31 Juli 2025

Film Ramalan Kiamat ala Korea, Omniscient Reader: The Prophecy

 

Dok-ja yang merasa sudah veteran di dunia fantasi (IMDB).

Para penggemar film Korea Selatan dan Manhwa ala Webnovel, tampaknya kini lagi dimanja. Pada bulan Agustus tahun 2025 ini, dirilis pula film diadaptasi dari Webnovel terkenal, Omniscient Reader: The Propechy

Walau begitu, karena perbedaan media dan teknis produksinya, maka cerita filmnya tidak akan se-otentik novelnya. Termasuk naskah yang diangkat, dan karakter banyak tokohnya.

Bagi yang suka musik Korea Selatan, mungkin akan tertarik karena kehadiran Kim Jisoo di film ini, yang merupakan salah seorang anggota grup musik Blackpink.

Nah, untuk film Omniscient Reader ini, mengisahkan sebuah ramalan maut yang menjadi kenyataan. Seluruh tantangan yang berada dalam dunia nyata, adalah hasil referensi sebuah novel fiksi.

Dari cuplikannya, bisa dilihat banyak adegan aksi gelut, yang diantaranya melawan kawanan monster berukuran variatif. Mulai dari monster sebesar jembatan layang antar pulau, hingga monster kecil lincah di terowongan rel kereta api.

Jika dilihat dari segi kisahnya, tampaknya memang sebuah visi dan misi penulis novel yang nyeleneh. Karyanya ditujukan bukan untuk terkenal atau laku, dan malah membuat sebuah ramalan heboh, yang mungkin terjadi di dunia nyata. 

Hal konspiratif tersebut biasanya dilaksanakan oleh aparat tertentu, yang berfungsi sebagai kendali pikiran masyarakatnya. Standarnya, justru aparat dan media, bertanggungjawab sebagai penyaring informasi, agar salah persepsi dan kepanikan masal tidak terjadi di kalangan masyarakat.

Sinopsis Omniscient Reader: The Prophecy

Kisah ini diawali oleh Kim Dok-ja (Ahn Hyo-seop), seorang pegawai kantoran, yang sangat suka sekali membaca novel daring, berjudul Three Ways to Survive the Apocalypse (TWSA). Saking keranjingannya, Dok-ja bahkan sempat membacanya saat dia tengah menaiki kereta api, untuk pergi atau pulang bekerja.

Dalam novel tersebut, banyak tantangan yang perlu diselesaikan oleh tokoh utamanya, agar dapat menghindari kebinasaan manusia dari muka bumi. Walau webnovel tersebut cukup meyakinkan, namun ternyata pembacanya hanya sedikit. Dok-ja adalah pembaca terakhir dan satu-satunya novel tersebut, tepat saat rilis bab akhir dan seluruh jalan ceritanya diakhiri, alias tamat.

Namun, tepat saat novelnya berakhir, Dok-ja terkejut akan tibanya mahluk aneh di dalam gerbong kereta api. Mahluk tersebut berbentuk hologram, yang meminta misi aneh bagi seluruh penumpang. Dok-ja yang heran, hanya bisa mengingat bahwa misi tersebut mirip dengan misi pertama di novel TWSA. 

Walau kurang memahami maksud misi tersebut, namun seisi penumpang gerbong malah panik, dan saling membantai satu sama lain. Misinya adalah setiap orang yang ingin selamat, harus membunuh satu organisme apapun di sekitarnya dalam kurun waktu tertentu. 

Dok-ja yang selamat, setelahnya malah makin sulit dalam bertahan hidup. Karena misi berikutnya semakin kompleks, sementara yang bertahan hidup semakin brutal dalam menyelesaikannya.Kehadiran banyak monster, dari yang berukuran raksasa hingga kecil, tambah mempersulit perjuangan Dok-ja. 

Sanggupkah Dok-ja dengan beberapa penyintas lainnya selamat hingga akhir? Atau malah berinisiatif untuk merubah jalur cerita dan mengakhirinya dengan karya tulisan sendiri?

Jawabannya, ada di naratif interaktif ala sinema Indonesia.

Film Sekuel Komedi Aksi Legendaris, The Naked Gun

 

Liam Neeson yang heran membintangi film apa (IMDB).

Naked Gun adalah satu waralaba film lama yang cukup menarik perhatian dunia. Berisi kisah parodi kepolisian AS, trilogi film komedi ini sangat lucu dari segi keanehan cerita dan akting karakternya.

Trilogi ini pertama kali dirilis pada tahun 1988 lalu, yaitu berjudul The Naked Gun: From The Files of Police Squad, yang dilanjutkan oleh The Naked Gun 2 1/2: The Smell of Fear (1991), dan diakhiri Naked Gun 33 1/3: The Final Insult (1994). 

Seluruh trilogi dibintangi oleh mendiang Leslie Nielsen, sebagai tokoh utama Frank Drebin yang kocak. Walau jalan ceritanya tidak nyambung dengan karakter utama yang nyeleneh, ketiga film ini menjadi salah satu film komedi aksi ringan yang sangat digemari.

Mungkin perlu diingat sebelum menonton trilogi The Naked Gun, walau karakternya diperankan oleh aktor secara langsung, namun seluruh isi film layaknya kartun yang kocak. Karena itu, jangan berharap terlalu jauh, tetapi nikmati saja setiap momennya.

Perlu dicek pula, bahwa kali ini tokoh utamanya diperankan oleh Liam Neeson, sebagai Frank Drebin Jr, anak dari tokoh sebelumnya. Liam Neeson tentu dikenal sebagai sosok pemeran film aksi, yang pamor akan trilogi Taken (2008, 2012, 2014). Saat itu juga, Neeson dikenal dalam film Unknown (2011). Seluruh film tersebut sangat memfokuskan akting Neeson yang serius dan berwibawa, dengan latar belakang sebagai anggota kepolisian atau agen.

Di film Naked Gun tahun 2025 ini, aktris kawakan lainnya adalah Pamela Anderson, yang berperan sebagai Beth Davenport. Penggemar film mungkin ingat, bahwa Pamela Anderson adalah aktris seksi nan cantik di masa mudanya.

Tampaknya tidak perlu diceritakan lagi sinopsisnya. Dari cuplikannya saja, sudah tidak nyambung sama sekali, satu adegan dengan adegan lainnya. Akting para tokohnya pun sangat ironis, miris, serta manis. Terdapat adegan gelut yang bahkan diluar nalar, dengan segi aksi yang sama sekali tidak masuk diakal. 

Bagi yang ingin menikmati kehebohan polisi konyol, dengan pemecahan kasusnya yang dibuat-buat, bisa menikmati film aksi komedi nyeleneh ala sinema Indonesia, selama bulan Agustus ini.

Film Animasi Anak, Bad Guys 2

 

Sekawanan hewan kelas kakap (TMDB).

Film animasi anak jarang yang mengambil tema berat, apalagi dengan aksi yang kuat. Namun, ciri khas tersebut tidak berlaku bagi film Bad Guys 2, yang kini tengah tayang di sinema-sinema Indonesia.

Berbeda dengan animasi anak lain yang bertema fantasi di dunia dongeng ala Disney, atau mengisahkan sebuah petualangan hebat ala Pixar, Bad Guys 2 dari Universal Pictures justru mengisahkan dunia modern, yang diisi oleh banyak karakter binatang (ala Fabel). 

Karakter utamanyanya walaupun lucu, tetapi dasarnya tetap saja hewan beringas, yaitu seekor hiu, serigala, piranha, ular, dan tarantula. Berbeda dengan film pertamanya, kelima sekawan ini bertobat, dengan mengambil jalan yang benar.

Bad Guys 2 sebenarnya adalah seri buku terkenal hasil karya Aaron Blabey. Buku ini sempat naik kembali pamornya saat masih terjual 8 juta jilid, menjadi 30 juta setelah perilisan film pertamanya, tahun 2022 lalu. 

Tidak hanya bukunya yang pamor, pengisi suara Bad Guys di film ini pun sangat berbakat. Diantaranya adalah Sam Rockwell sebagai Mr. Wolf, seorang pemenang Oscar di ajang Academy Awards. Marc Maron yang sempat menjadi nominasi SAG Award pun mengisi Mr. Snake.

Craig Robinson adalah salah satu peserta nominasi di ajang SAG Award, yang mengisi suara Mr. Shark. Anthony Ramos sebagai pengisi suara Mr. Piranha, adalahpemenang ajang Grammy. Terakhir adalah pemenang Emmy bernama Awkwafina, berperan sebagai pengisi suara Ms. Tarantula.

Tidak hanya karakter utamanya yang diisi para pengisi suara berbakat, bahkan tokoh pendukung antagonisnya, Bad Girls, pun didukung oleh talenta terkenal. Danielle Brooks adalah seorang pemenang Oscar, yang mengisi suara Kitty Kat. Maria Bakalova sempat menjadi nominasi Oscar, dan berperan sebagai Pigtail. Terakhir adalah pemenang Emmy Natasha Lyonne, sebagai pengisi suara Doom.

Sinopsis Film Bad Guys 2

Kali ini kelima sekawan Bad Guys, tengah bertobat dari jalannya yang kurang benar. Sebelumnya, hidup mereka penuh lika-liku kriminalitas yang merugikan banyak orang.

Kelimanya mencoba untuk mencari pekerjaan baru yang halal. Namun, identitas mereka yang terkenal, banyak pemberi lowongan kerja malah menolaknya. Alasannya sangat jelas, bahwa mereka memiliki catatan kriminal yang banyak.

Dengan motivasi tersebut, ternyata cobaan lain tiba dengan terbaliknya kembali jalan mereka. Kelima sekawan tersebut diculik oleh Bad Girls, yaitu kelompok penjahat yang beranggotakan tiga wanita.

Bad Guys diancam untuk menjalankan sebuah misi kejahatan lainnya. Kali ini, targetnya adalah sebuah roket antariksa. Walau menyatakan setuju atas rencana Bad Girls, para Bad Guys hanya ingin dilepaskan saja dari kekangan. 

Niat baik mereka pun tetap terjaga, karena Bad Guys akan mensabotase misi dari Bad Girls. Jika berhasil, maka Bad Guys akan menggagalkan misi jahat Bad Girls, sekaligus mendapatkan kesan baik dari seantero masyarakat.

Dilansir dari YouTube dengan cuplikannya, Bad Guys 2 ini memiliki banyak adegan aksi dengan tingkah lucu dari para karakternya, ala sinema Indonesia.

24 Juli 2025

Film Perang Indonesia, Believe: The Ultimate Battle

 

Terjun payung yang menggetarkan nyali (IMDB).

Sineas perfilman Indonesia tampaknya ingin meramaikan kemerdekaan tahun ke 80, dengan cara yang berbeda. Akhir Juli ini, dirilis film Believe: The Ultimate Battle, yang justru mengisahkan sedikit latar dari perang Indonesia di Timor-Timur (sekarang Timor Leste). 

Sebelumnya pada akhir April, film mengenai kemerdekaan Indonesia memang sempat dirilis, dengan judul film Perang Kota. Film ini bahkan diadaptasi dari novel klasik terkenal Jalan Tak ada Ujung, hasil karya Mochtar Lubis, yang dirilis tahun 1952 lalu.

Sedikit Kisah Perang Timor

Kisah perang di Timor Timur, yang biasa disebut Operasi Seroja, memang bahasan yang cukup sensitif. Tahun 1975 lalu, Timor belum menjadi bagian dari Indonesia. Operasi Seroja dilaksanakan oleh Presiden Soeharto, demi memberantas komunis yang dipimpin Fretilin, dan merekrut Timor sebagai wilayah Indonesia.

Saat kepemimpinan Presiden BJ Habibie tahun 1999 lalu, pemerintahan baru berlandaskan reformasi, justru ditekan oleh warga Timor. Voting bagi warga Timor pun dilaksanakan, agar mencapai keputusan mengenai keluarnya Timor atau tidak dari Indonesia. Hasilnya, Timor pun keluar dari bagian NKRI, dan berubah namanya menjadi Timor Leste.

Dari segi politik, Operasi Seroja memang cukup sensitif. Kisah operasi militer di Timor adalah sebuah konflik, yang bisa disebut sebagai invasi, hingga bahkan genosida. Walau berujung cukup damai, dengan keluarnya Timor melalui jalur birokrasi.

Bagaimana film Believe: The Ultimate Battle ini menceritakannya, tergantung dari pembawaan kisah tim produksinya, sekaligus penerimaan dari penontonnya.

Sinopsis Film Believe: The Ultimate Battle

Agus (Ajil Ditto) adalah seorang anak yang dididik keras oleh ayahnya, Sersan Kepala (Serka) Dedi (Wafda Saifan). Didikan keras dari Dedi, menyebabkan Agus tumbuh sebagai pemuda nakal. Walau begitu, Agus sebenarnya menghormati ayahnya. Apalagi, selama ini Dedi hidup cedera akibat Operasi Seroja di Timor. 

Dedi pun akhirnya meninggal, yang mengobarkan semangat Agus untuk bergabung dengan TNI. Diantara tugasnya sebagai anggota militer, Dedi pun perlu menjaga keutuhan keluarga bersama istrinya, Evi (Adinda Thomas). 

Agus pun mulai menyadari, bahwa istilah Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) dari Presiden Sukarno sangatlah penting. Agus tidak ingin mengulangi kesalahan ayahnya di masa lampau, dan berjuang agar jalannya terbuka bagi diri sendiri, dan negara yang diembannya.

Dilihat dari cuplikannya, tampaknya film ini cukup heboh dengan efek ledakan, tembakan, dan aksi gelutnya, ala sinema Indonesia.

Film Horor Korea Terjebak di Stasiun Kereta Api, Ghost Train

 

Da-Gyeong saat uji nyali di Stasiun Gwanglim (IMDB).

Korea Selatan lagi banyak merilis film horor di Indonesia tahun 2025. Di bulan Juli ini, muncul lagi film berjudul Ghost Train, yang diperankan oleh Joo Hyun-young sebagai Da-Gyeong.

Tampaknya khusus tema film ini, termasuk jarang diangkat di dunia perfilman. Stasiun kereta api, termasuk di gerbongnya, memang tempat yang selalu ramai sebagai transportasi warga. Jika ada film horor yang mengangkat tema dan latar belakang kereta api, biasanya sudah heboh terlebih dahulu di media sosial, bahkan sebelum filmnya dirilis di sinema.

Contoh paling kentara adalah film Train to Busan (2016), yang mengisahkan tema zombie di kereta api Korea Selatan. Saking populernya, Train to Busan menjadi pencetus banyaknya film zombie dari Korea Selatan, dengan biaya produksi besar dan bakat aktor-aktris yang mumpuni.

Contoh lainnya berasal dari film tahun 2001, berjudul Suicide Club (rating D21+). Film ini mengisahkan sebuah kekacauan jahil sosial di Jepang, yang berfokus pada kasus bunuh diri di stasiun kereta api. 

Padahal, jaman tersebut belum ada istilah prank, tetapi banyak yang mencoba untuk loncat ke rel, saat kereta api hampir lewat dan tiba di stasiun. Aksi nekat ini menyebabkan kepanikan bagi kepolisian dan pemerhati sosial, walau korbannya tidak selalu meninggal.

Tren bunuh diri tersebut menyebabkan media Jepang meramaikannya (kasus bunuh diri belum selesai), sampai menyebut para korban sebagai anggota dari sekte Suicide Club (Klub Bunuh Diri). Saking ramainya, banyak warga dewasa serta siswa sekolah, mencoba untuk ikut loncat, walau tanpa alasan.

Tren pun mulai merambah ke banyak area, sehingga banyak warga melakukan bunuh diri di rumah atau area keramaian lainnya. Beberapa orang yang berniat jahat pun bermunculan, yang memalsukan kejahatannya dengan tindakan bunuh diri korban.

Tampaknya sudah terlalu berat, maka coba kita cek cerita film Ghost Train ini, yang sebenarnya dirilis awal Korea Selatan pada tahun 2024 lalu (IMDB).

Sinopsis Film Ghost Train

Berbeda dengan dua film yang sebelumnya dibahas, kali ini justru berlatar horor fisik, mistis, dan kejahatan sekaligus. Tokoh utamanya adalah Da-Gyeong (Joo Hyun-young), seorang YouTuber dari agensi, yang baru memulai karir dan tidak memiliki banyak tayangan (alias belum pamor).

Da-Gyeong yang membutuhkan tema video baru, coba mengecek cerita mengenai stasiun kereta berhantu, bernama Gwanglim. Stasiun ini telah terkenal sebelumnya, karena sempat menjadi tempat bunuh diri beberapa korban. Dari beberapa kisah yang didengarnya, beberapa sangat tidak masuk diakal, namun memiliki satu kemiripan. 

Contohnya adalah kisah pria, yang tubuhnya tiba-tiba hilang ditelan bumi dan sempat disaksikan penumpang lainnya. Korban lainnya, sempat dikejar oleh seorang bertopeng yang membawa cairan lendir aneh. Jika terkena cairan tersebut, maka kulit korban akan berubah seperti kena gatal, dan bahkan bermutasi.

Kemiripan mengenai dikejar orang tak dikenal, cairan aneh yang dibawanya, dan banyaknya korban hilang, menyebabkan Da-Gyeong terkesima. Dia pun membawa ponsel untuk merekam, dan mencoba bertahan 'uji nyali' di stasiun Gwanglim.

Apakah Da-Gyeong berhasil mendapatkan rekaman yang viral? Atau justru terkena imbas jelek dikejar mahluk tak fana berbahaya?

Jawabannya, dapat disaksikan ala stasiun pemberhatian sinema Indonesia.

Film Henshin, Ultraman Arc The Movie: The Clash of Light and Evil

 

Ultraman Arc (IMDB).

Tampaknya bukan hanya studio Marvel dari Amerika Serikat yang menelurkan film berjibaku dengan raksasa, di minggu terakhir Juli 2025 ini, di berbagai lokasi perlindungan kaiju sinema Indonesia.

Jepang dengan film henshin ala Ultraman, kini meramaikan tema kaiju-nya bersama sinema Indonesia. Setelah setahun penuh penayangan serial televisinya, Ultraman Arc merilis film bersub-judul, The Clash of Light and Evil.

Sebelumnya saat beberapa minggu lalu, tema kaiju dengan pasukan pertahanan manusia, sempat diisi pula oleh sebuah film. Kaiju No. 8 adalah anime tersebut, dimana tokoh utamanya justru seorang monster henshin.

Serial Televisi Ultraman Arc: The Clash of Light and Evil  

Sebelum menonton film-nya, ada baiknya dicek terlebih dahulu kisah Ultraman Arc dari serial televisinya, yang sudah mencapai 26 episode sejak penayangannya di tahun 2024 hingga 2025 ini (IMDB).

Latar belakangnya berada di kota Hoshimoto, yang dikenal dengan sebuah menara raksasa di Gunung Shishio. Menara ini bernama 'Monohorn', yang aslinya adalah tanduk kaiju, dan tertancap di tanah akibat insiden 16 tahun lalu.

Sejak insiden kemunculan kaiju di seluruh dunia, bencana ini lalu disebut sebagai 'K-Day'. Insiden kaiju lalu menciptakan pula inisiatif Pasukan Pertahanan Global (GDF). Bekerja bersama GDF, Pusat Ilmiah Investigasi dan Pencegahan Kaiju (SKIP), didirikan pula sebagai tim pendukung di belakang garis pertahanan bumi.

Yuma Hize (Yuki Totsuka) baru berumur tujuh tahun saat Monogelos, kaiju pemilik asli tanduk Monohorn, muncul di Gunung Shishio. Yuma selamat saat K-Day, padahal dirinya sedang berkemah di gunung tersebut. 

Sebagai penyintas yang selamat, Yuma lalu bertekad untuk belajar bentuk biologis kaiju, yang memberi jalan bagi dirinya untuk bekerja di SKIP. Kebetulan, dia ditempatkan bekerja di kota Hoshimoto, setelah diterima oleh SKIP. Monohorn pun menjadi sampel utama penelitian Yuma setiap harinya.

Selang beberapa lama, serangan kaiju pun muncul di kota Hoshimoto. Yuma yang melihat kesulitan para warga kota, lalu bertekad bahwa dirinya ingin melindungi mereka. Saat itulah, Yuma mendengar suara Rution, sebuah penjelmaan cahaya yang sempat dia lihat pas selamat dari K-Day masa kecilnya. Ruiton berkata bahwa semangat diri mereka sama, yaitu bermimpi agar semua selamat nan damai. 

Sebuah cahaya lalu muncul menyelimuti tubuh Yuma, dan merubahnya menjadi Ultraman Arc. Yuma lalu menggunakan kekuatan Ultraman, untuk melindungi seluruh teman-temannya di SKIP dan GDF, sekaligus warga kota Hoshimoto.

Sinopsis Film Ultraman Arc The Movie: The Clash of Light and Evil

Filmnya kali ini mengisahkan percobaan terakhir yang dialami Yuma dan Ultraman. Yuma mengalami masalah hebat, karena ada kemungkinan dirinya kehilangan kekuatan Ultraman. Tidak hanya itu, muncul sesosok lain yang membahayakan kota Hoshimoto. 

Seekor monter berhasil menerobos masuk markas SKIP, yang tiba-tiba muncul sosok Ultraman lainnya. Ultraman ini berwarna hitam, dan tidak seperti Arc, justru berniat jahat. Tidak ingin kotanya hancur, dan ragu akan kehilangan kemampuan Ultraman-nya, Yuma pun harus berjibaku demi menjaga kedamaian bumi.

Dilihat sekilas dari cuplikannya, tampaknya film Ultraman Arc ini mengikuti jejak Doraemon, yang dirilis minggu lalu. Tidak terlihat efek 3D CGI yang berlebihan, dengan peran manusia dibalik kostum Ultraman dan monsternya. Studio perfilman Jepang, kayaknya beralih menggunakan teknik klasik lagi, untuk banyak jenis filmnya.

Film Terbaru Marvel, Fantastic Four: The First Steps

 

Panas juga ini kostum super (IMDB).

Marvel akhirnya menelurkan kembali film layar lebar di tahun 2025 ini, yang mengisahkan pahlawan super lama namun terasa baru, yaitu Fantastic 4: The First Steps

Berbeda dengan banyak film Marvel lainnya, Fantastic Four tahun 2025 ini adalah reka ulang film sebelumnya. Tahun 2005 dan 2007 lalu, film Fantastic Four masih dimiliki oleh studio 20th Century Fox, dan bukannya Marvel Cinematic Universe. 

Bahkan, Fox masih penasaran dengan waralaba ini, dengan menelurkan film Fantastic Four lainnya pada tahun 2015 lalu. Selang satu dekade lamanya, akhirnya Marvel sanggup merilis film bertemakan keempat astronot ini.

Fantastic Four: The First Steps kini telah tayang dibanyak sinema pahlawan super Indonesia. Bagi yang mengenal Pedro Pascal di film ini, seperti di lansir dari IMDB, aktor ini baru saja berperan di serial televisi terkenal, yaitu The Last of Us: Season 2.

Anggota Fantastic Four

Keempat anggota F4 berkarir menjadi pahlawan super, setelah kecelakaan di satelit luar angkasa. Kecelakaan kosmik saat misi antariksa, menyebabkan keempat sekawan ini berubah tubuhnya, dengan keahlian unik yang berbeda.

Pertama adalah Reed Richards, seorang jenius yang tubuhnya berubah sangat lentur. Istrinya, Sue Storm, memiliki kemampuan menghilang dan menciptakan perisai tembus pandang. 

Ben Grimm berubah seluruh bagian tubuhnya menjadi batu, namun fisiknya sekuat Hulk. Sementara saudara Sue, Johnny Storm, dapat merubah tubuhnya menjadi api dan terbang.

Karena kecelakaan dan perubahan mereka diberitakan umum, identitas asli dari seluruh anggota Fantastic Four telah dikenal oleh seluruh warga bumi. Nama alias mereka pun khas, yaitu Mr. Fantasic, Invisible Woman, The Thing, dan Human Torch. 

Terdapat satu anggota lainnya, yaitu Victor von Doom, yang memiliki kemampuan lengkap, dan dikenal sebagai Dr. Doom. Berbeda dengan keempat temannya yang memilih jalan baik, Doom memilih menjadi jahat, demi menghalau bencana yang lebih besar dari antariksa (seperti Thanos dan Galactus).

Sinopsis Film Fantastic Four: The First Steps

Dengan latar belakang tahun 1960-an, seluruh anggota Fantastic Four, diantaranya adalah Reed Richards (Pedro Pascal), Sue Storm (Vanessa Kirby), Ben Grimm (Ebon Moss-Bachrach), dan Johnny Storm (Joseph Quinn), hidup layaknya selebritas. 

Mereka dikenal sebagai pahlawan super yang baik, dan membuat aman bumi. Setelah tidak lama ada kabar dari Dr. Doom, yang sempat mereka kalahkan, hidup mereka tampaknya akan normal. Reed dan Sue bahkan kini tengah memulai jenjang baru, dengan mengasuh anak pertama mereka.

Namun, kehadiran Silver Surfer (Julia Garner) sebagai pemberi pesan, menyulut kembali aksi pahlawan super keempat anggota Fantastic Four. Silver Surfer mengancam, bahwa Galactus (Ralph Ineson) akan tiba di bumi, dan 'menelan' seluruh isi planet. 

Fantastic Four pun harus berjibaku kembali, dengan berjuang menghalau tibanya Galactus di bumi, sekaligus mengalahkan Silver Surfer sebagai anak buahnya.

18 Juli 2025

Film Terbaru dari Horor 90an, I Know What You Did Last Summer

 

Sudah saatnya bertobat (IMDB).

Tampaknya film reka ulang tidak berlaku untuk waralaba yang satu ini. I Know What You Did Last Summer (IKWYDLS) adalah satu judul film horor dari Hollywood, yang sempat menggemparkan dunia saat perilisannya tahun 1997 lalu.

Tahun 2025 ini, IKWYLDS dirilis dengan sedikit melanjutkan ceritanya. Waralaba ini mengisahkan tentang cerita karma buruk yang menimpa kembali. Sebelumnya, kelompok tersebut bertindak salah dan mencelakai temannya sendiri, tepatnya saat musim panas.

Berbeda dengan seri Scream, yang mengisahkan pembunuh berantai peniru (copycat killer) yang ingin viral, I Know What You Did Last Summer justru berawal dari insiden kecelakaan tersebut, dengan bumbu tambahan mistis.

Satu orang dari sekelompok teman meninggal tanpa disengaja, namun temannya sekaligus saksi kecelakaan, justru menutupinya. Mereka lebih takut berurusan dengan polisi, daripada membantu dan mengenang temannya yang meninggal (kayak koruptor Indonesia).

Nah, sebenarnya film ini telah dirilis secara trilogi, yaitu I Know What You Did Last Summer (1997), I Still Know What You Did Last Summer (1998), dan I Will Always Know What You Did Last Summer (2006). Dan filmnya tahun 2025, sedikit melanjutkan kisahnya, karena melibatkan beberapa karakter orisinal.

Mungkin tahun 2025 ini, yang jelas beberapa tahun terakhir banyak diisi film reka ulang, perlu melanjutkan tren seperti ini. Walau banyak plot dan akting yang diulang-ulang, namun terdapat rasa nyambung (relate) yang berkesinambungan. Hanya perlu sedikit perubahan pada jalan cerita, sehingga terasa sinergis.

Tidak perlu gimmick (improvisasi) aneh-aneh, kalau ujung-ujungnya tidak nyambung sama konten dan konsumennya sendiri. Produk dan konsumen adalah kesinambungan ekonomi. Kalau tidak, ya hidup sendiri saja di hutan tanpa isi.

Sedikit sinopsis pada film IKWYDLS tahun 2025, kisah kecelakaan terjadi kembali. Seluruh temannya malah memilih bungkam, agar posisi mereka aman. Namun, berselang satu tahun, mereka tiba-tiba diancam oleh seorang pembunuh berantai handal. Pembunuh tersebut mengklaim, dia mengetahui insiden musim panas tahun lalu.

Walau panik, salah satu tokoh utama berinisiatif untuk mencari para penyintas insiden tahun 1997 lalu, yang berasal dari Southport. Kisah mereka yang mirip, akan membuka jalan demi keselamatan diri pribadi dan kelompok (kayak koruptor Indonesia).

Tapi ya, jangan slengean juga, KPK malah jadi Kawanan Pemburu Karma dari Darknet nantinya, ya? Atau malah mirip kecerdasan buatan ala AI yang bahkan ngetik saja perlu otomatis?

Jadi, saksikan saja ala pembalasan karma buruk di sinema Indonesia.

Film Kartun Legendaris Kurcaci Biru, Smurfs

 

Smurfs yang kadang bisa diculik (IMDB).

Tampaknya bukan hanya satu kartun legendaris yang rilis minggu ini di sinema Indonesia. Legenda kartun lainnya adalah Smurfs, yang sama-sama berwarna biru.

Karena kecil, Smurfs ini sulit dilihat oleh manusia biasa. Mungkin, sebagai penggambaran peri (dari dongeng tradisional Eropa) pada masa itu, yang disangka ada namun sulit dilihat. Tidak hanya menggambarkan kurcaci kecil yang sulit dilihat, namun dengan topinya yang berjenis Phyrgian, adalah satu bentuk simbolis dari kebebasan di era modern.

Jumlah karakter Smurfs pun banyak, hingga seratus jumlahnya. Setiap Smurfs dinamai sesuai dengan karakternya. Contohnya adalah Jokey Smurf (Smurf Lawak), yang suka sekali bercanda. 

Waralaba Komik dan Animasi The Smurfs

Smurfs berasal dari komik Belgia, yang dirilis lebih lama lagi, yaitu mulai tahun 1958 lalu. Smurfs adalah sekelompok kurcaci kecil berwarna biru, yang hidup didalam rumah berbentuk jamur, di tengah hutan.

Animasinya pun cukup banyak serinya. Pertama adalah The Smurfs yang tidak berbeda jauh dengan perilisan komiknya, yaitu tahun 1961 hingga 1967. Sempat vakum, The Smurfs dirilis lagi pada tahun 1981 hingga 1989 lalu. Dan kembali vakum, serinya kini masih tayang sejak tahun 2021 lalu.

DIlansir dari IMDB, filmnya pun cukup terkenal, karena seluruh filmnya selalu diisi oleh seorang penyanyi terkenal dari Amerika Serikat. Pada filmnya tahun 2011 (The Smurfs) dan 2013 (The Smurfs 2) lalu, karakter wanita Smurfette diisi oleh penyanyi Kary Perry. Pada tahun 2017 lalu, Smurfs: The Lost Village yang tetap diisi oleh karakter Smurfette, diisi suaranya oleh Demi Lovato. Nah, tahun 2025 ini, pengisi suara Smurfette adalah Rihanna.

Terkenal hingga sekarang sebagai waralaba, Smurfs pun menjadi satu dari banyak waralaba media paling menguntungkan sepanjang sejarah. Pencapaian dana sebelumnya dari waralaba Smurfs, adalah mencapai nilai sebesar 4 Milyar Dolar AS dari seluruh dunia.

Sinopsis Smurfs 

Singkat saja untuk sinopsisnya, Papa Smurf (John Goodman) tiba-tiba diculik oleh penyihir jahat, saat desa Smurfs tengah berpesta dansa. Penyihir jahat tersebut bernama Razamel dan Gargamel (JP Karliak), yang jika berhasil, seluruh dunia bisa musnah akibat keduanya. Smurfette (Rihanna) pun perlu memimpin seluruh desa Smurfs, agar bisa menyelamatkan Papa Smurfs, sekaligus seluruh dunia.

Sanggupkah para Smurfs mencari keberadaan Papa Smurf? Dan bahkan perlu berjibaku menghalau ganasnya penyihir jahat Razamel dan Gargamel? Padahal mereka bukanlah sebangsa pahlawan?

Jawabannya, tentu ada di desa fantasi milik peri ala sinema Indonesia.

Film Anime Legendaris Doraemon: Nobita's Art World Tales

 

Doraemon,Nobita, dan kawannya yang kembali isekai (IMDB).

Anime legendaris Doraemon akhirnya tiba lagi di ranah perfilman Indonesia, dengan dirilisnya film ke 45, berjudul Doraemon: Nobita's Art World Tales

Doraemon memang cocok disebut sebagai anime legendaris di Indonesia, sejak awal penayangannya di TVRI tahun 1979 lalu. Walau sempat berpindah stasiun ke RCTI pada tahun 1989 lalu, hingga kini anime anak-anak ini masih tayang!

Dilansir dari Tempo, khusus di Jepang, awal penayangan Doraemon dimulai tahun 1973. Animasinya diadaptasi langsung dari manga berjudul sama, yang rilis sejak tahun 1969 lalu.

Memang, cerita mengenai Nobita yang perlu ditemani oleh Doraemon agar rajin, sudah mengena banyak hati penggemarnya. Saking digemarinya, jumlah episode serial televisi Doraemon sudah mencapai 2553 episode!

Sebegitu banyak episode dan filmnya, Doraemon merupakan salah satu pionir awal perkembangan anime di Jepang. Efeknya pun berlangsung hingga kini, saat anime telah melanglangbuana ke seluruh dunia.

Fujiko F Fujio sebagai mangaka-nya, sebenarnya adalah dua orang yang memakai nama samaran tersebut. Keduanya bernama asli Hiroshi Fujimoto dan Motoo Abiko. Meskipun keduanya telah meninggal, mereka dikenang sebagai ikon budaya modern di Jepang. 

Bahkan, Fujiko F Fujio memiliki museumnya sendiri di di Kawasaki Jepang. Museum ini diisi oleh banyak hasil karya Fujiko F Fujio, tentu dengan banyak figur Doraemon-nya.

Sinopsis Film Doraemon: Nobita's Art World Tales

Khusus untuk filmnya, tentu berbeda dengan serial televisi Doraemon. Biasanya, kenakalan Nobita (Megumi Oohara) selalu mengundang marah Doraemon (Wasabi Mizuta), walau berujung petualangan epik bersama teman sekelasnya, seperti Giant (Subaru Kimura), Suzuka (Yumi Kakuzu), dan Suneo (Tomokazu Seki).

Kali ini, Nobita, Doraemon, dan teman-temannya masuk ke dunia lukisan Eropa jaman pertengahan. Disana, mereka bertemu dengan Claire (Misaki Watada) dan Milo (Atsumi Tanezaki), sepasang anak yang berasal dari kerajaan Artoria.

Tidak hanya itu, mereka bertemu pula seorang setan kecil bersayap bernama Chai (Misaki Kuno). Pertemuan dengan Chai, ternyata membuka jalan bagi sebuah petualangan besar, melawan musuh hebat demi memperebutkan permata legendaris.

Bagi yang penasaran, film Doraemon: Nobita's Art World Tales kini tengah tayang di banyak sinema Indonesia. Dilihat sebentar dari cuplikannya, tampaknya animasi Doraemon kali ini justru tidak menggunakan teknik 3D atau CGI, sehingga terlihat alami ala animasi dua dimensi.