28 Agustus 2025

Dua Film Animasi Legendaris dari Ghibli Tayang Ulang di Indonesia

 

San yang tengah menunggangi serigala raksasa (TMDB).

Di bulan Agustus ini, film masih ramai dengan rasa kemerdekaan. Bahkan sinema Indonesia, merilis beberapa film dari Jepang, yang berformat anime. Film yang dipilih pun cukup legendaris, karena berasal dari studio animasi ternama Jepang, yaitu Studio Ghibli

Sejak didirikan tahun 1985 lalu, Studio Ghibli telah menelurkan beberapa animasi legendaris yang dikenang sampai sekarang. Saking hebatnya, berbagai jenis penghargaan diraih Ghibli, setiap kali merilis filmnya.

Khusus untuk yang dirilis bulan Agustus di Indonesia, temanya cukup mirip, yaitu berjudul Hotaru no haka (Grave of Fireflies;1988). Satu lagi adalah Mononoke-hime (Princess Mononoke;1997), yang masih sesuai dengan khas karya Ghibli, yaitu cerita fantasi mengenai hubungan alam dan manusianya.

Film Hotaru no haka (Grave of Fireflies)

Film pertama, Hotaru no haka, adalah salah satu kisah sukses nan berbeda dari Studio Ghibli, yang berlatar kehidupan Jepang saat akhir Perang Dunia 2, tahun 1945 lalu. Plotnya pun cukup dalam, yaitu mengisahkan sepasang yatim-piatu, adik-kakak, yang harus bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orangtua, atau bahkan orang dewasa lainnya.

Dalam cuplikannya, terlihat Seita (Tsutomo Tatsumi) sang kakak laki-laki, dengan adik perempuannya yang bernama Setsuko (Ayano Shiraishi), tengah berjalan dengan hanya berdua saja. Rumah mereka telah terbakar habis, dan tanpa kehadiran orangtua, mereka harus bertahan hidup. Adik-kakak tersebut akhirnya menemukan serangkaian bunker, yang menjadi hunian sementara mereka. 

Sementara di kota, banyak lokasi telah menjadi puing reruntuhan akibat serangan. Seita yang sempat menyaksikannya, terpaksa bertahan di bunker, karena kota bukanlah pilihan yang baik di masa tersebut.

Jadi, bagaimanapun kisahnya, bahkan Jepang sebagai penindas saat momen sejarahnya, korban sipil terus berjatuhan tanpa henti, dan menghentikan hampir seluruh perkembangan yang ada dan tercapai sebelumnya.

Terbalik dengan istilah latin 'Si vis pacem parabellum,' yang berarti 'saat masa damai, maka bersiaplah untuk perang,' justru tidak ada satupun hal yang didapat dari konflik bersenjata jenis apapun.

Hanya satu yang dimenangkan dari peperangan, yaitu kedamaian, yang tentu tidak butuh perang untuk mempertahankannya. Kedamaian dicapai dengan membangun, sementara konflik hanya mampu menghancurkannya.

Film Mononoke-hime (Princess Mononoke)

Berikutnya adalah film yang lebih mengacu pada fantasi, dengan berlandaskan mitologi dari Jepang dan Ainu sekaligus dalam satu latar, berjudul Mononoke-hime (Princess Mononoke). Film Mononoko-hime adalah kisah yang mengutamakan visual bagus, dan distrudarai serta ditulis oleh sineas legendaris dari Ghibli, yaitu Hayao Miyazaki.

Kisahnya memang mengacu pada fantasi mitologi di kepulauan Jepang, dimana banyak hewan fantastis, siluman, hingga bahkan Dewa (Kami) yang berkeliaran bebas bersama manusia. Walau begitu, perkembangan manusia pun sudah cukup maju, karena terlihat manusia sudah dapat menggunakan senapan, yang tentu lengkap dengan peluru dan bubuk mesiunya.

Dilihat dari cuplikannya, Ashitaka (Yoji Matsuda) adalah seorang ksatria dan pangeran muda. Saat tengah berburu babi hutan kolosal, bersama rusa raksasa tunggangannya, dia terkena kutukan aneh. Dukun lokal memberinya saran, bahwa Ashitaka harus pergi ke barat, demi menghilangkan kutukannya.

Saat tiba di barat, Ashitaka sempat bertemu dengan San (Yuriko Ishida), yang tengah beristirahat bersama keluarga serigala putihnya, di pesisir sungai. San yang tidak ingin bertemu manusia lain, melarikan diri bersama kawannanya.

Ternyata, setelah sampai di kota dan bertemu dengan warga setempat, Ashitaka menyadari bahwa sedang terjadi konflik antara Kota Besi dan kawanan San. Kedua pihak berseteru akibat perebutan wilayah, yang dipertahankan dengan sengit oleh keduanya. Kota Besi ingin memperluas wilayahnya, sementara San tidak ingin hutan kediamannya diganggu. 

Kota Besi pun berpendapat, bahwa jika konflik ingin selesai, maka San bersama kawanan serigalanya harus dibasmi. Demi menargetkan tujuan utamanya sekaligus, pasukan Kota Besi harus menghabisi pula dewa leluhur setempat, agar hutannya dapat digunakan bebas.

Ashitaka pun terjebak diantara kedua belah pihak, padahal dia harus mencari cara agar dapat terbebas dari kutukannya. Ashitaka akhirnya perlu mendalami konflik tersebut, sementara badannya semakin sakit.

Dilihat dari segi visualnya, memang mengacu pada dua budaya berbeda di Jepang. Ashitaka dan manusia dari Kota Besi, telah menggunakan baju yukata dan senjata, yang sesuai dengan tradisi ala Jomon dan Yamato. Sementara dari sisi San, terlihat bajunya seperti suku Ainu, yang jelas terlihat kesukuannya.

Walau sebenarnya di dunia nyata tidak sempat terjadi konflik antara Jomon dan Yamato yang berasal dari dataran utama Asia, dengan suku Ainu yang berada di wilayah utara (sekitar) Hokkaido, namun film ini menjadi simbol khusus akulturasi keduanya di Jepang.

Sekali lagi, memang fiktif, tetapi sebuah kisah dapat membuat simbol sebagai referensi atas apa yang telah terjadi di dunia nyata, dengan maksud yang lebih dramatis (!)

Nah, bagi yang penasaran dengan kedua film tersebut, kini tengah tayang di banyak petualangan epik ala sinema Indonesia.

Suami-Istri Isekai Jepang yang Tertukar Peran di Film Shiranai Kanojo

Riku dan Minami saat masih hangat-hangatnya (TMDB).

Di bulan kemerdekaan ini, saat Indonesia tengah merayakan hari jadi ke 80-nya, kita masih mendalami sulitnya menapaki hidup sebagai warga negara berkembang. Umur negara kita memang masih terbilang 'muda.'

Internet Saat Ini

Mengacu pada umur muda, jaman generasi milenial hingga gen-z saat ini, dimana internet adalah keseharian yang dilalui, dan bahkan dibutuhkan dari banyak segi formal. Maka, literasi internet sudah sangat tinggi sekali di Indonesia.

Tidak hanya literasi internet yang cukup kuat, buktinya pengguna internet aktif Indonesia sangatlah banyak, dengan pencapaian rekor dunia sebagai negara paling banyak komentar sedunia!

Berarti generasi saat ini dari Indonesia tengah ekspresif, dan sangatlah terbuka dalam mengemukakan karakternya. Dengan terpaan berita dan pemerintah yang sering memancing, kedewasaan menyikapi media dan peran generasi muda sekarang sudah dapat diandalkan, bahkan melebihi banyak generasi sebelumnya.

Walau dunia musik agak berkurang secara 'mainstream,' justru dari segi internet para kreator seni masih aktif berkreasi dengan sangat menarik, hingga kini dan semoga mendatang.

Film Shiranai Kanojo dan Aktor-Aktrisnya

Nah, kisah para seniman kini coba diangkat oleh film berjudul Shiranai Kanojo, atau My Beloved Stranger. Film ini berasal dari Jepang, yang kebetulan sempat sekalian 'berperan' pula saat kemerdekaan kita 80 tahun lalu.

Nah, di film Shiranai Kanojo, para penggemar lagu pop Jepang (J-Pop) pasti kenal dengan pemerannya. Milet alias Miro Kamishiraishi, adalah pemeran utama wanitanya, sebagai Minami Maezono. Milet mengisi bersama aktor Kento Nakajima yang berperan sebagai suaminya, yaitu Riku Kambayashi.

Kemampuan Milet sebagai penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi, tampaknya mencari tantangan baru di film ini. Mengisi filmnya dengan musik latar berjudul 'I Still,' Milet pun masih berperan langsung di filmnya sendiri. Kento Nakajima sebagai lawan mainnya adalah seniman lengkap lainnya, yang berkecimpung pula sebagai penyanyi, aktor, dan pengisi suara di ranah hiburan Jepang.

Sebelumnya, Milet sempat naik pamor di seluruh dunia, sebagai pelantun lagu utama pada anime Frieren: Beyond Journey's End. Anime ini memang sempat viral sedunia pula, dengan latar ceritanya yang berbeda.

Frieren berlatar cerita epilog dari sebuah kisah fantasi epik, yang telah terlewati 50 tahun lamanya. Anime ini tampaknya menjadi sebuah pengingat, bahwa masa sulit sebenarnya telah terlewati. Hanya tersisa perjuangan sehari-hari, yang memang perlu dibereskan dengan baik dan benar.

Nah, kembali ke film Shiranai Kanojo, tampaknya perlu ditelaah kembali dari segi karakternya. Karena Manami adalah seorang penyanyi panggung, sementara Riku adalah seorang novelis. 

Melihat sisi latar keduanya, yang perlu sangat ekspresif dalam pekerjaannya, sangatlah nyambung dengan jaman media sosial sekarang. Banyak warga biasa yang sering bermain peran di media sosialnya sendiri (atau bahkan dunia nyata), padahal tidak bekerja sebagai streamer, vtuber, atau kreator konten.

Peran tersebut tentu ada baik-buruknya, karena masalah pribadi tetaplah dibatasi aturan privasi tersendiri. Jika para kreator mengalami tahap khusus untuk mendalami perannya sendiri sebagai profesional, nah bagaimana dengan amatir yang suka berperan? Itulah sebuah pertimbangan khusus di jaman media sosial ini.

Dilihat dari cuplikannya, film Shiranai Kanojo tampaknya akan mengisahkan jalinan kedua profesional ekspresif, yang mengalami masalah dalam hubungan mereka sebagai suami-istri. 

Fiktif, tetapi seperti guru SMA terdahulu sempat bilang, bahwa fiksi adalah contoh skenario yang mungkin terjadi. Bukanlah berarti contoh yang perlu diikuti, dan hanya perlu diwaspadai.

Nah, yang terpenting adalah mengisi satu sama lainnya. Makanya coba kita cek sinopsis film untuk menemukan kembali cinta dalam diri ini ya...

Sinopsis Film Shiranai Kanojo

Riku Kambayashi (Kento Nakajima) adalah seorang mahasiswa yang bercita-cita sebagai penulis novel. Sementara Minami Maezeono (Milet) adalah mahasiswi yang bercita-cita sebagai penyanyi.  Keduanya ingin sukses dan terkenal, dalam bidangnya masing-masing.

Keduanya bertemu saat masih kuliah, dan saling jatuh cinta saat pandangan pertama, lalu kedua, hingga ketiga, dan seringkali berikutnya, hingga akhirnya memutuskan menikah saat masih mendalami ilmu di universitas.

Beberapa tahun terlampaui, dan sekarang, Riku telah berhasil menjadi seorang penulis terkenal, yang novelnya laris di pasar literasi. Sementara Minami belum mencapai mimpinya sebagai penyanyi terkenal, dan hanya mengisi harian saja di beberapa kafe musik. Minami kini merasa kurang nyambung dengan suaminya sendiri, yang memang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis.

Suatu hari, sebuah komentar dari Riku sempat memicu pertengkaran keduanya. Keesokan harinya, tiba-tiba dunia terbalik. Riku yang merasa 'isekai,' menemukan dirinya adalah seorang jomblo yang bekerja sebagai editor, dan bukannya penulis novel terkenal. Sementara Minami kini telah sukses, sebagai bintang penyanyi pop di Jepang.

Riku yang penasaran coba mengikuti Minami ke lokasi premier untuk bertemu langsung dengan Minami, namun justru sang istri sudah tidak mengenalinya lagi. Tampaknya dunia memang terbalik, dan temannya yang langsung jengah atas teori 'multiverse' ala Riku, bahkan mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa di dunia ini, khususnya pada Minami.

Riku yang masih penasaran bahkan menguntit ke rumah Minami, bahkan hingga sempat mengobrol dengan neneknya. Saat pulang, Minami yang panik melihat Riku, lalu mengusir dan akan melaporkannya kepada polisi. Namun, neneknya justru mengingatkan, bahwa Riku berperan penting bagi mereka berdua.

Riku bahkan nekat hingga mengajak kencan Minami, yang notabene adalah seorang bintang terkenal di Jepang. Apakah Riku perlu kembali ke dunianya lagi dengan Minami yang masih sama? Atau dirinya malah betah dengan Minami yang sudah menjadi bintang sekarang?

Coba cek jawabannya di film Shiranai Kanojo alias My Beloved Stranger, yang kini tengah tayang di banyak romansa sinema Indonesia.

20 Agustus 2025

Drama Keluarga Ayah dan Anak ala Indonesia, Panggil Aku Ayah

Dedi dan Intan yang menabung untuk masa depan (TMDB).

Ringgo Agus Rahman sebagai aktor kawakan, kembali membintangi film di tahun 2025 ini. Bersama Meysha Lin, mereka mengisi film drama keluarga berjudul Panggil Aku Ayah, yang tengah tayang di sinema Indonesia sejak Agustus 2025 ini. 

Meysha Lin adalah aktor cilik baru naik daun, yang pada bulan Mei lalu mengisi film Sayap-sayap Patah 2: Olivia, bersama beberapa aktor kawakan seperti Arya Saloka, Iwa K, dan Nugie. 

Sebelumnya di tahun 2024, Meysha mengisi film How to Survive a Marriage? bersama aktor bintang yaitu Raditya Dika dan Ariel Tatum. Myesha Lin berikutnya akan mengisi film Pelangi di Mars, yang masih dibintangi oleh aktor kawakan pula, yaitu Rio Dewanto. Aktris cilik kelahiran tahun 2018, ini tampaknya akan terus membintangi banyak film besar di Indonesia, jika dilihat dari sederet aktor dan aktris terkenal yang mengisi film bersamanya.

Walau bertema drama keluarga, tentu Panggil Aku Ayah ini dibawakan dengan santai, ala komedinya pembawaan Ringgo. Sebagai peraih Piala Citra, aktingnya tentu tidak dapat diragukan lagi. Sutradaranya pun sudah sangat mumpuni, yaitu Benni Setiawan yang telah berkecimpung dalam produksi 33 film dan serial di Indonesia.

Lokasi syutingnya pun berada di kota Sukabumi, Jawa Barat, dengan logat khas Sundanya yang kental. Saking kentalnya, warga suku Sunda bahkan tidak bisa berbicara dengan logat tersebut, sama seperti di serial televisi Preman Pensiun.

Memang, Ringgo berasal dari Bandung, dengan kesehariannya yang sering bergaul dengan bahasa Sunda pula, walau kadang dalam mode incognito.

Sinopsis Film Panggil Aku Ayah

Dedi (Ringgo Agus Rahman) adalah seorang penagih hutang (debt collector) yang handal. Saking handalnya, banyak para pengutang yang takut akan kegalakan Dedi. Dedi pun termasuk sukses dimata bosnya, yang mengandalkan Dedi sebagai ahli 'pengamanan keuangan' usaha miliknya. 

Saat tengah menagih hutang dari Teh Rossa (Sita Nursanti), Dedi pun terpaksa 'menculik', anaknya, yang bernama Intan kecil (Myesha Lin). Saat itu, Intan yang bandel niat merebut kembali boneka miliknya, namun malah dibawa Dedi sebagai jaminan hutang ibunya. 

Masalah pun tambah runyam, karena Teh Rossa ternyata telah merencanakan pergi ke luar negeri sebagai TKW. Teh Rossa terpaksa melakukannya, karena takut dikejar hutang sekaligus mencari cara untuk melunasinya. Padahal, Intan masih 'diasuh' oleh Dedi di rumahnya. Telat mendapatkan kabar kepergian ibunya, Intan pun terpaksa tetap tinggal bersama Dedi.

Minggu, bulan, hingga tahunan pun silih berganti, saat Intan masih diasuh oleh Dedi. Status Intan yang belum jelas, tetap menumbuhkan rasa sayang dari Dedi, yang masih mengasuhnya dengan sepenuh hati, batin, jiwa, raga, hingga karakter, sikap, pembawaan dan keuangannya.

Bagaimanakah akhir kisah keluarga yang tiba-tiba saling kenal ini? 

Jawabannya, tentu ada di kocaknya sinema ala Indonesia.

Ironisnya Horor Komedi ala Korea Selatan, My Daughter Is a Zombie

 

Soo-ah yang masih belum selera makan (IMDB).

Tampaknya film zombie Korea Selatan akan terus bermunculan di ranah sinema Indonesia. Kali ini yang tayang di bulan Agustus, adalah film berjudul My Daughter Is a Zombie, yang diisi dengan drama keluarga ala Korsel.

Sebelumnya memang banyak film horor zombie bagus yang dirilis dari Korea Selatan. Diawali oleh Train to Busan pada tahun 2016 lalu, film zombie yang rilis diantaranya adalah Seoul Station (2016), Rampant (2018), The Odd Family: Zombie On Sale (2019), Alive (2019), Peninsula (2020), dan Kingdom: Ashin of the North (2021).

Bahkan dari ranah serialnya, beberapa seri terkenal dan bagus meramaikan tema zombie ini. Diantaranya adalah Sweet Home (2020-2024), Zombie Detective (2020), dan All of Us Are Dead (2022). 

Nah, kali ini justru film drama keluarga yang menyayat hati. Diangkat dari sebuah Webtoon, dengan berformat manhwa, film My Daughter Is a Zombie adalah film yang sempat diangkat pula dari serial kartun di Netflix. Kisah ini menceritakan tentang seorang Ayah, yang harus melindungi anaknya setelah terinfeksi.

Tampaknya ranah zombie di film Korea Selatan kini mulai 'memanusiawikan' kembali para korban infeksinya. Contohnya adalah serial Sweet Home, yang diangkat pula dari serial Webtoon. Satu contoh lainnya adalah serial berjudul All of Us Are Dead, yang beberapa penyintas diantaranya sanggup tidak terinfeksi sepenuhnya, dengan kendali diri ala manusia biasa.

Walau kisahnya terdengar menyedihkan, tetapi adegannya ternyata diisi dengan gaya komedi. Tampaknya film ini cocok bagi yang suka kisah zombie lain, dengan rasa kemanusiaan yang tetap terjaga. Banyak film lain memang mengisahkan zombie sebagai bahan tembak-menembak, atau belah-membelah, di banyak bagian tubuhnya.

Sinopsis My Daughter Is a Zombie

Jung-hwan (Ju Jong-suk) adalah seorang ayah yang bekerja sebagai pelatih hewan profesional. Dia bekerja sambil mengasuh anak semata wayangnya, bernama Soo-ah (Choi Yoo-Ri).

Tanpa disangka, Korea Selatan tiba-tiba diserang oleh infeksi virus zombie, yang menyebabkan kepanikan masal dimana-mana. Jung-hwan dan Soo-ah terpaksa melarikan diri dari pusat kota, menuju desa kediaman ibunya yang bernama Bam-soon (Lee Jeong-eun).

Sayangnya, Soo-ah ternyata telah terinfeksi virus tersebut, sehingga kurang mengenal keluarganya lagi. Seluruh anggota keluarga pun bekerja sama untuk melatih Soo-ah, agar tidak agresif dan menggigit siapa pun.

Sayangnya, program pemerintah Korea Selatan justru memberi hadiah bagi yang berhasil melaporkan penampakan manusia terinfeksi, kapanpun dan dimanapun. Anggota Militer Korsel akan memburu dan membasmi seluruh zombie tersebut.

Saat itulah, perkembangan Soo-ah semakin membaik, yang tidak agresif dan asal gigit. Jung-hwan pun mulai dapat menarik ingatan anaknya, dengan mengajarkan kembali tari, yang memang menjadi hobi Soo-ah saat masih sadar dahulu.

Dapatkah Jung-hwan dan Soo-ah kembali bersatu sebagai keluarga biasa? Dengan banyak kejaran dari masyarakat luas dan pemerintah Korsel beserta militernya?

Jawabannya tentu berada di mirisnya keluarga ala sinema Indonesia.

Horornya Berbagi dan Berhubungan Badan di Film Together

 

Tim dan Millie yang menemukan gua besar di sekitar rumahnya (IMDB).

Mungkin saatnya para aktor dan aktris Hollywood berperan romantis bersama pasangan sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Alison Brie dan Dave Franco, yang keduanya memerankan sepasang suami istri di film Together, dan kini sudah tayang di romansa ala sinema Indonesia.

Tampaknya film ini menyusul sama seperti film sebelumnya yang lebih nyeleneh, yaitu waralaba Quiet Place. Di film Quiet Place, Emily Blunt dan John Krasinki memang menikah di dunia nyata, dan memerankan sepasang suami istri pula di filmnya. Yaaaaang entah kenapa, berinisiatif memiliki anak bayi kembali, padahal seluruh dunia sedang terinvasi oleh alien pendeteksi suara.

Nah, di film Together ini, tampaknya lebih menyerempet pada kisah sepasang muda-mudi yang mengalami masalah 'baru pindah'. Mungkin, memang seharusnya masalah itu terjadi diantaranya keduanya. Film sebagai komentar sosial bukanlah hal baru, walau tentu lebih aneh lagi jika diangkat dalam film horor. Karena, kengerian itu bisa berarti harfiah, atau bahkan simbolis, tanpa adanya unsur 'dramatis' sama sekali.

Pasangan yang baru menikah, lalu pindah, akhirnya memulai hidup baru tentu mengalami banyak tantangan. Tantangan tersebut bukan masalah komunikasi, karena keduanya sedang 'hangat-hangatnya'. Namun, masalah 'logistik' justru yang menimpa banyak pasangan 'baru menikah'.

Nah lagi, bagaimana jika masalah yang muncul berasal dari masalah lain, yaitu mistis. Tidak hanya menganggu kesadaran batin dan ragawi, namun dapat merusak pula mental dan fisik dengan langsung, secara harfiah dan mengerikan. 

Mungkin sutradara film Together ini, Michael Shanks, ingin mengangkat isu sosial, yang digabungkan dengan body horor (horor ragawi). Premisenya adalah tema 'daging-mendaging' yang 'berjumpalitan' untuk mengisi 'satu sama lainnya'.

Sinopsis Film Together

Tim (Dave Franco) dan Millie (Alison Brie) adalah sepasang kekasih yang baru saja pindah ke rumah baru. Mereka pindah dari lokasi lain, menuju lokasi yang jauh dari keramaian dan kurang familiar.

Millie sempat merasa jengah, sehingga perlu berkonsultasi dengan konsultan perkawinan. Millie merasa bukan masalah hubungan mereka, namun lebih kepada rasa takut akan 'berpuas diri' terlalu cepat.

Walau begitu, mereka telah bersama selama beberapa tahun terakhir. Rasa jengah Millie hanya sementara, karena gelora asmara keduanya justru tengah tinggi, seakan hidup hanya berdua.

Namun, lokasi rumah mereka yang agak terpencil, memunculkan banyak masalah baru. Di sekitar rumah mereka, terdapat gua yang cukup besar untuk dijelajahi. Bahkan, ada kemunculan sekte aneh yang melaksanakan ritual di gua tersebut.

Kisah mereka pun semakin aneh, dengan seringnya kejadian daging mereka yang 'menempel' satu sama lainnya, seakan terserap satu sama lain, saat kulit mereka saling bersentuhan. 

Keduanya pun harus mencari petunjuk, apakah wilayah dan rumah misterius yang baru mereka tempati benar-benar aman.

Master Sepuh Jackie Chan Kembali Beraksi di Film Shadow's Edge

Jackie Chan yang masih heran sudah sepuh (IMDB).

Jackie Chan yang telah berumur 71 tahun tampaknya masih giat berkecimpung di banyak film aksi. Jackie Chan memang terkenal sebagai aktor beladiri, yang sering memerankan adegan berbahaya tanpa bantuan pemeran pengganti saat masih muda. Tentu sudah tidak mungkin di usianya yang sudah senja.

Dilansir dari IMDB, bulan Mei 2025 lalu, Jackie masih bermain di film sekuel Karate Kids, dengan sub judul Legends. Dalam film tersebut, Jackie cocok terlihat sebagai master sepuh yang sudah terlihat tua namun masih cekatan.

Nah, di Agustus tahun ini, film Shadow's Edge dari China, 'memaksa' Jackie untuk kembali berperan aksi. Di film yang sudah tayang di sinema indonesia ini, Jackie berperan sebagai pensiunan polisi, yang telah lama tidak bertugas memburu kriminal.

Walau berbeda waralaba, Jackie tampaknya akan melanjutkan sedikit cerita dari film sebelumnya. Sejak tahun 80an lalu, Jackie adalah tokoh utama waralaba film Police Story (1985, 1988, 1992, 1996, 2004, 2013), dengan perannya sebagai polisi bernama Chan Kwok Wing.

Seri filmnya sejak tahun 80an hingga 2010an, film Police Story telah melalui jaman Hongkong sebagai persemakmuran Inggris, sebelum akhirnya kembali bersatu sebagai bagian dari China. 

Serinya yang mencapai enam film, Jackie Chan cocok disebut sebagai aktor beladiri dari Asia paling terkenal di seluruh dunia. Bahkan, kemampuan akting Jackie dites di seri ini, karena dia harus berakting serius, tidak seperti film lainnya yang lebih kocak. 

Khusus untuk film polisi kocaknya, yang paling diingat adalah perannya di ranah Hollywood, melalui seri Rush Hour (1998, 2001, 2007). Di film ini, Jackie berperan sebagai polisi Hong Kong bernama Lee, yang terpaksa mengejar targetnya ke Los Angeles, AS.

Saking kocak dan lincah, tidak ada yang menyangka bahwa Jackie yang belum bisa berbahasa Inggris baik saat itu, sanggup menyatukan dua budaya berbeda dalam satu film. Tentu, aktor kulit hitam Chris Tucker yang kocak, membantu Jackie selama akting di ranah yang bukan kediamannya tersebut.

Sinopsis Film Shadow's Edge

Jackie Chan di film Shadow's Edge berperan sebagai pensiunan polisi bernama Wong Tak-chung. Kali ini, dia harus kembali bertugas, akibat serangan sebuah grup kriminal bernama Wolf Pack, yang gemar kucing-kucingan dengan polisi.

Wolf Pack adalah grup pencuri profesional, yang seringkali kabur dari kejaran polisi dan lihai dalam menyamarkan identitas masing-masing anggotanya. Tidak hanya jago menyamar, mereka juga termasuk ahli bela diri dan persenjataan, sehingga tambah menyulitkan polisi untuk menangkap mereka.

Wong Tak-chung pun harus bekerja sama dengan kepolisian saat ini, yang memiliki alat pemantauan lapangan lebih canggih. Namun, kepolisian perlu mengandalkan insting serta kemampuan sang polisi legendaris ini. 

Bagaimanakah aksi Jackie Chan saat ini? Apakah cukup sebagai pemberi saran dan konsulat saja? Atau perlu gelut langsung, walau sudah sepuh?

Jawabannya, tentu berada di pemantauan keamanan lapangan ala sinema Indonesia.

15 Agustus 2025

Film Terbaru Seri Anime Terkenal, Demon Slayer: Infinity Castle

Zenitsu yang akhirnya bisa serius (TMDB).

Kimetsu no Yaiba, alias Demon Slayer, tampaknya melanjutkan ritual film awal musim, di bulan Agustus tahun 2025 ini. Judulnya adalah Kimetsu no Yaiba: Infinity Castle, yang kini sedang tayang di banyak Otaku sinema Indonesia sejak 15 Agustus.

Anime terkenal dari Jepang ini memang selalu merilis film untuk setiap musimnya, yang hingga kini mencapai tujuh film. Tidak hanya ringkasan, kadang puncak cerita setiap musimnya dirilis dalam bentuk film terlebih dahulu, sebelum dilanjutkan menjadi satu musim anime.

Memang, Kimetsu no Yaiba telah mencapai kepopuleran yang besar di seluruh dunia. Mungkin, banyak otaku dan wibu yang kangen, akan cerita berlatar budaya asli Jepang. Setelah beberapa lama, waralaba anime yang terkenal, sering tidak menceritakan kisah dari latar budaya tradisi Jepang. Bahkan, banyak diantaranya justru mengambil referensi seni populer dari seluruh dunia, yang sangat berbeda dengan budaya asli Jepang.

Padahal, Kimetsu no Yaiba tidak mengisahkan kisah yang terlalu bersejarah. Anime ini justru berlatar saat era Taisho (1912-1926), yang jelas telah masuk abad 20, dan bisa disebut sebagai awal jaman modern.

Koyoharu Gotoge sebagai mangaka-nya, mungkin mengangkat isu perubahan sosial dan masyarakat Jepang, setelah banyak terpapar dunia barat dengan orang asingnya (Gaijin). Jepang saat itu sudah membuka perbatasan untuk negara luar, mulai tahun 1853 lalu, setelah ditutup tahun 1639, saat jaman Shogun Tokugawa.

Manganya pun sangat sukses, dengan hasil penjualan seluruh dunia mencapai 220 juta kopi! Padahal, bagi yang sudah membacanya, justru gaya menggambar Gotoge tidak rapih sama sekali. Tidak terlihat teknik polesan ala digital, dengan gambaran semrawut ala sketsa tangan.

Mungkin sekali lagi, memang dasarnya manga dan anime adalah produk dari Jepang, sehingga kisah berlatar asli Jepang dengan baju yukata dan katana-nya, sangatlah dirindukan penggemarnya. Kisah kesuksean ini mirip dengan populernya manga dan anime Samurai X, yang sempat merajai anime tahun 90an lalu. Masih populer hingga kini, manganya terjual 72 Juta di seluruh dunia.

Terlebih lagi, kisah Kimetsu no Yaiba yang agak abstrak, mungkin menjadi animo tersendiri penggemarnya. Walau berlatar era awal modern, banyak visualnya tidak bisa dinalar harfiah, namun secara simbolis. Padahal, anime ini termasuk ranah shonen, yang menyajikan banyak gelut fantastis.

Sinopsis Kimetsu No Yaiba: Infinity Castle

Setelah film sebelumnya berjudul Kimetsu No Yaiba: Hashira Training, kini kisah Tanjiro bersama pasukan pembasmi iblisnya mulai mencapai titik ujung perjuangan mereka.Tanjiro, Zenitsu, Inosuke dan Nezuko akan memasuki sebuah Kastil Mistis hasil karya Muzan, sang Raja Iblis. 

Banyak iblis Bulan Atas (Kizuki) yang bersemayam di dalam Kastil tersebut, yang tentu harus dibasmi oleh Skuad Kamaboko (grup Tanjiro), bersama beberapa Hashira. Kastil mistis tanpa batas milik Muzan ini adalah perhitungan terakhir, apakah para anggota Kisatsutai (Pembasmi Iblis) sanggup menghalau lebih jauh lagi Muzan. 

Walau belum tentu di dalam kastil terdapat sang raja iblis berusia seribu tahun tahun tersebut, tetapi momen ini adalah langkah utama untuk membasmi iblis Bulan Atas, sekaligus membasmi semua rantai kejahatan Muzan.

6 Agustus 2025

Film Horor dari Studio The Conjuring, Weapons

 

Apakah itu tuyul ala Hollywood? (IMDB).

Tampaknya studio New Line Cinema yang sempat meramaikan kembali film horor dari Hollywood di tahun 2010an, masih penasaran dengan genre ini. Pertengahan tahun 2025 ini, dirilislah film berjudul Weapons, yang mengisahkan kembali khas cerita horor di sekitar area perumahan warga. Para penggemar film horor pun menyukai cuplikannya, karena tidak mensinyalir isi ceritanya.

Kisah horor yang berlatar belakang area hunian, menjadi khas yang nyambung dengan selera banyak penonton seluruh dunia. Tiga film telah ditelurkan oleh NLC dengan latar seperti ini, yaitu The Conjuring (2013), The Conjuring 2 (2016), The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021). Bahkan, seri keempatnya yang berjudul The Conjuring: Last Rites, akan dirilis bulan September 2025 mendatang.

Selain khas cerita daerah urban, seri The Conjuring selalu diisi setiap filmnya oleh sepasang suami-istri paranormal terkenal, yaitu Ed dan Lorraine Warren. Karakter Warren terinspirasi oleh paranormal asli dari AS, yang sering menginvestigasi serangan supernatural kepada warga.

Sejarah studio dengan seri horornya memang cukup terkenal, dan khusus di film Weapons yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, diisi pula dengan dua pemain yang cukup terkenal saat ini. 

Josh Brolin adalah seorang aktor yang pamornya naik kembali, setelah membintangi beberapa film pahlawan super, yaitu Avengers: Infinity War (2018) dan Endgame (2019) sebagai Thanos. Brolin mengisi pula film Deadpool 2 (2018) sebagai Cable.

Satu lagi adalah aktris yang berperan di film terakhir Marvel yaitu Julia Garner, yang berperan sebagai Silver Surfer di film Fantastic Four: The First Steps, di bulan Agustus 2025 ini.

Keduanya tentu mengisi atmosfir film horor ini dengan akting berbeda, karena keduanya cukup terkenal di ranah film drama, sebelum akhirnya terjun ke dunia film pahlawan super.

Sinopsis Film Weapons

Sebuah rapat sekolah yang dipimpin oleh Justine Gandy (Julia Garner) menjadi heboh. Rapat itu memang membahas anak yang hilang dari kediamannya. Saking marahnya, Archer Graff (Josh Brolin) sebagai salah satu orangtua, sampai berteriak bahwa 17 anak hilang seketika begitu saja, dan hanya menyisakan Julia Garner sebagai wali kelasnya. 

Karena kepanikan yang terjadi, banyak orangtua telah memasang poster orang hilang, demi menemukan anak mereka. Justine Gandy dan Archer Graff pun menyelidiki sendiri keberadaan mereka, dengan mengecek area kediaman dan rekaman CCTV di wilayahnya. 

Namun, kisah anak hilang pun hanya awal dari kisah mengerikan selanjutnya. Banyak warga dewasa pun bertingkah aneh, dan bahkan menyebabkan kecelakaan fatal bagi diri mereka sendiri. Keadaan semakin mengerikan, karena seluruh kota tampaknya telah terasuki oleh sesuatu, yang sama sekali tidak dapat dinalar akal sehat.

Dapatkah seluruh kota selamat dari ancaman yang terlihat supernatural tersebut? Atau malah habis rata oleh kekuatan lain dari dunia ini? 

Jawabannya, tentu ada di hilangnya akal sehat ala sinema Indonesia.

Film dari Negara Ter-Horror Thailand, Tomb Watcher

 

Entah peti mayat sejenis apa ini (IMDB).

Thailand masih akan meneruskan ritual film horornya, dengan merilis film Tomb Watcher di sinema-sinema Indonesia, bulan Agustus ini. Dengan atmosfir latar yang meyakinkan ngerinya, dan ritual aneh yang biasa didengar dari banyak negara Asia, khususnya kita di Tenggara, menjadikan film horor Thailand cocok dengan primbon ala kita.

Beberapa film horor legendaris dari Thailand sempat mengisi ngerinya hidup di Asia Tenggara. Contohnya adalah Laddaland (2011), yang mengisahkan sebuah kompleks perumahan, yang ternyata adalah gerbang menuju alam lain.

Film lainnya adalah 4bia (2008), yang menggunakan format antologi empat film horor, dari beberapa sutradara dan penulis naskah berbeda. Walau kisahnya berbeda, seluruh film berproduksi tinggi, dan cukup membuat ngeri dari setiap latar ceritanya.

Terakhir yang perlu diingat adalah Shutter (2004), yang dari sinematografinya, terinspirasi oleh horor Jepang jaman itu. Shutter mengisahkan seorang fotografer, yang heran bahwa hasil potret kameranya semakin lama semakin kabur. Ternyata, kehadiran sosok lain menginginkan 'perhatian khusus.'

Begitu banyak film horor legendaris dari Thailand, semakin mengukuhkan bahwa horor dari Thailand sangatlah mengerikan. Banyak penggemar film dari seluruh dunia, menganggap bahwa Thailand adalah jurignya film horor Asia.

Nah, kembali ke film Tomb Watcher, bagi yang sudah melihat cuplikannya, mungkin akan teringat akan ritual 'khas' ini. Biasanya, ritual 'menjaga mayat' di Indonesia, diartikan untuk mencegah datangnya para penganut 'ilmu hitam', yang ingin melatih kemampuannya.

Tentu beberapa ritual supernatural lain dari primbon milik kita, sebuah kisah mistis 'pohon keramat' yang memiliki 'pantangan' tertentu, harus ditaati bagi yang masih mempercayainya. 

Perkembangan jaman dan semakin religiusnya warga, tentu mengesampingkan banyak kisah primbon tersebut. Tetapi, banyak 'teknik pertahanannya' yang tidak mengacu pada primbon tertentu, tetap dilaksanakan, demi menghalau anehnya tindakan para 'penganut setan.'

Sinopsis Tomb Watcher

Kisah Tomb Watcher berawal dari sepasang suami-istri yang ingin keluar dari hiruk-pikuknya kota yang ramai. Mereka berdua memilih tinggal di sudut desa terpencil, yang jauh dari keramaian manapun. 

Sang suami ternyata telah menikah untuk kedua kalinya, dan kembali ke rumah tersebut untuk kedua kalinya pula. Istri pertama bernama Lunthom (Woranuch Bhirom Bhakdi) yang telah meninggal, sangat menyukai pohon Lunthom yang berada di depan rumahnya, dan menganggapnya sebagai lambang cinta mereka.

Istri kedua bernama Rossukhon (Arachaporn Pokinpakorn) tidak menyukai pohon tersebut, dan ingin menebangnya. Sang suami, Cheev (Thanavate Siriwattanagul), melarangnya, karena pohon tersebut adalah peninggalan istri pertamanya.

Kisah pun semakin mengerikan, karena Lunthom memberi wasiat bagi Cheev, untuk menyimpan jenazahnya selama seratus hari di rumah tersebut. Rossukhon yang belum tahu, sering didatangi oleh kemunculan arwah Lunthom.

Karena sudah tidak kuat diganggu, dan ingin menghilangkan kesan Lunthom dari diri Cheev, Rossukhon pun melaksanakan ritual untuk membakar pohon Lunthom tersebut. Ternyata, ritual tersebut bukannya mendamaikan mendiang Lunthom, tetapi malah membuatnya semakin marah. 

Lunthom pun semakin sering mengejar Rossukhon, yang didiamkan oleh suaminya. Cheev yang masih galau dua dunia dan dua istri, memilih untuk membiarkan arwah Lunthom mengejar Rossukhon.

Dapatkah Rossukhon selamat dari kejaran arwah istri pertama suaminya? Jawabannya tentu berasal dari ritual romansa supernatural ala sinema Indonesia.

31 Juli 2025

Film Ramalan Kiamat ala Korea, Omniscient Reader: The Prophecy

 

Dok-ja yang merasa sudah veteran di dunia fantasi (IMDB).

Para penggemar film Korea Selatan dan Manhwa ala Webnovel, tampaknya kini lagi dimanja. Pada bulan Agustus tahun 2025 ini, dirilis pula film diadaptasi dari Webnovel terkenal, Omniscient Reader: The Propechy

Walau begitu, karena perbedaan media dan teknis produksinya, maka cerita filmnya tidak akan se-otentik novelnya. Termasuk naskah yang diangkat, dan karakter banyak tokohnya.

Bagi yang suka musik Korea Selatan, mungkin akan tertarik karena kehadiran Kim Jisoo di film ini, yang merupakan salah seorang anggota grup musik Blackpink.

Nah, untuk film Omniscient Reader ini, mengisahkan sebuah ramalan maut yang menjadi kenyataan. Seluruh tantangan yang berada dalam dunia nyata, adalah hasil referensi sebuah novel fiksi.

Dari cuplikannya, bisa dilihat banyak adegan aksi gelut, yang diantaranya melawan kawanan monster berukuran variatif. Mulai dari monster sebesar jembatan layang antar pulau, hingga monster kecil lincah di terowongan rel kereta api.

Jika dilihat dari segi kisahnya, tampaknya memang sebuah visi dan misi penulis novel yang nyeleneh. Karyanya ditujukan bukan untuk terkenal atau laku, dan malah membuat sebuah ramalan heboh, yang mungkin terjadi di dunia nyata. 

Hal konspiratif tersebut biasanya dilaksanakan oleh aparat tertentu, yang berfungsi sebagai kendali pikiran masyarakatnya. Standarnya, justru aparat dan media, bertanggungjawab sebagai penyaring informasi, agar salah persepsi dan kepanikan masal tidak terjadi di kalangan masyarakat.

Sinopsis Omniscient Reader: The Prophecy

Kisah ini diawali oleh Kim Dok-ja (Ahn Hyo-seop), seorang pegawai kantoran, yang sangat suka sekali membaca novel daring, berjudul Three Ways to Survive the Apocalypse (TWSA). Saking keranjingannya, Dok-ja bahkan sempat membacanya saat dia tengah menaiki kereta api, untuk pergi atau pulang bekerja.

Dalam novel tersebut, banyak tantangan yang perlu diselesaikan oleh tokoh utamanya, agar dapat menghindari kebinasaan manusia dari muka bumi. Walau webnovel tersebut cukup meyakinkan, namun ternyata pembacanya hanya sedikit. Dok-ja adalah pembaca terakhir dan satu-satunya novel tersebut, tepat saat rilis bab akhir dan seluruh jalan ceritanya diakhiri, alias tamat.

Namun, tepat saat novelnya berakhir, Dok-ja terkejut akan tibanya mahluk aneh di dalam gerbong kereta api. Mahluk tersebut berbentuk hologram, yang meminta misi aneh bagi seluruh penumpang. Dok-ja yang heran, hanya bisa mengingat bahwa misi tersebut mirip dengan misi pertama di novel TWSA. 

Walau kurang memahami maksud misi tersebut, namun seisi penumpang gerbong malah panik, dan saling membantai satu sama lain. Misinya adalah setiap orang yang ingin selamat, harus membunuh satu organisme apapun di sekitarnya dalam kurun waktu tertentu. 

Dok-ja yang selamat, setelahnya malah makin sulit dalam bertahan hidup. Karena misi berikutnya semakin kompleks, sementara yang bertahan hidup semakin brutal dalam menyelesaikannya.Kehadiran banyak monster, dari yang berukuran raksasa hingga kecil, tambah mempersulit perjuangan Dok-ja. 

Sanggupkah Dok-ja dengan beberapa penyintas lainnya selamat hingga akhir? Atau malah berinisiatif untuk merubah jalur cerita dan mengakhirinya dengan karya tulisan sendiri?

Jawabannya, ada di naratif interaktif ala sinema Indonesia.