kali ini, mereka bertempur langsung melawan Raja Surai Merah, dengan bantuan Xiao Ju Zi yang ternyata berada di dunia fantasi yang sama dan telah sakti mandraguna pula.

Jika misi mereka gagal, maka batas dimensi antara dunia nyata dan dunia fantasi novel akan terbuka lebar.  Terbukanya batas dunia fantasi dan nyata akan menyebabkan tercampur-aduknya kedua dimensi, sehingga kerusakan masif pun dipastikan terjadi.

Misi ketiga tokoh utama pun beralih, yang asalnya adalah menyelamatkan diri dari dunia fantasi nan brutal, menjadi mengamankan dunia nyata yang dapat terinvasi oleh pasukan monster Raja Surai Merah dari dunia novel.

Sekuel Film Penculik Anak ala Blumhouse di Black Phone 2

 

The Grabber yang semakin obsesit pada Finney (IMDB).

Studio Blumhouse yang lihai memproduksi berbagai film horor pun tidak kehabisan ide untuk melanjutkan banyak waralaba filmnya. Kali ini di Oktober 2025, film Black Phone 2 sebagai sekuel langsung dari film pertamanya di tahun 2021, dirilis di banyak sinema Indonesia.

Aktor ternama Ethan Hawke yang memerankan The Grabber pun kembali berperan di balik topengnya yang khas di film ini. Dua tokoh utamanya pun kembali, yaitu Finney yang diperankan oleh Mason Thames, dan Gwen yang diperankan oleh Madeleine McGraw.

Kisah film pertamanya justru mengisahkan seorang psikopat kurang jelas, yaitu The Grabber yang 'hobinya' menculik anak kecil dari rumah mereka. 

Akting Mason Thames pun diuji berat di film pertama Black Phone, karena berlatar minimalis di sebuah gudang bawah tanah milik The Grabber, dan berfokus pada karakter Finney saja.

Mason Thames kini memang lebih dikenal sebagai aktor remaja berbakat. Bahkan di tahun 2025 ini, Thames memerankan film reka ulang terkenal, yaitu How to Train Your Dragon.

Nah, justru di film keduanya ini, lebih berfokus pada saudarinya, yaitu Gwen, yang mengalami banyak mimpi aneh semenjak Finney hilang diculik bertahun-tahun lalu.

Bahkan, studio Blumhouse merubah sedikit latar belakang The Grabber, karena mahluk psikopat ini berubah menjadi jurig penuh dendam yang kembali bermuram durja dan mengancam lewat mimpi.

Tampaknya memang Blumhouse merubah cerita Black Phone 2 menjadi seperti Nightmare on Elm Street, yang khas dengan karakter jurig peneror mimpi ala Freddy Krueger.

Sinopsis Film Black Phone 2

Finney (Mason Thames) sudah lama melupakan kisah dirinya diculik, namun keluarganya tahu bahwa dirinya masih trauma, apalagi dari sudut pandang Gwen (Madeleine McGraw) yang sama takutnya.

Gwen yang ikut paranoid memang sering mengalami mimpi aneh, yang menyiratkan kehadiran The Grabber. Hingga akhirnya Gwen menerima 'wangsit' mengenai Alpine Lake Youth Camp. Gwen pun meminta Finney untuk menjelajah bersama ke lokasi kemah tersebut.

Bersama beberapa temannya, Gwen dan Finney pun mengadakan ekspedisi urban (urbex) alias uji nyali, demi memenuhi rasa penasaran mereka.

Namun, tidak lama tiba di lokasi perkemahan, Finney pun menjawab sebuah telepon umum di area tersebut. Finney pun terkejut, bahwa suara yang didengarnya adalah milik The Grabber, yang telah dia basmi bertahun-tahun lalu.

Gwen pun diteror dengan dibanting kesana-sini, padahal temannya yang ingin membantu tidak dapat melihat sosok yang menganggunya. Bahkan, teror mimpi Gwen semakin berasa menyakitkan, yang menyebabkan dirinya terpontang-panting kesana-kemari.

Dapatkah Finney, Gwen, dan teman-temannya menguak misteri dari The Grabber? Atau malah menjadi korban mahluk kesetanan berikutnya?

Jawabannya dapat disaksikan di banyak sinema Indonesia.

Dwayne The Rock Johnson Berperan Serius di The Smashing Machine

 

Mark Kerr yang lelah terjengah (IMDB).

Setelah sekian lama dianggap tidak berbakat akting, dengan karakter yang diperankan sama setiap filmnya, akhirnya aktor terkenal Dwayne 'The Rock' Johnson memerankan karakter yang mengasah kemampuannya di film The Smashing Machine.

Film mengenai UFC MMA yang tengah tayang di sinema Indonesia ini, mengisahkan atlet UFC MMA Kelas Berat bernama Mark Kerr. Atlet bertubuh besar ini berhasil menjuarai banyak ajang bela diri campuran, diantaranya trofi UFC Heavyweight Tournament Champion dan World Vale Tudo Championship.

Saking terkenalnya, Mark Kerr bahkan sempat memerankan dirinya sendiri di sebuah film dokumenter berjudul sama, pada tahun 2002 lalu. Film The Smashing Machine tahun 2025 ini, memang reka ulang dari filmnya tahun 2002, dan lebih dramatis sehingga diperankan oleh Dwayne Johnson sebagai tokoh utamanya. 

Terlihat dari dua cuplikannya yang berbeda, film pertama justru mengisahkan tentang keseruan dan brutalnya UFC pada jaman Mark Kerr, tahun 90an hingga 2000an lalu. Banyak klip adegannya lebih menyoroti ajang gelut di ring, atau wawancara dengan berbagai pihak terkait Mark Kerr.

Berbeda dengan film The Smashing Machine pada tahun 2025 ini, justru lebih mengisahkan drama di dalam dan luar ring gelut. Banyak adegan dimana Mark Kerr berbincang hal-hal berat bersama istrinya, menyiratkan perbedaan sikap sebagai suami atau petarung UFC.

Bahkan saking dramatisnya, cuplikan tahun 2025 ini mengisahkan banyak jatuh-bangunnya Mark Kerr di luar ring. Contohnya saat Mark dan istrinya bertengkar, atau saat harus dirawat di rumah sakit. Tidak hanya drama, cuplikannya terisi pula momen saat menghadapi latihan, promotor gelut, hingga sesi konferensi pers.

Bahkan adegan nihil dimana istrinya menantang Mark Kerr, untuk naik wahana di taman hiburan pun bermaksud khusus. Mark Kerr aslinya takut akan wahana tersebut, namun istrinya menantang, bahwa hanya penampilan luar dan di ring saja, dimana Mark Kerr terlihat sangar.

Dari perbedaan cuplikannya saja, dapat terlihat bahwa film di tahun 2025 ini lebih dramatis, dan menguak berbagai kemampuan akting asli ala Dwayne Johnson.

Aktor yang telah berkecimpung lama di Hollywood ini memang cocok sebagai tokoh utama The Smashing Machine. Dengan nama alias The Rock, dirinya sempat beradu gulat lama di ajang WWE, yang menjadi awal karirnya didunia perfilman.

Bahkan banyak rumor, bahwa Dwayne Johnson akan dinominasikan penghargaan Oscar karena film ini, sebagai aktor terbaik di tahun 2026 mendatang. Apalagi lawan main sebagai istri Mark Kerr adalah Emily Blunt, yang sering meraih nominasi Oscar dan berbagai penghargaan film lain.

Tidak kurang pula, sutradara dan penulis naskah film ini adalah Benny Safdie, yang sempat memimpin produksi film Oppenheimer (2023), dan meraih berbagai penghargaan ternama.

Oh ya, film ini diproduksi oleh studio film eksentrik A24, yang memang kini sudah sering merambah berbagai genre film, walau film jurig nan horornya tetap paling unik diantara studio lainnya.