Rekomendasi dan Analisis Film sebagai Fenomena Budaya


Kocaknya Menghadapi Si Jago Merah dalam Film GJLS: Berapi-api

Sangat Berapi-api komedinya (TMDB).

Kembali melanjutkan ritual film pemadam kebakaran yang ciamik dari Nusantara, film GJLS: Berapi-Api dirilis awal November ini. Dengan rating R13 alias Remaja, film ini melanjutkan GJLS: Ibuku Ibu-ibu sebagai sekuelnya, yang rilis tahun 2025. Hanya terpaut satu tahun, tapi kisah dan efek spesial yang ditampilkan kian canggih saja.

Apalagi penulis naskah dan sutradaranya adalah Monty Tiwa, yang sudah veteran dan melanglang buana sebagai sineas perfilman Nusantara. Tahun 2025 lalu, Monty Tiwa sempat mereka ulang Mendadak Dangdut, yang mengembalikan animo Koplo ala Indonesia di jaman 2020an ini.

Sebelumnya di tahun 2026 ini, latar Damkar sempat diadaptasi dalam film keluarga yang bergenre komedi, yaitu Kado untuk Ibu dari bulan Juli lalu.

Animo Damkar di Indonesia

Sebelum membahas film GJLS yang jelas-jelas bergenre komedi, perlu mengecek satu animo film yang beda dari Nusantara. Yaitu film berlatar Pemadam Kebakaran alias Damkar, yang seringkali diadaptasi sebagai sinema berproduksi bagus.

Untuk itu, perlu mengenang dua film berjudul Si Jago Merah dari tahun 2008 dan 2015 lalu. Kedua film adalah masa yang berbeda dari perfilman Nusantara, yaitu awal 2000an saat film Indonesia kembali berkembang. Berlanjut ke jaman 2010an, saat film lokal akhirnya mendapatkan tempat dan bersaing dengan gempuran film internasional.

Film Si Jago Merah tahun 2008 diisi oleh banyak aktor-aktris yang terkenal pada masanya, yang diantaranya adalah Ringgo Agus Rahman, Deddy Mahendra Desta, Ytonk Club 80's, Judika Sihotang, Poppy Savia, Tika Putri, Sarah Sechan, Joe P Project, Indra Birowo, Magdalena, grup band Changcuters, Eppy Kusnandar, Rano Karno, Mpok Nori, Ence Bagus, dan masih banyak lagi. 

Ya, film ini adalah kolektor Mega Bintang saat masanya, yang sanggup memasukkan seluruh aktor-aktris tersebut selama durasinya.

Animo yang dibawakan pun membumi lucunya, yaitu keempat sekawan yang sedang mengalami masalah biaya semester kuliah. Keempatnya berinisiatif untuk magang sebagai anggota Damkar, walau belum siap dengan tanggung jawabnya. 

Konyolnya komedi situasi yang bercampur dengan akting para bintang ini, seakan mengenang kembali kisah Warkop DKI. Sempat beberapa kali, film Warkop diisi kisah semacam ini. Contohnya adalah Bisa Naik Bisa Turun dari tahun 1992 lalu, saat Dono, Kasino dan Indro berlatih sebagai Satpam demi mencari penghidupan. Memang formula yang masih cocok, bahkan hingga saat ini.

Bedanya, film Si Jago Merah: Air dan Api dari tahun 2015 lalu, justru agak berbeda animonya. Walau banyak karakter sebelumnya masih mengisi sebagai anggota veteran Damkar di stasiun yang sama, namun filmnya justru lebih serius dengan mengutamakan drama keluarga. Drama yang ditampilkan sangat kentara, bahkan sesuai dengan efek spesial filmnya yang semakin ciamik.

Animo yang Berlanjut pada Film GJLS

Animo seperti ini yang ditampilkan dalam dua film GJLS. Dalam film pertama bersub-judul Ibuku Ibu-ibu, fokus pada ketiga karakter bernama Rispo (Ananta Rispo), Rigen (Rigen Rakelna), dan Hifdzi (Hifdzi Khoir), yaitu trio kakak beradik yang kesulitan dalam pekerjannya. Hifdzi bekerja sebagai MC Dangdut, lalu Rigen bekerja sebagai Pawang Hujan, sementara Rispo malah asyik bermain peran dalam makro ekonomi ala Judol Nusantara (Slot). 

Pekerjaan mereka ditentang oleh ayahnya, Mr. Tiyo (Bucek Depp), karena tidak berpotensi mensejahterakan keluarga. Padahal di saat yang sama, ayah mereka ternyata memproklamirkan atmosfer keluarga berikutnya, yaitu akan menikah lagi dengan gadis muda bernama Feni (Nadya Arina). 

Tidak rela ayahnya menikah lagi, sekaligus menggantikan sosok ibu yang sudah almarhum, ketiganya mulai menyelidiki latar Feni yang masih belum jelas. Hingga akhirnya mereka terjebak banyak situasi konyol, yang mempertaruhkan kondisi keharmonisan keluarga. 

Ya, memang animo komedi situasi yang kentara dalam film pertama GJLS. Namun, animo ini dilanjutkan dengan epik dalam film keduanya, yang bersub-judul Berapi-api. Mirip dengan Si Jago Merah yang merubah animo menjadi drama keluarga, justru film GJLS mengadaptasi latar Damkar di film keduanya. 

Dengan kisah yang lebih epik, efek spesial yang lebih ciamik, dan latar yang lebih luas lagi, seakan menjembatani kisah Si Jago Merah yang lucu di tahun 2008, dengan animo drama serius dan berefek lebih baik di tahun 2015. Bedanya, GJLS: Berapi-api ini dirilis tepat satu tahun setelah film pertamanya, dengan efek spesial yang jauh lebih canggih dan keren dari sebelumnya.

Alasan ketiga saudara ini untuk bergabung dengan Damkar, adalah melanjutkan petuah dari ayahnya di film pertama. Setelah membereskan drama keluarga di film pertama, ketiga saudara mulai melangkah ke dunia yang lebih epik. Tentu ditemani oleh banyak cewek cantik dalam karakter filmnya, mirip dengan animo Warkop DKI, Si Jago Merah, dan GJLS di tahun 2025 lalu.

Jadi, film komedi Indonesia pun sanggup berlatar ranah lainnya yang lebih serius, dengan mempertahankan film yang canggih dan kisah yang menarik di sinema Nusantara.

Bagikan:

Mengenai Saya

Foto saya
Warga dan Narablog saja...

Kontak Saya

Kontak Saya
Klik Gambar Menuju Laman FB Sedia Saja

Total Tayangan Halaman

Label

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif

Referensi Film Dari Berbagai Perspektif
Klik Gambar Menuju Laman Monsterisasi

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis

Cerita Pendek Horor Orisinal dari Penulis
Klik Gambar Menuju Laman Cerpenhor

Rekomendasi Artikel

Mengenal Luffy Sang Topi Jerami dari One Piece