14 Januari 2026

Rasanya OP Ala Karakter Kirito di Anime Sword Art Online

 

Yujio di Project Alicization (SAO-Wiki).

Okeh, rasanya cukup aneh mulai nulis artikel Monsterisasi lagi, tetapi memang cocok di awal tahun 2026 ini. Apalagi setelah penjelasan di laman Monsterisasi mengenai Tanjiro dan kawan-kawan, serta artikel pertamanya mengenai film dari Makoto Shinkai, jadi ya tinggal dilanjutkan saja.

Terlebih lagi, istilah Monsterisasi-nya sendiri cukup aneh, jika dibandingkan dengan apa yang dibahas. Jadi, di artikel ini, penulis akan membahas satu karakter OP, yang memulai animo anime isekai di Jepang sana, bernama Kirito Kazugaya.

Ya, karakter utama dari serial novel dan anime Sword Art Online (SAO) ini, justru paling cocok dibahas di artikel ini, Monsterisasi. Kenapa? Karena seperti dibahas sebelumnya mengenai perubahan 'makna' seorang karakter dan dikejar masa lalu, maka Kirito adalah satu 'Monster' terbesar dari sudut pandang tersebut.

Memang Monter terbesarkah? Tentu Saja! Karena Kirito punya Buanyak HAREM sedunia, bahkan mengalahkan seluruh anime lain! Hehe, becanda... 

Trope Kirito yang punya banyak harem, sebenarnya digambarkan di anime saja. Menurut sumber yang dapat dipercaya, Kirito sebenarnya adalah pemain MMO solo karir, yang seringkali membantu player (cewe) lain pas namatin quest.

Trope Kirito sebagai karakter OP yang punya banyak harem pun, membuat anime SAO tidak disukai oleh banyak wibu dan otaku. Padahal, menurut novel aselinya, Kirito memang tidak pernah sedekat itu dengan cewek manapun (selain Asuna).

Okeh, itu pengenalan saja mengenai urusan kelamin Kirito. Tetapi bagaimana dengan jiwanya sebagai seorang Monster? Nah, dari segi Action RPG atau MMO sekalian, Kirito memang termasuk OP, layaknya karakter Endgame - Post Game Grind di banyak RPG.

Walau karakter Kirito di novel dan animenya cukup berbeda, tetapi plot utama serta jalan ceritanya tetap mirip. Yaitu, saat Kirito harus meng-carry seluruh tim, hingga seluruh server, untuk selamat walafiat di dunia MMO. Trope cerita Kirito terus berlanjut dari server Aincrad, bahkan hingga seri anime terakhir, yang berjudul Alicization: War of Underworld.

Nah, daripada membahas bagaimana kisah Kirito meng-carry semuanya (padahal mah pake cheat juga anjir), lebih baik dicek saja pas Kirito cocok sebagai MC kita selama ini. Tepatnya, saat masih berada di dunia Project Alicization. Itupun, tidak hanya berfokus pada Kirito, tetapi teman virtualnya sendiri, yaitu Eugeo (Yujio).

Kirito dan Asuna yang sudah resmi berumur dewasa (Mipon).

Project Alicization bersama Alice, Yujio dan Kirito

Perlu diingat, bahwa Kirito di Project Alicization sudah berumur 20 tahun, alias baru lulus SMA dan memulai kuliah. Penggemarnya pasti tahu, bahwa Kirito dan banyak penyintas Aincrad lain, ke-skip sekolahnya selama dua tahun lebih. 

Jadi, Kirito di serial anime ini memang sudah dewasa, dan bekerja (magang) sebagai beta tester (lagi) di Project Alicization. Sayangnya (seperti biasanya), proyek yang sudah diamankan ini, harus dioperasikan sebagai penelitian bagi pasien yang mengalami koma.

Ya, Kirito yang diserang oleh racun syaraf saat berduaan dengan Asuna di dunia nyata, akhirnya koma dan perlu dirawat di dunia Project Alicization. Kirito yang sebenarnya berumur lima tahun di dunia ini, perlu mengulang kembali sepuluh tahun hidupnya, akibat perbedaan waktu dengan dunia nyata.

Namun, dari segi ini bisa dianalisa, bahwa Kirito bersama karakter AI bernama Yujio dan Alice, sebenarnya mengulang kembali masa kecil yang hilang. Di dunia nyata, Kirito adalah seorang yatim-piatu, yang tinggal bersama sepupunya yaitu Suguha, dan kakeknya saja. Momen masa kecil bersama Alice dan Yujio, seakan proses untuk menyembuhkan kembali rasa terpendam Kirito.

Tidak hanya itu, saat berumur 15 tahun alias SMP, Kirito pun terjebak di Sword Art Online dan dunia Aincrad-nya. Disitu, Kirito selalu merasa bersalah, karena tidak sanggup membantu banyak pemain SAO.

Dan latar Kirito tersebut sangat nyambung dengan karakter baru di Alicization, yaitu temannya sendiri bernama Yujio. Karakter berambut pirang dan tinggi sama dengan Kirito ini, memiliki keperibadian baik, halus, penurut, dan setia. 

Namun sedikit spoiler, Yujio akhirnya meninggal dalam seri ini. Kisah Yujio yang meninggal, mengingatkan pula perubahan terbesar dalam diri Kirito. Yaitu, untuk terus berinisiatif gelut, dengan berbagai tingkat edgy-nya. Yujio pun meninggal akibat misi keduanya.

Padahal, sebelum terjebak di dunia Aincrad, Kirito adalah anak SMP biasa yang cukup halus pembawaannya. Kematian Yujio seakan mengingatkan, bahwa Kirito yang selama ini terlalu Power-Creep, adalah perubahan besar akibat Aincrad. Padahal di episode awal SAO saja, Kirito pura-pura edgy, untuk menghindari kejaran dari pemain lain.

Visual karakter Yujio pun cukup terbalik dengan Kirito, khususnya sebagai avatar. Kirito berambut hitam, dengan pakaian serba hitam pula. Sementara Yujio berambut pirang, dengan pakaian berwarna biru cerah. Padahal, desain baju keduanya masih cukup mirip.

Nah, kembali ke momen Yujio meninggal, bencana lain menimpa pula Kirito yang kalah bertarung. Dirinya terjebak dalam dirinya sendiri, mirip dengan koma di dunia nyata. Alias, Kirito memang koma dua dunia sekaligus. 

Saat masih koma, dengan serial Alicization yang dilanjutkan di War of Underworld, Kirito memang tidak muncul sama sekali. Jika adegan Kirito muncul, berarti saat dirinya terjebak dalam kenangannya sendiri, mulai jaman SMP hingga Aincrad, lalu banyak momen menyedihkan lainnya. 

Momen ini, layaknya men-defrag Operational System dalam Personal Computer dengan begitu banyak data yang memenuhi memori Hard Disk Drive atau Solid State Drive. Dengan begitu, PC akan bekerja lebih cepat dan kinerja lebih baik lagi. 

Bahkan di akhir momen tersebut, Yujio, Asuna, Shino, dan Suguha muncul, untuk membangunkan kembali Kirito dari dalam kenangannya. Momennya cukup dalam, karena Kirito harus menerima dirinya sendiri sebagai seorang pahlawan, yang sempat menyelamatkan (nyawa) keempat temannya tersebut. Walau Yujio telah meninggal, dirinya adalah sosok jiwa Kirito yang Aseli.

Daaan, begitulah alasannya mengapa Kirito (alias Yujio) adalah seorang karakter Monster, yang selalu diminta untuk menyelesaikan seluruh masalah dunia MMO, hingga berujung celaka di dunia nyata.

Avatar-nya saja di dunia Project Alicization, masih berupa Kirito umur 15 tahunan. Seakan, mengingatkan kembali awal edgy-nya karakter Kirito yang OP ini.

Akhir dari Alicization, yang entah kapan dilanjutkan serial anime-nya, menjadi sekedar closure alias penutup, bagi kisah Kirito yang sudah terlalu OP, hingga berujung status sebagai Monster!

Berbincang Sunda Sebagai Budaya Bahasa Lokal di Jawa Barat

 

Aksara Sunda di Jalan Merdeka Bandung (Kagum Insight).

Punten, saatnya membahas Hari Kebangkitan Bahasa Sunda, yang dirayakan setiap 17 Januari, sejak tahun 2024 lalu. Tanggal penting ini digagas oleh Dedi Mulyadi, yang kini menjabat sebagai gubernur Provinsi Jawa Barat. 

Sedikit Sejarah Hari Kebangkitan Bahasa Sunda

Awal dicanangkannya Hari Kebangkitan Bahasa Sunda memang sempat kisruh, akibat politisi yang (seperti biasanya) sedang gimmick dari pusat sana. Sementara Dedi Mulyadi yang tidak menjabat posisi administrasi manapun, dan tengah aktif di salah satu partai besar, cukup berang menanggapinya. 

Dedi Mulyadi lalu meminta kepada pemerintah pusat, untuk mengesahkan tanggal 17 Januari sebagai Hari Kebangkitan Bahasa Sunda. Karena rekam jejak dan kontribusi Dedi Mulyadi sebagai pejabat di daerah Sunda alias Jawa Barat, maka wacana tanggal penting ini disahkan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir dari Media Indonesia, maka untuk merayakan tanggal penting ini, dapat dijabarkan dengan satu kalimat berbahasa Sunda berikut. 

'Rahayu selawasna Hari Kebangkitan Bahasa Sunda! Tetep budaya, tetep basa, supados tiasa nyandakkeun ka samudaya.' 

Paribasa Sunda Lelea dari Indramayu (Wikimedia)

Keseharian Berbahasa Sunda 

Menurut penelitian ringkas tahun 2021 yang dilaksanakan oleh Dr. H. Wawan ‘Hawe’ Setiawan, M.Sn, selaku ketua Ketua Lembaga Budaya Sunda dari Universitas Pasundan, penggunaan bahasa sunda sehari-hari sangatlah kental diantara anak muda.

Wawan menyatakan, bahwa lembaga pendidikan (sekolah dan universitas) telah baik mengajarkan bahasa Sunda yang terstandarisasi (sebagai muatan lokal atau jurusan kuliah). Ternyata, saat kajian dilaksanakan di lingkungan non-formal, maka komunikasi bahasa Sunda yang 'kekinian' dapat dan harus diapresiasi, karena lebih fleksibel.

Menurut Wawan, bahasa Sunda digunakan oleh milenial, sebagai label untuk berbagai karya produk, contohnya pada desain kaus, makanan, hingga produk tembakau. Generasi milenial saat ini tidak meninggalkan bahasa Sunda, melainkan dipandang sebagai elemen lokal dan 'pembeda' yang dominan. 

Maksud Wawan, justru bagi milenial yang mengambil langkah inovatif tersebut, adalah cara mereka untuk mengoreksi hal yang sudah dominan dengan ragam mereka sendiri. Maka, kearifan lokal masih bernaung dalam jiwa para generasi milenial.

Bahkan, menurut Wawan, ragam bahasa Sunda seperti ini dari generasi muda, tidak perlu dibuat strukturnya. Nantinya, tidak akan ekspresif lagi. Ranah antara ekspresif dan strukturisasi, harus dijaga perbedaannya, karena mengacu pada sistem yang sebetulnya masih perlu dikoreksi. 

Sementara dari penulis sendiri, jujur saja lebih sering berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Bahkan, saking dominannya, justru hanya bertutur-kata bahasa Indonesia, saat menulis di Blog ini saja (P). 

Karena itu, kadang berbagai kata Sunda yang 'terasa enak,' sering dilampirkan dalam banyak artikel di blog ini, biar terasa lebih komunikatif. Atau, penulis merasa kurang cocok dengan kata yang berbahasa Indonesia, sehingga memilih kata dari Sunda saja (P).

Paguyuban Pasundan

Sebenarnya, urusan kebangkitan bahasa daerah, khususnya suku Sunda di Jawa Barat, sempat terjadi dalam sejarah. Fakta ini dilansir dari Edi S Ekadjati, dalam bukunya yang berjudul Kebangkitan Kembali Orang Sunda, yang dilampirkan dalam situs Bandung Bergerak

Edi S Ekadjati menyatakan bahwa awal abad 20 di Indonesia, alias Hindia-Belanda saat jaman tersebut, sedang tumbuh kesadaran dalam masyarakat pribumi, khususnya dari kaum terpelajar. Jaman tersebut, sangat dibutuhkan organisasi yang menghimpun kekuatan dan kebersamaan sesama warga.

Sehingga, terbentuklah banyak organisasi kaum pribumi yang bercorak etnis, agama, dan dagang. Contoh yang berdasarkan etnis, diantaranya adalah Budi Utomo, Rukun Minahasa, Paguyuban Pasundan, Kaum Betawi, serta Ambonsh Studiefonds. 

Sementara untuk segi ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam, dan dari segi agama diantaranya adalah Sarekat Islam, Muhammadiyah, Perserikatan Kaum Kristen, dan sebagainya.

Paguyuban Pasundan didirikan dan dipimpin oleh DK Ardiwinata pada tahun 1913 lalu, demi membedakan suku Sunda, dengan organisasi pemuda di banyak wilayah lainnya.

Sedikit kisruh pandangan terjadi, akibat banyaknya warga terpelajar Sunda yang sebelumnya bergabung dengan Budi Utomo (1908), memilih bergabung dengan Paguyuban Pasundan saat tahun 1913. Masuknya warga terpelajar dari Sunda ini, dianggap sebagai perpisahan dari Budi Utomo.

Padahal, Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan memiliki konsep yang sama, yaitu konsep etnis, bahasa, kebudayaan, dan wilayah yang berbeda. Sementara itu pembeda utamanya, adalah dominannya penggunaan bahasa dan budaya Jawa di Budi Utomo, yang menyebabkan warga Sunda perlu berhenti mengikutinya.

Dari segi kebudayaan, ideologi Sunda sudah terbentuk sejak awal abad 8 hingga akhir abad 16. Budaya Sunda ini berwujud aksara, bahasa, etika, adat istiadat alias hukum, lembaga masyarakat, serta kepercayaan.

Namun akibat datangnya kebudayaan Islam dari pesisir utara, lalu berlanjut dengan tibanya kebudayaan Jawa dari kerajaan Mataram, mengakibatkan banyak warisan budaya Kerajaan Sunda tergerus oleh dominasi asing.

Bahkan, Belanda sempat mengalihkan minat pemuda terpelajar Sunda pada awal abad 20, dengan menganjurkan bahasa, bacaan, dan budaya Jawa. Memang, saat tersebut banyak warga Sunda, yang menganggap bahwa status terpelajar dan beradab, adalah dengan sanggup memahami budaya Jawa.

Puncaknya, berdirinya Paguyuban Pasundan adalah tonggak sejarah kebangkitan kembali, eksistensi dan peranan Sunda, di tengah lingkungan masyarakatnya sendiri, dan secara luas di Hindia-Belanda (dengan multi-etnis dan budayanya).

R Otto Iskandar di Nata yang merupakan seorang warga Sunda, mulai memimpin Paguyuban Pasundan sejak tahun 1929 hingga 1942. Memang, sebelumnya Otto sempat menjadi anggota dan pengurus cabang Budi Utomo di Banjarnegara, Bandung, dan Pekalongan. 

Selama memimpin Paguyuban Pasundan, Otto sempat menjalin banyak kerjasama dengan Budi Utomo, demi menghadapi musuh bersama, yaitu penguasa kolonial Hindia-Belanda.

13 Januari 2026

Siluman Raksasa Nusantara Ala Film Penunggu Rumah Buto Ijo

 

Buto Ijo lagi ngintip (TMDB).

Okeh, sekarang film horor berikutnya, yang ternyata mencoba mengangkat cerita dongeng Timun Mas, tetapi lebih berlatar horor, dengan judul Penunggu Rumah: Buto Ijo. Tentu, dengan rating cukup dewasa, alias D17, yang akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ketiga Januari ini.

Animo yang dibawakan pun cukup menarik, karena banyak menggunakan efek CGI untuk karakter Buto Ijonya. Tidak begitu ciamik ala film Hollywood, namun cukup menggambarkan karakter ngeri ini.

Yang masih ingat kisah Timun Mas, pasti paham arahan plot film Buto Ijo ini. Apalagi, sebenarnya Buto Ijo digambarkan berbeda dalam kisah wayangnya. Maka, penulis mencoba untuk menggambarkan kembali, bagaimana aslinya karakter Buto Ijo, alias Buta Hejo dari Wayang Golek daerah Sunda.

Karakter Buta Hejo Alias Buto Ijo

Buta Hejo adalah satu karakter favorit penulis dari kisah dan pagelaran Wayang Golek. Tentu, favorit utamanya adalah Trio Cepot, Udawala, dan Gareng serta sang ayah, bernama Semar. 

Karena itu, favicon serta foto profil penulis pun, diberi wajah Sisingaan yang lengkap dengan iket Sundanya, atau sejenis Barongsai. Avatar ini tidak cukup mirip dengan Leak dari Bali, tetapi lebih mirip dengan karakter Buta Hejo dari Wayang Golek. 

Memang di Sunda, Buta Hejo tidak berwarna hijau menyeluruh, namun khas utamanya adalah giginya yang besar. Jika disandingkan dengan karya Dalang Legendaris Asep Sunandar Sunarya, Buta Hejo terlihat seperti karakter wayang ala Cepot, tetapi dengan kulit lebih pucat, hijau atau merah. Lucunya, jika kalah  bertarung atau dipukul, dari dalam mulutnya keluar satu rangkaian ular yang banyak sekali (Borolo Oray) (^^).

Memang di Wayang Golek, karakter Buta Hejo tidak begitu horor alias mengerikan. Ala Cepot dan saudaranya, Buta Hejo disandingkan dalam satu cerita, dimana banyak kekonyolan terjadi. 

Bahkan menurut GoodNovel, secara simbolis Buto Ijo memang mewakili kekuatan alamiah dan kekacauan spontan (Borolo Oray!). Buto Ijo memang harus dihadapi langsung dengan cara fisik atau humor.

Dari segitu saja, memang cocok sebagai karakter yang hampir mencapai tingkatan lucu-lucuan (Gag). Tetapi simbolisnya, jika dihadapi langsung dengan cara kerja fisik atau humor, layaknya sebuah masalah yang harus dibereskan sekalian, atau disepelekan dengan cara bodor.

Buta Borojol Orok Hejo (Facebook). 

Sinopsis Film Penunggu Rumah: Buto Ijo

Srini (Celine Evangelista) adalah seorang janda yang baru saja pindah rumah baru bersama anak semata wayangnya, Tisya (Meryem Hasanah). Namun, belum lama tinggal di rumah tersebut, banyak kejadian mistis aneh menimpa mereka. 

Karena butuh bantuan mistis, maka Srini menghubungi Ali (Gandhi Fernando) serta saudarinya, Lana (Valerie Thomas). Keduanya adalah kreator konten, yang khas dan berfokus pada kisah horor.

Namun, belum lama keduanya beroperasi, kengerian mistis di rumah malah makin berbahaya. Penampakan serta paniknya Tisya, semakin meruak di seluruh area rumah.

Apakah memang Buto Ijo semengerikan itu? Atau memang kasihan dengan janda anak satu tanpa suami? Sementara itu, Buto Ijo pun kesel sama viralisasi ala para kreator konten?

Jawabannya, tentu ada di pagelaran wayang ala sinema Indonesia.

Terjebak di Alam Lain Akibat Angkernya Jalanan Film Alas Roban

 

Busnya saja sudah angker (TMDB).

Berikutnya dalam minggu ketiga Januari yang penuh aura horor ini, kembali juga satu kisah yang merupakan legenda urban Nusantara, berjudul Alas Roban, yang akan tayang di sinema Indonesia. Ratingnya pun cukup tinggi, alias umurnya harus 17 tahun keatas (D17).

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya, legenda urban jalan raya angker memang mengisahkan satu kisah yang sering ada di dunia nyata. Kali ini, Alas Roban yang berada di jalur Pantura, tepatnya di kabupaten Batang, Jawa Tengah. 

Terlihat pada cuplikannya, tampaknya mengambil latar jaman dimana Pantura masih ramai dilalui, alias sebelum jalur tol Trans-Jawa, antara jalur Cisumdawu, Cipali, Palikanci, dan seterusnya dibuka untuk umum.

Memang pada jaman tersebut, bukan hanya tingginya jumlah kecelakaan di jalur Pantura, namun panjangnya jalan yang membuat banyak kisah legenda urban. Banyak pengemudi yang melalui jalur Pantura, akhirnya terpaksa mencoba jalur lain, walau lebih memutar arahnya.

Sedikit Kisah Angker dari Jalan Raya

Daripada membahas area Alas Roban yang akan disajikan dalam filmnya, maka penulis coba mengangkat jalan raya angker lainnya. 

Ya, yang coba diangkat adalah jalan angker bernama Tanjakan Emen, yang berada di antara Subang dan Lembang, Jawa Barat. Jalan tanjakan ini memang sempat melegenda, akibat seringnya kecelakaan kendaraan bermotor dan terjalnya jalur tersebut. Jalan yang menanjak dan berbelok dengan tikungan sulit, menyebabkan kecelakaan mudah terjadi di Tanjakan Emen. 

Kecelakaannya itu sendiri terjadi pada tahun 1956 lalu, saat sebuah oplet dengan kernet bernama Emen, jatuh ke jurang. Akibat lokasi tanki bahan bakar yang dekat dengan dasbor dan kelengkapan listriknya, oplet seketika terbakar, dan melahap jiwa ke-27 penumpangnya. 

Ngerinya kecelakaan tersebut, menyebabkan tanjakan curam tersebut dinamai sesuai dengan korbannya, yaitu Tanjakan Emen. Padahal, nama asli korbannya berbeda, alias hanya sebutan saja. 

Karena mitos angkernya Tanjakan Emen merebak, maka banyak ritual bagi para pengendara saat melaluinya. Diantaranya adalah membunyikan klakson, melempar koin ke jalan, hingga menyalakan rokok baru, lalu membuangnya langsung. Ritual tersebut dipercaya, dapat mengamankan kendaraan mereka dari celaka.

Namun, setelah beberapa kali direnovasi dan dikonstruksi ulang, Tanjakan Emen kini telah mencapai tingkatan aman. Sejalan dengan menurunnya jumlah celaka dan ritual aneh di sekitarnya, jalan ini pun dirubah namanya menjadi Tanjakan Aman oleh pemerintah lokal, sejak tahun 2018 lalu.

Agak berbeda memang, namun penulis percaya, bahwa keangkeran mistis bisa ditanggulangi dengan merubah medianya. Yaitu, dengan memperbaiki infrastruktur jalur tersebut, lalu merubah namanya, agar kesan dan atmosfer angker pun berlalu. Warga pun akan kembali melaluinya dengan perasaan lebih aman. Jadi, tidak perlu dikaitkan langsung dengan mistis.

Sinopsis Film Alas Roban 

Sita (Michelle Ziudith) adalah seorang ibu tunggal, dengan anaknya yang tunanetra, bernama Gendis (Fara Shakila). Suatu hari, karena dirinya mendapatkan pekerjaan baru di Semarang, harus berangkat ke Semarang saat hari mulai sore. 

Walau supir busnya sempat menolak, namun karena kasihan, maka mengantar kedua insan tersebut. Padahal, supirnya tahu bahwa jalur Alas Roban adalah lokasi angker, apalagi dilalui saat hari mulai gelap. Alas Roban sudah dianggap jalur ramai kecelakaan, yang semakin angker dengan banyak ditemukannya sisa tubuh di lokasi tersebut.

Sita berhasil tiba di Semarang, dan mulai bekerja di rumah sakit. Namun, semenjak saat itu, Gendis mulai bertingkah aneh. Gendis dapat menggambar dengan baik, padahal matanya sulit melihat. Gendis pun sering kerasukan tiap malam harinya, yang menambah panik Sita serta keluarga dekatnya.

Apakah yang terjadi di rumah Sita dan Gendis? Apakah ada hubungannya dengan lokasi angker Alas Roban? Atau ada yang bermaksud lain pada gadis cilik ini?

Jawabannya, tentu ada di legenda angker sinema Indonesia.

Berlanjut Sekuelnya di Film 28 Years Later: The Bone Temple

Dr. Kelson yang masih berharap dapat mengobati wabah (IMDB).

Film zombie berikutnya selama dua minggu berturut-turut rilis di sinema Indonesia, berjudul 28 Years Later: The Bone Temple, yang memang langsung melanjutkan cerita film sebelumnya. Uniknya, rilis antara film 28 Years later pertama dan sekarang, hanya berjarak tujuh bulan saja. Oh ya, sama seperti rating umur sebelumnya, harus ditonton oleh dewasa berumur 17 tahun plus.

Entah apa yang menjadi wacana studio waralaba 28 Years Later. Rilis sekuel seperti ini, seperti mengingatkan film kedua dan ketiga The Matrix, yang sama-sama dirilis pada tahun 2003 lalu. Menurut produser film The Matrix, perilisan film sengaja dibuat cepat, karena animo dari fansnya. Mereka tidak ingin, film ini dirilis lama, sehingga langsung dapat ditamatkan dalam waktu satu tahun saja.  

Sementara para sineas film dibalik 28 Years Later, sempat menyatakan bahwa mereka melaksanakan syuting film pertama dan keduanya langsung, demi mempercepat produksi. 

Berbeda dengan film pertamanya, karakter utama Jamie yang diperankan oleh Aaron Taylor Johnson, tidak kembali dalam film The Bone Temple. Fokus cerita justru beralih ke karakter anaknya, bernama Spike (Alfie Williams), bersama dua karakter dewasa lainnya, yaitu Dr. Kelson (Ralph Fiennes) dan Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel).

Bagi yang belum menonton film pertamanya, tentu tidak akan paham cerita di film keduanya. Beberapa bagian artikel ini pun, akan sedikit membahas cerita di film pertamanya, sehingga menjadi spoiler bagi yang belum menonton.

Sedikit Referensi The Bone Temple

Film kedua 28 Years Later yang bersub-judul Bone Temple, alias bisa diartikan sebagai Kuil Tulang Belulang. Memang, dalam film pertamanya, terdapat sebuah lokasi dimana Dr. Kelson tinggal, diisi dengan banyak totem berbahan tulang. 

Selama 28 tahun terakhir, Dr. Kelson mengumpulkan banyak pasien terinfeksi dan korban Rage Virus, yang lalu dikuliti dagingnya setelah dibakar. Dr. Kelson lalu menempatkan sisa tulang, pada tiang yang dijadikan totem. Sementara bagian tengkoraknya, terpasang di pusatnya, dengan fondasi yang berbeda.

Jika dicek di dunia nyata, terdapat satu lokasi paling terkenal mengenai makam semacam ini, yaitu Katakomba Paris, di Perancis. Pemakaman masal ini berukuran masif, yaitu sepanjang 300 kilometer dan berada dibawah tanah. Walau begitu, yang bisa dikunjungi turis hanya 1,5 kilometer saja. Tengkorak dan tulang belulang menyelimuti seluruh lapisan terowongan, yang tentu terlihat sangat mengerikan. 

Bagi yang penasaran, dapat mengecek film dokumenter found footage, yang bersyuting di lokasi ini, berjudul As Above, So Below, yang rilis tahun 2014 lalu.

Kembali ke Inggris Raya sebagai lokasi latar film waralaba 28, maka perlu melacak pula latar sejarahnya. Selama akhir abad pertengahan, pemakaman Charnel, yaitu pemakaman dimana tengkorak dan tulang dari jenazah, ditempatkan secara masif di satu lokasi khusus. Praktek ini lumrah dilaksanakan selama Kristen Katolik berjaya di Inggris Raya.

Ritual Charnel dilaksanakan demi memudahkan pemakaman di jaman tersebut, sekaligus ritual keagamaan Katolik di Inggris Raya. Namun, pada abad 16 praktek ini ditutup, karena perubahan struktur kepengurusan agama Kristen di Inggris.  

Dan kembali lagi ke film 28 Years Later, yang sebenarnya lebih mengemukakan tentang wabah penyakit, tampaknya harus mengacu kepada Wabah Hitam. Selama abad 14 di Eropa, sekitar 50 juta warga meninggal akibat wabah yang dibawa hama tikus tersebut. Jumlah kematian masif tersebut, mencapai setengah dari jumlah warga di Eropa saat abad 14 lalu.

Bahkan, jika dicek pada film pertamanya yang berjudul 28 Days Later (2002), maka jumlahnya hampir mirip. Dilansir dari Worldometers, maka jumlah warga Inggris Raya pada tahun 2000an lalu, mencapai 59 juta. Berarti, mirip dengan jumlah kematian saat Wabah Hitam di Eropa.

Di film pertamanya pun, seluruh kepulauan Inggris Raya sudah tidak dapat diakses lagi, dan menjadi lokasi karantina. Hanya pasukan militer yang diperbolehkan masuk, itupun dengan misi tertentu.

Sinopsis Film 28 Years Later: The Bone Temple

Berbeda dengan film pertamanya, cuplikan di film ini justru lebih jelas, apalagi dengan dua rilis cuplikannya. Jika disatukan, maka animo film kedua 28 Years Later dapat disimpulkan dengan tiga sudut pandang karakternya. 

Yaitu, dari Spike (Alfie Williams) sebagai tokoh utama sebelumnya, lalu dari Dr. Kelson (Ralph Fiennes) yang masih berharap menemukan obat untuk wabah, serta Sir Jimmy Crystal (Jack O'Connel), yang masih penasaran dengan kondisi wabah serta penyintas lainnya.

Ketiganya pun berjibaku dengan drama yang cukup berbeda. Karena Dr. Kelson masih ingin mengobati korban terinfeksi, maka dirinya mendekati sang Alpha bernama Samson. Dr. Kelson tampaknya berhasil menciptakan sebuah obat anti Rage Virus, yang masih perlu dites.

Sementara Spike, yang berhasil bertemu dengan kawanan Sir Jimmy Crystal, mencoba berbaur dengan mereka. Namun, Spike masih belum sadar, bahwa gang ini cukup brutal. Karena, misi mereka adalah membasmi semua penyintas lain yang belum terinfeksi wabah.

Sementara Sir Jimmy Crystal sedang mencoba mengetahui apa gerangan dengan Dr. Kelson, setelah sempat bertemu di Kuil Tulang Belulang. Dirinya sempat heran, namun cukup kagum dengan dedikasi Dr. Kelson, selama wabah merebak di seluruh Inggris Raya.

Dari segitu saja, cukup berbeda dengan film pertamanya yang lebih linear. Tiga sudut pandang berbeda dalam film ini, ternyata cukup menarik dibanding film zombie biasa. 

Kisah akhirnya, tentu dapat dicek di kuil tulang belulang, daging mendaging, dan darah membuyar ala sinema Indonesia.

Zombie Kembali Lagi di Film We Bury The Dead

 

Daisy Ridley yang kembali berperan tokoh utama (IMDB).

Tiba-tiba, ranah perfilman Hollywood sana sedang ramai mengadaptasi kembali film Zombie, yang kali ini berjudul We Bury The Dead, dan sedang tayang di sinema Indonesia. 

Bahkan, khusus untuk waralaba 28, film sekuelnya ternyata rilis juga di minggu ini.Tidak hanya itu di satu minggu ini saja, dirilis empat film horor, yang diantaranya ternyata mirip film zombie. Tentu, film zombie memiliki rating umur 17 tahun keatas, alias dewasa, akibat adegan daging mendaging dan darah mendarahnya.

Bagi yang sudah menonton cuplikan film We Bury The Dead, Daisy Ridley tentu menjadi fokus utamanya. Aktris dari Inggris ini sempat berperan di trilogi terakhir Star Wars, dan cukup viral dibahas di dunia maya dengan kontroversi ceritanya.

Dan, daripada membahas kisruhnya Perang Bintang, ternyata, Daisy Ridley cukup berbakat sebagai pengisi suara. Sejak awal karirnya, Daisy berkontribusi sebagai pengisi suara atau narator, khususnya di video gim atau film animasi. 

Karya khusus suaranya, adalah gim Disney Infinity 3.0 (2015), buku Audio Star Wars Force Awakens (2016), gim Star Wars Battlefront II (2017), film Peter Rabbit (2018), buku audio Star Wars The Last Jedi (2018), film Flopsy Turvy (2018), serial Star Wars Voice of Destiny (2018), gim Dawn of Art (2020), film pendek Baba Yaga dan Asteroid Hunters (2020), gim Twelve Minutes (2021), film The Inventor (2023), film Butterfly Journey (2025), dan terakhir di gim Trailblazer (2025).

Okeh, saatnya kembali ke film We Bury The Dead, yang kalau membahas zombie, tentu harus melansir tulisan saya berisi teori dan ramuan aneh, yang sengaja saya lampirkan pada artikel film Abadi Nan Jaya

Nah, daripada membahas kembali seluruh teori film zombie, kali ini lebih baik membahas animo yang dibawa ke film We Bury The Dead. Apalagi, di minggu ini ada film zombie lainnya, yang dapat dibahas referensi pula.

Ya, animo film ini berbeda dengan kebanyakan zombie, yaitu tidak mengisahkan mayat hidup layaknya target tembak saja. Atmosfer yang terlihat pada cuplikan, lebih horor layaknya dikejar monster, dengan zombie yang terlihat lebih pintar dari biasanya. Jumlahnya pun sedikit, dibanding ramainya kawanan zombie (horde). 

Ya, memang jelas bahwa zombie sudah musnah, dan film ini berlatar momen epilog dari kiamat ala zombie, akibat militer yang berhasil membasminya. Ya (lagi), di film ini militer akhirnya menang, daripada film lain yang entah pasukan keamanannya hilang begitu saja (?). Dua film zombie terakhir saat militer menang, yaitu di film 28 Years Later (2025) dan Army of The Dead (2021). 

Untuk sinopsisnya cukup pendek, karena cuplikannya memang tidak memberi banyak info plot utama. Sementara sutradara yang memimpin produksi film ini, bernama Zak Hilditch yang disukai oleh para kritikus film. Rata-rata film hasil karyanya, diberi nilai enam keatas di IMDB. 

Oh ya, bagi yang mengenal situs ini, tentu tahu bahwa banyak film memiliki nilai sekitar empat hingga lima saja. Jadi, film yang memiliki nilai enam keatas, dari genre apapun, berarti cocok ditonton dengan didukung oleh akting, cerita, dan nilai produksi yang mumpuni.

Sinopsis Film We Bury The Dead

Ava yang diperankan oleh Daisy Ridley, adalah seorang penyintas setelah wabah zombie merebak. Namun, dirinya masih penasaran, akibat tubuh suaminya yang masih hilang. Sama seperti judul filmnya, kisah film ini adalah tentang usaha Ava dalam menemukan tubuh suaminya, lalu menguburnya dengan layak.

Ava pun bergabung dengan Body Retrieval Unit dari militer, demi menemukan jasad suaminya, baik dalam keadaan zombie atau sudah terkapar. Ava terpaksa masuk zona karantina, yang membuatnya lebih terperangah. Karena mayat hidup yang masih tersisa, ternyata lebih pintar, cekatan, dan sanggup berburu manusia.

Dengan bantuan penyintas lainnya bernama Clay (Brenton Thwaites), Ava harus menjelajah seluruh puing urban, sebelum akhirnya lokasi karantina ini dibom rata oleh pasukan militer.

Dapatkah Ava menemukan kembali suaminya? Atau malah bertemu dengan kawanan zombie intelijen nan sentien yang memimpin semuanya? 

Jawabannya, tentu ada di keragaman mayat hidup ala sinema Indonesia. 

12 Januari 2026

Idola Sekolah di Film Anime Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie

 

Ayumu Uehara yang heran ada disini (TMDB).

Sekarang, saatnya beralih ke anime yang sudah cukup mumpuni vibe-nya, tetapi kurang dimengerti oleh penulis, berjudul Love Live! Nijigasaki High School Idol Club The Movie, yang akan tayang khusus di satu rangkaian sinema Indonesia. Memang, penulis kurang mengerti kisah idola Jepang nan Wibu ini, tetapi cukup mengenal animonya. Ditambah lagi, rating anime ini ternyata Semua Umur (SU).

Jika dicek sejarahnya, maka harus kembali ke awal tahun 2000an lalu, saat akademi idola Jepang ramai dengan grup bernama AKB48. Jumlahnya memang banyak, yang mencapai 48 personil dan berisi banyak idola cewek, yang berbakat dalam menyanyi dan berdansa. 

Khusus untuk grup AKB ini sendiri, melanglangbuana grup lainnya hingga hampir seluruh Jepang. Contohnya, adalah SKE48 (Nagoya), HKT48 (Fukuoka), dan NGT48 (Niigata). Bahkan, grup ini merambah hingga Indonesia, bernama JKT48. Di negara lainnya, terdapat pula TPE48 dari Taiwan, SNH48 dari China, MNL48 dari Pinay, dan BNK48 dari Thailand. 

Namun, animo seperti ini memunculkan istilah baru bagi dunia hiburan Jepang, yaitu idola cewek yang berbakat di dunia hiburan. Saking besar animonya, tercipta banyak manga atau anime, berkisah mengenai drama sepintas kehidupan, namun dengan karakter berlatar belakang sebagai idola. 

Tentu, perlu diingat pula mengenai Vocaloid yang beravatar anime, dengan Hatsune Miku yang Go International. Penerusnya kini, penyanyi ber-avatar anime yang selalu tampil langsung dibalik siluet hitam, bernama Ado, sedang ramai diobrolkan oleh banyak penggemar, khususnya dari luar Jepang.

Yang paling nyeleneh, tentu Uma Musume, yang menggabungkan cewek idola Jepang, dengan balapan kuda dalam gim-nya. Anime nya pun merambah, yang hingga saat ini telah mencapai tiga musim, dengan satu film dan dua spin-off-nya. Animo idola di Jepang, layaknya sebuah stadion sepakbola, yang setiap lokasinya diramaikan dengan kompetisi tertentu. 

Satu judul yang paling meramaikan animo ini di Jepangnya sendiri, adalah Love Live!, yang mulai rilis sejak 2010 lalu. Waralaba Love Live hingga kini telah merilis enam serial (2014, 2017, 2022, 2023, 2024), dengan variasi jumlah musim setiap serialnya. Tiga Film pun ditelurkan oleh waralaba ini, yang mengacu pada setiap serial yang berbeda.

Yang paling konsisten dalam merilis produknya, adalah sejenis video gim. Sejak tahun 2013 lalu, setiap tahunnya dirilis gim Love Live, dengan berbagai kombinasi format, genre, dan konsolnya. Waralaba Love Live! memang sukses besar, dengan pendapatan sejak tahun tahun 2014 hingga 2020, mencapai 166 Milyar Yen Jepang, atau 1,5 Milyar Dolar AS.

Okeh, segitu saja dulu. Untuk sinopsisnya di film Love Live! ini, tentu mengambil latar di Nijigasaki, yaitu sekolah yang dirilis tahun 2017 lalu. Selalu mirip dengan animo Love Live!, kisahnya tentu mengenai kompetisi idola Jepang, berlatar sekolah di sana.

Lucu-lucuan Penguin Korea Ala Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

 

Pororo dan banyak kawannya (TMDB).

Daaaan, masih ada satu lagi film bagi anak (alias ratingnya Semua Umur) di minggu ketiga bulan Januari 2026 ini, berjudul Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure, yang sedang tayang di sinema-sinema Indonesia.

Kali ini, Pororo adalah sejenis karakter animasi dari Korea Selatan sana, yang berbentuk Penguin, lengkap dengan topi pilot dan kacamatanya. Inovasi karakter Pororo cukup mendunia, yang merupakan awal kebangkitan budaya seni populer dari Korea Selatan, hingga sanggup menyaingi Hello Kitty dari Jepang, Mickey Mouse dari AS, dan Smurfs dari Eropa.

Bagi para penggemar film, tentu dapat mengingat bangkitnya Korea Selatan dengan pop-dansanya yang sempat merajai awal tahun 2010an lalu. Filmnya pun sangat berkelas ala film produksi Hollywood, walau cukup jarang mengemukakan khas budayanya sendiri.

Pororo adalah pionir dari kebangkitan tersebut. Bahkan hingga sekarang, sebanyak delapan musim kartun animasi telah ditelurkan, dari tahun 2003, 2005, 2009, 2012, 2014, 2016, 2020, dan 2023. Filmnya bahkan mencapai 12 banyaknya, yaitu pas tahun 2004, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, 2017, 2019, 2022, 2022, 2023, dan 2025. Tentunya, film berjudul Sweet Castle Adventure ini, adalah film ke 13-nya.

Masih banyak karya lainnya yang mengikutsertakan Pororo dan kawan-kawannya, namun ikoniknya penguin berwarna biru ini tidak hanya dari segi kelucuannya saja. Pororo diproduksi dengan menghilangkan bias budaya dan referensi sejarah, sehingga cukup familiar di seluruh belahan dunia. 

Selain itu, sejak awal, Pororo didesain untuk anak berumur 4 hingga 7 tahun, yang mengenalkan berbagai sikap, norma, moral, banyak nilai edukasi (alias life skill). Pada saat awal penayangannya di Korea Selatan, banyak anak di Korea Selatan mengikuti gaya Pororo saat mengangkat tangan untuk menyeberang jalan, makan dengan dikunyah 30 kali, mencuci tangan, dan berbagai 'nilai keseharian' lainnya.

Orangtua dari Korea Selatan yang menyukai karakter Pororo, saat itu menyarankan Iconix Entertainment sebagai studio produksi, dalam memasukkan adegan tersebut pada setiap episodenya. Iconix pun setuju, sehingga timbal-balik antara hiburan dan edukasi, khususnya pada anak Korea Selatan, semakin terjalin dengan baik.

Sinopsis Film Pororo The Movie: Sweet Castle Adventure

Kali ini, dunia Pororo sedang dalam musim dingin dan menjelang perayaan Natal. Di Kerajaan Dessert, sedang diadakan kompetisi memasak kue. Pemenangnya, akan mendapatkan lapisan topping dari Sinterklas.

Pororo dan kawan-kawannya yang kebetulan bertemu Sinterklas di jalan, akhirnya diminta untuk mengirimkan piala topping tersebut kepada Ratu di Kerajaan Dessert. Petualangan baru mereka pun dimulai, sambil menikmati momen di musim dingin. 

Namun, saat akan menyerahkan piala tersebut di Kerajaan Dessert, seorang tokoh produsen cokelat bernama Leo No. 5 menghalau mereka. Leo tidak rela, kompetisi dilaksanakan tanpa kehadiran cokelat buatannya. Pororo pun perlu mengamankan piala tersebut, sambil menghindari kejaran Leo.

Amankah kompetisi ini dengan perayaan musim dinginnya di Kerajaan Dessert? Jawabannya, tentu dapat disaksikan di keberagaman kue ala sinema Indonesia.

Jackie Chan Akhirnya Merasa Sepuh di Film Unexpected Family

Sepuh Jackie yang akhirnya istirahat (TMDB).

Okeh, saatnya melanjutkan animo film keluarga di awal tahun 2026, dengan ikut membahas The Man, The Myth, and The Legend Himself, Jackie Chan, dalam film sepuhnya berjudul Unexpected FamilyRemaja dan lebih tua, dapat menonton film ini karena rating umurnya adalah R13.

Film yang akan tayang di banyak sinema Indonesia ini, memang berbeda dengan mayoritas karya Jackie Chan, yang biasanya mengutamakan adu gelut beladiri. Kini, sang sepuh kembali sadar bahwa dirinya telah berumur 71 tahun, dengan berperan sebagai kakek tua di film Unexpected Family.

Karir Jackie Chan

Sebelum membahas lebih jauh filmnya, perlu diingat karir Jackie Chan yang telah melanglangbuana sejak tahun 70an hingga sekarang. 

Jackie pertama kali berperan sebagai pemeran ganda di film Bruce Lee terdahulu, berjudul Fist of Fury, tepatnya tahun 1972. Setelahnya pada tahun 1973, film Enter The Dragon menjadi langkah pro keduanya dalam film beladiri. Dari situ, Jackie mulai dikenal sebagai ahli beladiri yang cekatan di ranah perfilman HongKong.

Jackie bahkan sempat digadang sebagai penerus Bruce Lee, dengan direkrut oleh sutradara terkenal Willie Chan, yang berhasil menelurkan New Fist of Fury (1976). Namun, film ini gagal di sinema dan tidak cocok dengan gaya akting Jackie Chan.

Dua tahun berikutnya, tepatnya tahun 1978, Jackie Chan berperan dalam film Snake in Eagle's Shadow dan Drunken Master. Karena sutradara Yuen Woo-ping membebaskan gaya akting dan koreografi Jackie, maka hasilnya adalah sukses besar. Kedua film tersebut memulai jalur Jackie Chan sebagai aktor beladiri, namun berbumbu komedi.

Willie Chan yang sebelumnya berniat menciptakan Bruce Lee baru dalam tubuh Jackie Chan, akhirnya merasa cocok dengan gaya akting aslinya. Willie lalu turun berkecimpung sebagai manajer Jackie, selama 30 tahun lamanya. 

Dan kini, karir Jackie Chan sudah mencapai jangka 54 tahun lamanya, berjibaku sebagai aktor beladiri di puluhan film. Bahkan di tahun 2025 lalu, Jackie masih sempat berperan aksi dalam film Shadow's Edge pada bulan Agustus, dan sebagai sepuh dalam film Karate Kid: Legends pada bulan Mei.

Nah, akhirnya kembali ke film Unexpected Family, justru mengisahkan Jackie Chan yang berperan sebagai seorang kakek tua, yang sudah pikun dan sulit mengenali siapa keluarga atau tetangganya. 

Cocok memang, karena keterbatasan umur pun, sang legenda akhirnya berkarya tanpa aksi berlebihan lagi. Ditambah lagi, puluhan cedera telah menggerogoti tubuhnya sejak awal karir, yang entah sembuh sepenuhnya atau tidak, mungkin tetap menjangkit tubuh Jackie yang sudah sepuh.

Sinopsis Film Unexpected Family

Zhong Bufan (Peng Yuchang) baru saja melarikan diri dari kota kecil kediamannya, demi tinggal di ibukota Beijing. Tanpa arah yang jelas, kebetulan dia bertemu dengan kakek tua bernama Ren Jiqing (Jackie Chan), yang sudah pikun.

Ren yang ingatannya sudah campur aduk tidak jelas, malah mengira Zhong sebagai anaknya sendiri, yang telah lama tidak datang mengunjunginya. Serba salah, Zhong pun menghindari terus Ren, karena tidak ingin salah tanggap.

Sementara tetangga Ren yang tahu sikap nyentriknya, coba menghalau dirinya yang sering mengejar Zhong. Tetangga Ren memang sudah memaklumi, dirinya tinggal sendiri sudah lama, sementara ingatannya semakin kabur.

Namun, waktu berlalu cukup lambat, dan dedikasi Ren untuk terus menganggap Zhong sebagai anaknya, menyebabkan seluruh tetangganya terenyuh. Bahkan, seluruh tetangganya pun berinisiatif, untuk menemani Ren lebih dekat lagi, dengan berfokus pada Zhong sebagai anaknya.

Bagaimana akhir kisahnya? Dapat disaksikan ala panti jompo sinema Indonesia.

8 Januari 2026

Menjiwai Anime Ala Sutradara Makoto Shinkai

 

Akari yang sudah lama move-on (TMDB).

Daaan, akhirnya sampai di penghujung minggu dengan rangkaian kisah romansa menarik dari negeri Sakura sana, berjudul 5 Centimeters Per Second, yang tayang ulang di sinema Indonesia. Film ini diproduksi dengan arahan sutradara mantap bernama Makoto Shinkai, yang lihai membuat visual ciamik saat menjabarkan adegannya.

Penulis mau jujur, sebenarnya baru mengenal nama Makoto Shinkai, yang ternyata sering berkecimpung sebagai pemimpin produksi anime terkenal, dengan beberapa karya yang termasuk favorit saya (alias sempat ditonton).

Diantaranya adalah Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007), Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013), Kimi no Nawa (Your Name; 2016) dan Tenki no Ko (Weathering with You; 2019). Seluruh anime ini, bisa dinikmati oleh rating umur Remaja (R13) keatas.

Arahan Makoto Shinkai pada setiap film anime-nya, khas dengan referensi lokasi langsung di dunia nyata. Lalu, digambarkan dengan indah ala anime, sebagai bagian adegan filmnya. Cukup sinkron memang, padahal banyak kisah filmnya kurang mudah dicerna.

Karena itu, di artikel pertama Monsterisasi ini, saya coba membahas seluruh 'Penjiwaan' berbagai film ini, yang ternyata cukup dalam. Mengingatkan pula, bahwa artikel Monsterisasi di blog ini adalah sejenis istilah (yang penulis kreasi sendiri) untuk mengenal penggambaran non-harfiah, dari karya seni tersebut.

Lokasi sebuah perlintasan rel (TMDB).

Byosoku 5 Senchimetoru (5 Centimeters Per Second; 2007)

Ya, mulai saja dengan film yang paling sulit dianalisis, sekaligus akan tayang di sinema Indonesia, akhir minggu ini. Memang sulit dianalisa, karena film Byosoku ini cukup realistis (P). Mungkin, satu anime Romansa paling realistis yang pernah saya tonton sendiri (agak relate kali ya?).

Pokoknya, bagaimanapun plot utama, adegan, dan jalan cerita yang terjalin dalam film anime ini, tonton saja sampai akhir. Film ini memang mengisahkan, hubungan jarak jauh (LDR), antara Takaki (Kenji Misuhashi) dan Akari (Yoshimi Kondou & Ayaka Onoue). Keduanya harus berjibaku, dengan perbedaan jarak, ruang dan waktu. Serta, keduanya hanya dapat berkomunikasi melalui media surat menyurat, dan ponsel saja.

Penulis bisa merekomendasikan, satu lagu di akhir film, yang terlihat layaknya credit song. Padahal, jika ditonton animasinya secara mendetail (saat lagu masih berlangsung) , maka terjawab sudah maksud cerita sejak awal film, hingga berakhir.

Takao dan Yukino yang masih terjebak hujan (TMDB).

Kotonoha no Niwa (Garden of Words; 2013)

Okeh, berlanjut ke Kotonoha no Niwa, yang memang lebih jelas dan dalam lagi penggambarannya, padahal hanya berdurasi kurang dari satu jam saja, sama seperti film sebelumnya.

Terlihat dalam adegannya, bahwa Takao (Miyu Irino) yang terjebak hujan saat berangkat sekolah, dan perlu berteduh di sebuah gazebo taman. Disana, dia bertemu dengan Yukino (Kana Hanazawa), seorang guru muda yang terlambat pula saat berangkat sekolah.

Dari situ, keduanya berkenalan, dan saling memahami profesi masing-masing. Takao bahkan berselirih, bahwa dirinya tidak begitu peduli dengan sekolah, dan bermimpi untuk bekerja sebagai seorang perajin sepatu. Sementara Yukino, tercengang dan kagum atas dedikasi Takao, setelah melihat katalog serta beberapa hasil karyanya.

Nah, tampaknya untuk menelaah kisah ini, perlu langsung mengacu ke istilah atau peribahasa bule, yang berselirih 'Someone's Shoes.' Arti dari istilah ini, adalah profesi seseorang dan segala keahliannya. 

Segitu saja sudah cukup jelas, bahwa Takao adalah seorang perajin sepatu, yang bersemangat untuk memberikan dasar langkah seseorang. Sementara Yukino adalah seorang guru, yang bertanggung jawab untuk membantu muridnya, dalam memiliki 'sepatu' tersebut, lalu melangkah maju menuju profesi masing-masing.

Ada satu adegan lagi, dimana Yukino yang penasaran dengan kemampuan Takao, lalu mencoba salah satu sepatu karyanya. Layaknya adegan dongeng terdahulu, bukannya maksud ini seperti kisah Cinderella, yang fokus pada sepasang sepatu? Apalagi, dengan referensi peribahasa dari Eropa itu sendiri, yang menguatkan gambaran dan maksud film ini.

Bahkan, bagi yang sudah cukup paham mengenai dua poin tersebut, kenapa tidak coba cek judulnya saja sekalian? Judulnya saja sudah Garden of Words, yang berarti Taman Kata-Kata. Maksud yang sudah sangat kentara, bahwa komunikasi antara guru dan murid, serta Kegiatan Belajar dan Mengajar, layaknya momen mengurus taman, beserta banyak tanaman, bunga, serta serangganya (^^).

Pertemuan keduanya pun selalu terjadi saat hujan deras tiba, sehingga keduanya 'terpaksa' telat ke sekolah. Air hujan, atau air pada umumnya, tentu sebuah 'nutrisi kesegaran' khusus, bagi siklus fotosintesis ala tanaman yang tumbuh.

Taki dan Mitsuha yang entah kenapa dipertemukan (TMDB).

Kimi no Nawa (Your Name; 2016)

Dan, berikutnya adalah anime yang begitu melejit nama Makoto Shinkai sebagai sutradara ciamik sedunia, dengan anime berjudul Kimi no Nawa. Penulis hanya bisa mengacu pada dua hal saja mengenai anime Romansa meriah ini, yaitu konsep Waktu dan Proses Berimajinasi.

Plot utama Kimi no Nawa, adalah saat Taki (Ryunosuke Kamiki) yang terbalik tubuhnya dengan Mitsuha (Mone Kamishiraishi). Keduanya pun ternyata berbeda waktu, karena kota hunian Mitsuha bernama Itomori, kondisinya telah berbeda dari sudut pandang Taki. Padahal, Itomori terus diceritakan selama anime berlangsung.

Dari situ, penulis langsung beranggapan, bahwa fantasi dalam film ini, memang tidak bisa dianggap harfiah lagi. Konsep waktu dalam Kimi no Nawa, kentara terasa perbedaannya. Jadi, jika ditelaah secara visual animenya, maka hasilnya adalah hubungan manusiawi yang cukup lekat, yaitu proses imajinasi di organ Otak.

Bayangkan saja, saat sepasang insan mengobrol berdua di sebuah kafe, sambil ngemil dan minum jus. Saat itu, sang cewek, alias Mitsuha, berselirih tentang kondisi kotanya dahulu, sebelum dia pindah ke kota hunian, dimana dia bertemu dengan sang cowok, alias Taki.

Mitsuha lalu mulai menjelaskan, bagaimana kondisi kota Itomori, saat dia masih tinggal disitu. Taki yang belum pernah berkunjung ke kota tersebut, dan tidak bisa mengeceknya karena kotanya sudah berbeda, akhirnya merangsang area visual korteks posterior di otak. Dengan begitu, Taki sanggup berimajinasi mengenai gambaran kota yang diceritakan Taki.

Sementara dari Mitsuha-nya sendiri, dia sanggup memiliki visual yang lebih tepat, karena memang dia tinggal dan melihat langsung seluruh momen di Itomori. 

Nah, dari hasil imajinasi sepasang insan tersebut, jika tercampur, maka akan saling berjumpalitan visualnya. Layaknya kedua manusia yang tengah mengobrol, maka visual yang muncul akan variatif, sesuai persepsi masing-masing.

Durasinya juga mirip, loh. Yaitu hampir dua jam lamanya, yang berarti waktu yang cukup untuk ngobrol ngalor-ngidul antar sepasang muda-mudi, di sebuah momen tertentu. Jadi menurut penulis, Kimi no Nawa mengisahkan secara abstrak, romansa apa yang terjadi diantara kedua insan manusia.

Hodaka dan Hina yang masih sanggup melihat keadaan (TMDB). 

Tenki no Ko (Weathering with You; 2019)

Oh ya, jujur saja (lagi), sebenarnya penulis baru menonton film Tenki no Ko saat tahun 2025 kemarin, hehe. Penulis memang terbiasa menghindari kisah Romansa dari Jepang sana, yang memang suka mendalam ceritanya. Biasanya sih, paling nonton anime horor atau Seinen, dan kadang Shonen.

Okeh, kembali ke Anime Tenki no Ko, yang menurut penulis lebih mengisahkan sebuah konsep utama lainnya, yaitu Ruang. Kali ini, tentu lebih kentara lagi penggambarannya, dengan berfokus pada satu lokasi kota, yaitu ibukota Tokyo yang sedang mengalami cuaca ekstrem.

Tenki no Ko, mengisahkan tentang Hodaka (Kotaro Daigo), yang baru melarikan diri dari kota kediamannya, dan memilih hidup di Tokyo. Kebetulan Hodaka bertemu dengan Hina (Nana Mori), seorang gadis cuaca sekaligus legenda urban, di atap gedung tua yang lengkap dengan gerbang Tori-nya.

Dari situ saja, konsep ruang sudah terlihat jelas, dengan adegan di atap gedung tua terbengkalai, dan gerbang Tori. Gerbang semacam ini, biasa ditempatkan sebagai Gapura masuk kuil Shinto, dan cukup dikeramatkan. Namun, jika gedung, gerbang, serta lokasinya saja sudah terbengkalai, maka kuil yang ada didalamnya sudah tidak digunakan kembali, alias angker. Di anime ini, tidak ada kuilnya.

Tenki no Ko berarti coba menggambarkan, bahwa diantara perkembangan jaman modern yang maju di Jepang, dengan sistem kepercayaan tradisional sudah mulai dilupakan. Layaknya, gedung tua serta gerbang Tori tersebut.

Lalu meloncat ke akhir film, dimana akhirnya Tokyo terendam banjir, mirip dengan julukan lamanya, yaitu Venice dari Asia. Salah seorang karakter dalam film ini, yaitu seorang nenek, berselirih bahwa Tokyo layaknya kembali ke jaman Edo, alias 200 tahun lalu, sekitar tahun 1868.  

Maka, akhir film menggambarkan, bahwa Tokyo sebenarnya kembali ke jaman tersebut. Yaitu, awal mula kota dengan banyak kanal ini, hingga dikenal sebagai Venice dari Asia.

Menurut penulis sendiri, walau Tokyo sedang mengalami banjir sebagai bencana dahsyat, ternyata hanya sebuah siklus saja. Bahkan, dokumentasi sejarah cukup menunjukkan, bahwa Tokyo memang belum pernah 'sekering' itu, sejak 200 tahun lalu. Bisa disebut sebagai perubahan geografis, namun tetap saja, 'ruangnya' malah kembali ke bentuk sebelumnya.

Okeh, tampaknya segitu saja. Ciao. 

7 Januari 2026

Repotnya Mengurus Prasmanan Ala Film Uang Passolo

Biba dan Rizky yang masih terbebani (TMDB).

Berikutnya, adalah film drama keluarga Indonesia yang lebih mengena lagi, berjudul Uang Passolo, yang tengah tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur cukup membahana, yaitu R13 (Remaja).

Berbeda dengan ketiga film sebelumnya di minggu ini, Uang Passolo cukup mengingatkan, bagaimana drama paling mudah ditemui di keseharian, yaitu saat repotnya mengurus Prasmanan Pernikahan anggota keluarga. Tentu, bukan maksudnya kawin dan kawin lagi ala film lain, tetapi bagi yang sudah merasakan atau tidak, tentu ingat hiruk-pikuknya melaksanakan acara pernikahan. 

Oh ya, menariknya film Uang Passolo ini, mengadaptasi budaya Indonesia wilayah Timur, khususnya di Sulawesi, dengan gaya komedi khas dari sana. Tetapi, jika ditelaah kembali, justru keadaan seperti ini lumrah di seluruh Nusantara. Uang Passolo pun artinya uang Prasmanan, yang biasa berada dalam sebuah amplop, dan diberikan saat pengunjung tiba di meja tamu saat acara berlangsung.

Perlu diingat, budaya kekeluargaan di Indonesia, yang begitu lekat hingga leburnya istilah besan, dan cocok sebagai bagian dari keluarga besar. Budaya kekeluargaan tersebut, mengacu pula saat seorang anggota keluarga, menjelang pernikahan mereka. Tentu, seluruh keluarga besar ingin acara tersebut dimeriahkan.

Bahkan, jika mengingat budaya arisan keluarga Indonesia, momen pernikahan menjadi satu tahap dimana seluruh anggota keluarga, berkontribusi langsung. Tergantung dari budaya persukuannya, dan tradisi keluarga itu sendiri, maka keluarga besar tentu turun membantu dalam segi biaya dan persiapan lainnya.

Apalagi, momen tersebut kadang berujung hutang besar, kepada keluarga besar. Tentu, banyak yang tidak ingin terikat hutang sebesar itu, apalagi dengan urusan kedekatan keluarga pula. Namun, justru itulah menariknya. Bayangkan, tidak mirip film dan sinetron Indonesia yang mengedepankan kawin-cerai serta poligami, justru stigma buruk tersebut sangat melekat dalam budaya kekeluargaan Nusantara.

Istilahnya, budaya Nusantara sangat tidak menyukai kawin-cerai atau poligami, karena menjunjung tinggi asas kekeluargaan. Bahkan tidak hanya sebagai norma sehari-hari, namun ditunjukkan saat momen pernikahan, saat seluruh keluarga besar tidak hanya berkumpul, tetapi langsung berkontribusi.

Tentunya, momen pernikahan memang mengundang pula tetangga terdekat, keluarga besar lainnya, kenalan di pekerjaan, dan mungkin Para Pemburu Prasmanan sekaligus (Hehe).

Nah, justru karena hal tersebut, maka gengsi pernikahan semakin tinggi. Dan, penulis juga memiliki beberapa pengalaman aneh mengenai pernikahan di Nusantara. Bukan maksudnya membuka momen pribadi saat pernikahan, tetapi lebih mengemukakan tentang repotnya saat ada momen Prasmanan di jalan raya. 

Contohnya, saat sedang berlibur ke luar kota, yang memang saat itu tengah minggu liburan, kadang banyak jalan ditutupi oleh semacam area khusus. Ya, jalan tersebut ditutup karena sedang ada Prasmanan. Mobil serta motor harus berbalik, untuk melanjutkan perjalanan.

Kadang, momen tersebut tidak sepenuhnya memenuhi jalan raya. Tetapi, lokasi parkir yang sempit, serta banyaknya kendaraan yang perlu lewat, menyebabkan jalan yang macet parah. Belum lagi suara sound horeg yang keras, yang betulan meramaikan suasana jalan raya.

Ya, maklum saja kalau begitu, karena momen itu memang jarang dan cukup berharga. Pengemudi yang numpang lewat, mungkin sekalian saja menikmati, karena memang momen tersebut cukup langka terjadi, walau diundang sekali pun.

Okeh, saatnya kembali ke film Uang Passolo, yang jelas animonya mirip dengan acara kekeluargaan ala Nusantara ini. Oh ya, bahasanya pun khas dari Sulawesi sana, jadi siap saja untuk membaca terjemahannya.

Sinopsis Film Uang Passolo

Rizky (Imran Ismail) dan Biba (Masita Aspah) adalah sepasang muda-mudi yang siap menikah. Namun, keduanya justru ingin melaksanakan proses pernikahan yang sederhana, alias hanya mengundang keluarga besar saja.

Namun, orangtua dari kedua belah pihak, justru menolak acara sederhana tersebut. Mereka menginginkan anaknya melaksanakan acara pernikahan yang meriah, lengkap dengan undangan kepada ratusan tetangga dan kenalan.

Bahkan, Biba lebih miris lagi. Jika acara pernikahan besar jadi dilaksanakan, maka rumah ibunya digadai demi menutupi biaya. Sementara orangtua dari Rizky, berpendapat bahwa acara pernikahan yang besar undangannya, tidak hanya memperbanyak doa, namun menambah pula banyak berkah dan rezeki (langsung).

Pernikahan pasti tetap berlangsung, tetapi bagaimanakah caranya mereka semua mencapai tahap tersebut? Jawabannya, tentu dapat dicek melalui ritual pernikahan ala sinema Indonesia.

Makna Dibalik Horornya Film Malam 3 Yasinan

 

Keluarga Djoyodiredjo yang tengah berkabung (TMDB).

Sekarang, berlanjut menuju film keluarga berikutnya, walau lebih beratmosfer horor, ala film berjudul Malam 3 Yasinan, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating umur D17 alias Dewasa.

Sebelumnya, saya perlu mengisahkan pula, satu posisi yang mengomentari film berjudul terlalu keagamaan ini. Sebenarnya telah beberapa kali saya sebagai penulis, menghindari film horor sejenis ini. Tetapi, jika ditelaah dari dasar ritualnya, dan dibandingkan dengan cuplikannya, maka khusus film ini cukup jelas dan bisa diangkat dalam artikel.

Memang, tradisi tahlilan, atau biasa disebut juga yasinan karena mengacu pada surah yang dibaca, bukanlah suatu bentuk tradisi asli Muslim. Tradisi semacam ini dilaksanakan sejak jaman terdahulu, demi berdoa kepada leluhur. Seperti dilansir dari Etnis, tradisi ini lalu bercampur akulturasi budayanya di Nusantara, khususnya Jawa, saat hadirnya Islam di Indonesia. 

Bahkan, ada satu organisasi Muslim bernama PERSIS, yang menolak sepenuhnya tradisi ini, karena bukanlah anjuran dari Islam. Tradisi ini dianggap akulturasi saja, dan bukanlah pedoman Syariah dari agamanya.

Dan kembali ke film Malam 3 Yasinan, maka penulis cukup mengerti, bahwa sineas perfilmannya mencoba mengangkat bahan horor yang cukup sesuai. Bahkan dalam beberapa poster filmnya, terlihat budaya Jawa yang kental, lengkap dengan Kupluk (Blangkon) dan nama keluarga khas dari Jawa.

Jika dibandingkan dengan film Nasional sejenis yang ikut mengadaptasi horornya budaya keagamaan Nusantara, justru Malam 3 Yasinan ini cukup sesuai dengan kondisi di ranah sosial masyarakat. 

Justru lebih parah di film lainnya, saat judul saja tidak sesuai dengan definisi dan deskripsi istilahnya sendiri. Malah bisa dibilang, tidak hanya menyepelekan, namun membodohi penontonnya, dengan salah arti dan makna. Bahkan, di beberapa adegan cuplikannya saja, tidak nyambung dengan judulnya sendiri (!)

Menurut penulis, justru film tersebut salah mengartikan, bahkan menyalahgunakan, wacana yang berasal dari Ensiklopedia. Contohnya adalah satu kalimat dari artikel di blog ini, berjudul Perubahan Dongeng di Abad 20 dan Perannya di Abad 21. Dari artikel yang diterjemahkan sesuai sumber aslinya ini, terdapat kalimat 'perubahan dan adaptasi tradisi tidak lagi dianggap sebagai merusak tatanan budaya.'

Dari situ saja, penulis sudah menganggap, bahwa perubahan yang diterapkan pada film, hanyalah arahan dari satu kalimat di Ensiklopedia saja. Sementara, mereka berkreasi dengan bebas tanpa arah yang jelas. Naudzubillah.

Sinopsis Film Malam 3 Yasinan

Samira (Shalom Razade), baru saja pulang ke kediaman keluarga besarnya, yang bernama Djoyodirejo. Kembalinya Samira, akibat saudari kembarnya, Sara, baru saja meninggal dunia dan segera dimakamkan. 

Selama ini, Samira memang tinggal jauh dari keluarga besar, akibat tekanan gengsi berlebihan sebagai keluarga ningrat, serta kompetisi antar keluarga Djoyodirejo. Padahal sebelumnya, keluarga ini sempat damai, (yang seperti dalam cuplikannya) dan sempat membuat video dokumenter dan foto bersama.

Namun, ternyata semenjak Samira tidak berada di rumah, keadaan banyak anggota Djoyodirejo memburuk seketika. Berbagai ketegangan berbeda, semakin meruak, dan berbeda dengan momen kehilangan seorang anggota keluarga.

Bahkan, kengerian ini muncul paling terasa, sesaat setelah ritual pemakaman Sara, yang dilanjutkan dengan tahlilan di rumah duka. Banyak kejadian mistis aneh, menerpa seluruh anggota keluarga Djoyodirejo, yang termasuk Samira itu sendiri.

Sanggupkah Samira menguak apa yang terjadi gerangan pada keluarganya? Atau malah terjerumus kembali dalam gelapnya kompetisi keluarga? Atau malah sosok Sara muncul kembali demi melindungi Samira seorang?

Jawabannya, tentu ada di ritual tradisi ala Sinema Indonesia.

Nah, dari segitu saja sudah cukup meyakinkan, bahwa film ini tidak menyalah-artikan syariah, serta mengedepankan ritual tradisi serta drama manusianya. Manusia tentu selalu dapat disalahkan, sementara budaya yang mengikat, justru memang disalah-gunakan oleh beberapa pihak.  

Okeh, Wassalam (lagi).

Mencari Tanah Harapan Baru di Film Greenland 2: Migration

 

Keluarga Garrity yang memilih migrasi (IMDB).

Okeh, berikutnya adalah film keluarga lainnya, namun dengan bumbu drama para penyintas bencana alam, berjudul Greenland 2: Migration, yang kini sedang tayang di sinema Indonesia, dengan rating R13 (Remaja).

Film ini tentu meramaikan kembali, ranah bencana alam dahsyat yang kurang diangkat oleh sineas perfilman dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin, film ini mengingatkan tentang cuaca ekstrem, walau dalam filmnya lebih mengisahkan tentang jatuhnya komet di bumi, dan perubahan iklim setelahnya. Animo ini memang naik-turun dalam sejarah perfilman Hollywood. 

Pemainnya pun cukup mumpuni, yaitu Gerard Butler yang naik pamornya sejak film 300 (2006) terdahulu, dan Morena Baccarin yang ikut naik pamornya, sejak film Spring (2014) dan Deadpool (2016).

Oh ya karena sedang membahas tentang bencana alam, coba cek film Spring dari Morena Baccarin. Yang paham, tentunya akan mengerti maksud film tersebut, walau mayoritasnya adegannya lebih menunjukkan horor-drama sekaligus.

Bagi yang kurang paham, mungkin nanti saya tulis di artikel Monsterisasi saja, ya...

Atmosfer Bencana Alam Dahsyat di Perfilman Hollywood

Perlu diingat, animo bencana komet dahsyat sebagai plot utama film, sempat ramai saat film Armageddon (1998) yang dirilis dengan penuh bintang, diantaranya Bruce Willis, Ben Affleck, Liv Tyler, Steve Buscemi, Owen Wilson, serta Ving Rhames. Bahkan, para penikmat film tentu masih mengingat, lagu latar berjudul Leaving On A Jetplane, dari penyanyi Chantal Kreavizuk.

Animo ini dilanjutkan kembali dalam film Deep Impact di tahun yang sama, dan masih berplot utama komet yang jatuh. Namun, dengan mengedepankan visual Tsunami yang melebihi tingginya gedung pencakar langit di New York, AS. Aktor pengisinya pun termasuk bintang, yang diantaranya adalah Morgan Freeman, Elijah Woods, and Jon Favreau.

Berikutnya adapula film Day After Tomorrow (2004), yang mengisahkan tentang dinginnya bumi setelah mencairnya kedua kutub bumi akibat pemanasan global. Film ini dibintangi pula oleh aktor ternama Jake Gyllenhaal.

Loncat beberapa tahun berikutnya, film berjudul 2012, dirilis pada tahun 2009. Film ini memang memanfaatkan ramainya teori kiamat bumi pada tahun 2012, padahal tahun tersebut adalah akhir dari kalender kuno milik Suku Maya terdahulu. 

Walau begitu, film ini sebenarnya mengacu pada patahan sesar di seluruh bumi, yang terpicu akibat masifnya pergeseran tektonik, dan menyebabkan bencana dahsyat di seluruh dunia. Aktor bintang yang mengisinya pun cukup terkenal, yaitu John Cusack, Woody Harelson, dan Chiwetel Ajiofor.

Animo yang sama pun dikembangkan kembali oleh film San Andreas (2015), yang diperankan oleh aktor Dwayne 'The Rock' Johnson, Paul Giamatti, dan Kylie Minogue. Berbeda dengan 2012, film ini lebih mengisahkan satu patahan sesar saja di California AS, yang memang bernama San Andreas.

Tahun 2022 lalu, sempat dirilis pula film yang mengisahkan tentang jatuhnya obyek antariksa menuju bumi, berjudul Moonfall. Walau berkisah fantasi ala sains-fiksi, namun cukup mantap dengan sepasang bintang ala Patrick Wilson dan Halle Berry.

Sinopsis Film Greenland (2020)

Okeh, dan tampaknya perlu kembali ke Greenland, yang disukai oleh penggemar dan kritikus film. Berbeda dengan daftar film diatas, justru film Greenland sangat berbumbu drama, dengan fokus karakter utama sebagai penyintas bencana. Tingkat bencana serta hingar-bingarnya kerusakan pun diminimalisir oleh film ini.

Tidak perlu mengisahkan terlalu banyak mengenai sinopsisnya, karena memang sengaja cuplikannya dibuat acak agar tidak membuka banyak plotnya. 

Disimpulkan sedikit saja, John Garrity (Gerard Butler) dan Allison Garrity (Morena Baccarin) adalah sepasang suami dan istri yang tengah mengadakan pesta di rumahnya bersama tetangga terdekat.

Namun, terdengar kabar berita komet bernama Clarke, yang akan tiba dalam waktu 24 jam di atmosfer bumi. Awalnya mereka menyepelekan, karena komet biasanya hancur sebelum menyentuh bumi. Namun, ketika anaknya yang bernama Nathan (Roger Dale Floyd) berteriak, mereka akhirnya dapat melihat langit yang berubah merah menyala.

Seluruh keluarga beserta tetangganya pun panik, dan dengan arahan dari berita tersebut, bergerak menuju lokasi bunker bagi penyintas di Greenland. Keluarga Garrity pun berjibaku hebat, melawan kemacetan, jatuhnya pecahan komet secara acak, brutalnya para penyintas yang depresi, serta tertahan oleh regu penyelamat yang sengaja memilah penyintas untuk dapat masuk bunker.

Bagi yang penasaran, dapat menyaksikan film pertama Greenland di banyak layanan siaran internet.  

Sinopsis Film Greenland 2: Migration

Dalam film keduanya, Allison, John, dan Nathan akhirnya berhasil memulai hidup baru di Greenland, setelah beberapa bulan tinggal dalam bunker, akibat bencana komet Clarke. Kini, keluarga Garrity telah bertahun-tahun lamanya selamat sejak jatuhnya komet, dan memulai hidup baru yang damai.

Namun, bumi memang sudah berubah sejak tibanya komet Clarke, dengan cuaca ekstrem yang terus mengancam planet ini. Tidak hanya bencana alam, ternyata kondisi alam yang berubah, menyebabkan Greenland sudah sulit ditinggali lagi. 

Sulitnya kondisi di Greenland, serta bencana alam ekstrem yang secara acak terus mengancam lokasi hunian, menyebabkan keluarga Garrity berinisiatif kembali. Ya, mereka mulai melaksanakan migrasi, demi menemukan tanah harapan baru. Tentu, yang dicari adalah lokasi layak untuk dapat ditinggali oleh manusia.

Dapatkah mereka menemukan kembali lahan yang cukup aman? Atau malah berujung petaka lainnya, seperti perjalanan pertama mereka menuju Greenland?

Jawabannya, tentu ada di siklus akhir dan awal dunia ala sinema Indonesia.

Sedikit Pendapat Akhir Dunia

Mengenai kisah akhir dunia, yang tentu banyak kisahnya dan kontroversinya, justru penulis ingin mengomentarinya dari segi para 'aktivis-nya.'

Terdapat beberapa kreator (di Internet), yang setiap merilis karya kontennya, terlalu mengedepankan kontroversi yang ada, layaknya bencana alam dan manusianya adalah suatu bentuk pro atau kontra.

Memang cukup bagus untuk meningkatkan pemantauan kita sebagai warga biasa. Namun, kontennya saja judulnya sudah click-bait, apalagi hingga rage-bait. Seakan, konten tersebut hanya ditujukan untuk memancing saja. Padahal kalau topiknya bencana alam, tentu dapat dicek dengan membaca beritanya, dokumenter berisi sainsnya, dan bahkan sedikit drama dari fiksinya.

Jadi, penulis hanya ingin mengomentari, bahwa konten seperti itu hanya dijadikan sebagai bahan obrolan saja, dengan para kreatornya yang jelas terlihat paranoid. Bahkan, penulis sempat menonton sebuah konten, yang jika ditelaah, tiga dari lima topik yang diutarakannya ternyata salah fakta dan data! Padahal, konten tersebut tidak mengomentari urusan Fiksi! Jadi, dimana sebenarnya kredibilitas mereka?

Lebih paranoid lagi, mereka layaknya seorang pemberontak, khususnya kepada 1 Persen Top Global, yang sudah dari jaman terdahulu, menjadi prioritas keamanan jika bencana alam dahsyat menimpa bumi. Terlalu paranoid-kah mereka? Menurut penulis sih iya, mereka paranoid. 

Kembali ke segi penulis sendiri, penulis menyimpulkan cuplikan dan referensi film seadanya, layaknya sastra dan seni yang memiliki penjiwaan tersendiri, dengan disandingkan ala balutan budaya yang ada. Jadi, berbeda dengan para 'influencer' ini, tulisan artikel saya memang lebih mirip sebuah bentuk studi dan penjiwaan, daripada dapat merubah pandangan para pembacanya.

Okeh, Wassalam.