12 Januari 2026

Idola Sekolah di Film Anime Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie

 

Ayumu Uehara yang heran ada disini (TMDB).

Sekarang, saatnya beralih ke anime yang sudah cukup mumpuni vibe-nya, tetapi kurang dimengerti oleh penulis, berjudul Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie, yang akan tayang khusus di satu rangkaian sinema Indonesia. Memang, penulis kurang mengerti kisah idola Jepang nan Wibu ini, tetapi cukup mengenal animonya. Ditambah lagi, rating anime ini ternyata Semua Umur (SU).

Jika dicek sejarahnya, maka harus kembali ke awal tahun 2000an lalu, saat akademi idola Jepang ramai dengan grup bernama AKB48. Jumlahnya memang banyak, yang mencapai 48 personil dan berisi banyak idola cewek, yang berbakat dalam menyanyi dan berdansa. 

Khusus untuk grup AKB ini sendiri, melanglangbuana grup lainnya hingga hampir seluruh Jepang. Contohnya, adalah SKE48 (Nagoya), HKT48 (Fukuoka), dan NGT48 (Niigata). Bahkan, grup ini merambah hingga Indonesia, bernama JKT48. Di negara lainnya, terdapat pula TPE48 dari Taiwan, SNH48 dari China, MNL48 dari Pinay, dan BNK48 dari Thailand. 

Namun, animo seperti ini memunculkan istilah baru bagi dunia hiburan Jepang, yaitu idola cewek yang berbakat di dunia hiburan. Saking besar animonya, tercipta banyak manga atau anime, berkisah mengenai drama sepintas kehidupan, namun dengan karakter berlatar belakang sebagai idola. 

Tentu, perlu diingat pula mengenai Vocaloid yang beravatar anime, dengan Hatsune Miku yang Go International. Penerusnya kini, penyanyi ber-avatar anime yang selalu tampil langsung dibalik siluet hitam, bernama Ado, sedang ramai diobrolkan oleh banyak penggemar, khususnya dari luar Jepang.

Yang paling nyeleneh, tentu Uma Musume, yang menggabungkan cewek idola Jepang, dengan balapan kuda dalam gim-nya. Anime nya pun merambah, yang hingga saat ini telah mencapai tiga musim, dengan satu film dan dua spin-off-nya. Animo idola di Jepang, layaknya sebuah stadion sepakbola, yang setiap lokasinya diramaikan dengan kompetisi tertentu. 

Satu judul yang paling meramaikan animo ini di Jepangnya sendiri, adalah Love Live!, yang mulai rilis sejak 2010 lalu. Waralaba Love Live hingga kini telah merilis enam serial (2014, 2017, 2022, 2023, 2024), dengan variasi jumlah musim setiap serialnya. Tiga Film pun ditelurkan oleh waralaba ini, yang mengacu pada setiap serial yang berbeda.

Yang paling konsisten dalam merilis produknya, adalah sejenis video gim. Sejak tahun 2013 lalu, setiap tahunnya dirilis gim Love Live, dengan berbagai kombinasi format, genre, dan konsolnya. Waralaba Love Live! memang sukses besar, dengan pendapatan sejak tahun tahun 2014 hingga 2020, mencapai 166 Milyar Yen Jepang, atau 1,5 Milyar Dolar AS.

Okeh, segitu saja dulu. Untuk sinopsisnya di film Love Live! ini, tentu mengambil latar di Nijigasaki, yaitu sekolah yang dirilis tahun 2017 lalu. Selalu mirip dengan animo Love Live!, kisahnya tentu mengenai kompetisi idola Jepang, berlatar sekolah di sana.

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

Jackie Chan Akhirnya Merasa Sepuh di Film Unexpected Family

Sepuh Jackie yang akhirnya istirahat (TMDB).

Okeh, saatnya melanjutkan animo film keluarga di awal tahun 2026, dengan ikut membahas The Man, The Myth, and The Legend Himself, Jackie Chan, dalam film sepuhnya berjudul Unexpected FamilyRemaja dan lebih tua, dapat menonton film ini karena rating umurnya adalah R13.

Film yang akan tayang di banyak sinema Indonesia ini, memang berbeda dengan mayoritas karya Jackie Chan, yang biasanya mengutamakan adu gelut beladiri. Kini, sang sepuh kembali sadar bahwa dirinya telah berumur 71 tahun, dengan berperan sebagai kakek tua di film Unexpected Family.

Karir Jackie Chan

Sebelum membahas lebih jauh filmnya, perlu diingat karir Jackie Chan yang telah melanglangbuana sejak tahun 70an hingga sekarang. 

Jackie pertama kali berperan sebagai pemeran ganda di film Bruce Lee terdahulu, berjudul Fist of Fury, tepatnya tahun 1972. Setelahnya pada tahun 1973, film Enter The Dragon menjadi langkah pro keduanya dalam film beladiri. Dari situ, Jackie mulai dikenal sebagai ahli beladiri yang cekatan di ranah perfilman HongKong.

Jackie bahkan sempat digadang sebagai penerus Bruce Lee, dengan direkrut oleh sutradara terkenal Willie Chan, yang berhasil menelurkan New Fist of Fury (1976). Namun, film ini gagal di sinema dan tidak cocok dengan gaya akting Jackie Chan.

Dua tahun berikutnya, tepatnya tahun 1978, Jackie Chan berperan dalam film Snake in Eagle's Shadow dan Drunken Master. Karena sutradara Yuen Woo-ping membebaskan gaya akting dan koreografi Jackie, maka hasilnya adalah sukses besar. Kedua film tersebut memulai jalur Jackie Chan sebagai aktor beladiri, namun berbumbu komedi.

Willie Chan yang sebelumnya berniat menciptakan Bruce Lee baru dalam tubuh Jackie Chan, akhirnya merasa cocok dengan gaya akting aslinya. Willie lalu turun berkecimpung sebagai manajer Jackie, selama 30 tahun lamanya. 

Dan kini, karir Jackie Chan sudah mencapai jangka 54 tahun lamanya, berjibaku sebagai aktor beladiri di puluhan film. Bahkan di tahun 2025 lalu, Jackie masih sempat berperan aksi dalam film Shadow's Edge pada bulan Agustus, dan sebagai sepuh dalam film Karate Kid: Legends pada bulan Mei.

Nah, akhirnya kembali ke film Unexpected Family, justru mengisahkan Jackie Chan yang berperan sebagai seorang kakek tua, yang sudah pikun dan sulit mengenali siapa keluarga atau tetangganya. 

Cocok memang, karena keterbatasan umur pun, sang legenda akhirnya berkarya tanpa aksi berlebihan lagi. Ditambah lagi, puluhan cedera telah menggerogoti tubuhnya sejak awal karir, yang entah sembuh sepenuhnya atau tidak, mungkin tetap menjangkit tubuh Jackie yang sudah sepuh.

Sinopsis Film Unexpected Family

Zhong Bufan (Peng Yuchang) baru saja melarikan diri dari kota kecil kediamannya, demi tinggal di ibukota Beijing. Tanpa arah yang jelas, kebetulan dia bertemu dengan kakek tua bernama Ren Jiqing (Jackie Chan), yang sudah pikun.

Ren yang ingatannya sudah campur aduk tidak jelas, malah mengira Zhong sebagai anaknya sendiri, yang telah lama tidak datang mengunjunginya. Serba salah, Zhong pun menghindari terus Ren, karena tidak ingin salah tanggap.

Sementara tetangga Ren yang tahu sikap nyentriknya, coba menghalau dirinya yang sering mengejar Zhong. Tetangga Ren memang sudah memaklumi, dirinya tinggal sendiri sudah lama, sementara ingatannya semakin kabur.

Namun, waktu berlalu cukup lambat, dan dedikasi Ren untuk terus menganggap Zhong sebagai anaknya, menyebabkan seluruh tetangganya terenyuh. Bahkan, seluruh tetangganya pun berinisiatif, untuk menemani Ren lebih dekat lagi, dengan berfokus pada Zhong sebagai anaknya.

Bagaimana akhir kisahnya? Dapat disaksikan ala panti jompo sinema Indonesia.

8 Januari 2026

Menjiwai Anime Ala Sutradara Makoto Shinkai

 

Akari yang sudah lama move-on (TMDB).

Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.

Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).

Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.

Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.

Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.

Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB).

Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)

Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).

Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.

Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.

Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB).

Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)

Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.

Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.

Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.

Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya. 

Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.

Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.

Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).

Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.

Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB).

Kimi no Nawa (Your Name; 2016)

Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.

Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.

Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.

Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.

Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.

Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori. 

Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.

Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.

Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). 

Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)

Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.

Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.

Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.

Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.

Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.

Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.  

Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.

Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.

Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao. 

7 Januari 2026

Repotnya Mengurus Prasmanan Ala Film Uang Passolo

Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB).

Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan. 

Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.

Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.

Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.

Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.

Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.

Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).

Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya. 

Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.

Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.

Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.

Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.

Sinopsis Film Uang Passolo

Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.

Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.

Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).

Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

Mencari Tanah Harapan Baru di Film Greenland 2: Migration

 

Keluarga Garrity yang memilih migrasi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film keluarga lainnya, namun dengan bumbu drama para penyintas bencana alam, berjudul Greenland 2: Migration, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating R13 (Remaja).

Film ini tentu meramaikan kembali, ranah bencana alam dahsyat yang kurang diangkat oleh sineas perfilman dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin, film ini mengingatkan tentang cuaca ekstrem, walau dalam filmnya lebih mengisahkan tentang jatuhnya komet di bumi, dan perubahan iklim setelahnya. Animo ini memang naik-turun dalam sejarah perfilman Hollywood. 

Pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu Gerard Butler yang naik pamornya sejak film 300 (2006) terdahulu, dan Morena Baccarin yang ikut naik pamornya, sejak film Spring (2014) dan Deadpool (2016).

Oh ya karena sedang membahas tentang bencana alam, coba cek film Spring dari Morena Baccarin. Yang paham, tentunya akan mengerti maksud film tersebut, walau mayoritasnya adegannya lebih menunjukkan horor-drama sekaligus.

Bagi yang kurang paham, mungkin nanti saya tulis di artikel Monsterisasi saja, ya...

Atmosfer Bencana Alam Dahsyat di Perfilman Hollywood

Perlu diingat, animo bencana komet dahsyat sebagai plot utama film, sempat ramai saat film Armageddon (1998) yang dirilis dengan penuh bintang, diantaranya Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler, Steve Buscemi, Owen Wilson, serta Ving Rhames. Bahkan, para penikmat film tentu masih mengingat, lagu latar berjudul Leaving On A Jetplane, dari penyanyi Chantal Kreavizuk.

Animo ini dilanjutkan kembali dalam film Deep Impact di tahun yang sama, dan masih berplot utama komet yang jatuh. Namun, dengan mengedepankan visual Tsunami yang melebihi tingginya gedung pencakar langit di New York, AS. Aktor pengisinya pun termasuk bintang, yang diantaranya adalah Morgan Freeman, Elijah Woods, and Jon Favreau.

Berikutnya adapula film Day After Tomorrow (2004), yang mengisahkan tentang dinginnya bumi setelah mencairnya kedua kutub bumi akibat pemanasan global. Film ini dibintangi pula oleh aktor ternama Jake Gyllenhaal.

Loncat beberapa tahun berikutnya, film berjudul 2012, dirilis pada tahun 2009. Film ini memang memanfaatkan ramainya teori kiamat bumi pada tahun 2012, padahal tahun tersebut adalah akhir dari kalender kuno milik Suku Maya terdahulu. 

Walau begitu, film ini sebenarnya mengacu pada patahan sesar di seluruh bumi, yang terpicu akibat masifnya pergeseran tektonik, dan menyebabkan bencana dahsyat di seluruh dunia. Aktor bintang yang mengisinya pun cukup terkenal, yaitu John Cusack, Woody Harelson, dan Chiwetel Ajiofor.

Animo yang sama pun dikembangkan kembali oleh film San Andreas (2015), yang diperankan oleh aktor Dwayne 'The Rock' Johnson, Paul Giamatti, dan Kylie Minogue. Berbeda dengan 2012, film ini lebih mengisahkan satu patahan sesar saja di California AS, yang memang bernama San Andreas.

Tahun 2022 lalu, sempat dirilis pula film yang mengisahkan tentang jatuhnya obyek antariksa menuju bumi, berjudul Moonfall. Walau berkisah fantasi ala sains-fiksi, namun cukup mantap dengan sepasang bintang ala Patrick Wilson dan Halle Berry.

Sinopsis Film Greenland (2020)

Okeh, dan tampaknya perlu kembali ke Greenland, yang disukai oleh penggemar dan kritikus film. Berbeda dengan daftar film diatas, justru film Greenland sangat berbumbu drama, dengan fokus karakter utama sebagai penyintas bencana. Tingkat bencana serta hingar-bingarnya kerusakan pun diminimalisir oleh film ini.

Tidak perlu mengisahkan terlalu banyak mengenai sinopsisnya, karena memang sengaja cuplikannya dibuat acak agar tidak membuka banyak plotnya. 

Disimpulkan sedikit saja, John Garrity (Gerard Butler) dan Allison Garrity (Morena Baccarin) adalah sepasang suami dan istri yang tengah mengadakan pesta di rumahnya bersama tetangga terdekat.

Namun, terdengar kabar berita komet bernama Clarke, yang akan tiba dalam waktu 24 jam di atmosfer bumi. Awalnya mereka menyepelekan, karena komet biasanya hancur sebelum menyentuh bumi. Namun, ketika anaknya yang bernama Nathan (Roger Dale Floyd) berteriak, mereka akhirnya dapat melihat langit yang berubah merah menyala.

Seluruh keluarga beserta tetangganya pun panik, dan dengan arahan dari berita tersebut, bergerak menuju lokasi bunker bagi penyintas di Greenland. Keluarga Garrity pun berjibaku hebat, melawan kemacetan, jatuhnya pecahan komet secara acak, brutalnya para penyintas yang depresi, serta tertahan oleh regu penyelamat yang sengaja memilah penyintas untuk dapat masuk bunker.

Bagi yang penasaran, dapat menyaksikan film pertama Greenland di banyak layanan siaran internet.  

Sinopsis Film Greenland 2: Migration

Dalam film keduanya, Allison, John, dan Nathan akhirnya berhasil memulai hidup baru di Greenland, setelah beberapa bulan tinggal dalam bunker, akibat bencana komet Clarke. Kini, keluarga Garrity telah bertahun-tahun lamanya selamat sejak jatuhnya komet, dan memulai hidup baru yang damai.

Namun, bumi memang sudah berubah sejak tibanya komet Clarke, dengan cuaca ekstrem yang terus mengancam planet ini. Tidak hanya bencana alam, ternyata kondisi alam yang berubah, menyebabkan Greenland sudah sulit ditinggali lagi. 

Sulitnya kondisi di Greenland, serta bencana alam ekstrem yang secara acak terus mengancam lokasi hunian, menyebabkan keluarga Garrity berinisiatif kembali. Ya, mereka mulai melaksanakan migrasi, demi menemukan tanah harapan baru. Tentu, yang dicari adalah lokasi layak untuk dapat ditinggali oleh manusia.

Dapatkah mereka menemukan kembali lahan yang cukup aman? Atau malah berujung petaka lainnya, seperti perjalanan pertama mereka menuju Greenland?

Jawabannya, tentu ada di siklus akhir dan awal dunia ala sinema Indonesia.

Sedikit Pendapat Akhir Dunia

Mengenai kisah akhir dunia, yang tentu banyak kisahnya dan kontroversinya, justru penulis ingin mengomentarinya dari segi para 'aktivis-nya.'

Terdapat beberapa kreator (di Internet), yang setiap merilis karya kontennya, terlalu mengedepankan kontroversi yang ada, layaknya bencana alam dan manusianya adalah suatu bentuk pro atau kontra.

Memang cukup bagus untuk meningkatkan pemantauan kita sebagai warga biasa. Namun, kontennya saja judulnya sudah click-bait, apalagi hingga rage-bait. Seakan, konten tersebut hanya ditujukan untuk memancing saja. Padahal kalau topiknya bencana alam, tentu dapat dicek dengan membaca beritanya, dokumenter berisi sainsnya, dan bahkan sedikit drama dari fiksinya.

Jadi, penulis hanya ingin mengomentari, bahwa konten seperti itu hanya dijadikan sebagai bahan obrolan saja, dengan para kreatornya yang jelas terlihat paranoid. Bahkan, penulis sempat menonton sebuah konten, yang jika ditelaah, tiga dari lima topik yang diutarakannya ternyata salah fakta dan data! Padahal, konten tersebut tidak mengomentari urusan Fiksi! Jadi, dimana sebenarnya kredibilitas mereka?

Lebih paranoid lagi, mereka layaknya seorang pemberontak, khususnya kepada 1 Persen Top Global, yang sudah dari jaman terdahulu, menjadi prioritas keamanan jika bencana alam dahsyat menimpa bumi. Terlalu paranoid-kah mereka? Menurut penulis sih iya, mereka paranoid. 

Kembali ke segi penulis sendiri, penulis menyimpulkan cuplikan dan referensi film seadanya, layaknya sastra dan seni yang memiliki penjiwaan tersendiri, dengan disandingkan ala balutan budaya yang ada. Jadi, berbeda dengan para 'influencer' ini, tulisan artikel saya memang lebih mirip sebuah bentuk studi dan penjiwaan, daripada dapat merubah pandangan para pembacanya.

Okeh, Wassalam.

Berteman dengan Panda Imut dalam Film Moon The Panda

 

Tian dan Panda (TMDB).

Selamat datang kembali di tahun berikutnya, yaitu tahun 2026 yang meninggalkan 2025 dengan segala kegalauannya. Ya, cukup galau karena memang harus masuk sekolah dan kerja lagi setelah liburan. Lupakan semua resolusi tahun 2025 lalu, dan mulailah melangkah lagi di tahun 2026 ini.

Dan, tentunya masih ada waktu bersama keluarga atau teman terdekat untuk menikmati hiburan bersama. Apalagi, semenjak minggu kemarin dirilis beberapa film yang seluruhnya bertema tentang keluarga. Ya, memang bertema keluarga, tetapi dengan kombinasi banyak genre berbeda. Diantaranya, di ranah cerita anak, isu bencana sosial, horor, hingga komedi budaya. 

Okeh, sudah saatnya membahas film pertamanya saja ya, yang berjudul Moon The Panda, yang telah tayang sejak minggu lalu di sinema Indonesia. Film ini bisa ditonton oleh Semua Umur, alias cocok untuk mengajak anak yang ingin menonton kelucuan Panda.

Panda yang Isekai

Oh ya, karena seperti biasanya, cuplikan film Moon The Panda sama sekali tidak mengisahkan plot utama filmnya. Maka, di sub-artikel ini ditulis saja keunikan dari binatangnya sendiri, yaitu sejenis beruang herbivora bernama Panda.

Hewan berwarna hitam-putih ini sejenis beruang, yang biasanya omnivora, alias pemakan segala. Namun, entah apa yang terjadi jutaan tahun lalu, sehingga Panda beradaptasi dengan hanya melahap tanaman bambu saja. 

Seperti dilansir dari NatGeo Indonesia, pada sebuah fosil dari tujuh tahun lalu, terdapat jejak transisi Panda dari omnivora menjadi herbivora. Padahal hingga kini, dalam perut Panda masih memiliki banyak bakteri pemroses protein.

Bahkan, menurut Taman Safari Indonesia, Panda mampu melahap hingga 12 kilogram bambu setiap harinya. Jumlah tersebut pun cukup kurang, karena Panda bisa berbobot 160 kilogram, dan membutuhkan kalori yang lebih banyak untuk bergerak. Sementara itu, bambu hanya menghasilkan sedikit kalori.

Uniknya, karena siklus hidupnya yang agak 'malas,' sehingga Panda hanya menghabiskan 38 persen kalori setiap harinya. Mungkin itulah, mengapa Panda malah terlihat ceroboh, malas, konyol, dan lucu sekaligus. 

Hewan ini memang secara adaptasi biologis, sudah dianggap anomali. Sehingga, uniknya Panda-lah yang membuat Pemerintah China mendukung sepenuhnya konservasi hewan terancam punah ini. Bahkan, di seluruh dunia terdapat usaha konservasi khusus, yang dianggap cukup berbiaya tinggi, akibat sulitnya mengembangbiakkan Panda.

Sutradara Gilles de Maistres dari Perancis

Bagi yang penasaran dengan sutradaranya, yaitu seorang sineas dari Perancis bernama Gilles de Maistres. Sutradara ini sudah berkecimpung lama dengan khas film anak, yang memadukan hewan liar didalamnya.

Contohnya adalah film tahun 2018 berjudul Mia and The White Lion, yang cukup sukses di pasar maupun kritikus. Dua film berikutnya yang tetap berisi karakter binatang, The Wolf and The Lion (2021) dan Autumn and The Black Jaguar (2024), sempat diproduksi oleh sutradara Gilles. 

Tampaknya, Giles de Maistres memiliki wacana untuk mengisi kekosongan film anak, yang berisi peran karakter binatang asli, sebagai bagian dari plot utamanya.

Sinopsis Film Moon The Panda

Tian Zhao (Liu Nouyi) adalah anak yang masih cukup bandel. Suatu hari saat tengah merayakan hari ulang tahunnya ke 12, Tian dikritisi oleh ayahnya, Fu Zhao (Liu Ye) bahwa nilai di sekolahnya buruk, dan bahkan peringkat terakhir di kelas. Tidak menerima begitu saja, Tian lalu ngambek dan pergi dari acara ulang tahunnya sendiri.

Ibunya, Emma Zhao (Alexandra Lamy), lalu berinisiatif untuk mengajak berlibur kedua anaknya, Tian dan Liya (Liu Nina), menuju lokasi hunian neneknya, Nai Nai Zhao (Sylvia Chang). Ketiganya lalu berangkat menuju pedesaan China, tempat hunian Nai Nai yang dekat sekali hutan belantara. Fu Zhao sebenarnya masih heran, mengapa berlibur ke rumah ibunya dapat membereskan masalah nilai Tian.

Tian, yang terlalu sumringah saat menjelajah ke hutan, akhirnya bertemu dengan seekor panda kecil, bersama ibunya. Keduanya pun menjalin persahabatan di tengah hutan, karena panda yang diberi nama Moon ini, sangatlah jinak untuk menemani kesehariannya.

Dapatkan keduanya menjalin persahabatan antar spesies untuk waktu yang lama? Jawabannya tentu ada di keragaman hayati ala sinema Indonesia.

26 Desember 2025

Tersasar Kembali di Tanah Keramat Ala Film Dusun Mayit

 

Keempat manusia yang isekai di gunung (TMDB).

Daaaan, akhirnya kembali lagi di penghujung akhir tahun 2025, tepatnya dirilis pada 31 Desember (lagi), dengan satu judul film horor yang mengemukakan kembali keramatnya lokasi pegunungan, berjudul Dusun Mayit. Tentu, tayangan ini cocok bagi para penggemar horor, di sinema Indonesia, tentunya.

Sedikit Penalaran Plot Utama Dusun Mayit

Nah, sekarang perlu ditelaah sedikit melalui cuplikannya (saja), yaitu berlatar di sebuah gunung, tepatnya bernama Gunung Welirang. Walau pada cuplikannya terlihat indah, tentunya dengan kebutuhan plot dan cerita film horor, dibutuhkan berbagai bumbu ngeri. Oh ya, film ini memiliki rating R13+, alias hanya cocok ditonton oleh remaja keatas.

Dan memang, beberapa adegan pada cuplikannya memberi petunjuk (lagi), demi menceritakan keramatnya sebuah gunung, yang biasa masuk pada Weton di sekitar gunung oleh warga. Gunung memang dianggap keramat, dan beberapa ritual dan pantangan ditujukan bagi setiap warga yang mengunjunginya.

Contohnya adalah sebuah pantangan, dimana para pendaki tidak boleh keluar dari jalur pendakian (secara eksplisit disebut dalam cuplikannya). Tentu agar tidak tersasar di wilayah hutan lebat dan pegunungan yang naik-turun, terdapat pula pantangan mistis lain-lain. Takhayul atau tidak, maka resiko tersasar saja sudah cukup sebagai peringatan khusus bagi para pendaki.

Adapula terdapat adegan, dimana seorang pendaki pemula yang meremehkan Weton tersebut, dan bahkan menendang sesajen di antara sebuah pohon. Walau ritual tersebut hanya mengacu pada beberapa sistem kepercayaan saja di Jawa, tapi coba dicek saja dari segi nilainya. 

Maksud paling kentara bukanlah langsung mistis, melainkan simbol dari sebuah penghargaan kepada alamnya. Jadi, bagi yang tidak mengikuti ajaran tersebut, maka bisa dianggap simbol saja, bahwa kita yang mengunjungi alam belantara, harus menghargainya. Sekaligus pula, bebersih saja setelah kunjungan kita selesai, dan jangan meninggalkan sampah atau perlengkapan kemah lainnya.

Bahkan, sebuah pohon bisa disebut keramat, bukan karena terlihat besar dan menyeramkan saja. Pohon tertinggi dan terbesar di sebuah lokasi hutan, adalah penyeimbang dan pelindung di ekosistem tersebut, sehingga berperan penting bagi habitat tanaman dan hewan di sekitarnya. Jadi, pohon tersebut layaknya 'kuncen asli' di hutan tersebut, dan jangan diganggu, apalagi ditebang.

Ya, maksudnya, sains saja sudah membuktikan pentingnya kelangsungan pohon tersebut bagi ekosistem. Kita sebagai manusia, tentu paham maksudnya. Oh ya, pohon yang dikeramatkan, sempat meluas pula di seluruh dunia. 

Tidak hanya penjaga ekosistem, maka pohon tertinggi dapat melindungi hutan saat badai kilat. Dalam sainsnya, objek tertinggi di sebuah lahan akan lebih mudah tersambar kilat, daripada objek yang lebih rendah. Jadi, pohon terbesar (yang mungkin masih bisa tumbuh), menjadi satu-satunya yang tersambar lalu terbakar, diantara jutaan pohon lainnya di seluruh hutan.

Dan satu lagi dari segi kebahasaan, dalam bahasa Jepang, 'Kami' berarti Dewa, lalu 'Kaminari' berarti kilat. Walau Kanji-nya berbeda, tetapi morfologinya tetap sama. Maka, kilat adalah suatu simbol kuat mengenai dewa di langit, yang selalu digambarkan dengan selendang pada belakang punggungnya, khususnya dari China, hingga Jepang. 

Di paragraf berikutnya, dijelaskan pula kesinambungan simbol budaya ini dengan  budaya lainnya dari Asia Timur, khususnya dari Jepang. 

Selain itu, terdapat pula sebuah adegan dimana pendakinya sampai di sebuah desa terpencil, dengan keadaan yang cukup berbeda. Para warganya terlihat begitu tradisional, dan tidak kelihatan 'hidup' seperti biasanya.

Nah, kalau yang satu ini, bisa ditelaah pula dari segi cerita jurig. Tidak hanya di Indonesia yang kadang berisi kisah tersasar hingga lokasi pasar malam atau desa terpencil mistis, tetapi ternyata sering muncul pula di banyak negara Asia Timur lainnya. 

Indonesia termasuk Timur loh, alias Tenggara, dan memang dari segi budaya cukup berbeda dengan Asia Tengah dan Timur Tengah, namun sangat mirip dengan negara di Asia Timur. Entah apa yang terjadi selama jaman keemasan kerajaan terdahulu, dimana intensitas dagang ternyata cukup lekat akulturasi budayanya, sepanjang Asia Timur hingga Tenggara.

Okeh, kembali lagi ke lokasi dusun atau pasar malam mistis. Contohnya saja, terdapat mitos yang mirip dari Jepang, yaitu lokasi pasar malam, dimana banyak mahluk mengikutinya. Mahluk tersebut biasa disebut Yokai atau Siluman, dan memang berlokasi di tengah hutan. Manusia yang kebetulan lewat dan sempat mendengar, diberi pantangan untuk mengikutinya. Bahkan, cerita ini bisa disebut Pamali dari negara Sakura sana.

Padahal jika ditelaah kembali, pasar malam ini bisa menjadi simbol lainnya pula. Penulis bahkan sempat menemukan, lokasi situs aneh ditengah gunung yang dipenuhi pohon pinus, yaitu gunung antara Tasikmalaya dan Majalengka. Penulis bahkan sempat berfoto disana, dimana banyak batu yang jika dipukul dengan koin atau sejenis logam, akan bergema dan mendengung, layaknya sebuah Gamelan.

Lokasinya memang dekat jalan yang waktu itu penulis lewati, sebagai jalan pintas antar wilayah di Jawa Barat. Namun, bukan berarti penulis melaksanakan ritual tersebut. Mungkin, jika 'pemainnya' berbeda, maka rangkaian batu tersebut bisa disebut sebagai alat musik mistis.

Nah, bagaimana dengan penggambaran film di Dusun Mayit ini, yang lebih kental logat serta budaya Jawa-nya? Coba dicek saja melalui sinopsisnya.

Sinopsis Film Dusun Mayit

Aryo (Fahad Haydra), Raka (Randy Martin), dan Nita (Ersya Aurelia), adalah teman dekat sejak lama. Ketiganya sudah terbiasa mendaki gunung, dan kali ini ingin mendaki dan berkemah di Gunung Welirang. Trio ini lalu mengajak kawan baru mereka, bernama Yuni (Amanda Manopo).

Quadro ini lalu berangkat menuju Gunung Welirang, yang walau sempat diperingatkan agar tidak keluar dari jalur pendakian, mereka malah menjelajah terlalu jauh. Walau begitu, mereka berhasil menemukan sebuah danau cantik ditengah gunung, yang menjadi hasil memuaskan dari penjelajahan mereka.

Namun, saat pulang, mereka menemukan sebuah lokasi sesajen, tepat dibawah pohon besar. Nita, yang memang kurang percaya takhayul, malah menendang sesajen tersebut. Lebih parahnya lagi, keempat sekawan malah tersasar, padahal lokasinya masih padang rumput yang luas.

Hingga akhirnya keempat sekawan ini berhasil masuk ke hutan kembali, lalu tiba di lokasi gubuk peristirahatan pendaki. Dan semakin parah lagi, Nita yang sempat hilang, malah kesurupan dan pingsan seketika. 

Keempatnya pun semakin panik, yang lalu merasa tambah heran, saat tiba di sebuah desa. Di Desa tersebut, keadaan terasa aneh, dengan warganya yang terlihat kurang komunikatif. 

Dan saat malam tiba, Mbah Surop (Bambang Gundul), yaitu seorang paranormal dan kuncen gunung tersebut, berselirih bahwa mereka berada di ambang batas dunia nyata dan ghaib. Tepat pada malam tersebut, kekuatan supernatural akan terserap dan menerobos dunia nyata, sementara manusia (selain Kuncen), dapat terjebak dan tidak dapat kembali.

Sanggupkah mereka melarikan diri dari lokasi dusun mistis tersebut? Atau malah pasrah dan milih bergabung dalam ritualnya? Atau malah belajar langsung dari Kuncen agar sakti mandraguna?

Jawabannya, tentu terdapat di ritual desa terpencil sinema Indonesia.

Kocaknya Dikejar Hutang Ala Komedian di Film Modual Nekad

 

Film yang emang modualnya nekad (Instagram).

Menjelang akhir tahun 2025 ini, alias minggu kelima Desember saat perpindahan tahun menuju tahun 2026, tampaknya memang perlu diisi dengan film komedi nan kocak. Ya, kali ini judulnya adalah Modual Nekad, yaitu sekuel dari film pertamanya yang mirip judulnya, Modal Nekad

Film Modual Nekad tentu akan tayang di sinema-sinema Indonesia mulai akhir minggu kelima sekaligus batas ujung tahun, alias tanggal 31 Desember mendatang. Bagi yang perlu menonton film pertamanya dari tahun 2024 (dan masih di bulan Desember lalu), masih bisa disaksikan di layanan siaran Netflix. Kedua film pun memiliki rating sama, yaitu R13+.

Oh ya, bagi yang merasa kenal dengan Imam Darto, ya kali ini Modual Nekad menjadi film kedua yang menjadi arahannya, sekaligus penulis naskahnya. Lulusan dari radio ini memang telah berkecimpung lama sebagai penulis naskah film, yaitu sejak film Vote for Love, tahun 2008 lalu. Walau begitu, film hasil naskah miliknya lebih konsisten dimulai sejak tahun 2019 lalu, dengan judul Pretty Boys.

Animo filmnya yang kocak ala komedi Indonesia pun sebenarnya berujung ironis, karena kedua film mengisahkan tentang sulitnya membayar hutang, yang berakibat dari biaya rumah sakit. Saking ekstremnya, seluruh karakter utama di kedua film malah mengambil jalur yang lebih ekstrem lagi, yaitu mencoba mencuri dari sebuah rumah orang kaya.

Okeh, segitu saja dulu plot utamanya. Sudah saatnya membahas sinopsis film pertamanya, ya wak?

Sinopsis Film Modal Nekad

Saipul (Gading Marten), Jamal (Tarra Budiman), dan Marwan (Fatih Unru), baru saja kehilangan sosok ayah mereka. Baru saja ketiganya menguburkan jenazah ayahnya, dengan kata-kata ceramah mengingatkan tentang hutang almarhum, administrasi rumah sakit yang ikut menumpang ambulans, langsung tanpa ragu menggelontorkan sepucuk surat tagihan biaya perawatan.

Ketiganya pun mengadakan rapat, untuk menghitung bagaimana caranya membayar hutang tersebut. Akhirnya, karena ketiga bersaudara ini mentok, maka memilih jalur yang kurang baik, yaitu mencuri dari sebuah rumah milik orang kaya, bernama Teddy Salsa (Bucek Depp), yang (katanya) jarang pulang ke rumah.

Namun, saat ketiganya berhasil memasuki area dalam rumah tersebut, ternyata sang pemilik rumah kembali pulang. Tidak sendiri, melainkan bersama seluruh ajudannya, yang bernama Petrus (Mike Lucock), Eka (Prisia Nasution), Bakti (Sadana Agung), dan Agus (Coki Anwar). Trio bersaudara ini pun kalang kabut untuk mencari tempat persembunyian.

Lebih parah lagi, ternyata kepulangan pemilik rumah, bareng pula dengan tibanya anggota kepolisian, yang dikepalai oleh Bripka Bowo (Tanta Ginting) dan Briptu Ardi (Reza Hilman). Mereka melaksanakan Buser (Buru Sergap) sekaligus Sidak (Inspeksi Mendadak), karena tahu bahwa pemilik rumah yang terkenal kriminil, sedang berada di rumah. 

Lebih kacau lagi, ternyata Teddy Salsa tidak mau mengalah begitu saja. Ajudannya malah melawan balik, dan berakhir dengan menyandera seluruh anggota regu kepolisian.

Trio bersaudara ini akhirnya mendapatkan bantuan khusus, yaitu dari pembantu dan penjaga rumah tersebut yang bernama Rosma (Sahila Hisyam) dan Salim (Fajar Nugra). Kedua pembantu yang biasa mengurus rumah saat ditinggalkan pemiliknya, ternyata tahu kegilaan yang sering dilaksanakan bos-nya. 

Bahkan, setelah berhasil keluar rumah, ketiganya justru membantu lagi para penjaga rumah, agar dapat menguak kejahatan di rumah tersebut, sekaligus mendapatkan cuan untuk hutang mereka.

Okeh, plotnya terdengar epik dan cukup menarik. Sekali lagi, yang penasaran bisa mengeceknya di siaran Netflix. Oh ya, film ini sekaligus menjadi debut aktris cilik bernama Gempita Nora Marten, anak dari Gading Marten, yang memerankan karakter Aisyah.

Dan lanjut, ke sinopsis film keduanya, ya...

Sinopsis Film Modual Nekad

Kali ini di film keduanya, trio bersaudara Saipul, Jamal, dan Marwan malah terjerat di situasi yang lebih parah lagi. Yaitu, resiko rumah warisan peninggalan bapaknya, Bapak Husein (Budi Ros), yang akan disita oleh bank. 

Penyitaan sejenis ini, kadang terjadi di dunia nyata, akibat sang pewaris malah menitipkan sertifikat rumah bukannya pada anggota keluarga atau ahli hukum, dan bahkan bank yang memang dapat menyita, melainkan pihak ketiga yang dianggap memiliki kedekatan batin. Namun, pihak ketiga (yang dalam film ini bernama Pak Haji dan diperankan oleh Andre Taulany) malah menyalahgunakan sertifikat tersebut demi kepentingan pribadi, contohnya adalah sebagai jaminan untuk  meminjam sejumlah dana dari bank.

Jadi, ketiga karakter utama di film Modual Nekad, justru tidak berandil sama sekali, yang berakibat penyitaan rumah milik mereka. Namun, ketiganya yang sudah berpengalaman untuk menjebol rumah orang kaya, memanfaatkan situasi lain yang sama berbahayanya. 

Di sekitar area rumahnya, terdapat seorang rumah pejabat korup yang baru saja ditangkap kepolisian. Dari situ, Marwan memanfaatkan situasi Buser dan Sidak di lokasi rumah tersangka, dengan berpura-pura sebagai anggota pers. Padahal, tujuannya adalah memantau isi keadaan rumah, agar dapat dibobol saat operasi berlangsung malam harinya.

Trio penjahat pecicilan itupun sukses besar, dengan berhasil merebut sekitar 400 juta rupiah! Namun, kesuksesan tersebut ternyata menguak fakta lain, yang dapat membongkar kejahatan besar di rumah tersebut. Sebuah flashdisk berisi rekaman CCTV, ternyata menguak kejahatan lain yang dilaksanakan oleh pemilih rumah, bersama seorang pengusaha, bernama Omar (Surya Saputra).

Sayang seribu sayang, ajudan terdahulu yang memang ikut naik level setelah film pertamanya, yaitu Bakti, berhasil melacak lokasi duo Saipul dan Jamal. Mereka lalu disandera bersama seluruh anggota keluarganya, untuk diberikan kepada Omar.

Marwan yang tidak berhasil disekap, ternyata ikut naik level pula, yang berhasil menyergap dan menyandera para ajudan tersebut. Tanpa berpikir panjang, Marwan akhirnya mencoba menyelamatkan seluruh keluarganya.

Masih epik saja film keduanya ini. Maka, bagi yang cukup mengerti bagaimana epiknya kisah warga biasa lalu naik level menjadi penjahat pecicilan, dapat menyaksikannya langsung di ranah kriminalitas ala sinema Indonesia.