12 November 2025

Berlari Sebrutal Mungkin Dalam Kompetisi Film The Running Man

 

Ben Richards yang sumringah (mungkin) cuan (IMDB).

Mungkin daripada berjalan saja demi protes, sudah saatnya kita berlari saja untuk mencari uang alias duit. Cerita seperti ini diangkat oleh film The Running Man, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia.

Tentu, sebelum membahas filmnya, ternyata film ini adalah hasil adaptasi novel sang novelis terkenal (khususnya horor atau kengerian lainnya), yaitu Stephen King, dengan judul yang sama dan dirilis tahun 1982 lalu.

Bulan September lalu, karya Stephen King yang berjudul The Long Walk diadaptasi ke layar lebar (dan mungkin memicu ramainya unjuk rasa selama September kemarin). Kali ini di The Running Man, justru mengisahkan tentang tokoh utamanya yang harus berlari terus dalam suatu kompetisi.

Tokoh utama dalam novel The Running Man memang seorang yang depresi karena berbagai hal, namun masih semangat untuk mencari jalan keluar, khususnya untuk mengejar cuan. Dunia dalam novel inipun sudah mencapai tahap dystopia, yaitu kacaunya dunia canggih serba brutal tanpa aturan norma.

Novel ini pun sebenarnya sempat diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1987 lalu, dengan judul yang sama, namun tokoh utamanya diperankan oleh Arnold Schwarzenegger. 

Berbeda dengan film reka ulangnya di tahun 2025 ini, dalam film 1987, tokoh utamanya justru berlatar seorang narapidana dan mantan polisi, yang dapat bebas dari hukuman dengan mengikuti sebuah kompetisi brutal, bernama The Running Man.

Ya, di dunia novel ini, banyak narapidana dapat mengikuti kompetisi The Running Man, yang ditayangkan di televisi secara nasional, agar dapat terbebas dari hukumannya. 

Namun, resikonya adalah mati, karena setelah kompetisi dimulai, sekelompok pemburu akan mengejar dan menangkap kontestan, dengan cara apapun juga, bahkan saat masih hidup atau telah mati. Memang penggambaran yang cocok di dunia dystopia.

Naaah, di film 2025 ini, latar tokoh utama dan dunianya pun berbeda, namun dicek saja di sinopsisnya saja ya...

Sinopsis The Running Man

Ben Richards (Glen Powell) adalah seorang pengangguran yang keras kepala, walau telah didaftar hitamkan (blacklist) oleh banyak perusahaan. Perangainya yang meledak-ledak dan keras, membuat dirinya sulit mencari pekerjaan. Padahal, umurnya masih cukup muda, yaitu 35 tahun. Sayangnya, dia adalah seorang ayah tanpa istri (alias pisah ranjang), dan memiliki anak yang sakit-sakitan.

Ben yang sudah mentok membantu anaknya, akhirnya terpaksa memanggil seorang konsulat dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), bernama Sheila (Jayme Lawson). Ben akhirnya menitipkan anaknya pada Sheila, lalu mengikuti sebuah acara brutal berjudul The Running Man.

Saat baru mendaftar, sang produser acara Dan Killian (Josh Brolin), langsung kagum dengan latar dan karakter yang dimiliki oleh Ben. Keduanya bahkan taruhan, bahwa siapa yang menang, dapat mengacak-acak acara The Running Man.

Hanya berbekal pengetahuan wilayah dan nekat, Ben lalu melarikan diri dengan banyak kontestan lainnya selama 30 hari kedepan. Berbagai aksi dia jalani, bahkan sampai menantang para pemburunya, yang terlihat kesulitan mengejar Ben, padahal sudah setengah mati menjalani hidup.

Sanggupkah Ben selamat dalam acara ini demi mengejar cuan yang sudah menjadi haknya? Atau malah bergabung dengan tim pemberontak yang tiba-tiba membantu Ben?

Jawabannya, tentu ada di sinema Indonesia saat ini.

11 November 2025

Angklung dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Angklung di Saung Mang Udjo (Wikimedia).

Angklung berasal dari bahasa sunda yang berarti angkleung-angkleungan. Maksudnya adalah gerakan para pemainnya, yang menghasilkan bunyi 'klung,' untuk memainkan instrumen musik Angklung.

Dilansir dari Angklung Center, kata Angklung berarti mengacu pada nada yang dipecah. Jadi, satu Angklung hanya memiliki satu pecahan nada, dan perlu dimainkan lebih dari satu Angklung.

Bentuk Angklung

Bentuk Angklung sendiri adalah dua atau lebih batang bambu, yang disesuaikan dengan tinggi dan rendahnya nada. Setiap nada adalah hasil dari getaran bilah bambu didalam setiap ruasnya, dari yang berukuran kecil untuk nada tinggi, hingga berukuran besar untuk nada rendah.

Desainnya dimiripkan dengan alat musik calung (yang sama berasal dari tatar Sunda). Bahan dasar Angklung adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu ater (awi temen), yang dikeringkan akan berwarna kuning keputihan.

Sejarah Angklung

Belum ada sejarah pasti kapan Angklung mulai digunakan, namun diperkirakan sudah ada sejak jaman Neolitikum, yang berkembang hingga awal penanggalan modern. Jadi, Angklung adalah bagian dari budaya Nusantara sebelum zaman Hindu (menurut Dr. Groneman). 

Catatan sejarah paling kentara adalah masa kerajaan Sunda pada abad 12 hingga 16 lalu. Selama perkembangannya, Angklung menyebar ke seluruh Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga Thailand (menurut Jaap Kunst dalam buku Music in Java).

Bahkan, terdapat satu catatan misi kebudayaan dari Indonesia menuju Thailand pada tahun 1908 lalu. Misi tersebut ditandai dengan seremonial penyerahan Angklung, yang sempat menyebar sebagai seni budaya di Thailand.

Angklung dimainkan pula sebagai penyemangat saat pertempuran kerajaan. Bahkan, gema Angklung merambah hingga jaman penjajahan Belanda, yang dilarang dimainkan secara umum. Justru, larangan tersebut menyebabkan Angklung semakin populer, walau hanya dimainkan oleh anak-anak.

Angklung di Thailand

Menurut Kementerian Sekreatriat Negara Republik Indonesia, Angklung sempat menjadi alat seni untuk diplomasi dengan negara Thailand. Raja Rama V dari Thailand, sempat tertarik pada Angklung saat berkunjung ke Indonesia, lalu membawanya sebagai oleh-oleh dan ditempatkan di Istana Bangkok. Raja Rama V cukup dekat hubungannya dengan Nusantara saat itu, sehingga berkunjung tiga kali, yaitu pada tahun 1870, 1896, dan 1910. 

Tidak hanya Raja, pada tahun 1908 Pangeran Thailand Bhanu-Rangsri-Sawangwong yang merupakan adik Raja Rama V, datang ke Nusantara bersama musisi bernama Jawang Sorn Silapa-Bunleng. Keduanya datang untuk belajar Angklung, yang akhirnya membawa sepuluh buah Angklung untuk dimainkan di Istana Burapa, Bangkok.

Saking terkenal dan menyebarnya, Angklung telah menjadi bahan ajar sekolah di Thailand, melalui para guru musiknya. Phol Kit-Khan adalah satu tokoh terkenal dalam mengajarkan Angklung di Thailand. Saking termotivasi, kebun durian miliknya diganti dengan kebun bambu (sebagai bahan produksi Angklung). Hingga akhirnya dikenal pula sebagai Angkalung, yaitu sejenis Angklung khas dari Thailand.

Foto arak-arakan Angklung (UNESCO).

Tradisi Angklung

Budaya tradisional Sunda pun mengacu pada prinsip pembuatan Angklung. Karena mayoritas warga di tatar Sunda adalah petani dengan komoditas utama padi (pare). Mitos pun muncul dengan nama Nyai Sri Pohaci, sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (Hirup-Hurip).

Masyarakat tradisional Badui yang dianggap sebagai keturunan asli Sunda, masih mempraktikan Angklung sebagai bagian dari ritual menabur padi. 

Angklung Gubrag di Jasinga Bogor bahkan telah berumur lebih dari 400 tahun, yang sama dimainkan saat ritual menabur padi. Angklung disinyalir untuk dapat memikat Dewi Sri Pohaci turun ke bumi, dan memberkati suburnya tanaman padi.

Permainan Angklung lalu dikenalkan saat Pesta Panen atau Seren Taun di tatar Sunda. Angklung dimainkan saat upacara padi, bersama banyak jenis kesenian lainnya dalam satu arak-arakan di alam. 

Berbagai alat yang dibawa saat arak-arakan adalah kesenian Rengkong (Angklung yang dipikul), Dongdang (alat pikul padi), Jampana (wadah makanan), dan banyak lainnya.

Foto Daeng Soetigna yang mengenalkan diatonik pada Angklung (Angklung Centre).

Inovasi Modern Angklung

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna mengembangkan Angklung Diatonis dari sebelumnya Pentatonis, yang mengubah bentuk dan nada Angklung, sehingga dapat memainkan banyak variasi jenis musik, bahkan hingga lagu dari Barat.

Daeng Soetigna sangat berjasa dalam mengembangkan Angklung di Indonesia saat jaman modern, sehingga karyanya dikenal sebagai warisan budaya alat musik di dunia Internasional.

Foto Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung (Angklung Centre).

Lalu pada tahun 1966 lalu, Udjo Ngalagena yang dikenal sebagai perintis Angklung, mengembangkan teknik bermain dengan dasar Pelag (sistem urutan nada tiga surupan), Salendro (sistem urutan lima nada), dan Madenda (Laras dengan pemecahan laras Salendro). Udjo Ngalagena lalu mengajarkan banyak komunitas, dengan berbagai bentuk, cara, dan tradisi memainkan Angklung.

Hingga kini, salah satu komunitas yang aktif dalam memainkan Angklung adalah Sanggar Keluarga Besar Bumi Siliwangi (Kabumi) dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. 

Angklung dari Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Dilansir dari UNESCO, Angklung diakui sebagai warisan budaya tak benda sejak tahun 2010 lalu. Angklung adalah instrumen musik yang terdiri dari empat hingga dua tabung bambu, yang terpasang pada rangka bambu, dan diikat dengan rotan.

Tabung dipahat dan dipotong dengan hati-hati oleh perajin ahlinya, agar dapat membunyikan nada saat rangka bambu digoyang atau ditepuk. Setiap Angklung hanya membunyikan satu nada atau senar, jadi banyak pemain harus berkolaborasi untuk dapat membunyikan melodi.

Angklung tradisional menggunakan skala Pentatonik, namun pada tahun 1938, musisi Daeng Soetigna mengenalkan Angklung dengan skala Diatonik, yang disebut sebagai Angklung Padaeng.

Angklung sangat erat kaitannya dengan budaya tradisional, seni, dan identitas budaya Indonesia, yang dimainkan saat perayaan menabur dan memanen padi, atau sunat. 

Bambu hitam khusus untuk Angklung dipanen saat dua minggu dalam satu tahunnya, saat jangkrik tengah ramai, dengan dipotong setidaknya tiga segmen diatas tanah, agar akarnya tetap tersebar.

Edukasi Angklung disebarkan dengan mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan semakin semarak saat diselenggarakan di institusi pendidikan.

Karena berdasarkan budaya kolaboratif pada musik Angklung, memainkanya mendukung kerjasama dan saling hormat antar pemainnya, dengan disipilin, tanggung jawab, konsentrasi, pengembangan imajinasi dan ingatan, serta rasa artistik dan musik.

Kiprah Angklung Tahun 2025

Menyambut Hari Angklung Tradisional Internasional ke 15, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KABUMI UPI mengadakan acara bermain Angklung dengan 4750 peserta. 

Dilansir dari Berita UPI, para pemain Angklung hadir dari banyak lokasi kota Bandung, mulai dari anak sekolah, anak berkebutuhan khusus, atau lansia, yang tiba di Stadion Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Acara ini dilaksanakan tepat satu bulan lalu, yaitu pada tanggal 23 November 2025. Acara dilaksanakan demi persatuan lintas generasi, demi melestarikan Angklung sebagai warisan dan identitas budaya Indonesia, khususnya di daerah Sunda.

Beberapa kenalan dari penulis, diantaranya sepupu yang masih berumur sekolah, mengikuti acara ini. Walau masih berumur sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, tetapi mereka cukup semangat untuk melanjutkan kiprah semangat bersama memainkan warisan budaya Sunda ini.

Semoga, kedepannya Angklung masih menjadi seni warisan budaya yang terus terkemuka di tatar Sunda.

8 November 2025

Banyak Film Zombie Ala Indonesia Menjelang Film Abadi Nan Jaya

 

Martino Lio dan Mikha Tambayong yang heran kenapa zombie rame di Indonesia (TMDB).

Okeh, karena film horor Indonesia semakin ramai saja, dan berkembang dengan begitu liarnya, tampaknya ada satu sub-genre yang cukup mencengangkan tapi patut dibuat karyanya dan diapresasi, yaitu sejenis mayat hidup alias zombie. 

Oh, ya artikel ini menyambut pula film Abadi Nan Jaya, yang baru saja rilis di Netflix bulan Oktober lalu, dan sempat viral karena memang, berisi film dikejar-kejar zombie.

Dan, okeh lagi, sebelum menulis tentang film zombie ala Indonesia, dan membahas Abadi Nan Jaya, tentu perlu saya tulis (seperti biasanya), maksud film zombie.

Berbagai Maksud Zombie di Seni Populer atau Tradisional

Banyak berbagai teori darimana zombie berasal, seperti fungus parasit yang menginfeksi semut ala waralaba The Last of Us, lalu virus udara ala The Walking Dead, mutasi virus rabies (kayaknya) ala Rage virus di waralaba 28, serta eksperimen manusia dan obat-obatan ala banyak film lain.

Tentu, untuk mengenang sub-genre yang meramaikan ranah horor dari satu sisi ini, perlu diingat pula Night of Living Dead (1968), dimana berasal supernatural, atau bahkan tidak ada penyebabnya, alias terjadi begitu saja layaknya bencana alam.

Sutradaranya, George A. Romero dikenal sebagai 'bapak' para zombie, yang mengenalkan sub-genre ini. Seluruh sineas perfilman yang membuat film zombie, berarti secara tidak langsung menghargai Romero, yang pertama kali meramaikannya.

Nah, sebelum melangkah terlalu jauh mengenai teori film zombie, yang pastinya keluar jalur dengan berbagai fakta dan datanya masing-masing, coba ditelaah dari dunia nyata saja.

Pasti penggemar horor banyak yang sudah tahu, bahwa zombie sebenarnya berasal dari cerita tradisional Haiti, yang lekat dengan istilah voodoo-nya. Namun, istilah mistis inipun tidak langsung mengacu pada santet atau ritual tidak jelas lainnya, namun bisa dijelaskan secara ilmiah.

Voodoo asli dari Haiti sebenarnya lekat dengan obat-obatan herbal yang dibuat oleh dukunnya, dan sama seperti banyak warisan tradisional lain, bisa dikonsumsi sebagai obat dari banyak penyakit.

Namun, ada satu praktek yang cukup melenceng, yaitu berbagai bahan herbal tersebut digunakan sebagai praktek menghidupi mayat (alias necromancy). Itupun, terdapat dua arti dari menghidupkan kembali mayat, yaitu dari segi mistis maupun ilmiah.

Dari segi mistis, tentu ala film fantasi yang tiba-tiba punya jurus, agar mayat bisa berjalan dengan sendirinya. Namun, pada sebuah penelitian kontroversial yang kini sulit dicari aslinya, menyatakan bahwa kombinasi obat-obatan yang tepat dapat menciptakan 'manusia' ala 'zombie.'

Manusia setengah zombie tersebut akan hidup tanpa pikiran yang jelas, dan cukup mudah diatur. Sehingga, dukunnya dapat memanfaatkan manusia tersebut sebagai bantuan prakteknya, contohnya adalah sebagai budak (gratisan) atau bahan percobaan obat lainnya.

Jika disinyalir dengan kejadian sekarang, istilah seperti ini justru tidak terjadi secara tradisional, tetapi modern. Bagi yang sering mengecek YouTube, mungkin tahu tentang kisah zombie dari Philadelphia, AS. Di kota ini, banyak pecandu yang hidup ala 'zombie' dan masih tergantung obat.

Entah apa yang terjadi di Philadelphia selama beberapa generasi, yang mungkin ketergantungan obat, atau akibat program pemerintahnya. Mungkin mirip dengan Indonesia, dimana para pecandu Narkoba dianggap sebagai pasien, dengan berbagai bantuan medis 'placebo.'

Yah, kalau dari pengalaman pribadi sih, sempat melihat, sekelompok pegawai kantoran yang perlu membuat doping dari kombinasi kimiawi obat-obatan rumah. Karena mereka lulusan teknik (insinyur), maka cukup mengerti setiap zat (Kimia) yang dibutuhkannya.

Kerjanya cukup berat, alias setengahnya berada di tengah situs hutan belantara, atau memang saat itu proyeknya baru dibuka beberapa bulan. Jadi, mereka membutuhkan 'kinerja' yang lebih baik, atau memang 'politisasi' saja di lingkungan tertutup mereka.

Daaan, sudah saatnya kembali ke film zombie ala Indonesia. Jika dilacak, ternyata cukup lama dan banyak film nasional mengenai zombie. 

Film Zombie dari Indonesia

Oh ya, sebelum membahas filmnya, zombie pasti menyajikan 'daging-mendaging' alias banyak 'gore' dalam adegannya. Bagi penggemar film kasual atau horor biasa, tentu bisa kurang enak menontonnya.

Contoh paling awal adalah kerjasama film internasional V/H/S/2 (2013), yang berisi aktor Fahri Albar, Hannah Al Rasyid, dan Epy Kusnandar. Suatu sekte sesat berhasil memanggil 'dunia lain,' yang lalu menyebabkan mereka kesurupan dan bertingkah layaknya zombie.

Berikutnya, banyak film zombie dirilis, seperti Kampung Zombie (2015), lalu ada versi komedi 5 Cowok Jagoan (2017), Reuni Z (2018) yang masih bernada komedi, lalu Zeta (2019) yang kembali serius.

Nah, masih ada beberapa film zombie yang masih tayang dan dapat disaksikan lewat layanan siaran (streaming) internet. Contohnya pertamanya adalah film serial pendek (4 episode) berjudul Hitam (2021), yang masih bisa ditonton di media Netflix. Sementara itu dari ranah streaming nasional, serial delapan episode berjudul Zona Merah (2024), masih dapat ditonton dengan berlangganan di Vidio.

Film Abadi Nan Jaya

Naaah, khusus untuk film Abadi Nan Jaya di bulan Oktober 2025 ini, adalah film berdurasi standar (sekitar 90 menit) yang bisa ditemukan dengan berlangganan Netflix.

Tidak perlu diceritakan langsung seluruh sinopsis cuplikan (seperti biasanya), tapi cukup ditelaah saja dari sedikit adegannya.

Terdapat adegan pada awal cuplikan film Abadi Nan Jaya, bahwa Sadimin (Donny Damara) yang seorang pengusaha jamu terkenal, meminum obat jamu baru yang khasiatnya adalah 'bisa awet muda.'

Namun, justru di film ini, obat jamu tersebut, merubah dirinya jadi mahluk kesurupan nan buas. Sadimin lalu mengejar siapa saja, yang korban tergigitnya langsung ikut berubah menjadi 'zombie.' Satu wilayah desa pun ikut terinfeksi 'salah obat' ini, yang menyebabkan kepanikan dan banyak karakternya harus bertahan hidup dengan cara agresif.

Ditelaah dari segitu adegan saja, tampak terlihat bahwa film Abadi Nan Jaya ini mengutip dari mistisnya obat-obatan tradisional. Jika salah ramuannya, jadi mirip dengan kisah zombie tradisional Haiti, dan merubah seketika karakter peminum obatnya.

Okeh, jadi, sekarang nikmati saja berbagai referensi film zombie, sekaligus Abadi Nan Jaya yang sempat viral sebagai tontotan terbaik, tentu dengan berlangganan di Netflix.

6 November 2025

Wayang dari Indonesia Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

 

Pagelaran Wayang Golek oleh Dalangnya (Wikimedia).

Menyambut Hari Wayang Nasional pada tanggal 7 November, rasanya cocok dirayakan dengan mengingat bahwa wayang adalah warisan budaya tak benda yang kental di Indonesia.

Sebelum mengacu pada artikel yang disematkan oleh UNESCO dari PBB (UN), tampaknya perlu mengecek wayang dari sejarahnya. Bagi yang masih ingat pelajaran SD terdahulu, tentu tahu bahwa Wayang adalah media literasi terdahulu, yang biasa diselenggarakan bersama gamelan.

Seperti dilansir dari NU Online, Wayang itu sendiri berasal dari India, yang kental dengan ajaran Hindu. Namun, pada abad 15, salah seorang Wali Songo bernama Sunan Kalijaga, menggunakan wayang sebagai media penyebaran Islam. Setelah masuk ke Nusantara, kisah wiracarita Mahabharata dan Ramayana, lalu dirubah menjadi lakon yang lekat dengan banyaknya ajaran Islam.

Seperti dilansir dari Britannica, wayang sebenarnya bisa ditemukan hingga seluruh Asia Tenggara dan China. Namun khusus di Jawa, konotasi mistis dan religius sangatlah kental.

Wayang bahkan sempat diadaptasi oleh seniman boneka Richard Teschner, yang pada awal abad 20 lalu, mengombinasikan seni dan kesederhanaan wayang, dengan keahlian teknik Jerman, dan sempat diselenggarakan di teater Figuren Spiegel, Vienna, Austria.

Kembali ke Nusantara, terdapat beberapa jenis variasi wayang, yaitu Wayang Kulit khas Jawa Tengah yang berbentuk pipih dan menggunakan bayangan sebagai media visualnya. Satu lagi, Wayang Golek yang berbentuk boneka kayu dengan tongkat dipegang langsung oleh dalangnya dari Jawa Barat.

Terdapat pula Wayang Wong atau Orang, yang lakonnya diperankan langsung oleh seorang aktor. Sementara Wayang Krucil atau Klithik, adalah wayang sejenis pipih, namun berukuran lebih kecil dari Wayang Kulit.

Dan meloncat pada jaman sekarang, banyak kanal YouTube yang memainkan berbagai cerita wayang, melalui konten video atau bahkan siaran langsung. Contohnya adalah Wayang Kulit, yang dimainkan oleh Dalang Seno Nugroho. 

Berbagai kanal rekaman lama Wayang Golek dari Dalang legendaris Asep Sunandar Sunarya pun, masih meramaikan YouTube. Video tersebut khas dengan kelucuan lakon Cepot, Udawala, dan Gareng, bersama sang ayah, Semar.

Kiprah Wayang Golek Sunda tahun 2025

Acara Wayang Golek sempat digelar kembali pada tahun 2025 ini, tepatnya pada saat Dies Natalis ke 71 UPI, pada hari Kamis, tanggal 7 November lalu, di Stadion Sepak Bola UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), dengan mengundang Ki Dalang Dadan Sunandar Sukarya, dari Putra Giri Harja 3.

Dilansir dari Berita UPI, acara sempat tertunda akibat hujan, jadwal yang sebelumnya dimulai pukul 19.15 WIB, akhirnya diundur menjadi sekitar pukul 20.00 WIB. Acara dilaksanakan hingga pukul 02.00 dini hari.

Pagelaran diawali dengan tarian pembuka bernama Dangiang Isola, dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD). Tarian ini menggambarkan perjuangan, romantika, kebahagian, dan kesedihan yang meliputi sejarah Gedung Isila, sebagai simbol kejayaan dan kewibawaan UPI.

Wayang Golek serta Tarian Tradisional sebagai bagian dari seni dan kebijaksanaa lokal, perlu dilestarikan sebagai rasa syukur perkembangan adat, budaya, dan peradaban Indonesia, khususnya di tanah Sunda. Pelestarian budaya, kebersamaan, dan dedikasi untuk pendidikan akan terus menggema, di bawah langit Bandung yang membahana.

Artikel UNESCO Mengenai Wayang dari Indonesia

Wayang diterima sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2008 oleh UNESCO, setelah sebelumnya diklaim oleh Indonesia pada tahun 2003 lalu.

Wayang terkenal dengan ragam boneka dan musiknya yang kompleks, dan merupakan format kuno dalam mendongeng yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Selama sepuluh abad lamanya, Wayang ramai dimainkan di banyak kerajaan Jawa hingga Bali, dan bahkan hingga area pelosok. 

Wayang pun merambah hingga kepulauan lainnya, seperti Lombok, Madura, Sumatera, hingga Kalimantan. Ragamnya pun disesuaikan dengan seni dan musik lokal, sehingga semakin berkembang dan berbeda.

Wayang dibuat secara tradisional dan bervariasi dalam bentuk, ukuran, dan ragamnya. Dua prinsip dasar tetap menjadi utama bagi Wayang, yaitu boneka kayu tiga dimensi seperti Wayang Golek, atau berbahan kulit pipih Wayang Kulit dan Klithik, dengan media bayangan akibat sorotan cahaya dibelakangnya. 

Kedua jenis Wayang diberi karakter dengan kostum, bentuk wajah, dan bagian tubuh yang dapat digerakkan. Dalang menggerakkan Wayang melalui bagian tangannya dan tongkat yang menempel pada bagian bawahnya.

Sementara Dalang memainkan Wayangnya, sinden dan musisi (gamelan) memainkan instrumen berbahan perunggu, hingga menciptakan melodi sebagai latar pagelaran.

Motivasi Guru Idealis di Pelosok Indonesia ala Film Solata

 

Angkasa yang suka berjuang untuk mengajar di daerah terpencil (TMDB).

Okeh, saatnya drama serius yang mengadaptasi kisah seorang guru idealis di Indonesia, yaitu film berjudul Solata, yang kini tengah tayang di sinema-sinema.

Terlihat dari cuplikannya, tampak seorang guru lulusan Jakarta, yang galau tidak terkira masalah pilihan hidupnya. Maka, dirinya memilih jalur yang paling idealis, yaitu mengikuti program guru di lokasi terpencil, dari Dinas Pendidikan.

Nah, sebelum membahas filmnya, perlu ditelaah kembali mengenai program ini. Walau cuplikannya tidak menunjukkan nama programnya, tampaknya mengacu pada program SM3T, yang berarti Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal.

Program ini sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu di berbagai kampus Indonesia, khususnya di fakultas dengan jurusan kependidikan guru. Bahkan, saat masa kuliah dulu, program SM3T adalah ajang obrolan sehari-hari, menjelang kelulusan karena takut nganggur.

Memang, posisi guru di Indonesia cukup eksklusif, dengan jumlah batas jam mengajar KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) setiap minggunya, yang memang ditujukan sebagai sertifikasi guru.

Tidak hanya itu, Akta 4 sebagai syarat mendidik di sekolah (negeri), harus dimiliki oleh seorang kandidat guru. Seorang sarjana pendidikan otomatis memiliki mata kuliah mengajar dan ijazahnya setelah lulus, namun bagi jurusan non pendidikan, maka harus mengikuti beberapa program kuliah lagi.

Tentu, bukan hanya latar pendidikan saja, tetapi posisi yang dibutuhkannya. Satu sekolah hanya membutuhkan beberapa guru khusus di mata pelajarannya, itupun masih disesuaikan dengan ketersediaan jam dan murid. 

Seperti contoh berita dalam beberapa minggu terakhir, yang menyatakan banyak sekolah negeri kekurangan murid. Namun, berita tersebut tidak mencontohkan berapa madrasah, pesantren, dan sekolah swasta yang membutuhkan murid.

Nah, kembali ke SM3T, adalah program bagi guru baru yang butuh pengalaman mengajar. Posisi guru di lokasi urban padat memang terlalu penuh, dan dengan gaji pas-pasan. Banyak mahasiswa baru, dari berbagai latar pendidikan, memilih mengajar les saja, yang masih membuka jalur karir lainnya.

Karena itu juga, banyak guru yang mulai mengajar di pelosok, dan hanya sebatas jangka waktu programnya saja, hingga program tahun berikutnya dimulai. Namun, program SM3T ini dihentikan tahun 2017 lalu. Walau begitu, tidak diganti dengan nama program baru, melainkan dipusatkan dengan Program Kemitraan untuk Mewujudkan Peningkatan dan Pemerataan Kualitas Pendidikan di Daerah 3T.

Naaah, sekali lagi, kembali ke film Solata, tampaknya berkisah berbeda, karena sang tokoh utamanya justru galau dan kagum begitu tiba dan mulai mengajar di lokasi terpencil.

Okeh, sudah saatnya mengecek sinopsis filmnya ya...

Sinopsis Film Solata

Angkasa (Rendy Kjaernett) adalah seorang lulusan mahasiswa Jakarta yang galau. Saking galaunya, dia memilih untuk mengajar di lokasi terpencil, yaitu berada di Pegunungan Ollon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. 

Ibunya Angkasa sempat berpesan, bahwa seluruh jawaban kegaulauan dirinya, bisa ditemukan di Ollon. Namun setelah tiba, salah satu muridnya malah memperingatkan, bahwa selama tiga tahun terakhir, tidak ada guru yang bertahan lebih dari satu bulan SD Kecil 3 Ollon.

Memiliki semangat berbeda, justru Angkasa kagum dengan kebetulan yang ditemukan dari nama murid-muridnya. Nama mereka adalah Wahid, Karno, Mega, Bambang, Harto, dan Habidi, yang merupakan singkatan nama keenam Presiden Indonesia terdahulu.

Walau lokasi sekolahnya terpencil dengan bangunan yang agak rusak, dan jalur menuju sekolahnya yang terjal nan jauh dari desa, Angkasa malah semakin bersemangat menikmati pengalaman mengajarnya. Angkasa lalu berhasil meraih dana dan bantuan, agar sekolahnya dapat diperbaiki, dan layak sebagai lokasi kegiatan belajar mengajar.

Sayang, tidak lama kemudian, Dinas Pendidikan setempat justru berinisiatif untuk menutup sekolah 3T di Tana Toraja. Mungkin alasannya, sekolah akan dipusatkan di lokasi yang lebih mudah diakses siswanya.

Sanggupkah Angkasa bersama murid dan orangtua di desanya mempertahankan sekolah SD Kecil 3 Ollon? Atau malah mengalah dan pindah seluruhnya?

Jawabannya tentu ada di sinema-sinema Indonesia.

Film Komedi Pesugihan Sate Gagak, Ko Ngerti Ya Urusan Demit

 

Dimas, Anto, dan Indra yang heran kenapa masih laku (TMDB).

Okeh, sekali lagi, setelah film komedi horor di Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung yang lebih kental berbudaya Sunda, saatnya beralih ke Jawa dengan film berjudul Pesugihan Sate Gagak.

Entah kenapa, justru logat Jawa yang kental dan asli sangat terdengar dalam film komedi gelap-gelapan ini. Bahkan, ceritanya pun mengambil sudut pandang ritual paling aneh, yaitu Pesugihan tanpa tumbal.

Memang di Indonesia ada semacam pesugihan seperti itu, yaitu tidak membayar tumbal yang berarti brutal, namun semacam pantangan aneh yang cukup lumrah. Contohnya, 'klien' tidak boleh memakan sayur sejenis terong, agar ritual pesugihan tidak terbatalkan.

Ritualnya tetap saja aneh, yaitu bisa saja bersemedi di gunung memakai kolor saja, setelah itu membuang kolornya di sungai terdekat, dan akhirnya lari telanjang ke desa tempat huniannya.

Nah, kalau di film ini, ritualnya adalah menjual sate kepada demit alias jurig. Sebelum datang ke lokasi ritual, mereka harus membuat satenya dengan berbagai ritual awal. Contohnya adalah dengan minyak duyung, kembang setaman, yang ditaburkan pada sate, lalu dikelilingi merangkak secara gerak melingkar.

Hasilnya pun cukup jelas, yaitu semacam uang yang tertumpuk dengan daun. Istilahnya, banyak ritual tersebut memang menghasilkan daun saja, tetapi entah bagaimana daun tersebut 'terlihat' seperti uang kertas.

Dan seperti pernah diutarakan sebelumnya di blog ini (lagi), ritual seperti ini memang membuat kacau ranah jungjurigen alias dedemit. 

Konon katanya, sekali 'dibeli,' demit tidak bisa dikembalikan alias 'direfund.' Jadi cukup sekali bayar biaya ongkir, demit akan terus berperan sebagai 'debt collector,' hingga saatnya sang 'klien' menyeberang ke dunia berikutnya.

Tapi ya... kalau di film Pesugihan Sate Gagak sih, demitnya justru yang ketagihan daging, jadi ya langganan permanen dua dunia itu sate...

Okeh, kembali ke sinopsisnya saja ya.....

Sinopsis Film Pesugihan Sate Gagak

Anto (Erdit Erwanda) adalah seorang pemuda yang sedang kasmaran, dan siap melamar kekasihnya, Andini (Yoriko Angeline). Namun, permintaan menikah langsung ditolak oleh calon mertuanya, alias ibu Andini tersayang, bernama Nunung, yang hobinya justru mengejar bule.

Mungkin Anto kurang terlihat bule, alias mirip aktor drakor yang super barbie, maka maharnya pun diminta sejuta umat. Ya, sekitar 150 juta hanya untuk mahar perkawinan saja, yang membuat Anto stres sambil teriak-teriak di jalan kayak kesurupan.

Saat curhat (curahan hati) kepada kedua temannya, Dimas dan Indra, Anto lalu berselirih pasrah ala pemuda kesetanan, yaitu mending melaksanakan ritual pesugihan saja.

Dimas pun heran, karena biasanya pesugihan membutuhkan tumbal manusia (yang tentu dirinya tidak mau begitu saja dijadikan korban mistis). Indra lalu celutuk parah, bahwa ada sejenis pesugihan tanpa tumbal, yaitu Pesugihan Sate Gagak.

Ketiganya pun setuju untuk melaksanakan ritual tersebut, hingga melaksanakan ritual awal sebelum pamungkasnya, yaitu membuka 'gerai' untuk memberi 'pesanan sate gagak' pada seluruh 'pelanggan' demitnya di lokasi 'keramat' desanya, sambil telanjang pula.

'Jualannya' pun cukup ramai, dengan didatangi berbagai jenis demit yang heran satu sama lain, yaitu dari pocong, sinden, tuyul, suster ngesot skateboard, kuntilanak, dan berbagai jenis keseharian lainnya.

Namun, saat seluruh selesai ritualnya dan mendapatkan uang daun tunai, ketiganya masih dikejar oleh seluruh dedemit. Tidak sanggup menahan selera sate gagak, banyak dedemit yang mendatangi lokasi rumah mereka, dan 'menagih' kembali sate gagak yang sungguh membahana.

Sayang sungguh sayang memang, Andini dan keluarganya pun terdampak laparnya mahluk dari dunia lain. Anto, Dimas, dan Indra pun harus mencari jalan untuk menyelesaikan banyaknya urusan dedemit yang ngidam sate gagak.

Apakah mereka akan terus berjualan sate gagak? Atau malah rancu dan mulai bergabung dengan dedemit yang terlalu hype? Akibat Andini dan keluarganya yang ilfeel akibat sengitnya bau sate? 

Jawabannya, tentu bisa dilarikan ke sinema Indonesia terdekat.

Rasanya Sulit Mencari Penunggu Gunung di Film Horor Kuncen

 

Kuncen Gunung Merbabu yang entah ada dimana (YouTube).

Setelah film horor Indonesia sebelumnya yang mengisahkan tersasar di gunung berjudul Pencarian Terakhir, kini berlanjut di bulan di November dengan dirilisnya film Kuncen

Dari judulnya saja, sudah cukup dimengerti, bahwa film ini mengambil istilah dari Jawa, yaitu Kuncen yang berarti penunggu gunung atau lokasi keramat lainnya.

Seperti sudah diutarakan sebelumnya, seluruh lokasi gunung memang sering dianggap keramat, sehingga warga di sekitarnya perlu 'menjaganya' dengan semacam profesi Kuncen dan Wetonnya. 

Kalau di film Pencarian Terakhir, justru berkisah mengenai weton-nya, alias berbagai ritual dan pantangan sebelum mendaki gunung. Sementara di gunungnya sendiri tidak ada kuncen, karena sudah memiliki pos penjagaan bersama tim SAR-nya.

Namun, sekilas dari cuplikan film Kuncen, justru lokasinya lebih horor lagi. Tidak hanya di jalur pendakian gunung, lokasi desa di sekitarnya pun terlihat mengerikan. Kabut tebal serta lokasi terpencil, dengan budaya khas pedesaan Indonesia, menyajikan atmosfer tersendiri.

Kisahnya pun berkutat pada beberapa orang yang hilang di gunung tersebut, yaitu kekasih dan keluarga dari tokoh utamanya. Berarti, gunung tersebut memang tidak memiliki pos penjagaan khusus, dan hanya mengandalkan kuncen saja. 

Bahkan, lokasi di sekitarnya terlihat cukup horor, dengan berbagai adegan yang terlihat di dalam lokasi pedesaan. Tampaknya, film Kuncen ini menceritakan juga kisah tersasar di lokasi rural.

Ya, kadang berbagai kisah horor Indonesia, memang mengisahkan tentang lokasi urban atau rural, yang ternyata tidak nyata, alias telah cukup 'isekai.' Lokasi yang biasa terdengar dari cerita horor, adalah adanya pasar malam, desa, pekuburan, dan pagelaran seni tradisional.

Jika ditelaah dengan perbandingan film bule, bisa disebut sebagai dimensi lain, atau twilight zone, yang kini sering diramaikan dengan nama lainnya, yaitu backrooms. Bagi pemain gim horor, pasti tahu tentang gim terbaru Silent Hill F, yang seluruh waralabanya mengisahkan dimensi lain ini.

Nah, sekarang saatnya cek sinopsis film Kuncen ini, yang mulai tayang di sinema-sinema Indonesia.

Sinopsis Film Kuncen

Awindya (Azela Putri) adalah seorang gadis yang kehilangan kekasihnya di Gunung Merbabu. Masih penasaran karena proses pencarian belum ada kabar, maka bersama Agnes (Vonny Felicia) dan Mojo (Mikha Hernan), lalu mencoba mendaki kembali Gunung demi mencari kekasihnya.

Saat masih mengumpulkan tim pencariannya, mereka sepakat untuk berangkat bersama Yoga (Cinta Brian) dan Diska (Davina Karamoy). Keduanya memiliki teman atau anggota keluarga yang hilang pula di Gunung Merbabu.

Saat tiba di pedesaan sekitar gunung, kelimanya harus berkonsultasi dengan janda dari kuncen sebelumnya. Sayang, nenek yang sudah tua tersebut hanya memberi tahu, bahwa kuncen baru tidak dipilih oleh mereka, namun dipilih oleh gunung itu sendiri. 

Karena kuncennya belum terpilih juga, maka area gunung semakin sulit dimasuki dan semakin mistis. Bahkan, baru saja masuk gerbang jalur pendakian, angin kencang mengempaskan tubuh mereka. Mereka lalu berpendapat, bahwa gunung memang menolak kehadiran mereka.

Karena tidak mengerti, maka mereka lalu kembali ke desa. Tidak berapa lama, justru lokasi desa telah berubah seketika. Lokasinya sangatlah gelap akibat kabut, tanpa penerangan biasanya dari lampu rumah. Berbagai kejadian horor pun mulai menimpa mereka, yang mengacu pada kurangnya kehadiran kuncen di lokasi sekitar gunung. 

Apakah memang lokasi Gunung Merbabu sudah sehoror itu sejak kehilangan kuncennya? Sanggupkah mereka selamat dari tersasar dan terjebak di dimensi lain desa? Atau malah kejadian banyak orang hilang adalah ritual mistis untuk memilih kuncen baru?

Jawabannya, tentu dapat disaksikan di sinema Indonesia.

5 November 2025

Pemburu yang Terpaksa Diburu Balik Mangsanya di Predator: Badlands

 

Thia dan Dek yang saling menjaga bagian belakang (IMDB).

Setelah ramainya film alien Predator tanpa judul Predator di film Prey (2022) lalu, akhirnya di November 2025 ini, dirilis Predator: Badlands di sinema-sinema Indonesia.

Memang, film Prey lalu mengisahkan cerita berbeda dari waralaba Predator, yaitu berlatar jaman kolonialisme Eropa di Amerika sana. Tokoh utamanya pun berasal dari suku Indian, yang telah terlatih sebagai seorang pemburu.

Kini, mungkin melanjutkan animo film sebelumnya, Predator: Badlands mengisahkan seorang Yautja (nama spesies klan predator) muda, yang perlu membuktikan keahlian dirinya dalam berburu.

Tentu dengan masih bumbu predator, kali ini melanjutkan arena pemburuan di ekosistem yang sulit. Premise ini memang sudah dimulai sejak film pertamanya, yaitu Predator (1987) yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. 

Kisah perburuan ini terus dilanjutkan hingga banyak film setelahnya, yaitu di film Predator 2 (1990), Predators (2010), The Predator (2018), hingga Prey (2022) yang tadi disebutkan.

Predator pun sempat dibuat karya film cross-over-nya, yaitu kombinasi dengan waralaba film Alien, di film Alien vs. Predator (2004), dan Aliens vs. Predator: Requiem (2007). 

Nah, kali ini berbeda dengan seluruh film predator sebelumnya, Predator: Badlands justru tidak mengisahkan yautja yang meneror manusia atau mahluk lainnya. Justru, yautja disini mirip dengan film Alien vs. Predator, dimana perlu bekerja sama dengan mahluk lain, demi menangkap buruannya.

Bahkan, tokoh utamanya adalah seorang yautja muda yang terusir dari klannya, yaitu status terrendah dari spesiesnya yang senang berburu berbagai mahluk mengerikan seantero galaksi.

Sinopsis Film Predator: Badlands

Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi) adalah seorang yautja muda yang diusir dari klannya. Namun, Dek masih merasa sanggup mengembalikan kehormatannya sebagai seorang predator. Dengan bekal dan peralatan seadanya, dirinya lalu berangkat ke sebuah planet berbahaya, demi memburu satu spesies yang sulit dikalahkan oleh para predator.

Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Thia (Elle Fanning), yaitu seorang robot synth yang pesawatnya jatuh di planet tersebut. Thia tidak memiliki bagian tubuh bawahnya, akibat rusak parah setelah kecelakaan.

Keduanya pun lalu setuju, bahwa kemampuan navigasi Thia sanggup membantu misi solo karir Dek. Thia pun selalu mencemooh Dek, yang menyatakan bahwa planet ini justru sangat berbahaya, dan Dek adalah mangsa sesungguhnya.

Sayang seribu sayang, ternyata tidak hanya mereka dan mahluk buas lainnya yang berada di planet tersebut. Sekelompok manusia yang melacak lokasi jatuhnya pesawat, mencoba membuat pangkalan militer di sekitarnya.

Dek dan Thia pun perlu berjuang lebih sulit lagi, karena selain melarikan diri dari mahluk buas, kejaran manusia yang jumlahnya lebih banyak dengan teknologi lebih lengkap pun menyulitkan misi keduanya.

Sanggupkah Dek mengembalikan kembali kehormatannya? Dan sebenarnya Thia memiliki maksud apa dibalik bantuannya? Atau malah tetap manusia yang mengambil untung dari seluruh 'drama'? Dan bahkan seluruh mahluk buas jengah dan membasmi seluruh pihak penyusup di planet tersebut?

Jawabannya, dapat disaksikan di sinema Indonesia.

Koki Korea Selatan yang Terpaksa Beraksi Gelut di Film Boss

 

Pan-ho, Soon-tae, dan Kang-pyo saat masih damai (TMDB).

Akhirnya Korea Selatan menelurkan puuula film aksinya di November ini, dengan judul Boss. Kali ini, filmnya pun berisi drama komedi aksi ala gangster dunia Korea Selatan sana, yang memang suka merarela sejak film Old Boy (2003) lalu.

Film Boss memang mengombinasikan tiga genre berbeda, karena terlihat dari cuplikannya, yaitu berbagai gelut aksi jarak pendek, dengan bumbu drama tujuan para karakternya, namun masih memiliki pembawaan komedi yang kasar.

Trio kombo tersebut pun dapat terlihat dari ketiga tokoh utamanya, yaitu Soon-tae (Joo Wo-jin), Kang-pyo (Jung Kyung-ho), dan Pan-ho (Park Ji-wan). Ketiganya tengah bersaing sebagai kandidat gelar bos di gangster wilayahnya, namun dengan tujuan yang sangat berbeda.

Soon-tae sebenarnya tidak menyukai dunia gangster, namun lebih menyukai dunia masak memasak. Kesehariannya sebagai koki di restoran kecil miliknya, terbawa pula ke dunia gangster. Soon-tae bahkan terpaksa mengikuti gelut gangster, sambil dirinya mengirimkan pesanan pelanggan.

Kang-pyo justru seorang kandidat paling kuat, karena dirinya adalah cucu dari bos sebelumnya. Namun, sosoknya yang paling muda, wajahnya yang tampan, serta gaya gelutnya yang lentur, justru menyebabkan Kang-pyo ingin berkarir sebagai penari dansa tango. 

Terakhir adalah yang paling niat dan brutal, yaitu Pan-ho. Dirinya bahkan menegaskan, bahwa seluruh gangster di dunia hanya bertujuan satu, yaitu mencapai level Boss dan memimpin seluruh gangster di areanya. Padahal, seluruh 'konsultan tua' gangster menolaknya, karena pembawaannya yang jelek.

Ketiganya pun tetap perlu bersaing, karena seluruh gangster di areanya, menunggu terpilihnya bos baru mereka. Entah siapa yang terpilih, yang pasti dalam waktu satu bulan, salah satunya harus menduduki singgasana bos gangster.

Padahal, ketiganya sempat bekerja sama dengan baik saat masih muda. Saking lihainya, bos sebelumnya memang tidak dapat memilih, dan merekomendasikan ketiganya dalam kompetisi selama satu bulan penuh. 

Remaja yang Berlari Secepat Kuda di Anime 100 Meters

 

Togashi dan Tomiya yang masih kecil (TMDB).

Setelah dirilis global gim gawai aneh bernama Uma Musume: Pretty Derby, sekitar bulan Juni lalu, dan dirilisnya musim kedua Cinderella Gray di bulan Oktober, tampaknya animo anime olahraga semakin menarik di bulan November ini.

Sekarang judul filmnya adalah 100 Meters, yang mengisahkan balap lari sprint 100 meter. Karakternya bahkan ditampilkan mulai dari berumur kecil, remaja, hingga menjadi atlet profesional.

Okeh, karena sekali lagi cuplikannya tidak cukup menceritakan plot utama filmnya, maka mending dibahas saja beberapa anime yang berkutat pada olahraga.

Kalau membahas Uma Musume, maka spin-of-nya yang berjudul Cinderella Gray memang terlalu fantastis. Isinya adalah cerita sekolah khusus 'gadis kuda,' yang diperlakukan layaknya seorang idola dan atlet sekaligus.

Di dunia Uma Musume, dewa di masa lalu menganugrahi kemampuan dan genetik kuda pada gadis yang belum lahir, sehingga muncullah sebuah ras baru bernama Uma Musume.

Anak gadis yang lahir memiliki kemampuan setara kuda, dengan kemampuan berlari yang kuat nan cepat. Bagi mereka, berlari sprint, berarti mencapai jarak 1000 meter!

Nah, kalau di cerita Cinderella Gray, berfokus pada karakter bernama Oguri Cap, yang sebenarnya tidak dapat berlari karena kakinya lemah sejak kecil. Namun, karena ketelatenan ibunya, justru Oguri Cap berhasil menantang dunia balap Uma Musume. 

Bahkan, di musim keduanya ini, Oguri Cap tampil sebagai perwakilan Jepang melawan seluruh dunia! Cukup berbeda memang, tapi tampaknya mengacu pada satu atlet sepakbola yang mirip kisahnya, yaitu Leonel Messi. 

Entah bagaimana, begitu penulis menonton cuplikan musim kedua Cinderella Gray, langsung teringat akan Messi. Bagi yang mengecek sejarahnya, pasti tahu bahwa Messi adalah anak yang terlahir dengan autisme dan kekurangan fisik. Tapi, Messi kini telah menjadi legenda di dunia sepakbola!

Dan sekarang, coba kembali tahun 2000an, yaitu anime berjudul Eyeshield 21. Tokoh utamanya adalah Sena Kobayakawa, yang berposisi sebagai running back di olahraga American Football. Sena sanggup berlari cepat, karena itu posisi running back yang membawa bola menuju garis gol adalah perannya.

Karena American Football adalah olahraga yang seperti game papan, alias langsung terhenti begitu bola jatuh ke lapangan, maka Eyeshield 21 memberikan animo berbeda. Trope Anime yang suka 'cerewet' justru cocok, karena American Football memang menyajikan olahraga yang lebih taktis.

Kalau sekarang, tentu harus kembali ke jaman 90an, dengan anime legendaris berjudul Slam Dunk. Kisahnya berfokus pada Hanamichi Sakuragi, yang niatnya mendekati seorang gadis pujaan di SMA, lalu malah bergabung dengan tim basket yang dikelolanya.

Hanamichi yang memang bertubuh tinggi dan atletis, cukup cocok dengan basket yang kompetitif. Hanamichi cocok diberi posisi center forward, yang memiliki khas melompat tinggi dan menahan bola rebound. Saking tingginya lompatan Hanamichi, dia diandalkan pula untuk Slam Dunk.

Tidak hanya keunikan Hanamichi, namun beberapa anggota tim Shohoku memiliki bakat tersendiri, yang menyajikan animo 'kerasnya' dunia basket. Dan diantara anime olahraga lainnya, Slam Dunk adalah yang paling realistis dengan gambar yang paling bagus (manganya). 

Daaan, sedikit kembali ke film 100 Meter, tampaknya sedikit mengambil referensi dari Slam Dunk. Hanamichi di timnya sendiri merasa bersaing dengan Kaede Rukawa, yang merupakan jagoan di tim Shohoku.

Di film 100 Meter, plot utamanya berfokus pada Togashi (Tori Matsuzaka) sebagai seorang atlet lari muda yang mendominasi balap 100 meter di sekolahnya. Namun keadaan berubah saat Komiya (Shota Sometani) pindah ke sekolahnya. Keduanya pun bersaing, bahkan hingga mencapai kompetisi atlet profesional.