10 September 2025

Kisah Hasil Karya Stephen King di Film The Long Walk

Berjalan marathon demi cuan atau mati (IMDB).

Bagi penggemar film horor, tentu mengenal nama Stephen King, seorang novelis serba bisa dari AS. Saking terkenalnya, novel atau cerita pendek hasil karyanya sering diadaptasi ke layar lebar. 

Tidak hanya terkenal, seluruh studio bahkan perlu menyematkan nama Stephen King dalam filmnya, karena setiap ceritanya sangat unik dan menggugah selera penikmat horor.

Nah, September 2025 ini, dirilis film The Long Walk di banyak sinema Indonesia, yang berbeda dengan karya horor Stephen King. Film ini lebih ngeri karena mengacu pada unjuk rasa tahun 70an. Jaman tersebut, kisah anak muda AS yang turun ke jalan untuk unjuk rasa, dengan berjalan kaki jauh, memang sedang ramai.

Tetapi, sebelum membahas film The Long Walk, coba dicek terlebih dahulu banyak film adaptasi Stephen King. 

Beberapa film yang perlu dicek dari tahun 80an diantaranya adalah The Shining (1980), Children of The Corn (1984;2009;2020), dan Firestarter (1984;2022).

Di tahun 90an, ada film Misery (1990), IT (1990;2017), Shawshank Redemption (1994), dan Green Mile (1999), yang beberapa kali meraih penghargaan Oscar.

Jaman tahun 2000an, ada film Carrie (2002;2013), Dreamcatcher (2007), The Mist (2007), dan 1408 (2007), yang seluruhnya mengadaptasi kisah horor unik nan absurd dan abstrak ala Stephen King. 

Saat tahun 2010an, banyak film reka ulang, yang sempat ditulis diatas. Namun, ada satu kisah baru adaptasi Stephen King yang cukup unik, yaitu In The Tall Grass (2019), yang mengisahkan sekeluarga terjebak di area ladang jagung terbengkalai.

Satu lagi ada Pet Sematary (2019), yaitu reka ulang tahun versi tahun 1989, yang dioprek hingga lebih mengerikan dari versi pertamanya. Bahkan, film ini memiliki plot twist khusus, yang sayangnya tidak dilanjutkan di film keduanya.

Tahun 2020an, film Stephen King kembali dengan gaya absurd horor, di film Salem's Lot (2024), yang lebih mengisahkan film vampir di sebuah desa kecil. 

Nah, kembali ke film The Long Walk, kisahnya mirip dengan Misery atau The Shining, dimana menceritakan kisah horor unik yang lebih mengacu ke komentar sosial.

Di film Misery, tokoh utamanya adalah seorang penulis terkenal yang diculik oleh penggemarnya, setelah kecelakaan mobil di musim dingin. Selama beberapa bulan lamanya, sang penulis diancam untuk menamatkan naskahnya, sebelum bisa 'bebas' dari rumah tersebut.

Di film The Shining, adalah kisah penulis lainnya, yang berubah menjadi psikopat, karena terganggu oleh mentalnya sendiri di sebuah hotel antik terpencil. Padahal, dia sedang berlibur bersama keluarganya di hotel tersebut.

Khusus The Long Walk, justru menyimbolkan kisah jalan panjang pemuda tahun 70an di AS. Memang, film ini menyimbolkan kekisruhan demonstrasi jalanan AS jaman tersebut, yang kadang berujung konflik, dan semakin meramaikan budaya Hippie di AS.

Berbeda dengan sikap perlawanan pemuda dan pemudi jaman tersebut, anak muda di film The Long Walk justru harus berjalan jauh, demi memenangkan hadiah. Namun, kontestan yang tidak dapat berjalan, atau mengundurkan diri, akan ditembak mati oleh pasukan yang menjaga jalan marathon tersebut. 

Selalu berbeda memang pandangan dan gambaran kisah ala Stephen King. Bagi yang penasaran dengan kisah aneh dari penulis horor legendaris AS, bisa dicek filmnya yang mulai tayang di sinema Indonesia.

Aksi Pasukan Marinir China di Film Operation Hadal

Panas rasanya kaki terbakar (TMDB).

Sudah saatnya para penggemar film mengecek hasil karya negara China. Apalagi dengan dirilisnya film Operation Hadal, yang kini tengah tayang di banyak sinema Indonesia.

Sebelumnya, China dengan film Ne Zha 2 di tahun 2025 ini, mencetak rekor sebagai film animasi terbesar sepanjang masa, dengan pendapatan melebihi 2 Milyar Dolar AS.

Ne Zha 2 memang satu rekor terbesar dunia dari China, namun bukanlah sebuah anomali. Kebangkitan film China memang sudah terasa sejak awal 2010an lalu. Banyak film epik dengan suguhan efek yang memukau, ditelurkan dari negara terbesar Asia ini.

Tidak perlu mengecek jauh, coba cek saja beberapa film epik yang rilis tahun 2025 ini dari China. Dari segi visual, seluruh efek yang ditayangkan sangatlah mantap, bahkan bisa disandingkan dengan film dari Marvel Studios.

Contohnya adalah film laga aksi The Legend of Condor Heroes, yang dirilis bulan Februari lalu. Kembalinya kisah novel hasil karya Louis Cha, berlatar berbeda dengan cerita aslinya, walau masih berada di jaman Tiga Dinasti China.

Tokoh utamanya yang bernama Guo Jing, ingin belajar dan menyatukan seluruh sekolah bela diri di pusat China. Dengan berkelana dan menantang duel banyak sekolah tersebut, Guo Jing ingin menyatukan seluruh sekolah bela diri, demi menghadang invasi Mongol yang datang dari barat.

Berikutnya adalah film Creation of the Gods II: Demon Force, yang berisi kisah fantasi epik melawan siluman dan mahluk aneh lainnya. Bagi yang suka mitologi China, tentu tidak ingin melewatkannya.

Di film ini, Taishi Wen Zhong harus memimpin pasukan Dinasti Shang, demi menjaga benteng kota Fengshen Bang. Kota ini terancam direbut oleh pasukan Yin Shou, yang terkenal fantastis dengan naga dan raksasa magisnya.

Nah, kembali ke film Operation Hadal, justru beralih ke aksi pasukan marinir China. Melihat cuplikannya, ternyata efek dan aksi gelut yang ditayangkan cukup mantap, bahkan menyaingi efek film aksi dari Hollywood. 

Karena cuplikannya langsung menampilkan ranah gelut dan aksi militer tanpa kejelasan cerita, selain latar sebuah kilang minyak yang direbut oleh pasukan bayaran, maka sinopsisnya bisa kita lewati saja.

Tapi, dilihat dari segi latar, properti, serta adegan yang ditampilkan dalam cuplikan, justru terlihat mantap dengan latar sebuah kilang minyak lepas pantai, operasi marinir dalam kapal selamnya, serta aksi heroik ala militer dari China.

Bagi yang penasaran dengan kisah China yang baru merambah dunia aksi modern, bisa ditonton saja filmnya, ya.

5 September 2025

Kisah Rundungan Anak Remaja di Film Cyberbullying

Neira Kanjera (TMDB).

Daaaaan, akhirnya, sebuah film mengisahkan kisah rundungan di dunia internet, berjudul sesuai istilahnya, alias Cyberbullying. Rundungan siber ini memang sering menjadi bahasan para pemerhati sosial, apalagi jika korbannya masih anak-anak atau remaja. 

Khusus bagi penulis sendiri, sebenarnya tidak suka membahas masalah rundungan siber, karena terlalu pribadi, dengan ranah yang terlalu luas dan rancu, yaitu internet.

Istilah meme-nya, seperti orang baru masuk internet, dan heran kenapa isinya orang-orang agresif semua (kayak generasi old yang heran sama internet). 

Atau lebih serius lagi, mengacu pada aktor kulit hitam ternama Hollywood, bernama Morgan Freeman. Khusus untuk ranah rasisme, yang memang kuat terjadi di AS sana, satu-satunya cara untuk menanggulanginya, adalah dengan tidak dibahas sama sekali.

Prinsip Morgan Freeman pun dapat digunakan untuk seluruh masalah yang datang dari grup nyeleneh lainnya, alias LGBBQ. Itulah kenapa grup tersebut terus ramai membahas diri mereka sendiri, layaknya pemasaran produk, padahal kita tidak perlu dan bahkan sangat tidak menyukainya.

Tetapi jangan lupa, ada beberapa grup yang tidak masuk grup tersebut, tetapi selalu mengejar konten mengenai hal tersebut. Entah dari segi jenjang karir, atau dari segi pekerja gimmick lainnya (!)

Bahkan, beberapa kisah rundungan siber, justru bermula dari beberapa kreator, yang mencoba meningkatkan 'kewaspadaan warga', namun berujung konflik besar di dunia nyata.

Aspirasi atau intimidasi, itu semua bagaimana kita menanggapinya. Maka, salah satu jalan terbaik, adalah dengan cara tidak memahaminya sama sekali (!) Mungkin dari segi konservatif, inilah satu cara paling ampuh dalam menghadapinya.

Naaaah, karena sekali lagi, sudah terlalu berat, bahkan beberapa kasus keamanan siber berujung kehilangan nyawa, maka coba kita cek dari ranah fiksinya saja, yaaa.....

Sinopsis Film Cyberbullying

Neira Kanjera adalah seorang siswi SMP yang tengah aktif sekali. Dia cukup terkenal, sehingga banyak yang menyukai dirinya di sekolah maupun media sosial.

Namun, sebuah video tiba-tiba viral, yang menuduh Neira mendorong jatuh temannya dari atas tangga, di lokasi sekolahnya. Padahal, temannya jatuh akibat penyakit yang dideritanya.

Sayangnya, video langsung viral seketika, yang menyebabkan Neira ditarget dimana-mana, termasuk medsos dirinya. Hingga akhirnya fokus Neira untuk sekolah pun hancur, dan menyebabkan dirinya stres berat.

Orangtuanya yang khawatir perlu memindahkan dia ke sekolah dekat rumah nenek-kakeknya. Dari situ, dengan lebih berfokus pada dunia nyata, Neira pun mulai bangkit dari kejatuhan mental dirinya. 

Seluruh kisah film rundungan siber ini bisa ditonton di banyak sinema Indonesia.

Keluarga yang Tengah Berkabung di Film Agape: The Unconditional Love

Rasanya opname di rumah sakit (TMDB).

Naaaah, setelah film sebelumnya yang mengisahkan sebuah keluarga disfungsional, bagaimana dengan film Indonesia selanjutnya berjudul Agape: The Unconditional Love.

Film Indonesia ini, turut sudah tayang di sinema, dan lebih mengisahkan suatu momen paling sedih bagi keluarga. Yaitu, momen saat kita harus berjibaku dengan masalah kesehatan anggota keluarga, hingga ke rumah sakit.

Selain tentunya menguras keuangan (alias BPJS), seluruh anggota keluarga pun harus ikut membantu. Walau tidak ikut menerapkan praktek medis, tetapi kehadiran keluarga tetap menjadi bantuan mental bagi pasien yang sedang dirawat.

Keadaan seperti itu pun menguras tenaga serta suasana hati anggota keluarga, karena harus berhadapan dengan ketidakpastian hasilnya. Selain mengecek layanan kesehatan, tentu banyak momen saat anggota keluarga perlu menunggu pasien.

Dewi Yull, Samuel Rizal, dan Maudy Koenaedi di Film Agape (TMDB).

Nah, khusus dari cuplikan film Agape: Unconditional Love, karakter utamanya adalah seorang ibu bernama Sania, yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi. Yang ingat, tentu mengenal nama Maudy sejak perannya sebagai Jaenab di sinetron Si Doel: Anak Sekolahan, tahun 90an lalu.

Aktor-aktris kawakan lainnya adalah Tio Pakusadewo dan Meriam Bellina, yang memerankan sepasang suami-istri Yoshua dan Martha. Kedua tidak ada hubungannya dengan Sania, tetapi saling mengisi adegan film yang mayoritas terjadi di rumah sakit.

Aktris yang sama kawakan lainnya adalah Dewi Yull, yang mengisi peran sebagai Dokter Pujianti. Aktor jaman 2000an pun muncul pula, yaitu Samuel Rizal yang memerankan Bimo.

Beberapa wajah aktor dan aktris lain pastinya terlihat familiar, karena itu coba dicek langsung saja filmnya. Tapi, bagi yang mencoba untuk menonton cuplikannya, mungkin kurang ngeh dengan seluruh adegan yang ditampilkan.

Sepasang muda-mudi yang kasmaran di rumah sakit (TMDB).

Banyaknya karakter, tidak jelasnya hubungan karakter, latar yang kebanyakan terjadi di rumah sakit, serta urutan adegan yang tidak berurutan, tampaknya cukup menyulitkan untuk mengerti plot utama film ini. 

Namun, dari segi visual dan beberapa dialog karakternya, penonton pasti cukup mengerti, apalagi yang sudah berpengalaman di rumah sakit, mengenai maksud 'khusus' dalam film Agape: The Unconditional Love ini.

Memo Keluarga ala Film Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah

Wulan, Alin, Anis, dan Asya yang sedang merayakan ultah Nando (TMDB).

Momen saat ini mungkin sudah berbeda, tetapi dari satu waktu ke waktu lainnya, keluarga tetap menjadi bagian utama bagi diri pribadi. Tanpa keluarga, tidak ada pribadi yang sanggup menapaki hidup, dengan cara apapun juga.

Itulah yang diangkat dalam sebuah film Indonesia pada awal September ini, berjudul Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah. Walau judulnya agak fantastis, setelah menonton cuplikannya, ternyata cukup berbeda kesannya. 

Kisahnya menceritakan sebuah pertentangan batin, dimana satu keluarga yang kurang bersatu dengan ayahnya. Ayah yang seharusnya menjadi sosok pemimpin, malah santai tidak jelas, sementara ibu menjadi sosok penopang utama keluarga.

Sedikit Kisah di Dunia Nyata

Kadang, kisah seperti ini terjadi di dunia nyata, saat sebuah keluarga memiliki sosok (atau semua anggotanya) disfungsional didalamnya. Lebih parah lagi, sosok tersebut adalah ayah atau ibunya, yang seharusnya menjadi penopang utama.

Keadaan tersebut pun bisa berlarut-larut, bahkan hingga anaknya telah keluar dari kartu keluarga, dan menjalani hidup bersama pasangannya. Banyak kasus keluarga disfungsional, kini tengah diteliti oleh pemerhati sosial. 

Keluarga disfungsional, berarti mereka terbentuk hanya sekedar dokumentasi saja, sementara beberapa anggotanya, selama bertahun-tahun, menapaki hidup tanpa berhubungan baik satu sama lainnya. Padahal, mereka tinggal di satu rumah, dan belum ada satu anggota pun yang memiliki kartu keluarga baru.

Kasus tersebut pun terjadi pada seluruh tingkatan sosial dan ekonomi, dengan budaya, adat atau agama manapun juga, sehingga cukup merata dari aspek masyarakat manapun.

Aspek diatas hanya stereotipe Indonesia saja, karena kasus tersebut banyak terjadi karena kurangnya kewaspadaan hukum mengenai KDRT dan perselingkuhan, serta kesiapan mental, fisik, dan ekonomi para anggotanya. Kawin-cerai di Indonesia pun masih memakai sistem talak, sehingga makin menyulitkan kondisinya.

Mungkin karena budaya malu atau kekerabatan, kasus tersebut terjadi akibat sebuah keluarga ingin terlihat menyatu, sehingga mirip dengan keluarga (normal) lainnya. Bukanlah solusi, tetapi dilaksanakan demi menghindari konflik berlebih (!)

Tampaknya sudah terlalu berat, dan bukan masalah poligami seperti film2 Indonesia lainnya (!), jadi coba kita cek sinopsisnya saja.

Sinopsis Film Andai Ibu Tidak Menikah Dengan Ayah

Saat beasiswa sekolah medisnya terancam akan dicabut, Alin (Amanda Rawles) yang telah lama meninggalkan rumahnya demi kuliah, akhirnya kembali bersama keluarganya. 

Sayangnya, setelah kembali, apa yang dilihat dari keluarganya adalah kondisi yang memprihatinkan. Ayahnya, Tio (Bucek Depp), kerjaannya hanya maen judol, dan kurang membantu keluarganya. Sementara ibunya, Wulan (Sha Ine Febriyanti) harus seorang diri berjualan sayur di pasar, demi menghidupi seluruh keluarganya. 

Keadaan pun semakin diperparah dengan rumahnya yang bukan hanya bocor, namun kurang sanggup mengisi kegiatan sehari-hari. Wulan yang harus berjualan, ditambah Anis (Eva Celia), Asya (Nayla D Purnama), dan Nando (Bintang Alvarendra Soemardi) yang masih sekolah, tambah menyulitkan keadaan di rumah.

Di saat itulah Alin menemukan sebuah buku diari Wulan, yang mengisahkan catatan ibunya saat masih muda. Dari buku tersebut, Alin memahami kisah masa muda Wulan, yang membuatnya tertegun.

Alin yang memiliki keyakinan untuk bekerja dulu sebelum menikah pun, berpikir kembali mengenai tujuannya tersebut. Bagaimana jika ibunya tidak memutuskan untuk menikah dengan ayah, dan melanjutkan pendidikannya dahulu?

Kelanjutan kisahnya dapat ditelaah kembali di seluruh sinema Indonesia.

4 September 2025

Horor Kanibalisme ala Jakarta di Film Labinak

Ritual aneh para pengabdi jurig (TMDB).

Akhirnya, kembali pula kita ke ranah film Indonesia. Film Labinak mengisahkan sebuah perjuangan guru honorer, di masa tengah sulitnya mencari 'posisi' aman dan nyaman, untuk dapat tayang di sinema Indonesia.

Perlu ditelaah kembali, bahwa latar belakang film Labinak terjadi di Jakarta, dengan karakter berlatar pendidikan. Sulitnya mencari pekerjaan stabil, serta terasa 'rendahnya' pendidikan Indonesia, menjadi penyebab utama sulitnya mencari pendapatan. 

Apalagi jika wilayahnya yang metropolitan seperti Jakarta, dan daerah sekitarnya, alias Jabodetabek. Hiruk-pikuknya kota 'pusat' tersebut, menambah banyak pembangunan infrastruktur transportasi dan pasar demi ekonomi. Namun, banyak infrastruktur penting bagi keamanan dan kenyamanan warga, malah dihindari.

Tampaknya hanya perlu diingat saja dari segi meme, yang sempat viral di berbagai media sosial. Sampai ada yang menyebut secara lucu, bahwa pencari kerja harus bermodalkan kemampuan mengendalikan empat elemen, agar bisa mulai bekerja.

Nah, bagaimana film Labinak ini? Justru kisahnya lebih berbahaya lagi, mirip dengan kisah film Battle Royale (2000) dari Jepang. Battle Royale memang sangat simbolis nan kompetitif, dimana para muridnya harus saling 'membunuh' satu sama lain, agar 'lulus.'

Nah sekali lagi, untungnya film Labinak tidak mengisahkan tawuran antar siswanya, namun mengacu pada gurunya sendiri. Dari cuplikannya, tokoh utamanya 'secara aneh' diberikan fasilitas yang 'royal' alias mewah, agar bisa mengajar di sekolah swasta mereka, setelah berhenti menjadi guru honorer.

Walau begitu, perlu diingat bahwa film Labinak ini memiliki banyak adegan sadis, dengan bumbu kanibalisme pula! Mungkin film ini kurang cocok dengan penggemar kasual, bahkan bagi yang menyukai film horor jurig.

Sinopsis Film Labinak

Najwa Andini (Raihaanun) adalah seorang janda, beranak satu, yang bekerja sebagai guru honorer. Walau hidup sulit, Najwa tetap bertekad agar anaknya, Yanti (Nayla D Purnama) tetap bersekolah hingga sukses nanti. Sayangnya, keuangan yang sulit, menyebabkan rumah mereka semakin sulit ditinggali.

Hingga sebuah ajakan menggiurkan pun tiba pada Najwa, yang menawarkan posisi sebagai guru di sekolah swasta. Tawaran tersebut meminta mereka pindah ke Jakarta, dengan fasilitas rumah dinas, beasiswa bagi Yanti, dan gaji yang memuaskan.

Najwa pun akhirnya pindah ke rumah barunya di Jakarta, bersama Yanti yang sumringah atas potensi dirinya yang aman. Namun, belum lama tinggal, banyak penampakan aneh di rumah tersebut.  Najwa dan Yanti panik, dengan menyatakan bahwa rumah mereka berhantu.

Namun, Lusius Thomas (Arifin Putra) berpendapat, bahwa kepanikan mereka terjadi karena baru saja pindah, dan mereka belum, sekaligus akan siap untuk menjadi bagian dari 'keluarga' mereka. Justru, penampakan hantu semakin sering terjadi di rumah tersebut, yang menambah panik Najwa dan Yanti.

Akankah Najwa dan Yanti berhasil menguak misteri rumah tersebut? Atau malah tergoda atas iming-iming hidup makmur bersama 'keluarga' aneh pemilik sekolah tersebut?

Jawabannya bisa ditonton ala pendidikan horor di sinema-sinema Indonesia.

Vampir Perancis Pemangsa Wanita di Film Dracula: A Love Tale

 

Ahli supernatural yang berhasil menangkap vampir (IMDB).

Vampir memang sudah menjadi kisah horor yang mendunia. Banyak referensi vampir, dari berbagai negara, yang bermula bahkan sejak jaman kerajaan kuno.

Kisahnya pun menginspirasi film yang kini tengah tayang di Indonesia, berjudul Dracula: A Love Tale. Film yang dibuat oleh sineas Perancis ini, mengisahkan kembali sang raja vampir, yaitu Drakula itu sendiri.

Drakula adalah tokoh vampir yang cukup terkenal, khususnya dari Transylvania (sekarang Romania), dan beberapa novel karya Bram Stoker tahun 1897 lalu. 

Referensi awalnya adalah kisah kerajaan Walachia saat abad 15 lalu, yang dipimpin oleh Vlad Tepes Draculae, dengan kecenderungan sadis menusukkan pasak setinggi tubuh pada musuh kerajaannya. Rumor bahwa Vlad Draculae suka meminum darah korbannya, memicu pula kisah 'vampir' di jaman tersebut.

Kisah Vlad pun semakin fantastis, karena jaman tersebut berkembang menuju era Renaisans. Jaman tersebut, kisah aristokrat yang semena-mena, hedon, korup, menyepelekan rakyat, dan 'awet muda' menjadi tema tersendiri bagi seniman jaman Renaisans. 

Maka, kisah vampir pun beralih menjadi sebutan khusus bagi aristokrat jahat. Istilah tersebut awalnya pun dari sebuah frase, yaitu 'pengisap darah' alias lintah, yang berkembang menjadi mitos vampir supernatural. 

Sejak jaman Renaisans hingga Viktoria, kisah vampir tercampur aduk, antara kisah supernatural, atau sebutan bagi aristokrat jahat manapun, seperti anggota monarki, bangsawan, pengusaha kaya, ksatria kerajaan, hingga aparat pemerintah.

Nah, karena referensi awalnya sudah jelas, coba kita cek film Dracula: A Love Tale, dari negara Perancis, yang memang sempat mendalami sejarah 'vampirisme' tersebut.

Sinopsis Film Dracula: A Love Tale

Vlad (Caleb Landry Jones) adalah seorang pangeran kerajaan, yang mengalami mabuk cinta saat abad ke 15 di Eropa. Namun, istrinya terpaksa meninggal muda, akibat terjebak sebuah konflik kerajaan. 

Vlad yang dendam, memilih kafir pada Tuhannya, dan menyebabkan dia dikutuk dengan hidup abadi. Vlad pun hanya dapat meminum darah manusia untuk menghilangkan laparnya. Gigitannya pada manusia hidup, menyebabkan korbannya ikut terinfeksi pula, sebagai vampir lainnya.

Latar kisah pun loncat ke abad 19 di London, saat para ahli supernatural berhasil menangkap wanita muda, yang dianggap seorang vampir bernama Maria (Matilda De Angelis).

Para ahli tersebut menganggap, jika seorang vampir tiba-tiba muncul di daerah kota, maka vampir lainnya sedang berada di wilayah tersebut.Tidak disangka, ternyata yang tiba adalah Vlad itu sendiri, sang vampir pertama nan legendaris. 

Kisah pun beralih pada usaha Vlad, yang kebetulan bertemu seorang gadis muda, berwajah sangat mirip dengan istrinya dahulu. Gadis tersebut bernama Elisabeta (Zoe Blue), yang merasa canggung namun terpikat oleh Vlad.

Akankah Vlad dan Elisabeta kembali bersatu dalam cinta abadi mereka? Atau anggota pemburu vampir yang berhasil menghilangkan kutukan vampir dengan membasmi langsung Vlad?

Jawabannya, dapat disaksikan lewat film Dracula: A Love Tale yang kini tengah kasmaran di banyak sinema Indonesia.

Aksi Kabur dari Mata-Mata Hollywood di Film Relay

Ash yang selalu menengok ke belakang (IMDB).

Mungkin sudah saatnya warga jujur melarikan diri dari banyak keadaan yang membahayakan. Khususnya dari kejaran korporat dan pemerintah korup. Contohnya seperti pada film Relay, yaitu hasil karya Hollywood yang sebenarnya dirilis tahun 2024 lalu, dan baru tayang di sinema-sinema Indonesia.

Relay mengisahkan seorang wanita, yang terpaksa menghindari kejaran beberapa agen. Mereka disewa oleh korporat korup, karena sempat menemukan sebuah dokumen rahasia.

Dokumen tersebut sangat berbahaya, karena sanggup meruntuhkan reputasi serta bisnis korporat tersebut. Sang wanita yang sebenarnya ingin melaporkan dokumen tersebut, terpaksa hidup dengan kekangan, walau tidak bersembunyi sepenuhnya. 

Bagi yang mengenal wajah tokoh utama dalam cuplikannya, Riz Ahmed adalah aktor yang sudah cukup terkenal. Riz sering berkecimpung di film yang disukai kritikus, dan dimengerti penontonnya, karena menyajikan cerita yang unik.

Mulai dari film wartawan aneh, berjudul Nightcrawler (2014), seri terakhir film Jason Bourne (2016), film sains fiksi Rogue One: Star Wars Story (2016). Bagi penyuka anime, Weathering with You (2019) pun diisi oleh Riz, sebagai pengisi suara berbahasa Inggris.

Lily James sebagai lawan mainnya pun cukup mumpuni. Sempat terkenal melalui film reka ulang Cinderella (2015) lalu, Lily pun sempat berperan di film aneh berjudul Pride and Prejudice and Zombies (2016).

Untuk yang suka film aksi atau ngeri, nama Sam Worthington sudah dikenal sejak memerankan film tersukses sepanjang masa, yaitu Avatar (2009). Sam pun sempat kembali di film sekuelnya, Avatar: The Way of Water (2022).

Sinopsis Film Relay

Film dimulai saat Sarah (Lily James) meminta program perlindungan saksi, untuk dirinya sendiri. Sarah secara 'kebetulan' menemukan sebuah dokumen, yang menguak rahasia berbahaya suatu perusahaan.

Namun, agen resmi pemerintah tidak dapat membantunya sama sekali. Mereka menganggap, perusahaan tersebut terlalu berbahaya jika langsung diinvestigasi oleh pemerintah AS.

Agen tersebut justru menyarankan agar Sarah menunggu kabar dari sebuah agensi 'tidak resmi.' Mereka berkecimpung dalam masalah berat, yang terlalu beresiko jika pemerintah ikut campur.

Sarah pun tiba-tiba dikirimi sebuah mesin ketik elektronik tua, yang seharusnya digunakan untuk tunarungu. Melalui mesin ketik tersebut, Sarah berkoordinasi tanpa disadap melalui teleponnya, untuk mengamankan diri dan kediamannya.

Tidak lama, sekelompok orang asing mencurigakan, yang dipimpin oleh Dawson (Sam Worthington) pun muncul di sekitar kediaman Sarah. Sarah selalu melaporkan gerak-gerik mereka, kepada agensi yang terus menghubunginya.

Hingga akhirnya, Ash (Riz Ahmed), seorang agen lapangan, perlu turun langsung mendekati kediaman Sarah. Sarah yang masih memiliki dokumen rahasia, dan dibuntuti oleh agen Dawson, menyebabkan Ash perlu intervensi keduanya.

Akankah Sarah selamat untuk menyampaikan isi dokumen tersebut? Ataukah Ash yang dapat mengamankan keduanya? Atau malah Dawson yang berhasil merebut kembali dokumen dan membungkam Sarah?

Jawabannya dapat dicek di film Relay, yang kini tengah tayang di seluruh aksi mata-mata ala sinema Indonesia.

29 Agustus 2025

Animasi 2D Mantap dari Indonesia ala Panji Tengkorak

Panji yang masih terbelenggu kutukan ilmu hitam (TMDB).

Merdekalah penggemar film gelut klasik Indonesia, karena film animasi dua dimensi Panji Tengkorak telah rilis dan tayang di banyak sinemaSelama beberapa bulan, sinema Indonesia diisi oleh film animasi Jumbo, yang lebih mengacu pada tema keluarga. Animasinya memang ciamik, sehingga sayang lebih untuk dilewatkan.

Nah, khusus yang menunggu film aksi gelut lagi dari Indonesia, dengan visual yang lebih sangar nan berbahaya ala dua dimensi klasik, Panji Tengkorak adalah sensasi khas tersendiri. Filmnya sendiri diadaptasi dari komik klasik Indonesia, yang dirilis pada tahun 1960an lalu, sebagai hasil karya Hans Jaladara.

Telah beberapa kali Panji Tengkorak diadaptasi pada media lain, diantaranya adalah film layar lebar pada tahun 1970an, hingga sinetron televisi pada tahun 1990an lalu.

Sedikit Referensi Film Panji Tengkorak

Mirip dengan kisah para ksatria atau raja terdahulu, pendekar kadang mengisolasi diri diatas gunung, untuk melatih ilmu silat bersama gurunya. Para pendekar berlatih keras hingga menjadi sakti mandraguna. Kadang, mereka hanya turun gunung demi meraih suplai makanan dan lainnya.

Dengan topeng tengkoraknya, memang kisah Panji Tengkorak lebih gelap dari pada kisah gelut silat biasanya. Kala itu, Panji terpaksa turun gunung demi menemui istrinya, Murni yang meninggal dunia akibat kawanan bandit. Tidak rela, Panji pun melancarkan misi balas dendam, dengan mengaktifkan ilmu hitam miliknya.

Panji memang seorang pendekar spesial, sebagai satu-satunya murid perguruan Nagamas. Perguruan Nagamas memang bermasalah dengan banyak padepokan silat lainnya. Teknik silat dari Nagamas sangatlah berbahaya dan brutal, dan bahkan bisa mengaktifkan ilmu hitam yang tidak hanya mematikan, tetapi merusak penggunanya sendiri.

Balas dendam memang mematikan dua arah, layaknya tongkat yang seharusnya digunakan untuk membantu Panji berjalan. Tersembunyi pula dua belati panjang didalamnya, untuk membasmi siapa pun yang mengancam dirinya.

Bahkan, topeng tengkorak yang digunakan Panji bukanlah ornamen saja, tetapi milik almarhumah Murni, istrinya sendiri! Sengaja diukir agar dapat dipakai sebagai topeng, Panji menganggap bahwa identitas dirinya tidaklah penting, dan hanya mengacu pada kematian Murni saja.

Seluruh kisah Panji Tengkorak dapat dibaca melalui perilisan kembali buku komiknya, yang berisi lima serial dan dirilis ulang oleh Falcon Publishing, tahun 2025 ini.

Justru, filmnya yang dirilis bulan Agustus ini berbeda dengan komiknya. Walau begitu, ceritanya dipaket dengan padat pada awal film, sehingga penonton bisa memahami alur cerita tanpa membaca komiknya terlebih dahulu. 

Sesuai sekali lansiran singkat ala sinema Indonesia ini, ya...

Sinopsis Panji Tengkorak

Panji (Denny Sumargo) adalah seorang pendekar yang terkenal hebat di seluruh Nusantara. Dengan nama Panji Tengkorak serta topengnya, banyak yang merasa takut akan kehadiran dirinya.

Padahal, Panji sudah 'setengah mati,' akibat kutukan yang menimpa dirinya. Setelah selesai membalaskan dendam istrinya, Panji kini tidak bisa 'mati,' akibat ilmu hitam yang tetap membelenggu jiwanya.

Beberapa lama telah terlampaui, semenjak dirinya hanya sanggup berkelana tanpa arah. Kebetulan, seorang pendekar tua meminta Panji untuk mencari sebuah pusaka keramat, warisan miliknya yang hilang dicuri bandit. Konon, pusaka tersebut bisa membebaskan dirinya dari belenggu ilmu hitam.

Tertarik dengan pusaka tersebut, Panji pun menerima permintaan untuk mengembalikannya. Namun, tidak seperti saat membalas dendam, Panji malah terjebak peperangan antar dua kerajaan. Tidak menyerah begitu saja, Panji terus mencoba meraih pusaka tersebut, dan membuka takdir gelap dari masa lalunya. 

Tersasar di Gunung Bersama Jurig Sunda di Film Pencarian Terakhir

 

Drupadi bersama kawan-kawannya di Gunung Sarangan (TMDB).

Akhirnya, ada satu film horor yang cukup menarik dari Indonesia di bulan Agustus ini, berjudul Pencarian Terakhir. Film horor ini mengisahkan sebuah kengerian yang sudah cukup akrab bagi para penggemarnya, yaitu tersesat di gunung pendakian.

Keramatnya Gunung dan Hutannya

Bagi penggemar cerita horor, khususnya di Indonesia, memang gunung sering diartikan sebagai lokasi sakral. Tidak hanya iklim tropis yang membentuk daerah gunung cukup kompleks, Indonesia memiliki banyak gunung yang dianggap keramat atau bahkan mistis.

Memang dari kepercayaan tradisional Indonesia, gunung memiliki maksudnya tersendiri. Banyak yang percaya, bahwa gunung adalah tempat bersemayam banyak kekuatan ghaib. Jadi, jika ada pantangan (atau weton) dari warga sekitar, maka seorang pendaki harus mematuhinya saat memasuki gunung. 

Terlebih lagi jika baru menapaki gunung tersebut. Selain mematuhi arahan dari tim penjaga gunung (tim SAR diantaranya), pendaki harus menghormati keadaan alam di sekitar gunung. Pastinya, berdoa dahulu kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah awal yang dibutuhkan setiap pendaki.

Beberapa cerita horor dari gunung pun bisa kita telaah, mulai dari tersasar (sendiri atau kelompok), kesurupan, penampakan siluman, suara binatang aneh, suara gamelan tradisional, ajakan pasar malam, suara bayi menangis, paniknya binatang pemandu pendaki, hingga ritual mistis penganutnya.

Seluruh fenomena mistis diatas pun bisa terjadi pada siang hari, saat gunung sedang terlihat indah nan cerah. Walau tidak bisa disebut lengkap, tetapi setiap fenomena tersebut bisa terbilang unik. 

Berbeda dengan jurig lainnya seperti kuntilanak, genderewo, buta hejo, kelong wewe, wewe gombel, jelangkung, pocong, tuyul, jenglot, sundel bolong, kuyang, leak, dan jurig konten, fenomena mistis di gunung adalah khas gunung tersebut, dan sangat berbeda dengan daerah rural atau urban.

Kepercayaan utama dari setiap gunung, adalah memiliki suatu sosok karuhun (leluhur) yang masih bersemayam. Mereka berbentuk ghaib, dan menjadi acuan bagi ksatria dan raja kerajaan kuno terdahulu, untuk memantapkan ilmunya. Selain berlatih fisik, semedi akan dilaksanakan sebagai ritual pemungkas mereka. 

Buktinya bisa dilihat hingga sekarang. Banyak ritual tradisional (khususnya di daerah Jawa), yang mengacu pada gunung. Tidak hanya ritual, bukti prasasti di gunung, sebagai tanda terima dari kerajaan pun, mengacu pada hal tersebut.

Penulis sendiri sempat menyaksikannya langsung, yaitu di sekitar area wisata Punclut, tepatnya di Curug Dago. Walau lokasinya dekat jalan dan mudah diakses, ternyata berisi sebuah prasasti di sekitarnya. Prasasti pun berasal dari seorang raja terkenal di luar negeri, yaitu dari Thailand.

Nah, sekarang coba kita cek sinopsis film Pencarian Terakhir, yang dari cuplikannya saja sudah mengisyaratkan istilah weton dari suku Sunda.

Sinopsis Film Pencarian Terakhir

Drupadi (Adzana Shaliha) adalah seorang piatu yang telah kehilangan ibunya, Sita (Artika Sari Devi), saat masih berumur 10 tahun. Ibunya hilang di Gunung bernama Sarangan, yaitu sebuah gunung pendakian di daerah Jawa Barat.

Kejadian naas saat dirinya masih kecil, menyebabkan hubungan keluarga Drupadi dan ayahnya, Tito (Donny Alamsyah) menjadi renggang. Tito masih trauma saat kehilangan istrinya, sehingga emosional setiap kali melihat anaknya, padahal umurnya terus bertambah.

Tidak ingin kenangan ibunya sirna begitu saja, Drupadi yang telah berumur gadis muda, bersitegas untuk mendaki gunung dimana ibunya hilang. Tentu dia berangkat bersama beberapa temannya, yaitu Raka (Razan Zu), Maya (Dinda Mahira), Ucok (Fatih Unru), Jamal (Fadi Alaydrus), dan Nurul (Alika Jantinia).

Tim yang cukup solid untuk mendaki gunung, karena dapat saling membantu melalui sulitnya medan di pegunungan. Sayangnya, belum lama menaiki gunung, beberapa kejadian aneh mulai menimpa mereka.

Sementara di kaki gunung, kelompok Drupadi bersama lima temannya telah dinyatakan hilang. Mereka tidak terlihat selama beberapa hari lamanya, yang biasanya menjadi batas waktu pendakian.Tito yang tetap traumatis, lalu melapor ke tim pencari dan penyelamat korban (SAR), atas kehilangan anaknya. 

Namun, permintaan ditolak, karena memang rumor dan kejadian mistis di Gunung Sarangan sudah mengakar bagi setiap warga di sekitarnya. Terdapat beberapa weton yang mungkin dilanggar grup Drupadi, dan tidak ingin diulangi lagi oleh para anggota tim SAR, saat mendaki kembali Gunung Sarangan.

Bersikeras, Tito pun mendesak agar operasi penyelamatan tetap dilaksanakan, walau melalui medan yang sulit, serta weton yang dilanggar oleh banyak pihak. Tidak hanya untuk menemukan anaknya, momen pencarian ini mungkin menjadi petunjuk atas hilangnya Sita, bertahun-tahun yang lalu.

Dapatkah sepasang ayah-anak ini berhasil saling menemukan satu sama lainnya? Dan mungkinkah petunjuk mengenai hilangnya Sita terkuak? 

Jawabannya bisa dicek di film Pencarian Terakhir, yang kini tengah tersasar di lebatnya konten ala sinema Indonesia.