7 Januari 2026

Repotnya Mengurus Prasmanan Ala Film Uang Passolo

Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB).

Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan. 

Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.

Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.

Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.

Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.

Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.

Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).

Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya. 

Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.

Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.

Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.

Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.

Sinopsis Film Uang Passolo

Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.

Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.

Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).

Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

Mencari Tanah Harapan Baru di Film Greenland 2: Migration

 

Keluarga Garrity yang memilih migrasi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film keluarga lainnya, namun dengan bumbu drama para penyintas bencana alam, berjudul Greenland 2: Migration, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating R13 (Remaja).

Film ini tentu meramaikan kembali, ranah bencana alam dahsyat yang kurang diangkat oleh sineas perfilman dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin, film ini mengingatkan tentang cuaca ekstrem, walau dalam filmnya lebih mengisahkan tentang jatuhnya komet di bumi, dan perubahan iklim setelahnya. Animo ini memang naik-turun dalam sejarah perfilman Hollywood. 

Pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu Gerard Butler yang naik pamornya sejak film 300 (2006) terdahulu, dan Morena Baccarin yang ikut naik pamornya, sejak film Spring (2014) dan Deadpool (2016).

Oh ya karena sedang membahas tentang bencana alam, coba cek film Spring dari Morena Baccarin. Yang paham, tentunya akan mengerti maksud film tersebut, walau mayoritasnya adegannya lebih menunjukkan horor-drama sekaligus.

Bagi yang kurang paham, mungkin nanti saya tulis di artikel Monsterisasi saja, ya...

Atmosfer Bencana Alam Dahsyat di Perfilman Hollywood

Perlu diingat, animo bencana komet dahsyat sebagai plot utama film, sempat ramai saat film Armageddon (1998) yang dirilis dengan penuh bintang, diantaranya Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler, Steve Buscemi, Owen Wilson, serta Ving Rhames. Bahkan, para penikmat film tentu masih mengingat, lagu latar berjudul Leaving On A Jetplane, dari penyanyi Chantal Kreavizuk.

Animo ini dilanjutkan kembali dalam film Deep Impact di tahun yang sama, dan masih berplot utama komet yang jatuh. Namun, dengan mengedepankan visual Tsunami yang melebihi tingginya gedung pencakar langit di New York, AS. Aktor pengisinya pun termasuk bintang, yang diantaranya adalah Morgan Freeman, Elijah Woods, and Jon Favreau.

Berikutnya adapula film Day After Tomorrow (2004), yang mengisahkan tentang dinginnya bumi setelah mencairnya kedua kutub bumi akibat pemanasan global. Film ini dibintangi pula oleh aktor ternama Jake Gyllenhaal.

Loncat beberapa tahun berikutnya, film berjudul 2012, dirilis pada tahun 2009. Film ini memang memanfaatkan ramainya teori kiamat bumi pada tahun 2012, padahal tahun tersebut adalah akhir dari kalender kuno milik Suku Maya terdahulu. 

Walau begitu, film ini sebenarnya mengacu pada patahan sesar di seluruh bumi, yang terpicu akibat masifnya pergeseran tektonik, dan menyebabkan bencana dahsyat di seluruh dunia. Aktor bintang yang mengisinya pun cukup terkenal, yaitu John Cusack, Woody Harelson, dan Chiwetel Ajiofor.

Animo yang sama pun dikembangkan kembali oleh film San Andreas (2015), yang diperankan oleh aktor Dwayne 'The Rock' Johnson, Paul Giamatti, dan Kylie Minogue. Berbeda dengan 2012, film ini lebih mengisahkan satu patahan sesar saja di California AS, yang memang bernama San Andreas.

Tahun 2022 lalu, sempat dirilis pula film yang mengisahkan tentang jatuhnya obyek antariksa menuju bumi, berjudul Moonfall. Walau berkisah fantasi ala sains-fiksi, namun cukup mantap dengan sepasang bintang ala Patrick Wilson dan Halle Berry.

Sinopsis Film Greenland (2020)

Okeh, dan tampaknya perlu kembali ke Greenland, yang disukai oleh penggemar dan kritikus film. Berbeda dengan daftar film diatas, justru film Greenland sangat berbumbu drama, dengan fokus karakter utama sebagai penyintas bencana. Tingkat bencana serta hingar-bingarnya kerusakan pun diminimalisir oleh film ini.

Tidak perlu mengisahkan terlalu banyak mengenai sinopsisnya, karena memang sengaja cuplikannya dibuat acak agar tidak membuka banyak plotnya. 

Disimpulkan sedikit saja, John Garrity (Gerard Butler) dan Allison Garrity (Morena Baccarin) adalah sepasang suami dan istri yang tengah mengadakan pesta di rumahnya bersama tetangga terdekat.

Namun, terdengar kabar berita komet bernama Clarke, yang akan tiba dalam waktu 24 jam di atmosfer bumi. Awalnya mereka menyepelekan, karena komet biasanya hancur sebelum menyentuh bumi. Namun, ketika anaknya yang bernama Nathan (Roger Dale Floyd) berteriak, mereka akhirnya dapat melihat langit yang berubah merah menyala.

Seluruh keluarga beserta tetangganya pun panik, dan dengan arahan dari berita tersebut, bergerak menuju lokasi bunker bagi penyintas di Greenland. Keluarga Garrity pun berjibaku hebat, melawan kemacetan, jatuhnya pecahan komet secara acak, brutalnya para penyintas yang depresi, serta tertahan oleh regu penyelamat yang sengaja memilah penyintas untuk dapat masuk bunker.

Bagi yang penasaran, dapat menyaksikan film pertama Greenland di banyak layanan siaran internet.  

Sinopsis Film Greenland 2: Migration

Dalam film keduanya, Allison, John, dan Nathan akhirnya berhasil memulai hidup baru di Greenland, setelah beberapa bulan tinggal dalam bunker, akibat bencana komet Clarke. Kini, keluarga Garrity telah bertahun-tahun lamanya selamat sejak jatuhnya komet, dan memulai hidup baru yang damai.

Namun, bumi memang sudah berubah sejak tibanya komet Clarke, dengan cuaca ekstrem yang terus mengancam planet ini. Tidak hanya bencana alam, ternyata kondisi alam yang berubah, menyebabkan Greenland sudah sulit ditinggali lagi. 

Sulitnya kondisi di Greenland, serta bencana alam ekstrem yang secara acak terus mengancam lokasi hunian, menyebabkan keluarga Garrity berinisiatif kembali. Ya, mereka mulai melaksanakan migrasi, demi menemukan tanah harapan baru. Tentu, yang dicari adalah lokasi layak untuk dapat ditinggali oleh manusia.

Dapatkah mereka menemukan kembali lahan yang cukup aman? Atau malah berujung petaka lainnya, seperti perjalanan pertama mereka menuju Greenland?

Jawabannya, tentu ada di siklus akhir dan awal dunia ala sinema Indonesia.

Sedikit Pendapat Akhir Dunia

Mengenai kisah akhir dunia, yang tentu banyak kisahnya dan kontroversinya, justru penulis ingin mengomentarinya dari segi para 'aktivis-nya.'

Terdapat beberapa kreator (di Internet), yang setiap merilis karya kontennya, terlalu mengedepankan kontroversi yang ada, layaknya bencana alam dan manusianya adalah suatu bentuk pro atau kontra.

Memang cukup bagus untuk meningkatkan pemantauan kita sebagai warga biasa. Namun, kontennya saja judulnya sudah click-bait, apalagi hingga rage-bait. Seakan, konten tersebut hanya ditujukan untuk memancing saja. Padahal kalau topiknya bencana alam, tentu dapat dicek dengan membaca beritanya, dokumenter berisi sainsnya, dan bahkan sedikit drama dari fiksinya.

Jadi, penulis hanya ingin mengomentari, bahwa konten seperti itu hanya dijadikan sebagai bahan obrolan saja, dengan para kreatornya yang jelas terlihat paranoid. Bahkan, penulis sempat menonton sebuah konten, yang jika ditelaah, tiga dari lima topik yang diutarakannya ternyata salah fakta dan data! Padahal, konten tersebut tidak mengomentari urusan Fiksi! Jadi, dimana sebenarnya kredibilitas mereka?

Lebih paranoid lagi, mereka layaknya seorang pemberontak, khususnya kepada 1 Persen Top Global, yang sudah dari jaman terdahulu, menjadi prioritas keamanan jika bencana alam dahsyat menimpa bumi. Terlalu paranoid-kah mereka? Menurut penulis sih iya, mereka paranoid. 

Kembali ke segi penulis sendiri, penulis menyimpulkan cuplikan dan referensi film seadanya, layaknya sastra dan seni yang memiliki penjiwaan tersendiri, dengan disandingkan ala balutan budaya yang ada. Jadi, berbeda dengan para 'influencer' ini, tulisan artikel saya memang lebih mirip sebuah bentuk studi dan penjiwaan, daripada dapat merubah pandangan para pembacanya.

Okeh, Wassalam.

Berteman dengan Panda Imut dalam Film Moon The Panda

 

Tian dan Panda (TMDB).

Selamat datang kembali di tahun berikutnya, yaitu tahun 2026 yang meninggalkan 2025 dengan segala kegalauannya. Ya, cukup galau karena memang harus masuk sekolah dan kerja lagi setelah liburan. Lupakan semua resolusi tahun 2025 lalu, dan mulailah melangkah lagi di tahun 2026 ini.

Dan, tentunya masih ada waktu bersama keluarga atau teman terdekat untuk menikmati hiburan bersama. Apalagi, semenjak minggu kemarin dirilis beberapa film yang seluruhnya bertema tentang keluarga. Ya, memang bertema keluarga, tetapi dengan kombinasi banyak genre berbeda. Diantaranya, di ranah cerita anak, isu bencana sosial, horor, hingga komedi budaya. 

Okeh, sudah saatnya membahas film pertamanya saja ya, yang berjudul Moon The Panda, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia. Film ini bisa ditonton oleh Semua Umur, alias cocok untuk mengajak anak yang ingin menonton kelucuan Panda.

Panda yang Isekai

Oh ya, karena seperti biasanya, cuplikan film Moon The Panda sama sekali tidak mengisahkan plot utama filmnya. Maka, di sub-artikel ini ditulis saja keunikan dari binatangnya sendiri, yaitu sejenis beruang herbivora bernama Panda.

Hewan berwarna hitam-putih ini sejenis beruang, yang biasanya omnivora, alias pemakan segala. Namun, entah apa yang terjadi jutaan tahun lalu, sehingga Panda beradaptasi dengan hanya melahap tanaman bambu saja. 

Seperti dilansir dari NatGeo Indonesia, pada sebuah fosil dari tujuh tahun lalu, terdapat jejak transisi Panda dari omnivora menjadi herbivora. Padahal hingga kini, dalam perut Panda masih memiliki banyak bakteri pemroses protein.

Bahkan, menurut Taman Safari Indonesia, Panda mampu melahap hingga 12 kilogram bambu setiap harinya. Jumlah tersebut pun cukup kurang, karena Panda bisa berbobot 160 kilogram, dan membutuhkan kalori yang lebih banyak untuk bergerak. Sementara itu, bambu hanya menghasilkan sedikit kalori.

Uniknya, karena siklus hidupnya yang agak 'malas,' sehingga Panda hanya menghabiskan 38 persen kalori setiap harinya. Mungkin itulah, mengapa Panda malah terlihat ceroboh, malas, konyol, dan lucu sekaligus. 

Hewan ini memang secara adaptasi biologis, sudah dianggap anomali. Sehingga, uniknya Panda-lah yang membuat Pemerintah China mendukung sepenuhnya konservasi hewan terancam punah ini. Bahkan, di seluruh dunia terdapat usaha konservasi khusus, yang dianggap cukup berbiaya tinggi, akibat sulitnya mengembangbiakkan Panda.

Sutradara Gilles de Maistres dari Perancis

Bagi yang penasaran dengan sutradaranya, yaitu seorang sineas dari Perancis bernama Gilles de Maistres. Sutradara ini sudah berkecimpung lama dengan khas film anak, yang memadukan hewan liar didalamnya.

Contohnya adalah film tahun 2018 berjudul Mia and The White Lion, yang cukup sukses di pasar maupun kritikus. Dua film berikutnya yang tetap berisi karakter binatang, The Wolf and The Lion (2021) dan Autumn and The Black Jaguar (2024), sempat diproduksi oleh sutradara Gilles. 

Tampaknya, Giles de Maistres memiliki wacana untuk mengisi kekosongan film anak, yang berisi peran karakter binatang asli, sebagai bagian dari plot utamanya.

Sinopsis Film Moon The Panda

Tian Zhao (Liu Nouyi) adalah anak yang masih cukup bandel. Suatu hari saat tengah merayakan hari ulang tahunnya ke 12, Tian dikritisi oleh ayahnya, Fu Zhao (Liu Ye) bahwa nilai di sekolahnya buruk, dan bahkan peringkat terakhir di kelas. Tidak menerima begitu saja, Tian lalu ngambek dan pergi dari acara ulang tahunnya sendiri.

Ibunya, Emma Zhao (Alexandra Lamy), lalu berinisiatif untuk mengajak berlibur kedua anaknya, Tian dan Liya (Liu Nina), menuju lokasi hunian neneknya, Nai Nai Zhao (Sylvia Chang). Ketiganya lalu berangkat menuju pedesaan China, tempat hunian Nai Nai yang dekat sekali hutan belantara. Fu Zhao sebenarnya masih heran, mengapa berlibur ke rumah ibunya dapat membereskan masalah nilai Tian.

Tian, yang terlalu sumringah saat menjelajah ke hutan, akhirnya bertemu dengan seekor panda kecil, bersama ibunya. Keduanya pun menjalin persahabatan di tengah hutan, karena panda yang diberi nama Moon ini, sangatlah jinak untuk menemani kesehariannya.

Dapatkan keduanya menjalin persahabatan antar spesies untuk waktu yang lama? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

26 Desember 2025

Tersasar Kembali di Tanah Keramat Ala Film Dusun Mayit

 

Keempat manusia yang isekai di gunung (TMDB).

Daaaan, akhirnya kembali lagi di penghujung akhir tahun 2025, tepatnya dirilis pada 31 Desember (lagi), dengan satu judul film horor yang mengemukakan kembali keramatnya lokasi pegunungan, berjudul Dusun Mayit. Tentu, tayangan ini cocok bagi para penggemar horor, di sinema Indonesia, tentunya.

Sedikit Penalaran Plot Utama Dusun Mayit

Nah, sekarang perlu ditelaah sedikit melalui cuplikannya (saja), yaitu berlatar di sebuah gunung, tepatnya bernama Gunung Welirang. Walau pada cuplikannya terlihat indah, tentunya dengan kebutuhan plot dan cerita film horor, dibutuhkan berbagai bumbu ngeri. Oh ya, film ini memiliki rating R13+, alias hanya cocok ditonton oleh remaja keatas.

Dan memang, beberapa adegan pada cuplikannya memberi petunjuk (lagi), demi menceritakan keramatnya sebuah gunung, yang biasa masuk pada Weton di sekitar gunung oleh warga. Gunung memang dianggap keramat, dan beberapa ritual dan pantangan ditujukan bagi setiap warga yang mengunjunginya.

Contohnya adalah sebuah pantangan, dimana para pendaki tidak boleh keluar dari jalur pendakian (secara eksplisit disebut dalam cuplikannya). Tentu agar tidak tersasar di wilayah hutan lebat dan pegunungan yang naik-turun, terdapat pula pantangan mistis lain-lain. Takhayul atau tidak, maka resiko tersasar saja sudah cukup sebagai peringatan khusus bagi para pendaki.

Adapula terdapat adegan, dimana seorang pendaki pemula yang meremehkan Weton tersebut, dan bahkan menendang sesajen di antara sebuah pohon. Walau ritual tersebut hanya mengacu pada beberapa sistem kepercayaan saja di Jawa, tapi coba dicek saja dari segi nilainya. 

Maksud paling kentara bukanlah langsung mistis, melainkan simbol dari sebuah penghargaan kepada alamnya. Jadi, bagi yang tidak mengikuti ajaran tersebut, maka bisa dianggap simbol saja, bahwa kita yang mengunjungi alam belantara, harus menghargainya. Sekaligus pula, bebersih saja setelah kunjungan kita selesai, dan jangan meninggalkan sampah atau perlengkapan kemah lainnya.

Bahkan, sebuah pohon bisa disebut keramat, bukan karena terlihat besar dan menyeramkan saja. Pohon tertinggi dan terbesar di sebuah lokasi hutan, adalah penyeimbang dan pelindung di ekosistem tersebut, sehingga berperan penting bagi habitat tanaman dan hewan di sekitarnya. Jadi, pohon tersebut layaknya 'kuncen asli' di hutan tersebut, dan jangan diganggu, apalagi ditebang.

Ya, maksudnya, sains saja sudah membuktikan pentingnya kelangsungan pohon tersebut bagi ekosistem. Kita sebagai manusia, tentu paham maksudnya. Oh ya, pohon yang dikeramatkan, sempat meluas pula di seluruh dunia. 

Tidak hanya penjaga ekosistem, maka pohon tertinggi dapat melindungi hutan saat badai kilat. Dalam sainsnya, objek tertinggi di sebuah lahan akan lebih mudah tersambar kilat, daripada objek yang lebih rendah. Jadi, pohon terbesar (yang mungkin masih bisa tumbuh), menjadi satu-satunya yang tersambar lalu terbakar, diantara jutaan pohon lainnya di seluruh hutan.

Dan satu lagi dari segi kebahasaan, dalam bahasa Jepang, 'Kami' berarti Dewa, lalu 'Kaminari' berarti kilat. Walau Kanji-nya berbeda, tetapi morfologinya tetap sama. Maka, kilat adalah suatu simbol kuat mengenai dewa di langit, yang selalu digambarkan dengan selendang pada belakang punggungnya, khususnya dari China, hingga Jepang. 

Di paragraf berikutnya, dijelaskan pula kesinambungan simbol budaya ini dengan  budaya lainnya dari Asia Timur, khususnya dari Jepang. 

Selain itu, terdapat pula sebuah adegan dimana pendakinya sampai di sebuah desa terpencil, dengan keadaan yang cukup berbeda. Para warganya terlihat begitu tradisional, dan tidak kelihatan 'hidup' seperti biasanya.

Nah, kalau yang satu ini, bisa ditelaah pula dari segi cerita jurig. Tidak hanya di Indonesia yang kadang berisi kisah tersasar hingga lokasi pasar malam atau desa terpencil mistis, tetapi ternyata sering muncul pula di banyak negara Asia Timur lainnya. 

Indonesia termasuk Timur loh, alias Tenggara, dan memang dari segi budaya cukup berbeda dengan Asia Tengah dan Timur Tengah, namun sangat mirip dengan negara di Asia Timur. Entah apa yang terjadi selama jaman keemasan kerajaan terdahulu, dimana intensitas dagang ternyata cukup lekat akulturasi budayanya, sepanjang Asia Timur hingga Tenggara.

Okeh, kembali lagi ke lokasi dusun atau pasar malam mistis. Contohnya saja, terdapat mitos yang mirip dari Jepang, yaitu lokasi pasar malam, dimana banyak mahluk mengikutinya. Mahluk tersebut biasa disebut Yokai atau Siluman, dan memang berlokasi di tengah hutan. Manusia yang kebetulan lewat dan sempat mendengar, diberi pantangan untuk mengikutinya. Bahkan, cerita ini bisa disebut Pamali dari negara Sakura sana.

Padahal jika ditelaah kembali, pasar malam ini bisa menjadi simbol lainnya pula. Penulis bahkan sempat menemukan, lokasi situs aneh ditengah gunung yang dipenuhi pohon pinus, yaitu gunung antara Tasikmalaya dan Majalengka. Penulis bahkan sempat berfoto disana, dimana banyak batu yang jika dipukul dengan koin atau sejenis logam, akan bergema dan mendengung, layaknya sebuah Gamelan.

Lokasinya memang dekat jalan yang waktu itu penulis lewati, sebagai jalan pintas antar wilayah di Jawa Barat. Namun, bukan berarti penulis melaksanakan ritual tersebut. Mungkin, jika 'pemainnya' berbeda, maka rangkaian batu tersebut bisa disebut sebagai alat musik mistis.

Nah, bagaimana dengan penggambaran film di Dusun Mayit ini, yang lebih kental logat serta budaya Jawa-nya? Coba dicek saja melalui sinopsisnya.

Sinopsis Film Dusun Mayit

Aryo (Fahad Haydra), Raka (Randy Martin), dan Nita (Ersya Aurelia), adalah teman dekat sejak lama. Ketiganya sudah terbiasa mendaki gunung, dan kali ini ingin mendaki dan berkemah di Gunung Welirang. Trio ini lalu mengajak kawan baru mereka, bernama Yuni (Amanda Manopo).

Quadro ini lalu berangkat menuju Gunung Welirang, yang walau sempat diperingatkan agar tidak keluar dari jalur pendakian, mereka malah menjelajah terlalu jauh. Walau begitu, mereka berhasil menemukan sebuah danau cantik ditengah gunung, yang menjadi hasil memuaskan dari penjelajahan mereka.

Namun, saat pulang, mereka menemukan sebuah lokasi sesajen, tepat dibawah pohon besar. Nita, yang memang kurang percaya takhayul, malah menendang sesajen tersebut. Lebih parahnya lagi, keempat sekawan malah tersasar, padahal lokasinya masih padang rumput yang luas.

Hingga akhirnya keempat sekawan ini berhasil masuk ke hutan kembali, lalu tiba di lokasi gubuk peristirahatan pendaki. Dan semakin parah lagi, Nita yang sempat hilang, malah kesurupan dan pingsan seketika. 

Keempatnya pun semakin panik, yang lalu merasa tambah heran, saat tiba di sebuah desa. Di Desa tersebut, keadaan terasa aneh, dengan warganya yang terlihat kurang komunikatif. 

Dan saat malam tiba, Mbah Surop (Bambang Gundul), yaitu seorang paranormal dan kuncen gunung tersebut, berselirih bahwa mereka berada di ambang batas dunia nyata dan ghaib. Tepat pada malam tersebut, kekuatan supernatural akan terserap dan menerobos dunia nyata, sementara manusia (selain Kuncen), dapat terjebak dan tidak dapat kembali.

Sanggupkah mereka melarikan diri dari lokasi dusun mistis tersebut? Atau malah pasrah dan milih bergabung dalam ritualnya? Atau malah belajar langsung dari Kuncen agar sakti mandraguna?

Jawabannya, tentu terdapat di ritual desa terpencil sinema Indonesia.

Kocaknya Dikejar Hutang Ala Komedian di Film Modual Nekad

 

Film yang emang modualnya nekad (Instagram).

Menjelang akhir tahun 2025 ini, alias minggu kelima Desember saat perpindahan tahun menuju tahun 2026, tampaknya memang perlu diisi dengan film komedi nan kocak. Ya, kali ini judulnya adalah Modual Nekad, yaitu sekuel dari film pertamanya yang mirip judulnya, Modal Nekad

Film Modual Nekad tentu akan tayang di sinema-sinema Indonesia mulai akhir minggu kelima sekaligus batas ujung tahun, alias tanggal 31 Desember mendatang. Bagi yang perlu menonton film pertamanya dari tahun 2024 (dan masih di bulan Desember lalu), masih bisa disaksikan di layanan siaran Netflix. Kedua film pun memiliki rating sama, yaitu R13+.

Oh ya, bagi yang merasa kenal dengan Imam Darto, ya kali ini Modual Nekad menjadi film kedua yang menjadi arahannya, sekaligus penulis naskahnya. Lulusan dari radio ini memang telah berkecimpung lama sebagai penulis naskah film, yaitu sejak film Vote for Love, tahun 2008 lalu. Walau begitu, film hasil naskah miliknya lebih konsisten dimulai sejak tahun 2019 lalu, dengan judul Pretty Boys.

Animo filmnya yang kocak ala komedi Indonesia pun sebenarnya berujung ironis, karena kedua film mengisahkan tentang sulitnya membayar hutang, yang berakibat dari biaya rumah sakit. Saking ekstremnya, seluruh karakter utama di kedua film malah mengambil jalur yang lebih ekstrem lagi, yaitu mencoba mencuri dari sebuah rumah orang kaya.

Okeh, segitu saja dulu plot utamanya. Sudah saatnya membahas sinopsis film pertamanya, ya wak?

Sinopsis Film Modal Nekad

Saipul (Gading Marten), Jamal (Tarra Budiman), dan Marwan (Fatih Unru), baru saja kehilangan sosok ayah mereka. Baru saja ketiganya menguburkan jenazah ayahnya, dengan kata-kata ceramah mengingatkan tentang hutang almarhum, administrasi rumah sakit yang ikut menumpang ambulans, langsung tanpa ragu menggelontorkan sepucuk surat tagihan biaya perawatan.

Ketiganya pun mengadakan rapat, untuk menghitung bagaimana caranya membayar hutang tersebut. Akhirnya, karena ketiga bersaudara ini mentok, maka memilih jalur yang kurang baik, yaitu mencuri dari sebuah rumah milik orang kaya, bernama Teddy Salsa (Bucek Depp), yang (katanya) jarang pulang ke rumah.

Namun, saat ketiganya berhasil memasuki area dalam rumah tersebut, ternyata sang pemilik rumah kembali pulang. Tidak sendiri, melainkan bersama seluruh ajudannya, yang bernama Petrus (Mike Lucock), Eka (Prisia Nasution), Bakti (Sadana Agung), dan Agus (Coki Anwar). Trio bersaudara ini pun kalang kabut untuk mencari tempat persembunyian.

Lebih parah lagi, ternyata kepulangan pemilik rumah, bareng pula dengan tibanya anggota kepolisian, yang dikepalai oleh Bripka Bowo (Tanta Ginting) dan Briptu Ardi (Reza Hilman). Mereka melaksanakan Buser (Buru Sergap) sekaligus Sidak (Inspeksi Mendadak), karena tahu bahwa pemilik rumah yang terkenal kriminil, sedang berada di rumah. 

Lebih kacau lagi, ternyata Teddy Salsa tidak mau mengalah begitu saja. Ajudannya malah melawan balik, dan berakhir dengan menyandera seluruh anggota regu kepolisian.

Trio bersaudara ini akhirnya mendapatkan bantuan khusus, yaitu dari pembantu dan penjaga rumah tersebut yang bernama Rosma (Sahila Hisyam) dan Salim (Fajar Nugra). Kedua pembantu yang biasa mengurus rumah saat ditinggalkan pemiliknya, ternyata tahu kegilaan yang sering dilaksanakan bos-nya. 

Bahkan, setelah berhasil keluar rumah, ketiganya justru membantu lagi para penjaga rumah, agar dapat menguak kejahatan di rumah tersebut, sekaligus mendapatkan cuan untuk hutang mereka.

Okeh, plotnya terdengar epik dan cukup menarik. Sekali lagi, yang penasaran bisa mengeceknya di siaran Netflix. Oh ya, film ini sekaligus menjadi debut aktris cilik bernama Gempita Nora Marten, anak dari Gading Marten, yang memerankan karakter Aisyah.

Dan lanjut, ke sinopsis film keduanya, ya...

Sinopsis Film Modual Nekad

Kali ini di film keduanya, trio bersaudara Saipul, Jamal, dan Marwan malah terjerat di situasi yang lebih parah lagi. Yaitu, resiko rumah warisan peninggalan bapaknya, Bapak Husein (Budi Ros), yang akan disita oleh bank. 

Penyitaan sejenis ini, kadang terjadi di dunia nyata, akibat sang pewaris malah menitipkan sertifikat rumah bukannya pada anggota keluarga atau ahli hukum, dan bahkan bank yang memang dapat menyita, melainkan pihak ketiga yang dianggap memiliki kedekatan batin. Namun, pihak ketiga (yang dalam film ini bernama Pak Haji dan diperankan oleh Andre Taulany) malah menyalahgunakan sertifikat tersebut demi kepentingan pribadi, contohnya adalah sebagai jaminan untuk  meminjam sejumlah dana dari bank.

Jadi, ketiga karakter utama di film Modual Nekad, justru tidak berandil sama sekali, yang berakibat penyitaan rumah milik mereka. Namun, ketiganya yang sudah berpengalaman untuk menjebol rumah orang kaya, memanfaatkan situasi lain yang sama berbahayanya. 

Di sekitar area rumahnya, terdapat seorang rumah pejabat korup yang baru saja ditangkap kepolisian. Dari situ, Marwan memanfaatkan situasi Buser dan Sidak di lokasi rumah tersangka, dengan berpura-pura sebagai anggota pers. Padahal, tujuannya adalah memantau isi keadaan rumah, agar dapat dibobol saat operasi berlangsung malam harinya.

Trio penjahat pecicilan itupun sukses besar, dengan berhasil merebut sekitar 400 juta rupiah! Namun, kesuksesan tersebut ternyata menguak fakta lain, yang dapat membongkar kejahatan besar di rumah tersebut. Sebuah flashdisk berisi rekaman CCTV, ternyata menguak kejahatan lain yang dilaksanakan oleh pemilih rumah, bersama seorang pengusaha, bernama Omar (Surya Saputra).

Sayang seribu sayang, ajudan terdahulu yang memang ikut naik level setelah film pertamanya, yaitu Bakti, berhasil melacak lokasi duo Saipul dan Jamal. Mereka lalu disandera bersama seluruh anggota keluarganya, untuk diberikan kepada Omar.

Marwan yang tidak berhasil disekap, ternyata ikut naik level pula, yang berhasil menyergap dan menyandera para ajudan tersebut. Tanpa berpikir panjang, Marwan akhirnya mencoba menyelamatkan seluruh keluarganya.

Masih epik saja film keduanya ini. Maka, bagi yang cukup mengerti bagaimana epiknya kisah warga biasa lalu naik level menjadi penjahat pecicilan, dapat menyaksikannya langsung di ranah kriminalitas ala sinema Indonesia.

24 Desember 2025

Kocaknya Dunia Jurig Nusantara Ala Film Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t

 

Cak Lontong yang entah kenapa masih jadi Presiden Nusantara (YouTube).

Daaan, akhirnya bagi penggemar StandUp Comedy Indonesia, film berjudul Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t, dirilis akhir tahun meramaikan libur saat ini, dengan tayang di sinema Indonesia. Bagi anak SMP, SMA, Kuliah, hingga warga yang ingin hiburan kocak, tentu dapat menikmatinya dengan bebas, alias ratingnya adalah R13+.

Komika di Indonesia

Stand Up Comedy adalah sejenis hiburan panggung, dimana komikanya hanya bertutur kata dan berceloteh lucu, dengan panjang atau pendeknya narasi, hingga memunculkan punch-line yang membuatnya lucu. Kadang, saking mengalirnya narasi para Komika, satu sesi bisa habis dengan suara tertawaan dari penonton. 

Setiap komika memiliki khasnya masing-masing, yang berasal dari cerita obrolan sehari-hari, observasi, komentar isu sosial, atau sejenis cerita berlatar komikanya sendiri. Kadang saking bodornya, alunan cerita kurang nyambung pun bisa menjadi sangat lucu, tergantung dari cara komika mendongeng, serta minat penonton saat acara berlangsung.

Nah, bagi yang kenal, tentu tahu bahwa Comic 8 adalah sebuah kanal YouTube yang diisi oleh banyak komedian dari Stand Up, khususnya acara StandUp Comedy Indonesia (SUCI), di salah satu stasiun televisi nasional Indonesia. 

Tentu, berbeda dengan ajang bakat di stasiun televisi tersebut, Comic 8 adalah satu kelompok dengan kanal YouTube, yang acaranya dapat mengundang banyak komedian, khususnya Stand Up Comedian, yang aktif maupun tidak.

Bahkan, tahun 2025 adalah musim ke sebelas acaranya telah berlangsung, alias telah 11 tahun lamanya meramaikan ranah komedi nasional, sejak tahun 2011 lalu. Sebutannya pun khusus, yaitu bernama Comic atau Komika, yang mengacu para komedian berbakat dari sejenis acara ini.

Bagi yang perlu mengingat beberapa namanya, tampaknya bisa disebutkan disini. Mulai dari Mo Sidik, Dodik Mulyanto, Pandji Pragiwaksono, Ryan Adriandhy, Raditya Dika (sebagai awal viralnya Komika), Indra Jegel, Arie Kriting, Kemal Palevi, Soleh Solihun, Sang Legenda Komeng (yang kini sibuk di Perwakilan Rakyat), dan salah satu favorit saya, Gilang Bhaskara. 

Sebelum melangkah dan mengacu pada film dari Comic 8 ini, banyak diantara komedian sering merilis film bersama para sineasnya. Gaya mereka yang kocak di panggung, ternyata cocok sebagai ranah film komedi nasional.

Film Pertama Comic 8 dan Revolution

Nah, kembali ke Comic 8, yang ternyata film pertamanya dirilis pada tahun 2014 lalu, dengan banyak nama-nama terkenal dari dunia komika. Animonya pun lebih mengacu ke film aksi, karena sesuai dengan momen bangkitnya film aksi dari Indonesia, sejak dirilisnya The Raid (lagi, dari tahun 2011 lalu).

Cukup banyak bintang legendaris dari Comic 8 tersebut, diantaranya adalah Indro Warkop, Cak Lontong, Nirina Zubir, Agung Hercules, Kiki Fatmala, Candil, dan sutradara terkenal, Anggy Umbara. Memang, film Comic 8 selalu diproduksi dengan menghadirkan banyak bintang, dengan adegan yang diarahkan ala komedi situasional, dan ditambah celotehan khas para komika.

Nah, sekarang kembali ke film Comic 8 di tahun 2025, maka banyak pemainnya berasal dari legenda yang sama. Indro Warkop (yang kembali lagi), ditambah Andre Taulany (yang masih belum puas celoteh simping), Hesti Purwadinata (yang masih ca'em saja), Vino G. Bastian (yang sebenarnya jarang bermain komedi, padahal anaknya Wiro Sableng), Cak Lontong (yang masih belum nyambung), Indy Barends (yang kini harus membawakan acara film), dan Daan Aria (anggota komedian legendaris Project P alias Padhyangan, tahun 90an lalu).

Okeh, tampaknya coba cek saja sinopsisnya, walau bagaimana pun cukup ngakak melihat cuplikannya, haha... (Padahal efek spesialnya cukup bagus).

Sinopsis Film Comic 8 Revolution: Santet K4bin3t

Awal cuplikan dimulai dengan wacana ala Presiden Cak Lontong (yang entah kenapa nyambung), yang disambut secara lugas oleh anggota kabinetnya, Daan Aria. Mereka semua tengah rapat, bahwa kabinet mereka sedang disantet oleh gerombolan paranormal kurang viral nan bernaung kasih.

Ternyata, adegan dilanjutkan dengan ritual kasmaran ala Ki Bagus (Andrea Taulany) dan Ni Gendis (Hesti Purwadinata). Padahal, keduanya di masa lampau yang telah terdahulu lamanya sejak jaman persilatan Indonesia masih kacau balau, sering beradu kesaktian demi membuktikan siapa yang terbaik dibawah luasnya khayangan. 

Namun, di jaman modernisasi jurig, sepasang keduanya malah kasmaran, dan mencoba melawan viralisasi dunia supernatural, dengan menyantet tokoh utamanya, yaitu Presidennya sendiri, yang sudah jelas kurang nyambung ala Cak Lontong.

Pihak Kabinet pun perlu memanggil agensi khusus, yang sering berlandaskan paranormal, diantaranya Tora Sudiro dan Vino G. Bastian, demi menghalau santet galau gulana se-Nusantara ini. 

Sayang seribu sayang, kasmaran Ki Bagus dan Ni Gendis malah melahirkan sebangsa jurig sebesar Mo Sidik, sehingga urusan mereka semakin kentara terasa menyakiti hati (kanyeyeri) para korban santet. Tidak hanya mahluk sebesar itu, namun urusan kajajaden seperti Tuyul, Kuntilanak, dan Pocong, pun dilansir serta disunting kembali demi meraih hasil naratif yang memuaskan.

Agensi dari kabinet pun perlu merekrut para agen baru, yang diantaranya adalah komika yang sanggup menghibur hati para jurig, tanpa perlu sakti mandraguna alias tidak perlu sampai bermuram durja. Agensi baru ini dikirimkan menuju pulau liburan akhir tahun milik Ki Bagus dan Ni Gendis.

Ternyata eh ternyata, Kiky Saputri dan Mongol Stres pun muncul di akhir cuplikan. Keduanya memilih jalur kasmaran yang berbeda, yaitu dengan mengadopsi sebuah tengkorak baru di lahan yang lebih menyeramkan lagi.

Bagaimana rasanya berasa kocak nan diserem-seremin? Coba nikmati saja di akhir dunia nan Indah ala sinema-sinema Indonesia.

SpongeBob yang Mengalami Puber di Film Search for SquarePants

 

Patrick dan SpongeBob yang masih bodor (IMDB).

Saatnya kembali meramaikan dunia perkartunan ala animasi bodor SpongeBob, yang kali ini menelurkan filmnya saat akhir tahun di sinema-sinema Indonesia, bersub-judul Search for SquarePants

Tampaknya perlu diingat kembali, bahwa serial kartun televisi SpongeBob telah melegenda di Indonesia, sejak penayangan awalnya tahun 2004 lalu. Sejak saat itu, SpongeBob selalu meramaikan ranah animasi, bagi anak kecil hingga dewasa. Nickelodeon sebenarnya merilis SpongeBob di tahun 1999, yang mulai merambah seluruh dunia sejak awal 2000an.

Tentu, bagi yang ingin menikmati nostalgia bersama sang anak, maka dapat menontonnya bersama, karena rating umurnya adalah Semua Umur (SU).

Konyolnya Kartun The SpongeBob SquarePants

Selain ceritanya yang kocak, anehnya lokasi dibawah laut, serta karakternya yang lucu-lucu ala warga Bikini Bottom, SpongeBob seringkali mengemukakan banyak kata-kata bijak bagi penggemarnya. 

Contohnya adalah yang diutarakan seorang karakter bintang laut, bernama Patrick Star. Walaupun digambarkan sebagai karakter yang malas nan bodoh, namun kata-katanya sangatlah memberi semangat. Contohnya adalah 'Hidup itu mudah. Jika senang, tersenyumlah. Jika sedih, tertawalah!' lalu 'Aku Jelek dan Aku Bangga!' Selalu konyol namun nyambung, karena Patrick bukanlah karakter yang pernah serius.

Jika dicek referensinya, Spons Laut dan Bintang Laut adalah dua mahluk invertebrata paling santai sedasar lautan (kelihatannya). Spons Laut menempel pada Terumbu Karang, sehingga menjadi bagian utama dari ekosistem penting di lautan. 

Tentu sudah banyak yang tahu, bahwa jika Terumbu Karang lautan terancam, maka banyak mahluk laut yang terancam pula kehidupannya. Sehingga, penggambaran karakter SpongeBob yang rajin, pekerja keras, serta setia, cocok digambarkan sebagai simbol dari Spons Laut asli.

Sementara Bintang Laut adalah sejenis mahluk yang kerjanya hanya tiduran saja di dasar lautan. Terlihat sangat santai, padahal mahluk ini adalah satu dari banyak hewan target nutrisi, bagi banyak predator laut. 

Namun, santainya tersebut justru bukanlah suatu kelemahan, namun kelebihannya yang berlebihan. Bintang Laut mampu menumbuhkan kembali bagian tubuhnya yang hilang. Bahkan, satu penelitian mengkaji, bahwa Bintang Laut yang telah terpotong seluruh 'kakinya,' masih sanggup menumbuhkannya kembali hingga lengkap. 

Jadi, penggambaran Patrick Star yang santai dan bodoh sangat cocok pula sebagai simbol dari Bintang Laut asli. Bukannya santai, tetapi Patrick memang cukup kuat dalam menanggapi 'masalah hidup.'

Dan, keduanya pun bisa disebut sebagai hewan yang konyol, karena memang aslinya tidak memiliki organ Otak. Sehingga, penggambaran karakter SpongeBob dan Patrick yang keduanya terlalu kekanak-kanakan dan lucu-lucuan saja semasa hidup, sekali lagi cocok sebagai penggambarannya.

Sebenarnya, masih banyak penggambaran lain di Bikini Bottom ala serial kartun The SpongeBob SquarePants. Contohnya dari Plankton, yang merupakan salah satu rantai makanan paling kecil dan menderita di lautan. 

Namun, karena sedang membahas filmnya, maka disudahi saja disini, dengan membahas film pertamanya saja dari tahun 2004, yang cukup nyambung dengan animo film tahun 2025-nya.

(Atau mungkin, nanti ditulis saja di bagian artikel Monsterisasi).

Film Pertama The SpongeBob SquarePants Movie

Nah, satu film yang perlu diingat dari SpongeBob, adalah tepat beberapa bulan setelah penayangan televisinya di Indonesia. Judulnya pun simpel, yaitu The SpongeBob SquarePants Movie

Seperti biasa, film ini awalnya mengisahkan perseturuan antara Krusty Krab milik Tuan Krab, dan Chum Bucket milik Plankton. Namun, SpongeBob serta Patrick perlu berpetualang dan melanglangbuana hingga lautan terdalam, demi meraih kembali mahkota sang raja Neptunus.

Kisah di film ini pun cukup memfokuskan, mengenai SpongeBob dan Patrick yang sebenarnya sudah terlalu dewasa untuk terus bermain-main. Kekonyolan mereka sangat terlihat pada adegan berisi lagu Goofy Goober, yang merupakan idola bagi keduanya. Namun, bintang dan spons laut ini ternyata cukup dewasa untuk melalui seluruh tantangan, walau masih memiliki status sebagai fans Goofy Goober.

Nah, kali ini di film Search for SquarePants, justru memiliki atmosfer cerita yang sama. Ya, walau terlampau jarak 21 tahun lamanya, namun animo yang disajikan mirip. Walau film pertamanya diproduksi Dua Dimensi, dan film saat ini berformat Tiga Dimensi, namun menyajikan Patrick dan SpongeBob yang masih konyol, namun ingin membuktikan bahwa dirinya telah dewasa. 

Okeh, saatnya membahas sinopsis filmnya saja, ya...

Sinopsis Film The SpongeBob Movie: Search for SquarePants

Awalnya, SpongeBob (Tom Kenny) yang tengah bekerja di Krusty Krab, sedang mengobrol dengan Patrick (Bill Fagerbakke) di toilet. Tiba-tiba, ventilasi toilet terbuka, yang membuat semangat SpongeBob atas sebuah petualangan.

Setelah berhasil melewati ventilasi karena badannya yang elastis, SpongeBob ternyata sampai di sebuah kapal milik Flying Dutchman (Mark Hamill), yaitu jurig terkuat lautan.

Lebih konyolnya lagi, Flying Dutchman yang memang mencari 'mahluk paling polos selautan', akhirnya 'merekrut' SpongeBob dan Patrick sebagai anggota bajak laut. Padahal, Davy Jones ingin membersihkan dirinya dari kutukan jurig selama ini, dengan cara memberikan keduanya pada pemberi kutukan.

Kisah hilangnya SpongeBob dan Patrick pun menyebabkan panik bagi Tuan Krab (Clancy Brown), yang tidak ingin kehilangan koki andalannya (walau tetap pelit). Tuan Krab lalu merekrut Squidward (Roger Bumpass) dan Gary, demi misi menyelamatkan keduanya dari kekangan Flying Dutchman.

Sanggupkah Tuan Krab menyelamatkan Patrick Star dan SpongeBob SquarePants? Atau malah keduanya membuktikan diri sebagai petualang laut terhebat? Atau bahkan menaklukan langsung Flying Dutchman yang terkenal beringas? 

Jawabannya, tentu ada di keragaman kartun hayati ala sinema di Indonesia.

Berjibaku dengan Kembalinya Ular Raksasa Kocak Ala Film Anaconda

 

Paul Rudd dan Jack Black yang suka ular (IMDB).

Film mencengangkan baru dari ranah Hollywood sana, akhirnya kembali dirilis di penghujung tahun 2025 ini, dengan mengusung judul Anaconda, yang tentu akan tayang di akhir minggu keempat bulan Desember ini. Bagi yang menyukai film binatang-monster-horor sejak jaman 90an, maka judul ini berasa nostalgia khusus. 

Namun, berbeda pula animonya, walaupun berjudul sama dengan film tahun 1997 lalu. Justru, kini film Anaconda di tahun 2025 dikisahkan dengan gaya komedi. Aktor dan aktris yang mengisinya pun bukan sembarang, melainkan Jack Black dan Paul Rudd. Bahkan, aktor dari Anaconda orisinal, Ice Cube, terlihat dalam adegan cuplikannya, sebagai cameo.

Film Anaconda dari Tahun 1997 dan 2004

Pada film tahun 1997 lalu, Anaconda adalah salah satu film monster yang sukses meramaikan dunia horor saat itu, dengan plot utamanya yang cukup sederhana untuk dinikmati. 

Yaitu saat sebuah kelompok ekspedisi dokumenter alam liar, yang menjelajahi sungai Amazon. Dalam perjalanan, mereka terhenti oleh ular Anakonda raksasa, yang panjangnya mencapai belasan meter. Padahal, biasanya Anakonda memiliki  panjang maksimum sembilan meter, dan berbobot 250 kilogram.

Animo film ini dilanjutkan pada film keduanya, berjudul Anacondas: Hunt for the Blood Orchid, yang mengambil latar di Pulau Kalimantan. Ya, lokasi syutingnya di Indonesia, namun dengan salah arti, alias ular Anakonda tidak berada di Pulau Kalimantan. Sebenarnya, ular yang ada di film ini adalah sejenis Sanca atau Piton, yang entah kenapa menjadi Anakonda di film ini.

Aktor dan Rating Umur di Anaconda 2025

Okeh, kembali ke film Anakonda 2025, karena plot filmnya dan aktor-aktris yang mengisinya berlatar komedi, maka animo yang disajikan pun berbeda. Jack Black adalah seorang aktor komedi terkenal, yang pada bulan April lalu sempat merilis karya sukses lainnya, yaitu Minecraft: The Movie. 

Sementara lawan mainnya, adalah Paul Rudd. Bagi yang suka menyaksikan film pahlawan super dari Marvel Studios, pasti mengenal wajahnya sebagai aktor dibalik karakter Ant-Man (2015, 2018, 2023) dan beberapa film Avengers. 

Bahkan, karakter Scott Lang yang diperankan oleh Paul Rudd, bisa disebut sebagai karakter paling kocak dari Marvel. Karena, niatnya bukanlah menjadi penyelamat dunia dan memiliki kekuatan super, melainkan agar dekat dengan anak semata wayangnya saja.

Untuk ratingnya, karena bergenre komedi tanpa ada adegan daging mendaging atau darah mendarah ala film monster biasanya, maka diberi rating umur R13, alias cocok dengan penonton remaja (dan setelahnya).

Sedikit Referensi dari Ular Anakonda dan Habitat di Amazon

Oh ya, bagi yang heran mengapa ular di film bisa berukuran raksasa, sebenarnya didukung oleh bukti penelitian sains. Berbeda dengan banyak binatang lainnya, ular masih bisa tumbuh terus sepanjang umurnya, tanpa terbatas metabolisme tubuh, dan hanya terhenti saat telah mencapai akhir usia. Jadi, legenda ular raksasa bukanlah mitos saja, melainkan mungkin terjadi di alam liar.

Hutan Amazon di Brazil, Amerika Selatan pun dipenuhi oleh banyak hewan eksotis berukuran raksasa lainnya. Contohnya adalah Kapibara sebagai hewan pengerat terbesar sedunia, Dugong sebagai hewan mamalia sungai terbesar di Amazon, Lumba-lumba sungai berwarna merah muda, Buaya Caiman, Burung Elang Harpy, Burung Makaw dan Toukan, serta Kaki Seribu Raksasa.

Okeh saatnya mengecek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Anaconda 2025

Doug McCallister (Jack Black) bersama ketiga kawannya, Ronald Grifin Jr. (Paul Rudd), Kenny Trent (Steve Zahn), dan Claire Simmons (Thandiwe Newton), sedang mengalami krisis masa paruh baya. Keempatnya ingin mengulangi masa keemasan mereka, dengan memproduksi ulang film lama favorit, yang mengisahkan tentang ular raksasa.

Karena ditolak beberapa kali oleh studio dan distributor film, maka quadro ini berinisiatif untuk memproduksi film dengan teknik Indie, alias produksi tanpa bantuan studio dan distributor. Semua perlengkapan disiapkan, beserta merekrut seorang pawang ular, yaitu Santiago Braga (Selton Mello), yang memiliki seekor ular Anakonda.

Namun, saat tengah syuting di sungai tengah hutan Amazon, seluruh proses produksi hampir dibatalkan, akibat ular yang jatuh ke sungai dan habis dilahap buaya. Doug pun merasa jengah, karena tidak memiliki aktor binatangnya lagi. Dia akhirnya berinisiatif, untuk menangkap ular baru bersama pawangnya.

Namun lebih parah lagi, keempatnya malah bertemu dengan seekor ular legendaris Anakonda berukuran raksasa, yang mencapai panjang belasan meter dan berbobot lebih dari setengah ton.

Kelimanya pun terpaksa melarikan diri dari area perburuan ular, hingga akhirnya bertemu dengan aktor ternama Ice Cube di sebuah desa. Ice Cube adalah seorang penyintas dari film pertama Anaconda, yang tampaknya masih trauma dan memilih jalan untuk terus berburu ular raksasa (:P).

Akhir kisahnya yang (mungkin) tragis, dapat disaksikan melalui keragaman hayati ala sinema-sinema Indonesia.

Alternatif Film Anaconda dari Tahun 2024

Oh ya, bagi yang penasaran mengenai kisah ular raksasa dari ranah Asia, dapat menyaksikan pula film Anaconda lainnya dari tahun 2024 lalu, dengan sub-judul Cursed Jungle. Sineas perfilman yang memproduksinya pun berasal dari negara yang kini tengah naik daun, yaitu China. Tentu, karakter serta studio dari negara besar di Asia Timur ini, menjadi animo tersendiri. 

Mungkin, reka ulang dari China yang masih memiliki atmosfer serius, menyebabkan Hollywood mengambil jalur alternatif saat me-reka ulang filmnya sendiri, yaitu dengan humor komedi ala Jack Black dan kawan-kawan. Bagi yang merasa Anaconda harusnya dibawa serius, film tahun 2024 masih bisa ditonton melalui layanan siaran Google Play Movie dan Netflix.

Menguak Alur Cerita Prekuel Sewu Dino di Film Janur Ireng

 

Entah apa yang terjadi pada keluarga Kuncoro (TMDB).

Okeh, saatnya film bercerita baru dari Dunia Sewu Dino untuk dibahas dan dirilis di minggu keempat Desember tahun ini, tentu berjudul Janur Ireng, yang tayang akhir minggu di banyak sinema Indonesia.

Sebelum mengacu pada kisahnya di film kedua ini, Janur Ireng memang prekuel dari film pertamanya, Sewu Dino. Sehingga, alur jalan cerita justru terbalik. Karena memang sudah dirilis tahun 2023 lalu, maka film Sewu Dino bisa dicek di layanan siaran Amazon Prime Video

Oh ya untuk film Sewu Dino, memiliki rating usia R13 (alias remaja). Sementara film Janur Ireng, memiliki rating usia D17, yang berarti dewasa. Entah apa perbedaan pada detail ceritanya, sampai rating usia pun berbeda. Atau, gara-gara visual yang menjurus pada daging-mendaging dan darah mendarah, yang lebih eksplisit dari sebelumnya.

Bahasa karakternya pun tercampur aduk ala logat Jawa, dengan bahasanya, serta tambahan bahasa Indonesia. Jadi, bagi yang kurang ngeuh, pasti bakal merasa heran dengan banyak dialog film bernafaskan Jawa. Bahkan, banyak dialog yang perlu diberi terjemahan, agar penonton (non-Jawa) bisa mengerti.

Untuk film pertamanya pun, langsung berkisah pada banyak adegan horor di dalam dan sekitar sebuah gubuk, di tengah hutan. Sementara di Janur Ireng, lebih banyak karakter dengan pembawaan dramanya, yang mengacu pada kondisi keluarga Kuntjoro.

Oh ya sekali lagi, Epy Kusnandar, sang tokoh utama dalam serial televisi Preman Pensiun lalu, hingga cukup sering berkontribusi di film Nasional dan Internasional, baru saja meninggal dunia, pada tanggal 3 Desember lalu, saat berusia 61 tahun. Bagi yang merasa kehilangan, maka film Janur Ireng adalah karya terakhir yang sempat memunculkan Epy Kusnandar, aktor Sunda dari Garut Kota ini.

Sinopsis Film Sewu Dino

Dan seperti biasanya, kali ini perlu dibahas pula sinopsis dari Sewu Dino, yang berarti seribu hari dalam bahasa Jawa. Film ini diadaptasi dari Thread horor, hasil karya penulisnya bernama SimpleMan. Animo cerita dari sebuah Thread, memang sekarang sedang sering-seringnya diadaptasi menjadi sebuah film.

Dalam film ini, justru mengisahkan sebuah misi seribu malam, dimana karakter utamanya harus menjaga sebuah keranda mayat. Cukup mengerikan, seperti dicontohkan pada cuplikan filmnya.

Tidak hanya menjaga mayat, Sri Rahayu (Mikha Tambayong), Erna (Givina Lukita), dan Dini (Agla Artalidia) diminta pula untuk melaksanakan ritual Basuh Sedo, alias memandikan jenazah agar arwahnya tenang.

Namun, yang belum mereka ketahui adalah jenazah tersebut bukanlah seseorang yang telah meninggal, namun sesosok Della (Gisella Firmansyah), yang pingsan setelah kerasukan arwah jahil lainnya. 

Sewu Dino adalah semacam santet yang menimpa Della, sehingga terpaksa pingsan selama seribu hari. Ritual Basuh Sedo pun hanya untuk menenangkan arwah yang merasuki Della, sementara ritual pamungkasnya akan dilaksanakan pada hari ke seribu.

Namun, empat hari menjelang hari ke seribu, ketiganya diteror oleh banyak hal mengerikan. Trio tersebut menemukan bahwa Della mulai bisa bergerak, dan bahkan hilang dari lokasi keranda mayat. Ketiganya pun perlu mereka ulang ritual mereka, menemukan kembali Della, serta mengamankan posisi hidup. Karena, dengan lepasnya Della, berarti pekerjaan mereka gagal dan hidup mereka terancam.

Oh ya, jika dicek cuplikannya, maka jumlah info yang terlihat tentu tidak sebanyak artikel ini. Namun, cuplikannya lebih berisi banyak adegan awal, hingga diakhiri ngerinya dikejar Della, yang tampaknya kerasukan parah dan berperilaku layaknya zombie alias mayat hidup. Akting Della pun cukup meyakinkan, layaknya warga yang kesurupan parah (alias teriak gak jelas menyeramkan).

Lokasinya pun yang termasuk terpencil, yaitu berada di sebuah gubuk kecil tengah hutan, tentu memberi atmosfer tersendiri bagi visualnya. Seperti biasa, film horor Indonesia memang lihai dalam memainkan lokasi adegan serta pencahayaannya.

Bagi yang suka dengan berbagai istilah mistis Indonesia, khususnya mengenai cerita dari Jawa, maka film Sewo Dino dan sekuelnya Janur Ireng, seakan menjadi kamus kosakata khusus. Banyak istilah Jawa yang tidak penulis begitu mengerti, digambarkan ala horor di film ini, walau tentu ada perbedaan yang sesuai dengan jalan dan plot cerita.

Dan tentu, perlu dikomentari pula dari sudut pandang pribadi sebagai penganut agama yang diakui di Indonesia. Ritual memandikan jenazah, selalu dilaksanakan oleh warga penganut agama, sebelum akhirnya jenazah dikafani, diberi pakaian rapih, atau dikremasi. 

Tujuannya, tentu berbeda pada setiap agamanya, namun intinya adalah jenazah harus bersih, sebelum tubuhnya dilansirkan menuju dunia berikutnya. Pamali atau tidak, ritual ini adalah penghormatan terakhir kepada jenazah, sebelum akhirnya berpulang.

Tentu sangat berbeda dengan kisah di Sewu Dino, dimana ritual Basuh Sedo memang beraliran mistis, dengan tujuannya menenangkan arwah (lain) yang bersemayam dalam sebuah tubuh manusianya.

Sinopsis Film Janur Ireng

Della yang menjadi tokoh kesurupan di film pertamanya, muncul kembali sebagai cameo di film Janur Ireng. Untuk film keduanya, SimpleMan kini telah merilis versi buku novelnya, dengan arahan dunia Sewu Dino Universe (layaknya Marvel Cinematic Universe). 

Kisah Janur Ireng merupakan prekuel, yang berlatar enam tahun sebelum kisah di film Sewu Dino. Kali ini, dunianya dikembangkan mengenai kisah tujuh keluarga, yang diantaranya adalah Kuntjoro di film Janur Ireng, dan Atmodjo di film Sewu Dino.

Sementara di film ini, kisahnya masih berkutat pada tiga tokoh utama. Diantaranya adalah Arjo Kuntjoro (Tora Sudiro), yaitu pakde dari Sabdo (Marthino Lio), yang beristri Intan (Nyimas Ratu Rafa). 

Sepasang suami istri muda tersebut sebenarnya hidup bahagia, walau sederhana. Hingga suatu bencana kebakaran hebat, membakar hangus seluruh rumahnya. Keduanya pun beralih meminta bantuan pada Arjo, pakdenya yang terkenal makmur. Saking hebatnya, Arjo dikenal sebagai pewaris sebuah perkebunan sawit luas nan membahana.

Sayangnya, semenjak Sabdo dan Intan tinggal bersama di rumah kediaman besar milik keluarga besar Kuntjoro, keduanya banyak mengalami berbagai kejadian aneh. Mulai dari sehelai daun panjang yang ditempatkan pada ranjang, hingga sempat menyaksikan sebuah ritual aneh. 

Saking anehnya, banyak kejadian semakin membrutalkan. Beberapa penghuni mulai kerasukan, hingga puncaknya saat acara prasmanan, dimana seluruh tamu tiba-tiba kerasukan dan suka daging mendaging (namun tidak seperti selera daging ala film zombie).

Bagaimanakah sebenarnya alur cerita horor ini? Tentu dapat disaksikan melalui ritual kebudayaan langsung ala sinema di Indonesia.