![]() |
| Dr. Kelson yang masih berharap dapat mengobati wabah (IMDB). |
Film zombie berikutnya selama dua minggu berturut-turut rilis di sinema Indonesia, berjudul 28 Years Later: The Bone Temple, yang memang langsung melanjutkan cerita film sebelumnya. Uniknya, rilis antara film 28 Years later pertama dan sekarang, hanya berjarak tujuh bulan saja. Oh ya, sama seperti rating umur sebelumnya, harus ditonton oleh dewasa berumur 17 tahun plus.
Entah apa yang menjadi wacana studio waralaba 28 Years Later. Rilis sekuel seperti ini, seperti mengingatkan film kedua dan ketiga The Matrix, yang sama-sama dirilis pada tahun 2003 lalu. Menurut produser film The Matrix, perilisan film sengaja dibuat cepat, karena animo dari fansnya. Mereka tidak ingin, film ini dirilis lama, sehingga langsung dapat ditamatkan dalam waktu satu tahun saja.
Sementara para sineas film dibalik 28 Years Later, sempat menyatakan bahwa mereka melaksanakan syuting film pertama dan keduanya langsung, demi mempercepat produksi.
Berbeda dengan film pertamanya, karakter utama Jamie yang diperankan oleh Aaron Taylor Johnson, tidak kembali dalam film The Bone Temple. Fokus cerita justru beralih ke karakter anaknya, bernama Spike (Alfie Williams), bersama dua karakter dewasa lainnya, yaitu Dr. Kelson (Ralph Fiennes) dan Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel).
Bagi yang belum menonton film pertamanya, tentu tidak akan paham cerita di film keduanya. Beberapa bagian artikel ini pun, akan sedikit membahas cerita di film pertamanya, sehingga menjadi spoiler bagi yang belum menonton.
Sedikit Referensi The Bone Temple
Film kedua 28 Years Later yang bersub-judul Bone Temple, alias bisa diartikan sebagai Kuil Tulang Belulang. Memang, dalam film pertamanya, terdapat sebuah lokasi dimana Dr. Kelson tinggal, diisi dengan banyak totem berbahan tulang.
Selama 28 tahun terakhir, Dr. Kelson mengumpulkan banyak pasien terinfeksi dan korban Rage Virus, yang lalu dikuliti dagingnya setelah dibakar. Dr. Kelson lalu menempatkan sisa tulang, pada tiang yang dijadikan totem. Sementara bagian tengkoraknya, terpasang di pusatnya, dengan fondasi yang berbeda.
Jika dicek di dunia nyata, terdapat satu lokasi paling terkenal mengenai makam semacam ini, yaitu Katakomba Paris, di Perancis. Pemakaman masal ini berukuran masif, yaitu sepanjang 300 kilometer dan berada dibawah tanah. Walau begitu, yang bisa dikunjungi turis hanya 1,5 kilometer saja. Tengkorak dan tulang belulang menyelimuti seluruh lapisan terowongan, yang tentu terlihat sangat mengerikan.
Bagi yang penasaran, dapat mengecek film dokumenter found footage, yang bersyuting di lokasi ini, berjudul As Above, So Below, yang rilis tahun 2014 lalu.
Kembali ke Inggris Raya sebagai lokasi latar film waralaba 28, maka perlu melacak pula latar sejarahnya. Selama akhir abad pertengahan, pemakaman Charnel, yaitu pemakaman dimana tengkorak dan tulang dari jenazah, ditempatkan secara masif di satu lokasi khusus. Praktek ini lumrah dilaksanakan selama Kristen Katolik berjaya di Inggris Raya.
Ritual Charnel dilaksanakan demi memudahkan pemakaman di jaman tersebut, sekaligus ritual keagamaan Katolik di Inggris Raya. Namun, pada abad 16 praktek ini ditutup, karena perubahan struktur kepengurusan agama Kristen di Inggris.
Dan kembali lagi ke film 28 Years Later, yang sebenarnya lebih mengemukakan tentang wabah penyakit, tampaknya harus mengacu kepada Wabah Hitam. Selama abad 14 di Eropa, sekitar 50 juta warga meninggal akibat wabah yang dibawa hama tikus tersebut. Jumlah kematian masif tersebut, mencapai setengah dari jumlah warga di Eropa saat abad 14 lalu.
Bahkan, jika dicek pada film pertamanya yang berjudul 28 Days Later (2002), maka jumlahnya hampir mirip. Dilansir dari Worldometers, maka jumlah warga Inggris Raya pada tahun 2000an lalu, mencapai 59 juta. Berarti, mirip dengan jumlah kematian saat Wabah Hitam di Eropa.
Di film pertamanya pun, seluruh kepulauan Inggris Raya sudah tidak dapat diakses lagi, dan menjadi lokasi karantina. Hanya pasukan militer yang diperbolehkan masuk, itupun dengan misi tertentu.
Sinopsis Film 28 Years Later: The Bone Temple
Berbeda dengan film pertamanya, cuplikan di film ini justru lebih jelas, apalagi dengan dua rilis cuplikannya. Jika disatukan, maka animo film kedua 28 Years Later dapat disimpulkan dengan tiga sudut pandang karakternya.
Yaitu, dari Spike (Alfie Williams) sebagai tokoh utama sebelumnya, lalu dari Dr. Kelson (Ralph Fiennes) yang masih berharap menemukan obat untuk wabah, serta Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel), yang masih penasaran dengan kondisi wabah serta penyintas lainnya.
Ketiganya pun berjibaku dengan drama yang cukup berbeda. Karena Dr. Kelson masih ingin mengobati korban terinfeksi, maka dirinya mendekati sang Alpha bernama Samson. Dr. Kelson tampaknya berhasil menciptakan sebuah obat anti Rage Virus, yang masih perlu dites.
Sementara Spike, yang berhasil bertemu dengan kawanan Sir Jimmy Crystal, mencoba berbaur dengan mereka. Namun, Spike masih belum sadar, bahwa gang ini cukup brutal. Karena, misi mereka adalah membasmi semua penyintas lain yang belum terinfeksi wabah.
Sementara Sir Jimmy Crystal sedang mencoba mengetahui apa gerangan dengan Dr. Kelson, setelah sempat bertemu di Kuil Tulang Belulang. Dirinya sempat heran, namun cukup kagum dengan dedikasi Dr. Kelson, selama wabah merebak di seluruh Inggris Raya.
Dari segitu saja, cukup berbeda dengan film pertamanya yang lebih linear. Tiga sudut pandang berbeda dalam film ini, ternyata cukup menarik dibanding film zombie biasa.
Kisah akhirnya, tentu dapat dicek di kuil tulang belulang, daging mendaging, dan darah membuyar ala sinema Indonesia.




















