24 September 2025

Aksi Keren Hollywood di Film One Battle After Another

 

Bob yang memakai kupluk (IMDB).

Bagi yang telah menonton cuplikannya, tentu mengenal aktor kawakan dalam film One Battle After Another ini. Ya, namanya adalah Leonardo DiCaprio, seorang aktor yang sering meraih nominasi dan sekali memenangkan penghargaan Oscar.

Sudah terkenal dalam bakat aktingnya, DiCaprio memang dikenal sejak perannya dalam film Titanic (1997 lalu). Walau kini lebih berkecimpung sebagai produser film, DiCaprio berperan di banyak film kompleks yang dinominasikan Oscar, diantaranya adalah Wolf of Wall Street (2013), Inception (2010), dan Departed (2006).

Film lainnya pun cukup mantap untuk ditonton, mulai dari The Man in the Iron Mask (1998), The Beach (2000), Gangs of New York (2002), Catch Me If You Can (2002), Blood Diamond (2006), Body of Lies (2008), Shutter Island (2010), serta Django Unchained (2012).

Kali ini, DiCaprio akan beradu akting dengan dua aktor kawakan, yaitu Sean Penn yang berperan sebagai Kolonel Steven J Lockjaw, dan Benicio Del Toro sebagai Sensei Sergio St. Carlos.

Film ini pun mengadaptasi dari novel karya tahun 1990, berjudul Vineland. Dari novelnya, bisa dinalar bahwa film ini berisi cerita sekelompok paramiliter, yang menolak kendali pemerintahan AS. Mereka mengambil jalan kekerasan demi mencanangkan revolusi di wilayahnya. 

Tampaknya banyak film Hollywood di bulan September ini sedang mengambil sudut pandang warga melawan pemerintahnya.

Di film ini, DiCaprio memerankan Bob Ferguson, seorang anggota grup revolusi French 75. Dengan berbagai taktik gerilya, Bob mencoba melumpuhkan sebuah markas militer AS. 

Dia melaksanakan gerilya bersama istrinya, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor). Keduanya akhirnya memiliki momongan bernama Willa (Chase Infiniti), tepat sebelum gelut revolusi mereka berakhir.

Nah, bagaimana dengan plot utama cerita film One Battle After Another ini? Kali ini cek saja sinopsisnya...

Sinopsis Film One Battle After Another

Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio) adalah seorang revolusioner berkemampuan militer, yang tidak menyukai pemerintah AS. Selama beberapa tahun bersama istrinya, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), Bob melawan dengan bergerilya di wilayah AS.

Sayangnya, aksi revolusi French 75 mereka berakhir, sementara Bob harus mengasuh putrinya, Willa (Chase Infiniti) seorang diri, akibat keberadaan istrinya yang entah kemana.

Selama enam belas tahun, Bob yang telah tua masih hidup di antah berantah, demi menghindari kejaran militer yang mengetahui aksi gila revolusi miliknya di masa lalu.

Sayangnya, setelah Willa menginjak usia remaja dengan tidak mengetahui aksi gila Bob dan Perfidia di masa lalu, masalahnya kembali menghantui mereka. Willa diculik oleh Kolonel Steven J Lockjaw (Sean Penn), yang selama ini mengejar Bob. Willa ditahan sebagai pemancing, agar Bob dapat ditangkap kembali.

Bob yang panik mengetahui anaknya hilang, akhirnya mencari Sensei Sergio St. Carlos (Benicio Del Toro), yang selama ini menghindari kejaran militer pula. Bob dan Sensei yang telah tua bangka pun harus berjibaku kembali, demi merebut kembali seorang gadis yang tidak menahu soal kegilaan generasi sebelumnya.

Animasi Lucu Bagi yang Suka Boneka Gabby's Dollhouse

 

Gabby yang sumringah didalam Dollhouse (IMDB).

Bagi yang suka animasi lucu yang cocok untuk seluruh keluarga, Gabby's Dollhouse bisa menjadi pilihan film bersama anak di sinema Indonesia, bulan September ini.

Film ini diadaptasi dari serialnya, berjudul sama yang telah tayang sejak tahun 2021 lalu di Neflix. Dari segi visualnya, film ini memang menggambarkan seorang anak remaja yang bisa keluar-masuk dunia animasi dan nyata.

Gabby (Laila Lockhart Kraner) adalah nama anak remaja tersebut, yang memiliki sebuah rumah boneka ajaib. Rumah boneka miliknya berkemampuan magis nan sakti, sehingga Gabby bisa mengecil dan masuk ke dalamnya.

Tidak hanya mengecil, Gabby bisa berinteraksi langsung dengan seluruh bonekanya, yang bisa berbicara dan berkomunikasi layaknya manusia biasa. Banyak petualangan yang dialami oleh Gabby bersama seluruh bonekanya yang berbentuk kucing lucu.  

Sekilas, memang serial animasi dari Netflix ini cocok untuk anak perempuan yang menyukai boneka. Kali ini, filmnya diproduksi oleh studio terkenal, yaitu Dreamworks Animation dan dirilis oleh Universal Studios.

Tentu yang mengenal Dreamworks, tahu beberapa film animasi ciamik yang diproduksinya. Contohnya adalah banyak film Shrek, Trolls, dan Puss in Boots.

Nah, bagaimana dengan filmnya di bulan September ini? Coba dicek saja sinopsisnya ya.

Sinopsis Film Gabby's Dollhouse

Gabby (Laila Lockhart Kraner) kini berangkat untuk mengadakan liburan panjang bersama neneknya, Gigi (Gloria Estefan). Tentu, Gabby mengajak Dollhouse-nya bersama perjalanan tersebut.

Saat tiba di lokasi rumah tujuannya, Dollhouse yang dipasang derek malah tergelincir. Saking lajur jalan yang naik-turun nan terjal, Dollhouse malah meluncur jauh dengan kencang. Gabby pun terpaksa berlari untuk meraihnya.

Akhirnya, Dollhouse terhenti di sebuah gang, tepat di sebuah pasar loak. Seorang nyonya eksentrik bernama Vera (Kristen Wiig), langsung jatuh cinta melihat Dollhouse. Vera memang menyukai apapun yang berbentuk kucing. Kucing miliknya, Marlene bahkan didandani layaknya seorang bintang dan gaunnya.

Sementara Gabby yang kesulitan mencari lokasi Dollhouse berada, akhirnya terpaksa menggunakan cara terakhir. Gabby menyalakan boneka magis miliknya, yang langsung mengecilkan dirinya lalu terbawa langsung ke lokasi Dollhouse. 

Dari sana, petualangan untuk merebut kembali Dollhouse pun mulai dijalani oleh Gabby, bersama seluruh boneka kucing kesayangannya.

17 September 2025

Kembalinya Boneka Jepang Miyabi ala Horor di Film Dollhouse

Yoshie yang merawat boneka saat masih berduka (TMDB).

Film boneka horor pun merambah Jepang di September tahun ini. Kali ini, judulnya adalah Dollhouse, yang berplot utama seorang ibu kehilangan gadis ciliknya, lalu mengasuh boneka miyabi selama bertahun-tahun.

Nah, berkaca pada istilah magis dan mistis yang terikat suatu benda, tentu banyak referensi lokal seperti keris, jenglot, dan benda keramat lainnya.

Namun, jika dilihat dari budaya asli negara produsen filmnya yaitu Jepang, maka suatu bentuk magis ini adalah hasil dari emosi sang ibu, yang masih terharu saat anaknya hilang. Mungkin, emosi mendalam ibu 'tertular' pada boneka tersebut.

Melansir dari cuplikannya, sang ibu merawat boneka tersebut seperti anaknya yang hilang tanpa jejak. Karena anaknya tidak dapat ditemukan, ibunya pun pasrah dan altar kematian anak sudah dipasang dirumahnya.

Sang ibu akhirnya mengasuh sebuah boneka, layaknya anak sendiri. Para dokter menyebutnya sebagai terapi boneka, agar memudahkan perasaan ibu dan ayah yang baru kehilangan anaknya.

Namun, sang ibu terus berusaha, dan memutuskan untuk hamil kembali. Sejalan dengan kesibukan ibu mengasuh anaknya, boneka pun 'cemburu' dan mulai meneror satu keluarga tersebut.

Nah, fantastis memang, tetapi tetaplah sebuah film yang dramatis. Berbeda lagi dengan ritual di Indonesia saat ada yang meninggal (upacara ala Kristen, makan-makan ala etnis Tionghoa, atau Tahlilan ala Islam), maka seluruh 'kenangan buruk' dapat langsung 'dibersihkan' dari keluarga yang ditinggalkan. 

Namun, beberapa organisasi tidak melaksanakannya setelah sesi pemakaman berakhir (seperti Islam Persis atau muslim yang tidak bergabung organisasi Islam manapun), tetapi ritual menemani keluarga berduka selalu dilaksanakan. Tujuan utamanya, agar keluarga berduka tetap ditemani dan tidak berpikiran aneh-aneh.

Dan, dari segi 'media' itu sendiri, momen kematian seseorang adalah satu kali saja. Bahkan, durasi kehidupan almarhum tentu melebihi momen kematian tersebut. Seperti pepatah orang bule, jangan sedih saat momennya berakhir, tetapi ingatlah perjalanan mencapainya.

Apalagi, jika media tersebut adalah boneka. Benda berukuran kurang dari 50 centimeter tampaknya terlalu kecil, jika dibandingkan dengan seluruh benda dan rumah yang melingkupinya. Media sebesar rumah dan lingkungan di sekitarnya, tentu menyimpan lebih banyak kenangan, daripada benda horor tersebut.

Jadi, tidak perlu memiliki kepercayaan ala pluralisme (alias semua disamakan), tetapi Bhineka Tunggal Ika saja, dimana kita berbeda-beda dan tetap bersatu juga. Bahkan, di Arab Saudi saja banyak warga Yahudi tinggal dan menetap lama.

Tampaknya sudah terlalu banyak ceramah, jadi ya setiap orang beragama, wajib percaya keberadaan dunia mistis, tetapi justru dilarang untuk mendekatinya. Maka, coba kita cek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Dollhouse

Suzuki Yoshie (Masami Nagasawa) adalah ibu yang kehilangan anaknya, bernama Mei. Anggota kepolisian telah gagal menemukan kembali sang anak, menyebabkan Yoshie depresi namun pasrah. Dia bersama suaminya Tadahiko (Koji Seto), akhirnya membangun altar kematian di rumahnya, demi mengenang sang anak.

Yoshie yang tengah berbelanja, menemukan sebuah boneka miyabi yang dijual. Yoshie yang masih berduka, membeli boneka tersebut dan merawatnya di rumah. Tadahiko yang kaget, mengerti maksud sang istri, lalu memakluminya. Dia bersama istrinya saling merawat boneka tersebut, layaknya anak sendiri.

Para dokter memang menyarankan, bahwa mereka membutuhkan momen merawat boneka tersebut, sebagai terapi saat keluarga masih berduka. Bertahun-tahun berlalu, Yoshie dan Tadahiko akhirnya siap untuk memiliki momongan kembali.

Yoshie kembali hamil, dan berhasil melahirkan anak keduanya, bernama Mai. Koleksi foto yang sebelumnya diisi oleh wajah Mei atau boneka miyabi, akhirnya tergantikan oleh momen bersama Mai. Boneka miyabi yang biasa menemani pun, akhirnya ditinggalkan karena kesibukan mereka.

Namun, setelah Mai semakin tumbuh, dan siap masuk sekolah TK, tiba-tiba muncul keanehan di rumah tersebut. Boneka miyabi tiba-tiba tidur bersama Yoshie, atau penampakan anak yang berlarian, padahal Mai tidak ada dirumah.

Apakah boneka miyabi memang cemburu? Ataukah ada petunjuk khusus mengenai keberadaan anak pertamanya yang hilang? Kelanjutan ceritanya dapat dicek di sinema Indonesia.

Ritual Pengusiran Setan ala Thailand di Film Tharae The Exorcist

 

Kombinasi dua pemuda to'at melawan jurig (TMDB).

Akhirnya, film dari negara Thailand yang justru berasa religius, berjudul Tharae The Exorcist. Berbeda dengan film Thailand lainnya, justru dua tokoh utama di film ini adalah kombo dukun tradisional Thailand dan pastur Kristen sekaligus.

Nah, berkaca pada film Thailand yang berani mengangkat tokoh dari agama besar (tradisional, Buddha dan Kristen Katolik), tampaknya perlu ditelaah kembali bagi film horor dari Indonesia.

Justru, saat ini sinema Indonesia dibanjiri oleh banyak film horor yang memasukkan elemen agama, tetapi sangat tidak seimbang penggambarannya. Bahkan, film horor Indonesia malah mengambil referensi agama sebagai bagian dari adegan ngerinya, dan bukannya teknik berdoa ala kebanyakan warga Indonesia. 

Jika dibandingkan dengan film Tharae the Exorcist ini, bahkan mereka sanggup membuat karya film yang menegaskan, bahwa agama adalah solusi bagi yang diganggu jurig, khususnya yang kesurupan. 

Padahal dari segi demografi, dengan banjirnya ladyboy dan hidup sekuler ala Thailand, sineas perfilman malah mengambil jalur yang lebih sopan pada agama yang dianut warganya. Jadi, mengapa film Indonesia malah menyepelekan agamanya sendiri (HAH!?!)

Jika dilihat sejarahnya, beberapa film horor Indonesia seperti mengadaptasi naskah dari majalah 'Hidayah' terdahulu. Walau nama majalahnya bagus, tetapi sampul dan isi ceritanya sangatlah Naudzubillah (!) Bahkan, kesannya 'menghororkan' agama. 

Layaknya mengisahkan cerita romansa, tetapi lebih menegaskan poligami (!) Memang, banyak film 'cinta' Indonesia kini, yang menggunakan kisah poligami sebagai plot utamanya. Padahal dari segi budaya tradisional Indonesia, masih banyak tema dan cerita yang bisa diangkat, dari Sabang sampai Merauke...

Daaan, tampaknya harus kembali ke sinopsis film Tharae dari Thailand ini ya...

Sinopsis Film Tharae The Exorcist

Tha Rae adalah wilayah sebuah komunitas warga penganut Katolik terbesar di Thailand. Sayangnya, baru-baru ini banyak warga yang kesurupan oleh mahluk lain dari dunia lain-lain.

Awalnya, seorang lansia kesurupan parah ala pamacan, sehingga perlu memanggil biksu Buddha untuk menyembuhkannya. Sayangnya, teror dari dunia lain masih mengancam banyak warga Tha Rae.

Malee (Nichaphat Chatchaipholrat) adalah seorang gadis muda, yang sempat bertatap muka dengan lansia pamacan saat kesurupan. Suatu hari, Malee pun 'terjangkit' jurig pula, yang mengakibatkan dirinya kesurupan.

Awalnya, Malee akan disembuhkan oleh seorang dukun muda bernama Sopha (Phiravich Attachitsataporn). Sayangnya, ritual pengusiran malah gagal, dan menyebabkan Malee semakin terjerumus ke dunia jurig.

Sementara itu, Paolo (Jirayu Tangsrisuk) adalah seorang pastur Katolik muda di Tha Rae. Melalui gosip yang diceritakan oleh uskupnya, Paolo diminta agar membantu warga yang sering kesurupan.

Selain menyembuhkan Malee yang cantik nan jelita tentunya, kisah kesurupan di Tha Rae justru semakin menjadi-jadi (kajajaden). Keduanya harus saling berkombo jurus, agar dapat menyembuhkan seluruh wilayah Tha Rae dan menguak jurig mana yang berani memasuki daerah mereka.

Bagi yang penasaran walau belum menjadi arwah, bisa dicek kelanjutan ceritanya di sinema Indonesia.

Kutukan Edan ala Indonesia di Film Perempuan Pembawa Sial

Mirah yang memilih ditemani kambing daripada kawin lagi (TMDB).

Film horor Indonesia yang masih berasa Indonesia akhirnya rilis lagi September ini di Indonesia, dan berjudul lebih dramatis lagi, yaitu Perempuan Pembawa Sial

Sebelumnya, film Lintrik dirilis minggu lalu, yang mengisahkan mengenai sejenis pelet sakti. Kali ini di Perempuan Pembawa Sial, kisahnya mirip dengan romansa jurig, namun lebih ke santet yang membahayakan.

Tokoh utama film ini dikutuk jahat oleh saudari tirinya, agar setiap pria yang mendekatinya, akan meninggal cepat dan mendadak. Tampaknya, plot utama film ini mirip dengan kisah film klasik Suzanna terdahulu.

Perbedaannya justru kisah ini bisa terbilang lebih romantis, karena tokoh utamanya yang bernaung bersama pria lainnya. Pria baru tersebut sudah mengenal kesan dirinya, namun mengerti bahwa seluruh kejadian tersebut berada di ranah mistis.

Nah, santet memang menjadi bahasan khusus di Indonesia, maka perlu ditelaah kembali. Berbeda dengan modus kutukan ala negara lain, tetapi mirip dengan Asia Tenggara, tipe ritual mistis jahat ini menyebar rata di seluruh Indonesia.

Berbeda setiap nama ritual santet di wilayahnya, namun tujuannya tetap sama, yaitu mengutuk satu orang atau keluarga dengan berbagai jenis kemalangan, melalui ritual, media dan pantangan khusus bagi yang mengirimnya. 

Biasanya, ritual dan media perantara dilaksanakan langsung oleh dukun yang berkemampuan magis, dan menyaratkan suatu pantangan pada kliennya, selain tentu bayaran uang.

Bahkan, di beberapa cerita kejadian aneh (seperti batang kawat yang tumbuh dari perut seorang wanita), dukun yang merawatnya menyatakan bahwa santet harus dicabut oleh yang mengirimnya. Ada kemungkinan pula, bahwa santet tidak bisa dicabut sama sekali, karena yang mengirimnya sudah meninggal dunia.

Jadi, berkaca pada kengerian yang tidak jelas nalarnya ini, haruslah kita saling memaafkan saja. Walau kadang komunikasi tidak berjalan, namun janganlah ada dendam diantara kita (seperti gimmick politik yang berlandaskan dendam).

Nah, sekarang saatnya sinopsisnya saja yaaa...

Sinopsis Film Perempuan Pembawa Sial

Mirah (Raihaanun) adalah seorang janda yang sering sial ketimpa tangga pula. Dirinya yang cantik memang sering didekati oleh banyak pria, namun dijauhi oleh banyak tetangganya. Mirah memang terkenal sebagai 'pembawa sial,' karena beberapa suaminya yang meninggal muda dan mendadak.

Mantan mertua Mirah bahkan histeris saat pemakaman suaminya, yang semakin menambah kesan 'terkutuk' bagi Mirah. Tidak hanya di lingkungan rumah, bahkan saat tengah bekerja di pabrik jahit garmen, seorang pria mendadak meninggal setelah mendekati Mirah.

Saking histerisnya seluruh lingkungan Mirah, menyebabkan dia perlu melarikan diri. Hingga akhirnya Mirah bertemu dengan pria bernama Bana (Morgan Ooey), yang bersedia 'menyembunyikan' dirinya di Warung Makan Minang miliknya.

Bana yang sebelumnya telah mengenal gosip Mirah, sedikit menjaga jarak dengan dirinya. Namun, Bana yang memang mengerti sikap lingkungan serta keanehan dunia mistis, tetap bersikap sopan pada Mirah dan statusnya sebagai janda.

Suatu saat, Bana dan Mirah pun berhasil melacak jejak 'santet' ini, yang berujung pada Puti (Clara Bernadeth), saudari tiri Mirah. Keduanya mencoba meluruskan masalah dengan Puti, yang mungkin berhasil membuang kutukan Mirah, atau tidak sama sekali.

Sisa ceritanya, dapat dicek di banyak sekali sinema Indonesia.

16 September 2025

Harta Karun yang Hilang Setelah Hancurnya Dunia di Film Afterburn

 

Bautista yang heran kenapa terus berperan sebagai maling (IMDB).

Akhirnya, setelah bertahun-tahun berkecimpung sebagai aktor yang dikenal serba bisa, aktor lulusan WWE Dave Bautista memerankan kembali tokoh utama di film Afterburn.

Afterburn yang dirilis September ini di sinema Indonesia, melanjutkan animo aktor Bautista sebagai tokoh utama dalam film relokasi barang, mirip film Army of The Dead tahun 2021 lalu.

Bautista memang dikenal sebagai peran pendukung, walau mengisi banyak film terkenal bersama aktor hebat lainnya, diantaranya The Naked Gun (2025), Dune (2021, 2024), Guardian of the Galaxy (2014, 2017, 2023), Knock at the Cabin (2023), Blade Runner 2049 (2017) dan Riddick (2013).

Walau berstatuskan aktor lulusan ajang gulat WWE bersama John Cena dan Dwayne Johnson (The Rock), namun Bautista dikenal lebih berani memerankan karakter yang emosional dan ekspresif. Sehingga, Bautista dikenal sebagai aktor berbakat di ranah Hollywood.

Film Afterburn kali ini pun mirip dengan Army of The Dead, yang mengisahkan relokasi brankas di Las Vegas yang telah hancur dan dijadikan zona terbatas korban zombie.

Sementara di film Afterburn, seluruh dunia telah hancur akibat suar matahari (solar flare) yang merusak seluruh alat elektronik di bumi. Bencana ini menyebabkan peradaban manusia hancur seketika dan mundur beberapa dekade lamanya.

Bautista sekarang dikenal telah menurunkan berat tubuhnya hingga puluhan kilogram. Menurutnya, tubuh miliknya sudah tidak sanggup menjaga fisik diumurnya yang telah mencapai 50an. Karena kelebihan aktingnya pula, Bautista lebih siap berperan dengan lebih banyak pilihan karakter.

Dari cuplikan Afterburn, terlihat bagaimana sosok Bautista yang masih setinggi 190an cm, namun berat tubuhnya hanya 100an kilogram saja. Terlihat lebih kecil memang, walau sosoknya yang tinggi tetap cocok sebagai pemain film aksi. 

Samuel L. Jackson sebagai aktor kawakan pun mengisi film ini, walau hanya berperan sebagai karakter pendukung saja. Karakter wanitanya diperankan oleh Olga Kurylenko, yang terkenal sejak memerankan gadis Bond di film Quantum of Solace (2008).

Sinopsis Film Afterburn

Dunia telah hancur sepuluh tahun lalu, saat suar matahari mencapai bumi dan menghancurkan banyak siklus teknologi. Di dunia yang mundur kemajuan peradabannya beberapa dekade, manusia harus berjuang dari sisa yang ada.

Namun, beberapa orang memiliki pandangan berbeda. Seorang kolektor ternama yang masih kaya raya, King August (Samuel L. Jackson) memiliki visi dan misi dalam mengumpulkan seluruh karya seni klasik terkenal.

Saking terobsesinya, King August meminta kepada Jake (Dave Bautista) untuk 'mengembalikan' karya lukisan terkenal Mona Lisa. Jake memang dikenal sebagai agen yang handal dalam melacak hasil karya seni, yang hilang sejak bencana suar matahari merambah bumi.

Namun, misi yang diberikan cukup sulit. Jake harus terbang menuju Eropa, untuk bekerja sama dengan Drea (Olga Kurylenko) dalam misinya. Drea adalah seorang pejuang kemerdekaan, dimana negaranya tengah mengalami kekisruhan militer.

Kisah Jake pun semakin sulit, karena pemimpin militer di negara tersebut ingin merebut pula lukisan Mona Lisa. Jake dan Drea pun harus berjibaku dengan aksi fantastis melawan pasukan militer yang terorganisir nan beringas.

Teman Conan yang Sama Barbarnya di Film Red Sonja

 

Sonja yang semakin memerah saat menembak panah (IMDB).

Akhirnya, tiba juga kisah epik fantasi dari ranah dunia sana, berjudul Red Sonja, di bulan September ini. Red Sonja adalah karakter dari Conan the Barbarian, yang berlatar di benua fantasi Hyborian dengan aturan main Sword and Sorcery.

Robert E. Howard adalah penulis orisinal kisah Jaman Hyborian ini, pada tahun 1932 lalu. Kisah Conan bahkan bareng dengan epiknya Lord of The Rings, yang lebih mengisahkan perang mitologi di dunia fantasi.

Namun, tidak seperti banyak karakter utama politikus yang culas, licik, jago bersilat lidah, psikopat, dan vampir kesiangan dari Game of Thrones, Conan justru seorang pendekar yang khas dengan pedang besarnya. 

Sebelumnya, kisah Conan sempat diadaptasi Hollywood pada tahun 1982 lalu, berjudul Conan the Barbarian yang diperankan oleh aktor kawakan Arnold Schwarzenegger. Filmnya pun sempat direka ulang pada tahun 2011 lalu, yang diperankan oleh Jason Momoa.

Nah, sebenarnya film Red Sonja tahun 2025 ini adalah bagian dari film Conan The Barbarian tahun 2011 lalu, namun karena kurang laku di sinema, sehingga produksi Red Sonja pun ditunda hingga sekarang. Belum ada kabar bahwa Jason Momoa akan muncul sebagai cameo di film ini, karena berasal dari studio yang sama.

Red Sonja sendiri aslinya karakter hasil ciptaan penulis Robert E. Howard pada tahun 1934 lalu, yang akhirnya populer sebagai satu dari beberapa karakter utama di seri Conan the Barbarian miliknya.

Walau kisah Conan the Barbarian akhirnya diadaptasi oleh komik Marvel yang semakin isekai saja, kisah film Conan tahun 2011 dan Red Sonja tahun 2025 ini mengacu pada karya orisinal Robert E. Howard.

Studionya pun berbeda, yaitu Millenium Media yang dipremierkan oleh Samuel Goldwyn Films. Bahkan, walau aslinya karakter ini adalah hasil karya Amerika, filmnya dirilis pertama kali di Rusia terlebih dahulu (!)

Sinopsis Film Red Sonja

Sonja (Matilda Lutz) adalah seorang pendekar desa Hyrkania yang tak kenal takut. Saat desanya diserang suku barbarian, Sonja melawan balik dengan hebat, walau akhirnya terpaksa melarikan diri ke hutan dan hidup sebagai pemburu, sambil menyembah dewi hutan Ashera.

Bertahun-tahun berlalu, Sonja terpancing emosinya saat pasukan bayaran dari Dragan menginvasi hutannya, dan memburu liar binatang eksotis sebagai persembahan raja. 

Sonja yang akhirnya kalah dalam satu pertarungan, diculik ke ibukota kerajaan Dragan dan dipersembahkan sebagai petarung arena gladiator. Raja Dragan (Robert Sheehan) berhasil mengecek latar belakang Sonja, sebagai bagian dari suku Hyrkania terdahulu. 

Raja Dragan percaya, bahwa Sonja memiliki setengah bagian peta yang dibutuhkannya. Hanya dengan setengah manuskrip sekaligus peta miliknya, Dragan berhasil melindungi kerajaan dengan energi magisnya. 

Kisah Sonja yang awalnya bertahan hidup sebagai pejuang saja, berakhir perang besar yang dapat merubah nasib satu kerajaan.

Detektif Cilik Perlu Nonton Detective Conan The Movie: One-Eyed Flashback

 

Conan yang masih SD walau sudah terbit selama 31 tahun (TMDB).

Detective Conan akhirnya merilis film terbarunya di tahun 2025, bersubjudul One-Eyed Flashback. Anime detektif cilik ini memang terkenal sejak penayangannya tahun 1996 lalu di Jepang, diadaptasi dari manganya yang terbit sejak 1994 lalu.

Kisahnya mengenai seorang detektif jenius Shinichi Kudo (Kappei Yamaguchi), padahal masih SMA. Akibat suatu insiden, dirinya dipaksa meminum obat oleh suatu organisasi jahat, yang mengecilkan tubuhnya hingga seumuran anak SD.

Shinichi perlu membuat identitas samaran Conan Edogawa (Minami Takayama), agar terhindar dari kejaran organisasi jahat tersebut. Nama Conan mengacu pada Sir Arthur Conan Doyle sebagai penulis novel Sherlock Holmes, dan Edogawa berarti jaman Edo yang berakhir 1898 lalu, saat Sir Arthur masih aktif menulis.

Hiroshi Agasa (Kenichi Ogata) awalnya adalah satu-satunya kenalan yang tahu identitas Conan, dan membantu pula dengan memberikan banyak gawai canggih untuk membantu tubuhnya yang kecil.

Walau plot utamanya mengembalikan tubuh menjadi normal tidak berkembang jauh, namun keseharian Conan bersama Detektif Mori (Rikiya Koyama) dan pacar Shinichi, Ran (Wakana Yamazaki) dalam memecahkan kasus, menyebabkan serial ini masih populer hingga sekarang. 

Manganya yang digambar oleh Gosho Aoyama pun sudah dirilis sebanyak 107 volume banyaknya. Saking populernya, film One-Eyed Flashback adalah seri ke 28 dari kisah Conan Edogawa. Kisah mengenai analisis kasus ala detektif, memang ramai di ranah manga sejak tahun 1990an hingga awal 2000an. 

Penulis sendiri lebih menyukai manga Detektif Kindaichi, karena gambarnya lebih bagus, kasusnya lebih sederhana namun sulit dinalar, karena banyak yang berlatar horor. 

Sinopsis Film Detective Conan The Movie One-Eyed Flashback

Anggota Kepolisian Perfektur Nagano Kansuke Yamato (Yuji Takada) diperintahkan menyelidiki kasus di Puncak Mitaodake, Pegunungan Yatsugatake, Jepang. Sesi pengejaran seorang tersangka, menyebabkan Kansuke kehilangan mata kirinya.

Sepuluh bulan kemudian, saat menyelidiki kasus bersama Yui Uehara (Ami Koshimizu) di Observatorium Nasional Nobeyama, mata Kansuke yang telah lama sembuh berkedut dan terasa nyeri kembali, menyiratkan koneksi aneh kasus ini dengan kasus lamanya.

Sementara itu, kolega lama Detektif Swasta Kogorou Mouri (Rikiya Koyama) meminta bantuan untuk menyelidiki kasus longor salju di Mitaodake. Conan (Minami Takayama) perlu berangkat bersama Mouri, demi menguak sakralnya Gunung Yatsugatake.

11 September 2025

Film Anime Terkenal Jujutsu Kaisen: Hidden Inventory/Premature Death

Gojo Satoru yang sudah OP padahal belum lulu sekolah (TMDB).

Mungkin September minggu kedua ini adalah saat yang tepat untuk merilis film bergenre horor. Setelah banyaknya film jurig yang dirilis minggu ini, akhirnya rilis juga film anime berjudul Jujutsu Kaisen Hidden Inventory/Premature Death, yang terkenal dengan aksi gelut melawan jurignya.

Layaknya Chainsaw Man dan Dandadan, anime shonen sejenis ini masih berkesan gelap. Tidak hanya adegan sadis, isi ceritanya pun cukup menyayat hati. Memang, kelebihan sebuah film berlandaskan horor, walau dikombinasikan dengan genre lain, berasa mempertanyakan ranah jiwa manusia.

Naaah, khusus di serial anime Jujutsu Kaisen yang diproduksi oleh studio Mappa, yang memang terkenal dalam menciptakan anime ciamik dari Jepang, kisahnya lebih berkutat pada esensi kutukan.

Kutukan di seri Jujutsu Kaisen bermaksud pada emosi negatif manusia, yang berkembang menjadi arwah penasaran, dan mampu membahayakan kembali manusia di sekitarnya.

Seperti istilah santet (atau leak) di Indonesia, arwah tersebut memiliki sosoknya sendiri, layaknya avatar dari emosi tersebut, dan bahkan gelut seperti seorang dukun. Itupun jika arwah tersebut cukup sentien alias sadar, dan mampu mengontrol kemampuannya sendiri.

Cukup fantastis memang, tetapi mengacu pada cerita horor tradisional, tampaknya sering kita mendengar bahwa emosi manusia yang buruk, dapat menciptakan suatu kemampuan magis tertentu. Mungkin, itulah alasannya kata 'kutukan' ada di seluruh kamus bahasa sedunia.

Dan berkaca pada kata itu sendiri, pemahamannya bertambah besar pula jika ditelaah dari segi budaya Asia Timur. Terdapat sebuah kepercayaan, bahwa setiap kata adalah simbol dan maksud dari infinitas dunia, apapun definisi dan deskripsi kata tersebut.

Dari segi prakteknya, budaya Asia Timur percaya, bahwa setiap kata, apalagi semakin intensif artinya, harus diucapkan sesuai dengan maksudnya. Karena itu, banyak kata di Asia Timur harus diresapi saat diucapkan, agar maksudnya lebih kentara, walau tidak bermaksud komunikatif, maupun politis.

Mungkin, itulah mengapa banyak anime masih merapal jurus tokoh utamanya, seakan adegan tersebut berasal dari opera tradisional Jepang (alias Kabuki dsb).

Nah, kembali ke Jujutsu Kaisen, karena ceritanya berkutat pada kutukan yang berasal dari emosi negatif manusia, maka animonya cukup menarik bagi para otaku.

Tokohnya pun cukup banyak, yang sering diceritakan dengan adegan dan kisah terpisah, sehingga cakupannya lebih luas dari satu kelompok tokoh utama ala anime.

Di filmnya bulan September ini, bahkan Jujutsu Kaisen tidak menampilkan tokoh utamanya, yaitu Yuji Itadori. Dilihat dari cuplikannya, justru mengisahkan prekuel cerita serialnya, yang berfokus pada Gojo Satoru (Yuichi Nakamura).

Gojo di film ini justru belum menggunakan perban mata ala serialnya, namun sepasang kacamata hitam, dan masih bersekolah di Jujutsu Kaisen. Bersama kelompoknya yang masih junior, Gojo harus menjaga Riko Amanai (Anna Nagase), yang tengah dikejar sekelompok pengguna kutukan jahat.

Bagi yang sudah menonton serialnya, tentu tahu se-OP apa tokoh bernama Gojo ini. Gojo sudah menjadi guru di Jujutsu Kaisen cabang Tokyo, dan dianggap sebagai Penyihir Jujutsu terkuat di jaman sekarang.

Fans Gojo pasti tidak ingin melewatkan kisahnya saat masih muda, yang selalu terlihat keren setiap kali episode Jujutsu Kaisen berisi tokoh OP ini.

10 September 2025

Horornya Terjebak di Stasiun Kereta Api Jepang ala Film Exit 8

Anomali-kah di sebuah stasiun kereta api (TMDB).

Nah, sekali lagi, saatnya sineas perfilman Jepang menelurkan film anehnya di Nusantara, yang memang makin aneh pula. Kali ini, judulnya adalah Exit 8, yang mengisahkan rasanya terjebak di anomali stasiun kereta api.

Transportasi kereta api memang sering terasa isekai, apalagi dengan banyaknya titik transit stasiun. Contohnya di Jakarta, dimana Metro Jakarta dan Trans Jakarta layaknya sebuah labirin raksasa, yang membaca petanya saja bisa membuat nyali bergetar.

Apalagi moda transportasi ini memang sering dikaitkan dengan dunia mistis, akibat terowongan panjang nan gelap di bawah tanah, yang menyiratkan arti lain.

Khususnya di budaya Asia Timur, gua panjang memang memiliki arti religius tersendiri. Beberapa kuil atau patung dewa, sering ditempatkan bersama beberapa jimat lainnya, untuk menyiratkan bahwa gua tersebut sakral.

Tidak hanya sakral, gua memiliki arti simbolis tersendiri. Layaknya sebuah siklus hidup dan reinkarnasi ala budaya Asia Timur, banyak gua dianggap sebagai jalur sakral diantaranya keduanya, 

Jadi, sebenarnya film Exit 8 ini tidak se-isekai itu, jika dilihat dari segi budaya tradisional negara asalnya.

Naaah, tapi, ada satu konsep isekai yang cocok bagi film ini. Jika penggemar horor sempat menonton cuplikannya, pasti mengerti referensi dan maksud dari film ini.

Konsep yang dimaksud adalah isekai ala Backrooms, yang menyajikan kisah tersasar di sebuah labirin berwarna dinding kuning cerah, dengan lantai karpet warna krem.

Di labirin ini, konsep ruang, waktu, fisik, dan materi menghilang seketika, layaknya dimensi lain yang gamang alias limbo. Sementara, subyek dan obyek didalamnya adalah berbagai jenis mahluk dan benda lain, dengan manusia diantaranya.

Konsep Backrooms memang bukan bagian dari SCP (Secure Contain Protect), tetapi sebuah kisah tersendiri, walau dirilis saat keduanya tengah viral di forum paranormal internet.

Karena konsep horor SCP dan Backrooms, serta awal ceritanya yang ramai karena komunitas horor di dunia maya, maka latar keduanya sering dikolaborasikan oleh para penggemarnya, yang biasanya berprofesi penulis atau kreator konten.

Apakah ada maksud dari sakralnya gua di Asia Timur, dengan Backrooms yang berasa dimensi lain, dan SCP yang anomali dari para penulis kreatifnya?

Tentu saja nihil, karena semuanya adalah sebuah kemungkinan yang hanya dipegang oleh Dia semata, sementara mahluk yang terjebak didalamnya hanya bisa pasrah saja.

Jadi, jika merasa ter-isekai, ikhlaskan saja ya...