24 Juli 2025

Film Perang Indonesia, Believe: The Ultimate Battle

 

Terjun payung yang menggetarkan nyali (IMDB).

Sineas perfilman Indonesia tampaknya ingin meramaikan kemerdekaan tahun ke 80, dengan cara yang berbeda. Akhir Juli ini, dirilis film Believe: The Ultimate Battle, yang justru mengisahkan sedikit latar dari perang Indonesia di Timor-Timur (sekarang Timor Leste). 

Sebelumnya pada akhir April, film mengenai kemerdekaan Indonesia memang sempat dirilis, dengan judul film Perang Kota. Film ini bahkan diadaptasi dari novel klasik terkenal Jalan Tak ada Ujung, hasil karya Mochtar Lubis, yang dirilis tahun 1952 lalu.

Sedikit Kisah Perang Timor

Kisah perang di Timor Timur, yang biasa disebut Operasi Seroja, memang bahasan yang cukup sensitif. Tahun 1975 lalu, Timor belum menjadi bagian dari Indonesia. Operasi Seroja dilaksanakan oleh Presiden Soeharto, demi memberantas komunis yang dipimpin Fretilin, dan merekrut Timor sebagai wilayah Indonesia.

Saat kepemimpinan Presiden BJ Habibie tahun 1999 lalu, pemerintahan baru berlandaskan reformasi, justru ditekan oleh warga Timor. Voting bagi warga Timor pun dilaksanakan, agar mencapai keputusan mengenai keluarnya Timor atau tidak dari Indonesia. Hasilnya, Timor pun keluar dari bagian NKRI, dan berubah namanya menjadi Timor Leste.

Dari segi politik, Operasi Seroja memang cukup sensitif. Kisah operasi militer di Timor adalah sebuah konflik, yang bisa disebut sebagai invasi, hingga bahkan genosida. Walau berujung cukup damai, dengan keluarnya Timor melalui jalur birokrasi.

Bagaimana film Believe: The Ultimate Battle ini menceritakannya, tergantung dari pembawaan kisah tim produksinya, sekaligus penerimaan dari penontonnya.

Sinopsis Film Believe: The Ultimate Battle

Agus (Ajil Ditto) adalah seorang anak yang dididik keras oleh ayahnya, Sersan Kepala (Serka) Dedi (Wafda Saifan). Didikan keras dari Dedi, menyebabkan Agus tumbuh sebagai pemuda nakal. Walau begitu, Agus sebenarnya menghormati ayahnya. Apalagi, selama ini Dedi hidup cedera akibat Operasi Seroja di Timor. 

Dedi pun akhirnya meninggal, yang mengobarkan semangat Agus untuk bergabung dengan TNI. Diantara tugasnya sebagai anggota militer, Dedi pun perlu menjaga keutuhan keluarga bersama istrinya, Evi (Adinda Thomas). 

Agus pun mulai menyadari, bahwa istilah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) dari Presiden Sukarno sangatlah penting. Agus tidak ingin mengulangi kesalahan ayahnya di masa lampau, dan berjuang agar jalannya terbuka bagi diri sendiri, dan negara yang diembannya.

Dilihat dari cuplikannya, tampaknya film ini cukup heboh dengan efek ledakan, tembakan, dan aksi gelutnya, ala sinema Indonesia.

Film Horor Korea Terjebak di Stasiun Kereta Api, Ghost Train

 

Da-Gyeong saat uji nyali di Stasiun Gwanglim (IMDB).

Korea Selatan lagi banyak merilis film horor di Indonesia tahun 2025. Di bulan Juli ini, muncul lagi film berjudul Ghost Train, yang diperankan oleh Joo Hyun-young sebagai Da-Gyeong.

Tampaknya khusus tema film ini, termasuk jarang diangkat di dunia perfilman. Stasiun kereta api, termasuk di gerbongnya, memang tempat yang selalu ramai sebagai transportasi warga. Jika ada film horor yang mengangkat tema dan latar belakang kereta api, biasanya sudah heboh terlebih dahulu di media sosial, bahkan sebelum filmnya dirilis di sinema.

Contoh paling kentara adalah film Train to Busan (2016), yang mengisahkan tema zombie di kereta api Korea Selatan. Saking populernya, Train to Busan menjadi pencetus banyaknya film zombie dari Korea Selatan, dengan biaya produksi besar dan bakat aktor-aktris yang mumpuni.

Contoh lainnya berasal dari film tahun 2001, berjudul Suicide Club (rating D21+). Film ini mengisahkan sebuah kekacauan jahil sosial di Jepang, yang berfokus pada kasus bunuh diri di stasiun kereta api. 

Padahal, jaman tersebut belum ada istilah prank, tetapi banyak yang mencoba untuk loncat ke rel, saat kereta api hampir lewat dan tiba di stasiun. Aksi nekat ini menyebabkan kepanikan bagi kepolisian dan pemerhati sosial, walau korbannya tidak selalu meninggal.

Tren bunuh diri tersebut menyebabkan media Jepang meramaikannya (kasus bunuh diri belum selesai), sampai menyebut para korban sebagai anggota dari sekte Suicide Club (Klub Bunuh Diri). Saking ramainya, banyak warga dewasa serta siswa sekolah, mencoba untuk ikut loncat, walau tanpa alasan.

Tren pun mulai merambah ke banyak area, sehingga banyak warga melakukan bunuh diri di rumah atau area keramaian lainnya. Beberapa orang yang berniat jahat pun bermunculan, yang memalsukan kejahatannya dengan tindakan bunuh diri korban.

Tampaknya sudah terlalu berat, maka coba kita cek cerita film Ghost Train ini, yang sebenarnya dirilis awal Korea Selatan pada tahun 2024 lalu (IMDB).

Sinopsis Film Ghost Train

Berbeda dengan dua film yang sebelumnya dibahas, kali ini justru berlatar horor fisik, mistis, dan kejahatan sekaligus. Tokoh utamanya adalah Da-Gyeong (Joo Hyun-young), seorang YouTuber dari agensi, yang baru memulai karir dan tidak memiliki banyak tayangan (alias belum pamor).

Da-Gyeong yang membutuhkan tema video baru, coba mengecek cerita mengenai stasiun kereta berhantu, bernama Gwanglim. Stasiun ini telah terkenal sebelumnya, karena sempat menjadi tempat bunuh diri beberapa korban. Dari beberapa kisah yang didengarnya, beberapa sangat tidak masuk diakal, namun memiliki satu kemiripan. 

Contohnya adalah kisah pria, yang tubuhnya tiba-tiba hilang ditelan bumi dan sempat disaksikan penumpang lainnya. Korban lainnya, sempat dikejar oleh seorang bertopeng yang membawa cairan lendir aneh. Jika terkena cairan tersebut, maka kulit korban akan berubah seperti kena gatal, dan bahkan bermutasi.

Kemiripan mengenai dikejar orang tak dikenal, cairan aneh yang dibawanya, dan banyaknya korban hilang, menyebabkan Da-Gyeong terkesima. Dia pun membawa ponsel untuk merekam, dan mencoba bertahan 'uji nyali' di stasiun Gwanglim.

Apakah Da-Gyeong berhasil mendapatkan rekaman yang viral? Atau justru terkena imbas jelek dikejar mahluk tak fana berbahaya?

Jawabannya, dapat disaksikan ala stasiun pemberhatian sinema Indonesia.

Film Henshin, Ultraman Arc The Movie: The Clash of Light and Evil

 

Ultraman Arc (IMDB).

Tampaknya bukan hanya studio Marvel dari Amerika Serikat yang menelurkan film berjibaku dengan raksasa, di minggu terakhir Juli 2025 ini, di berbagai lokasi perlindungan kaiju sinema Indonesia.

Jepang dengan film henshin ala Ultraman, kini meramaikan tema kaiju-nya bersama sinema Indonesia. Setelah setahun penuh penayangan serial televisinya, Ultraman Arc merilis film bersub-judul, The Clash of Light and Evil.

Sebelumnya saat beberapa minggu lalu, tema kaiju dengan pasukan pertahanan manusia, sempat diisi pula oleh sebuah film. Kaiju No. 8 adalah anime tersebut, dimana tokoh utamanya justru seorang monster henshin.

Serial Televisi Ultraman Arc: The Clash of Light and Evil  

Sebelum menonton film-nya, ada baiknya dicek terlebih dahulu kisah Ultraman Arc dari serial televisinya, yang sudah mencapai 26 episode sejak penayangannya di tahun 2024 hingga 2025 ini (IMDB).

Latar belakangnya berada di kota Hoshimoto, yang dikenal dengan sebuah menara raksasa di Gunung Shishio. Menara ini bernama 'Monohorn', yang aslinya adalah tanduk kaiju, dan tertancap di tanah akibat insiden 16 tahun lalu.

Sejak insiden kemunculan kaiju di seluruh dunia, bencana ini lalu disebut sebagai 'K-Day'. Insiden kaiju lalu menciptakan pula inisiatif Pasukan Pertahanan Global (GDF). Bekerja bersama GDF, Pusat Ilmiah Investigasi dan Pencegahan Kaiju (SKIP), didirikan pula sebagai tim pendukung di belakang garis pertahanan bumi.

Yuma Hize (Yuki Totsuka) baru berumur tujuh tahun saat Monogelos, kaiju pemilik asli tanduk Monohorn, muncul di Gunung Shishio. Yuma selamat saat K-Day, padahal dirinya sedang berkemah di gunung tersebut. 

Sebagai penyintas yang selamat, Yuma lalu bertekad untuk belajar bentuk biologis kaiju, yang memberi jalan bagi dirinya untuk bekerja di SKIP. Kebetulan, dia ditempatkan bekerja di kota Hoshimoto, setelah diterima oleh SKIP. Monohorn pun menjadi sampel utama penelitian Yuma setiap harinya.

Selang beberapa lama, serangan kaiju pun muncul di kota Hoshimoto. Yuma yang melihat kesulitan para warga kota, lalu bertekad bahwa dirinya ingin melindungi mereka. Saat itulah, Yuma mendengar suara Rution, sebuah penjelmaan cahaya yang sempat dia lihat pas selamat dari K-Day masa kecilnya. Ruiton berkata bahwa semangat diri mereka sama, yaitu bermimpi agar semua selamat nan damai. 

Sebuah cahaya lalu muncul menyelimuti tubuh Yuma, dan merubahnya menjadi Ultraman Arc. Yuma lalu menggunakan kekuatan Ultraman, untuk melindungi seluruh teman-temannya di SKIP dan GDF, sekaligus warga kota Hoshimoto.

Sinopsis Film Ultraman Arc The Movie: The Clash of Light and Evil

Filmnya kali ini mengisahkan percobaan terakhir yang dialami Yuma dan Ultraman. Yuma mengalami masalah hebat, karena ada kemungkinan dirinya kehilangan kekuatan Ultraman. Tidak hanya itu, muncul sesosok lain yang membahayakan kota Hoshimoto. 

Seekor monter berhasil menerobos masuk markas SKIP, yang tiba-tiba muncul sosok Ultraman lainnya. Ultraman ini berwarna hitam, dan tidak seperti Arc, justru berniat jahat. Tidak ingin kotanya hancur, dan ragu akan kehilangan kemampuan Ultraman-nya, Yuma pun harus berjibaku demi menjaga kedamaian bumi.

Dilihat sekilas dari cuplikannya, tampaknya film Ultraman Arc ini mengikuti jejak Doraemon, yang dirilis minggu lalu. Tidak terlihat efek 3D CGI yang berlebihan, dengan peran manusia dibalik kostum Ultraman dan monsternya. Studio perfilman Jepang, kayaknya beralih menggunakan teknik klasik lagi, untuk banyak jenis filmnya.

Film Terbaru Marvel, Fantastic Four: The First Steps

 

Panas juga ini kostum super (IMDB).

Marvel akhirnya menelurkan kembali film layar lebar di tahun 2025 ini, yang mengisahkan pahlawan super lama namun terasa baru, yaitu Fantastic 4: The First Steps

Berbeda dengan banyak film Marvel lainnya, Fantastic Four tahun 2025 ini adalah reka ulang film sebelumnya. Tahun 2005 dan 2007 lalu, film Fantastic Four masih dimiliki oleh studio 20th Century Fox, dan bukannya Marvel Cinematic Universe. 

Bahkan, Fox masih penasaran dengan waralaba ini, dengan menelurkan film Fantastic Four lainnya pada tahun 2015 lalu. Selang satu dekade lamanya, akhirnya Marvel sanggup merilis film bertemakan keempat astronot ini.

Fantastic Four: The First Steps kini telah tayang dibanyak sinema pahlawan super Indonesia. Bagi yang mengenal Pedro Pascal di film ini, seperti di lansir dari IMDB, aktor ini baru saja berperan di serial televisi terkenal, yaitu The Last of Us: Season 2.

Anggota Fantastic Four

Keempat anggota F4 berkarir menjadi pahlawan super, setelah kecelakaan di satelit luar angkasa. Kecelakaan kosmik saat misi antariksa, menyebabkan keempat sekawan ini berubah tubuhnya, dengan keahlian unik yang berbeda.

Pertama adalah Reed Richards, seorang jenius yang tubuhnya berubah sangat lentur. Istrinya, Sue Storm, memiliki kemampuan menghilang dan menciptakan perisai tembus pandang. 

Ben Grimm berubah seluruh bagian tubuhnya menjadi batu, namun fisiknya sekuat Hulk. Sementara saudara Sue, Johnny Storm, dapat merubah tubuhnya menjadi api dan terbang.

Karena kecelakaan dan perubahan mereka diberitakan umum, identitas asli dari seluruh anggota Fantastic Four telah dikenal oleh seluruh warga bumi. Nama alias mereka pun khas, yaitu Mr. Fantasic, Invisible Woman, The Thing, dan Human Torch. 

Terdapat satu anggota lainnya, yaitu Victor von Doom, yang memiliki kemampuan lengkap, dan dikenal sebagai Dr. Doom. Berbeda dengan keempat temannya yang memilih jalan baik, Doom memilih menjadi jahat, demi menghalau bencana yang lebih besar dari antariksa (seperti Thanos dan Galactus).

Sinopsis Film Fantastic Four: The First Steps

Dengan latar belakang tahun 1960-an, seluruh anggota Fantastic Four, diantaranya adalah Reed Richards (Pedro Pascal), Sue Storm (Vanessa Kirby), Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach), dan Johnny Storm (Joseph Quinn), hidup layaknya selebritas. 

Mereka dikenal sebagai pahlawan super yang baik, dan membuat aman bumi. Setelah tidak lama ada kabar dari Dr. Doom, yang sempat mereka kalahkan, hidup mereka tampaknya akan normal. Reed dan Sue bahkan kini tengah memulai jenjang baru, dengan mengasuh anak pertama mereka.

Namun, kehadiran Silver Surfer (Julia Garner) sebagai pemberi pesan, menyulut kembali aksi pahlawan super keempat anggota Fantastic Four. Silver Surfer mengancam, bahwa Galactus (Ralph Ineson) akan tiba di bumi, dan 'menelan' seluruh isi planet. 

Fantastic Four pun harus berjibaku kembali, dengan berjuang menghalau tibanya Galactus di bumi, sekaligus mengalahkan Silver Surfer sebagai anak buahnya.

18 Juli 2025

Film Terbaru dari Horor 90an, I Know What You Did Last Summer

 

Sudah saatnya bertobat (IMDB).

Tampaknya film reka ulang tidak berlaku untuk waralaba yang satu ini. I Know What You Did Last Summer (IKWYDLS) adalah satu judul film horor dari Hollywood, yang sempat menggemparkan dunia saat perilisannya tahun 1997 lalu.

Tahun 2025 ini, IKWYLDS dirilis dengan sedikit melanjutkan ceritanya. Waralaba ini mengisahkan tentang cerita karma buruk yang menimpa kembali. Sebelumnya, kelompok tersebut bertindak salah dan mencelakai temannya sendiri, tepatnya saat musim panas.

Berbeda dengan seri Scream, yang mengisahkan pembunuh berantai peniru (copycat killer) yang ingin viral, I Know What You Did Last Summer justru berawal dari insiden kecelakaan tersebut, dengan bumbu tambahan mistis.

Satu orang dari sekelompok teman meninggal tanpa disengaja, namun temannya sekaligus saksi kecelakaan, justru menutupinya. Mereka lebih takut berurusan dengan polisi, daripada membantu dan mengenang temannya yang meninggal (kayak koruptor Indonesia).

Nah, sebenarnya film ini telah dirilis secara trilogi, yaitu I Know What You Did Last Summer (1997), I Still Know What You Did Last Summer (1998), dan I Will Always Know What You Did Last Summer (2006). Dan filmnya tahun 2025, sedikit melanjutkan kisahnya, karena melibatkan beberapa karakter orisinal.

Mungkin tahun 2025 ini, yang jelas beberapa tahun terakhir banyak diisi film reka ulang, perlu melanjutkan tren seperti ini. Walau banyak plot dan akting yang diulang-ulang, namun terdapat rasa nyambung (relate) yang berkesinambungan. Hanya perlu sedikit perubahan pada jalan cerita, sehingga terasa sinergis.

Tidak perlu gimmick (improvisasi) aneh-aneh, kalau ujung-ujungnya tidak nyambung sama konten dan konsumennya sendiri. Produk dan konsumen adalah kesinambungan ekonomi. Kalau tidak, ya hidup sendiri saja di hutan tanpa isi.

Sedikit sinopsis pada film IKWYDLS tahun 2025, kisah kecelakaan terjadi kembali. Seluruh temannya malah memilih bungkam, agar posisi mereka aman. Namun, berselang satu tahun, mereka tiba-tiba diancam oleh seorang pembunuh berantai handal. Pembunuh tersebut mengklaim, dia mengetahui insiden musim panas tahun lalu.

Walau panik, salah satu tokoh utama berinisiatif untuk mencari para penyintas insiden tahun 1997 lalu, yang berasal dari Southport. Kisah mereka yang mirip, akan membuka jalan demi keselamatan diri pribadi dan kelompok (kayak koruptor Indonesia).

Tapi ya, jangan slengean juga, KPK malah jadi Kawanan Pemburu Karma dari Darknet nantinya, ya? Atau malah mirip kecerdasan buatan ala AI yang bahkan ngetik saja perlu otomatis?

Jadi, saksikan saja ala pembalasan karma buruk di sinema Indonesia.

Film Kartun Legendaris Kurcaci Biru, Smurfs

 

Smurfs yang kadang bisa diculik (IMDB).

Tampaknya bukan hanya satu kartun legendaris yang rilis minggu ini di sinema Indonesia. Legenda kartun lainnya adalah Smurfs, yang sama-sama berwarna biru.

Karena kecil, Smurfs ini sulit dilihat oleh manusia biasa. Mungkin, sebagai penggambaran peri (dari dongeng tradisional Eropa) pada masa itu, yang disangka ada namun sulit dilihat. Tidak hanya menggambarkan kurcaci kecil yang sulit dilihat, namun dengan topinya yang berjenis Phyrgian, adalah satu bentuk simbolis dari kebebasan di era modern.

Jumlah karakter Smurfs pun banyak, hingga seratus jumlahnya. Setiap Smurfs dinamai sesuai dengan karakternya. Contohnya adalah Jokey Smurf (Smurf Lawak), yang suka sekali bercanda. 

Waralaba Komik dan Animasi The Smurfs

Smurfs berasal dari komik Belgia, yang dirilis lebih lama lagi, yaitu mulai tahun 1958 lalu. Smurfs adalah sekelompok kurcaci kecil berwarna biru, yang hidup didalam rumah berbentuk jamur, di tengah hutan.

Animasinya pun cukup banyak serinya. Pertama adalah The Smurfs yang tidak berbeda jauh dengan perilisan komiknya, yaitu tahun 1961 hingga 1967. Sempat vakum, The Smurfs dirilis lagi pada tahun 1981 hingga 1989 lalu. Dan kembali vakum, serinya kini masih tayang sejak tahun 2021 lalu.

DIlansir dari IMDB, filmnya pun cukup terkenal, karena seluruh filmnya selalu diisi oleh seorang penyanyi terkenal dari Amerika Serikat. Pada filmnya tahun 2011 (The Smurfs) dan 2013 (The Smurfs 2) lalu, karakter wanita Smurfette diisi oleh penyanyi Kary Perry. Pada tahun 2017 lalu, Smurfs: The Lost Village yang tetap diisi oleh karakter Smurfette, diisi suaranya oleh Demi Lovato. Nah, tahun 2025 ini, pengisi suara Smurfette adalah Rihanna.

Terkenal hingga sekarang sebagai waralaba, Smurfs pun menjadi satu dari banyak waralaba media paling menguntungkan sepanjang sejarah. Pencapaian dana sebelumnya dari waralaba Smurfs, adalah mencapai nilai sebesar 4 Milyar Dolar AS dari seluruh dunia.

Sinopsis Smurfs 

Singkat saja untuk sinopsisnya, Papa Smurf (John Goodman) tiba-tiba diculik oleh penyihir jahat, saat desa Smurfs tengah berpesta dansa. Penyihir jahat tersebut bernama Razamel dan Gargamel (JP Karliak), yang jika berhasil, seluruh dunia bisa musnah akibat keduanya. Smurfette (Rihanna) pun perlu memimpin seluruh desa Smurfs, agar bisa menyelamatkan Papa Smurfs, sekaligus seluruh dunia.

Sanggupkah para Smurfs mencari keberadaan Papa Smurf? Dan bahkan perlu berjibaku menghalau ganasnya penyihir jahat Razamel dan Gargamel? Padahal mereka bukanlah sebangsa pahlawan?

Jawabannya, tentu ada di desa fantasi milik peri ala sinema Indonesia.

Film Anime Legendaris Doraemon: Nobita's Art World Tales

 

Doraemon,Nobita, dan kawannya yang kembali isekai (IMDB).

Anime legendaris Doraemon akhirnya tiba lagi di ranah perfilman Indonesia, dengan dirilisnya film ke 45, berjudul Doraemon: Nobita's Art World Tales

Doraemon memang cocok disebut sebagai anime legendaris di Indonesia, sejak awal penayangannya di TVRI tahun 1979 lalu. Walau sempat berpindah stasiun ke RCTI pada tahun 1989 lalu, hingga kini anime anak-anak ini masih tayang!

Dilansir dari Tempo, khusus di Jepang, awal penayangan Doraemon dimulai tahun 1973. Animasinya diadaptasi langsung dari manga berjudul sama, yang rilis sejak tahun 1969 lalu.

Memang, cerita mengenai Nobita yang perlu ditemani oleh Doraemon agar rajin, sudah mengena banyak hati penggemarnya. Saking digemarinya, jumlah episode serial televisi Doraemon sudah mencapai 2553 episode!

Sebegitu banyak episode dan filmnya, Doraemon merupakan salah satu pionir awal perkembangan anime di Jepang. Efeknya pun berlangsung hingga kini, saat anime telah melanglangbuana ke seluruh dunia.

Fujiko F Fujio sebagai mangaka-nya, sebenarnya adalah dua orang yang memakai nama samaran tersebut. Keduanya bernama asli Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko. Meskipun keduanya telah meninggal, mereka dikenang sebagai ikon budaya modern di Jepang. 

Bahkan, Fujiko F Fujio memiliki museumnya sendiri di di Kawasaki Jepang. Museum ini diisi oleh banyak hasil karya Fujiko F Fujio, tentu dengan banyak figur Doraemon-nya.

Sinopsis Film Doraemon: Nobita's Art World Tales

Khusus untuk filmnya, tentu berbeda dengan serial televisi Doraemon. Biasanya, kenakalan Nobita (Megumi Oohara) selalu mengundang marah Doraemon (Wasabi Mizuta), walau berujung petualangan epik bersama teman sekelasnya, seperti Giant (Subaru Kimura), Suzuka (Yumi Kakuzu), dan Suneo (Tomokazu Seki).

Kali ini, Nobita, Doraemon, dan teman-temannya masuk ke dunia lukisan Eropa jaman pertengahan. Disana, mereka bertemu dengan Claire (Misaki Watada) dan Milo (Atsumi Tanezaki), sepasang anak yang berasal dari kerajaan Artoria.

Tidak hanya itu, mereka bertemu pula seorang setan kecil bersayap bernama Chai (Misaki Kuno). Pertemuan dengan Chai, ternyata membuka jalan bagi sebuah petualangan besar, melawan musuh hebat demi memperebutkan permata legendaris.

Bagi yang penasaran, film Doraemon: Nobita's Art World Tales kini tengah tayang di banyak sinema Indonesia. Dilihat sebentar dari cuplikannya, tampaknya animasi Doraemon kali ini justru tidak menggunakan teknik 3D atau CGI, sehingga terlihat alami ala animasi dua dimensi.

10 Juli 2025

Anime Kartun Klasik Rantaro Kembali Juga di Indonesia

Kirimaru, Shinbei, dan Rantarou yang sumringah (IGN).

Nah, 2025 ini kayaknya banyak cerita anime yang kembali ramai di layar lebar Indonesia. Contohnya adalah film Nintama Rantaro: Invincible Master of Dokutake Ninja, yang baru saja dirilis di banyak sinema Indonesia

Akhir 90an hingga 2000an lalu, memang Nintama Rantaro mengisi fantasi ala ninja, bersama anime bertema lainnya di Indonesia. Rantaro sendiri mulai tayang di Jepang sejak tahun 1993 lalu, dengan berlatar para ninja di jaman Sengoku.

Kisah Rantaro berpusat pada tiga karakter utama, yaitu Rantarou, Kirimaru, dan Shinbei. Mereka adalah Nintama, alias Ninja junior yang tengah latihan di pegunungan terpencil. Trio nintama ini dilatih oleh gurunya yang galak nan jago, yaitu Sensei Doi dan Yamada. Banyak misi dijalankan selama mereka menjadi nintama, padahal ketiganya selalu jelek nilainya di kelas.

Dan tidak seperti Naruto, yang semenjak Shippuden berperan layaknya remaja paruh baya, alias orangtua yang baru saja puber, Nintama Rantarou mengisahkan kisah yang lebih jelas dan wajar (!) Ala ninja tentunya, hehe...

Sebenarnya film yang dirilis di Indonesia ini sudah tayang sejak 2024 di Jepang. Bahkan di sana-sini, film tersebut mungkin agak telat, karena sebelumnya eksklusif untuk menyambut tahun ke 30, sejak awal penayangan Nintama Rantarou di Jepang sana.

Manganya sendiri cukup terkenal, dan masih banyak ditemukan di situs dagang komersil daring. Buku komiknya bisa mengisi penasaran, karena anime ini sudah lama tak tayang di Indonesia.

Sinopsis Nintama Rantaro: Invincible Master of Dokutake Ninja

Guru terdekat dari trio Kirimaru (Mayumi Tanaka), Shibei (Teiyu Ichiryuusai), dan Rantarou (Miyami Takayama), yang bernama Doi (Toshihiko Seki) tiba-tiba menghilang dari akademi ninja. Sensei Doi hilang semenjak mengikuti sebuah misi di kastil Dokutake. Seluruh muridnya khawatir, sehingga para ninja veteran lain memulai misi khusus untuk melacak Doi.

Para ninja yang melacak keberadaan Sensei Doi di sekitar Kastil Dokutake pun malah disergap oleh ahli bernama Tenki, yang wajahnya sangat mirip dengan Sensei Doi. Terdapat kesalahpahaman, bahwa Sensei Doi akhirnya berbelot dan bergabung dengan ninja musuh.

Walau informasinya simpang siur, namun para murid ninja dan gurunya, bertekad untuk dapat menemukan jati diri asli Sensei Doi. Apalagi dengan kehadiran Koheita (Nobutoshi Canna), seorang anak kecil yatim piatu, yang selama ini tinggal bersama Sensei Doi di rumahnya.

Dapatkah trio ninja cilik ini melacak keberadaan Doi yang asli? Atau malah terjebak pada masalah taktik di lapangan? Atau malah perlu memilih antara setia dengan guru mereka atau pada akademinya sendiri?

Jawabannya, tentu dapat disaksikan ala akademi ninja sinema Indonesia.

4 Juli 2025

Anime Nyeleneh Crayon Shin-Chan Kembali di Tahun 2025

 

Nana yang terhalang Shiro, dan memarahi Shin-Chan (IMDB).

Anime nyeleneh Crayon Shin-Chan akhirnya meramaikan ranah perfilman animasi Indonesia di bulan Juli, 2025 ini. Shin-Chan memang kartun dan karakter paling menyebalkan, yang sempat tayang di Indonesia.

Penayangan anime dan rilis manganya pada akhir 90an hingga awal tahun 2000an lalu di penerbitan dan televisi nasional, menyebabkan banyak pemerhati sosial yang khawatir. Manganya memang agak mesum untuk kisah anak berumur lima tahun, dan diadaptasi langsung oleh animenya.

Mungkin tahun segitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tengah sibuk-sibuknya, sehingga Crayon Shin-Chan menjadi target utama. Hingga beberapa tahun lamanya, anime dan manga Crayon Shin-Chan masih terus 'bergentayangan' di Indonesia. 

Saat anime dan manga Crayon Shin-Chan akhirnya berhenti tayang atau dicetak, justru diakibatkan oleh film, manga, dan anime lain yang lebih terkenal lagi di Indonesia. Sama sekali tidak ada keterlibatan dari kontroversi sebelumnya.

Khusus di Jepang sendiri, Crayon Shin-Chan adalah kisah yang sangat digemari. Kehadiran sosok anak kecil nakal Shin-Chan, bersama teman-temannya, sangat dinantikan di Jepang sana.

Memang, berbeda dengan demografi dan selera anime para WIBU dan OTAKU seluruh DUNIA, justru demografi anime selingan hidup (slice of life) adalah animo anime TERBESAR DI JEPANG! Tidak hanya anak-anak, remaja, atau para penghobinya, banyak kalangan hingga lansia, masih menonton genre anime ringan lucu ini, khusus di Jepang itu sendiri.

Nah khusus di ranah perfilman jepang, anime yang telah tayang sejak tahun 1992 ini (MyAnimeList), ternyata telah menelurkan sebanyak 31 film layar lebar! Dan penayangannya tahun 2025 ini, berjudul Crayon Shin-Chan: Our Dinosaur Story, adalah rilis film ke 32 kalinya! 

Jika film Crayon Shin-Chan terus dirilis, tampaknya akan menyaingi serial anime paling legendaris Doraemon, yang hingga kini telah merilis 44 film layar lebar! Dan Menyusul film ke-45 nya Juli ini!

Mungkin saking terkenalnya, Crayon Shin-Chan dirilis di Indonesia khusus untuk menyaingi film Jurassic Park: Rebirth, karena sama-sama bertema DINOSAURUS! (^^)

Masih dengan khas gambar karakternya yang simpel dan amburadul (walau animasi dan gambar dino-nya keren), mari kita cek film ke 32-nya, dari Crayon Shin-Chan. 

Sinopsis Crayon Shin-Chan: Our Dinosaur Story

Sebuah taman dinosaurus, yang betulan bisa menghidupkan kembali dinosaurus punah, dibuka di ibukota Tokyo. Shin-Chan (Akiko Yajima) yang tidak ingin melewatkannya, kebetulan bersama tim Kasukabe (grup anak-anak teman Shin-Chan), berhasil mendapatkan tiket khusus taman tersebut.

Saat tengah berjalan-jalan dalam taman bersama tim Kasukabe dan Shiro (anjing kesayangan Shin-Chan), mereka menemukan seekor dinosaurus kecil. Tampak terpisah dari kawanannya, dinosaurus kecil itu membujuk Shin-Chan untuk membawanya pulang. Setelah dinamai Nana, dinosaurus imut herbivora tersebut akhirnya dekat dengan Shiro, dan menjadi bagian dari keluarga Nohara.

Tidak disangka, ternyata para dinosaurus lain yang besar dan berbahaya, telah berhasil kabur dari taman tersebut. Dinosaurus lalu rusuh dan mengganggu seluruh warga di kota Tokyo. Tidak hanya dinosaurus, muncul seorang karakter lain yang mencoba menyelesaikan masalah ini, dengan mengandalkan sebuah gedung robotik raksasa!

Bisakah Shin-Chan dan kawan-kawan kabur dari seluruh masalah tersebut? Coba kita cek di seluruh sinema-sinema Indonesia bulan Juli ini!

Horornya Rumah Susun di Korea Selatan ala Film Noise

 

Sssssttt, jangan berisik ya nak... (TMDB).

Ternyata, horornya rumah susun tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi di Korea Selatan juga. Jika dibandingkan, horornya rumah susun di Korea Selatan mungkin menyamai korupsinya Indonesia! Banyak yang punya mobil, malah menyewa rumah susun, yang (katanya) untuk kalangan menengah ke bawah!

Daripada membahasnya, coba kita cek di banyak film horor lainnya. Apakah memang minim bujet, atau bagaimana ya? Banyak film horor tampaknya pakai lampu kuning, atau bahkan tidak menyalakan lampu sama sekali, dalam keadaan gelap gulita sekalipun!

Bahkan, banyak karakter film memilih menggunakan moda penglihatan malam (night vision) lewat perekam video atau sebagainya, layaknya di film rekaman amatir (ala found footage)!

Nah, bagaimana jika bentuk dramatisasi di Korea Selatan bukanlah masalah liciknya para birokrat, tetapi para psikopat? Itulah cerita yang coba diangkat oleh film dari Korea, Noise, yang kini tengah tayang di beberapa dunia kurang lampu ala sinema Indonesia.

Sinopsis Film Noise

Sepasang adik kakak, Ju-young (Lee Sun-bin) dan Ju-hee (Han Su-a), yang keduanya adalah wanita, baru menyewa sebuah rumah susun yang terlihat murah dan agak rusak. Baru saja tiba, keduanya langsung dan sering oleh diganggu suara-suara tidak jelas di sekitar huniannya. Mereka beranggapan, bahwa suara tersebut akibat rumahnya yang jelek, dan telah banyak hantu bergentayangan.

Namun, situasi menjadi sulit ketika Ju-hee menghilang dan tidak pulang ke rumah. Kakaknya, Ju-young yang memiliki masalah pendengaran, sulit mencari lokasi keberadaan Ju-hee. Pacar Ju-hee, Ki-Hun (Kim Min-Seok), tiba di lokasi rumah, untuk membantu Ju-young dalam menemukan adiknya.

Tidak hanya hilangnya adik, Ju-young yang notabene sulit mendengar (tunarungu), masih diganggu oleh suara-suara aneh di sekitar rumahnya. Saking paniknya, tetangganya sempat menghubungi Ju-young agar tidak banyak ribut, karena cukup menganggu.

Ternyata, kengerian pun bertambah, dengan datangnya seorang pria psikopat ke depan rumahnya. Dia membawa pisau berdarah, sementara Ju-young terjebak (sendiri) di dalam rumah.

Apakah memang psikopat tersebut yang membuat suara-suara aneh? Atau adakah mahluk lain yang memang bersemayam di sana? Dapatkah Ju-young dan Ki-hun selamat?